8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Plat DK dan Masakan Sasak yang Menuntaskan Rindu | Cerita Mahasiswa Bali di Kota Malang

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
March 14, 2022
in Esai
Plat DK dan Masakan Sasak yang Menuntaskan Rindu | Cerita Mahasiswa Bali di Kota Malang

Suami-istri yang mengendarai motor berplat DK di Kota Malang, Jawa Timur

Dalam film seri Breaking Bad, tepatnya pada season ketiga. Gus Fring mengundang White (alias Heisenberg) untuk makan malam di rumahnya. Di tengah mereka menyantap hidangan. Gus Fring merasa dirinya kembali ke masa kecil, sebab makanan yang ia santap. Dan ketika itu ia berkata “Cara indra terhubung dengan ingatan selalu membuatku kagum.” Dengan wajah yang puas.

Saya bukan ingin menulis tentang film seri garapan Vince Gilligan tersebut. Bukan pula perubahan psikologis dari Walter White, yang awalnya hanya guru kimia di SMA, berubah secara drastis menjadi pembuat metamfetamina (sabu-sabu). Pun, tidak pula tentang kematian Hank di episode-episode terakhir.

***

Saya ingin mencoba menjelaskan bahwa kata-kata Gus Fring itu begitu relevan dengan pengalaman yang saya dapatkan juga teman-teman Bali di Kota Malang. Tentunya, tidak hanya perantau yang di Malang saja. Mungkin sebagian orang Bali yang merantau di pulau Jawa juga punya pengalaman demikian.

Pertama-tama, ketika berada di Malang, saya rindu kuliner Bali, terutama kuliner sebagaimana yang terkenal di kota asal saya, kota Singaraja di Buleleng. Antara lain masakan Bek Juk, jukut tembak Cik Wati, bahkan sate plecing Cik Isah di kota Singaraja.  

Dalam hal kuliner, di Kota Malang, saya mendapati sebagian besar makanan di Kota Malang terkesan manis di lidah. Warung tegal, nasi padang, nasi cumi, nasi ikan, nasi ayam, nasi segala macam nasi, hampir keseluruhan tak familiar di mulut saya. Bahkan warung makan yang tersemat embel-embel “raja sambal” pun sambalnya tetap memiliki cita rasa yang dominan manis. Bagi lidah saya, yang terbiasa dengan makanan kampung halaman di Singaraja, terkhusus dapur ibu, seakan belum bisa berkenalan dengan makanan-makanan di Malang.

Untuk itulah, tak jarang ketika pulang kampung dan sudah waktunya akan kembali ke Malang, Saya berinisiatif membawa bekal be mesere ke Malang, untuk memuaskan lidah saya yang belum juga akrab dengan makanan di rantau.  Be mesere adalah sejenis daging sisit atau disuir-suir, lalu diisi bumbu khas, yang mungkin hanya terdapat di Singaraja/

Alih-alih membawa satu karung be mesere,motor saya hanya mampu menampung dua plastik klip besar. Dan itu tak sampai genap sebulan sudah habis, kantong plastiknya sudah kosong melompong. Karena selain saya yang mengkonsumsi, teman-teman saya pun ikut serta. Sewaktu kehabisan be mesere saya kembali harus berkenalan dengan makanan-makanan di Kota Malang. Hitung-hitung untuk mencocok-cocokan makanan itu dengan lidah saya.

Misalnya saya makan ayam bumbu manis, tempe bacem, ayam kremes yang sambalnya seakan tak ada rasa pedasnya. Juga kuah rawon yang sepertinya tak ada campuran pangi sebagaimana di Singaraja. Galau, karena merasa tak ada Bek Juk, tak ada jukut tembak Cik Wati, bahkan sate plecing Cik Isah.

Kalau ada waktu lebih banyak, saya berusaha untuk mencari-cari makanan yang sedikit mirip dengan makanan di kampung halaman.

