5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
July 15, 2025
in Panggung
Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima

Rabu Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja

Di bangku paling belakang
Aku duduk malu
Menatap bayangan
Dari sela jendela waktu
Senyummu, getar pertama dalam sunyi

ITU puisi yang dibaca Rara, mahasiswa bahasa Inggris di Undiksha dalam acara Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi, Singaraja, Rabu malam, 18 Juni 2025.

Puisi itu karya Rara. Judulnya “Kau yang Tumbuh Bersama Waktu”. Mahasiswa asal Blitar memang sedang giat-giatnya belajar menulis puisi, selain juga membaca puisi-puisi dari penyair terkenal di Indonesia maupun di dunia.

Di atas panggung Rabu Puisi itu Rara yang bernama lengkap Baiq Almira Siang Ratrika itu membacakan dua puisi. Puisi pertama berjudul “Love is More Thicker than Forget” karya E.E Cummings. Ia membaca puisi itu dalam bahasa Inggris.

Rara saat baca puisi dalam acara Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Malam itu, Rabu Puisi memang mengambil tema tentang cinta. Dan Rara pun menulis puisi cinta juga.

Puisi karyanya sendiri yang berjudul “Kau yang Tumbuh Bersama Waktu” itu dibaca dengan nada suara agak bergetar. Ia sangat menghayatinya.

Tentu saja. Sebagaimana dikatakan Rara, puisi yang ditulisnya tahun 2024 itu memang ditulis untuk seseorang yang pernah ia suka. Tapi sekarang, kata Rara, ia sudah berada di tahap move on, walaupun, agaknya, usahanya masih on off.

“Aku menulis puisi ini sebenernya buat kado ulang tahun seseorang. He’s my first love yuhuuuu,” kata Rara dengan humor setelah sedikit tremor.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Acara Rabu Puisi itu digagas Komunitas Mahima di Singaraja. Acara itu sudah tergelar sembilan kali pertemuan sejak bulan April pada tanggal 16 dan 30, dan di bulan Mei pada tanggal 7, 14, 21 dan 28, kemudian di bulan Juni tanggal 4, 11 dan 18.

Dan di pertemuan yang kesembilan acara Rabu Puisi cukup berbeda. Yang biasanya dilakukan di Rumah Belajar Komunitas Mahima di Jalan Jl. Pantai Indah Singaraja, kali itu dilakukan di Sudut Rumah Kopi, Jalan Tanjung, Banyuasri, Singaraja dengan support penuh oleh Diah Krisna, Sudut Rumah Kopi, Men Cobek Resto, dan Top Spot.

Alternatif Penyembuhan

Puisi menjadi satu alternatif sebagai penyembuhan, obat yang tak mesti ditelan. Puisi cukup dibaca, dihayati setiap bait yang ditawarkan oleh si penyair tentang sesuatu.

Serunya suasana Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Seperti pada puisi-puisinya milik Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, WS. Rendra, Amir Hamzah, Umbu Landu Paranggi, Joko Pinurbo, dan Subagio Sastrowardoyo itu, memiliki makna sangat dalam, dibacakan dan didiskusikan dalam setiap acara Rabu Puisi.

Memang hal sepertilah yang digagas Komunitas Mahima untuk membumikan kembali puisi pada generasi muda, dengan tema “Menyembuhkan Semesta dengan Puisi”.

Tak hanya dari penyair tanah air yang dibacakan dan dibahas di setiap Rabu Puisi, tetapi penyair luar—seperti Pablo Neruda, Dorothy Parker, Carol Anna Duffy, dan E.E. Cummings, Lang Leav, dan William Morris, juga dibicarakan.

Dan biasanya para peserta hanya membawakan satu puisi berbahasa Indonesia dan satu puisi berbahasa Inggris, malam itu para peserta yang berlatar mahasiswa, selain datang membawakan beberapa puisi dari penyair lain, tetapi juga puisinya sendiri.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Pada malam Rabu malam di Sudut Rumah Kopi itu ]ada 33 peserta yang datang ketika itu, dan beberapa di antara mereka seperti Santun Pandyameikadewi, Damai Pertiwi, Syareth J Kezia Sumbayak dan Rara, membawakan dengan berani puisi karya sendiri.

