3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saling Memantik Sekaligus Autokritik – Catatan dari BWCF di Malang

Wahyu Kris by Wahyu Kris
November 30, 2023
in Esai
Saling Memantik Sekaligus Autokritik – Catatan dari BWCF di Malang

Forum Sastra di BWCF 2023

PADA akhirnya, produksi karya sastra tak lepas dari tarik ulur persoalan praktis-kontekstual dengan gagasan idealis-personal. Juga lekat pada sistem kuasa dimana sastra menjadi sub-sistem di dalamnya. Gambaran itulah yang terbaca dari bincang sastra gelaran 12th Borobudurs Writer and Cultural Festival (BWCF) tentang peran komunitas sastra memantik penulisan karya sastra.

Sore 24 November 2023, di pelataran Universitas Negeri Malang, BWCF menghadirkan pegiat sastra dari beragam komunitas. Ada M. Faizi yang berbasis komunitas pesantren di Sumenep dan Ki Narko yang berlatar komunitas sastra Jawa di Tulungagung. Ada Mashuri yang lama berjibaku dalam komunitas kampus dan Felix K. Nesi yang besar dalam komunitas sastra di NTT yang dilingkupi budaya lisan. Juga Denny Mizhar yang tekun mendorong komunitas sastra menjadi solusi atas persoalan kampung-kampung di Malang.

Dari paparan M. Faizi terungkap bagaimana sastra hidup di dalam pesantren. Pergerakan mereka cenderung lepas dari sorotan media. Namun, denyut kekaryaan tetap terasa. Sastra menempati ruang tersendiri di hati santri. Berdesakan dengan jadwal padat mengaji kitab suci dan ikhtiar tersembunyi merawat kata-kata.

Penggerak komunitas sastra pesantren adalah persaingan. Alih-alih saling mengalahkan, persaingan yang terjadi justru saling meneguhkan. Komunitas-komunitas sastra di pesantren rajin menerbitkan karya sebagai penanda bahwa mereka masih berkarya. Bentuk karya mereka beragam, mulai dari jurnal, buku antologi, hingga kumpulan kertas yang dijilid dan difotokopi sekadarnya. Finansial dan popularitas bukan tujuan utama. Selama gagasan mereka mewujud dalam karya, lalu dibaca dan diapresiasi, itu cukup sebagai pemantik karya berikutnya.

Komunitas sastra pesantren punya tantangan besar, yakni bagaimana menggemakan sastra lewat perhelatan festival ataupun semacamnya. Memang, festival yang dimaksud bukan hura-hura mengundang sastrawan terkenal, tapi bagaimana karya sastra dari berbagai genre disandingkan dalam konteks kritik-apresiatif.

Pergulatan menarik diceritakan Ki Narko Sudrun dari Tulungagung. Ia bersama kawan dari Tuban, Trenggalek, Jember, dan sekitarnya, merawat bahasa Jawa lewat geguritan (puisi) dan cerkak (cerita cekak, cerita pendek). Karya mereka rutin meramaikan media cetak seperti Panjebar Semangat, Jayabaya, Djaka Lodang, hingga Mekar Sari.

Honor pemuatan yang kecil tak membuat mereka berhenti berkarya. Komunitas tetap mewadahi kebutuhan sastra akan iklim apresiatif. Ki Narko Sudrun ajeg mengajak teman-teman ngonceki karya, baik pada tahap prakirim maupun pascamuat.

Lebih lanjut, Ki Narko menggarisbawahi bahwa pesastra Jawa butuh penghidupan untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Cara yang mereka tempuh adalah selingkuh dengan sastra (berbahasa) Indonesia. Perselingkuhan itu mereka kerjakan dengan tetap bersetia pada marwah sastra Jawa. Dari situlah kemudian lahir kekuatan baru: kecakapan berkarya dalam bahasa Jawa dan Indonesia—sesuatu yang belum tentu dimiliki mereka yang berkarya dalam bahasa Indonesia.

Sementara itu, Mashuri menyoroti perkembangan komunitas sastra berbasis kampus. Akademisi Balai Bahasa Jawa Timur itu mencoba menyandingkan komunitas sastra berbasis kampus dengan komunitas sastra berbasis khalayak umum. Pengalamannya berkarya bersama Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar membuktikan bahwa komunitas kampus lebih sering berganti anggota karena keterbatasan rentang studi. Komunitas umum cenderung lebih awet. Namun, Mashuri menangkap spirit yang baik dari komunitas kampus. Anggotanya adalah mahasiswa yang belajar teori sastra atau teori lain yang beririsan dengan sastra seperti filsafat, sosial, dan seni.

Riset komunitas sastra yang dilakukan Mashuri menghasilkan data betapa beragam genre karya yang dihasilkan komunitas kampus. Bekal segenggam teori membawa keberanian menyuarakan sastra anarki dan sastra gelap. Juga karya-karya idealisme dan simbolisme. Ragam genre sastra itu pada akhirnya bermuara pada spirit komunitas yang menyatukan mereka, yaitu melawan sastra mapan—sebut saja sastra Jakarta.

