23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saling Memantik Sekaligus Autokritik – Catatan dari BWCF di Malang

Wahyu Kris by Wahyu Kris
November 30, 2023
in Esai
Saling Memantik Sekaligus Autokritik – Catatan dari BWCF di Malang

Forum Sastra di BWCF 2023

PADA akhirnya, produksi karya sastra tak lepas dari tarik ulur persoalan praktis-kontekstual dengan gagasan idealis-personal. Juga lekat pada sistem kuasa dimana sastra menjadi sub-sistem di dalamnya. Gambaran itulah yang terbaca dari bincang sastra gelaran 12th Borobudurs Writer and Cultural Festival (BWCF) tentang peran komunitas sastra memantik penulisan karya sastra.

Sore 24 November 2023, di pelataran Universitas Negeri Malang, BWCF menghadirkan pegiat sastra dari beragam komunitas. Ada M. Faizi yang berbasis komunitas pesantren di Sumenep dan Ki Narko yang berlatar komunitas sastra Jawa di Tulungagung. Ada Mashuri yang lama berjibaku dalam komunitas kampus dan Felix K. Nesi yang besar dalam komunitas sastra di NTT yang dilingkupi budaya lisan. Juga Denny Mizhar yang tekun mendorong komunitas sastra menjadi solusi atas persoalan kampung-kampung di Malang.

Dari paparan M. Faizi terungkap bagaimana sastra hidup di dalam pesantren. Pergerakan mereka cenderung lepas dari sorotan media. Namun, denyut kekaryaan tetap terasa. Sastra menempati ruang tersendiri di hati santri. Berdesakan dengan jadwal padat mengaji kitab suci dan ikhtiar tersembunyi merawat kata-kata.

Penggerak komunitas sastra pesantren adalah persaingan. Alih-alih saling mengalahkan, persaingan yang terjadi justru saling meneguhkan. Komunitas-komunitas sastra di pesantren rajin menerbitkan karya sebagai penanda bahwa mereka masih berkarya. Bentuk karya mereka beragam, mulai dari jurnal, buku antologi, hingga kumpulan kertas yang dijilid dan difotokopi sekadarnya. Finansial dan popularitas bukan tujuan utama. Selama gagasan mereka mewujud dalam karya, lalu dibaca dan diapresiasi, itu cukup sebagai pemantik karya berikutnya.

Komunitas sastra pesantren punya tantangan besar, yakni bagaimana menggemakan sastra lewat perhelatan festival ataupun semacamnya. Memang, festival yang dimaksud bukan hura-hura mengundang sastrawan terkenal, tapi bagaimana karya sastra dari berbagai genre disandingkan dalam konteks kritik-apresiatif.

Pergulatan menarik diceritakan Ki Narko Sudrun dari Tulungagung. Ia bersama kawan dari Tuban, Trenggalek, Jember, dan sekitarnya, merawat bahasa Jawa lewat geguritan (puisi) dan cerkak (cerita cekak, cerita pendek). Karya mereka rutin meramaikan media cetak seperti Panjebar Semangat, Jayabaya, Djaka Lodang, hingga Mekar Sari.

Honor pemuatan yang kecil tak membuat mereka berhenti berkarya. Komunitas tetap mewadahi kebutuhan sastra akan iklim apresiatif. Ki Narko Sudrun ajeg mengajak teman-teman ngonceki karya, baik pada tahap prakirim maupun pascamuat.

Lebih lanjut, Ki Narko menggarisbawahi bahwa pesastra Jawa butuh penghidupan untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Cara yang mereka tempuh adalah selingkuh dengan sastra (berbahasa) Indonesia. Perselingkuhan itu mereka kerjakan dengan tetap bersetia pada marwah sastra Jawa. Dari situlah kemudian lahir kekuatan baru: kecakapan berkarya dalam bahasa Jawa dan Indonesia—sesuatu yang belum tentu dimiliki mereka yang berkarya dalam bahasa Indonesia.

Sementara itu, Mashuri menyoroti perkembangan komunitas sastra berbasis kampus. Akademisi Balai Bahasa Jawa Timur itu mencoba menyandingkan komunitas sastra berbasis kampus dengan komunitas sastra berbasis khalayak umum. Pengalamannya berkarya bersama Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar membuktikan bahwa komunitas kampus lebih sering berganti anggota karena keterbatasan rentang studi. Komunitas umum cenderung lebih awet. Namun, Mashuri menangkap spirit yang baik dari komunitas kampus. Anggotanya adalah mahasiswa yang belajar teori sastra atau teori lain yang beririsan dengan sastra seperti filsafat, sosial, dan seni.

Riset komunitas sastra yang dilakukan Mashuri menghasilkan data betapa beragam genre karya yang dihasilkan komunitas kampus. Bekal segenggam teori membawa keberanian menyuarakan sastra anarki dan sastra gelap. Juga karya-karya idealisme dan simbolisme. Ragam genre sastra itu pada akhirnya bermuara pada spirit komunitas yang menyatukan mereka, yaitu melawan sastra mapan—sebut saja sastra Jakarta.

