2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dupa Terakhir Sukasih | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
June 22, 2025
in Cerpen
Dupa Terakhir Sukasih | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co

DI antara lalu-lalang wisatawan yang memotret pura, patung dan sesajen di pinggir jalan, di satu sudut kota Denpasar yang padat, berdirilah sebuah lapak kecil, dari bambu dan kayu lapuk beratapkan terpal biru. Di sanalah Yan Tawan dan Sukasih menghabiskan hari-hari mereka—menjual dupa, bunga cempaka, canang, janur dan banten-banten lain yang dirangkai rapi.

“Bali tanpa upacara seperti tubuh tanpa jiwa,” kata Yan Tawan kepada pembeli langganannya, sambil membungkus dupa ke dalam plastik.

Namun di balik kesahajaan itu, ada kesunyian yang mencekam setiap malam dalam rumah kontrakan mereka. Tak jauh dari lapak mereka. Sekitar lima kilometer dari lapak.

Sudah dua belas tahun mereka menikah. Doa telah dipanjatkan. Sesajen telah dibakar. Setiap pura sudah mereka sembah. Tirta suci telah diteteskan di ubun-ubun mereka oleh para pemangku. Tapi satu hal tak juga datang. Anak.

Malam itu hujan turun gerimis. Langit mendung seolah enggan memberi hangat di rumah itu. Yan Tawan baru saja selesai menggulung tikar yang tadinya untuk membuat canang-canang yang akan dijual besok. Sukasih membuka percakapan yang sudah menjadi rutinitas di setiap malam.

“Yan…,” suara Sukasih pelan. 

Tapi Yan Tawan tahu arah pembicaraan itu.

“Kita harus bahas lagi?” tanyanya, tanpa menoleh.

Sukasih menatap punggung suaminya, matanya sudah merah. “Aku ingin anak, Bli. Aku ingin punya alasan untuk hidup.”

“Kita sudah mencoba segalanya, Kasih.”

“Belum semuanya! Kau yang belum cukup mencoba!” teriak Sukasih.

“Pelankan suaramu, Kasih! Nanti tetangga mendengar hal-hal yang tidak perlu seperti ini,” bisik Yan Tawan. 

“Ini masalah serius, Bli! Bukan hanya urusan kecil yang besok bisa dilupakan.”

Yan Tawan berbalik dan melempar tikar yang sudah ia gulung tadi. “Tapi kita ini hanya pedagang kecil. Tak setiap hari semua dagangan kita ini laku. Rumah saja masih ngontrak, bagaimana caranya kita membiayai anak kita?” 

“Itu bukan persoalan kita bisa menghidupinya atau tidak! Lebih baik tetangga mendengar pembicaraan kita ini. Dari pada harus mendengar mereka berkata kalau aku tidak bisa punya anak!”

Sukasih mendengar dan memegang lembut tangan Yan Tawan, “Mungkin… memang kau yang tak bisa. Kau mandul, Bli.”

Kata itu menggema seperti genta pura—nyaring, menusuk, tak terhindarkan. Yan Tawan berdiri perlahan, menatap mata istrinya. 

“Jangan bilang itu! Kau tak berhak berkata seperti itu, Kasih! Kita belum tau, siapa yang sebenarnya tidak bisa!”

“Tapi itu kenyataannya! Kau buang-buang waktuku. Aku wanita, Bli! Aku ingin mempunyai anak! Aku ingin menggendongnya setiap hari! Tapi kau…” Sukasih memukul dada suaminya, keras. “Kau cuma lelaki cacat!”

“Kasih!” wajah Yan Tawan memerah.

Detik itu, seperti ada sesuatu yang patah di dalam diri Yan Tawan. Tangan yang selama ini tak pernah menyakiti bahkan seekor semut, mengayun dengan keras. Sukasih terhuyung. Ia jatuh, kepalanya membentur meja di belakangnya.

Yan Tawan terpaku, tubuhnya gemetar. Ia merangkul dan menggoyang bahu Sukasih, memanggil namanya berulang kali. Tapi tak ada jawaban. Dari belakang kepalanya mengalir darah segar melewati tangan dan jemari kiri Yan Tawan. Tubuh itu telah dingin, mata itu kosong menatap langit-langit.

