2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula

Son Lomri by Son Lomri
June 21, 2025
in Ulas Film
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula

Film "Metuun" karya Dewadi Wijaya| Foto : Singaraja Menonton

FILM “Metuun” (2019) yang disutradarai oleh Dewadi Wijaya adalah film dengan cerita yang cukup unik. Ketika sudah sempat menonton sejak awal, orang-orang akan tertarik untuk menonton hingga selesai di kursi duduk. Itulah yang terjadi  dalam acara “Layar Kolektif Bali Utara : Masa Transisi” yang diadakan oleh Komunitas Singaraja Menonton di Tejakula Community Center, 15 Juni 2025. Orang duduk, tenang, dari awal film hingga akhir film.

Film “Metuun” memang mengangkat tradisi metuun, sebuah upacara untuk memanggil roh seseorang yang sudah mendiang, atau leluhur untuk meminta petunjuk, atau semacamnya.

Film itu dibuka dengan intrumen musik sedih. Kesedihan cerita ditampilkan oleh Dewadi Wijaya—melalui musik itu, barangkali untuk menegaskan kepada penonton, bahwa film pendeknya, adalah film sedih.

Salah satu adegan film “Nyambutin” karya Agus Primarta | Foto: Singaraja Menonton

Ini tentang seorang bocah yang dijangkiti rasa rindu pada mendiang ayahnya, yang dipanggilnya Ajik. Lantas ia pergi ke ibunya, dan berkata jika ia rindu sekali kepada Ajik. Sang ibu pun menimpali, jika kerinduan juga melekat kuat pada seisi rumah mereka, bukan hanya pada si bocah itu.

Pada adegan di mana si bocah ingin sekali berjumpa dan berbicara dengan ayahnya, ia sampaikan pada ibunya. Musik instrumen lantas bergema menegaskan adegan itu sebagai adegan melankolis dengan musik sedih.

Kemudian ketika si bocah keluar rumah, dan tak sengaja lewat beranda rumah tetangganya, menjumpai bapak dan anaknya sedang bermain, wajah si bocah itu seketika menjadi basah kuyup. Rasa rindu pada ayahnya pecah di jalan, ketika memandang keluarga orang lain yang dirasanya lengkap. Lantas, musik sedih masuk lagi.

Setiap adegan sedih, Dewadi Wijaya tak pernah mau ketinggalan untuk memasukan instrumen musik sedih agar meyakinkan si penonton, bahwa itu adegan sedih. Ini film bernuansa sedih.

Film “Metuun” banjir instrumen sedih. Saya merasa terhenyak oleh instrumennya ketimbang adegan-adegannya. Tapi itu sekaligus yang membuat saya terganggu, bagaimana Dewadi Wijaya—menggantungkan suasana melankolis cerita hanya pada instrumen bukan pada penguatan karakter, dan ekspresi si bocah disiksa rasa kangen itu seperti apa—juga keluarganya, kurang dapat gambaran yang kuat, juga soal setting tempat dan sorot kamera, mau sinematik, atau sinetronik.

Ketika permintaan untuk bertemu dengan ayahnya itu tidak terlaksanakan, maka bocah itu lari ke kamar memeluk foto mendiang si ayah di pojokan, dan si ibu menghampiri si bocah sedang meringis, untuk ditenangkan. Segera musik instrumen sedih masuk lagi.

Suasana penonton film di Tejakula Community Center | Foto: Singaraja Menonton

Setiap adegan diseperti itukan, alih-alih melankolis dengan instrumen sedih, adegan itu justru mendekati sebuah adegan sinetronik yang hambar dan gimik, tidak percaya pada karakter si pemain.

Magis. Upacara Metuun, adalah sesuatu yang magis. Kemagisan di film itu kurang terasa, walaupun upacaranya digelar.

Dan berfikiran magis, tidak melulu menyoal film hantu. Tapi jika cerita itu ditekankan pada ritual—begitu sakralnya upacara metuun, dikuatkan secara karakter dan sorot kamera, barangkali bisa lebih unik dan matang. Karena dari sisi cerita, itu sangat bagus dan seksi.

Sementara pada film berjudul “Nyambutin” 2021 yang disutradarai oleh Agus Primarta, dalam penyisipan musik intsrumen pada filmnya, justru tidak terlalu mendominasi para pemain dalam mengeksperikan dirinya ketika memainkan peran.

Jro Dalang Sembroli, pemeran utama pada film itu, karakternya sangat kuat sebagai Ajik—yang akan melakukan upacara tiga bulanan anaknya, barangkali karena memang ia sebagai seorang dalang, tahu betul soal-soal karakter marah dan genting.

Nyaris sepanjang cerita, musik instrumen tegang beralun cukup panjang mengantarkan alur ceritanya memang, bahkan, suara nampah pun menjadi musik tambahan yang menguatkan pada ketegangan suasana. Tapi itu selaras dengan sorot mata kamera yang mengambil juga sisi tegangnya di mana.

Film “Metuun” karya Dewadi Wijaya| Foto : Singaraja Menonton

Film itu menceritakan tentang suasana Covid-19, tentang anjuran untuk meminimalisir keramaian pada sebuah kegiatan apapun, termasuk kegiatan upacara. Dan dalam film itu, ketegangan suasana didapatkan ketika upacara yang akan dilakukan berbenturan dengan aturan yang ada saat itu, yaitu harus melapor pada pihak kepolisian jika mau membuat acara keramaian, seperti upacara atau pertemuan yang mengundang banyak orang.

Konflik terlihat di sana dan sangat terasa. Tegang. Dan bagaimana ketika konflik dimainkan, musik instrumen tegang ada pada porsi yang pas sebagai pengiringnya. Di situ mantapnya Agus Primarta, bisa mengukur.

Tapi, di akhir film, yang mengganjal mata adalah, film itu tampak sekali seperti iklan humas polisi. Hanya saja pengemasannya yang berbeda, bercerita dan sinematik. Dan antara film “Metuun” dan “Nyambutin”, saya mendapatkan sesuatu, bahwa sorot kamera penuh simbol dibayangi instrumen yang tidak berlebihan, bisa membuat sebuah film pendek jadi enak.

O, iya, selain “Metuun” dan Nyambutin”, pada malam itu juga ada film “AI’r” dan “Renjana” karya Dian Suryantini, “Abu-Abu” Dewadi Wijaya, dan “Made” oleh Agus Primarta. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa
Jika Desa Tak Ditulis, Siapa yang Akan Mengingat? — Catatan Workshop Menulis Cerita Desa di Tejakula Community Center
Tags: filmfilm pendekSingaraja MenontonTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Next Post

Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co