3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memandang Kota Malang Lewat Jendela Bus, dan Memantau Lewat “Ngalam Command Center”

Son Lomri by Son Lomri
April 29, 2025
in Tualang
Memandang Kota Malang Lewat Jendela Bus, dan Memantau Lewat “Ngalam Command Center”

Memantau Kota Malang dari Ngalam Command Center | Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng

BUS bergerak pelan, terkadang sangat perlahan, membuat kami yang duduk di dalamnya bisa dengan leluasa melihat keluar—lewat jendela—pemandangan ramai kota. Rumah-rumah, gedung, taman, pusat perbelanjaan, dan orang-orang bergerak di atas trotoar. Sesekali, mata menangkap pemandangan klasik kota—seseorang duduk bengong sembari merokok di emper toko, barangkali orang itu sedang ditekan oleh kehidupan.

Hari itu, Jumat pagi menuju siang, 25 April 2025. Kami sedang lewat di jalan-jalan Kota Malang di Jawa Timur. Kami, rombongan wartawan bersama pejabat dan staf Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfisanti) Buleleng diantar bus menuju Kantor Wali Kota Malang, setelah semalam kami menginap di Grand Cakra Hotel. Kami melakukan studi komparasi, terutama belajar tentang teknologi komunikasi yang digunakan Pemerintah Kota Malang dalam memantau kota.

Saya menikmati obrolan di dalam bus, juga menikmati pemandangan di luar. Kota Malang  sebentar lagi bisa seperti Jakarta. Padat, penuh bangunan tinggi, dan bisa juga panas. Padahal, Kota Malang masih dingat dengan jelas punya julukan Kota Dingin. Kota Malang memang dikelilingi sejumlah pegunungan seperti Gunung Bromo, Semeru dan Arjuno sehingga udaranya dominan sejuk.

 “Dulu, Malang adalah kota yang dingin. Syahdu. Apel bisa tumbuh tak mesti di daerah Batu. Tapi sekarang Malang cukup panas, dan apel hanya tumbuh di Kota Batu karena di sana masih dingin,” kata Ayun seakan-akan membaca pikiran saya.

Ayun sang pemandu | Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng

Ayun bernama lengkap Qurota’ayuni. Ia berdiri di depan memandu kami dengan sangat sabar. Ia  seorang guide asli Malang tapi berdarah Madura, dan ketika bercerita tentang perkembangan kota Aremania, ia terlihat punya wawasan cukup luas, terutama ketika menjelaskan Kota Malang dalam sejurus perjalanan itu.

“Kenapa Malang sekarang menjadi panas?” tanya salah seorang Staf Kominfosanti yang duduknya tidak terlalu jauh dari tempat Ayun berdiri, dekat pak sopir.

“Karena ada kamu!” kata Ayun melempar humor dengan senyum.

Seketika sorak terdengar ramai, ada yang mencuit-cuit di dalam mobil. O, Suasana semakin mencair. Sebagai seorang guide, selain wawasannya tentang Malang boleh dikata mumpuni, Ayun juga ternyata lihai membawa suasana perjalanan menjadi asik. Tidak serem.

Dan setelah sorak itu berhenti, Ayun menjawab dengan tenang. “Karena sudah banyak pembangunan di sini, sudah ada gedung-gedung tinggi. Villa, dan lain-lain!”

Balai Kota Malang yang berdekatan dengan Tugu Malang dan seseorang sedang olahraga di areal tugu | Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng

Gedung tinggi memang banyak dijumpai di Malang. Meski tidak sebanyak dan setinggi-tingginya gedung di Jakarta, tapi kesan metropolitan sudah mulai terasa di kota itu, terutama di jantung kota, di kawasan mewah.  

Bakso dan Heritage

Tapi Kota Malang tentu tak melulu gedung tinggi. Ketika bus melaju pelan, mata saya tertuju pada kawasan yang tampak rindang dan sejuk. Di situ pohon-pohon terpelihara, terdapat rumah-rumah biasa, tidak bertingkat, seperti perkampungan yang rapi di dalam kota.

Ayun menunjukkan rumah-rumah itu lewat kaca jendela. Rumah itu dihuni warga Kota Malang, barangkali juga dihuni para mahasiswa dari penjuru Indonesia yang ngontrak atau kos di kawasan itu. Di kawasan itu tampak kehidupan lebih Indonesia, lebih lokal. Warung bakso tampak beberapa langkah dari trotoar jalan.

