2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 24, 2025
in Persona
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika

I Wayan Suardika | Foto: Angga

DI sebuah sudut keramaian kota Denpasar, Bali, di dekat lapangan atau taman budaya, kadang tampak sosok pria memanggul ransel besar. Bukan menjajakan produk komersial, ia menawarkan sesuatu yang semakin langka disentuh masyarakat yakni buku sastra.

Dialah I Wayan Suardika, sastrawan yang memilih jalan hidup tak biasa—menjual bukunya sendiri, dari tangan ke tangan.

“Buku itu harus proaktif, harus mendatangi masyarakat,” ujarnya tegas. Suardika sadar betul bahwa daya baca di Indonesia masih rendah.

Ia tak mau menunggu bukunya dibeli di toko. Ia turun langsung ke jalan. “Kalau mau hidup dari buku, pengarang harus berani menjual bukunya berkeliling,” katanya, pada Minggu (22/6/2025).

Langkahnya ini bukan tanpa risiko. Hasil penjualan mungkin belum sebanding dengan upaya, tapi Suardika tidak semata-mata mengejar laba.

“Yang pertama, saya ingin melatih mental. Berani tidak saya seperti sekarang ini, menjual buku dengan gaya jelata?” ucapnya. Ia menyebut kegiatannya ini sebagai semacam latihan eksistensi, sekaligus promosi literasi jalanan.

Ia kerap membawa ransel berisi buku ke tempat ramai. Di depan kantor imigrasi, kantor samsat, taman budaya, taman kota, bahkan sudut-sudut pasar. Ia sodorkan buku dan selebaran kecil. Kalau ditawar, ia siap lepas murah.

“Modal sudah balik. Misalkan harga buku Rp90.000, kalau ditawar Rp50.000, saya bisa pura-pura naikkan ke Rp80.000, lalu dilepas di Rp75.000,” jelasnya santai. Ia percaya, menjual buku adalah seni negosiasi—dan pembaca yang jujur perlu dirangkul, bukan dijauhi oleh harga.

Salah satu momen paling menyentuhnya adalah saat seorang remaja SMA jongkok di depannya, tertarik pada buku kumpulan cerpen I Kolok karyanya. “Pak, bisa tidak saya beli Rp20.000?” tanya remaja itu. Suardika langsung mengiyakan. “Sebenarnya saya ingin beri gratis. Tapi supaya ada usaha juga, saya lepas,” ungkap penulis novel Ni Meri, Orang Kalah, dan Orang Menang ini.

Berjualan Nasi Bungkus

Jiwa dagang Suardika memang bukan hasil instan. Ia lahir dari keluarga sederhana, bahkan sebelum masuk SD sudah menjual nasi bungkus. Ibunya yang penuh disiplin mengajarkannya untuk mandiri sejak dini.

“Jam empat subuh saya mulai berjualan, jam sembilan sudah habis. Lalu lanjut jual kerupuk, jual tum. Ibu saya tahu saya nakal, jadi disibukkan berdagang,” kisahnya.

Kedisiplinan itu menyelamatkan Suardika dari lingkungan keras masa kecilnya. Anak-anak di wilayahnya sering diadu berkelahi oleh orang dewasa, dan ia termasuk yang sering “dilepas” di arena. “Besar kecil harus berani,” katanya getir.

Ibunya bahkan meminta adik bungsunya—seorang ketua karate di Bali—untuk mendidik Suardika. Tapi sang paman enggan, dan Suardika akhirnya belajar karate diam-diam.

I Wayan Suardika (kanan) bersama pembaca novel karyanya | Foto: Angga

Meski sempat tinggal kelas dua kali, bukan karena bodoh, melainkan terlalu suka bermain, titik balik hidupnya datang di kelas 4 SD. Seorang guru bernama Ni Made Nadrimenyadarkannya. “Anak ini sebenarnya bisa, tapi tidak terlalu hirau,” kata sang guru.

Kalimat itu memantik gairah belajarnya. Ia mulai mencatat rumus matematika, membaca buku sebelum diajarkan. Hasilnya, Suardika jadi juara kelas dan lolos ke SMP Negeri 1 Denpasar—sekolah impian banyak anak pada masanya.