Tepat sekali, seorang teman merekomendasikan nasi balap kepada saya. Tempatnya di dekat kontrakan, di depan kampus UMM (Universitas Muhammadiyah Malang). Ketika saya selesai mengisi bensin yang berada pas di samping kampus UMM. Saya melihat warung makan yang disebutkan. Bertuliskan “Warung Sasak”. Iya, Lombok. Berpikir bahwa pulau Lombok bersebalahan dengan pulau Bali, saya memiliki pandangan bahwa lidah kita sama, kemungkinan besar makanan kita tak jauh berbeda.

Saya masuk dan memesan makanan yang direkomendasikan teman saya, yaitu nasi balap, tak berselang 15 menit, nasi balap sudah sampai di atas meja saya. Begitu dihidangkan, baunya menyengat, dan rasa panas yang saya hirup sebenarnya bukan dari nasi yang baru dimasak, tetapi dari aroma ayam suwir berwarna merah muda dengan kilauan minyak yang keemas-emasan. Nasi balap terdiri dari ayam suwir pedas (mirip sekali dengan be mesere bali), kacang kedelai, dan kentang yang dipotong memanjang tipis serta digoreng sampai benar-benar kering.

Baru suapan pertama, keharuman dari lembar daun jeruk begitu menggigit dan rasa pedas menempel di dinding kerongkongan saya. Itu membuat saya teringat kepulan asap dari penggorengan ketika ibu memasak be mesere. Kepulan asap itu melambung ke plafon dapur, lalu menyebar, menyerang mata abah, abang dan saya sendiri, hingga terasa perih.

Saya puas, di Malang akhirnya saya menemukan kuliner yang cocok di lidah. Dan itu masakan Lombok.

Setelah cukup lama berada di Malang, saya pun akhirnya tahu bahwa Kota Malang cukup kaya dengan tempoat-tempat makan dengan masakan nusantara, masakan yang berasal dari daerah-daerah lain di luar Jawa. Saya pun merasa bahwa kepingan-kepingan kampung halaman ternyata banyak dan bertebaran di Kota Malang.

Saya menjelajah seluruh kuliner yang berbau-bau Bali di Malang. Mulai dari ayam betutu di Jalan Kembang Sepatu, godoh (pisang goreng) di pasar besar, sampai kopi yang saya rasa persis seperti kopi banyuatis di Buleleng. Semua berusaha saya sentuh dan rasakan, selain sebagai pemuas dahaga, saya anggap saja itu juga sebagai obat rindu saya kepada Bek Juk, Cik Wati, Cik Isah dan kopi Pak Amri di Pantai Pelabuhan Buleleng.

***

Lama-lama saya menemukan berbagai macam ke-Bali-an di Malang sehingga saya makin akrab dan tak merasa asing lagi di kota itu. Selain dari hal makanan dan sejenisnya, ternyata ada hal yang sangat menarik juga yang membuat saya seperti berada di Bali, seperti melihat sejumlah mahasiswa berpakaian adat Bali pada acara-acara tertentu dan menonton kesenian Bali di sejumlah gedung pertunjukan, dan saya terkadang berfikir apakah semua perantauan seperti saya saat mengalami hal-hal semacam itu.

Di Singaraja, di kota asal saya, saya sering berkeliling kota kalau sore sedang cerah-cerahnya, dan tak ada kesibukan. Naik motor melewati pasar Banyuasri. Melintas sekadar melihat taman kota. Lalu berakhir di Pantai Pelabuhan Buleleng. Iya, kegiatan semacam itu juga saya lakukan di Kota Malang, murni saya tujukan untuk menghilangkan rasa lelah dan bosan, misalnya ketika hampir seharian penuh tak punya kegiatan.

Di Singaraja, ketika melihat setiap plat motor yang ada di depan saya, atau ke setiap plat motor-motor yang memutar arah, hampir semua yang saya temui kendaraan itu berplat DK, jelas karena saya hidup di Bali. Dan pada waktu itu tak ada kesan kegembiraan yang khusus. Sungguh, tak ada apa-apa ketika hal kecil itu terjadi di Bali.

