2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Countertransference” dan Kelemahan Dokter dalam Komunikasi Profesional

Krisna Aji by Krisna Aji
March 27, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SEBAGAI dosen pendidik klinis, terdapat banyak hal menarik yang saya temui saat mendampingi residen psikiatri–dokter umum yang sedang menempuh pendidikan untuk menjadi psikiater–yang melakukan konsultasi dan psikoterapi pada pasien.  Residen seringkali mengalami masalah dalam menjalin komunikasi profesional–yang tidak disadari–dengan pasien yang memiliki ciri khas tertentu. Saya pun, sampai saat ini masih mengalaminya dan pernah lebih parah saat masih menjadi dokter umum dan residen. Jika diamati dengan seksama, kondisi ini tidak terbatas pada ranah psikiatri saja tetapi juga dialami oleh dokter di luar psikiatri. Semua dokter mengalaminya.

Misalkan saja–dari gestur yang ditampilkan–dokter yang sebenarnya sangat cerdas tiba-tiba merasa rendah diri saat menghadapi pasien lansia yang memiliki riwayat pendidikan atau jabatan yang tinggi; dokter yang biasanya tenang dan profesional tiba-tiba ikut merasa sedih berlebihan–simpati, dalam hal ini tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan bias saat proses terapi–yang mengganggu proses terapi saat bertemu dengan pasien laki-laki dewasa yang sedang berjuang keras untuk perekonomian keluarganya; atau dokter yang biasanya sabar menjadi marah dan berontak seperti anak kecil saat bertemu dengan pasien perempuan lansia yang menunjukkan gestur otoriter dan kaku.

Walaupun pertemuan antara dokter dan pasien berada dalam ranah profesional yang–sewajarnya–objektif, sisi subjektif dari pertemuan tersebut kadang tidak dapat dielakkan. Sisi subjektif ini melibatkan masa lalu yang membentuk keutuhan diri manusia dari masing-masing pihak.

Jika menjabarkan contoh kasus di atas, gestur rendah diri yang ditampilkan oleh dokter yang sedang berhadapan dengan pasien lansia yang memiliki pendidikan dan jabatan tinggi disebabkan oleh masa lalu dokter yang selalu dituntut untuk berprestasi sejak kecil oleh orang tua yang juga memiliki pendidikan dan jabatan tinggi. Tetapi, alih-alih membanggakan, dokter tersebut selalu merasa tidak mampu untuk memenuhi ekspektasi orang tua. Dari sini, kebiasaan merasa rendah diri mulai terjadi dan muncul kembali setiap kali bertemu dengan seseorang dan situasi yang merepresentasikan masa lalu tersebut.

Hal yang serupa juga terjadi pada dua kasus berikutnya. Pada kasus dokter yang terlalu hanyut akibat mendengar cerita pasien laki-laki dewasa yang menopang perekonomian keluarga, ternyata saat kecil dokter tersebut memiliki ayah yang berperan tunggal dalam menopang kehidupan keluarga yang sangat berat. Terlebih lagi, perekonomian yang dialami dokter saat kecil tersebut benar-benar menimbulkan kesedihan yang teramat dalam.

Pada kasus dokter yang cepat merasa marah dan berontak setiap kali bertemu dengan pasien perempuan lansia yang menunjukan gestur kaku dan otoriter, saat kecil dokter tersebut mengalami hal yang sama: selalu mencoba untuk berontak dengan cara marah-marah akibat didikte oleh ibunya yang sangat otoriter.

Dari beberapa contoh di atas, countertransference tampak sebagai hal negatif yang dapat mengganggu proses terapi. Oleh karena itu, serta-merta kita dapat setuju bahwa countertransference perlu dihindari. Tetapi, apakah demikian?

Kembali kepada konsep bahwa segala sesuatu memiliki sifat saat seseorang menyikapinya, begitu juga dengan countertransference. Countertransference sejatinya juga memiliki sifat positif dalam proses terapi. Countertransference dapat membuat dokter yang menangani pasien lebih mengerti dirinya sendiri dan akhirnya juga dapat sedikit “meraba”–sebatas empati–apa yang terjadi pada alam bawah sadar pasien.

Pada kasus rendah diri yang muncul saat bertemu dengan pasien lansia, dokter yang terbiasa menganalisis countertransference akan dapat merasakan bahwa pasien yang dihadapi adalah orang yang cerdas dan menuntut penjelasan detail yang logis mengenai penyakitnya. Hal tersebut dapat dimanfaatkan dokter untuk lebih bebas menggunakan bahasa kedokteran dalam menjelaskan alur penyakit dengan detail dan berbagai kemungkinan diagnosis serta terapi.  Ini merupakan kelebihan yang dapat dimanfaatkan, mengingat dokter sering terhalang dalam menerjemahkan hal-hal rumit dalam dunia kedokteran ke dalam bahasa sehari-hari.

