14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Muhammad Aswar by Muhammad Aswar
July 13, 2025
in Cerpen
Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Ilustrasi tatkala.co by Canva

PAGI itu, Ni Komang menggiling kacang dengan tangan—bukan dengan blender seperti warung sebelah yang lebih muda dan lebih keras kepala. Tangannya masih menyimpan ingatan tentang cara ibunya dulu mengulek: searah jarum jam untuk sate ayam, berlawanan untuk kambing, dan selalu dengan bisikan doa supaya daging lunak dan tak membuat orang marah.

“Marah?” tanya seorang turis dari Australia suatu hari.

“Iya,” katanya. “Di sini, makanan bisa mengusir atau menanamkan roh jahat. Kau tak tahu? Sate bisa jadi persembahan atau perangkap.”

Turis itu tertawa. Lalu datang ledakan.

*****

Dua puluh tahun telah lewat. Warungnya sekarang cuma meja kayu lapuk dan tungku arang yang tak lagi diasapi daging. Ia menolak membuka kembali sejak malam ketika tubuh-tubuh hangus dibawa ke jalan, dan seorang bocah berteriak memanggil ibunya yang telah berubah jadi nyala. Yang tersisa dari malam itu bukan abu, tapi sesuatu yang lebih lengket dari duka: bau sate terbakar yang bercampur daging manusia.

Orang-orang mencoba melupakan. Mereka membangun lagi, membuka toko baru, menyulap puing menjadi lounge. Pariwisata harus berjalan. Bali, katanya, harus bangkit. Dunia menuntut pulau ini tetap cantik dan ramah, bahkan jika tanahnya mengandung sisa-sisa serpihan luka.

Ni Komang tidak menolak hidup. Tapi ia menolak melupakan.

Ia tak lagi menjual sate. Ia menggali tanah.

*****

Di belakang warungnya, ia mendirikan semacam lumbung kecil. Atapnya dari ijuk, dindingnya dari kayu jati tua. Di dalamnya ada puluhan stoples kaca. Setiap stoples memuat sisa dari malam itu: pecahan botol, jepit rambut hangus, rantai sepeda motor, koin meleleh, tulang jari yang tak pernah diklaim siapa-siapa.

Di sudut rak paling atas, ada satu stoples terbesar, berisi arang hitam tak teratur bentuknya, seperti daging gosong yang tak sempat matang.

“Apa ini museum?” tanya seorang bocah pendatang.

“Ini pura,” jawabnya tenang. “Pura bagi yang tak sempat dimakamkan.”

Setiap malam bulan mati, ia menyalakan dupa dan menaburkan segenggam abu ke tanah. Ia duduk bersila dan berdoa dalam diam. Ia percaya bahwa tanah Bali telah kehilangan ingatannya. Terlalu banyak kaki menari di atasnya tanpa hormat. Terlalu banyak hotel berdiri tanpa upacara. Terlalu banyak air mata jatuh tanpa sempat ditadah sesaji.

Maka ia menjadi penjaga tak resmi, seorang arkeolog luka, yang mencoba mengingatkan bumi bahwa manusia dulu pernah sujud.

*****

Dalam mimpinya, Dewi Sri datang bukan dalam wujud dewi padi, tapi sebagai perempuan terbakar yang membawa baki sate. Dagingnya daging manusia, tapi dibumbui air mata dan garam laut.

“Terimalah,” kata sang dewi. “Karena ini juga tubuhmu.”

Ni Komang menolak. Tapi bangun dengan rasa kenyang. Di mulutnya, ada jejak sambal kacang yang tak pernah ia buat.

Ia mulai menulis. Di dinding warung kosong, ia coretkan nama-nama korban yang ia ingat. Ada yang ia tahu dari berita, ada yang ia temui hanya beberapa menit sebelum mereka jadi api. Ada turis dari Swedia yang bertanya tentang bumbu rendang. Ada pemuda lokal yang minta diskon. Ada perempuan dari Solo yang baru belajar surfing.

Ia tak tahu siapa nama asli mereka semua, maka ia beri nama sendiri:

Wayan Yang Tak Sempat Menikah,

Made Yang Menyanyi dalam Api,

Ketut Yang Ketinggalan Sandal.

*****

Orang-orang menyebutnya gila. Tapi pada malam-malam tertentu, terutama saat Galungan atau Kuningan, pendeta muda datang diam-diam ke warungnya yang terbengkalai. Mereka meminta sedikit abu sate itu. Untuk campuran dupa, katanya. Karena dari abu itu keluar aroma yang bisa membuat roh-roh berhenti menangis.