“Itu milik masyarakat lokal,” tunjuk Ayun dari dalam bus.

Kota Malang, kata Ayun, memang terkenal dengan baksonya. “Bakso malang itu kuahnya bening tapi ngaldu. Asik!” kata Ayun, melempar humor dan seperti merayu kami harus mencoba bakso Malang yang enak  di kota asalnya langsung.

Bakso Malang berbeda jauh dengan bakso Solo, kata Ayun. Jika bakso Solo ciri khasnya mengapung, sementara bakso Malang itu komplit. “Ada bakso alus, urat, krupuk, tetelan. Komplit, dan tidak mengapung,” kata Ayun.

Balai Kota Malang | Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng

Menurut Ayun, tak mesti ke restoran untuk mencoba semangkuk bakso yang ngaldu itu, cukup cari saja grombongan bakso yang biasa melintas di pinggir jalan. Karena menurutnya, bakso yang diracik dari rombong itu tidak kalah lezatnya  dari racikan ala restoran. Ini serius…

“Ada yang pernah nyoba bakso malang, Bapak, Ibu?” Ayun bertanya. Barangkali untuk membangunkan kami yang mulai sibuk dengan pikiran masing-masing.

Kami, yang ada di dalam bus, biasa saja reaksinya. Tapi melihat Ayun berseri wajahanya ketika berbicara, semua tampaknya senang dengan pertanyaan itu—walaupun biasa-biasa saja.

Di Bali, kata salah seorang menimpali, bakso Malang juga ada. Banyak. Dan Ayun seperti sudah tahu kesimpulannya bahwa semua yang ada di dalam mobil kami, sudah pernah merasakann bakso Malang.

Ya, nyaris ada di mana-mana bakso Malang itu dijual. Tapi kali ini, adalah soal vibes saja, kata Ayun. Kali ini harus mencobanya di rumah aslinya si bakso bening tapi ngaldu ini. Belilah di rombong bakso, tak mesti pergi ke restoran. Cobalah…

Tapi di kawasan elit Grand Cakra, lanjut Ayun, nyaris tidak tidak akan ditemukan rombong bakso melintas memukul-mukul sebuah mangkuk, memanggil-manggil itu. Perlu usaha kecil—keluar sedikit dari kawasan hotel, maka rombong bakso bisa dijumpai di pinggir jalan.

Di belakang Mall Plaza Araya—yang tak jauh dari kawasan elit itu, misalnya, biasanya rombong bakso lewat di sana. Ada STMJ juga di sana buka sedari jam tiga siang hingga tengah malam. Nasi bakar di angkringan, nasi goreng juga ada di malam hari khas kota ini bisa dijumpai.

Letaknya tidak begitu jauh dari kawasan hotel, cukup melewati satu lampu merah ke arah kanan dari hotel-melewati mall, di sana kuliner sederhana bisa didapatkan.

Di Malang, nyaris semua tempat asik dikunjungi. Dari yang biasa, klasik, hingga mewah tersedia. Untuk kawasan mewah misalnya, Ayun menyebut Green Boulevard sudah seperti kota kecil di dalam kota. Lengkap. Ada bioskop di dalam mall megah itu, ada juga kedai kopi mewah di luarnya. Restoran mahal tersedia juga di satu garis mewah yang sama: Green Boulevard.

“Vibes kotanya dapat karena bangunanya yang mewah. Rumah-rumahnya mewah dan berkesan,” kata Ayun.

Foto-foto walikota di dinding Malang Nominor Sunsum Moveor ketika menaiki anak tangga menuju ruang Balai Kota Malang di lantai dua | Foto: tatkala.co/Son

Ketika bus melaju lebih jauh, pandangan mata tiba pada kawasan Kampoeng Heritage Kajoetangan. Terlihat rumah-rumah yang dibangun pada abad ke-19 hingga awal abad 20-an. Semua mata melongok, memburu pandang bangunan itu.

“Kalau Jogja punya Malioboro, Malang punya Kajoetangan, hehe,” kata Ayun membandingkan tempat nongkrong wajib ala Malang dengan Jogja.

