24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 24, 2025
in Persona
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika

I Wayan Suardika | Foto: Angga

DI sebuah sudut keramaian kota Denpasar, Bali, di dekat lapangan atau taman budaya, kadang tampak sosok pria memanggul ransel besar. Bukan menjajakan produk komersial, ia menawarkan sesuatu yang semakin langka disentuh masyarakat yakni buku sastra.

Dialah I Wayan Suardika, sastrawan yang memilih jalan hidup tak biasa—menjual bukunya sendiri, dari tangan ke tangan.

“Buku itu harus proaktif, harus mendatangi masyarakat,” ujarnya tegas. Suardika sadar betul bahwa daya baca di Indonesia masih rendah.

Ia tak mau menunggu bukunya dibeli di toko. Ia turun langsung ke jalan. “Kalau mau hidup dari buku, pengarang harus berani menjual bukunya berkeliling,” katanya, pada Minggu (22/6/2025).

Langkahnya ini bukan tanpa risiko. Hasil penjualan mungkin belum sebanding dengan upaya, tapi Suardika tidak semata-mata mengejar laba.

“Yang pertama, saya ingin melatih mental. Berani tidak saya seperti sekarang ini, menjual buku dengan gaya jelata?” ucapnya. Ia menyebut kegiatannya ini sebagai semacam latihan eksistensi, sekaligus promosi literasi jalanan.

Ia kerap membawa ransel berisi buku ke tempat ramai. Di depan kantor imigrasi, kantor samsat, taman budaya, taman kota, bahkan sudut-sudut pasar. Ia sodorkan buku dan selebaran kecil. Kalau ditawar, ia siap lepas murah.

“Modal sudah balik. Misalkan harga buku Rp90.000, kalau ditawar Rp50.000, saya bisa pura-pura naikkan ke Rp80.000, lalu dilepas di Rp75.000,” jelasnya santai. Ia percaya, menjual buku adalah seni negosiasi—dan pembaca yang jujur perlu dirangkul, bukan dijauhi oleh harga.

Salah satu momen paling menyentuhnya adalah saat seorang remaja SMA jongkok di depannya, tertarik pada buku kumpulan cerpen I Kolok karyanya. “Pak, bisa tidak saya beli Rp20.000?” tanya remaja itu. Suardika langsung mengiyakan. “Sebenarnya saya ingin beri gratis. Tapi supaya ada usaha juga, saya lepas,” ungkap penulis novel Ni Meri, Orang Kalah, dan Orang Menang ini.

Berjualan Nasi Bungkus

Jiwa dagang Suardika memang bukan hasil instan. Ia lahir dari keluarga sederhana, bahkan sebelum masuk SD sudah menjual nasi bungkus. Ibunya yang penuh disiplin mengajarkannya untuk mandiri sejak dini.

“Jam empat subuh saya mulai berjualan, jam sembilan sudah habis. Lalu lanjut jual kerupuk, jual tum. Ibu saya tahu saya nakal, jadi disibukkan berdagang,” kisahnya.

Kedisiplinan itu menyelamatkan Suardika dari lingkungan keras masa kecilnya. Anak-anak di wilayahnya sering diadu berkelahi oleh orang dewasa, dan ia termasuk yang sering “dilepas” di arena. “Besar kecil harus berani,” katanya getir.

Ibunya bahkan meminta adik bungsunya—seorang ketua karate di Bali—untuk mendidik Suardika. Tapi sang paman enggan, dan Suardika akhirnya belajar karate diam-diam.

I Wayan Suardika (kanan) bersama pembaca novel karyanya | Foto: Angga

Meski sempat tinggal kelas dua kali, bukan karena bodoh, melainkan terlalu suka bermain, titik balik hidupnya datang di kelas 4 SD. Seorang guru bernama Ni Made Nadrimenyadarkannya. “Anak ini sebenarnya bisa, tapi tidak terlalu hirau,” kata sang guru.

Kalimat itu memantik gairah belajarnya. Ia mulai mencatat rumus matematika, membaca buku sebelum diajarkan. Hasilnya, Suardika jadi juara kelas dan lolos ke SMP Negeri 1 Denpasar—sekolah impian banyak anak pada masanya.

