14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula

Son Lomri by Son Lomri
June 21, 2025
in Ulas Film
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula

Film "Metuun" karya Dewadi Wijaya| Foto : Singaraja Menonton

FILM “Metuun” (2019) yang disutradarai oleh Dewadi Wijaya adalah film dengan cerita yang cukup unik. Ketika sudah sempat menonton sejak awal, orang-orang akan tertarik untuk menonton hingga selesai di kursi duduk. Itulah yang terjadi  dalam acara “Layar Kolektif Bali Utara : Masa Transisi” yang diadakan oleh Komunitas Singaraja Menonton di Tejakula Community Center, 15 Juni 2025. Orang duduk, tenang, dari awal film hingga akhir film.

Film “Metuun” memang mengangkat tradisi metuun, sebuah upacara untuk memanggil roh seseorang yang sudah mendiang, atau leluhur untuk meminta petunjuk, atau semacamnya.

Film itu dibuka dengan intrumen musik sedih. Kesedihan cerita ditampilkan oleh Dewadi Wijaya—melalui musik itu, barangkali untuk menegaskan kepada penonton, bahwa film pendeknya, adalah film sedih.

Salah satu adegan film “Nyambutin” karya Agus Primarta | Foto: Singaraja Menonton

Ini tentang seorang bocah yang dijangkiti rasa rindu pada mendiang ayahnya, yang dipanggilnya Ajik. Lantas ia pergi ke ibunya, dan berkata jika ia rindu sekali kepada Ajik. Sang ibu pun menimpali, jika kerinduan juga melekat kuat pada seisi rumah mereka, bukan hanya pada si bocah itu.

Pada adegan di mana si bocah ingin sekali berjumpa dan berbicara dengan ayahnya, ia sampaikan pada ibunya. Musik instrumen lantas bergema menegaskan adegan itu sebagai adegan melankolis dengan musik sedih.

Kemudian ketika si bocah keluar rumah, dan tak sengaja lewat beranda rumah tetangganya, menjumpai bapak dan anaknya sedang bermain, wajah si bocah itu seketika menjadi basah kuyup. Rasa rindu pada ayahnya pecah di jalan, ketika memandang keluarga orang lain yang dirasanya lengkap. Lantas, musik sedih masuk lagi.

Setiap adegan sedih, Dewadi Wijaya tak pernah mau ketinggalan untuk memasukan instrumen musik sedih agar meyakinkan si penonton, bahwa itu adegan sedih. Ini film bernuansa sedih.

Film “Metuun” banjir instrumen sedih. Saya merasa terhenyak oleh instrumennya ketimbang adegan-adegannya. Tapi itu sekaligus yang membuat saya terganggu, bagaimana Dewadi Wijaya—menggantungkan suasana melankolis cerita hanya pada instrumen bukan pada penguatan karakter, dan ekspresi si bocah disiksa rasa kangen itu seperti apa—juga keluarganya, kurang dapat gambaran yang kuat, juga soal setting tempat dan sorot kamera, mau sinematik, atau sinetronik.

Ketika permintaan untuk bertemu dengan ayahnya itu tidak terlaksanakan, maka bocah itu lari ke kamar memeluk foto mendiang si ayah di pojokan, dan si ibu menghampiri si bocah sedang meringis, untuk ditenangkan. Segera musik instrumen sedih masuk lagi.

Suasana penonton film di Tejakula Community Center | Foto: Singaraja Menonton

Setiap adegan diseperti itukan, alih-alih melankolis dengan instrumen sedih, adegan itu justru mendekati sebuah adegan sinetronik yang hambar dan gimik, tidak percaya pada karakter si pemain.

Magis. Upacara Metuun, adalah sesuatu yang magis. Kemagisan di film itu kurang terasa, walaupun upacaranya digelar.

Dan berfikiran magis, tidak melulu menyoal film hantu. Tapi jika cerita itu ditekankan pada ritual—begitu sakralnya upacara metuun, dikuatkan secara karakter dan sorot kamera, barangkali bisa lebih unik dan matang. Karena dari sisi cerita, itu sangat bagus dan seksi.

Sementara pada film berjudul “Nyambutin” 2021 yang disutradarai oleh Agus Primarta, dalam penyisipan musik intsrumen pada filmnya, justru tidak terlalu mendominasi para pemain dalam mengeksperikan dirinya ketika memainkan peran.

Jro Dalang Sembroli, pemeran utama pada film itu, karakternya sangat kuat sebagai Ajik—yang akan melakukan upacara tiga bulanan anaknya, barangkali karena memang ia sebagai seorang dalang, tahu betul soal-soal karakter marah dan genting.

Nyaris sepanjang cerita, musik instrumen tegang beralun cukup panjang mengantarkan alur ceritanya memang, bahkan, suara nampah pun menjadi musik tambahan yang menguatkan pada ketegangan suasana. Tapi itu selaras dengan sorot mata kamera yang mengambil juga sisi tegangnya di mana.

Film “Metuun” karya Dewadi Wijaya| Foto : Singaraja Menonton

Film itu menceritakan tentang suasana Covid-19, tentang anjuran untuk meminimalisir keramaian pada sebuah kegiatan apapun, termasuk kegiatan upacara. Dan dalam film itu, ketegangan suasana didapatkan ketika upacara yang akan dilakukan berbenturan dengan aturan yang ada saat itu, yaitu harus melapor pada pihak kepolisian jika mau membuat acara keramaian, seperti upacara atau pertemuan yang mengundang banyak orang.

Konflik terlihat di sana dan sangat terasa. Tegang. Dan bagaimana ketika konflik dimainkan, musik instrumen tegang ada pada porsi yang pas sebagai pengiringnya. Di situ mantapnya Agus Primarta, bisa mengukur.

Tapi, di akhir film, yang mengganjal mata adalah, film itu tampak sekali seperti iklan humas polisi. Hanya saja pengemasannya yang berbeda, bercerita dan sinematik. Dan antara film “Metuun” dan “Nyambutin”, saya mendapatkan sesuatu, bahwa sorot kamera penuh simbol dibayangi instrumen yang tidak berlebihan, bisa membuat sebuah film pendek jadi enak.

O, iya, selain “Metuun” dan Nyambutin”, pada malam itu juga ada film “AI’r” dan “Renjana” karya Dian Suryantini, “Abu-Abu” Dewadi Wijaya, dan “Made” oleh Agus Primarta. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa
Jika Desa Tak Ditulis, Siapa yang Akan Mengingat? — Catatan Workshop Menulis Cerita Desa di Tejakula Community Center
Tags: filmfilm pendekSingaraja MenontonTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Next Post

Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co