22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

I Dewa Gede Yoga by I Dewa Gede Yoga
March 23, 2025
in Esai
Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli

Pichi Cello Bone Unit Terkecil Masyarakat Kebon

Secara sosiologis kehidupan manusia dari zaman purba sampai bertransformasi menjadi manusia modern tidak bisa dilepaskan dari kehidupan guyub atau komunitas. Hari ini kalau bicara komunitas tentu sudah tidak asing lagi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Komunitas sederhananya didefinisikan sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki tujuan, nilai, dan kepentingan yang sama. Kalau di Bali istilah komunitas identik dengan sebutan sekaa.

Dalam kehidupan masyarakat, sebuah komunitas memiliki peran yang sentral sebagai wadah interaksi sosial yang dapat menumbuhkan dan memperkuat hubungan antar individu. Secara eksplisit, komunitas bukan hanya sekadar kumpulan individu yang berdomisili di suatu wilayah, tetapi di satu sisi komunitas ini melakukan pergerakan-pergerakan baik dalam ruang kemanusiaan, keagamaan, adat, dan budaya.

Salah satu komunitas yang lahir dan tumbuh di Banjar Kebon, Susut, Bangli, adalah komunitas Pichi Cello Bone. Komunitas berlogo keong ini lahir pada tahun 2010 dari obrolan-obrolan ringan pemuda-pemuda usia belasan tahun. Walaupun mereka melahirkan idenya dari obrolan-obrolan ringan namun dari segi identitas nama maupun dan logo mereka tuangkan sarat akan penggambaran kehidupan di pedesaan yang tidak jauh-jauh dari alam sebagai sumber kehidupan.

Kata Pichi (pici) artinyatutut sawah, Cello (selo) artinyaubi, kemudian Bone (bun) artinya daun ubi. Pici, selo, dan bun ialah makanan khas orang pedesaan. Kemudian logo keong menyiratkan jalan keong yang pelan-pelan namun ketika berpindah dari satu tempat ke tempat akan tetap sampai. Sekiranya ini bentuk filosofis masyarakat khususnya pemuda-pemuda tetap berjalan walaupun dengan langkah kecil pasti akan mencapai titik puncaknya—tujuannya masing-masing.

Komunitas ini, walaupun dibentuk oleh golongan-golongan muda tetapi anggotanya meliputi golongan-golongan tua, kami menyebutnya dengan istilah duur sasur. Tentunya orang-orang di dalamnya berlatar belakang profesi yang berbeda-beda—ini bukan menjadi perihal persoalan yang serius, semasih bisa diajak bekerjasama dan berfikir kenapa tidak.

Perjalanan panjang telah dilalui, 15 tahun berdiri sampai sekarang masih tetap ajeg. Kilas baliknya, tentu setiap perjalanannya yang dilalui tidak selalu berada dalam lintasan yang mulus, terkadang harus melewati lintasan kerikil dan batu-batu besar. Artinya setiap komunitas dalam perjalanannya akan selalu menemukan jalan yang terjal dan akan mengalami dinamika-dinamika setiap generasinya.

Bagaimanapun, ini adalah suatu hal yang wajar dan umum, ketika menyatukan isi kepala yang berbeda ke dalam satu wadah komunitas, silang pandang pendapat kerap terjadi, namun ini bukan menjadi suatu rintangan yang berat untuk melangkah lebih jauh lagi.

Merayakan Perjalanan

Setiap perjalanan perlu dirayakan begitulah kira-kira celetukan dari beberapa orang-orang komunitas. Lebih-lebih ini perjalanan komunitas yang masih tetap eksis sampai sekarang ditengah-tengah kesibukan manusia-manusia di dalamnya. Tahun ini merupakan momentum yang tepat untuk merayakan ini perjalanan panjang ini, mengingat sebagian besar orang-orang di komunitas bekerja di sektor pariwisata.

Dengan waktu di kampung yang lumayan panjang selain menikmati waktu dengan anak, istri, dan keluarga, berkumpul dengan teman-teman komunitas di kampung adalah salah satu agenda yang wajib untuk menjaga komunikasi dan simakrama satu dengan lainnya.

Seperti pada umumnya, agenda selayaknya perayaan komunitas yang dilangsungkan dengan meriah dan hikmat. Tak luput juga dilanjutkan dengan sesi diskusi terkait agenda komunitas selanjutnya. Lebih jauh lagi, perayaan ini dalam pelaksanaannya memperoleh dana dari sumbangan sukarela anggota, artinya uang iurannya tidak dipatok dengan nominal tertentu, namun diberlakukan semampu dan seikhlasnya saja.

Tentang Kemanusiaan

Di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan, terkadang di luar sana masih banyak saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan. Maka dari itu, berangkat dari rasa kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong, komunitas Pichi Cello Bone hadir di tengah-tengah masyarakat yang memiliki misi untuk berbagi dan peduli dengan sesama, khususnya bagi masyarakat Kebon itu sendiri.

Seperti yang disebutkan di atas, anggota yang terdiri dari beragam profesi tidak menyurutkan untuk mereka saling berkolaborasi dalam aksi kemanusian ini. Bahkan, dalam aksi kemanusian ini, mereka melakukannya dengan tulus ikhlas dan penuh bersemangat tanpa adanya unsur paksaan diri.

