2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Son Lomri by Son Lomri
June 24, 2025
in Ulas Film
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Film "Kembang Eleh" saat diputar di Seririt, Buleleng | Foto: Singaraja Menonton

PESAN moral dalam film “Kembang Eleh” karya Candra Aulia Safitri tahun 2024 itu tentang fenomena pernikahan usia dini. Film itu berjenis fiksi. Film itu diputar di Kedai Cana, Jalan Sudirman Seririt, Buleleng, Senin, 23 Juni 2025, serangkaian program Layar Kolektif Bali Utara yang digagas Komunitas Singaraja Menonton.

Tepatnya, film ini bercerita tentang pernikahan usia dini di masa anak SMA. Tentu, dalam film itu tercitrakan sangat kuat, bagaimana suami-istri masih muda, tidak lulus SMA, menikah dan punya anak, lantas memiliki nasib buruk.

Si suami tidak punya pekerjaan sebagai sumber nafkah, dan sulit nyari kerja. Tinggal di rumah mertua, dan sudah tak dihiraukan lagi oleh mertua soal bekal. Film itu jelas-jelas mengganjar mereka, penonton, yang barangkali terjebak pada fenomena itu, dengan segala bentuk kesialan.

Di masyarakat—dalam film itu—mereka yang menikah di usia dini dipandang hina tidak bernilai, dan posisinya sangat absurd sebagai kelas sosial ekonomi menengah ke bawah. Dan film “Kembang Eleh” melukiskannya cukup baik. Kuat. Film ini sangat cocok untuk dijadikan tontonan sebagai pembelajaran bagi anak SD, SMP, dan SMA, jika menikah cepat—dalam keadaan miskin ekonomi, perut bisa kosong dan anak bayi bisa nangis, dalam kata lain hidup sengsara satu rumah, ya, film itu memang sepertinya berada dalam kawasan sosial—ekonomi menengah ke bawah.

Pasangan suami istri dalam film itu bernama Rusdi dan Inayah. Diceritakan Inayah menagih haknya sebagai istri, bahwa si suami mestilah cari kerja segera, kebutuhan rumah tangga sudah membludak, apalagi anak masih bayi, sangat butuh susu dan makanan bergizi agar tidak stunting.

Maka, Rusdi, sang suami lekas mencari kerja, di jalan—ia bersusah payah mencari kerja, tapi ditolak sana-sini. Ketika di satu toko, ketemulah ia dengan gurunya waktu sekolah, percakapan mereka basa-basi awalnya, kemudian sang guru berdauh, “Sudah sedari dulu kamu dan keluargamu saya kasih tahu, dan sekarang jadinya begini karena tidak mendengar : hidup sulit.”

Coba dari dulu mendengar, fokus sekolah, pasti punya masa depan yang cerah. Sekarang begini saja, kata si guru, masih ada kesempatan untuk mengejar sekolah paket C.

Dalam adegan itu, mungkin perut penonton akan serasa menjadi mual melihat si guru berdawuh tentang pelajaran hidup butuh ijazah. Saya paham betul apa yang dirasakan Andi, ia hanya butuh pekerjaan, butuh uang secepat kilat.

Karena pengalaman—pernikahan usia dini—dirinya sudah mengajarkan kehidupan yang dahsyat, dan ia tak butuh sekolah paket C yang bertele-tele untuk sebuah pekerjaan. Ia hanya butuh dipercaya, jika hatinya sedang penuh rasa penyesalan karena tidak menuntaskan sekolahnya dulu.

Adegan ketika Rusdi bertemu si guru itu, adalah bagian paling getir. Seakan orang-orang menggunakan kacamata moral, tapi banal dalam melihat situasi sekaratnya seseorang ketika berada di titik paling rendah dari hidup, butuh ditolong.

Film “Kembang Eleh” saat diputar di Seririt, Buleleng | Foto: Singaraja Menonton

Film itu mengajak siapa saja untuk tidak menikah di usia bau kencur. Film itu seperti sebuah peringatan besar, bahwa “Stop Pernikahan Dini. Itu Berbahaya!”.

Tapi, di sisi lain, ada perasaan iba pada mereka yang terlanjur terjebak pada pernikahan dini. Bagaimana nasib mereka setelah menjadi samsak moralitas masyarakat untuk dicibir, atau memandang mereka tidak bernilai lagi, bahkan dalam hal pekerjaan.

Ini sebuah cerita nyata. Ada tetangga punya anak lima; empat sudah kawin, satu masih mesantren. Konon tetangga itu menikah ketika sudah lulus SD karena dijodohkan. Suaminya bekerja apa saja waktu itu, dalam artian kuli, dan sangat rajin. Fisiknya sangat prima sebagai anak kampung. Pekerja keras, dan orang-orang sering meminta jasanya untuk disuruh-suruh.

Dan kebanyakan, hingga tahun tahun 2000-an atawa 90-an, fenomena semacam itu seperti dianggap lumrah. Jika cerita itu benar, mental orang-orang dulu berarti sangat kuat walaupun menikah setelah lulus SD bahkan. Dan sampai sekarang, tetangga itu tinggal dan hidup bersama, punya rumah, dan anak lima sudah besar-besar pula.

Berbeda dengan zaman sekarang, tidak sedikit yang berkakhir pada perceraian yang menghasilkan janda muda duda muda, sebagaimana digambarkan dalam film “Kembang Eleh”.

Film itu betul-betul mengutuk keras pada mereka yang menikah di usia dini, dengan akhir film, sebuah perceraian disertai suara guntur sangat keras. Tapi, barangkali, begitulah adanya—pernikahan di usia dini sekarang. Sangat buruk, dan memang sangat buruk pernikahan di usia dini itu. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa
Jika Desa Tak Ditulis, Siapa yang Akan Mengingat? — Catatan Workshop Menulis Cerita Desa di Tejakula Community Center
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kreativitas Luar Biasa dari Sekolah Luar Biasa di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika

Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co