25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Muhammad Aswar by Muhammad Aswar
July 13, 2025
in Cerpen
Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Ilustrasi tatkala.co by Canva

PAGI itu, Ni Komang menggiling kacang dengan tangan—bukan dengan blender seperti warung sebelah yang lebih muda dan lebih keras kepala. Tangannya masih menyimpan ingatan tentang cara ibunya dulu mengulek: searah jarum jam untuk sate ayam, berlawanan untuk kambing, dan selalu dengan bisikan doa supaya daging lunak dan tak membuat orang marah.

“Marah?” tanya seorang turis dari Australia suatu hari.

“Iya,” katanya. “Di sini, makanan bisa mengusir atau menanamkan roh jahat. Kau tak tahu? Sate bisa jadi persembahan atau perangkap.”

Turis itu tertawa. Lalu datang ledakan.

*****

Dua puluh tahun telah lewat. Warungnya sekarang cuma meja kayu lapuk dan tungku arang yang tak lagi diasapi daging. Ia menolak membuka kembali sejak malam ketika tubuh-tubuh hangus dibawa ke jalan, dan seorang bocah berteriak memanggil ibunya yang telah berubah jadi nyala. Yang tersisa dari malam itu bukan abu, tapi sesuatu yang lebih lengket dari duka: bau sate terbakar yang bercampur daging manusia.

Orang-orang mencoba melupakan. Mereka membangun lagi, membuka toko baru, menyulap puing menjadi lounge. Pariwisata harus berjalan. Bali, katanya, harus bangkit. Dunia menuntut pulau ini tetap cantik dan ramah, bahkan jika tanahnya mengandung sisa-sisa serpihan luka.

Ni Komang tidak menolak hidup. Tapi ia menolak melupakan.

Ia tak lagi menjual sate. Ia menggali tanah.

*****

Di belakang warungnya, ia mendirikan semacam lumbung kecil. Atapnya dari ijuk, dindingnya dari kayu jati tua. Di dalamnya ada puluhan stoples kaca. Setiap stoples memuat sisa dari malam itu: pecahan botol, jepit rambut hangus, rantai sepeda motor, koin meleleh, tulang jari yang tak pernah diklaim siapa-siapa.

Di sudut rak paling atas, ada satu stoples terbesar, berisi arang hitam tak teratur bentuknya, seperti daging gosong yang tak sempat matang.

“Apa ini museum?” tanya seorang bocah pendatang.

“Ini pura,” jawabnya tenang. “Pura bagi yang tak sempat dimakamkan.”

Setiap malam bulan mati, ia menyalakan dupa dan menaburkan segenggam abu ke tanah. Ia duduk bersila dan berdoa dalam diam. Ia percaya bahwa tanah Bali telah kehilangan ingatannya. Terlalu banyak kaki menari di atasnya tanpa hormat. Terlalu banyak hotel berdiri tanpa upacara. Terlalu banyak air mata jatuh tanpa sempat ditadah sesaji.

Maka ia menjadi penjaga tak resmi, seorang arkeolog luka, yang mencoba mengingatkan bumi bahwa manusia dulu pernah sujud.

*****

Dalam mimpinya, Dewi Sri datang bukan dalam wujud dewi padi, tapi sebagai perempuan terbakar yang membawa baki sate. Dagingnya daging manusia, tapi dibumbui air mata dan garam laut.

“Terimalah,” kata sang dewi. “Karena ini juga tubuhmu.”

Ni Komang menolak. Tapi bangun dengan rasa kenyang. Di mulutnya, ada jejak sambal kacang yang tak pernah ia buat.

Ia mulai menulis. Di dinding warung kosong, ia coretkan nama-nama korban yang ia ingat. Ada yang ia tahu dari berita, ada yang ia temui hanya beberapa menit sebelum mereka jadi api. Ada turis dari Swedia yang bertanya tentang bumbu rendang. Ada pemuda lokal yang minta diskon. Ada perempuan dari Solo yang baru belajar surfing.

Ia tak tahu siapa nama asli mereka semua, maka ia beri nama sendiri:

Wayan Yang Tak Sempat Menikah,

Made Yang Menyanyi dalam Api,

Ketut Yang Ketinggalan Sandal.

*****

Orang-orang menyebutnya gila. Tapi pada malam-malam tertentu, terutama saat Galungan atau Kuningan, pendeta muda datang diam-diam ke warungnya yang terbengkalai. Mereka meminta sedikit abu sate itu. Untuk campuran dupa, katanya. Karena dari abu itu keluar aroma yang bisa membuat roh-roh berhenti menangis.

