2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini

Jaswanto by Jaswanto
March 23, 2025
in Ulas Buku
Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini

Buku "Zaman Peralihan" | Foto: tatkala.co/Jas

PADA saat masih duduk di bangku kuliah, Soe Hok Gie adalah sosok yang saya idolakan. Bukan saja karena sikap dan pemikirannya, tapi juga hobinya mendaki gunung. Bahkan, pada momen tertentu, saya membayangkan dirinya bersemayam dalam diri saya—sesuatu yang tidak masuk akal, memang. Tetapi begitulah yang saya rasakan saat saya terlibat dalam perdebatan sengit di forum-forum diskusi atau saat menggigil di puncak gunung—atau sekadar mendengarkan Donna Donna (nyanyian Yahudi itu) di kamar saya yang sempit.

Karena begitu mengagumi sosoknya, tentu saja saya juga membaca buku-bukunya, salah satunya buku yang berjudul “Zaman Peralihan” terbitan Gagas Media tahun 2005. Buku ini memuat tulisan Soe Hok Gie yang berserak di berbagai media massa tentang kondisi Republik Indonesia (seputar kebangsaan, kemahasiswaan, dan kemanusiaan) di era peralihan kekuasaan Soekarno (orde lama) ke Soeharto (orde baru).

Namun, meski ditulis pada era 60-an, beberapa tulisan Soe Hok Gie dalam Zaman Peralihan tampak menggambarkan situasi Indonesia hari ini. Bukan saja soal kebangsaannya, tapi juga kemahasiswaannya dan kemanusiaannya. Pada titik ini, saya merasa, negara ini sepertinya tidak belajar dari sejarah, masih saja jatuh ke lubang yang sama. Persoalan korupsi, kolusi, dan nepotis masih berkembangbiak dengan subur. Pun praktik-praktik pelacuran intelektual tak kunjung hilang dari dunia pendidikan. 

Saya setuju dengan Dr. Kuntowijoyo dalam pengantarnya dalam buku ini, bahwa persoalan-persoalan yang ditulis oleh Soe Hok Gie masih relevan dengan keadaan sekarang (pasca reformasi), di mana sedang terjadi krisis legitimasi dikarenakan tidak adanya exemplary center, yaitu hilangnya panutan yang bisa dicontoh, yang seharunya diberikan oleh mereka yang berada di pucuk kekuasaan.

“Krisis legitimasi ini terjadi tatkala perilaku yang ada di tingkat kekuasaan, yaitu kekuatan-kekuatan yang secara menyeluruh mendominasi ekonomi, politik, jenjang sosial, dan produksi kultural yang tak mampu lagi menjadi panutan masyarakat,” lanjut Kuntowijoyo.

Hari-hari ini demonstrasi ada di mana-mana—di kota-kota besar sampai ke pelosok-pelosok negeri. Pemantiknya jelas: ketulian dan kedunguan pemerintah yang kian mengkhawatirkan. Disahkannya revisi UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI adalah bentuk betapa pemerintah begitu tidak peduli terhadap suara—pun nasib—rakyatnya sendiri. Sebagaimana kata Gie, “betapa tak menariknya pemerintah sekarang”. Mengenai situasi semacam ini, Zaman Peralihan seperti menuntun kita untuk mengeja kembali kebangsaan kita hari-hari ini.

Bacalah artikel Menaklukkan Gunung Slamet, Anda akan mengetahui bahwa Gie juga melihat bagaimana Indonesia (orde baru) sebetulnya tidak berubah—dari orde lama. Seturut kata Stanley dan Aris Santoso, editor Zaman Peralihan, esensi yang terkandung dalam pikiran-pikiran Soe Hok Gie masih sama. Ibarat sebuah tontonan, lakonnya tetap sama. Hanya setting panggung, kostum, dan pemainnya saja yang berbeda. Ini satu indikasi bahwa pemerintah memang tidak pernah belajar dari sejarah—bahkan barangkali itu perihal yang tak penting dipelajari. Hipokrasi, cakar-cakaran, dan tukang kecap masih menonjol. Malah masih banyak mahasiswa yang tadinya kelihatan “idealis” mendadak terserang dekadensi moral—seperti yang terjadi pada beberapa tokoh aktivis ’98 hari ini.

Diamnya para intelektual Indonesia pada masa orde baru turut Gie kritisi. Ia menyampaikan, “Saya pribadi melihat, bahwa generasi mendatang akan banyak sekali mengecam generasi intelektual Indonesia sekarang [orde baru]. Sebagian besar dari mereka, tutup mulut, dan tidak berbicara mengenai pelanggaran-pelanggaran paling kasar terhadap manusia yang terjadi di Indonesia.” Dan ini tampaknya juga berlaku bagi intelektual-intelektual kita hari ini yang memilih bungkam melihat ketidakadilan, kesewenang-wenangan, mengangkang di depan matanya.

Di negeri ini, sampai sekarang, tak sedikit intelektual yang perannya sebatas pelegitimasi struktur status quo penguasa. Mereka memilih menyumpal telinga, mulut, dan pikirannya dengan jabatan-jabatan di kampus maupun di pemerintahan dan pendapatan-pendapatan haram yang membuatnya lena. Mereka, kata Gie, adalah pelancur-pelacur intelektual “yang bekerja dengan bajingan-bajingan minyak, calo-calo modal asing dan pejabat-pejabat yang korup dan sloganistis”.

Tetapi juga tak sedikit intelektual yang masih—seperti kata Arief Budiman—berperangi layaknya resi, yang dalam waktu-waktu tertentu rela meninggalkan pertapaannya untuk mengabarkan keadaan yang buruk sambil berharap penguasa akan mengubah keadaan buruk tersebut. Intelektual semacam ini jelas tidak memulai pamrih politik.

Selain soal kebangsaan, kemahasiswaan, dan kemanusiaan, Zaman Peralihan juga memuat catatan-catatan Soe Hok Gie selama berkunjung ke Amerika dan Australia (pada rentang 8 Oktober 1968 hingga 3 Januari 1969). Di sana, Gie berkelana ke universitas-universitas seperti Berkeley, Yale, dan Cornell, dan berbincang dengan banyak mahasiswa dari berbagai latar belakang negara serta ideologi. Dalam salah satu catatannya, Gie membahas tentang agama dan tantangnya—dalam konteks Amerika—yang ditutup dengan lelucon di WC kampus Universitas Hawaii: “God is Not Dead But Unemployed” (Tuhan tidak mati, Cuma jadi pengangguran).

Sampai di sini, buku Zaman Peralihan masih penting untuk dibaca. Bukan saja masih relevan tapi juga mencakup hal-hal subtansial dalam sejarah bangsa Indonesia. Apalagi keterus-terangan Gie dalam setiap tulisannya membuat kita mengetahui siapa aktor-aktor yang disebut Gie sebagai “pelacur intelektual”. [T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Jawa Tempo Doeloe: Wajah Jawa di Mata Orientalis Berkulit Pucat
Melihat Diri Sendiri ala (Gus Mus) KH. A. Mustofa Bisri
Pembahasan Buku “Representasi Ideologi Dalam Sastra Lekra” Karya I Wayan Artika
Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap
Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri
Tags: Bukuresensi bukuSoe Hok Gie
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Minimalkan Sampah, Ini 5 “Pangeling-eling” untuk Umat saat “Ngusaba Kadasa” di Pura Batur

Next Post

Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co