2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saling Memantik Sekaligus Autokritik – Catatan dari BWCF di Malang

Wahyu Kris by Wahyu Kris
November 30, 2023
in Esai
Saling Memantik Sekaligus Autokritik – Catatan dari BWCF di Malang

Forum Sastra di BWCF 2023

PADA akhirnya, produksi karya sastra tak lepas dari tarik ulur persoalan praktis-kontekstual dengan gagasan idealis-personal. Juga lekat pada sistem kuasa dimana sastra menjadi sub-sistem di dalamnya. Gambaran itulah yang terbaca dari bincang sastra gelaran 12th Borobudurs Writer and Cultural Festival (BWCF) tentang peran komunitas sastra memantik penulisan karya sastra.

Sore 24 November 2023, di pelataran Universitas Negeri Malang, BWCF menghadirkan pegiat sastra dari beragam komunitas. Ada M. Faizi yang berbasis komunitas pesantren di Sumenep dan Ki Narko yang berlatar komunitas sastra Jawa di Tulungagung. Ada Mashuri yang lama berjibaku dalam komunitas kampus dan Felix K. Nesi yang besar dalam komunitas sastra di NTT yang dilingkupi budaya lisan. Juga Denny Mizhar yang tekun mendorong komunitas sastra menjadi solusi atas persoalan kampung-kampung di Malang.

Dari paparan M. Faizi terungkap bagaimana sastra hidup di dalam pesantren. Pergerakan mereka cenderung lepas dari sorotan media. Namun, denyut kekaryaan tetap terasa. Sastra menempati ruang tersendiri di hati santri. Berdesakan dengan jadwal padat mengaji kitab suci dan ikhtiar tersembunyi merawat kata-kata.

Penggerak komunitas sastra pesantren adalah persaingan. Alih-alih saling mengalahkan, persaingan yang terjadi justru saling meneguhkan. Komunitas-komunitas sastra di pesantren rajin menerbitkan karya sebagai penanda bahwa mereka masih berkarya. Bentuk karya mereka beragam, mulai dari jurnal, buku antologi, hingga kumpulan kertas yang dijilid dan difotokopi sekadarnya. Finansial dan popularitas bukan tujuan utama. Selama gagasan mereka mewujud dalam karya, lalu dibaca dan diapresiasi, itu cukup sebagai pemantik karya berikutnya.

Komunitas sastra pesantren punya tantangan besar, yakni bagaimana menggemakan sastra lewat perhelatan festival ataupun semacamnya. Memang, festival yang dimaksud bukan hura-hura mengundang sastrawan terkenal, tapi bagaimana karya sastra dari berbagai genre disandingkan dalam konteks kritik-apresiatif.

Pergulatan menarik diceritakan Ki Narko Sudrun dari Tulungagung. Ia bersama kawan dari Tuban, Trenggalek, Jember, dan sekitarnya, merawat bahasa Jawa lewat geguritan (puisi) dan cerkak (cerita cekak, cerita pendek). Karya mereka rutin meramaikan media cetak seperti Panjebar Semangat, Jayabaya, Djaka Lodang, hingga Mekar Sari.

Honor pemuatan yang kecil tak membuat mereka berhenti berkarya. Komunitas tetap mewadahi kebutuhan sastra akan iklim apresiatif. Ki Narko Sudrun ajeg mengajak teman-teman ngonceki karya, baik pada tahap prakirim maupun pascamuat.

Lebih lanjut, Ki Narko menggarisbawahi bahwa pesastra Jawa butuh penghidupan untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Cara yang mereka tempuh adalah selingkuh dengan sastra (berbahasa) Indonesia. Perselingkuhan itu mereka kerjakan dengan tetap bersetia pada marwah sastra Jawa. Dari situlah kemudian lahir kekuatan baru: kecakapan berkarya dalam bahasa Jawa dan Indonesia—sesuatu yang belum tentu dimiliki mereka yang berkarya dalam bahasa Indonesia.

Sementara itu, Mashuri menyoroti perkembangan komunitas sastra berbasis kampus. Akademisi Balai Bahasa Jawa Timur itu mencoba menyandingkan komunitas sastra berbasis kampus dengan komunitas sastra berbasis khalayak umum. Pengalamannya berkarya bersama Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar membuktikan bahwa komunitas kampus lebih sering berganti anggota karena keterbatasan rentang studi. Komunitas umum cenderung lebih awet. Namun, Mashuri menangkap spirit yang baik dari komunitas kampus. Anggotanya adalah mahasiswa yang belajar teori sastra atau teori lain yang beririsan dengan sastra seperti filsafat, sosial, dan seni.

Riset komunitas sastra yang dilakukan Mashuri menghasilkan data betapa beragam genre karya yang dihasilkan komunitas kampus. Bekal segenggam teori membawa keberanian menyuarakan sastra anarki dan sastra gelap. Juga karya-karya idealisme dan simbolisme. Ragam genre sastra itu pada akhirnya bermuara pada spirit komunitas yang menyatukan mereka, yaitu melawan sastra mapan—sebut saja sastra Jakarta.