“Saya naik sepeda berkarat, sementara anak-anak puri banyak yang tidak lolos,” kenangnya bangga. Di sekolah itulah ia berteman dengan anak-anak pejabat dan orang kaya. Namun, ia tak pernah merasa rendah diri. “Saya anak jelata, tapi tidak minder. Justru anak-anak orang kaya itu yang kayak tikus basah,” katanya sambil tertawa.

Tak Mau Menunggu Nasib

Suardika mulai menulis sejak SMP. Puisinya pertama kali dimuat di majalah nasional Mutiara pada 1986. Ia mendapat honor Rp7.500 untuk tiga puisi—jumlah besar di masa itu. Cerita bersambungnya “Lelaki Luar Pagar” di Bali Post bahkan menjadi buah bibir di Bali.

Ia juga pernah memenangkan lomba novel di Bali Post, meski menulis tanpa outline. Karyanya tentang dunia mode dipuji juri karena penguasaan materi. “Saya memang bergaul dengan perancang busana dan model. Saya tahu betul dunia mereka,” ujarnya. Pengetahuan itu ia sulam dalam narasi fiksi yang kuat.

Namun, Suardika tak puas hanya sebagai penulis. Ia juga pengamat dan kritikus. Ia menyayangkan dunia kritik sastra yang terlalu akademis dan menjauh dari pembaca. “Kenapa tidak pakai bahasa biasa? Kenapa harus pakai istilah seperti dekonstruksi dan kosmologi yang tidak semua orang paham?” kritiknya tajam.

Ia mengutip pengalaman membaca tulisan kritik sastra di majalah Tempo yang menggunakan bahasa sederhana tapi tetap indah. “Saya ingin seperti itu. Bahkan Plato pun kalau bisa bicara, mungkin marah. Kenapa zaman sekarang masih ngutip-ngutip terus? Berpikirlah sendiri,” tegasnya.

Hormat kepada Puisi

Meski produktif menulis prosa, Suardika tetap menaruh hormat besar pada puisi. Baginya, puisi adalah inti dari sastra. “Puisi itu kecil, padat, tapi punya daya ledak luar biasa. Seperti bom atom,” katanya. Namun justru karena beban itulah, ia mengaku jarang menulis puisi.

“Puisi harus membebankan perasaan yang tak mampu diucapkan oleh narasi besar. Itu luar biasa indah, tapi sangat berat,” jelas Suardika.

Buku-buku karya I Wayan Suardika | Foto: Angga

Sebagai penulis, Suardika memadukan antara ketekunan, kecerdasan, dan keberanian jalanan. Ia tahu bahwa sastra bukan sekadar seni di menara gading, melainkan sesuatu yang harus mendatangi pembaca—meski itu berarti berdiri di trotoar dan menawarkan buku dari dalam ransel.

“Saya berani diadu dengan siapa saja, dengan para sastrawan nasional. Karena saya paham tulis-menulis. Saya tidak asal bikin novel,” ucapnya penuh keyakinan.

I Wayan Suardika hari ini adalah sosok langka. Ia penulis yang tak menunggu pembaca, tapi mendatangi mereka. Ia tahu bahwa karya harus bekerja keras menyentuh hati masyarakat, dan itu hanya mungkin jika pengarang bersedia turun tangan—secara harfiah.

Ia menjual bukan hanya buku, tapi keberanian, idealisme, dan semangat literasi yang hidup. Di tengah zaman yang serba digital dan pasif, Suardika menunjukkan bahwa kata-kata tetap punya tempat, asalkan dibawa dengan niat dan keberanian.

Di antara suara kendaraan dan langkah kaki di kota, suara lembutnya masih terdengar: “Buku, Pak… Buku, Bu….” [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima
I Wayan Suardika dan Sastra: Rumah yang Menghidupi, Bukan Sekadar Puisi
Sastrawan Harus Miskin: Panduan Praktis Menyalahkan Negara (dan Sedikit Menyindir Masyarakat)
Tags: sastrasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Next Post

Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co