25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
July 15, 2025
in Panggung
Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima

Rabu Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja

Di bangku paling belakang
Aku duduk malu
Menatap bayangan
Dari sela jendela waktu
Senyummu, getar pertama dalam sunyi

ITU puisi yang dibaca Rara, mahasiswa bahasa Inggris di Undiksha dalam acara Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi, Singaraja, Rabu malam, 18 Juni 2025.

Puisi itu karya Rara. Judulnya “Kau yang Tumbuh Bersama Waktu”. Mahasiswa asal Blitar memang sedang giat-giatnya belajar menulis puisi, selain juga membaca puisi-puisi dari penyair terkenal di Indonesia maupun di dunia.

Di atas panggung Rabu Puisi itu Rara yang bernama lengkap Baiq Almira Siang Ratrika itu membacakan dua puisi. Puisi pertama berjudul “Love is More Thicker than Forget” karya E.E Cummings. Ia membaca puisi itu dalam bahasa Inggris.

Rara saat baca puisi dalam acara Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Malam itu, Rabu Puisi memang mengambil tema tentang cinta. Dan Rara pun menulis puisi cinta juga.

Puisi karyanya sendiri yang berjudul “Kau yang Tumbuh Bersama Waktu” itu dibaca dengan nada suara agak bergetar. Ia sangat menghayatinya.

Tentu saja. Sebagaimana dikatakan Rara, puisi yang ditulisnya tahun 2024 itu memang ditulis untuk seseorang yang pernah ia suka. Tapi sekarang, kata Rara, ia sudah berada di tahap move on, walaupun, agaknya, usahanya masih on off.

“Aku menulis puisi ini sebenernya buat kado ulang tahun seseorang. He’s my first love yuhuuuu,” kata Rara dengan humor setelah sedikit tremor.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Acara Rabu Puisi itu digagas Komunitas Mahima di Singaraja. Acara itu sudah tergelar sembilan kali pertemuan sejak bulan April pada tanggal 16 dan 30, dan di bulan Mei pada tanggal 7, 14, 21 dan 28, kemudian di bulan Juni tanggal 4, 11 dan 18.

Dan di pertemuan yang kesembilan acara Rabu Puisi cukup berbeda. Yang biasanya dilakukan di Rumah Belajar Komunitas Mahima di Jalan Jl. Pantai Indah Singaraja, kali itu dilakukan di Sudut Rumah Kopi, Jalan Tanjung, Banyuasri, Singaraja dengan support penuh oleh Diah Krisna, Sudut Rumah Kopi, Men Cobek Resto, dan Top Spot.

Alternatif Penyembuhan

Puisi menjadi satu alternatif sebagai penyembuhan, obat yang tak mesti ditelan. Puisi cukup dibaca, dihayati setiap bait yang ditawarkan oleh si penyair tentang sesuatu.

Serunya suasana Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Seperti pada puisi-puisinya milik Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, WS. Rendra, Amir Hamzah, Umbu Landu Paranggi, Joko Pinurbo, dan Subagio Sastrowardoyo itu, memiliki makna sangat dalam, dibacakan dan didiskusikan dalam setiap acara Rabu Puisi.

Memang hal sepertilah yang digagas Komunitas Mahima untuk membumikan kembali puisi pada generasi muda, dengan tema “Menyembuhkan Semesta dengan Puisi”.

Tak hanya dari penyair tanah air yang dibacakan dan dibahas di setiap Rabu Puisi, tetapi penyair luar—seperti Pablo Neruda, Dorothy Parker, Carol Anna Duffy, dan E.E. Cummings, Lang Leav, dan William Morris, juga dibicarakan.

Dan biasanya para peserta hanya membawakan satu puisi berbahasa Indonesia dan satu puisi berbahasa Inggris, malam itu para peserta yang berlatar mahasiswa, selain datang membawakan beberapa puisi dari penyair lain, tetapi juga puisinya sendiri.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Pada malam Rabu malam di Sudut Rumah Kopi itu ]ada 33 peserta yang datang ketika itu, dan beberapa di antara mereka seperti Santun Pandyameikadewi, Damai Pertiwi, Syareth J Kezia Sumbayak dan Rara, membawakan dengan berani puisi karya sendiri.

