17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Plat DK dan Masakan Sasak yang Menuntaskan Rindu | Cerita Mahasiswa Bali di Kota Malang

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
March 14, 2022
in Esai
Plat DK dan Masakan Sasak yang Menuntaskan Rindu | Cerita Mahasiswa Bali di Kota Malang

Suami-istri yang mengendarai motor berplat DK di Kota Malang, Jawa Timur

Dalam film seri Breaking Bad, tepatnya pada season ketiga. Gus Fring mengundang White (alias Heisenberg) untuk makan malam di rumahnya. Di tengah mereka menyantap hidangan. Gus Fring merasa dirinya kembali ke masa kecil, sebab makanan yang ia santap. Dan ketika itu ia berkata “Cara indra terhubung dengan ingatan selalu membuatku kagum.” Dengan wajah yang puas.

Saya bukan ingin menulis tentang film seri garapan Vince Gilligan tersebut. Bukan pula perubahan psikologis dari Walter White, yang awalnya hanya guru kimia di SMA, berubah secara drastis menjadi pembuat metamfetamina (sabu-sabu). Pun, tidak pula tentang kematian Hank di episode-episode terakhir.

***

Saya ingin mencoba menjelaskan bahwa kata-kata Gus Fring itu begitu relevan dengan pengalaman yang saya dapatkan juga teman-teman Bali di Kota Malang. Tentunya, tidak hanya perantau yang di Malang saja. Mungkin sebagian orang Bali yang merantau di pulau Jawa juga punya pengalaman demikian.

Pertama-tama, ketika berada di Malang, saya rindu kuliner Bali, terutama kuliner sebagaimana yang terkenal di kota asal saya, kota Singaraja di Buleleng. Antara lain masakan Bek Juk, jukut tembak Cik Wati, bahkan sate plecing Cik Isah di kota Singaraja.  

Dalam hal kuliner, di Kota Malang, saya mendapati sebagian besar makanan di Kota Malang terkesan manis di lidah. Warung tegal, nasi padang, nasi cumi, nasi ikan, nasi ayam, nasi segala macam nasi, hampir keseluruhan tak familiar di mulut saya. Bahkan warung makan yang tersemat embel-embel “raja sambal” pun sambalnya tetap memiliki cita rasa yang dominan manis. Bagi lidah saya, yang terbiasa dengan makanan kampung halaman di Singaraja, terkhusus dapur ibu, seakan belum bisa berkenalan dengan makanan-makanan di Malang.

Untuk itulah, tak jarang ketika pulang kampung dan sudah waktunya akan kembali ke Malang, Saya berinisiatif membawa bekal be mesere ke Malang, untuk memuaskan lidah saya yang belum juga akrab dengan makanan di rantau.  Be mesere adalah sejenis daging sisit atau disuir-suir, lalu diisi bumbu khas, yang mungkin hanya terdapat di Singaraja/

Alih-alih membawa satu karung be mesere,motor saya hanya mampu menampung dua plastik klip besar. Dan itu tak sampai genap sebulan sudah habis, kantong plastiknya sudah kosong melompong. Karena selain saya yang mengkonsumsi, teman-teman saya pun ikut serta. Sewaktu kehabisan be mesere saya kembali harus berkenalan dengan makanan-makanan di Kota Malang. Hitung-hitung untuk mencocok-cocokan makanan itu dengan lidah saya.

Misalnya saya makan ayam bumbu manis, tempe bacem, ayam kremes yang sambalnya seakan tak ada rasa pedasnya. Juga kuah rawon yang sepertinya tak ada campuran pangi sebagaimana di Singaraja. Galau, karena merasa tak ada Bek Juk, tak ada jukut tembak Cik Wati, bahkan sate plecing Cik Isah.

Kalau ada waktu lebih banyak, saya berusaha untuk mencari-cari makanan yang sedikit mirip dengan makanan di kampung halaman.