Suatu malam, seorang pendeta berkata:

“Tanah di sini sudah keracunan. Tak bisa lagi tumbuh pohon suci. Mungkin karena tanah tak diberi kesempatan untuk menangis.”

Ni Komang tersenyum. Ia tahu. Ia sudah menangisi tanah itu setiap malam.

*****

Suatu siang, seorang lelaki Australia tua datang. Ia mengaku anak dari turis yang mati malam itu. Ia membawa foto: seorang lelaki berambut keriting memegang sate dengan ekspresi aneh, antara geli dan takut. Di latar belakang, warung Ni Komang berdiri, utuh, sebelum semuanya meleleh.

“Ayahku bilang satemu bisa menyelamatkan dunia kalau semua orang makan bersama,” katanya.

Ni Komang mengenali pria di foto itu. Ia tertawa sebelum bom meledak.

“Dia orang terakhir yang kuambilkan sambal.”

Ia menunjuk ke rak kayu, ke stoples abu paling besar.

“Itu satenya,” kata Ni Komang.

Lelaki itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya untuk kedua kali.

Sebelum pulang, ia mengambil segenggam tanah dari dekat tungku. “Untuk ditanam di taman belakang rumah,” katanya.

“Tanah ini tak lagi subur,” ujar Ni Komang.

“Tapi ia ingat,” jawab si lelaki. “Dan aku ingin ada satu tempat di rumahku yang ingat.”

*****

Terkadang, anak-anak muda datang dan memotret warungnya. Beberapa mempostingnya dengan tagar #darktourism. Mereka bilang tempat ini cocok jadi spot horor. Mereka tidak tahu bahwa roh-roh di sini tak ingin menakuti siapa pun, hanya ingin dikenang.

Pernah suatu kali seorang Youtuber terkenal datang membawa kamera. Ia ingin mewawancarai Ni Komang. “Kami ingin buat dokumenter spiritual,” katanya, “tentang energi arwah di Bali.”

Ni Komang menolak.

Ia tak ingin ceritanya menjadi konten.

Ia ingin abu tetap abu.

*****

Malam itu, saat bulan sabit melengkung tipis seperti senyum kecil, Ni Komang bermimpi lagi. Tapi kali ini Dewi Sri tidak sendiri. Ia bersama seorang anak kecil yang membawa sate dengan tangan kecil penuh luka.

“Ini sate buat siapa?” tanya Ni Komang.

“Buat ibu yang lupa pulang,” jawab bocah itu.

Paginya, ia bangun dan melihat ada sate sungguhan di atas tungku. Masih hangat. Siapa yang meletakkannya, ia tak tahu. Tapi aromanya sama seperti dua puluh tahun lalu: kacang yang baru disangrai, serai yang dirajang halus, dan—entah kenapa—bau laut menjelang badai.

Ia memakannya perlahan. Untuk pertama kali, ia makan sate buat dirinya sendiri.

*****

Tak ada yang tahu kapan Ni Komang mulai tak terlihat. Warungnya tetap kosong, tapi selalu bersih. Dupa kadang masih menyala. Dan rak-rak stoples itu tetap tersusun rapi, seperti diurus oleh tangan tak kasat mata.

Beberapa orang percaya ia sudah menyatu dengan tanah. Bahwa tubuhnya berubah jadi akar pohon jambu biji di belakang warung. Setiap kali anak-anak bermain di sana dan duduk terlalu lama, mereka bilang tanahnya hangat. Seperti pelukan ibu.

Kini orang-orang sudah jarang bicara tentang malam itu. Tapi jika kau berjalan cukup pelan melewati jalan kecil di Legian saat tengah malam, kadang-kadang kau bisa mencium bau sate terbakar, samar, bercampur bau garam dan air mata.

Itu bukan warung.

Itu tanah yang mengingat. [T]

Penulis: Muhammad Aswar
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Next Post

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Muhammad Aswar

Muhammad Aswar

Penikmat Sastra Arab dan pemerhati kajian Timur Tengah. Menjadi pembicara di LIFEs Salihara 2021. Menerjemahkan puisi Nizar Qabbani, Cinta Tak Berhenti di Lampu Merah (Circa, 2021); Surat Tuhan karya Albert Einstein (Circa, 2023); Pembangkangan Sipil karya Henry David Thoreau (Basabasi, 2024); Max Havelaar karya Multatuli (Basabasi, 2025).

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co