3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Countertransference” dan Kelemahan Dokter dalam Komunikasi Profesional

Krisna Aji by Krisna Aji
March 27, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SEBAGAI dosen pendidik klinis, terdapat banyak hal menarik yang saya temui saat mendampingi residen psikiatri–dokter umum yang sedang menempuh pendidikan untuk menjadi psikiater–yang melakukan konsultasi dan psikoterapi pada pasien.  Residen seringkali mengalami masalah dalam menjalin komunikasi profesional–yang tidak disadari–dengan pasien yang memiliki ciri khas tertentu. Saya pun, sampai saat ini masih mengalaminya dan pernah lebih parah saat masih menjadi dokter umum dan residen. Jika diamati dengan seksama, kondisi ini tidak terbatas pada ranah psikiatri saja tetapi juga dialami oleh dokter di luar psikiatri. Semua dokter mengalaminya.

Misalkan saja–dari gestur yang ditampilkan–dokter yang sebenarnya sangat cerdas tiba-tiba merasa rendah diri saat menghadapi pasien lansia yang memiliki riwayat pendidikan atau jabatan yang tinggi; dokter yang biasanya tenang dan profesional tiba-tiba ikut merasa sedih berlebihan–simpati, dalam hal ini tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan bias saat proses terapi–yang mengganggu proses terapi saat bertemu dengan pasien laki-laki dewasa yang sedang berjuang keras untuk perekonomian keluarganya; atau dokter yang biasanya sabar menjadi marah dan berontak seperti anak kecil saat bertemu dengan pasien perempuan lansia yang menunjukkan gestur otoriter dan kaku.

Walaupun pertemuan antara dokter dan pasien berada dalam ranah profesional yang–sewajarnya–objektif, sisi subjektif dari pertemuan tersebut kadang tidak dapat dielakkan. Sisi subjektif ini melibatkan masa lalu yang membentuk keutuhan diri manusia dari masing-masing pihak.

Jika menjabarkan contoh kasus di atas, gestur rendah diri yang ditampilkan oleh dokter yang sedang berhadapan dengan pasien lansia yang memiliki pendidikan dan jabatan tinggi disebabkan oleh masa lalu dokter yang selalu dituntut untuk berprestasi sejak kecil oleh orang tua yang juga memiliki pendidikan dan jabatan tinggi. Tetapi, alih-alih membanggakan, dokter tersebut selalu merasa tidak mampu untuk memenuhi ekspektasi orang tua. Dari sini, kebiasaan merasa rendah diri mulai terjadi dan muncul kembali setiap kali bertemu dengan seseorang dan situasi yang merepresentasikan masa lalu tersebut.

Hal yang serupa juga terjadi pada dua kasus berikutnya. Pada kasus dokter yang terlalu hanyut akibat mendengar cerita pasien laki-laki dewasa yang menopang perekonomian keluarga, ternyata saat kecil dokter tersebut memiliki ayah yang berperan tunggal dalam menopang kehidupan keluarga yang sangat berat. Terlebih lagi, perekonomian yang dialami dokter saat kecil tersebut benar-benar menimbulkan kesedihan yang teramat dalam.

Pada kasus dokter yang cepat merasa marah dan berontak setiap kali bertemu dengan pasien perempuan lansia yang menunjukan gestur kaku dan otoriter, saat kecil dokter tersebut mengalami hal yang sama: selalu mencoba untuk berontak dengan cara marah-marah akibat didikte oleh ibunya yang sangat otoriter.

Dari beberapa contoh di atas, countertransference tampak sebagai hal negatif yang dapat mengganggu proses terapi. Oleh karena itu, serta-merta kita dapat setuju bahwa countertransference perlu dihindari. Tetapi, apakah demikian?

Kembali kepada konsep bahwa segala sesuatu memiliki sifat saat seseorang menyikapinya, begitu juga dengan countertransference. Countertransference sejatinya juga memiliki sifat positif dalam proses terapi. Countertransference dapat membuat dokter yang menangani pasien lebih mengerti dirinya sendiri dan akhirnya juga dapat sedikit “meraba”–sebatas empati–apa yang terjadi pada alam bawah sadar pasien.

Pada kasus rendah diri yang muncul saat bertemu dengan pasien lansia, dokter yang terbiasa menganalisis countertransference akan dapat merasakan bahwa pasien yang dihadapi adalah orang yang cerdas dan menuntut penjelasan detail yang logis mengenai penyakitnya. Hal tersebut dapat dimanfaatkan dokter untuk lebih bebas menggunakan bahasa kedokteran dalam menjelaskan alur penyakit dengan detail dan berbagai kemungkinan diagnosis serta terapi.  Ini merupakan kelebihan yang dapat dimanfaatkan, mengingat dokter sering terhalang dalam menerjemahkan hal-hal rumit dalam dunia kedokteran ke dalam bahasa sehari-hari.

