23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Countertransference” dan Kelemahan Dokter dalam Komunikasi Profesional

Krisna Aji by Krisna Aji
March 27, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SEBAGAI dosen pendidik klinis, terdapat banyak hal menarik yang saya temui saat mendampingi residen psikiatri–dokter umum yang sedang menempuh pendidikan untuk menjadi psikiater–yang melakukan konsultasi dan psikoterapi pada pasien.  Residen seringkali mengalami masalah dalam menjalin komunikasi profesional–yang tidak disadari–dengan pasien yang memiliki ciri khas tertentu. Saya pun, sampai saat ini masih mengalaminya dan pernah lebih parah saat masih menjadi dokter umum dan residen. Jika diamati dengan seksama, kondisi ini tidak terbatas pada ranah psikiatri saja tetapi juga dialami oleh dokter di luar psikiatri. Semua dokter mengalaminya.

Misalkan saja–dari gestur yang ditampilkan–dokter yang sebenarnya sangat cerdas tiba-tiba merasa rendah diri saat menghadapi pasien lansia yang memiliki riwayat pendidikan atau jabatan yang tinggi; dokter yang biasanya tenang dan profesional tiba-tiba ikut merasa sedih berlebihan–simpati, dalam hal ini tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan bias saat proses terapi–yang mengganggu proses terapi saat bertemu dengan pasien laki-laki dewasa yang sedang berjuang keras untuk perekonomian keluarganya; atau dokter yang biasanya sabar menjadi marah dan berontak seperti anak kecil saat bertemu dengan pasien perempuan lansia yang menunjukkan gestur otoriter dan kaku.

Walaupun pertemuan antara dokter dan pasien berada dalam ranah profesional yang–sewajarnya–objektif, sisi subjektif dari pertemuan tersebut kadang tidak dapat dielakkan. Sisi subjektif ini melibatkan masa lalu yang membentuk keutuhan diri manusia dari masing-masing pihak.

Jika menjabarkan contoh kasus di atas, gestur rendah diri yang ditampilkan oleh dokter yang sedang berhadapan dengan pasien lansia yang memiliki pendidikan dan jabatan tinggi disebabkan oleh masa lalu dokter yang selalu dituntut untuk berprestasi sejak kecil oleh orang tua yang juga memiliki pendidikan dan jabatan tinggi. Tetapi, alih-alih membanggakan, dokter tersebut selalu merasa tidak mampu untuk memenuhi ekspektasi orang tua. Dari sini, kebiasaan merasa rendah diri mulai terjadi dan muncul kembali setiap kali bertemu dengan seseorang dan situasi yang merepresentasikan masa lalu tersebut.

Hal yang serupa juga terjadi pada dua kasus berikutnya. Pada kasus dokter yang terlalu hanyut akibat mendengar cerita pasien laki-laki dewasa yang menopang perekonomian keluarga, ternyata saat kecil dokter tersebut memiliki ayah yang berperan tunggal dalam menopang kehidupan keluarga yang sangat berat. Terlebih lagi, perekonomian yang dialami dokter saat kecil tersebut benar-benar menimbulkan kesedihan yang teramat dalam.

Pada kasus dokter yang cepat merasa marah dan berontak setiap kali bertemu dengan pasien perempuan lansia yang menunjukan gestur kaku dan otoriter, saat kecil dokter tersebut mengalami hal yang sama: selalu mencoba untuk berontak dengan cara marah-marah akibat didikte oleh ibunya yang sangat otoriter.

Dari beberapa contoh di atas, countertransference tampak sebagai hal negatif yang dapat mengganggu proses terapi. Oleh karena itu, serta-merta kita dapat setuju bahwa countertransference perlu dihindari. Tetapi, apakah demikian?

Kembali kepada konsep bahwa segala sesuatu memiliki sifat saat seseorang menyikapinya, begitu juga dengan countertransference. Countertransference sejatinya juga memiliki sifat positif dalam proses terapi. Countertransference dapat membuat dokter yang menangani pasien lebih mengerti dirinya sendiri dan akhirnya juga dapat sedikit “meraba”–sebatas empati–apa yang terjadi pada alam bawah sadar pasien.

Pada kasus rendah diri yang muncul saat bertemu dengan pasien lansia, dokter yang terbiasa menganalisis countertransference akan dapat merasakan bahwa pasien yang dihadapi adalah orang yang cerdas dan menuntut penjelasan detail yang logis mengenai penyakitnya. Hal tersebut dapat dimanfaatkan dokter untuk lebih bebas menggunakan bahasa kedokteran dalam menjelaskan alur penyakit dengan detail dan berbagai kemungkinan diagnosis serta terapi.  Ini merupakan kelebihan yang dapat dimanfaatkan, mengingat dokter sering terhalang dalam menerjemahkan hal-hal rumit dalam dunia kedokteran ke dalam bahasa sehari-hari.

