12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memikirkan Perempuan Bali di Tengah Budaya Patriarki

I Dewa Gede Yoga by I Dewa Gede Yoga
October 5, 2022
in Opini
Memikirkan Perempuan Bali di Tengah Budaya Patriarki

Ilustrasi tatkala.co | Karya: Wiradinata

Bali begitu banyak memproleh label dengan rlatar belakang representasi keindahan pulaunya, seperti Bali Pulau Seribu Pura, Pulau Surga, Pulau Dewata dan Pulau Banten. Ini membuktikan Bali memang menjadi tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan asing maupun domestik.

Di balik citra pulau Bali yang memiliki keeksotisan alam, adat istiadat, dan budaya, tradisi, dan agama, terselip kesenjangan-kesenjangan yang masih perlu menjadi bahan renungan dan pemikiran, terutama menyangkut persoalan-persoalan kaum-kaum hawa atau perempuam.

Tulisan ini bukan sekadar melihat wajah perempuan Bali secara sekilas dalam ranah sosial di Bali. Namun bisa dianggap sebagai bahan pemikiran untuk meluruskan konstruksi-kontruksi yang dibangun oleh budaya partriaki, di mana budaya patriaki masih tertanam dengan kuat di mata publik.

Bicara soal perempuan, terdapat sejumlah hal ini yang paradoks dengan pandangan Agama Hindu sebagai ajaran yang diyakini kebenarannya secara dominan oleh masyarakat Bali. Dalam ajaran itu, perempuan sangat dimuliakan, dianggap sebagai sakti (memiliki kekuatan mistis) bagi laki-laki.

Perempuan dalam Hindu dipuja sebagai Dewi. Sebagaimana diceritakan dalam Purana-Purana Hindu, kekuatan tiga Dewa (Tri Murti) selalu dikaitkan dengan pasangan (sakti). Dewa Brahma saktinya Dewi Saraswati, tugasnya sebagai pencipta alam semesta. Dewa Wisnu saktinya Dewi Sri tugasnya sebagai pemelihara alam semsesta. Dan, Dewa Siwa saktinya Dewi Durga tugasnya sebagai pelebur isi alam semseta (Rahmawati, 2016:58-59).

Pada dasarnya budaya patriaki di Bali sangat kental, sehingga tentu  sangat sulit untuk dihilangkan. Namun sebaiknya memang ada upaya-upaya untuk meminimalkan pelbagai stigma yang dibangun untuk menyudutkan peran perempuan.

Clifford Geertz dalam bukunya Negara Teater (2017) melukiskan bagaimana perempuan menjadi korban budaya patriarki pada zaman kerajaan di Bali. Ketika seorang raja meninggal, lalu diadakan acara kremasi, yakni pembakaran mayat, para selir turut andil dalam acara. Mereka, para selir itu dengan rasa tulus ikhlas menceburkan dirinya ke dalam kubangan api besar untuk mengiringi kepergian raja.

Laki-laki dan perempuan semesetinya perannya/kedudukannya dipandang sama hanya saja mereka dibedakan dari jenis kelamin (perempuan melahirkan—menyusui) (Beilhraz, 2016:18).

Berkaca dari keindahan Bali yang begitu luar biasa, tentu persoalan-persoalan yang tertuju pada perempuan Bali sebaiknya dicarikan solusi yang baik agar keindahan Bali makin sempurna.

Sejumlah persoalan perempuan Bali di tengah budaya patriarki yang perlu dipikirkan, antara lain:

Eksploitasi Seksualitas

Setiap insan yang hidup di muka bumi ini perlu adanya generasi untuk meneruskan aktivitas-aktivitas yang sudah dijalankan oleh pendahulunya. Begitu juga pada masyarakat di Bali. Warga yang sudah menikah akan menanti kehadiran buah hati.

Keturunan ini akan memberikan suasana yang berbeda, apalagi latar belakang Bali kental akan adanya aktivitas ngayah, menyamabraya, dan sejensinya. Keturunan dipercaya akan membuat sebuah keluarga bisa meneruskan tradisi ngayah dan menyamabraya.

Kehadiran anak sangat begitu dinanti-nanti sebagai generasi penerus keluarga, sehingga mampu menjaga keturunan dan sebagai pewaris di ranah keluarga itu sendiri. Apalagi, melihat kenyataan Bali kental akan nuansa gotong royong perlu adanya kehadiran anak laki-laki sebagai tonggak utama untuk meneruskan semangat itu.

Banyak keluarga di Bali kesulitan memproleh keturunan laki-laki. Di zaman modern ini banyak juga orang tua menerima dengan lapang dada jika mereka tak memiliki keturunan laki-laki. Mereka mencari solusi untuk keadaan seperti itu, bukan menjadikan penyesalan yang berlarut-larut.

Namun, banyak juga orang tua begitu ngotot menginginkan anak laki-laki. Jika demikian halnya maka perempuan sering terkena imbasnya . Misalnya dalam satu keluarga punya anak tiga orang dan ketiga-tiganya perempuan, maka paling rasional yang bisa dilakukan ialah memproduksi keturunan lagi agar mereka mendapatkan keturuan laki-laki.

Meski misalnya sang istri tidak menolak, tapi “ide” untuk melahirkan anak hingga memperoleh keturunan laki-laki bisa membuat perempuan dari segi fisik maupun fsikis merasa dieksploitasi.