Saat countertransference disadari, maka pemahaman terhadap latar belakang pasien yang tersirat juga dapat muncul dan hal tersebut dapat menjadi gerbang informasi mengenai cara berdiplomasi dengan pasien. Lebih jauh lagi, kebijaksanaan akan respons dokter terhadap pasien dapat muncul agar hubungan terapi yang lebih baik dapat terjadi.

Apa lagi, countertransference bukanlah respons searah. Respons ini sejatinya adalah timbal balik antara pasien dan dokter. Dengan kata lain, pasien pun mengeluarkan respons serupa yang disebut dengan transference. Respons timbal balik ini sudah berpotensi sejak awal dan akan menguat seiring dengan respons dari masing-masing pihak. Penguatan tersebut dapat mengarah ke negatif atau positif.

Misalkan saja, pada kasus pertama, secara kebetulan pasien lansia yang memiliki riwayat jabatan dan pendidikan tinggi memang sudah memiliki potensi untuk tidak mudah percaya terhadap kemampuan orang lain. Seperti kepada orang lain, pasien tersebut juga menguji kemampuan dokter di depannya dengan objektif. Ketidakpercayaan pasien yang awalnya hanya akan disebabkan murni dari kompetensi dokter, menjadi bergeser dan tetap muncul akibat gestur rendah diri yang ditampilkan oleh dokter di depannya.

Cerita ini akan menjadi lebih menarik jika kita melanjutkan skenario dari alasan pasien lansia mencari dokter untuk mendapat pandangan profesional mengenai penyakitnya.

Ternyata, pasien lansia tersebut memiliki dua orang anak yang juga menjadi dokter. Saat mengeluhkan tentang penyakitnya di rumah, kedua anak pasien sudah menganalisis keluhan, membuat skema diagnosis, dan rencana terapi. Walaupun kompetensi sebagai dokter dari kedua anak pasien lansia tidak dapat diragukan lagi, pasien tersebut tetap tidak mempercayainya. Hal tersebut disebabkan pasien yang tetap memandang anaknya sebagai anak kecil yang selalu dapat diragukan kemampuannya.

Akibat keraguannya, pasien lansia bergegas ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter yang bahkan lebih muda dari kedua anaknya. Tetapi, karena ia berada di rumah sakit dan berhadapan dengan dokter yang tidak dikenal secara personal, pasien tersebut lebih memercayai apapun perkataan dari dokter di hadapannya dari pada anaknya sendiri. Kepercayaan tersebut ternyata ditunjukan dari berbagai pertanyaan logis yang dikemukakan. Hal yang tidak dilakukan saat di rumah di mana pasien selalu menolak diagnosa dari kedua anaknya tanpa membuka ruang diskusi yang terbuka.

Kepercayaan yang terjadi di awal pertemuan pasien lansia dengan dokter di rumah sakit itu bukan tanpa alasan. Kondisi itu–transference–terjadi karena sejak kecil pasien lansia tersebut dididik oleh norma sosial yang menempatkan dokter pada posisi yang disegani. Dengan tidak disadari, didikan norma sosial ini masih berlangsung hingga saat ini. Contohnya, kata-kata dari orang tua kepada anaknya yang nakal dengan: ”Jangan nakal, nanti disuntik Pak Dokter!” Atau, sebutan “dokter” yang tetap disematkan saat seorang dokter sedang berada di pasar, di lingkungan rumah, atau di tempat-tempat lain yang sudah bukan lagi area profesionalnya.

Kepercayaan pasien lansia diperkuat dengan keberadaannya di rumah sakit. Ia seperti berada pada sebuah tempat asing yang ada di bawah kendali dokter di depannya. Pada titik ini, sebenarnya dokter semakin dapat meningkatkan kepercayaan diri dan komunikasi yang lebih baik terhadap pasien lansia. Langkah awal yang perlu dilakukan dokter adalah memahami countertransference yang terjadi kemudian memanfaatkan aspek psikologis dari pasien di depannya dengan meraba transference yang muncul dari sisi pasien. Tetapi, hal ini sering kali tidak dilakukan karena dokter tidak paham dari mana harus memulai sehingga berakhir dengan komunikasi terapetik yang buruk. [T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJI
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: dokterkesehatankomunikasikomunikasi formal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Next Post

Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co