30 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ladang Singkong di Lereng Semeru | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
July 19, 2025
in Cerpen
Ladang Singkong di Lereng Semeru | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

MAHAMERU adalah tempat bersemayamnya para dewa. Di sana terdapat tangga-tangga langit yang tak kasat mata untuk menuju ke puncaknya. Hanya manusia berhati suci lagi bersih yang mampu melihatnya. Lalu, di puncaknya terdapat semacam tempat thawaf, tempat bagi para dewa bersemedi dan berkumpul untuk mendengarkan wejangan Sang Hyang Widi. Konon, menurut cerita orang tua-tua dulu, kawah Mahameru itu menembus langit ke tujuh layaknya di Ka’bah. Semua doa akan sampai dan langsung didengar oleh Tuhan, lalu tanpa menunggu waktu langsung diijabah oleh Tuhan. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Mak Taram, seorang pria sepuh yang selama ini tinggal menyendiri di hutan dan membiarkan dirinya terisolasi dari masyarakat.

Mak Taram tinggal di sebuah hutan yang berbatasan dengan dua gunung besar dekat pantai selatan itu. Di sebuah gubuk tua berdinding kayu yang berdiri di tepi sebuah jurang yang menganga. Ia tinggal berdua dengan cucu semata wayangnya yang bernama Ujang. Mak Taram sangat keras dalam mendidik cucu lelakinya itu. Tidak hanya melatihnya berkelahi dengan menggunakan pisau, tapi juga melatihnya berlari dengan menggunakan gelang besi seberat satu ton. Seperti halnya pagi itu. Setelah sarapan dengan ubi rebus dan kopi seduhan daun kopi, Mak Taram melatih Ujang menggunakan pisau. Remaja tanggung itu dengan tangkas bisa mengelak serangan dari kakeknya.

“Untuk latihan pagi ini kurasa sudah cukup, Ujang,” kata lelaki tua itu kepada cucunya. “Hanya tinggal selangkah lagi kamu akan menguasai serangan yang terakhir. Setelah itu, aku bisa pergi selamanya dengan tenang.”

“Mak Taram pasti sehat,” ujar Ujang dengan nada optimis kepada kakeknya. Ia terlihat sangat sedih setiap kali Msk Taram mengatakan seperti itu.

“Ujang, setiap hari, manusia ada yang lahir dan ada pula yang harus pergi. Begitu juga dengan aku. Usiaku sudah tidak muda lagi. Sudah saatnya kamu yang menggantikan aku untuk membinasakan kejahatan yang ada di atas muka bumi ini,” ucap Mak Taram menepuk pundak cucunya.

“Akan tetapi, jika Mak Taram pergi, maka aku akan tinggal dengan siapa?” tanya Ujang sambil menitikkan air mata.

“Kamu akan menentukan hidupmu sendiri, Ujang. Kamu tidak akan selamanya tinggal di tengah hutan ini sendirian,” kata Mak Taram menyemangati.

Sejak bayi, Ujang telah diasuh oleh Mak Taram bersama istrinya. Kedua orangtuanya telah lama meninggal dunia. Menurut cerita dari Mak Taram, ayah dan ibunya meninggal karena menjadi korban kebakaran yang disengaja. Dulu, mereka tinggal di desa sebelah. Akan tetapi, pada malam itu, ada sekelompok orang yang dengan sengaja membakar perkampungan tersebut. Seluruh rumah terbakar berserta dengan isinya. Tidak ada satu pun yang tersisa, termasuk penghuninya. Adalah yang selamat hanyalah Mak Taram, istrinya dan Ujang. Sebab saat itu mereka sedang keluar dari perkampungan menuju ibu kota kecamatan. Melihat perkampungan dan hunian mereka telah menjadi abu, lantas Mak Taram bersama keluarganya mengungsi ke tengah hutan yang tidak pernah terendus oleh manusia. Sayang, istri Mak Taram meninggal dunia ketika Ujang baru berumur 5 bulan. Sejak itu, Mak Taram mengasuh dan merawat Ujang seorang diri.

Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, Mak Taram menebang pohon lalu dicacahnya menjadi bagian kecil-kecil. Setelah itu, ia menjualnya di pasar ibu kota kabupaten. Selain menjual kayu bakar, kadang Mak Taram menjual madu murni yang ia panen dari puncak pepohonan yang tinggi. Kadang pula ia mengambil air pohon aren, kemudian dijualnya.

Seperti halnya siang itu. Ia mengajak Ujang mengambil madu yang ada di pohon kesambi. Ribuan tawon mendengung di dekat sarangnya. Lantas, ia menyuruh Ujang agar naik ke pohon tersebut. Ia juga memberikan apa yang sudah ia persiapkan termasuk api dan timba untuk menampung madu serta sarangnya. Lalu, seperti seekor monyet yang sudah terlatih, dengan lincah pemuda itu merayapi pohon kesambi hingga sampai di tempat sarang madu itu berada. Lalu, ia menyalakan kayu yang dibalut dengan kain sehingga keluar asap. Ia pun mengarahkannya di dekat sarang madu sehingga tawon-tawon itu kalang kabut dan kabur. Setelah itu, dengan mudah ia pun memanen madu untuk dijual esok di pasar.