Tepat sekali, seorang teman merekomendasikan nasi balap kepada saya. Tempatnya di dekat kontrakan, di depan kampus UMM (Universitas Muhammadiyah Malang). Ketika saya selesai mengisi bensin yang berada pas di samping kampus UMM. Saya melihat warung makan yang disebutkan. Bertuliskan “Warung Sasak”. Iya, Lombok. Berpikir bahwa pulau Lombok bersebalahan dengan pulau Bali, saya memiliki pandangan bahwa lidah kita sama, kemungkinan besar makanan kita tak jauh berbeda.

Saya masuk dan memesan makanan yang direkomendasikan teman saya, yaitu nasi balap, tak berselang 15 menit, nasi balap sudah sampai di atas meja saya. Begitu dihidangkan, baunya menyengat, dan rasa panas yang saya hirup sebenarnya bukan dari nasi yang baru dimasak, tetapi dari aroma ayam suwir berwarna merah muda dengan kilauan minyak yang keemas-emasan. Nasi balap terdiri dari ayam suwir pedas (mirip sekali dengan be mesere bali), kacang kedelai, dan kentang yang dipotong memanjang tipis serta digoreng sampai benar-benar kering.

Baru suapan pertama, keharuman dari lembar daun jeruk begitu menggigit dan rasa pedas menempel di dinding kerongkongan saya. Itu membuat saya teringat kepulan asap dari penggorengan ketika ibu memasak be mesere. Kepulan asap itu melambung ke plafon dapur, lalu menyebar, menyerang mata abah, abang dan saya sendiri, hingga terasa perih.

Saya puas, di Malang akhirnya saya menemukan kuliner yang cocok di lidah. Dan itu masakan Lombok.

Setelah cukup lama berada di Malang, saya pun akhirnya tahu bahwa Kota Malang cukup kaya dengan tempoat-tempat makan dengan masakan nusantara, masakan yang berasal dari daerah-daerah lain di luar Jawa. Saya pun merasa bahwa kepingan-kepingan kampung halaman ternyata banyak dan bertebaran di Kota Malang.

Saya menjelajah seluruh kuliner yang berbau-bau Bali di Malang. Mulai dari ayam betutu di Jalan Kembang Sepatu, godoh (pisang goreng) di pasar besar, sampai kopi yang saya rasa persis seperti kopi banyuatis di Buleleng. Semua berusaha saya sentuh dan rasakan, selain sebagai pemuas dahaga, saya anggap saja itu juga sebagai obat rindu saya kepada Bek Juk, Cik Wati, Cik Isah dan kopi Pak Amri di Pantai Pelabuhan Buleleng.

***

Lama-lama saya menemukan berbagai macam ke-Bali-an di Malang sehingga saya makin akrab dan tak merasa asing lagi di kota itu. Selain dari hal makanan dan sejenisnya, ternyata ada hal yang sangat menarik juga yang membuat saya seperti berada di Bali, seperti melihat sejumlah mahasiswa berpakaian adat Bali pada acara-acara tertentu dan menonton kesenian Bali di sejumlah gedung pertunjukan, dan saya terkadang berfikir apakah semua perantauan seperti saya saat mengalami hal-hal semacam itu.

Di Singaraja, di kota asal saya, saya sering berkeliling kota kalau sore sedang cerah-cerahnya, dan tak ada kesibukan. Naik motor melewati pasar Banyuasri. Melintas sekadar melihat taman kota. Lalu berakhir di Pantai Pelabuhan Buleleng. Iya, kegiatan semacam itu juga saya lakukan di Kota Malang, murni saya tujukan untuk menghilangkan rasa lelah dan bosan, misalnya ketika hampir seharian penuh tak punya kegiatan.

Di Singaraja, ketika melihat setiap plat motor yang ada di depan saya, atau ke setiap plat motor-motor yang memutar arah, hampir semua yang saya temui kendaraan itu berplat DK, jelas karena saya hidup di Bali. Dan pada waktu itu tak ada kesan kegembiraan yang khusus. Sungguh, tak ada apa-apa ketika hal kecil itu terjadi di Bali.

