1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

I Dewa Gede Yoga by I Dewa Gede Yoga
March 23, 2025
in Esai
Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli

Pichi Cello Bone Unit Terkecil Masyarakat Kebon

Secara sosiologis kehidupan manusia dari zaman purba sampai bertransformasi menjadi manusia modern tidak bisa dilepaskan dari kehidupan guyub atau komunitas. Hari ini kalau bicara komunitas tentu sudah tidak asing lagi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Komunitas sederhananya didefinisikan sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki tujuan, nilai, dan kepentingan yang sama. Kalau di Bali istilah komunitas identik dengan sebutan sekaa.

Dalam kehidupan masyarakat, sebuah komunitas memiliki peran yang sentral sebagai wadah interaksi sosial yang dapat menumbuhkan dan memperkuat hubungan antar individu. Secara eksplisit, komunitas bukan hanya sekadar kumpulan individu yang berdomisili di suatu wilayah, tetapi di satu sisi komunitas ini melakukan pergerakan-pergerakan baik dalam ruang kemanusiaan, keagamaan, adat, dan budaya.

Salah satu komunitas yang lahir dan tumbuh di Banjar Kebon, Susut, Bangli, adalah komunitas Pichi Cello Bone. Komunitas berlogo keong ini lahir pada tahun 2010 dari obrolan-obrolan ringan pemuda-pemuda usia belasan tahun. Walaupun mereka melahirkan idenya dari obrolan-obrolan ringan namun dari segi identitas nama maupun dan logo mereka tuangkan sarat akan penggambaran kehidupan di pedesaan yang tidak jauh-jauh dari alam sebagai sumber kehidupan.

Kata Pichi (pici) artinyatutut sawah, Cello (selo) artinyaubi, kemudian Bone (bun) artinya daun ubi. Pici, selo, dan bun ialah makanan khas orang pedesaan. Kemudian logo keong menyiratkan jalan keong yang pelan-pelan namun ketika berpindah dari satu tempat ke tempat akan tetap sampai. Sekiranya ini bentuk filosofis masyarakat khususnya pemuda-pemuda tetap berjalan walaupun dengan langkah kecil pasti akan mencapai titik puncaknya—tujuannya masing-masing.

Komunitas ini, walaupun dibentuk oleh golongan-golongan muda tetapi anggotanya meliputi golongan-golongan tua, kami menyebutnya dengan istilah duur sasur. Tentunya orang-orang di dalamnya berlatar belakang profesi yang berbeda-beda—ini bukan menjadi perihal persoalan yang serius, semasih bisa diajak bekerjasama dan berfikir kenapa tidak.

Perjalanan panjang telah dilalui, 15 tahun berdiri sampai sekarang masih tetap ajeg. Kilas baliknya, tentu setiap perjalanannya yang dilalui tidak selalu berada dalam lintasan yang mulus, terkadang harus melewati lintasan kerikil dan batu-batu besar. Artinya setiap komunitas dalam perjalanannya akan selalu menemukan jalan yang terjal dan akan mengalami dinamika-dinamika setiap generasinya.

Bagaimanapun, ini adalah suatu hal yang wajar dan umum, ketika menyatukan isi kepala yang berbeda ke dalam satu wadah komunitas, silang pandang pendapat kerap terjadi, namun ini bukan menjadi suatu rintangan yang berat untuk melangkah lebih jauh lagi.

Merayakan Perjalanan

Setiap perjalanan perlu dirayakan begitulah kira-kira celetukan dari beberapa orang-orang komunitas. Lebih-lebih ini perjalanan komunitas yang masih tetap eksis sampai sekarang ditengah-tengah kesibukan manusia-manusia di dalamnya. Tahun ini merupakan momentum yang tepat untuk merayakan ini perjalanan panjang ini, mengingat sebagian besar orang-orang di komunitas bekerja di sektor pariwisata.

Dengan waktu di kampung yang lumayan panjang selain menikmati waktu dengan anak, istri, dan keluarga, berkumpul dengan teman-teman komunitas di kampung adalah salah satu agenda yang wajib untuk menjaga komunikasi dan simakrama satu dengan lainnya.

Seperti pada umumnya, agenda selayaknya perayaan komunitas yang dilangsungkan dengan meriah dan hikmat. Tak luput juga dilanjutkan dengan sesi diskusi terkait agenda komunitas selanjutnya. Lebih jauh lagi, perayaan ini dalam pelaksanaannya memperoleh dana dari sumbangan sukarela anggota, artinya uang iurannya tidak dipatok dengan nominal tertentu, namun diberlakukan semampu dan seikhlasnya saja.

Tentang Kemanusiaan

Di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan, terkadang di luar sana masih banyak saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan. Maka dari itu, berangkat dari rasa kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong, komunitas Pichi Cello Bone hadir di tengah-tengah masyarakat yang memiliki misi untuk berbagi dan peduli dengan sesama, khususnya bagi masyarakat Kebon itu sendiri.

Seperti yang disebutkan di atas, anggota yang terdiri dari beragam profesi tidak menyurutkan untuk mereka saling berkolaborasi dalam aksi kemanusian ini. Bahkan, dalam aksi kemanusian ini, mereka melakukannya dengan tulus ikhlas dan penuh bersemangat tanpa adanya unsur paksaan diri.