Melihat cucunya berhasil memanen madu, Mak Taram pun tersenyum dengan bangga. Ia merasa bahwa didikannya selama ini tidak sia-sia. Keterampilan itu kelak akan menjadi bekal buat Ujang setelah dirinya tiada.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Mak Taram keluar hutan dengan membawa madu dan sarangnya untuk dijual ke pasar ibu kota kabupaten. Lelaki tua itu tidak membawa sepeda ontel atau sepeda motor. Di sana tidak ada sepeda. Kontur jalan pegunungan yang curam dan naik turun tidak memungkinkan dirinya agar naik sepeda. Tetapi, Mak Taram dulu pernah membawa mobil off-road yang memang khusus dikemudikan di hutan atau pegunungan. Ujang telah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Mak Taram ternyata jago mengemudikan mobil tersebut.

Sementara Mak Taram menjual madu hasil panennya, Ujang yang pagi itu selesai masak dan sarapan, segera melaksanakan tugas dari kakeknya yaitu membuat ramuan racun dari tanaman tertentu yang katanya mengandung racun yang sangat mematikan. Ia tidak pernah bertanya, untuk apa kakeknya itu menyuruhnya agar membuat racun. Pemuda itu pun langsung mencari dan menemukan tanaman mirip rumput tersebut, lalu dikumpulkannya. Seperti yang telah diarahkan oleh kakeknya. Pertama-tama, ia merebus daun tanaman tersebut dalam wadah yang tidak dipakai. Setelah menunggu beberapa menit, ia dengan hati-hati menyaring air yang telah bercampur dengan ekstrak daun beracun tersebut. Dan apabila sudah dingin, ia pun memasukkannya ke dalam botol kosong bekas.

***

“Malam ini kita ada misi suci, Ujang,” kata Mak Taram saat mereka berdua telah berada di atas mobil off road itu. Ujang sama sekali tidak tahu mau diajak ke mana dirinya oleh kakeknya itu. Ia menurut saja tanpa harus banyak tanya. “Apakah kamu tidak lupa membawa apa yang aku suruh?”

Ujang mengangguk. Tadi, sebelum pergi ia diminta oleh Mak Taram agar membawa botol bekas yang telah diisi dengan ramuan racun mematikan itu.

“Apakah kamu sudah siap?”

“Siap, Mak.”

“Bagus!”

Kemudian, Mak Taram mulai mengemudikan mobil itu menuju ke arah selatan. Mereka melewati perkampungan penduduk yang sudah sepi. Jalanan kampung itu menyala dengan lampu jalan yang temaram. Kadang mereka melewati hutan yang sunyi. Kondisi jalan yang membelah hutan itu sepi. Sama sekali tidak ada yang berani lewat. Akan tetapi, Mak Taram sama sekali tidak merasa takut.

Setelah melewati hutan, mereka mulai melewati jalanan yang menanjak dan meliuk. Kanan dan kiri jalan adalah hutan pinus dan cemara. Hawa dingin terasa mencucuk tulang. Mak Taram begitu hati-hati saat melewati jalanan itu. Ia tidak mau nyasar dan akhirnya masuk ke dalam jurang. Ujang mengenal tempat tersebut. Itu adalah jalan yang berada di bawah gunung Mahameru. Sebab dari bawah ia sudah bisa melihat puncak gunung tertinggi di Jawa Timur itu. Kabutnya yang tebal melingkari tubuh gunung seakan itu adalah jubah yang membalutnya saat tidur.

“Kita mau ke mana, Mak?” tanya Ujang penasaran.

“Kamu akan tahu sendiri.”

Mak Taram menambah laju mobilnya saat melewati hutan yang berada di lereng gunung tersebut. Tidak ada perkampungan di sini kecuali ribuan pepohonan yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Tidak ada penerangan di sini selain cahaya rembulan yang mengambang di langit malam. Setelah itu, mobil tersebut membelah sebuah Padang rumput yang lebat. Kondisi jalan yang tidak rata dan berbatu membuat penumpang mobil terpental. Untungnya Ujang sudah terbiasa dengan kebiasaan kakeknya setiap kali membawa mobil. Lalu, Mak Taram menghentikan mobil.

“Di depan sana ada sebuah perkampungan. Tapi yang ini bukan perkampungan penduduk biasa. Ini adalah areal terlarang bagi masyarakat biasa,” kata Mak Taram memberitahu. “Dan apakah kau tahu apa yang kumaksud?”

Ujang menggelengkan kepalanya.”

“Perkampungan ini tidak ada yang tahu kecuali orang-orang tertentu. Begitu pula dengan pejabat kabupaten, tidak ada yang tahu. Selain pejabat yang rakus dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan.”

“Apa itu, Mak?”

“Di depan sana kita akan menemukan ladang ganja.”

“Ladang ganja?” Dahi Ujang mengernyit.

