13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dupa Terakhir Sukasih | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
June 22, 2025
in Cerpen
Dupa Terakhir Sukasih | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co

DI antara lalu-lalang wisatawan yang memotret pura, patung dan sesajen di pinggir jalan, di satu sudut kota Denpasar yang padat, berdirilah sebuah lapak kecil, dari bambu dan kayu lapuk beratapkan terpal biru. Di sanalah Yan Tawan dan Sukasih menghabiskan hari-hari mereka—menjual dupa, bunga cempaka, canang, janur dan banten-banten lain yang dirangkai rapi.

“Bali tanpa upacara seperti tubuh tanpa jiwa,” kata Yan Tawan kepada pembeli langganannya, sambil membungkus dupa ke dalam plastik.

Namun di balik kesahajaan itu, ada kesunyian yang mencekam setiap malam dalam rumah kontrakan mereka. Tak jauh dari lapak mereka. Sekitar lima kilometer dari lapak.

Sudah dua belas tahun mereka menikah. Doa telah dipanjatkan. Sesajen telah dibakar. Setiap pura sudah mereka sembah. Tirta suci telah diteteskan di ubun-ubun mereka oleh para pemangku. Tapi satu hal tak juga datang. Anak.

Malam itu hujan turun gerimis. Langit mendung seolah enggan memberi hangat di rumah itu. Yan Tawan baru saja selesai menggulung tikar yang tadinya untuk membuat canang-canang yang akan dijual besok. Sukasih membuka percakapan yang sudah menjadi rutinitas di setiap malam.

“Yan…,” suara Sukasih pelan. 

Tapi Yan Tawan tahu arah pembicaraan itu.

“Kita harus bahas lagi?” tanyanya, tanpa menoleh.

Sukasih menatap punggung suaminya, matanya sudah merah. “Aku ingin anak, Bli. Aku ingin punya alasan untuk hidup.”

“Kita sudah mencoba segalanya, Kasih.”

“Belum semuanya! Kau yang belum cukup mencoba!” teriak Sukasih.

“Pelankan suaramu, Kasih! Nanti tetangga mendengar hal-hal yang tidak perlu seperti ini,” bisik Yan Tawan. 

“Ini masalah serius, Bli! Bukan hanya urusan kecil yang besok bisa dilupakan.”

Yan Tawan berbalik dan melempar tikar yang sudah ia gulung tadi. “Tapi kita ini hanya pedagang kecil. Tak setiap hari semua dagangan kita ini laku. Rumah saja masih ngontrak, bagaimana caranya kita membiayai anak kita?” 

“Itu bukan persoalan kita bisa menghidupinya atau tidak! Lebih baik tetangga mendengar pembicaraan kita ini. Dari pada harus mendengar mereka berkata kalau aku tidak bisa punya anak!”

Sukasih mendengar dan memegang lembut tangan Yan Tawan, “Mungkin… memang kau yang tak bisa. Kau mandul, Bli.”

Kata itu menggema seperti genta pura—nyaring, menusuk, tak terhindarkan. Yan Tawan berdiri perlahan, menatap mata istrinya. 

“Jangan bilang itu! Kau tak berhak berkata seperti itu, Kasih! Kita belum tau, siapa yang sebenarnya tidak bisa!”

“Tapi itu kenyataannya! Kau buang-buang waktuku. Aku wanita, Bli! Aku ingin mempunyai anak! Aku ingin menggendongnya setiap hari! Tapi kau…” Sukasih memukul dada suaminya, keras. “Kau cuma lelaki cacat!”

“Kasih!” wajah Yan Tawan memerah.

Detik itu, seperti ada sesuatu yang patah di dalam diri Yan Tawan. Tangan yang selama ini tak pernah menyakiti bahkan seekor semut, mengayun dengan keras. Sukasih terhuyung. Ia jatuh, kepalanya membentur meja di belakangnya.

Yan Tawan terpaku, tubuhnya gemetar. Ia merangkul dan menggoyang bahu Sukasih, memanggil namanya berulang kali. Tapi tak ada jawaban. Dari belakang kepalanya mengalir darah segar melewati tangan dan jemari kiri Yan Tawan. Tubuh itu telah dingin, mata itu kosong menatap langit-langit.