Kami sangat percaya bahwa sekecil apa pun bentuk bantuan yang diberikan, jika dilakukan dengan rasa tulus ikhlas, akan membawa dampak besar bagi kehidupan orang lain. Dengan ini, kami akan selalu berharap komunitas ini selalu hadir dan siap untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di bawah ini dua foto dokumentasi aksi kemanusiaan kami, dimana sasaran kami adalah para lansia-lansia di kampung yang notabene sudah berstatus janda dan duda. Kebaikan bukan hanya tentang memberi, tetapi bagaimana membentuk kesadaran setiap orang untuk peduli dengan sesama, terkhusus pada peduli dengan lingkungan tempat tinggal terlebih dahulu. Lebih jauh, dengan aksi-aksi seperti ini semoga semua pihak yang berada di Banjar Kebon khususnya untuk selalu bersyukur dan pentingnya memiliki rasa kemanusiaan antar sesama.

Tentang Kontribusi Menjaga Adat dan Tradisi

Di balik orientasi pemikiran manusia semakin maju dan kapitalis dan ini sejalan dengan makna filosofis dari logo keong yang berjalan dengan pelan-pelan akhirnya akan menemukan titik finish-nyasebagai orang yang memiliki niat dan keinginan yang besar untuk menjadi sukses dengan jalan masing-masing. Di balik itu tentang adat dan tradisi jangan pernah sampai terpinggirkan, adat dan tradisi merupakan hal penting dan ini digunakan sebagai bahan refleksi untuk membangun kualitas SDM yang maju dengan semangat gotong royong dan penuh akan rasa persaudaraan.

Dengan kesadaran penuh, kami di komunitas selalu mendukung penuh hal-hal yang berkaitan dengan menjaga adat dan tradisi. sebagai contoh, dari pengumpulan dana untuk kegiatan merayakan perjalanan komunitas Pichi Cello Bone, uang dari seluruh donatur yang sudah terkumpul, 80% disumbangkan untuk revitalisasi pegayungan/tigasana di Pura Pucak Tedung Sari.

Sederhananya, ini merupakan sebuah kepedulian kami atas menjaga adat dan tradisi, walaupun dananya yang disumbangkan tidak seberapa, namun setidaknya kami sudah memiliki bentuk inisiatif untuk terus menjaga adat dan tradisi khususnya di Banjar Kebon.

Harapan Penulis

Komunitas bukan hanya sekadar tempat berseminya individu-individu dalam satu wadah dengan latar belakang minat, tetapi juga sebagai tempat untuk menyalurkan ide-ide, inspirasi, dan perubahan. Komunitas tidak hanya kuat dalam mencari ide-ide kreatif namun ada hal yang lebih penting dari sekadar mencari ide-ide dan berkata-kata, yakni dengan tindakan nyata sehingga muncul semangat bersama.

Harapan saya sebagai penulis, yang secara langsung saya juga sebagai anggota dari komunitas ini. Dengan perjalanan panjang selama 15 tahun teruslah bertumbuh dan membaur dengan masyarakat dan yang terpenting tebarkan selalu manfaat kepada masyarakat sekitar kalian. Walaupun kalian memiliki profesi berbeda-beda, memiliki penghasilan yang berbeda-beda, memiliki pilihan politik yang berbeda, status sosial berbeda jangan hal tersebut digunakan sebagai alat untuk memecah belah satu sama lain.

Saya berharap antar anggota di komunitas ini tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dan yang tak kalah pentingnya terkait dengan program-program tidak hanya berjalan tahun ini saja, namun seharusnya ini dilaksanakan secara rutin. Bahkan diharuskan merambat ke sektor pendidikan, ini tidak kalah pentingnya juga bagi anak-anak generasi penerus dan jangan sampai ada yang putus sekolah gara-gara faktor ekonomi.

Di tengah-tengah kehidupan yang semakin individualistis, komunitas ini seyogyanya menjadi sebuah wadah untuk memberikan pemahaman bahwa semua orang itu memiliki kesempatan untuk berkontribusi untuk orang lain.

Pada sisi lain juga saya menyadari betul, setiap orang mempunyai karakter dan watak yang berbeda-beda, ketika sudah berada dalam komunitas ini, semua hal-hal buruk yang masih membelenggu kalian dinetralkan dahulu. Mari bersama-sama membangun dan memajukan Banjar Kebon yang kita cintai ini dengan penuh semangat kolektif. [T]

Penulis: I Dewa Gede Yoga
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I DEWA GEDE YOGA

Bali Dalam Politik: Pola Kampanye Semu Calon Pejabat Publik Dilihat Dari Perspektif Dramaturgi Erving Goffman
Memikirkan Perempuan Bali di Tengah Budaya Patriarki
Sentimen Politik Jelang Pilkada dalam Media Sosial
Tags: Banglidesa susutkomunitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini

Next Post

Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

I Dewa Gede Yoga

I Dewa Gede Yoga

Kelahiran Bangli, alumni jurusan sosiologi Undiksha Singaraja tahun 2022

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co