13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saling Memantik Sekaligus Autokritik – Catatan dari BWCF di Malang

Wahyu Kris by Wahyu Kris
November 30, 2023
in Esai
Saling Memantik Sekaligus Autokritik – Catatan dari BWCF di Malang

Forum Sastra di BWCF 2023

PADA akhirnya, produksi karya sastra tak lepas dari tarik ulur persoalan praktis-kontekstual dengan gagasan idealis-personal. Juga lekat pada sistem kuasa dimana sastra menjadi sub-sistem di dalamnya. Gambaran itulah yang terbaca dari bincang sastra gelaran 12th Borobudurs Writer and Cultural Festival (BWCF) tentang peran komunitas sastra memantik penulisan karya sastra.

Sore 24 November 2023, di pelataran Universitas Negeri Malang, BWCF menghadirkan pegiat sastra dari beragam komunitas. Ada M. Faizi yang berbasis komunitas pesantren di Sumenep dan Ki Narko yang berlatar komunitas sastra Jawa di Tulungagung. Ada Mashuri yang lama berjibaku dalam komunitas kampus dan Felix K. Nesi yang besar dalam komunitas sastra di NTT yang dilingkupi budaya lisan. Juga Denny Mizhar yang tekun mendorong komunitas sastra menjadi solusi atas persoalan kampung-kampung di Malang.

Dari paparan M. Faizi terungkap bagaimana sastra hidup di dalam pesantren. Pergerakan mereka cenderung lepas dari sorotan media. Namun, denyut kekaryaan tetap terasa. Sastra menempati ruang tersendiri di hati santri. Berdesakan dengan jadwal padat mengaji kitab suci dan ikhtiar tersembunyi merawat kata-kata.

Penggerak komunitas sastra pesantren adalah persaingan. Alih-alih saling mengalahkan, persaingan yang terjadi justru saling meneguhkan. Komunitas-komunitas sastra di pesantren rajin menerbitkan karya sebagai penanda bahwa mereka masih berkarya. Bentuk karya mereka beragam, mulai dari jurnal, buku antologi, hingga kumpulan kertas yang dijilid dan difotokopi sekadarnya. Finansial dan popularitas bukan tujuan utama. Selama gagasan mereka mewujud dalam karya, lalu dibaca dan diapresiasi, itu cukup sebagai pemantik karya berikutnya.

Komunitas sastra pesantren punya tantangan besar, yakni bagaimana menggemakan sastra lewat perhelatan festival ataupun semacamnya. Memang, festival yang dimaksud bukan hura-hura mengundang sastrawan terkenal, tapi bagaimana karya sastra dari berbagai genre disandingkan dalam konteks kritik-apresiatif.

Pergulatan menarik diceritakan Ki Narko Sudrun dari Tulungagung. Ia bersama kawan dari Tuban, Trenggalek, Jember, dan sekitarnya, merawat bahasa Jawa lewat geguritan (puisi) dan cerkak (cerita cekak, cerita pendek). Karya mereka rutin meramaikan media cetak seperti Panjebar Semangat, Jayabaya, Djaka Lodang, hingga Mekar Sari.

Honor pemuatan yang kecil tak membuat mereka berhenti berkarya. Komunitas tetap mewadahi kebutuhan sastra akan iklim apresiatif. Ki Narko Sudrun ajeg mengajak teman-teman ngonceki karya, baik pada tahap prakirim maupun pascamuat.

Lebih lanjut, Ki Narko menggarisbawahi bahwa pesastra Jawa butuh penghidupan untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Cara yang mereka tempuh adalah selingkuh dengan sastra (berbahasa) Indonesia. Perselingkuhan itu mereka kerjakan dengan tetap bersetia pada marwah sastra Jawa. Dari situlah kemudian lahir kekuatan baru: kecakapan berkarya dalam bahasa Jawa dan Indonesia—sesuatu yang belum tentu dimiliki mereka yang berkarya dalam bahasa Indonesia.

Sementara itu, Mashuri menyoroti perkembangan komunitas sastra berbasis kampus. Akademisi Balai Bahasa Jawa Timur itu mencoba menyandingkan komunitas sastra berbasis kampus dengan komunitas sastra berbasis khalayak umum. Pengalamannya berkarya bersama Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar membuktikan bahwa komunitas kampus lebih sering berganti anggota karena keterbatasan rentang studi. Komunitas umum cenderung lebih awet. Namun, Mashuri menangkap spirit yang baik dari komunitas kampus. Anggotanya adalah mahasiswa yang belajar teori sastra atau teori lain yang beririsan dengan sastra seperti filsafat, sosial, dan seni.

Riset komunitas sastra yang dilakukan Mashuri menghasilkan data betapa beragam genre karya yang dihasilkan komunitas kampus. Bekal segenggam teori membawa keberanian menyuarakan sastra anarki dan sastra gelap. Juga karya-karya idealisme dan simbolisme. Ragam genre sastra itu pada akhirnya bermuara pada spirit komunitas yang menyatukan mereka, yaitu melawan sastra mapan—sebut saja sastra Jakarta.