Selain Rara yang membaca puisi sendiri, ada juga Syareth J Kezia Sumbaya, mahasiswa Undiksha asal Bandung, yang juga membawakan satu puisi karya sendiri.

Kezia naik ke panggung menyapa semua yang hadir—melempar senyum. Perempuan dengan lukisan di wajahnya itu, membawa puisi berjudul “Rindu”, pernah ditulisnya tahun 2020, di Sukabumi.

Aku benci jarak yang menghalangi kita
Dan yang menyisakan kerinduan yang belum pasti
Aku gak tau kamu sampai kapan meninggalkan aku

Setelah puisi itu selesai dibacakan, Kezia tampaknya merasa enjoy dan lepas, seakan berguguran pula kerinduan dalam puisi miliknya.

Kezia merasa acara malam itu sangat menarik, karena mengembalikan gairah berpuisinya yang sudah lama layu gara-gara Covid-19. Ia suka pada puisi sejak sekolah SD, dan kembali menyala malam itu.

“Tadi kan berkesempatan bisa ngebacain salah satu puisi aku. Senang sih apalagi pas dari setelah Covid tuh udah enggak pernah lagi nulis puisi. Jadi kayak pas tadi ngebacain tuh puas banget sih,” kata Kezia.

Puisi Cinta

Di malam itu, penyair senior Made Adnyana Ole, sedikitnya berkomentar tentang puisi cinta, yang dibuat oleh beberapa peserta. Bahwa dalam percintaan, belum apa-apa jika belum nyeri (pake) banget.

Made Adnyana Ole dan Kadek Sonia Piscayanti, pendiri Komunitas Mahima dan penggagas Rabu Puisi | Foto: tatkala.co/Son

Kenyerian yang ngeri dalam perjuangan cinta—tapi nihil hasilnya, itu bisa menjadi satu suplemen bagaimana puisi itu bisa digarap dengan jiwa sedang basah, lebih hidup.

Patah cinta, atau sedang jatuh cinta, semua itu adalah bahan bakar puisi. Dan belum dikatakan patah cinta kalau dada belum dirasa seperti ada benda bercair masuk ke dalam tubuh melumuri ulu ati, dan menyelinap ke dalam perut—dengan rasa nyeri luar biasa.

Bahan bakar itulah, juga yang membuat puisi Chairil Anwar sangat dahsyat, seperti pada judul puisinya yang berjudul “Tak Sepadan”.

“Dalam puisi itu, pengalaman hidup dan puisi bagi si penyair tidak bisa dipisahkan. Pengalaman patah cinta, kehilangan, adalah kekayaan batin bagi seorang penyair—yang memperkaya nilai puisinya,” kata Made Adnyana Ole.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Dan bagaimana rasa patah cinta seorang Chairil Anwar, ia tunggangi untuk menjelaskan nilai kehidupan yang tidak dilihat dari orang lain, tidak sebatas medium katarsis, atau tempat menumpah perasaan sendiri, tapi ada hal lain yang disampaikan—untuk bisa dikonsumsi sebagai nilai universal.

Kemudian, Kadek Sonia Piscayanti—yang juga penyair, dan kebetulan istrinya Made Adnyana Ole, menyebut mereka yang menyukai puisi adalah kutukan.

“Sebab, puisi adalah seni paling murni, ia ditulis oleh jiwa manusia. Manusia terkutuk—yang menumpahkan hidup dalam makna, melalui puisi.” Kata Kadek Sonia Piscayanti.

Penyair dan Mata Puitiknya

Ada hal-hal yang ngeri atau lebih indah dari hidup yang tidak bisa ditangkap oleh manusia yang tidak pernah tersentuh hidupnya dengan puisi.

Lantas Made Adnyana Ole kemudian memberikan gambaran soal itu, bahwa cara pandang penyair berbeda dengan cara pandang—bukan penyair, dalam proses membuat sajak, ya.

Ketika ombak laut menghantam karang, bagaimana perasaan kita pada sesuatu, patah cinta misalnya, seperti ombak itu menghantam dada kita.