Suatu malam, seorang pendeta berkata:

“Tanah di sini sudah keracunan. Tak bisa lagi tumbuh pohon suci. Mungkin karena tanah tak diberi kesempatan untuk menangis.”

Ni Komang tersenyum. Ia tahu. Ia sudah menangisi tanah itu setiap malam.

*****

Suatu siang, seorang lelaki Australia tua datang. Ia mengaku anak dari turis yang mati malam itu. Ia membawa foto: seorang lelaki berambut keriting memegang sate dengan ekspresi aneh, antara geli dan takut. Di latar belakang, warung Ni Komang berdiri, utuh, sebelum semuanya meleleh.

“Ayahku bilang satemu bisa menyelamatkan dunia kalau semua orang makan bersama,” katanya.

Ni Komang mengenali pria di foto itu. Ia tertawa sebelum bom meledak.

“Dia orang terakhir yang kuambilkan sambal.”

Ia menunjuk ke rak kayu, ke stoples abu paling besar.

“Itu satenya,” kata Ni Komang.

Lelaki itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya untuk kedua kali.

Sebelum pulang, ia mengambil segenggam tanah dari dekat tungku. “Untuk ditanam di taman belakang rumah,” katanya.

“Tanah ini tak lagi subur,” ujar Ni Komang.

“Tapi ia ingat,” jawab si lelaki. “Dan aku ingin ada satu tempat di rumahku yang ingat.”

*****

Terkadang, anak-anak muda datang dan memotret warungnya. Beberapa mempostingnya dengan tagar #darktourism. Mereka bilang tempat ini cocok jadi spot horor. Mereka tidak tahu bahwa roh-roh di sini tak ingin menakuti siapa pun, hanya ingin dikenang.

Pernah suatu kali seorang Youtuber terkenal datang membawa kamera. Ia ingin mewawancarai Ni Komang. “Kami ingin buat dokumenter spiritual,” katanya, “tentang energi arwah di Bali.”

Ni Komang menolak.

Ia tak ingin ceritanya menjadi konten.

Ia ingin abu tetap abu.

*****

Malam itu, saat bulan sabit melengkung tipis seperti senyum kecil, Ni Komang bermimpi lagi. Tapi kali ini Dewi Sri tidak sendiri. Ia bersama seorang anak kecil yang membawa sate dengan tangan kecil penuh luka.

“Ini sate buat siapa?” tanya Ni Komang.

“Buat ibu yang lupa pulang,” jawab bocah itu.

Paginya, ia bangun dan melihat ada sate sungguhan di atas tungku. Masih hangat. Siapa yang meletakkannya, ia tak tahu. Tapi aromanya sama seperti dua puluh tahun lalu: kacang yang baru disangrai, serai yang dirajang halus, dan—entah kenapa—bau laut menjelang badai.

Ia memakannya perlahan. Untuk pertama kali, ia makan sate buat dirinya sendiri.

*****

Tak ada yang tahu kapan Ni Komang mulai tak terlihat. Warungnya tetap kosong, tapi selalu bersih. Dupa kadang masih menyala. Dan rak-rak stoples itu tetap tersusun rapi, seperti diurus oleh tangan tak kasat mata.

Beberapa orang percaya ia sudah menyatu dengan tanah. Bahwa tubuhnya berubah jadi akar pohon jambu biji di belakang warung. Setiap kali anak-anak bermain di sana dan duduk terlalu lama, mereka bilang tanahnya hangat. Seperti pelukan ibu.

Kini orang-orang sudah jarang bicara tentang malam itu. Tapi jika kau berjalan cukup pelan melewati jalan kecil di Legian saat tengah malam, kadang-kadang kau bisa mencium bau sate terbakar, samar, bercampur bau garam dan air mata.

Itu bukan warung.

Itu tanah yang mengingat. [T]

Penulis: Muhammad Aswar
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Next Post

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Muhammad Aswar

Muhammad Aswar

Penikmat Sastra Arab dan pemerhati kajian Timur Tengah. Menjadi pembicara di LIFEs Salihara 2021. Menerjemahkan puisi Nizar Qabbani, Cinta Tak Berhenti di Lampu Merah (Circa, 2021); Surat Tuhan karya Albert Einstein (Circa, 2023); Pembangkangan Sipil karya Henry David Thoreau (Basabasi, 2024); Max Havelaar karya Multatuli (Basabasi, 2025).

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co