Kecuali itu, keberagaman genre juga menjadi lokomotif yang menggerakkan komunitas agar tak terjebak pada epigonisme. Epigonisme menandakan nihilnya gagasan baru. Anggotanya tidak punya cukup keberanian keluar dari genre tokoh utama komunitas sastra. Mereka cenderung memilih menjadi pengekor. Menurut Mashuri, epigonisme itulah musuh besar komunitas sastra.  Salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menghindari epigonisme adalah berakrab dengan seni lain seperti teater, musik, dan rupa. Kerja kolaborasi antar bidang seni semakin mudah dilakukan mengingat era media hari ini memberi banyak kemudahan. 

Terkait perannya sebagai pemantik kekaryaan, komunitas-kelompok dan penulis-individu terikat dalam relasi yang unik. Penulis tetap berkarya secara soliter meski menjadi bagian dari komunitas sastra. Gagasan-gagasan boleh dibincang dalam komunitas. Komunitas bisa menjadi ruang dialektika bagi kebaruan-kebaruan yang ditawarkan. Namun,  penulis bertanggung jawab penuh menuntaskan gagasan menjadi karya.

Sudut pandang lain menyeruak dari paparan Felix K. Nesi. Masyarakat Nusa Tenggara Timur punya cara pandang berbeda terkait sastra dan sastrawan. Sastra adalah cerita orang Jakarta. Sastra hanya untuk orang terpelajar. Sastrawan adalah selebritas. Sastrawan adalah nabi. Pandangan ini tak sepenuhnya salah. Mereka juga merasa bahwa kisah orang timur tidak layak diangkat menjadi karya sastra.

Menurut penulis novel Orang-Orang Oetimu itu, komunitas sastra perlu lebih ramah kepada masyarakat. Orang NTT sejatinya punya banyak potensi. Pertama, mereka punya budaya tutur yang kuat. Tiap kampung punya pencerita ulung. Mereka bisa menceritakan satu kisah menjadi jenaka sekaligus satir. Nah, cerita-cerita lisan itulah yang perlu dituliskan agar lestari. Juga sebagai anti-tesis terhadap hipotesa bahwa sastra hanya cerita orang Jakarta. 

Felix juga menegaskan dimensi sastrawi keseharian orang NTT. Hanya dengan menuliskannya, kisah harian dan lisan pasti jadi tulisan yang bagus. Tak perlu dipoles berlebihan. Ibarat menaruh kamera di mana saja, jadilah film bagus.

Wacana keberdampakan komunitas sastra disampaikan Denny Mizhar. Penjaga gawang Pelangi Sastra Malang ini menguraikan bahwa komunitas sastra mesti berdampak bagi masyarakat Banyak persoalan kampung layak diangkat ke dalam karya sastra. Bukan untuk mendapatkan gagasan semata, melainkan juga menawarkan jawaban. Advokasi sastra semacam itu butuh kelenturan. Komunitas sastra sesungguhnya tak butuh ideologi. Sepanjang berdampak, komunitas sastra sudah membuktikan kehadirannya di tengah pergulatan masyarakat. Pada aras itulah komunitas sastra menjadi ruang penyadaran bersama. Kesadaran baru dikonstruksi bersama lalu didistribusikan kembali ke tengah masyarakat.

Serangkaian paparan di atas menemukan titik temu ketika peserta melontarkan pertanyaan. Mulai dari persoalan klasik hegemoni kuasa yang berujung polarisasi karya sastra pusat – pinggiran, hingga jebakan romantisme yang bersilangan dengan maraknya industri media.

Persoalan desentralisasi pun mengemuka. Desentralisasi ternyata bukan sekadar persoalan Jakarta dan wilayah timur Indonesia. Banyak kota di Jawa masih belum tersentuh kebijakan. Masih banyak potensi kekaryaan sastra menunggu dibangunkan dari tidur panjangnya.

Butuh komitmen bersama agar komunitas sastra, penulis, dan masyarakat menjadi ekosistem  saling memantik. Urun peran penguasa layak dipacu agar sistem saling memantik tersebut menjadi pemicu autokritik. [T]

Tags: BWCFkomunitas sastraorobudurs Writer and Cultural Festivalsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

15 Perbekel di Buleleng Dilantik: Ini Sebagai Tonggak Baru Kemajuan Desa

Next Post

Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Wahyu Kris

Wahyu Kris

Seorang guru yang sedang dan senang menenggelamkan diri di kedalaman kata-kata. Menulis buku Mendidik Generasi Z dan A (Grasindo, 2018) dan Secangkir Kopi Inspirasi (Kekata, 2019). Pemenang kedua Sayembara Kritik Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2020). Pemenang ketiga Lomba Resensi Monolog Di Tepi Sejarah, Titimangsa Foundation (2021). Pemenang Harapan Esai Sastra Taufiq Ismail (2023). Instagram : wahjoekris

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co