Kecuali itu, keberagaman genre juga menjadi lokomotif yang menggerakkan komunitas agar tak terjebak pada epigonisme. Epigonisme menandakan nihilnya gagasan baru. Anggotanya tidak punya cukup keberanian keluar dari genre tokoh utama komunitas sastra. Mereka cenderung memilih menjadi pengekor. Menurut Mashuri, epigonisme itulah musuh besar komunitas sastra.  Salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menghindari epigonisme adalah berakrab dengan seni lain seperti teater, musik, dan rupa. Kerja kolaborasi antar bidang seni semakin mudah dilakukan mengingat era media hari ini memberi banyak kemudahan. 

Terkait perannya sebagai pemantik kekaryaan, komunitas-kelompok dan penulis-individu terikat dalam relasi yang unik. Penulis tetap berkarya secara soliter meski menjadi bagian dari komunitas sastra. Gagasan-gagasan boleh dibincang dalam komunitas. Komunitas bisa menjadi ruang dialektika bagi kebaruan-kebaruan yang ditawarkan. Namun,  penulis bertanggung jawab penuh menuntaskan gagasan menjadi karya.

Sudut pandang lain menyeruak dari paparan Felix K. Nesi. Masyarakat Nusa Tenggara Timur punya cara pandang berbeda terkait sastra dan sastrawan. Sastra adalah cerita orang Jakarta. Sastra hanya untuk orang terpelajar. Sastrawan adalah selebritas. Sastrawan adalah nabi. Pandangan ini tak sepenuhnya salah. Mereka juga merasa bahwa kisah orang timur tidak layak diangkat menjadi karya sastra.

Menurut penulis novel Orang-Orang Oetimu itu, komunitas sastra perlu lebih ramah kepada masyarakat. Orang NTT sejatinya punya banyak potensi. Pertama, mereka punya budaya tutur yang kuat. Tiap kampung punya pencerita ulung. Mereka bisa menceritakan satu kisah menjadi jenaka sekaligus satir. Nah, cerita-cerita lisan itulah yang perlu dituliskan agar lestari. Juga sebagai anti-tesis terhadap hipotesa bahwa sastra hanya cerita orang Jakarta. 

Felix juga menegaskan dimensi sastrawi keseharian orang NTT. Hanya dengan menuliskannya, kisah harian dan lisan pasti jadi tulisan yang bagus. Tak perlu dipoles berlebihan. Ibarat menaruh kamera di mana saja, jadilah film bagus.

Wacana keberdampakan komunitas sastra disampaikan Denny Mizhar. Penjaga gawang Pelangi Sastra Malang ini menguraikan bahwa komunitas sastra mesti berdampak bagi masyarakat Banyak persoalan kampung layak diangkat ke dalam karya sastra. Bukan untuk mendapatkan gagasan semata, melainkan juga menawarkan jawaban. Advokasi sastra semacam itu butuh kelenturan. Komunitas sastra sesungguhnya tak butuh ideologi. Sepanjang berdampak, komunitas sastra sudah membuktikan kehadirannya di tengah pergulatan masyarakat. Pada aras itulah komunitas sastra menjadi ruang penyadaran bersama. Kesadaran baru dikonstruksi bersama lalu didistribusikan kembali ke tengah masyarakat.

Serangkaian paparan di atas menemukan titik temu ketika peserta melontarkan pertanyaan. Mulai dari persoalan klasik hegemoni kuasa yang berujung polarisasi karya sastra pusat – pinggiran, hingga jebakan romantisme yang bersilangan dengan maraknya industri media.

Persoalan desentralisasi pun mengemuka. Desentralisasi ternyata bukan sekadar persoalan Jakarta dan wilayah timur Indonesia. Banyak kota di Jawa masih belum tersentuh kebijakan. Masih banyak potensi kekaryaan sastra menunggu dibangunkan dari tidur panjangnya.

Butuh komitmen bersama agar komunitas sastra, penulis, dan masyarakat menjadi ekosistem  saling memantik. Urun peran penguasa layak dipacu agar sistem saling memantik tersebut menjadi pemicu autokritik. [T]

Tags: BWCFkomunitas sastraorobudurs Writer and Cultural Festivalsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

15 Perbekel di Buleleng Dilantik: Ini Sebagai Tonggak Baru Kemajuan Desa

Next Post

Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Wahyu Kris

Wahyu Kris

Seorang guru yang sedang dan senang menenggelamkan diri di kedalaman kata-kata. Menulis buku Mendidik Generasi Z dan A (Grasindo, 2018) dan Secangkir Kopi Inspirasi (Kekata, 2019). Pemenang kedua Sayembara Kritik Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2020). Pemenang ketiga Lomba Resensi Monolog Di Tepi Sejarah, Titimangsa Foundation (2021). Pemenang Harapan Esai Sastra Taufiq Ismail (2023). Instagram : wahjoekris

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co