22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini

Jaswanto by Jaswanto
March 23, 2025
in Ulas Buku
Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini

Buku "Zaman Peralihan" | Foto: tatkala.co/Jas

PADA saat masih duduk di bangku kuliah, Soe Hok Gie adalah sosok yang saya idolakan. Bukan saja karena sikap dan pemikirannya, tapi juga hobinya mendaki gunung. Bahkan, pada momen tertentu, saya membayangkan dirinya bersemayam dalam diri saya—sesuatu yang tidak masuk akal, memang. Tetapi begitulah yang saya rasakan saat saya terlibat dalam perdebatan sengit di forum-forum diskusi atau saat menggigil di puncak gunung—atau sekadar mendengarkan Donna Donna (nyanyian Yahudi itu) di kamar saya yang sempit.

Karena begitu mengagumi sosoknya, tentu saja saya juga membaca buku-bukunya, salah satunya buku yang berjudul “Zaman Peralihan” terbitan Gagas Media tahun 2005. Buku ini memuat tulisan Soe Hok Gie yang berserak di berbagai media massa tentang kondisi Republik Indonesia (seputar kebangsaan, kemahasiswaan, dan kemanusiaan) di era peralihan kekuasaan Soekarno (orde lama) ke Soeharto (orde baru).

Namun, meski ditulis pada era 60-an, beberapa tulisan Soe Hok Gie dalam Zaman Peralihan tampak menggambarkan situasi Indonesia hari ini. Bukan saja soal kebangsaannya, tapi juga kemahasiswaannya dan kemanusiaannya. Pada titik ini, saya merasa, negara ini sepertinya tidak belajar dari sejarah, masih saja jatuh ke lubang yang sama. Persoalan korupsi, kolusi, dan nepotis masih berkembangbiak dengan subur. Pun praktik-praktik pelacuran intelektual tak kunjung hilang dari dunia pendidikan. 

Saya setuju dengan Dr. Kuntowijoyo dalam pengantarnya dalam buku ini, bahwa persoalan-persoalan yang ditulis oleh Soe Hok Gie masih relevan dengan keadaan sekarang (pasca reformasi), di mana sedang terjadi krisis legitimasi dikarenakan tidak adanya exemplary center, yaitu hilangnya panutan yang bisa dicontoh, yang seharunya diberikan oleh mereka yang berada di pucuk kekuasaan.

“Krisis legitimasi ini terjadi tatkala perilaku yang ada di tingkat kekuasaan, yaitu kekuatan-kekuatan yang secara menyeluruh mendominasi ekonomi, politik, jenjang sosial, dan produksi kultural yang tak mampu lagi menjadi panutan masyarakat,” lanjut Kuntowijoyo.

Hari-hari ini demonstrasi ada di mana-mana—di kota-kota besar sampai ke pelosok-pelosok negeri. Pemantiknya jelas: ketulian dan kedunguan pemerintah yang kian mengkhawatirkan. Disahkannya revisi UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI adalah bentuk betapa pemerintah begitu tidak peduli terhadap suara—pun nasib—rakyatnya sendiri. Sebagaimana kata Gie, “betapa tak menariknya pemerintah sekarang”. Mengenai situasi semacam ini, Zaman Peralihan seperti menuntun kita untuk mengeja kembali kebangsaan kita hari-hari ini.

Bacalah artikel Menaklukkan Gunung Slamet, Anda akan mengetahui bahwa Gie juga melihat bagaimana Indonesia (orde baru) sebetulnya tidak berubah—dari orde lama. Seturut kata Stanley dan Aris Santoso, editor Zaman Peralihan, esensi yang terkandung dalam pikiran-pikiran Soe Hok Gie masih sama. Ibarat sebuah tontonan, lakonnya tetap sama. Hanya setting panggung, kostum, dan pemainnya saja yang berbeda. Ini satu indikasi bahwa pemerintah memang tidak pernah belajar dari sejarah—bahkan barangkali itu perihal yang tak penting dipelajari. Hipokrasi, cakar-cakaran, dan tukang kecap masih menonjol. Malah masih banyak mahasiswa yang tadinya kelihatan “idealis” mendadak terserang dekadensi moral—seperti yang terjadi pada beberapa tokoh aktivis ’98 hari ini.

Diamnya para intelektual Indonesia pada masa orde baru turut Gie kritisi. Ia menyampaikan, “Saya pribadi melihat, bahwa generasi mendatang akan banyak sekali mengecam generasi intelektual Indonesia sekarang [orde baru]. Sebagian besar dari mereka, tutup mulut, dan tidak berbicara mengenai pelanggaran-pelanggaran paling kasar terhadap manusia yang terjadi di Indonesia.” Dan ini tampaknya juga berlaku bagi intelektual-intelektual kita hari ini yang memilih bungkam melihat ketidakadilan, kesewenang-wenangan, mengangkang di depan matanya.

Di negeri ini, sampai sekarang, tak sedikit intelektual yang perannya sebatas pelegitimasi struktur status quo penguasa. Mereka memilih menyumpal telinga, mulut, dan pikirannya dengan jabatan-jabatan di kampus maupun di pemerintahan dan pendapatan-pendapatan haram yang membuatnya lena. Mereka, kata Gie, adalah pelancur-pelacur intelektual “yang bekerja dengan bajingan-bajingan minyak, calo-calo modal asing dan pejabat-pejabat yang korup dan sloganistis”.

Tetapi juga tak sedikit intelektual yang masih—seperti kata Arief Budiman—berperangi layaknya resi, yang dalam waktu-waktu tertentu rela meninggalkan pertapaannya untuk mengabarkan keadaan yang buruk sambil berharap penguasa akan mengubah keadaan buruk tersebut. Intelektual semacam ini jelas tidak memulai pamrih politik.

Selain soal kebangsaan, kemahasiswaan, dan kemanusiaan, Zaman Peralihan juga memuat catatan-catatan Soe Hok Gie selama berkunjung ke Amerika dan Australia (pada rentang 8 Oktober 1968 hingga 3 Januari 1969). Di sana, Gie berkelana ke universitas-universitas seperti Berkeley, Yale, dan Cornell, dan berbincang dengan banyak mahasiswa dari berbagai latar belakang negara serta ideologi. Dalam salah satu catatannya, Gie membahas tentang agama dan tantangnya—dalam konteks Amerika—yang ditutup dengan lelucon di WC kampus Universitas Hawaii: “God is Not Dead But Unemployed” (Tuhan tidak mati, Cuma jadi pengangguran).

Sampai di sini, buku Zaman Peralihan masih penting untuk dibaca. Bukan saja masih relevan tapi juga mencakup hal-hal subtansial dalam sejarah bangsa Indonesia. Apalagi keterus-terangan Gie dalam setiap tulisannya membuat kita mengetahui siapa aktor-aktor yang disebut Gie sebagai “pelacur intelektual”. [T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Jawa Tempo Doeloe: Wajah Jawa di Mata Orientalis Berkulit Pucat
Melihat Diri Sendiri ala (Gus Mus) KH. A. Mustofa Bisri
Pembahasan Buku “Representasi Ideologi Dalam Sastra Lekra” Karya I Wayan Artika
Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap
Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri
Tags: Bukuresensi bukuSoe Hok Gie
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Minimalkan Sampah, Ini 5 “Pangeling-eling” untuk Umat saat “Ngusaba Kadasa” di Pura Batur

Next Post

Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co