7 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Lintang Pramudia Swara by Lintang Pramudia Swara
June 23, 2025
in Ulas Buku
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Foto dari penulis

Suara tawa bisa menjadi sesuatu yang demikian traumatis. Tujuh tahun sejak peristiwa 1998, begitu banyak luka dan kenangan pahit yang menyertai manusia di bumi pertiwi. Melalui Ingatan Ikan-ikan karya sasti gotama, saya berkenalan dengan Lian Wen dan Ombak Samudera. Nggak butuh waktu lebih dari dua hari buat menyelami dunia mereka hingga tinta terakhir.

Nama Lian seketika menghubungkan saya dengan konsep “the others” dalam wacana poskolonial dan kajian budaya. Liyan berarti mereka yang berbeda, yang dieliminasi dan diasingkan. Sebagaimana Lian Wen pula yang merupakan seorang Tionghoa. Dalam paruh awal saya diajak bertamasya dengan nama-nama kota dan tokoh yang menggunakan inisial. Semula membingungkan, tapi sepadan karena selanjutnya menjelma magnetik.

Lian Wen adalah seorang dokter hewan. Ia tidak menyukai suara tawa. Perut bagian bawahnya akan terasa sakit setiap ia mendengar suara itu. Lambat laun saya pun mengerti apa penyebabnya. Salah satu pegawainya pernah secara tidak sengaja tertawa terbahak dan membuat Lian pingsan.

Di belahan kota yang lain, Ombak sang protagonis pria adalah pedagang ikan mas koki. Hidupnya pas-pasan untuk membiayai istri dan putrinya. Perihal ikan mas koki, Lian memelihara ikan mas koki buta. Seorang pelanggan yang datang memeriksakan ikannya memberikan si mas koki itu kepadanya. Itu belum mencakup keseluruhan premisnya.

Waktu bergerak mundur, saya diajak melihat masa lalu Ombak. Tentang orang tuanya yang berselisih, juga ia dan sang adik yang harus pergi dari rumah untuk mengadu nasib sendiri. Ombak berjualan koran, bercita-cita ingin menjadi dokter. Baginya, dokter adalah simbol kemapanan yang akan melepaskannya dari belenggu kemiskinan.

Di masa lalu, Lian dan Ombak ternyata berteman. Ombak menyukai buku dan mengajak Lian untuk berburu buku cerita silat bekas di tempat langganannya. Beruntung karena Ombak terlebih dahulu mengenal ayahnya Lian dengan baik, sehingga ada cara untuk bisa berkenalan dan mendekati Lian. Pertemanan mereka manis. Ombak menghadiahi ikan mas koki untuk dirawat Lian. Ia mempelajari bagaimana merawat dan mengenali penyakit ikan mas koki. Ikan itu seperti anak yang mereka jaga bersama. Ikan mas koki, seturut Ombak merupakan ikan asli dari Cina, namun kini dibudidaya di Indonesia. Sama halnya dengan Lian yang nenek moyangnya dari sana, tapi Lian lebih lancar berbahasa Jawa.

Saya jadi teringat Meilien dan Dilan dari semestanya Pidi Baiq, juga Laskar Pelangi dengan Ikal dan Aling. Manisnya kedekatan mereka nggak bertahan lama, sebagaimana Lian dan Ombak yang akhirnya juga harus terpisah. Ada penjarahan besar-besaran menjelang reformasi. Toko milik ayahnya Lian menjadi korban, dan setelah itu pula garis hidup Lian berubah. Suara tawa yang begitu traumatis itu, tak lain adalah suara tawa dari pemerkosa yang memandang para minoritas Tionghoa sebagai golongan yang harus dipersekusi. Lian mengalami hal buruk dan menyimpan trauma atas hal itu selama menahun.

Kepingan demi kepingan teka-teki akhirnya tersusun. Trauma masa lalu yang dialami Lian membawanya untuk menjalani terapi. Namun ia belum sepenuhnya sembuh. Tak ada sedikit pun bagian dari pikiran dan tubuhnya yang pulih dari trauma itu. Alasannya menjadi dokter hewan sedikit demi sedikit terjawab. Tidak jauh dari yang dulu pernah ia ceritakan pada Ombak, bahwa Lian ingin jadi dokter.

