2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dupa Terakhir Sukasih | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
June 22, 2025
in Cerpen
Dupa Terakhir Sukasih | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co

DI antara lalu-lalang wisatawan yang memotret pura, patung dan sesajen di pinggir jalan, di satu sudut kota Denpasar yang padat, berdirilah sebuah lapak kecil, dari bambu dan kayu lapuk beratapkan terpal biru. Di sanalah Yan Tawan dan Sukasih menghabiskan hari-hari mereka—menjual dupa, bunga cempaka, canang, janur dan banten-banten lain yang dirangkai rapi.

“Bali tanpa upacara seperti tubuh tanpa jiwa,” kata Yan Tawan kepada pembeli langganannya, sambil membungkus dupa ke dalam plastik.

Namun di balik kesahajaan itu, ada kesunyian yang mencekam setiap malam dalam rumah kontrakan mereka. Tak jauh dari lapak mereka. Sekitar lima kilometer dari lapak.

Sudah dua belas tahun mereka menikah. Doa telah dipanjatkan. Sesajen telah dibakar. Setiap pura sudah mereka sembah. Tirta suci telah diteteskan di ubun-ubun mereka oleh para pemangku. Tapi satu hal tak juga datang. Anak.

Malam itu hujan turun gerimis. Langit mendung seolah enggan memberi hangat di rumah itu. Yan Tawan baru saja selesai menggulung tikar yang tadinya untuk membuat canang-canang yang akan dijual besok. Sukasih membuka percakapan yang sudah menjadi rutinitas di setiap malam.

“Yan…,” suara Sukasih pelan. 

Tapi Yan Tawan tahu arah pembicaraan itu.

“Kita harus bahas lagi?” tanyanya, tanpa menoleh.

Sukasih menatap punggung suaminya, matanya sudah merah. “Aku ingin anak, Bli. Aku ingin punya alasan untuk hidup.”

“Kita sudah mencoba segalanya, Kasih.”

“Belum semuanya! Kau yang belum cukup mencoba!” teriak Sukasih.

“Pelankan suaramu, Kasih! Nanti tetangga mendengar hal-hal yang tidak perlu seperti ini,” bisik Yan Tawan. 

“Ini masalah serius, Bli! Bukan hanya urusan kecil yang besok bisa dilupakan.”

Yan Tawan berbalik dan melempar tikar yang sudah ia gulung tadi. “Tapi kita ini hanya pedagang kecil. Tak setiap hari semua dagangan kita ini laku. Rumah saja masih ngontrak, bagaimana caranya kita membiayai anak kita?” 

“Itu bukan persoalan kita bisa menghidupinya atau tidak! Lebih baik tetangga mendengar pembicaraan kita ini. Dari pada harus mendengar mereka berkata kalau aku tidak bisa punya anak!”

Sukasih mendengar dan memegang lembut tangan Yan Tawan, “Mungkin… memang kau yang tak bisa. Kau mandul, Bli.”

Kata itu menggema seperti genta pura—nyaring, menusuk, tak terhindarkan. Yan Tawan berdiri perlahan, menatap mata istrinya. 

“Jangan bilang itu! Kau tak berhak berkata seperti itu, Kasih! Kita belum tau, siapa yang sebenarnya tidak bisa!”

“Tapi itu kenyataannya! Kau buang-buang waktuku. Aku wanita, Bli! Aku ingin mempunyai anak! Aku ingin menggendongnya setiap hari! Tapi kau…” Sukasih memukul dada suaminya, keras. “Kau cuma lelaki cacat!”

“Kasih!” wajah Yan Tawan memerah.

Detik itu, seperti ada sesuatu yang patah di dalam diri Yan Tawan. Tangan yang selama ini tak pernah menyakiti bahkan seekor semut, mengayun dengan keras. Sukasih terhuyung. Ia jatuh, kepalanya membentur meja di belakangnya.

Yan Tawan terpaku, tubuhnya gemetar. Ia merangkul dan menggoyang bahu Sukasih, memanggil namanya berulang kali. Tapi tak ada jawaban. Dari belakang kepalanya mengalir darah segar melewati tangan dan jemari kiri Yan Tawan. Tubuh itu telah dingin, mata itu kosong menatap langit-langit.

