2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 24, 2025
in Khas
Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

Ustaz Zuldan, pelantun Wida' (Foto Eka Sabara)

SEPERTI berpisah dengan kekasih hati, perumpamaan itu paling dekat dengan apa yang banyak umat Muslim rasakan pada pengujung Ramadhan, bulan suci penuh rahmat dan berkah. Bedanya, kekasih itu bukan kekasih biasa. Dialah Allah, Dzat maha mencintai dan mengasihi setiap jiwa yang melangkah dan berjalan mendekati-Nya.

Di Loloan, kampung yang dihuni keturunan Bugis-Melayu sejak ratusan tahun lalu di Negara, Jembrana, Bali, terdapat tradisi tua yang masih lestari hingga kini. Wida’, syair yang terdengar lirih, penuh kesedihan karena Ramadhan segera berakhir. Ngewida’, aktivitas membaca Wida’ dilakukan sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Eka Sabara, penulis dan pegiat sejarah asal Loloan mengatakan, sekitar abad ke-18 hingga abad ke-19 Masehi, para Tuan Guru, sebutan ulama atau orang alim di Loloan pada abad ke-18, sangat bersedih menjelang tibanya sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.

“Kesedihan para Tuan Guru atau ulama dahulu, ditumpahkan dalam bentuk pujian-pujian dengan menggubah syair-syair khas Bugis-Melayu Loloan, yang bertujuan untuk menghidupkan suasana sepuluh malam terakhir Ramadhan sampai akhir malam Ramadhan,” jelasnya.

Eka Sabara (kiri), bersama Ustaz Moh. Idris (tengah), pelantun Wida’

Eka menambahkan, syair Wida’ yang cukup populer dibaca oleh para ahli Wida’ yaitu syair Rakbi. Tradisi Ngewida’ ini dilakukan pada sekitar jam 12 malam hingga jam 2 pagi.

“Wida’ dilantunkan dengan suara lengkingan yang cukup panjang dan tinggi, memecah kesunyian dan keheningan malam, terdengar syair alunan kesedihan akan berakhirnya bulan Ramadhan,” jelasnya.

Ia menuturkan, kata Wida’ berasal dari bahasa Arab yang berarti perpisahan. Oleh para ahli syair wida’ tradisi ini sering disebut Ngewida’. Tradisi ini hanya ada di Loloan saja.

“Wida’ sebenarnya merupakan warisan tradisi Bugis Melayu Loloan, karena kata Wida’ juga berasal dari serapan bahasa Bugis yang berarti “selamat tinggal,” tukas Eka.

Generasi muda Loloan, Negara, Jembrana | Foto Eka Sabara

Cerita tentang kepercayaan masyarakat Loloan terkait bulan Ramadhan, diceritakan langsung oleh H. Ichsan kepada keponakannya yang bernama Suldan.

“Pada bulan Ramadhan para datuk-datuk kita mendapatkan “remisi” dari Allah SWT pulang ke rumah asalnya semasih di dunia fana ini. Nah, selama satu bulan tidak ade (ada) pertanyaan dari malaikat alam barzah, sehingga dengan syair Wida’ itu membantu mengantar para datuk-datuk awak (kita) pulang lagi ke alam Barzah. Setelah mendapat libur atau “remisi” selama satu bulan di bulan Ramadhan, libur satu bulan itu sama dengan libur setahun tidak mendapatkan pertanyaan dari malaikat,” tutur H. Ichsan kepada Suldan saat itu.

Kitab yang membuat syair Wida’ | Foto Eka Sabara

Dikatakan Eka, hikmah dari tradisi Ngewida’ ini menggambarkan pesan dan kesan sedih karena rasa kehilangan kegembiraan Ramadhan. Sebaliknya, muncul rasa senang karena lepas dari kewajiban puasa dan mendapat hadiah hari raya Idul Fitri.

“Pada tahun 1980-an, pewida’ yang paling terkenal karena khas suara sedihnya, yaitu suara Pak Tabrani, Pak Zaki, dan Pak Huzaimi. Semua sudah almarhum saat ini,” ujarnya.

Generasi Muda

Yusuf Mudatsir, salah satu generasi muda Loloan mempunyai pengalaman pribadi saat mendengarkan Wida’ dilantunkan. Menurutnya, dari segi seni tarik suara, Wida’ memiliki note dan tangga nada yang khas, percampuran antara sika-nya note Melayu dan tembangnya note Bali. Maka di dalam mendengarkan Wida’ ia dapat merasakan bagaimana toleransi perpaduan seni tarik suara disuguhkan.