“Iya. Ladang ganja. Ladang tersebut tidak ada yang tahu. Bahkan, polisi setempat tidak tahu. Bibit ganja tersebut dibawa dari Aceh, kemudian diselundupkan lewat truk atau apa menuju ke sini. Lalu, mereka menyuruh orang-orangnya agar membuka lahan dan menanami gunung ini dengan ganja tadi,” tutur Mak Taram menjelaskan.

“Jadi, tugas kita apa, Mak?”

“Tugas kita malam ini adalah membunuh para penjaga ladang ganja dan membakarnya hingga binasa. Karena itu, aku menyuruhmu agar membuat ramuan racun dari tanaman itu.”

“Membunuh?”

Mak Taram mengangguk.

“Bukankah membunuh manusia itu adalah dosa, Mak?”

“Membunuh orang yang tidak berdosa memang berdosa, Ujang, tapi membunuh orang yang hendak mencelakai orang lain dengan daun-daun singkong beracun itu sama sekali tidak berdosa.”

Kemudian, sesuai dengan arahan kakeknya, Ujang menyusup masuk menuju ladang ganja di bawah gunung Semeru itu. Di sana terdapat empat gubuk yang dikhususkan buat para penjaga ladang. Di bawah temaram cahaya rembulan, Ujang mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh mereka. Sebab para penjaga itu dilengkapi dengan senjata laras panjang. Atau mungkin memang sudah direncanakan oleh langit. Malam itu, para penjaga sedang bermain kartu remi di teras salah satu rumah sehingga Ujang dengan mudah masuk ke dalam salah satu dapur rumah tersebut. Setelah berhasil masuk, ia mengeluarkan botol yang berisi ramuan racun itu dan menuangkannya ke dalam ceret yang berisi air putih. Lalu, dengan cepat ia segera keluar dari rumah tersebut.

Dan benar saja, saat ia kembali bersembunyi di balik semak-semak daun ganja, ia mendengar langkah kaki yang menginjak lantai papan. Tampaknya orang itu akan mengambil ceret berisi air putih itu. Ujang yakin bahwa mereka tidak akan curiga dengan air putih yang telah dicampur dengan racun tersebut karena warnanya samar. Tak lama kemudian, ia mendengar suara orang yang muntah-muntah.

Untuk memastikan, ia pun keluar dari semak-semak itu dan berjingkat-jingkat di samping rumah. Tampak saat itu ia melihat ada empat orang penjaga yang sudah kaku macam kayu. Tubuh mereka sudah tak bernyawa. Sementara di rumah kedua, ia juga melihat ada tiga orang lagi yang sudah terkapar. Kini tinggal misi yang terakhir, yaitu membakar ladang ganja itu beserta rumahnya. Lantas, ia mencari minyak tanah di dalam rumah tersebut. Dan akhirnya ia menemukan solar.

Kemudian, ia menuangkan solar itu di lantai dan dinding rumah dan terakhir di ladang ganja. Saat ia berada di tepi jalan, ia menggesek korek api dan melemparkannya di atas ladang ganja itu. Dalam sekejap api langsung melahap tanaman singkong dan rumah itu, termasuk mayat yang mati karena keracunan.

***

Setelah misi itu, Mak Taram yang sakit parah karena dimakan usia membongkar sebuah rahasia yang selama ini ia jaga dari Ujang. Di atas tempat tidurnya, Mak Taram menggenggam tangan pemuda itu.

“Ujang, sebenarnya aku bukan kakekmu. Begitu juga dengan istriku bukan nenekmu,” kata Mak Taram yang membuat hati pemuda itu kecewa. “Kami merawat kamu karena orang tuamu meninggal saat kamu masih bayi. Dan tahukah kamu, bahwa kedua orangtuamu meninggal karena kasus yang sama. Ayah dan ibumu adalah penjaga ladang ganja yang berada di kawasan gunung Bromo. Dan akulah yang membunuh mereka berdua. Aku membakar pemukiman mereka beserta ladang singkong mematikan itu. Aku dan kawanku yang telah menghabisi nyawa orang tuamu. Tapi, aku membunuh mereka karena ada alasannya. Aku membunuh mereka sebelum mereka membunuh jutaan lebih nyawa yang mengonsumsi barang haram tersebut. Terserah kamu, apakah kamu mau memaafkan ku sebelum Malaikat Maut membawa nyawaku,” kata Mak Taram dengan bibir bergetar dan air mata mengalir di pelupuk matanya.

Ujang terdiam membisu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Apakah ia akan memaafkan lelaki tua yang telah merawat dirinya yang juga ternyata adalah pembunuh kedua orangtuanya itu. Apakah ia akan merelakan semua kesalahan dan dosa lelaki tua yang telah mendidiknya untuk membinasakan orang-orang jahat di atas muka bumi ini? [T]

Probolinggo, Maret 2025

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan di Mata Mak Kaeh | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gm. Sukawidana | Upacara Kelahiran

Next Post

Jangan Sampai Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails
Next Post
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

Jangan Sampai Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co