Komang Panji Febrianta, Ni Kadek Andika Yanti, Ni Komang Damai Pertiwi Sanjivani, Trihapsari Utami Azahra dan I Made Anndi Mustika, pemenang nominasi pembaca puisi terbaik Rabu Puisi ke-9 | Foto: tatkala.co/ Son

“Kita bisa merasakan itu di dalam tubuh kita, di dalam badan di dalam hati kita bahwa gelombang itu, adalah menghantam karang yang ada di dalam diri kita.” kata Made Adnyana Ole.

Kemudian ia memberikan contoh yang lembut agar tidak ngeri terus, dalam soal jatuh cinta, misalnya, ketika pada mata kekasih kita atau mata pasangan kita itu berbinar-binar, kita bisa ambil metafora dari alam yang ada di luar diri kita dan kita taruh di mata kekasih kita.

 “Gelombang laut mengalir di dalam matamu,” kata Pak Ole, panggilan akrab dari Made Adnyana Ole memberi contoh sederhana tentang metafora dalam puisi.

Puisi bisa dibuat dari perumpamaan yang mudah ditemui, dan kekayaan pada puisi digantungkan pada apa yang diramu sebagai ornamen, dan fenomena yang tak klise.

Di kehidupan sehari-hari, ada banyak kejadian yang puitik, dan kejadian yang tidak puitik tetapi sebenarnya puitik. Senja adalah fenomena puitik, tapi bagaimana sesuatu yang tidak dianggap puitik, penyair bisa mengangkatnya ke permukaan bisa lebih puitik dari senja, tergantung bagaimana keterampilan si penyair menangkap fenomena itu.

Membaca Puisi

Sementara dalam urusan membaca puisi, puisi yang baik itu dibacakan dengan jujur, dan usaha untuk memberi kekuatan pada “kata”.

Menurut Kadek Sonia Piscayanti, para penyair, telah menghidupkan puisi mereka di kesunyian, dan bahkan bisa bertapa bertahun-tahun untuk memilih kata mana yang tepat untuk puisinya.

Sementara perjuangan seorang penampil atau pembaca puisi, adalah bagaimana puisi itu ketika dibacakan bisa menyihir suasana menjadi hening. Itu tantangannya. Artinya, si pembaca juga mesti ikut serta menghidupkan puisi itu penuh kehati-hatian.

Dan pada malam itu, Rabu Puisi yang ke-9 di Kedai Kopi Sudut Kopi, ada Panji, Damai Pertiwi, Anika, Trihapsari, dan Andi Mustika terpilih sebagai penampil, yang tergolong bagus dalam membaca puisi.

Serunya suasana Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Bagi yang terpilih itu, mereka akan diundang kembali di Rabu Puisi selanjutnya, dan akan diseleksi kembali untuk satu pembaca terbaik. Bagi yang terpilih lagi, akan diberikan hadiah satu buku terbitan Mahima Institut. Mereka bebas memilih buku itu di rak, sesuka hati yang penting satu jumlahnya.

“Panji, ketika ia tampil memiliki penghayatan yang pas. Tidak berlebihan, keutuhan puisinya bagus, vokalnya juga. Kemudian Damai, dia menulis puisinya sendiri, yah, dan ketika dibawakan juga cukup bagus vokalnya.” kata Kadek Sonia Piscayanti sebagai juri menemani Sanne Breimmer, seorang jurnalis yang sedang mengembangkan jurnalisme dekolonialism.

Sedang untuk Trihapsari dan Andi Mustika, memiliki pengkhayatan yang cukup baik, dan tidak terlalu melebih-lebihkan dalam mengekspresikan puisi yang dibawakan.

Begitupun dengan Anika, Kadek Sonia Piscayanti, menilai Anika cukup serius. Ia merasa kagum dengan pembacaan puisinya Anika, dalam membawakan karya Elizabeth Barrett Broaning.

“Karena puisinya Elizabeth Barrett Broaning itu cukup sulit ketika dibacakan, walaupun sebenarnya sederhana sajaknya, tapi itu cukup sulit ketika dibacakan. Dan Anika membawakannya sangat pas,” kata Kadek Sonia Piscayanti, Founder Komunitas Mahima.