Selain Rara yang membaca puisi sendiri, ada juga Syareth J Kezia Sumbaya, mahasiswa Undiksha asal Bandung, yang juga membawakan satu puisi karya sendiri.

Kezia naik ke panggung menyapa semua yang hadir—melempar senyum. Perempuan dengan lukisan di wajahnya itu, membawa puisi berjudul “Rindu”, pernah ditulisnya tahun 2020, di Sukabumi.

Aku benci jarak yang menghalangi kita
Dan yang menyisakan kerinduan yang belum pasti
Aku gak tau kamu sampai kapan meninggalkan aku

Setelah puisi itu selesai dibacakan, Kezia tampaknya merasa enjoy dan lepas, seakan berguguran pula kerinduan dalam puisi miliknya.

Kezia merasa acara malam itu sangat menarik, karena mengembalikan gairah berpuisinya yang sudah lama layu gara-gara Covid-19. Ia suka pada puisi sejak sekolah SD, dan kembali menyala malam itu.

“Tadi kan berkesempatan bisa ngebacain salah satu puisi aku. Senang sih apalagi pas dari setelah Covid tuh udah enggak pernah lagi nulis puisi. Jadi kayak pas tadi ngebacain tuh puas banget sih,” kata Kezia.

Puisi Cinta

Di malam itu, penyair senior Made Adnyana Ole, sedikitnya berkomentar tentang puisi cinta, yang dibuat oleh beberapa peserta. Bahwa dalam percintaan, belum apa-apa jika belum nyeri (pake) banget.

Made Adnyana Ole dan Kadek Sonia Piscayanti, pendiri Komunitas Mahima dan penggagas Rabu Puisi | Foto: tatkala.co/Son

Kenyerian yang ngeri dalam perjuangan cinta—tapi nihil hasilnya, itu bisa menjadi satu suplemen bagaimana puisi itu bisa digarap dengan jiwa sedang basah, lebih hidup.

Patah cinta, atau sedang jatuh cinta, semua itu adalah bahan bakar puisi. Dan belum dikatakan patah cinta kalau dada belum dirasa seperti ada benda bercair masuk ke dalam tubuh melumuri ulu ati, dan menyelinap ke dalam perut—dengan rasa nyeri luar biasa.

Bahan bakar itulah, juga yang membuat puisi Chairil Anwar sangat dahsyat, seperti pada judul puisinya yang berjudul “Tak Sepadan”.

“Dalam puisi itu, pengalaman hidup dan puisi bagi si penyair tidak bisa dipisahkan. Pengalaman patah cinta, kehilangan, adalah kekayaan batin bagi seorang penyair—yang memperkaya nilai puisinya,” kata Made Adnyana Ole.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Dan bagaimana rasa patah cinta seorang Chairil Anwar, ia tunggangi untuk menjelaskan nilai kehidupan yang tidak dilihat dari orang lain, tidak sebatas medium katarsis, atau tempat menumpah perasaan sendiri, tapi ada hal lain yang disampaikan—untuk bisa dikonsumsi sebagai nilai universal.

Kemudian, Kadek Sonia Piscayanti—yang juga penyair, dan kebetulan istrinya Made Adnyana Ole, menyebut mereka yang menyukai puisi adalah kutukan.

“Sebab, puisi adalah seni paling murni, ia ditulis oleh jiwa manusia. Manusia terkutuk—yang menumpahkan hidup dalam makna, melalui puisi.” Kata Kadek Sonia Piscayanti.

Penyair dan Mata Puitiknya

Ada hal-hal yang ngeri atau lebih indah dari hidup yang tidak bisa ditangkap oleh manusia yang tidak pernah tersentuh hidupnya dengan puisi.

Lantas Made Adnyana Ole kemudian memberikan gambaran soal itu, bahwa cara pandang penyair berbeda dengan cara pandang—bukan penyair, dalam proses membuat sajak, ya.

Ketika ombak laut menghantam karang, bagaimana perasaan kita pada sesuatu, patah cinta misalnya, seperti ombak itu menghantam dada kita.

