2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saling Memantik Sekaligus Autokritik – Catatan dari BWCF di Malang

Wahyu Kris by Wahyu Kris
November 30, 2023
in Esai
Saling Memantik Sekaligus Autokritik – Catatan dari BWCF di Malang

Forum Sastra di BWCF 2023

PADA akhirnya, produksi karya sastra tak lepas dari tarik ulur persoalan praktis-kontekstual dengan gagasan idealis-personal. Juga lekat pada sistem kuasa dimana sastra menjadi sub-sistem di dalamnya. Gambaran itulah yang terbaca dari bincang sastra gelaran 12th Borobudurs Writer and Cultural Festival (BWCF) tentang peran komunitas sastra memantik penulisan karya sastra.

Sore 24 November 2023, di pelataran Universitas Negeri Malang, BWCF menghadirkan pegiat sastra dari beragam komunitas. Ada M. Faizi yang berbasis komunitas pesantren di Sumenep dan Ki Narko yang berlatar komunitas sastra Jawa di Tulungagung. Ada Mashuri yang lama berjibaku dalam komunitas kampus dan Felix K. Nesi yang besar dalam komunitas sastra di NTT yang dilingkupi budaya lisan. Juga Denny Mizhar yang tekun mendorong komunitas sastra menjadi solusi atas persoalan kampung-kampung di Malang.

Dari paparan M. Faizi terungkap bagaimana sastra hidup di dalam pesantren. Pergerakan mereka cenderung lepas dari sorotan media. Namun, denyut kekaryaan tetap terasa. Sastra menempati ruang tersendiri di hati santri. Berdesakan dengan jadwal padat mengaji kitab suci dan ikhtiar tersembunyi merawat kata-kata.

Penggerak komunitas sastra pesantren adalah persaingan. Alih-alih saling mengalahkan, persaingan yang terjadi justru saling meneguhkan. Komunitas-komunitas sastra di pesantren rajin menerbitkan karya sebagai penanda bahwa mereka masih berkarya. Bentuk karya mereka beragam, mulai dari jurnal, buku antologi, hingga kumpulan kertas yang dijilid dan difotokopi sekadarnya. Finansial dan popularitas bukan tujuan utama. Selama gagasan mereka mewujud dalam karya, lalu dibaca dan diapresiasi, itu cukup sebagai pemantik karya berikutnya.

Komunitas sastra pesantren punya tantangan besar, yakni bagaimana menggemakan sastra lewat perhelatan festival ataupun semacamnya. Memang, festival yang dimaksud bukan hura-hura mengundang sastrawan terkenal, tapi bagaimana karya sastra dari berbagai genre disandingkan dalam konteks kritik-apresiatif.

Pergulatan menarik diceritakan Ki Narko Sudrun dari Tulungagung. Ia bersama kawan dari Tuban, Trenggalek, Jember, dan sekitarnya, merawat bahasa Jawa lewat geguritan (puisi) dan cerkak (cerita cekak, cerita pendek). Karya mereka rutin meramaikan media cetak seperti Panjebar Semangat, Jayabaya, Djaka Lodang, hingga Mekar Sari.

Honor pemuatan yang kecil tak membuat mereka berhenti berkarya. Komunitas tetap mewadahi kebutuhan sastra akan iklim apresiatif. Ki Narko Sudrun ajeg mengajak teman-teman ngonceki karya, baik pada tahap prakirim maupun pascamuat.

Lebih lanjut, Ki Narko menggarisbawahi bahwa pesastra Jawa butuh penghidupan untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Cara yang mereka tempuh adalah selingkuh dengan sastra (berbahasa) Indonesia. Perselingkuhan itu mereka kerjakan dengan tetap bersetia pada marwah sastra Jawa. Dari situlah kemudian lahir kekuatan baru: kecakapan berkarya dalam bahasa Jawa dan Indonesia—sesuatu yang belum tentu dimiliki mereka yang berkarya dalam bahasa Indonesia.

Sementara itu, Mashuri menyoroti perkembangan komunitas sastra berbasis kampus. Akademisi Balai Bahasa Jawa Timur itu mencoba menyandingkan komunitas sastra berbasis kampus dengan komunitas sastra berbasis khalayak umum. Pengalamannya berkarya bersama Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar membuktikan bahwa komunitas kampus lebih sering berganti anggota karena keterbatasan rentang studi. Komunitas umum cenderung lebih awet. Namun, Mashuri menangkap spirit yang baik dari komunitas kampus. Anggotanya adalah mahasiswa yang belajar teori sastra atau teori lain yang beririsan dengan sastra seperti filsafat, sosial, dan seni.

Riset komunitas sastra yang dilakukan Mashuri menghasilkan data betapa beragam genre karya yang dihasilkan komunitas kampus. Bekal segenggam teori membawa keberanian menyuarakan sastra anarki dan sastra gelap. Juga karya-karya idealisme dan simbolisme. Ragam genre sastra itu pada akhirnya bermuara pada spirit komunitas yang menyatukan mereka, yaitu melawan sastra mapan—sebut saja sastra Jakarta.