Solusi terhadap masalah keturunan laki-laki sudah mendapatkan respon sosial dan solusi melalui sistem perkawinan nyentana, di mana laki-laki setelah menikah si laki-laki tinggal dan menjadi pewaris di rumah keluarga perempuan. Namun, masalahnya bagaimana dengan daerah-daerah yang tidak menganut sistem perkawinan nyentana?

Ada juga solusi lain, misalnya sistem perkawinan mapanak bareng, di mana yang laki-laki dan perempuan punya hak dan kewajiban pada dua keluarga, baik di keluarga perempuan maupun di keluarga laki-laki. Namun solusi ini tampaknya belum populer. 

Stereotif Ilmu Leak

Masyarakat Bali tidak asing lagi dengan wacana-wacana tentang ajaran ilmu leak atau ilmu hitam. Ilmu semacam ini dipercya dipelajari untuk menyakiti orang per orangan yang timbul dari rasa iri hati, dengki, dan sejenisnya. Paham semacam ini sudah muncul dalam cerita-cerita lontar calonarang.

Calonarang tidak lain ialah seorang janda yang tinggal di Desa Dirah memiliki seorang putri cantik bernama Ratna Manggali. Si Calonarang ini dengan ilmu hitam yang dimilikinya digunakan untuk menyakiti penduduk di wilayahnya.

Stereotif masyarakat mengenai ilmu leak ini, bahwa ilmu itu hanya dipelajari oleh perempuan, sehingga perempuan seolah-olah memiliki citra buruk di masyarakat Bali.

Timbul beberapa konsepsi dimata publik seperti “Da nyen melali-melali kema apalagi misi ngidih ajeng-ajengan, dadong e to nak bise ngeleak”.  Artinya jangan main-main kesana apalagi minta makanan, nenek itu punya ilmu hitam (leak).

Hal ini sebaiknya secara terus-menerus diluruskan. Karena bicara soal ilmu, termasuk ilmu hitam, bisa dipelajari dan diterapkan oleh siapa saja, kaum laki-laki maupun perempuan.

Paruman

Bali yang kental akan nuansa ritual kegamaan tidak bisa dilepaskan dengan adanya prosesi paruman. Sejatinya aktivitas ritual kegamaan dengan paruman memiliki hubungan yang komplementer yakni saling berhubungan antara sesama warga. Hubungan komplementer ini timbul sebagaimana ketika melaksanakan ritual kegamaan terlebih dahulu dilakukan sebuah prosesi paruman.

Paruman ini berfungsi sebagai media masyarakat untuk membahas apa saja yang diperlukan ketika melaksanakan ritual keagamaan, membahasa biaya yang akan dikeluarkan, dan sejenisnya. Lebih-lebih paruman berfungsi sebagai tempat mediasi untuk menyelesaikan suatu perkara di masyarakat ataupun perihal dalam pembuatan awig-awig.

Pendek kata, prosesi paruman ini biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Padahal secara substansi, perempuan juga memilki peran dan andil besar dalam ritual dan kegiatan kemasyarakatan. Peran itupun tidak boleh dikesampingkan begitu saja.

Apa perempuan selalu ditempatkan di posisi kedua setelah laki-laki? Apa memang harus laki-laki yang harus memegang kendali di ranah publik?

Bahwasannya dalam ranah publik keberadaan laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama tanpa adanya unsur tumpang tindih apalagi ini berkaitan dengan keberlangsungan harmonisasi bermasyarakat dalam lingkup paruman yang di dalamnya banyak membahas persoalan-persoalan publik.

Jadi, pelibatan perempuan di dalam paruman itu sebaiknya ada. Apalagi ketika paruman berkaitan dengan persoalan-persoalan banten  dan hal-hal lainyang biasanya tugas semacam itu diserahkan pada kaum perempuan.

Bukankah jika perempuan diajak rapat lebih awal, maka pekerjaan akan bisa direncanakan dengan lebih lancar? [T]

Referensi

Beilharz, Peter. (2016). Teori-Teori Sosial. (Keempat). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Geertz, Clifford. (2017). Negara Teater. (Pertama). Yogyakarta: Basa Basi

Rahmawati, N.N. (2016). “Perempuan Bali dalam Pergulatan Gender (Kajian Budaya, Tradisi, dan Agama Hindu)”. Komunitas Studi Kultur Indonesia. Volume 1, Nomor 1, 58-64.

[][][][][]

Buku Luh Ayu Manik Mas – Tentang Sosok Perempuan Bali yang Tangguh dan Cinta Budaya
Mendulang Kesadaran Palsu Perempuan Bali di Arena Judi “Meceki”
Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi
Tags: balibudaya patriarkiPerempuanPerempuan Baliritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Mendongeng Mahima se-Indonesia: Juaranya Dari Jambi, Ungaran, Palembang dan Bali

Next Post

Ekonomi Berdaya Lenting, Potensi Investasi Hijau Kakao dan Bambu | Dari Dialog Investasi Timur Vol.1

I Dewa Gede Yoga

I Dewa Gede Yoga

Kelahiran Bangli, alumni jurusan sosiologi Undiksha Singaraja tahun 2022

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Ekonomi Berdaya Lenting, Potensi Investasi Hijau Kakao dan Bambu | Dari Dialog Investasi Timur Vol.1

Ekonomi Berdaya Lenting, Potensi Investasi Hijau Kakao dan Bambu | Dari Dialog Investasi Timur Vol.1

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co