“Di samping itu dalam syair Wida’ juga terdapat keindahan dalam kesedihan. Ada soul di dalamnya, ada history dalam lantunannya seperti contoh perjalanan pendakian seorang hamba yang mendambakan Lailatul Qadar di bulan Ramadhan,” kata Yusuf.

Naskah syair Wida’

Ustaz Zuldan, pelantun Wida’ | Foto Eka Sabara 

Sebagai seorang Muslim, rasa sedih berpisah dengan Ramadhan juga ia rasakan. Baginya, lantunan Wida’ merupakan representasi jiwa-jwa para hamba yang sedang gundah dalam mendaki dan meraih Lailatul Qadar.

“Maka jika Anda pejamkan mata Anda ketika mendengar Wida’, seolah-olah jiwa kita merasakan rintihan kesakitan saat detik-detik Ramadhan akan pergi. Ini berlaku kepada siapa pun walau tidak mengerti apa itu Wida’. Hal ini telah terbukti dengan eksperimen sosial yang kami lakukan dengan beberapa kawan dari luar daerah Loloan maupun luar Bali,” jelas Yusuf yang merupakan bagian dari Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia.

Ia memandang Wid’a dan aktivitas Ngewida’ sangatlah baik karena merupakan tradisi masa silam yang masih tetap terpelihara hingga kini. Pelestarian warisan budaya tersebut, menurutnya sangat perlu dilakukan karena tradisi ini sesuatu yang sangat langka dan hanya didapati pada momen-momen tertentu yakni menjelang berakhirnya Ramadhan.

Bahkan, sambung Yusuf, tradisi Wida’ tak tertutup kemungkinan bisa menjadi daya tarik pariwisata, khususnya wisata religi. Ia melihat, dari kekhususannya Wida’ memiliki potensi untuk bisa dikenalkan ke khalayak ramai.

“Untuk caranya bisa bermacam-macam, tergantung apa yang kita ingin capai. Seperti contoh pagelaran festival dan memberikan reward kepada pelaku-pelaku Wida’ tempo dulu. Lagi pula, zaman sekarang budaya harus diimbangi juga dengan story telling, kan?” katanya.

Naskah syair Wida’

Story telling yang dimaksudkan Yusuf adalah menulis tentang Wida’, misalkan asal-usul Wida’ dan berbagai seluk-beluknya baik di laman pribadi atau media sosial kelurahan Loloan maupun mengirimkannya ke media lokal, nasional bahkan internasional. 

“Untuk mengenalkan Wida’, banyak hal yang rencananya akan kami selaku pemuda-pemudi Loloan lakukan. Diantaranya, membuat film dokumenter tentang Wida’ dan Ngewida’. Hal itu sebagai bentuk rasa bangga dan kepedulian terhadap warisan leluhur, para datuk dan ulama Loloan yang bisa jadi jenis kesenian ini satu-satunya di Indonesia,” sebutnya.

Tentang regenerasi pelantun syair Wida’, Yusuf mengatakan hal tersebut terus dilakukan. Banyak generasi muda Loloan yang tertarik mempelajari Wida’ dan Ngewida’. Ia sendiri beberapa kali pernah membawakan Wida’ walau masih taraf Mushollah depan rumah. Yusuf mengaku, dari Ngewida’ ia dapat menggambarkan bagaimana cara penyampaian soul atau jiwa dari Wida’, teknik apa saja yang ada saat melantunkannya. Seperti yang ia singgung di atas, ada perpaduan tembang Melayu dan Bali.

Kini, pelantun Wida’ di Loloan yang dikenal banyak orang adalah Ustadz Suldan yang merupakan paman Yusuf. Darinya ia banyak belajar bagaimana melantunkan Wida’. {T]

  • Artikel ini terbit pertama kali di Balebengong.id, pada 15 Mei 2022 dengan judul Syair Lirih Perpisahan Ramadhan di Loloan, Jembrana

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Kalung Badong Pelengkap Ritual Sunat yang Langka di Loloan
Tradisi Kain Tenun Khas Loloan yang Tetap Bertahan dari Zaman ke Zaman
Mesair-Mekayat, Seni Burdah Loloan yang Hampir Punah
Tags: Islam di BaliKampung LoloanRamadan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

Next Post

Terpilihnya Figur Remaja Teladan di Pemilihan Duta GenRe Tabanan 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Terpilihnya Figur Remaja Teladan di Pemilihan Duta GenRe Tabanan 2025

Terpilihnya Figur Remaja Teladan di Pemilihan Duta GenRe Tabanan 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co