Kecuali itu, keberagaman genre juga menjadi lokomotif yang menggerakkan komunitas agar tak terjebak pada epigonisme. Epigonisme menandakan nihilnya gagasan baru. Anggotanya tidak punya cukup keberanian keluar dari genre tokoh utama komunitas sastra. Mereka cenderung memilih menjadi pengekor. Menurut Mashuri, epigonisme itulah musuh besar komunitas sastra.  Salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menghindari epigonisme adalah berakrab dengan seni lain seperti teater, musik, dan rupa. Kerja kolaborasi antar bidang seni semakin mudah dilakukan mengingat era media hari ini memberi banyak kemudahan. 

Terkait perannya sebagai pemantik kekaryaan, komunitas-kelompok dan penulis-individu terikat dalam relasi yang unik. Penulis tetap berkarya secara soliter meski menjadi bagian dari komunitas sastra. Gagasan-gagasan boleh dibincang dalam komunitas. Komunitas bisa menjadi ruang dialektika bagi kebaruan-kebaruan yang ditawarkan. Namun,  penulis bertanggung jawab penuh menuntaskan gagasan menjadi karya.

Sudut pandang lain menyeruak dari paparan Felix K. Nesi. Masyarakat Nusa Tenggara Timur punya cara pandang berbeda terkait sastra dan sastrawan. Sastra adalah cerita orang Jakarta. Sastra hanya untuk orang terpelajar. Sastrawan adalah selebritas. Sastrawan adalah nabi. Pandangan ini tak sepenuhnya salah. Mereka juga merasa bahwa kisah orang timur tidak layak diangkat menjadi karya sastra.

Menurut penulis novel Orang-Orang Oetimu itu, komunitas sastra perlu lebih ramah kepada masyarakat. Orang NTT sejatinya punya banyak potensi. Pertama, mereka punya budaya tutur yang kuat. Tiap kampung punya pencerita ulung. Mereka bisa menceritakan satu kisah menjadi jenaka sekaligus satir. Nah, cerita-cerita lisan itulah yang perlu dituliskan agar lestari. Juga sebagai anti-tesis terhadap hipotesa bahwa sastra hanya cerita orang Jakarta. 

Felix juga menegaskan dimensi sastrawi keseharian orang NTT. Hanya dengan menuliskannya, kisah harian dan lisan pasti jadi tulisan yang bagus. Tak perlu dipoles berlebihan. Ibarat menaruh kamera di mana saja, jadilah film bagus.

Wacana keberdampakan komunitas sastra disampaikan Denny Mizhar. Penjaga gawang Pelangi Sastra Malang ini menguraikan bahwa komunitas sastra mesti berdampak bagi masyarakat Banyak persoalan kampung layak diangkat ke dalam karya sastra. Bukan untuk mendapatkan gagasan semata, melainkan juga menawarkan jawaban. Advokasi sastra semacam itu butuh kelenturan. Komunitas sastra sesungguhnya tak butuh ideologi. Sepanjang berdampak, komunitas sastra sudah membuktikan kehadirannya di tengah pergulatan masyarakat. Pada aras itulah komunitas sastra menjadi ruang penyadaran bersama. Kesadaran baru dikonstruksi bersama lalu didistribusikan kembali ke tengah masyarakat.

Serangkaian paparan di atas menemukan titik temu ketika peserta melontarkan pertanyaan. Mulai dari persoalan klasik hegemoni kuasa yang berujung polarisasi karya sastra pusat – pinggiran, hingga jebakan romantisme yang bersilangan dengan maraknya industri media.

Persoalan desentralisasi pun mengemuka. Desentralisasi ternyata bukan sekadar persoalan Jakarta dan wilayah timur Indonesia. Banyak kota di Jawa masih belum tersentuh kebijakan. Masih banyak potensi kekaryaan sastra menunggu dibangunkan dari tidur panjangnya.

Butuh komitmen bersama agar komunitas sastra, penulis, dan masyarakat menjadi ekosistem  saling memantik. Urun peran penguasa layak dipacu agar sistem saling memantik tersebut menjadi pemicu autokritik. [T]

Tags: BWCFkomunitas sastraorobudurs Writer and Cultural Festivalsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

15 Perbekel di Buleleng Dilantik: Ini Sebagai Tonggak Baru Kemajuan Desa

Next Post

Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Wahyu Kris

Wahyu Kris

Seorang guru yang sedang dan senang menenggelamkan diri di kedalaman kata-kata. Menulis buku Mendidik Generasi Z dan A (Grasindo, 2018) dan Secangkir Kopi Inspirasi (Kekata, 2019). Pemenang kedua Sayembara Kritik Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2020). Pemenang ketiga Lomba Resensi Monolog Di Tepi Sejarah, Titimangsa Foundation (2021). Pemenang Harapan Esai Sastra Taufiq Ismail (2023). Instagram : wahjoekris

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Kasus Linguistik “Cuani” dan “Culuh” di Desa Adat Sebunibus, Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co