Namun setidaknya, melintasi Kawasan Kajoetangan itu, walau tak sempat mampir, vibes kota ini membawa pada satu bayangan kami semua di balik kaca. Bahwa ada banyak hal yang dirawat oleh kota ini selain pembangunan megah yang serius ditunjukkan.

Di kota ini, tak hanya kawasan elit yang modernis—dibangun kuat-kuat, tapi bagaimana bangunan jaman baheula juga masih dirawat dan masih bisa dirasakan keberadaannya. Bahkan dijadikan semacam wisata, siapa saja boleh datang. Tapi sayang, kami hanya melewatinya, merasakan keberadaannya di kaca bus.

Kota Dengan Sistem Pemantauan Terpadu

Sepanjang jalan menuju Kantor Wali Kota Malang yang berada di Jalan Tugu, kami juga melewati jantung kota pendidikan. Kami melewati beberapa kampus seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, dan beberapa kampus lain juga yang satu kampus dan kampus lain jaraknya tidak terlalu jauh. Barangkali karena itu juga Kota Malang juga mendapat julukan Kota Pendidikan.

Menatap Kampus Universitas Brawijaya dari jendela bus | Foto: tatkala.co/Son

Sekitar jam 09.30 WIB bus sampai di Kantor Wilayah Kota Malang, dan Ayun menghentikan ceritanya, menyilakan kami turun dan memberi selamat kunjungan. Kami 33 jurnalis dan beberapa stafDinas Kominfosanti mulai bergegas keluar dari bus..

Beberapa orang dari pihak Pemkot Malang menyambut kami datang dengan ramah, dan ditunjukkannya kami lantai dua, Ruang Sidang Balai Kota Malang.

Di dinding tangga menuju lantai dua, beberapa foto hitam putih dari wajah mantan Walikota Malang terdahulu tercantel dengan tulisan besar di atasnya “Malang Nominor Sursum Moveor”—seakan juga menyambut kami datang.

Antara lain nama-nama penuh jasa itu diabadikan:  H.I Bussemaker (1919-1929), Ir. Vorneman (1929-1933), Ir. Lakeman (1933-1936), J.H. Boerstra (1936-1942), M. Soehari Hadinoto (1942-1945), Sardjonowirjohardjono (1945-1958).

Selain itu, juga terpampang jelas dengan senyum ksataria wajah mantan walikota atas nama Koesno Soeroatmodjo (1958-1966), Kol. M. NG. Soedarto (1966-1968), Letkol R. Indra S. (1968-1973), dan Kol. Soegiyono (1973-1983).

Rupanya, Kota Malang tidak hanya dirawat secara bentuk fisiknya, tetapi siapa pernah membangun apik kota ini juga diingat. Diingat semua orang ketika melihatnya di dinding itu penuh historis.

Sambutan dari Pemkot Malang | Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng

Dan dalam pertemuan ini, Sekretaris Daerah Kota Malang Erik Setyo Santoso menyambut baik kunjungan kami dan ia menilai kedua daerah Singaraja dan Malang, memiliki kesamaan secara karakter.

“Kedua daerah memiliki kesamaan karakteristik, baik dari sisi sejarah kolonial, komoditas unggulan, hingga keberagaman masyarakat. Ini modal besar untuk menjalin kolaborasi yang konkret,” ucap Erik. Ia juga berbagi pengalaman pribadi saat menempuh pendidikan di Universitas Merdeka Malang pada 1987.

Setelah itu, ia juga menunjukkan program Ngalam Command Center, pusat kendali digital Kota Malang. Diciptakan Ngalam Command Center oleh Pemerintah Kota Malang demi kenyamanan dan keamanan masyarakat.

Ngalam memang kata yang sangat akrab dengan Malang. Banyak teman dari Malang, ketika ditanya mengaku dari Ngalam. Maksudnya, ya, Malang. Banyak orang tak sadar bahwa Ngalam adalah kebalikan dari kata Malang.  

Kepala Dinas Kominfo Kota Malang Mohamad Nur Widyanto, menjelaskan bahwa sejak 2016 pihaknya telah mengembangkan sistem pemantauan terpadu, Ngalam Command Center.

Kota ini sudah dipasangi banyak CCTV, dan bisa dilihat dari satu layar besar di ruang Ngalam Command Center yang tak jauh dari ruang Sidang Balai Kota Malang.