Kami sangat percaya bahwa sekecil apa pun bentuk bantuan yang diberikan, jika dilakukan dengan rasa tulus ikhlas, akan membawa dampak besar bagi kehidupan orang lain. Dengan ini, kami akan selalu berharap komunitas ini selalu hadir dan siap untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di bawah ini dua foto dokumentasi aksi kemanusiaan kami, dimana sasaran kami adalah para lansia-lansia di kampung yang notabene sudah berstatus janda dan duda. Kebaikan bukan hanya tentang memberi, tetapi bagaimana membentuk kesadaran setiap orang untuk peduli dengan sesama, terkhusus pada peduli dengan lingkungan tempat tinggal terlebih dahulu. Lebih jauh, dengan aksi-aksi seperti ini semoga semua pihak yang berada di Banjar Kebon khususnya untuk selalu bersyukur dan pentingnya memiliki rasa kemanusiaan antar sesama.

Tentang Kontribusi Menjaga Adat dan Tradisi

Di balik orientasi pemikiran manusia semakin maju dan kapitalis dan ini sejalan dengan makna filosofis dari logo keong yang berjalan dengan pelan-pelan akhirnya akan menemukan titik finish-nyasebagai orang yang memiliki niat dan keinginan yang besar untuk menjadi sukses dengan jalan masing-masing. Di balik itu tentang adat dan tradisi jangan pernah sampai terpinggirkan, adat dan tradisi merupakan hal penting dan ini digunakan sebagai bahan refleksi untuk membangun kualitas SDM yang maju dengan semangat gotong royong dan penuh akan rasa persaudaraan.

Dengan kesadaran penuh, kami di komunitas selalu mendukung penuh hal-hal yang berkaitan dengan menjaga adat dan tradisi. sebagai contoh, dari pengumpulan dana untuk kegiatan merayakan perjalanan komunitas Pichi Cello Bone, uang dari seluruh donatur yang sudah terkumpul, 80% disumbangkan untuk revitalisasi pegayungan/tigasana di Pura Pucak Tedung Sari.

Sederhananya, ini merupakan sebuah kepedulian kami atas menjaga adat dan tradisi, walaupun dananya yang disumbangkan tidak seberapa, namun setidaknya kami sudah memiliki bentuk inisiatif untuk terus menjaga adat dan tradisi khususnya di Banjar Kebon.

Harapan Penulis

Komunitas bukan hanya sekadar tempat berseminya individu-individu dalam satu wadah dengan latar belakang minat, tetapi juga sebagai tempat untuk menyalurkan ide-ide, inspirasi, dan perubahan. Komunitas tidak hanya kuat dalam mencari ide-ide kreatif namun ada hal yang lebih penting dari sekadar mencari ide-ide dan berkata-kata, yakni dengan tindakan nyata sehingga muncul semangat bersama.

Harapan saya sebagai penulis, yang secara langsung saya juga sebagai anggota dari komunitas ini. Dengan perjalanan panjang selama 15 tahun teruslah bertumbuh dan membaur dengan masyarakat dan yang terpenting tebarkan selalu manfaat kepada masyarakat sekitar kalian. Walaupun kalian memiliki profesi berbeda-beda, memiliki penghasilan yang berbeda-beda, memiliki pilihan politik yang berbeda, status sosial berbeda jangan hal tersebut digunakan sebagai alat untuk memecah belah satu sama lain.

Saya berharap antar anggota di komunitas ini tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dan yang tak kalah pentingnya terkait dengan program-program tidak hanya berjalan tahun ini saja, namun seharusnya ini dilaksanakan secara rutin. Bahkan diharuskan merambat ke sektor pendidikan, ini tidak kalah pentingnya juga bagi anak-anak generasi penerus dan jangan sampai ada yang putus sekolah gara-gara faktor ekonomi.

Di tengah-tengah kehidupan yang semakin individualistis, komunitas ini seyogyanya menjadi sebuah wadah untuk memberikan pemahaman bahwa semua orang itu memiliki kesempatan untuk berkontribusi untuk orang lain.

Pada sisi lain juga saya menyadari betul, setiap orang mempunyai karakter dan watak yang berbeda-beda, ketika sudah berada dalam komunitas ini, semua hal-hal buruk yang masih membelenggu kalian dinetralkan dahulu. Mari bersama-sama membangun dan memajukan Banjar Kebon yang kita cintai ini dengan penuh semangat kolektif. [T]

Penulis: I Dewa Gede Yoga
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I DEWA GEDE YOGA

Bali Dalam Politik: Pola Kampanye Semu Calon Pejabat Publik Dilihat Dari Perspektif Dramaturgi Erving Goffman
Memikirkan Perempuan Bali di Tengah Budaya Patriarki
Sentimen Politik Jelang Pilkada dalam Media Sosial
Tags: Banglidesa susutkomunitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini

Next Post

Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

I Dewa Gede Yoga

I Dewa Gede Yoga

Kelahiran Bangli, alumni jurusan sosiologi Undiksha Singaraja tahun 2022

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co