Panik, ketakutan, dan rasa bersalah menyatu dalam satu racikan mematikan. Yan Tawan semakin gemetar. Air matanya mengalir deras, menetes ke tubuh Sukasih istrinya. Yan Tawan makin gemetar, ia terus memanggil nama Sukasih. 

“Kasih, maaf! Aku tak bermaksud… Bangunlah, Kasih. Bangun!” Yan Tawan menunduk. Kepalanya dan Sukasih bertemu.

Di tengah deras darah dan tangis, Yan Tawan menyeka darah dari kepala Sukasih. Ia membersihkan secara perlahan, dengan penyesalan dan kasih sayang yang selalu ia berikan kepada istrinya. Yan Tawan seperti merawat Sukasih ketika sakit. Ia membopong tubuh dingin istrinya ke atas kasur. Mengganti baju yang penuh dengan darah, mengobati luka di kepala istrinya itu. 

Yan Tawan duduk di sisi kasur. Ia menggenggam tangan istrinya sambil menangis penuh penyesalan.

Dengan tangan gemetar, ia menggali lubang tepat di bawah kasur mereka. Dengan kain putih yang biasa ia gunakan untuk membungkus sesajen, malam itu, ia membungkus tubuh Sukasih. Ia tak lagi menangis. Tidak malam itu.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, setidaknya bagi dunia luar. Yan Tawan tetap ke lapak, tersenyum kepada pembeli, menyusun bunga seperti biasa. Tak ada yang curiga. Ia hanya akan menjawab jika ada yang bertanya tentang istrinya. Yan Tawan selalu berkata bahwa istrinya sedang sakit.  

Namun malam adalah siksaan.

Kasur itu tak lagi memberi tidur lelap. Ia merasa ada mata yang menatap dari bawah. Bau dupa berubah menjadi bau tanah basah. Kadang-kadang, ia mendengar suara langkah halus di kamar. Tirai bergerak padahal tak ada angin.

Pada malam ke tujuh, satu minggu setelah ia membunuh istrinya, Yan Tawan mendengar suara lembut, sangat dekat dengan telinganya. Suaranya sangat tidak asing.

“Bli… aku ingin anak.”

Ia terbangun. Keringat membasahi tubuhnya. Ia menatap semua sudut kamarnya. Tidak ada siapa-siapa di kamar.

Kejadian ini terjadi setiap malam. Ia mulai kehilangan akal. Setiap malam menyalakan dupa, memohon ampun. Namun suara itu terus datang. Kadang ia melihat bayangan wanita berambut panjang duduk di pinggir kasur. Kadang ada tangan yang memegang pergelangan kakinya di tengah malam.

Ia pergi ke dukun. Bertanya kepada pemangku pura. Namun tak satupun bisa menenangkan pikirannya.

Hingga suatu malam, ia melihat Sukasih berdiri di pojok kamar. Tubuhnya membiru, bibirnya pucat. Tapi matanya, mata itu penuh air.

“Kau berjanji akan memberiku anak…” katanya dengan suara yang lebih menyerupai desir angin di antara daun janur.

“Kasih, maaf!” Yan Tawan menjerit. Ia berlari keluar rumah, meninggalkan lapak, meninggalkan segalanya.

Beberapa hari kemudian, pemilik rumah dan warga sekitar menemukan rumah itu kosong. Tapi ada bau aneh menyengat dari dalam kamar. Mereka mencari sumber bau itu. Saat kasur diangkat, mereka menemukan tanah gembur, dan dari dalam menyembul kain putih dengan simpul upacara yang perlahan terurai.

Dan sejak hari itu, siapa pun yang tidur di rumah itu akan bermimpi tentang seorang wanita bernama Sukasih—yang terus menuntut satu hal:

“Beri aku anak!” [T]

Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Teman Sepanjang Perjalanan | Cerpen Putu Gede Pradipta
Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama

Next Post

Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co