Saat countertransference disadari, maka pemahaman terhadap latar belakang pasien yang tersirat juga dapat muncul dan hal tersebut dapat menjadi gerbang informasi mengenai cara berdiplomasi dengan pasien. Lebih jauh lagi, kebijaksanaan akan respons dokter terhadap pasien dapat muncul agar hubungan terapi yang lebih baik dapat terjadi.

Apa lagi, countertransference bukanlah respons searah. Respons ini sejatinya adalah timbal balik antara pasien dan dokter. Dengan kata lain, pasien pun mengeluarkan respons serupa yang disebut dengan transference. Respons timbal balik ini sudah berpotensi sejak awal dan akan menguat seiring dengan respons dari masing-masing pihak. Penguatan tersebut dapat mengarah ke negatif atau positif.

Misalkan saja, pada kasus pertama, secara kebetulan pasien lansia yang memiliki riwayat jabatan dan pendidikan tinggi memang sudah memiliki potensi untuk tidak mudah percaya terhadap kemampuan orang lain. Seperti kepada orang lain, pasien tersebut juga menguji kemampuan dokter di depannya dengan objektif. Ketidakpercayaan pasien yang awalnya hanya akan disebabkan murni dari kompetensi dokter, menjadi bergeser dan tetap muncul akibat gestur rendah diri yang ditampilkan oleh dokter di depannya.

Cerita ini akan menjadi lebih menarik jika kita melanjutkan skenario dari alasan pasien lansia mencari dokter untuk mendapat pandangan profesional mengenai penyakitnya.

Ternyata, pasien lansia tersebut memiliki dua orang anak yang juga menjadi dokter. Saat mengeluhkan tentang penyakitnya di rumah, kedua anak pasien sudah menganalisis keluhan, membuat skema diagnosis, dan rencana terapi. Walaupun kompetensi sebagai dokter dari kedua anak pasien lansia tidak dapat diragukan lagi, pasien tersebut tetap tidak mempercayainya. Hal tersebut disebabkan pasien yang tetap memandang anaknya sebagai anak kecil yang selalu dapat diragukan kemampuannya.

Akibat keraguannya, pasien lansia bergegas ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter yang bahkan lebih muda dari kedua anaknya. Tetapi, karena ia berada di rumah sakit dan berhadapan dengan dokter yang tidak dikenal secara personal, pasien tersebut lebih memercayai apapun perkataan dari dokter di hadapannya dari pada anaknya sendiri. Kepercayaan tersebut ternyata ditunjukan dari berbagai pertanyaan logis yang dikemukakan. Hal yang tidak dilakukan saat di rumah di mana pasien selalu menolak diagnosa dari kedua anaknya tanpa membuka ruang diskusi yang terbuka.

Kepercayaan yang terjadi di awal pertemuan pasien lansia dengan dokter di rumah sakit itu bukan tanpa alasan. Kondisi itu–transference–terjadi karena sejak kecil pasien lansia tersebut dididik oleh norma sosial yang menempatkan dokter pada posisi yang disegani. Dengan tidak disadari, didikan norma sosial ini masih berlangsung hingga saat ini. Contohnya, kata-kata dari orang tua kepada anaknya yang nakal dengan: ”Jangan nakal, nanti disuntik Pak Dokter!” Atau, sebutan “dokter” yang tetap disematkan saat seorang dokter sedang berada di pasar, di lingkungan rumah, atau di tempat-tempat lain yang sudah bukan lagi area profesionalnya.

Kepercayaan pasien lansia diperkuat dengan keberadaannya di rumah sakit. Ia seperti berada pada sebuah tempat asing yang ada di bawah kendali dokter di depannya. Pada titik ini, sebenarnya dokter semakin dapat meningkatkan kepercayaan diri dan komunikasi yang lebih baik terhadap pasien lansia. Langkah awal yang perlu dilakukan dokter adalah memahami countertransference yang terjadi kemudian memanfaatkan aspek psikologis dari pasien di depannya dengan meraba transference yang muncul dari sisi pasien. Tetapi, hal ini sering kali tidak dilakukan karena dokter tidak paham dari mana harus memulai sehingga berakhir dengan komunikasi terapetik yang buruk. [T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJI
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: dokterkesehatankomunikasikomunikasi formal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Next Post

Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co