Namun ketika saya menjadi anak rantau di Kota Malang untuk pertama kalinya, hidup di luar Bali, hidup di tengah-tengah keramaian lalu lintas, yang semua plat motornya campur-campur. Ada yang B, G, S, P, L dan bermayoritas plat N. Saya merasa kesepian di tengah-tengah keramaian orang. Saya merasa orang Bali pertama yang menginjakkan kaki di bumi Jawa.

Karena masih merasa baru merantau dan belum ada banyak kenalan orang Bali di Malang. Perasaan kesepian masih berselimut dalam diri saya. Sampai berselang waktu sekitar seminggu, barulah saya menemukan teman-teman kampung saya yang berasal dari Singaraja. Rasa kesepian memang menghilang, tapi tak ada kegembiraan khusus, hanya biasa-biasa saja.

Hingga pada suatu hari, selepas kurang lebih setahun menjadi rantauan di Malang. Saya kembali melakukan kegiatan yang sering saya lakukan di Singaraja, healing-healingan. Berkendara mengitari kota yang sudah cukup saya hapal jalannya. Memutari Jalan Besar Ijen, memutari Soehat, mampir sekadar duduk di Taman Merjosari, sambil liat ukhti-ukhti tiktokan.

Merasa rasa puas dalam diri sudah terpenuhi. Saya bersiap untuk perjalanan balik ke kontrakan. Lalu lintas yang menyisir Taman Merjosari memang selalu padat pada jam-jam akan menuju waktu maghrib. Dan saya terjebak di kemacetan tersebut.

Tepat pada detik itulah, tiba-tiba, betapa dengan mendadaknya, sekonyong-konyongnya, mata saya mengarah ke motor sepasang suami istri yang tak saya kenal, yang ada di depan saya. Lagi-lagi secara tidak sadar, mata saya sedikit menunduk ke bawah, dan saya tak percaya apa yang saya lihat. Ternyata plat motor sepasang suami istri dengan anak di tengahnya tersebut adalah DK.

Sungguh, ada perasaan yang tak bisa diuraikan mengerubungi saya, perasaan yang kalau bisa dibilang begitu paripurna. Di belakang mereka saya senyum-senyum sendiri. Tak memahami kenapa saya begitu senang dan bahagia. Sekelebat saya seakan berucap dengan senyum tipis-tipis “ternyata aku tidak sendiri di sini.”

Pasangan suami istri itu masih berada di depan saya, hingga lalu lintas kembali normal. Tiba di perempatan, mereka mengambil haluan yang berbeda dari saya. Dalam perjalanan saya masih terus menyeringai memikirkan kejadian itu. Sampai di kontrakan saya berteriak dan menyampaikan momen itu kepada teman-teman kontrakan. Ternyata mereka pun merasakan apa yang saya rasakan.

Selepas kejadian itu, saya banyak menemukan di jalan sekitaran kampus-kampus, warung makan, kedai kopi dan juga lampu merah, motor-motor yang berplat DK. Melihat mereka seakan saya sudah mengenal mereka lama sekali. Saya seperti merasa kita sudah saling kenal satu sama lain, jauh sebelum pertemuan di tempat rantauan.

***

Benarlah kata Gus Fring. Keterpukauannya terhadap cara kerja indra kita, membuat saya berfikir demikian dan memercayai itu. Bahwa indra bekerja mengenali, merasakan dan merespon serangkaian peristiwa. Dan begitulah, indra saya mengenali lagi apa yang pernah saya kenali, dan indra saya merasakan lagi apa yang pernah saya rasakan. Tentunya dengan euforia yang beda juga ada sentuhan nostalgia di dalamnya.[T]

Tags: Jawa TimurKota MalangmahasiswaMalang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gaslighter”, Pasang Surut Cinta | Excira di Kanal Youtube Exciraofficial

Next Post

Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails
Next Post
Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner

Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co