Panik, ketakutan, dan rasa bersalah menyatu dalam satu racikan mematikan. Yan Tawan semakin gemetar. Air matanya mengalir deras, menetes ke tubuh Sukasih istrinya. Yan Tawan makin gemetar, ia terus memanggil nama Sukasih. 

“Kasih, maaf! Aku tak bermaksud… Bangunlah, Kasih. Bangun!” Yan Tawan menunduk. Kepalanya dan Sukasih bertemu.

Di tengah deras darah dan tangis, Yan Tawan menyeka darah dari kepala Sukasih. Ia membersihkan secara perlahan, dengan penyesalan dan kasih sayang yang selalu ia berikan kepada istrinya. Yan Tawan seperti merawat Sukasih ketika sakit. Ia membopong tubuh dingin istrinya ke atas kasur. Mengganti baju yang penuh dengan darah, mengobati luka di kepala istrinya itu. 

Yan Tawan duduk di sisi kasur. Ia menggenggam tangan istrinya sambil menangis penuh penyesalan.

Dengan tangan gemetar, ia menggali lubang tepat di bawah kasur mereka. Dengan kain putih yang biasa ia gunakan untuk membungkus sesajen, malam itu, ia membungkus tubuh Sukasih. Ia tak lagi menangis. Tidak malam itu.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, setidaknya bagi dunia luar. Yan Tawan tetap ke lapak, tersenyum kepada pembeli, menyusun bunga seperti biasa. Tak ada yang curiga. Ia hanya akan menjawab jika ada yang bertanya tentang istrinya. Yan Tawan selalu berkata bahwa istrinya sedang sakit.  

Namun malam adalah siksaan.

Kasur itu tak lagi memberi tidur lelap. Ia merasa ada mata yang menatap dari bawah. Bau dupa berubah menjadi bau tanah basah. Kadang-kadang, ia mendengar suara langkah halus di kamar. Tirai bergerak padahal tak ada angin.

Pada malam ke tujuh, satu minggu setelah ia membunuh istrinya, Yan Tawan mendengar suara lembut, sangat dekat dengan telinganya. Suaranya sangat tidak asing.

“Bli… aku ingin anak.”

Ia terbangun. Keringat membasahi tubuhnya. Ia menatap semua sudut kamarnya. Tidak ada siapa-siapa di kamar.

Kejadian ini terjadi setiap malam. Ia mulai kehilangan akal. Setiap malam menyalakan dupa, memohon ampun. Namun suara itu terus datang. Kadang ia melihat bayangan wanita berambut panjang duduk di pinggir kasur. Kadang ada tangan yang memegang pergelangan kakinya di tengah malam.

Ia pergi ke dukun. Bertanya kepada pemangku pura. Namun tak satupun bisa menenangkan pikirannya.

Hingga suatu malam, ia melihat Sukasih berdiri di pojok kamar. Tubuhnya membiru, bibirnya pucat. Tapi matanya, mata itu penuh air.

“Kau berjanji akan memberiku anak…” katanya dengan suara yang lebih menyerupai desir angin di antara daun janur.

“Kasih, maaf!” Yan Tawan menjerit. Ia berlari keluar rumah, meninggalkan lapak, meninggalkan segalanya.

Beberapa hari kemudian, pemilik rumah dan warga sekitar menemukan rumah itu kosong. Tapi ada bau aneh menyengat dari dalam kamar. Mereka mencari sumber bau itu. Saat kasur diangkat, mereka menemukan tanah gembur, dan dari dalam menyembul kain putih dengan simpul upacara yang perlahan terurai.

Dan sejak hari itu, siapa pun yang tidur di rumah itu akan bermimpi tentang seorang wanita bernama Sukasih—yang terus menuntut satu hal:

“Beri aku anak!” [T]

Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Teman Sepanjang Perjalanan | Cerpen Putu Gede Pradipta
Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Next Post

Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co