Panji, atau bernama lengkap Komang Panji Febrianta, merasa kaget ketika dirinya disebut menjadi pembaca puisi cukup baik. Ketika itu ia membawakan “Dewa Telah Mati” dari Subagio Sastrowardoyo, dan “Don’t go far off” milik Pablo Nerruda.

“Karena sebelumnya saya tidak memiliki ekpektasi untuk menjadi salah satu orang yang terpilih, karena sebelumnya saya juga merasa tidak terlalu siap dalam membawakan puisi yang saya pilih tadi. Dan jujur tadi ketika giliran saya maju sebenarnya saya merasa ragu dan sempat gemeteran karena melihat banyak orang yang hadir,” kata Panji setelah turun dari panggung.

Tapi setelah adanya pengumuman siapa yang terpilih, lanjut Panji, ada rasa kepuasan tersendiri karena rupanya ia juga masuk dalam nominasi itu.

Walaupun di satu sisi ia juga merasa sedikit kecewa dengan penampilannya sendiri, karena ia menilai, penampilan dirinya masih kurang memuaskan ketika di atas panggung. Dan di acara Rabu Puisi selanjutnya, ia akan memperbaiki apa yang dinilainya masih kurang.

Berbeda dengan Andi Mustika, salah satu penyabet nominasi pembaca terbaik malam itu, ia membawakan puisi Chairil Anwar berjudul “Rumahku” dengan cukup meresapi.

Dan setelah turun dari panggung dengan sorak tepuk tangan cukup meriah, ia bercerita, ketika tampil ia memasukan perasaan kerinduannya pada kampung halaman. Rumahnya ada di Karangasem, dan ia lama tidak pulang. Tentu, di sini, ia merasa terobati dengan puisi Chairil itu yang kemudian selesai dibacakan.

Sedang di puisi ke dua, Andi Mustika membacakan puisi berjudul “I Do Not Love You” karya Pablo Neruda.

Di puisi itu, ia memilih puisi Pablo Neruda, hanya karena tema malam itu adalah tentang cinta, dan ia tahu jika Pablo Neruda telah membuat banyak puisi cinta.

Ketika Panji, Anika, Trihapsari, dan Andi Mustika membawakan puisi karya penyair besar dan sabet nominasi, Damai Pertiwi justru membawakan puisinya sendiri, dan masuk di antara mereka yang membawakan puisi penyair besar. Puisi karyanya itu berjudul “Learn to Love Me”.

“Puisi ini terinspirasi dari diri saya sendiri, yang mungkin bisa dibilang dulu saya tidak mencintai diri saya karena fisik. Tapi seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa di dalam diri saya terdapat hal yang berharga, dan layak untuk dicintai!” kata Damai Pratiwi.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Rusdy Ulu sebagai penanggungjawab acara mengatakan puisi selalu punya cara menghubungkan segala hal dan memberi makna kepada setiap yang hidup.

“Entah kebetulan atau tidak, puisi menghubungkan kita satu sama lain,  bahkan menghubungkan kita dengan sesuatu yang lebih luas lagi, anak senja nih sering menyebutnya semesta,” kata Rusdy. 

Melalui Rabu Puisi, kata Rusdy, ia ingin terus terhubung dengan kawan-kawan setiap minggu. Bahwa keterhubungan puisi dan manusia, adalah obat untuk diri dan semesta.

Rusdy mencontohkan puisi yang dibuat Damai Pratiwi. “Melihat puisi yang dibuat oleh Damai, puisi seperti sebuah meditasi yang mendamaikan si pemilik jiwanya!” dawuh Rusdi Ulu. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Jalan Suara”, Musikalisasi Puisi Yayasan Kesenian Sadewa Bali dan Komunitas Disabilitas Tunanetra
Tags: Komunitas MahimaPuisiRabu Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pecalang Perempuan atau Pecalang Istri: Antara Atribut dan Atensi

Next Post

Liburan Anak Bukan Libur Didik: Inspirasi Dunia, Solusi Lokal

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
0
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

Read moreDetails

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

by Komang Sujana
June 3, 2026
0
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

Read moreDetails

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

Read moreDetails

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

Read moreDetails

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Liburan Anak Bukan Libur Didik: Inspirasi Dunia, Solusi Lokal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co