Komang Panji Febrianta, Ni Kadek Andika Yanti, Ni Komang Damai Pertiwi Sanjivani, Trihapsari Utami Azahra dan I Made Anndi Mustika, pemenang nominasi pembaca puisi terbaik Rabu Puisi ke-9 | Foto: tatkala.co/ Son

“Kita bisa merasakan itu di dalam tubuh kita, di dalam badan di dalam hati kita bahwa gelombang itu, adalah menghantam karang yang ada di dalam diri kita.” kata Made Adnyana Ole.

Kemudian ia memberikan contoh yang lembut agar tidak ngeri terus, dalam soal jatuh cinta, misalnya, ketika pada mata kekasih kita atau mata pasangan kita itu berbinar-binar, kita bisa ambil metafora dari alam yang ada di luar diri kita dan kita taruh di mata kekasih kita.

 “Gelombang laut mengalir di dalam matamu,” kata Pak Ole, panggilan akrab dari Made Adnyana Ole memberi contoh sederhana tentang metafora dalam puisi.

Puisi bisa dibuat dari perumpamaan yang mudah ditemui, dan kekayaan pada puisi digantungkan pada apa yang diramu sebagai ornamen, dan fenomena yang tak klise.

Di kehidupan sehari-hari, ada banyak kejadian yang puitik, dan kejadian yang tidak puitik tetapi sebenarnya puitik. Senja adalah fenomena puitik, tapi bagaimana sesuatu yang tidak dianggap puitik, penyair bisa mengangkatnya ke permukaan bisa lebih puitik dari senja, tergantung bagaimana keterampilan si penyair menangkap fenomena itu.

Membaca Puisi

Sementara dalam urusan membaca puisi, puisi yang baik itu dibacakan dengan jujur, dan usaha untuk memberi kekuatan pada “kata”.

Menurut Kadek Sonia Piscayanti, para penyair, telah menghidupkan puisi mereka di kesunyian, dan bahkan bisa bertapa bertahun-tahun untuk memilih kata mana yang tepat untuk puisinya.

Sementara perjuangan seorang penampil atau pembaca puisi, adalah bagaimana puisi itu ketika dibacakan bisa menyihir suasana menjadi hening. Itu tantangannya. Artinya, si pembaca juga mesti ikut serta menghidupkan puisi itu penuh kehati-hatian.

Dan pada malam itu, Rabu Puisi yang ke-9 di Kedai Kopi Sudut Kopi, ada Panji, Damai Pertiwi, Anika, Trihapsari, dan Andi Mustika terpilih sebagai penampil, yang tergolong bagus dalam membaca puisi.

Serunya suasana Rabu Puisi #9 di Sudut Rumah Kopi Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Bagi yang terpilih itu, mereka akan diundang kembali di Rabu Puisi selanjutnya, dan akan diseleksi kembali untuk satu pembaca terbaik. Bagi yang terpilih lagi, akan diberikan hadiah satu buku terbitan Mahima Institut. Mereka bebas memilih buku itu di rak, sesuka hati yang penting satu jumlahnya.

“Panji, ketika ia tampil memiliki penghayatan yang pas. Tidak berlebihan, keutuhan puisinya bagus, vokalnya juga. Kemudian Damai, dia menulis puisinya sendiri, yah, dan ketika dibawakan juga cukup bagus vokalnya.” kata Kadek Sonia Piscayanti sebagai juri menemani Sanne Breimmer, seorang jurnalis yang sedang mengembangkan jurnalisme dekolonialism.

Sedang untuk Trihapsari dan Andi Mustika, memiliki pengkhayatan yang cukup baik, dan tidak terlalu melebih-lebihkan dalam mengekspresikan puisi yang dibawakan.

Begitupun dengan Anika, Kadek Sonia Piscayanti, menilai Anika cukup serius. Ia merasa kagum dengan pembacaan puisinya Anika, dalam membawakan karya Elizabeth Barrett Broaning.

“Karena puisinya Elizabeth Barrett Broaning itu cukup sulit ketika dibacakan, walaupun sebenarnya sederhana sajaknya, tapi itu cukup sulit ketika dibacakan. Dan Anika membawakannya sangat pas,” kata Kadek Sonia Piscayanti, Founder Komunitas Mahima.

Panji, atau bernama lengkap Komang Panji Febrianta, merasa kaget ketika dirinya disebut menjadi pembaca puisi cukup baik. Ketika itu ia membawakan “Dewa Telah Mati” dari Subagio Sastrowardoyo, dan “Don’t go far off” milik Pablo Nerruda.

