23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 25, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

“Hormati kerja mereka dengan tidak membuang sampah ke saluran,
Jangan giliran banjir selalu menyalahkan pemerintah”
(Ridwan Kamil)

Perkembangan kota-kota di Indonesia tidak selalu berjalan sesuai dengan karakter lingkungan sosial budaya masyarakat setempat, sebagaimana yang menjadi potensi dari suatu kota. Beberapa ahli telah menyuarakan bahwa perkembangan kota-kota di Indonesia telah melupakan dan kehilangan jatidiri kota sebagai identitas serta kearifan lingkungan sosial budaya mayarakat setempat.

Menurut Sugiono Soetomo (2013), bahwa hasil proses modernisasi perkotaan menciptakan wajah kota yang sebagian besar tidak tertata dan tidak memiliki identitas kedaerahan. Jejep Fahlul Alam, seorang budayawan dari Majalengka juga menggambarkan bahwa jatidiri suatu kota itu mutlak harus ada, untuk menjadi awal dan pegangan bagi pemerintahan kota dalam melaksanakan pembangunan, saat hari jadi Kota Majalengka (Warta Kiwari Jawa Barat, 7 Juni 2016).

Mengamati karakter dan beberapa ciri khas kota-kota di Jawa sebagian besar telah luntur atau bahkan hilang. Sekitar dua dekade yang lalu (periode 1995-2005), kota-kota di Tanah Air beramai-ramai mendengungkan jargon kotanya masing-masing. Sebutlah Bandung dengan Berhiber, Tasik Bersinar, Semarang Berseri, Yogyakarta Berhati Nyaman dan sebagainya. Pada umumnya, jargon tersebut adalah akronim dari sejumlah kondisi yang diharapkan dapat ditemui di kota tersebut, misal Bandung Bersih, Hijau, Berbunga (Berhiber), Yogyakarta Bersih, Sehat, Indah, Nyaman, Aman (Berhati Nyaman).

Ketika krisis ekonomi melanda dunia pada 1995, berbagai negara mulai menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa baru. Maka tren pencitraan kota pun kemudian bergeser menjadi bernuansa lokal-global, seperti Bandung Emerging Creative City, Pekalongan World’s City of Batik, Solo the Spirit of Jawa, Surabaya the Sparkling City dan Yogya dengan Never Ending Asia. Kota Serang Banten dengan semboyan “Kota Serang Madani”.

Kedua tipe tren jargon tersebut sejatinya memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun brand (merek) atau identitas kota. Dengan identitas yang dimiliki, diharapkan orang dapat memberikan kesan (citra) positif terhadap kota tersebut, atau dengan kata lain setidaknya  mereka sedang melakukan pencitraan kota (city imaging).

Permasalahannya, pencitraan sebuah kota sering terjebak sekedar pada aktivitas yang sifatnya artifisial. Misal sekedar membuat jargon tetapi tidak relevan dengan karakteristik kota atau tidak mengintegrasikan jargon tersebut dengan master plan pembangunan kota, atau prinsip  pelayanan kepada masyarakat dan sebagainya.

Salah satu contoh kasus pencitraan kota (city branding) yang masih mencari bentuk dan model dapat ditemukan di kota Bandung. Bandung sebagai kota yang diberi label atau merek seperti kota Eropa yaitu Paris van Java di masa silam, yang kemudian mencanangkan Bandung Bersih Hijau Berbunga sebagai identitas  kotanya, justru bermasalah dengan lingkungan. Banjir yang mendera Bandung setiap hujan deras hampir menihilkan upaya pencitraan Bandung sebagai destinasi wisata kreatif dan bahkan sebagai destinasi wisata internasional. Sampah yang hampir dapat dengan mudah ditemukan di sungai-sungai di Bandung seperti tumpukan sampah di aliran sungai Cikapundung dan Soreang yang membelah kota Bandung, beberapa tahun yang lalu.

Dengan semboyan Kota Madani Serang, mencitrakan kota di mana di dalamnya sebuah masyarakat yang beradab yang mengacu pada nilai-nilai kebijakan bersama, dasar masyarakat madani adalah persatuan dan integrasi sosial yang didasarkan pada suatu pedoman hidup, menghindari diri dari konflik dan permusuhan yang menyebabkan perpecahan dan hidup dalam suatu persaudaraan.

Madani memiliki multi makna yaitu sebagai suatu masyarakat demokratis, menjunjung etika dan moralitas, transparans, toleran, berpotensi, aspiratif, bermotivasi, berpartisipasi, konsisten, mengakui emansipasi, dan hak asasi. Dapat dikatakan makna semboyan Kota Serang ini adalah semua hal yang positif tentang sebuah kota dan masyarakatnya dicerminkan, sangat ideal dan menantang kita semua untuk mewujudkannya.

***

Mencari identitas kota memang sebaiknya disarikan dari karakteristik kota itu sendiri, apalagi jika ingin membawa unsur wisata dan secara khusus wisata belanja sebagai ikon kotanya. Sekedar menyebut kotanya sebagai The Beauty of Asia seperti Semarang, namun tidak didukung oleh karakteristik kota yang relevan tentu saja menjadi absurd. Salah satu wilayah di Tanah Air yang identik sebagai ikon pusat belanja  selain Jakarta dan Bandung di Jawa adalah Bali.

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata, identitas sebagai destinasi wisata budaya  sangat kental dengan kehidupan wisata di Bali. Salah satu prinsip hidup yang dijadikan pegangan masyarakat  Bali adalah  Tri Hita Karana, tiga penyebab terciptanya kebahagiaan, meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan Tuhan yang saling terkait satu sama lain, secara harmonis dan seimbang.

Menurut Kavaratzis (2004:66) dalam ilmu komunikasi studi tentang jargon, iklan, humas, dan sejenisnya itu adalah tahapan kedua dari proses pencitraan kota. Tahapan utama adalah justru pada pengelolaan ruang, perilaku, infrastruktur, dan struktur organisasi.

Bagaimana membuat brand Kota Serang yang dapat memberikan kenangan, ketika meninggalkan dan memberikan rasa bangga pada orang yang menetap di dalamnya. Hal tersebut dapat terwujud jika nilai sebuah kota dikemas menjadi brand yang hasilnya bisa memenuhi harapan masyarakatnya, sesuai dengan kondisi kota yang sebenarnya. Bukan penentuan atau pencapaian target seperti apa kota ini di mata publik, tapi lebih kepada apa yang dimiliki kota  sehingga publik perlu memberinya citra tertentu terhadap kota Serang. Semoga impian Serang Menjadi Kota Madani dapat kita sama-sama wujudkan. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Saat Malam Jatuh di Surabaya Barat
Proyek Kota dalam Teater 2025 — Yang Tidak Terhubung: Warga dan Kota
Memandang Kota Malang Lewat Jendela Bus, dan Memantau Lewat “Ngalam Command Center”
Tags: jargonKota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika

Next Post

Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja

Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co