14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mesair-Mekayat, Seni Burdah Loloan yang Hampir Punah

Eka Sabara by Eka Sabara
October 8, 2019
in Khas
Mesair-Mekayat, Seni Burdah Loloan yang Hampir Punah

Burdah Mesair - Mekayat Perkumpulan Burdah Mujahidin Kelurahan Loloan Barat

Saat ini seni burdah sudah merupakan hal yang langka dan sangat jarang sekali dipertunjukkan di acara-acara tradisi di guyup bugis melayu yang ada di Kabupaten Jembrana. Dari beberapa jenis seni Burdah yang dahulu sempat semarak di Jembrana yaitu Burdah Grubuk dari Desa Air Kuning, Burdah Angguk dari Desa Pengambengan dan Burdah Mesair- Mekayat, dan hanya burdah mesair-mekayat yang saat ini masih tetap dipertahankan dan dilestarikan di Kelurahan Loloan Barat.

Kelurahan Loloan Barat tetap bertahan perkumpulan burdah yang sebagian besar anggotanya sudah berusia diatas umur 50 tahunan. Bahkan para anggotanya terlihat aktif melatih generasi muda dalam bermain seni burdah.

“Bang Yik Man”, yang bernama lengkap H. Sayyid Usman Al Qadri yang juga merupakan generasi keenam keturunan dari Syarif Tua tokoh pendiri Loloan, dengan telaten memimpin perkumpulan Burdah Loloan yang bernama Perkumpulan Burdah Mujahidin Loloan Barat.




Ketua Burdah Mujahidin Loloan Barat H. Sayid Usman Al Qadri
Pada acara prosesi Ngelenggang di rumah salah seorang warga di kampong Cempake Loloan Barat
 
Bang Yik Man, panggilan akrab ketua Burdar Loloan Barat sebagai satu-satunya tokoh seniman penggiat dan pelestari Burdah mesair mekayat di kabupaten Jembrana

Mengapa Burdah Loloan ini sangat unik, karena tetap eksis dan bahkan mengkader beberapa generasi muda untuk ikut berlatih seni gendang burdah dan rebana di kelurahan Loloan Barat. Serta ditengah perkembangan irama kesenian yang ada saat ini, para generasi muda tampaknya terpanggil untuk ikut berlatih dalam rangka melestarikan kesenian burdah mesair-mekayat khas Loloan Barat ini.

Disini penulis mencoba mengupas Seni Burdah Loloan yang khas dan unik karena mempunyai makna yang cukup bernilai filosofi dan historis. Dan juga untuk menambah wawasan tentang kesenian burdah yang sangat jarang sekali didengar maupun diminati para generasi muda.

Mengapa Burdah Loloan dikatakan khas dan saat ini sudah langka, karena memiliki makna mesair mekayat, sebuah seni pembacaan syair – syair yang dapat menambah nilai-nilai filosofi keimanan seseorang yang mendengarkan, dan makna mekayat merupakan seni pembacaan hikayat para pendahulu di masa keemasan, dengan tujuan agar calon jabang bayi yang akan dilahirkan mempunyai sifat-sifat para pahlawan pendahulu, sifat sholeh serta arif bijaksana, bila bayinya laki-laki dan jika bayi perempuan agar menjadi sholeha dan beriman kelak saat tumbuh dewasa.

Dahulu ketika masyarakat Bugis Melayu Loloan hatinya sedang dilanda sertadiliputi perasaan resah gelisah dan khawatir akan nasib anak keturunannya pada saat itu, maka para sesepuh memainkan Burdah mesair-mekayat, sehingga bagi yang mendengarkan hantinya menjadi tentram dan damai.

Pada awal masuknya kedatangan orang Bugis- Makassar dan Melayu di Bali Barat, beberapa situasi serta kondisi yang dihadapi saat itu, dimana di satu sisi melawan penjajah, disisi lain juga sebagai pasukan inti kerajaan Jembrana yang mengharuskan berada di posisi terdepan dalam membela kerajaan Jembrana dari serangan kerajaan dari luar di masa-masa kerajaan. Para Prajurit Bugis Makassar Melayu Loloan, sebelum terjun ke pertempuran, malam harinya memainkan burdah mesair dan mekayat untuk menambah semangat serta memberikan kekuatan dalam menghadapi peperangan tersebut.