“Karena sebelumnya saya tidak memiliki ekpektasi untuk menjadi salah satu orang yang terpilih, karena sebelumnya saya juga merasa tidak terlalu siap dalam membawakan puisi yang saya pilih tadi. Dan jujur tadi ketika giliran saya maju sebenarnya saya merasa ragu dan sempat gemeteran karena melihat banyak orang yang hadir,” kata Panji setelah turun dari panggung.

Tapi setelah adanya pengumuman siapa yang terpilih, lanjut Panji, ada rasa kepuasan tersendiri karena rupanya ia juga masuk dalam nominasi itu.

Walaupun di satu sisi ia juga merasa sedikit kecewa dengan penampilannya sendiri, karena ia menilai, penampilan dirinya masih kurang memuaskan ketika di atas panggung. Dan di acara Rabu Puisi selanjutnya, ia akan memperbaiki apa yang dinilainya masih kurang.

Berbeda dengan Andi Mustika, salah satu penyabet nominasi pembaca terbaik malam itu, ia membawakan puisi Chairil Anwar berjudul “Rumahku” dengan cukup meresapi.

Dan setelah turun dari panggung dengan sorak tepuk tangan cukup meriah, ia bercerita, ketika tampil ia memasukan perasaan kerinduannya pada kampung halaman. Rumahnya ada di Karangasem, dan ia lama tidak pulang. Tentu, di sini, ia merasa terobati dengan puisi Chairil itu yang kemudian selesai dibacakan.

Sedang di puisi ke dua, Andi Mustika membacakan puisi berjudul “I Do Not Love You” karya Pablo Neruda.

Di puisi itu, ia memilih puisi Pablo Neruda, hanya karena tema malam itu adalah tentang cinta, dan ia tahu jika Pablo Neruda telah membuat banyak puisi cinta.

Ketika Panji, Anika, Trihapsari, dan Andi Mustika membawakan puisi karya penyair besar dan sabet nominasi, Damai Pertiwi justru membawakan puisinya sendiri, dan masuk di antara mereka yang membawakan puisi penyair besar. Puisi karyanya itu berjudul “Learn to Love Me”.

“Puisi ini terinspirasi dari diri saya sendiri, yang mungkin bisa dibilang dulu saya tidak mencintai diri saya karena fisik. Tapi seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa di dalam diri saya terdapat hal yang berharga, dan layak untuk dicintai!” kata Damai Pratiwi.

Sosok-sosok penuh gairah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Rusdy Ulu sebagai penanggungjawab acara mengatakan puisi selalu punya cara menghubungkan segala hal dan memberi makna kepada setiap yang hidup.

“Entah kebetulan atau tidak, puisi menghubungkan kita satu sama lain,  bahkan menghubungkan kita dengan sesuatu yang lebih luas lagi, anak senja nih sering menyebutnya semesta,” kata Rusdy. 

Melalui Rabu Puisi, kata Rusdy, ia ingin terus terhubung dengan kawan-kawan setiap minggu. Bahwa keterhubungan puisi dan manusia, adalah obat untuk diri dan semesta.

Rusdy mencontohkan puisi yang dibuat Damai Pratiwi. “Melihat puisi yang dibuat oleh Damai, puisi seperti sebuah meditasi yang mendamaikan si pemilik jiwanya!” dawuh Rusdi Ulu. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Jalan Suara”, Musikalisasi Puisi Yayasan Kesenian Sadewa Bali dan Komunitas Disabilitas Tunanetra
Tags: Komunitas MahimaPuisiRabu Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pecalang Perempuan atau Pecalang Istri: Antara Atribut dan Atensi

Next Post

Liburan Anak Bukan Libur Didik: Inspirasi Dunia, Solusi Lokal

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
0
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

Read moreDetails

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

Read moreDetails

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

Read moreDetails

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

Read moreDetails

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
0
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

Read moreDetails

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
0
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

Read moreDetails

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

Read moreDetails

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

by Ingga Adelia
June 15, 2026
0
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Liburan Anak Bukan Libur Didik: Inspirasi Dunia, Solusi Lokal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co