3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Muhammad Aswar by Muhammad Aswar
July 13, 2025
in Cerpen
Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Ilustrasi tatkala.co by Canva

PAGI itu, Ni Komang menggiling kacang dengan tangan—bukan dengan blender seperti warung sebelah yang lebih muda dan lebih keras kepala. Tangannya masih menyimpan ingatan tentang cara ibunya dulu mengulek: searah jarum jam untuk sate ayam, berlawanan untuk kambing, dan selalu dengan bisikan doa supaya daging lunak dan tak membuat orang marah.

“Marah?” tanya seorang turis dari Australia suatu hari.

“Iya,” katanya. “Di sini, makanan bisa mengusir atau menanamkan roh jahat. Kau tak tahu? Sate bisa jadi persembahan atau perangkap.”

Turis itu tertawa. Lalu datang ledakan.

*****

Dua puluh tahun telah lewat. Warungnya sekarang cuma meja kayu lapuk dan tungku arang yang tak lagi diasapi daging. Ia menolak membuka kembali sejak malam ketika tubuh-tubuh hangus dibawa ke jalan, dan seorang bocah berteriak memanggil ibunya yang telah berubah jadi nyala. Yang tersisa dari malam itu bukan abu, tapi sesuatu yang lebih lengket dari duka: bau sate terbakar yang bercampur daging manusia.

Orang-orang mencoba melupakan. Mereka membangun lagi, membuka toko baru, menyulap puing menjadi lounge. Pariwisata harus berjalan. Bali, katanya, harus bangkit. Dunia menuntut pulau ini tetap cantik dan ramah, bahkan jika tanahnya mengandung sisa-sisa serpihan luka.

Ni Komang tidak menolak hidup. Tapi ia menolak melupakan.

Ia tak lagi menjual sate. Ia menggali tanah.

*****

Di belakang warungnya, ia mendirikan semacam lumbung kecil. Atapnya dari ijuk, dindingnya dari kayu jati tua. Di dalamnya ada puluhan stoples kaca. Setiap stoples memuat sisa dari malam itu: pecahan botol, jepit rambut hangus, rantai sepeda motor, koin meleleh, tulang jari yang tak pernah diklaim siapa-siapa.

Di sudut rak paling atas, ada satu stoples terbesar, berisi arang hitam tak teratur bentuknya, seperti daging gosong yang tak sempat matang.

“Apa ini museum?” tanya seorang bocah pendatang.

“Ini pura,” jawabnya tenang. “Pura bagi yang tak sempat dimakamkan.”

Setiap malam bulan mati, ia menyalakan dupa dan menaburkan segenggam abu ke tanah. Ia duduk bersila dan berdoa dalam diam. Ia percaya bahwa tanah Bali telah kehilangan ingatannya. Terlalu banyak kaki menari di atasnya tanpa hormat. Terlalu banyak hotel berdiri tanpa upacara. Terlalu banyak air mata jatuh tanpa sempat ditadah sesaji.

Maka ia menjadi penjaga tak resmi, seorang arkeolog luka, yang mencoba mengingatkan bumi bahwa manusia dulu pernah sujud.

*****

Dalam mimpinya, Dewi Sri datang bukan dalam wujud dewi padi, tapi sebagai perempuan terbakar yang membawa baki sate. Dagingnya daging manusia, tapi dibumbui air mata dan garam laut.

“Terimalah,” kata sang dewi. “Karena ini juga tubuhmu.”

Ni Komang menolak. Tapi bangun dengan rasa kenyang. Di mulutnya, ada jejak sambal kacang yang tak pernah ia buat.

Ia mulai menulis. Di dinding warung kosong, ia coretkan nama-nama korban yang ia ingat. Ada yang ia tahu dari berita, ada yang ia temui hanya beberapa menit sebelum mereka jadi api. Ada turis dari Swedia yang bertanya tentang bumbu rendang. Ada pemuda lokal yang minta diskon. Ada perempuan dari Solo yang baru belajar surfing.

Ia tak tahu siapa nama asli mereka semua, maka ia beri nama sendiri:

Wayan Yang Tak Sempat Menikah,

Made Yang Menyanyi dalam Api,

Ketut Yang Ketinggalan Sandal.

*****

Orang-orang menyebutnya gila. Tapi pada malam-malam tertentu, terutama saat Galungan atau Kuningan, pendeta muda datang diam-diam ke warungnya yang terbengkalai. Mereka meminta sedikit abu sate itu. Untuk campuran dupa, katanya. Karena dari abu itu keluar aroma yang bisa membuat roh-roh berhenti menangis.