Kecuali itu, keberagaman genre juga menjadi lokomotif yang menggerakkan komunitas agar tak terjebak pada epigonisme. Epigonisme menandakan nihilnya gagasan baru. Anggotanya tidak punya cukup keberanian keluar dari genre tokoh utama komunitas sastra. Mereka cenderung memilih menjadi pengekor. Menurut Mashuri, epigonisme itulah musuh besar komunitas sastra.  Salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menghindari epigonisme adalah berakrab dengan seni lain seperti teater, musik, dan rupa. Kerja kolaborasi antar bidang seni semakin mudah dilakukan mengingat era media hari ini memberi banyak kemudahan. 

Terkait perannya sebagai pemantik kekaryaan, komunitas-kelompok dan penulis-individu terikat dalam relasi yang unik. Penulis tetap berkarya secara soliter meski menjadi bagian dari komunitas sastra. Gagasan-gagasan boleh dibincang dalam komunitas. Komunitas bisa menjadi ruang dialektika bagi kebaruan-kebaruan yang ditawarkan. Namun,  penulis bertanggung jawab penuh menuntaskan gagasan menjadi karya.

Sudut pandang lain menyeruak dari paparan Felix K. Nesi. Masyarakat Nusa Tenggara Timur punya cara pandang berbeda terkait sastra dan sastrawan. Sastra adalah cerita orang Jakarta. Sastra hanya untuk orang terpelajar. Sastrawan adalah selebritas. Sastrawan adalah nabi. Pandangan ini tak sepenuhnya salah. Mereka juga merasa bahwa kisah orang timur tidak layak diangkat menjadi karya sastra.

Menurut penulis novel Orang-Orang Oetimu itu, komunitas sastra perlu lebih ramah kepada masyarakat. Orang NTT sejatinya punya banyak potensi. Pertama, mereka punya budaya tutur yang kuat. Tiap kampung punya pencerita ulung. Mereka bisa menceritakan satu kisah menjadi jenaka sekaligus satir. Nah, cerita-cerita lisan itulah yang perlu dituliskan agar lestari. Juga sebagai anti-tesis terhadap hipotesa bahwa sastra hanya cerita orang Jakarta. 

Felix juga menegaskan dimensi sastrawi keseharian orang NTT. Hanya dengan menuliskannya, kisah harian dan lisan pasti jadi tulisan yang bagus. Tak perlu dipoles berlebihan. Ibarat menaruh kamera di mana saja, jadilah film bagus.

Wacana keberdampakan komunitas sastra disampaikan Denny Mizhar. Penjaga gawang Pelangi Sastra Malang ini menguraikan bahwa komunitas sastra mesti berdampak bagi masyarakat Banyak persoalan kampung layak diangkat ke dalam karya sastra. Bukan untuk mendapatkan gagasan semata, melainkan juga menawarkan jawaban. Advokasi sastra semacam itu butuh kelenturan. Komunitas sastra sesungguhnya tak butuh ideologi. Sepanjang berdampak, komunitas sastra sudah membuktikan kehadirannya di tengah pergulatan masyarakat. Pada aras itulah komunitas sastra menjadi ruang penyadaran bersama. Kesadaran baru dikonstruksi bersama lalu didistribusikan kembali ke tengah masyarakat.

Serangkaian paparan di atas menemukan titik temu ketika peserta melontarkan pertanyaan. Mulai dari persoalan klasik hegemoni kuasa yang berujung polarisasi karya sastra pusat – pinggiran, hingga jebakan romantisme yang bersilangan dengan maraknya industri media.

Persoalan desentralisasi pun mengemuka. Desentralisasi ternyata bukan sekadar persoalan Jakarta dan wilayah timur Indonesia. Banyak kota di Jawa masih belum tersentuh kebijakan. Masih banyak potensi kekaryaan sastra menunggu dibangunkan dari tidur panjangnya.

Butuh komitmen bersama agar komunitas sastra, penulis, dan masyarakat menjadi ekosistem  saling memantik. Urun peran penguasa layak dipacu agar sistem saling memantik tersebut menjadi pemicu autokritik. [T]

Tags: BWCFkomunitas sastraorobudurs Writer and Cultural Festivalsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

15 Perbekel di Buleleng Dilantik: Ini Sebagai Tonggak Baru Kemajuan Desa

Next Post

Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Wahyu Kris

Wahyu Kris

Seorang guru yang sedang dan senang menenggelamkan diri di kedalaman kata-kata. Menulis buku Mendidik Generasi Z dan A (Grasindo, 2018) dan Secangkir Kopi Inspirasi (Kekata, 2019). Pemenang kedua Sayembara Kritik Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2020). Pemenang ketiga Lomba Resensi Monolog Di Tepi Sejarah, Titimangsa Foundation (2021). Pemenang Harapan Esai Sastra Taufiq Ismail (2023). Instagram : wahjoekris

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co