2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba by Luh Aninditha Wiralaba
July 12, 2025
in Cerpen
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Ilustrasi tatkala.co

“Radhea, ke sini sebentar, Nak. Bantu dulu ibu metanding banten untuk besok,” seru ibuku dari dapur, suaranya bercampur dengan aroma tum ayam.

Namaku Radhea, Ni Wayan Radhea Putri. Indah bukan? Sekarang usiaku sudah enam belas tahun. Besok merupakan Hari Raya Kuningan, rentetan dari Hari Raya Galungan, hari yang selalu kutunggu. Tak hanya karena suasananya yang meriah, atau aroma lawar dan sate yang begitu menggoda, tapi karena Juwita akan pulang.

Sudah lima tahun kami tidak bertemu. Dulu kami berdua seperti bayangan untuk satu sama lain. Duduk sebangku, pulang sekolah bersama, bahkan kami mengikuti latihan tari di sanggar yang sama. Ia harus pindah ke Jakarta mengikuti ayahnya, yang kini katanya menjadi direktur di perusahaan  besar. Kabarnya Juwita pulang ditemani banyak pengawal, bak putri raja.

Aku masih menyimpan sebuah gantungan kunci yang ia berikan padaku. “Supaya kita tidak lupa,” katanya waktu itu. Tapi mungkin aku terlalu naif, menganggap kenangan dapat menyambung jarak sejauh itu.

Beberapa tahun ini aku berusaha memperbaiki diri. Rambut yang dulunya lepek kini mulai terawat. Kacamata kutanggalkan kecuali di kelas. Aku bahkan mulai memakai skincare dasar yang kusembunyikan dari ibu agar tidak dikira bermewah-mewah.

Malam sebelum Kuningan, aku menulis di sebuah buku kecil. Menulis hal-hal yang akan kuceritakan pada Juwita. Tentang masa orientasi SMA saat aku bermain teater Kasih Tak Sampai dan menjadi pemeran utama. Tentang Samsul Bahri versi sekolahku, yang kini menjadi pacarku. Tentang sahabat baru yang diam-diam menyiapkan kejutan ulang tahun untukku. Mungkin aku akan bertanya apakah ia masih suka menonton film Korea, atau bahkan bagaimana keadaan sekolah di Jakarta.

Aku jadi tidak sabar mendengar ucapan dari mulutnya, “Aku sungguh rindu kamu, Dhe.” Pasti itu akan sangat membuat rasa rinduku juga terobati. Tapi yang paling membuatku bersemangat adalah rencana kecil sore besok. Menonton Tari Gambuh bersama Juwita, seperti dulu sewaktu masih bersama. Di antara gemerincing gamelan dan aroma dupa, di petang yang menyimpan langit jingga begitu indah.

Ayam berkokok begitu riuh, menandakan waktu sudah pagi. Aku memulai pagiku dengan senyuman yang menghiasi wajahku. Aku membantu ibu sembahyang di area rumah. Di pura aku perhatikan setiap wajah yang datang. Beribu detik sudah ku lewati, namun Juwita tak kunjung datang. “Apa mungkin dia tidak sembahyang ke pura?” batinku.

Dalam gelisah aku bergegas pulang dan berganti pakaian. Lalu dengan nekat aku datang ke rumahnya. Rumah itu kini tampak begitu besar dan megah. Ada mobil mewah di garasi, taman penuh anggrek dan kupu-kupu yang beterbangan, seperti sebuah lukisan hidup.

Aku mendekat ke gerbang.

“Juwita ini aku, Radhea!” teriakku sembari melihat ke sana kemari mencari keberadaan Juwita. Seorang satpam mendekat, kemudian melarangku untuk masuk. Di balik tirai kaca, aku melihat sesosok gadis berdiri mengintip. Wajah Juwita, jelas. Ia sempat menoleh, dan pandangan kami sempat bertemu. Tapi ia membalikkan badan, dan kemudian menghilang di sana.

“Mungkin dia lelah… mungkin nanti sore kami akan menonton Tari Gambuh bersama,” gumamku menolak percaya.

Sore tiba. Langit terlihat berwarna jingga, sangat cantik. Cahaya matahari tampak meredup. Suasana pura tempat pementasan Tari Gambuh sungguh meriah, aroma dupa menyeruak di tengah keramaian. Orang-orang berdatangan dengan pakaian adat madya, begitupun juga aku. Lama aku menunggu sendirian sembari menonton Tari Gambuh.

Penarinya mengenakan kostum yang sangat megah. Gerakannya khas, lambat, namun penuh makna. Diiringi lantunan gamelan. Pandanganku masih terpaku saat sorak penonton terdengar sedikit riuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Hingga dari kejauhan, segerombol pecalang tampak mengawal sebuah keluarga. Ketika wajah itu tampak jelas di antara kerumunan, aku sadar. Itu Juwita.

“Juwita! kemarilah dan menonton bersamaku,” ucapku berteriak dan menghampirinya. Namun, langkahku dihentikan oleh para pecalang. “Juwita, ini aku, Radhea!” ulangku berteriak lebih keras, tapi ia tak menoleh sama sekali. Aku terus memanggilnya, namun ia tak menghiraukanku. Sedih untukku, rasanya begitu asing. Ternyata aku tidak cukup berarti untuk dikenang.

Aku berdiri membeku. Dunia di sekitarku masih terus bergerak, namun aku diam.

Akhirnya aku memilih menonton Tari Gambuh sendirian. Menikmati keramaian sendirian. Menikmati cerita yang ku siapkan sendirian. Terasa kosong. Hatiku begitu hampa. Tari Gambuh tetap berlangsung. Alunan gamelannya masih terdengar sama, tapi tak dapat menyentuhku seperti saat pertama.

Penari itu melangkah perlahan. Ia tidak tahu, seorang gadis di antara penonton sedang patah hati. Bukan karena cinta, tapi karena kenangan yang tak diakui. Aku duduk di antara puluhan manusia, menatap ke panggung, tetapi tidak benar-benar memperhatikan. Ragaku di sana, namun jiwaku entah dimana. Mungkin sedang menyusuri kenangan yang gagal menjadi kenyataan.

Malam datang menyapa, dinginnya angin menusuk kulitku. Pementasan telah usai. Orang-orang datang dengan senyum, pulang juga dengan senyum. Sedangkan aku? Aku datang dengan cerita, pulang juga dengan cerita yang tak sempat dimulai.

Sembari berjalan, aku teringat gerakan Tari Gambuh. Penarinya mengangkat tangan tinggi, lalu menunduk perlahan. Mungkin begitu juga aku harus belajar. Mengangkat kenangan, kemudian menguburnya dalam dengan perlahan. [T]

Penulis: Luh Aninditha Wiralaba
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ahmad Fatoni | Sun Rise di Bromo

Next Post

Akhiri Habitus, Muda Wijaya Belajar Mengaji Lewat Buku Puisinya, “Belajar Mengaji Pada Ibu” 

Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba

Siswa SMAN 1 Amlapura

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Akhiri Habitus, Muda Wijaya Belajar Mengaji Lewat Buku Puisinya, “Belajar Mengaji Pada Ibu” 

Akhiri Habitus, Muda Wijaya Belajar Mengaji Lewat Buku Puisinya, "Belajar Mengaji Pada Ibu" 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co