Lewat jendela bus, sebelum ke kantor walikota, kami melihat Kota Malang dengan mata telanjang, di kantor walikota ini kami memandang kota dengan lebih detil. Dari layar lebar di ruang Ngalam Command Center, rasa penasaran kami tentang seluk beluk kota ini sedikitnya terbayar oleh layar itu. Pihak pemkot dengan rendah hatinya mau menampilkan bagaimana wajah kota itu melalui CCTV. Di layar Ngalam Command Center, jalan terlihat jelas dan bahkan sebuah kendaraan bisa terdeteksi plat nomornya.

Ngalam Command Center | Foto: tatkala.co/Son

Dari layar kami melihat sudut-sudut Kota Malang secara close up. Tukang parkir sedang mengatur kendaraan di sebuah sudut, dan aktivitas warga di sudut yang lain. Ada banyak tempat yang bisa kita lihat hanya dengan duduk memantau di ruangan. Layar itu seperti jendela bus, atau jendela mobil, di mana kita bisa memandang keluar, sampai jauh di tepi-tepi kota.

Program Ngalam Command Center ini benar-benar memiliki andil besar dalam memudahkan wali kota dalam pengambilan keputusan, menugaskan, mengoordinasi, memonitor, mengontrol dan mengendalikan seluruh tindakan yang diperlukan sebagai respon terhadap problematika.

“Kami berinvestasi lebih dari Rp 1,5 miliar per tahun untuk operasional internet melayani 350 titik cctv yang tersebar di ruas jalan strategis Kota Malang. Hasilnya, masyarakat makin aman, karena setiap kasus kriminal yang terjadi bisa dipantau dan ditangani lebih cepat oleh pihak berwajib, dan masyarakat makin aware alias peduli akan perkembangan—situasi Kota Malang,” jelas Widyanto.

Sampai di sini, ia menambahkan bahwa transformasi digital tersebut melibatkan programmer internal dan startup lokal. “Kami punya programer dan ahli IT yang mengelola jaringan CCTV dan layanan internet sebagai dukungan SPBE pemerintah,” ungkapnya.

Pengujung dengan inovasi portal tunggal layanan publik terintegrasi, pihaknya telah menyederhanakan layanan melalui website resmi dengan 1 portal layanan unggulan. Dulunya 108 aplikasi, tapi kini disederhanakan menjadi 28 aplikasi terintegrasi dengan total 31 sistem informasi dan 72 layanan seperti layanan 112, akses cctv publik 350 titik, info wifi—akses internet—gratis Pemkot Malang dan lain sebagainya.

Foto bersama Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna dan rombongan dari Dinas Kominfosanti Buleleng dengan pejabat dari Pemkot Malang | Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng

Setelah melihat itu, Wakil Bupati Gede Supriatna yang turut membersamai pertemuan ini, yang datang dengan mobil berbeda dari kami, juga melihat secara langsung pemaparan dari pihak pemkot itu. Ia mengapresiasi betul kemajuan Kota Malang dalam membangun sistem pemerintahan berbasis elektronik, yang sangat bisa untuk diadopsi secara konsep di Buleleng.

“Command Center bukan hanya pusat informasi, tapi juga ruang interaktif untuk pelayanan publik. Ini contoh konkret kota yang adaptif terhadap teknologi,” kata Supriatna.

Dan, memang, untuk belajar tentang teknologi itulah kami datang ke Kota Malang. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Lulus Kuliah Tak Pulang, Putu Angga Mayobhayu Jual Sate Lilit di Kota Malang
Plat DK dan Masakan Sasak yang Menuntaskan Rindu | Cerita Mahasiswa Bali di Kota Malang
Saling Memantik Sekaligus Autokritik – Catatan dari BWCF di Malang
Tags: catatan perjalananDinas Kominfosanti BulelengJawa TimurKota MalangPemkab Bulelengperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2025

Next Post

Harapan pada Jamu, Realitas pada Olahraga: Menurunkan Berat Badan dengan Bijak

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails
Next Post
Harapan pada Jamu, Realitas pada Olahraga: Menurunkan Berat Badan dengan Bijak

Harapan pada Jamu, Realitas pada Olahraga: Menurunkan Berat Badan dengan Bijak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co