Panik, ketakutan, dan rasa bersalah menyatu dalam satu racikan mematikan. Yan Tawan semakin gemetar. Air matanya mengalir deras, menetes ke tubuh Sukasih istrinya. Yan Tawan makin gemetar, ia terus memanggil nama Sukasih. 

“Kasih, maaf! Aku tak bermaksud… Bangunlah, Kasih. Bangun!” Yan Tawan menunduk. Kepalanya dan Sukasih bertemu.

Di tengah deras darah dan tangis, Yan Tawan menyeka darah dari kepala Sukasih. Ia membersihkan secara perlahan, dengan penyesalan dan kasih sayang yang selalu ia berikan kepada istrinya. Yan Tawan seperti merawat Sukasih ketika sakit. Ia membopong tubuh dingin istrinya ke atas kasur. Mengganti baju yang penuh dengan darah, mengobati luka di kepala istrinya itu. 

Yan Tawan duduk di sisi kasur. Ia menggenggam tangan istrinya sambil menangis penuh penyesalan.

Dengan tangan gemetar, ia menggali lubang tepat di bawah kasur mereka. Dengan kain putih yang biasa ia gunakan untuk membungkus sesajen, malam itu, ia membungkus tubuh Sukasih. Ia tak lagi menangis. Tidak malam itu.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, setidaknya bagi dunia luar. Yan Tawan tetap ke lapak, tersenyum kepada pembeli, menyusun bunga seperti biasa. Tak ada yang curiga. Ia hanya akan menjawab jika ada yang bertanya tentang istrinya. Yan Tawan selalu berkata bahwa istrinya sedang sakit.  

Namun malam adalah siksaan.

Kasur itu tak lagi memberi tidur lelap. Ia merasa ada mata yang menatap dari bawah. Bau dupa berubah menjadi bau tanah basah. Kadang-kadang, ia mendengar suara langkah halus di kamar. Tirai bergerak padahal tak ada angin.

Pada malam ke tujuh, satu minggu setelah ia membunuh istrinya, Yan Tawan mendengar suara lembut, sangat dekat dengan telinganya. Suaranya sangat tidak asing.

“Bli… aku ingin anak.”

Ia terbangun. Keringat membasahi tubuhnya. Ia menatap semua sudut kamarnya. Tidak ada siapa-siapa di kamar.

Kejadian ini terjadi setiap malam. Ia mulai kehilangan akal. Setiap malam menyalakan dupa, memohon ampun. Namun suara itu terus datang. Kadang ia melihat bayangan wanita berambut panjang duduk di pinggir kasur. Kadang ada tangan yang memegang pergelangan kakinya di tengah malam.

Ia pergi ke dukun. Bertanya kepada pemangku pura. Namun tak satupun bisa menenangkan pikirannya.

Hingga suatu malam, ia melihat Sukasih berdiri di pojok kamar. Tubuhnya membiru, bibirnya pucat. Tapi matanya, mata itu penuh air.

“Kau berjanji akan memberiku anak…” katanya dengan suara yang lebih menyerupai desir angin di antara daun janur.

“Kasih, maaf!” Yan Tawan menjerit. Ia berlari keluar rumah, meninggalkan lapak, meninggalkan segalanya.

Beberapa hari kemudian, pemilik rumah dan warga sekitar menemukan rumah itu kosong. Tapi ada bau aneh menyengat dari dalam kamar. Mereka mencari sumber bau itu. Saat kasur diangkat, mereka menemukan tanah gembur, dan dari dalam menyembul kain putih dengan simpul upacara yang perlahan terurai.

Dan sejak hari itu, siapa pun yang tidur di rumah itu akan bermimpi tentang seorang wanita bernama Sukasih—yang terus menuntut satu hal:

“Beri aku anak!” [T]

Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Teman Sepanjang Perjalanan | Cerpen Putu Gede Pradipta
Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Next Post

Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co