23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula

Son Lomri by Son Lomri
June 21, 2025
in Ulas Film
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula

Film "Metuun" karya Dewadi Wijaya| Foto : Singaraja Menonton

FILM “Metuun” (2019) yang disutradarai oleh Dewadi Wijaya adalah film dengan cerita yang cukup unik. Ketika sudah sempat menonton sejak awal, orang-orang akan tertarik untuk menonton hingga selesai di kursi duduk. Itulah yang terjadi  dalam acara “Layar Kolektif Bali Utara : Masa Transisi” yang diadakan oleh Komunitas Singaraja Menonton di Tejakula Community Center, 15 Juni 2025. Orang duduk, tenang, dari awal film hingga akhir film.

Film “Metuun” memang mengangkat tradisi metuun, sebuah upacara untuk memanggil roh seseorang yang sudah mendiang, atau leluhur untuk meminta petunjuk, atau semacamnya.

Film itu dibuka dengan intrumen musik sedih. Kesedihan cerita ditampilkan oleh Dewadi Wijaya—melalui musik itu, barangkali untuk menegaskan kepada penonton, bahwa film pendeknya, adalah film sedih.

Salah satu adegan film “Nyambutin” karya Agus Primarta | Foto: Singaraja Menonton

Ini tentang seorang bocah yang dijangkiti rasa rindu pada mendiang ayahnya, yang dipanggilnya Ajik. Lantas ia pergi ke ibunya, dan berkata jika ia rindu sekali kepada Ajik. Sang ibu pun menimpali, jika kerinduan juga melekat kuat pada seisi rumah mereka, bukan hanya pada si bocah itu.

Pada adegan di mana si bocah ingin sekali berjumpa dan berbicara dengan ayahnya, ia sampaikan pada ibunya. Musik instrumen lantas bergema menegaskan adegan itu sebagai adegan melankolis dengan musik sedih.

Kemudian ketika si bocah keluar rumah, dan tak sengaja lewat beranda rumah tetangganya, menjumpai bapak dan anaknya sedang bermain, wajah si bocah itu seketika menjadi basah kuyup. Rasa rindu pada ayahnya pecah di jalan, ketika memandang keluarga orang lain yang dirasanya lengkap. Lantas, musik sedih masuk lagi.

Setiap adegan sedih, Dewadi Wijaya tak pernah mau ketinggalan untuk memasukan instrumen musik sedih agar meyakinkan si penonton, bahwa itu adegan sedih. Ini film bernuansa sedih.

Film “Metuun” banjir instrumen sedih. Saya merasa terhenyak oleh instrumennya ketimbang adegan-adegannya. Tapi itu sekaligus yang membuat saya terganggu, bagaimana Dewadi Wijaya—menggantungkan suasana melankolis cerita hanya pada instrumen bukan pada penguatan karakter, dan ekspresi si bocah disiksa rasa kangen itu seperti apa—juga keluarganya, kurang dapat gambaran yang kuat, juga soal setting tempat dan sorot kamera, mau sinematik, atau sinetronik.

Ketika permintaan untuk bertemu dengan ayahnya itu tidak terlaksanakan, maka bocah itu lari ke kamar memeluk foto mendiang si ayah di pojokan, dan si ibu menghampiri si bocah sedang meringis, untuk ditenangkan. Segera musik instrumen sedih masuk lagi.

Suasana penonton film di Tejakula Community Center | Foto: Singaraja Menonton

Setiap adegan diseperti itukan, alih-alih melankolis dengan instrumen sedih, adegan itu justru mendekati sebuah adegan sinetronik yang hambar dan gimik, tidak percaya pada karakter si pemain.

Magis. Upacara Metuun, adalah sesuatu yang magis. Kemagisan di film itu kurang terasa, walaupun upacaranya digelar.

Dan berfikiran magis, tidak melulu menyoal film hantu. Tapi jika cerita itu ditekankan pada ritual—begitu sakralnya upacara metuun, dikuatkan secara karakter dan sorot kamera, barangkali bisa lebih unik dan matang. Karena dari sisi cerita, itu sangat bagus dan seksi.

Sementara pada film berjudul “Nyambutin” 2021 yang disutradarai oleh Agus Primarta, dalam penyisipan musik intsrumen pada filmnya, justru tidak terlalu mendominasi para pemain dalam mengeksperikan dirinya ketika memainkan peran.

Jro Dalang Sembroli, pemeran utama pada film itu, karakternya sangat kuat sebagai Ajik—yang akan melakukan upacara tiga bulanan anaknya, barangkali karena memang ia sebagai seorang dalang, tahu betul soal-soal karakter marah dan genting.

Nyaris sepanjang cerita, musik instrumen tegang beralun cukup panjang mengantarkan alur ceritanya memang, bahkan, suara nampah pun menjadi musik tambahan yang menguatkan pada ketegangan suasana. Tapi itu selaras dengan sorot mata kamera yang mengambil juga sisi tegangnya di mana.

Film “Metuun” karya Dewadi Wijaya| Foto : Singaraja Menonton

Film itu menceritakan tentang suasana Covid-19, tentang anjuran untuk meminimalisir keramaian pada sebuah kegiatan apapun, termasuk kegiatan upacara. Dan dalam film itu, ketegangan suasana didapatkan ketika upacara yang akan dilakukan berbenturan dengan aturan yang ada saat itu, yaitu harus melapor pada pihak kepolisian jika mau membuat acara keramaian, seperti upacara atau pertemuan yang mengundang banyak orang.

Konflik terlihat di sana dan sangat terasa. Tegang. Dan bagaimana ketika konflik dimainkan, musik instrumen tegang ada pada porsi yang pas sebagai pengiringnya. Di situ mantapnya Agus Primarta, bisa mengukur.

Tapi, di akhir film, yang mengganjal mata adalah, film itu tampak sekali seperti iklan humas polisi. Hanya saja pengemasannya yang berbeda, bercerita dan sinematik. Dan antara film “Metuun” dan “Nyambutin”, saya mendapatkan sesuatu, bahwa sorot kamera penuh simbol dibayangi instrumen yang tidak berlebihan, bisa membuat sebuah film pendek jadi enak.

O, iya, selain “Metuun” dan Nyambutin”, pada malam itu juga ada film “AI’r” dan “Renjana” karya Dian Suryantini, “Abu-Abu” Dewadi Wijaya, dan “Made” oleh Agus Primarta. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa
Jika Desa Tak Ditulis, Siapa yang Akan Mengingat? — Catatan Workshop Menulis Cerita Desa di Tejakula Community Center
Tags: filmfilm pendekSingaraja MenontonTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Next Post

Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co