Suatu malam, seorang pendeta berkata:

“Tanah di sini sudah keracunan. Tak bisa lagi tumbuh pohon suci. Mungkin karena tanah tak diberi kesempatan untuk menangis.”

Ni Komang tersenyum. Ia tahu. Ia sudah menangisi tanah itu setiap malam.

*****

Suatu siang, seorang lelaki Australia tua datang. Ia mengaku anak dari turis yang mati malam itu. Ia membawa foto: seorang lelaki berambut keriting memegang sate dengan ekspresi aneh, antara geli dan takut. Di latar belakang, warung Ni Komang berdiri, utuh, sebelum semuanya meleleh.

“Ayahku bilang satemu bisa menyelamatkan dunia kalau semua orang makan bersama,” katanya.

Ni Komang mengenali pria di foto itu. Ia tertawa sebelum bom meledak.

“Dia orang terakhir yang kuambilkan sambal.”

Ia menunjuk ke rak kayu, ke stoples abu paling besar.

“Itu satenya,” kata Ni Komang.

Lelaki itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya untuk kedua kali.

Sebelum pulang, ia mengambil segenggam tanah dari dekat tungku. “Untuk ditanam di taman belakang rumah,” katanya.

“Tanah ini tak lagi subur,” ujar Ni Komang.

“Tapi ia ingat,” jawab si lelaki. “Dan aku ingin ada satu tempat di rumahku yang ingat.”

*****

Terkadang, anak-anak muda datang dan memotret warungnya. Beberapa mempostingnya dengan tagar #darktourism. Mereka bilang tempat ini cocok jadi spot horor. Mereka tidak tahu bahwa roh-roh di sini tak ingin menakuti siapa pun, hanya ingin dikenang.

Pernah suatu kali seorang Youtuber terkenal datang membawa kamera. Ia ingin mewawancarai Ni Komang. “Kami ingin buat dokumenter spiritual,” katanya, “tentang energi arwah di Bali.”

Ni Komang menolak.

Ia tak ingin ceritanya menjadi konten.

Ia ingin abu tetap abu.

*****

Malam itu, saat bulan sabit melengkung tipis seperti senyum kecil, Ni Komang bermimpi lagi. Tapi kali ini Dewi Sri tidak sendiri. Ia bersama seorang anak kecil yang membawa sate dengan tangan kecil penuh luka.

“Ini sate buat siapa?” tanya Ni Komang.

“Buat ibu yang lupa pulang,” jawab bocah itu.

Paginya, ia bangun dan melihat ada sate sungguhan di atas tungku. Masih hangat. Siapa yang meletakkannya, ia tak tahu. Tapi aromanya sama seperti dua puluh tahun lalu: kacang yang baru disangrai, serai yang dirajang halus, dan—entah kenapa—bau laut menjelang badai.

Ia memakannya perlahan. Untuk pertama kali, ia makan sate buat dirinya sendiri.

*****

Tak ada yang tahu kapan Ni Komang mulai tak terlihat. Warungnya tetap kosong, tapi selalu bersih. Dupa kadang masih menyala. Dan rak-rak stoples itu tetap tersusun rapi, seperti diurus oleh tangan tak kasat mata.

Beberapa orang percaya ia sudah menyatu dengan tanah. Bahwa tubuhnya berubah jadi akar pohon jambu biji di belakang warung. Setiap kali anak-anak bermain di sana dan duduk terlalu lama, mereka bilang tanahnya hangat. Seperti pelukan ibu.

Kini orang-orang sudah jarang bicara tentang malam itu. Tapi jika kau berjalan cukup pelan melewati jalan kecil di Legian saat tengah malam, kadang-kadang kau bisa mencium bau sate terbakar, samar, bercampur bau garam dan air mata.

Itu bukan warung.

Itu tanah yang mengingat. [T]

Penulis: Muhammad Aswar
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Next Post

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Muhammad Aswar

Muhammad Aswar

Penikmat Sastra Arab dan pemerhati kajian Timur Tengah. Menjadi pembicara di LIFEs Salihara 2021. Menerjemahkan puisi Nizar Qabbani, Cinta Tak Berhenti di Lampu Merah (Circa, 2021); Surat Tuhan karya Albert Einstein (Circa, 2023); Pembangkangan Sipil karya Henry David Thoreau (Basabasi, 2024); Max Havelaar karya Multatuli (Basabasi, 2025).

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co