Saat countertransference disadari, maka pemahaman terhadap latar belakang pasien yang tersirat juga dapat muncul dan hal tersebut dapat menjadi gerbang informasi mengenai cara berdiplomasi dengan pasien. Lebih jauh lagi, kebijaksanaan akan respons dokter terhadap pasien dapat muncul agar hubungan terapi yang lebih baik dapat terjadi.

Apa lagi, countertransference bukanlah respons searah. Respons ini sejatinya adalah timbal balik antara pasien dan dokter. Dengan kata lain, pasien pun mengeluarkan respons serupa yang disebut dengan transference. Respons timbal balik ini sudah berpotensi sejak awal dan akan menguat seiring dengan respons dari masing-masing pihak. Penguatan tersebut dapat mengarah ke negatif atau positif.

Misalkan saja, pada kasus pertama, secara kebetulan pasien lansia yang memiliki riwayat jabatan dan pendidikan tinggi memang sudah memiliki potensi untuk tidak mudah percaya terhadap kemampuan orang lain. Seperti kepada orang lain, pasien tersebut juga menguji kemampuan dokter di depannya dengan objektif. Ketidakpercayaan pasien yang awalnya hanya akan disebabkan murni dari kompetensi dokter, menjadi bergeser dan tetap muncul akibat gestur rendah diri yang ditampilkan oleh dokter di depannya.

Cerita ini akan menjadi lebih menarik jika kita melanjutkan skenario dari alasan pasien lansia mencari dokter untuk mendapat pandangan profesional mengenai penyakitnya.

Ternyata, pasien lansia tersebut memiliki dua orang anak yang juga menjadi dokter. Saat mengeluhkan tentang penyakitnya di rumah, kedua anak pasien sudah menganalisis keluhan, membuat skema diagnosis, dan rencana terapi. Walaupun kompetensi sebagai dokter dari kedua anak pasien lansia tidak dapat diragukan lagi, pasien tersebut tetap tidak mempercayainya. Hal tersebut disebabkan pasien yang tetap memandang anaknya sebagai anak kecil yang selalu dapat diragukan kemampuannya.

Akibat keraguannya, pasien lansia bergegas ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter yang bahkan lebih muda dari kedua anaknya. Tetapi, karena ia berada di rumah sakit dan berhadapan dengan dokter yang tidak dikenal secara personal, pasien tersebut lebih memercayai apapun perkataan dari dokter di hadapannya dari pada anaknya sendiri. Kepercayaan tersebut ternyata ditunjukan dari berbagai pertanyaan logis yang dikemukakan. Hal yang tidak dilakukan saat di rumah di mana pasien selalu menolak diagnosa dari kedua anaknya tanpa membuka ruang diskusi yang terbuka.

Kepercayaan yang terjadi di awal pertemuan pasien lansia dengan dokter di rumah sakit itu bukan tanpa alasan. Kondisi itu–transference–terjadi karena sejak kecil pasien lansia tersebut dididik oleh norma sosial yang menempatkan dokter pada posisi yang disegani. Dengan tidak disadari, didikan norma sosial ini masih berlangsung hingga saat ini. Contohnya, kata-kata dari orang tua kepada anaknya yang nakal dengan: ”Jangan nakal, nanti disuntik Pak Dokter!” Atau, sebutan “dokter” yang tetap disematkan saat seorang dokter sedang berada di pasar, di lingkungan rumah, atau di tempat-tempat lain yang sudah bukan lagi area profesionalnya.

Kepercayaan pasien lansia diperkuat dengan keberadaannya di rumah sakit. Ia seperti berada pada sebuah tempat asing yang ada di bawah kendali dokter di depannya. Pada titik ini, sebenarnya dokter semakin dapat meningkatkan kepercayaan diri dan komunikasi yang lebih baik terhadap pasien lansia. Langkah awal yang perlu dilakukan dokter adalah memahami countertransference yang terjadi kemudian memanfaatkan aspek psikologis dari pasien di depannya dengan meraba transference yang muncul dari sisi pasien. Tetapi, hal ini sering kali tidak dilakukan karena dokter tidak paham dari mana harus memulai sehingga berakhir dengan komunikasi terapetik yang buruk. [T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJI
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: dokterkesehatankomunikasikomunikasi formal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Next Post

Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co