“Saya naik sepeda berkarat, sementara anak-anak puri banyak yang tidak lolos,” kenangnya bangga. Di sekolah itulah ia berteman dengan anak-anak pejabat dan orang kaya. Namun, ia tak pernah merasa rendah diri. “Saya anak jelata, tapi tidak minder. Justru anak-anak orang kaya itu yang kayak tikus basah,” katanya sambil tertawa.

Tak Mau Menunggu Nasib

Suardika mulai menulis sejak SMP. Puisinya pertama kali dimuat di majalah nasional Mutiara pada 1986. Ia mendapat honor Rp7.500 untuk tiga puisi—jumlah besar di masa itu. Cerita bersambungnya “Lelaki Luar Pagar” di Bali Post bahkan menjadi buah bibir di Bali.

Ia juga pernah memenangkan lomba novel di Bali Post, meski menulis tanpa outline. Karyanya tentang dunia mode dipuji juri karena penguasaan materi. “Saya memang bergaul dengan perancang busana dan model. Saya tahu betul dunia mereka,” ujarnya. Pengetahuan itu ia sulam dalam narasi fiksi yang kuat.

Namun, Suardika tak puas hanya sebagai penulis. Ia juga pengamat dan kritikus. Ia menyayangkan dunia kritik sastra yang terlalu akademis dan menjauh dari pembaca. “Kenapa tidak pakai bahasa biasa? Kenapa harus pakai istilah seperti dekonstruksi dan kosmologi yang tidak semua orang paham?” kritiknya tajam.

Ia mengutip pengalaman membaca tulisan kritik sastra di majalah Tempo yang menggunakan bahasa sederhana tapi tetap indah. “Saya ingin seperti itu. Bahkan Plato pun kalau bisa bicara, mungkin marah. Kenapa zaman sekarang masih ngutip-ngutip terus? Berpikirlah sendiri,” tegasnya.

Hormat kepada Puisi

Meski produktif menulis prosa, Suardika tetap menaruh hormat besar pada puisi. Baginya, puisi adalah inti dari sastra. “Puisi itu kecil, padat, tapi punya daya ledak luar biasa. Seperti bom atom,” katanya. Namun justru karena beban itulah, ia mengaku jarang menulis puisi.

“Puisi harus membebankan perasaan yang tak mampu diucapkan oleh narasi besar. Itu luar biasa indah, tapi sangat berat,” jelas Suardika.

Buku-buku karya I Wayan Suardika | Foto: Angga

Sebagai penulis, Suardika memadukan antara ketekunan, kecerdasan, dan keberanian jalanan. Ia tahu bahwa sastra bukan sekadar seni di menara gading, melainkan sesuatu yang harus mendatangi pembaca—meski itu berarti berdiri di trotoar dan menawarkan buku dari dalam ransel.

“Saya berani diadu dengan siapa saja, dengan para sastrawan nasional. Karena saya paham tulis-menulis. Saya tidak asal bikin novel,” ucapnya penuh keyakinan.

I Wayan Suardika hari ini adalah sosok langka. Ia penulis yang tak menunggu pembaca, tapi mendatangi mereka. Ia tahu bahwa karya harus bekerja keras menyentuh hati masyarakat, dan itu hanya mungkin jika pengarang bersedia turun tangan—secara harfiah.

Ia menjual bukan hanya buku, tapi keberanian, idealisme, dan semangat literasi yang hidup. Di tengah zaman yang serba digital dan pasif, Suardika menunjukkan bahwa kata-kata tetap punya tempat, asalkan dibawa dengan niat dan keberanian.

Di antara suara kendaraan dan langkah kaki di kota, suara lembutnya masih terdengar: “Buku, Pak… Buku, Bu….” [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima
I Wayan Suardika dan Sastra: Rumah yang Menghidupi, Bukan Sekadar Puisi
Sastrawan Harus Miskin: Panduan Praktis Menyalahkan Negara (dan Sedikit Menyindir Masyarakat)
Tags: sastrasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Next Post

Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co