Kecuali itu, keberagaman genre juga menjadi lokomotif yang menggerakkan komunitas agar tak terjebak pada epigonisme. Epigonisme menandakan nihilnya gagasan baru. Anggotanya tidak punya cukup keberanian keluar dari genre tokoh utama komunitas sastra. Mereka cenderung memilih menjadi pengekor. Menurut Mashuri, epigonisme itulah musuh besar komunitas sastra.  Salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menghindari epigonisme adalah berakrab dengan seni lain seperti teater, musik, dan rupa. Kerja kolaborasi antar bidang seni semakin mudah dilakukan mengingat era media hari ini memberi banyak kemudahan. 

Terkait perannya sebagai pemantik kekaryaan, komunitas-kelompok dan penulis-individu terikat dalam relasi yang unik. Penulis tetap berkarya secara soliter meski menjadi bagian dari komunitas sastra. Gagasan-gagasan boleh dibincang dalam komunitas. Komunitas bisa menjadi ruang dialektika bagi kebaruan-kebaruan yang ditawarkan. Namun,  penulis bertanggung jawab penuh menuntaskan gagasan menjadi karya.

Sudut pandang lain menyeruak dari paparan Felix K. Nesi. Masyarakat Nusa Tenggara Timur punya cara pandang berbeda terkait sastra dan sastrawan. Sastra adalah cerita orang Jakarta. Sastra hanya untuk orang terpelajar. Sastrawan adalah selebritas. Sastrawan adalah nabi. Pandangan ini tak sepenuhnya salah. Mereka juga merasa bahwa kisah orang timur tidak layak diangkat menjadi karya sastra.

Menurut penulis novel Orang-Orang Oetimu itu, komunitas sastra perlu lebih ramah kepada masyarakat. Orang NTT sejatinya punya banyak potensi. Pertama, mereka punya budaya tutur yang kuat. Tiap kampung punya pencerita ulung. Mereka bisa menceritakan satu kisah menjadi jenaka sekaligus satir. Nah, cerita-cerita lisan itulah yang perlu dituliskan agar lestari. Juga sebagai anti-tesis terhadap hipotesa bahwa sastra hanya cerita orang Jakarta. 

Felix juga menegaskan dimensi sastrawi keseharian orang NTT. Hanya dengan menuliskannya, kisah harian dan lisan pasti jadi tulisan yang bagus. Tak perlu dipoles berlebihan. Ibarat menaruh kamera di mana saja, jadilah film bagus.

Wacana keberdampakan komunitas sastra disampaikan Denny Mizhar. Penjaga gawang Pelangi Sastra Malang ini menguraikan bahwa komunitas sastra mesti berdampak bagi masyarakat Banyak persoalan kampung layak diangkat ke dalam karya sastra. Bukan untuk mendapatkan gagasan semata, melainkan juga menawarkan jawaban. Advokasi sastra semacam itu butuh kelenturan. Komunitas sastra sesungguhnya tak butuh ideologi. Sepanjang berdampak, komunitas sastra sudah membuktikan kehadirannya di tengah pergulatan masyarakat. Pada aras itulah komunitas sastra menjadi ruang penyadaran bersama. Kesadaran baru dikonstruksi bersama lalu didistribusikan kembali ke tengah masyarakat.

Serangkaian paparan di atas menemukan titik temu ketika peserta melontarkan pertanyaan. Mulai dari persoalan klasik hegemoni kuasa yang berujung polarisasi karya sastra pusat – pinggiran, hingga jebakan romantisme yang bersilangan dengan maraknya industri media.

Persoalan desentralisasi pun mengemuka. Desentralisasi ternyata bukan sekadar persoalan Jakarta dan wilayah timur Indonesia. Banyak kota di Jawa masih belum tersentuh kebijakan. Masih banyak potensi kekaryaan sastra menunggu dibangunkan dari tidur panjangnya.

Butuh komitmen bersama agar komunitas sastra, penulis, dan masyarakat menjadi ekosistem  saling memantik. Urun peran penguasa layak dipacu agar sistem saling memantik tersebut menjadi pemicu autokritik. [T]

Tags: BWCFkomunitas sastraorobudurs Writer and Cultural Festivalsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

15 Perbekel di Buleleng Dilantik: Ini Sebagai Tonggak Baru Kemajuan Desa

Next Post

Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Wahyu Kris

Wahyu Kris

Seorang guru yang sedang dan senang menenggelamkan diri di kedalaman kata-kata. Menulis buku Mendidik Generasi Z dan A (Grasindo, 2018) dan Secangkir Kopi Inspirasi (Kekata, 2019). Pemenang kedua Sayembara Kritik Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2020). Pemenang ketiga Lomba Resensi Monolog Di Tepi Sejarah, Titimangsa Foundation (2021). Pemenang Harapan Esai Sastra Taufiq Ismail (2023). Instagram : wahjoekris

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co