Namun ketika saya menjadi anak rantau di Kota Malang untuk pertama kalinya, hidup di luar Bali, hidup di tengah-tengah keramaian lalu lintas, yang semua plat motornya campur-campur. Ada yang B, G, S, P, L dan bermayoritas plat N. Saya merasa kesepian di tengah-tengah keramaian orang. Saya merasa orang Bali pertama yang menginjakkan kaki di bumi Jawa.

Karena masih merasa baru merantau dan belum ada banyak kenalan orang Bali di Malang. Perasaan kesepian masih berselimut dalam diri saya. Sampai berselang waktu sekitar seminggu, barulah saya menemukan teman-teman kampung saya yang berasal dari Singaraja. Rasa kesepian memang menghilang, tapi tak ada kegembiraan khusus, hanya biasa-biasa saja.

Hingga pada suatu hari, selepas kurang lebih setahun menjadi rantauan di Malang. Saya kembali melakukan kegiatan yang sering saya lakukan di Singaraja, healing-healingan. Berkendara mengitari kota yang sudah cukup saya hapal jalannya. Memutari Jalan Besar Ijen, memutari Soehat, mampir sekadar duduk di Taman Merjosari, sambil liat ukhti-ukhti tiktokan.

Merasa rasa puas dalam diri sudah terpenuhi. Saya bersiap untuk perjalanan balik ke kontrakan. Lalu lintas yang menyisir Taman Merjosari memang selalu padat pada jam-jam akan menuju waktu maghrib. Dan saya terjebak di kemacetan tersebut.

Tepat pada detik itulah, tiba-tiba, betapa dengan mendadaknya, sekonyong-konyongnya, mata saya mengarah ke motor sepasang suami istri yang tak saya kenal, yang ada di depan saya. Lagi-lagi secara tidak sadar, mata saya sedikit menunduk ke bawah, dan saya tak percaya apa yang saya lihat. Ternyata plat motor sepasang suami istri dengan anak di tengahnya tersebut adalah DK.

Sungguh, ada perasaan yang tak bisa diuraikan mengerubungi saya, perasaan yang kalau bisa dibilang begitu paripurna. Di belakang mereka saya senyum-senyum sendiri. Tak memahami kenapa saya begitu senang dan bahagia. Sekelebat saya seakan berucap dengan senyum tipis-tipis “ternyata aku tidak sendiri di sini.”

Pasangan suami istri itu masih berada di depan saya, hingga lalu lintas kembali normal. Tiba di perempatan, mereka mengambil haluan yang berbeda dari saya. Dalam perjalanan saya masih terus menyeringai memikirkan kejadian itu. Sampai di kontrakan saya berteriak dan menyampaikan momen itu kepada teman-teman kontrakan. Ternyata mereka pun merasakan apa yang saya rasakan.

Selepas kejadian itu, saya banyak menemukan di jalan sekitaran kampus-kampus, warung makan, kedai kopi dan juga lampu merah, motor-motor yang berplat DK. Melihat mereka seakan saya sudah mengenal mereka lama sekali. Saya seperti merasa kita sudah saling kenal satu sama lain, jauh sebelum pertemuan di tempat rantauan.

***

Benarlah kata Gus Fring. Keterpukauannya terhadap cara kerja indra kita, membuat saya berfikir demikian dan memercayai itu. Bahwa indra bekerja mengenali, merasakan dan merespon serangkaian peristiwa. Dan begitulah, indra saya mengenali lagi apa yang pernah saya kenali, dan indra saya merasakan lagi apa yang pernah saya rasakan. Tentunya dengan euforia yang beda juga ada sentuhan nostalgia di dalamnya.[T]

Tags: Jawa TimurKota MalangmahasiswaMalang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gaslighter”, Pasang Surut Cinta | Excira di Kanal Youtube Exciraofficial

Next Post

Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner

Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co