Perkembangan selanjutnya seni burdah mesair mekayat dirangkai dengan dalam bentuk ekspresi pembacaan Qasidah dengan syair-syair burdah yang terdapat dalam kitab Al Barzanji yang diiringi dengan menabuh rebana ukuran besar (jenis alat musik berbentuk lingkaran kulit yang berdiameter 50 cm dengan pelapis sisi dari bahan kayu. Seni burdah dimainkan dengan 10 orang sampai 12 orang, dengan membaca kitab Al Barzanji secara bergiliran.



Burdah Angguk Desa Pengambengan Yang Saat Ini Sudah Punah

Kata BURDAH sendiri merupakan kata serapan dalam bahasa arab, yang berarti Selimut adalah Sholawat dan Syair yang memuji keagungan serta kemuliaan akhlaq Nabi Muhammad SAW sebagai sang ROSUL AKHIIRUZ  ZAMAN.

Sebenarnya arti kata Burdah itu sendiri yang berarti selimut berasal dari serapan kosakata Bardan dalam bahasa arab yang berarti Dingin, karena dingin maka haruslah berselimut. Seni Burdah merupakan suatu Qasidah yang berisi syair tentang pujian/ sholawat kepada Nabi Muhammad S.A.W. syair – syair burdah diciptakan oleh Imam al Busiri dari Mesir. Burdah Loloan dimasa lampau merupakan tradisi budaya yang dilaksanakan dengan memakai tetabuhan rebana sambil mesair mekayat yang dimainkan oleh para datuk-datuk sesepuh Loloan.

Para  sesepuh  dan  datuk  datuk  di  Loloan  membaca  syair  burdah  dan menabuh rebana yang bertujuan  memohon   dan   mengharapkan   agar   senantiasa   ALLAH   SWT menyelimuti dengan rahmat dan pertolongan – Nya, serta mengharapkan agar SANG NABI MUHAMMAD SAW menyelimuti dengan syafaat pertolongannya. 

Menabuh rebana pada awalnya adalah bukan untuk menghibur diri, melainkan ada hikmah tersendiri dibalik hentakan irama tetabuhan rebana, dapat menggugah semangat pendengar dan penonton dari pembacaan syair syair yang menceritakan riwayat para pahlawan yang syuhada gugur membela panji-panji agama. Sehingga dengan ditabuhnya rebana dapat lah membangkitkan keberanian jiwa laskar pejuang pemegang tongkat keberlangsungan syari’at NABI MUHAMMAD SAW.

Tradisi yang tetap melestarikan seni burdah pada saat ngelenggang yaitu suatu prosesi selamatan kandungan yang telah berusia tujuh bulan. Pelaksanaan prosesi ngelenggan ini dilaksanakan  dengan posisi menidurkan sang ibu yang sedang hamil diatas geladak lantai rumah panggung (tidak boleh ditempat tidur/kasur), hanya beralaskan selembar kain, seluruh tubuh dilulurkan boreh pada malam hari bersama dengan suaminya.


Pada keesokan sepasang suami istri dimandikan dengan air kembang   tujuh   rupa   oleh sanak keluarganya.   Keseluruhan prosesi ini diiringi oleh tabuha rebana dibacakan burdah dengan syair syair antara  lain Parsi, Pa’antah, Rabbuna, Sultan Pahang (pa’ang), Sultan Ma’alaf, Cik Pekih, Angin-angin, Sri Goyang, Tarikh Banyuwangi, Cokkean, Masruh Mambang. Syair syair yang dibacakan pada saat ngelenggang selain Al Burdah (Burdah Barzanji) juga syair Parsi.

Syair Burdah dengan irama tetabuhan rebana adalah cikal bakal media kesenian budaya yang bernafaskan Islam diwilayah Jembrana, hingga saat ini yang masih terus mencoba bertahan dari arus zaman. Saat ini eksis dan berkembang di kelurahan Loloan Barat. Semarak dari kegiatan Burdah dapat terjadipada situasi dan kepentingan yang berbeda beda dari pihak yang mengundang perkumpulan burdah ini.

Tradisi dan seni Burdah Loloan telah menjadi cikal bakal seni dan budaya yang mampu menambah khazanah kebudayaan yang ada di Jembrana. [T]

Tags: burdahjembranaKampung LoloanMuslimseni muslim
Share200TweetSendShareSend
Previous Post

Solidaritas Senja #1 – Merajut Solidaritas, Membuka Perbincangan

Next Post

Film Pendek “The Umbrella”, Satu Tembakan Untuk Sebuah Kisah

Eka Sabara

Eka Sabara

Tinggal di Jembrana

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post

Film Pendek “The Umbrella”, Satu Tembakan Untuk Sebuah Kisah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co