Ingatan Ikan-ikan mencoba bertutur soal masa lalu lewat perspektif yang berbeda. Saya tidak melihat formula fiksi sejarah yang lazim digunakan para penulis perempuan yang biasa saya baca. Ada kedalaman yang intim dan mendorong saya masuk. Tiap bab menyuguhkan ikatan emosi, begitu juga narasi-narasi metaforik dan simbolis, seperti bagaimana tubuh Lian dapat dikiaskan menjadi tubuh ikan mas koki dengan sisik-sisiknya yang terlepas, membuatnya tak berdaya. Tiap tokohnya juga begitu melekat dan segera bisa dihafal kekhasan tindak tuturnya. Seketika saya jadi teringat Orang-orang Bloomington dari Budi Darma dengan karakter demi karakternya yang begitu ikonik dan brutal.

Sang penulis pun ternyata merupakan seorang dokter. Referensi tentang dunia medis ternarasikan dengan kuat, tentang neurotransmitter, oksitosin, dan senyawa yang bisa distimulasi untuk menghilangkan kenangan buruk, begitu pun kehadiran buah alara yang juga penting dalam jalinan cerita. Ingatan mas koki yang hanya tiga detik— mewujud sebagai adagium maupun benang merah yang dengan briliannya memposisikan keunggulan karya ini. Upaya penghapusan kenangan buruk yang dilakukan oleh ilmuwan yang menjadi salah satu tokohnya melalui eksperimen yang diceritakan— melambangkan sebentuk kritik dan pukulan terhadap rezim yang sedang kita alami.

Dengan takdir semesta, Ombak dan Lian memang dipertemukan kembali. Tapi banyak hal yang harus ditata oleh kedua hati mereka. Penulis juga tidak menawarkan konklusi atau hidup bahagia selamanya sebagai sebuah ujung yang klise. Setelah itu kita justru kembali diminta untuk melihat bahwa realita harus berjalan, dan kenangan pahit justru bukan untuk dihilangkan, tapi disimpan dan ada untuk menjadi sumber kekuatan. Sebagaimana yang dituliskan sasti, “Dengan ingatan, kita melawan lupa. Dan dengan ingatan pula, kita melawan kekuasaan dan ketidakadilan”.

Ini adalah novel pertama dari sasti gotama– nama yang menolak memakai kapital di huruf pertama—  yang terbit perdana pada Agustus 2024 lalu. Saya menanti untuk membaca karya lainnya dari sasti gotama, Emerging Author Ubud Writer Festival yang menaruh seluruh hati dan penjiwaannya dalam menulis Ingatan Ikan-ikan. [T]

Penulis: Lintang Pramudia Swara
Editor: Adnyana Ole

Han Kang dan Kolase Enigmatik Novel Vegetarian
Kongkow Sejarah: Bicara Reposisi Perempuan Asia Tenggara Melalui Buku “Kuasa Rahim”
Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni
Mencari Bali Menemukan Diri — Ulasan Buku “Dari Sudut Bali” Karya Abdul Karim Abraham
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula

Next Post

Dupa Terakhir Sukasih | Cerpen Satria Aditya

Lintang Pramudia Swara

Lintang Pramudia Swara

Lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang kini mengasuh sebuah toko buku independen, sesekali bermusik dan aktif menulis lepas di berbagai media.

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Dupa Terakhir Sukasih | Cerpen Satria Aditya

Dupa Terakhir Sukasih | Cerpen Satria Aditya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran
Esai

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga,...

by Agung Sudarsa
June 7, 2026
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga
Puisi

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

by Angga Wijaya
June 6, 2026
Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali
Lingkungan

Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific...

by Nyoman Budarsana
June 6, 2026
Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?
Esai

Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan...

by I Gede Janitra Rad Winatha
June 6, 2026
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA
Khas

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali
Pameran

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini
Pendidikan

Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini

PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan...

by tatkala
June 6, 2026
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 
Esai

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek...

by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur
Panggung

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Cerita Rakyat Sebagai Identitas
Khas

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

by I Wayan Artika
June 6, 2026
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur
Esai

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

by Agung Sudarsa
June 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co