2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
July 13, 2025
in Tualang
Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Sebuah lapak di Pasar Maling yang ramai dikerubuti pengunjung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Di pasar loak jejak timpa menimpa,
menghapus kau dan aku,
mengingat kau mengingat aku.”

—Goenawan Mohamad, Di Pasar Loak (1994)

“MAU cari HP, Mas?” tanya seorang ibu berwajah sendu kepada saya. “Sini, Mas, dilihat-lihat dulu!” pintanya kemudian. Seperti kena gendam saya menghampiri lapak jualannya. Di atas tikarnya yang buluk segala jenis telepon genggam lawas berjajar rapi. Dari produk Nokia, Sony, sampai Samsung model lama ada dan tersedia. Tak hanya HP bekas, ibu berwajah sendu ini juga jual batrai dan diska lepas. “Semuanya bekas, Mas,” terangnya. Dan, wajah sendu itu seketika berubah tampak kecewa saat saya memutuskan beranjak dari lapaknya tanpa membeli apa-apa.

Pagi itu Jalan Pasar Turi begitu semarak. Di kawasan ini, meminjam istilah Benny Arnas, pagi bukan hanya tentang matahari terbit. Pagi di Bubutan adalah bunyi klakson kereta, deru kendaraan yang bercampur umpatan, denting sendok pada cangkir kopi di warung emperan, dan suara-suara dari pasar-pasar sekitar, seperti di sisi kanan-kiri Jalan Pasar Turi.

Lapak penjual telepon genggam jadul di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sana, pedagang berdesakan. Mereka mendaulat trotoar pejalan dengan tikar-tikar lapak jualan. Sedangkan pengunjung pasar—para pencari harta karun—berjubel di jalan raya, menghambat kendaraan. Suara Rhoma Irama dan Lata Mangeshkar menyembur dari perekam pita tahun 80an, bercampur dengan klakson kendaraan yang menyemut. Pemandangan seperti ini terjadi setidaknya nyaris delapan jam setiap hari. Dari subuh sampai pukul sepuluh, jalan itu penuh sesak, jangan coba-coba melintasinya jika Anda tak mau diumpati orang-orang—meski Anda sebenarnya tidak salah.

Jalan yang membentang di belakang Pasar Turi itu, sejak Orde Baru, dengan semena-mena telah menjelma pasar yang hidup dari pagi sampai siang menjelang. Orang-orang menjuluki pasar ini dengan julukan “Pasar Maling Surabaya”—di daerah Wonokromo juga terdapat pasar dengan sebutan serupa. Banyak orang menyebut pasar loak ini dengan sebutan seperti itu karena barang-barang yang dijual banyak yang tak jelas asal-usulnya—atau beberapa barangkali memang benar-benar hasil curian. Tapi sebagian lainnya percaya itu hanya sekadar julukan belaka, tak ada hubungannya dengan riwayat barang-barang di sana.

Suasana pagi Pasar Maling di Jalan Pasar Turi Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Mengenai keberadaan pasar ini, Pemerintah Surabaya seperti tak bisa berbuat apa-apa. Sebab jika digusur, maka gelombang protes bisa terjadi berhari-hari.

Saya berjalan menyusuri Pasar Maling di Jalan Pasar Turi itu pada Minggu pagi yang hiruk-pikuk. Saya melihat mejikom bekas, boneka tanpa lengan, gawai Cina ketengan yang layarnya ambyar, gitar tanpa senar, kaset pita berjamur, radio rusak, sepatu busuk tanpa sol, sendal tanpa pasangan, dan banyak barang aneh lainnya, berserak di sepanjang pasar di Bubutan, Surabaya, itu. Saya terheran-heran melihatnya.

Tetapi, di antara belantara barang-barang rongsokan itu; di bawah tumpukan benda-benda remuk dan tak berguna itu, kadang terselip mutiara-mutiara macam Seiko, Expedition, Alexander Christie, Diesel, atau Nike, Adidas, Puma, New Balance, Converse, juga Fila, Uniqlo, dan Polo (Ralph Lauren), atau jenama terkenal lainnya yang terkubur di antara tumpukan pakaian bekas yang kondisinya masih memungkinkan untuk bergaya sedangkan harganya tak lebih mahal daripada tiket pesawat Surabaya-Jakarta yang paling murah sekalipun. Tapi, menemukan barang-barang itu seperti berburu harta karun: tak mudah.

Kaset pita bekas di sebuah lapak di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Ini salah satu daya tarik Pasar Maling, Mas. Barang-barang bermerek harganya semurah kacang goreng,” ujar penjual jam bekas dengan berlebihan kepada para pengunjung lapaknya. “Ini ori,” sambungnya, meyakinkan. Nama panggilannya Mas As. Nama lengkapnya tak ada yang tahu. Lelaki paruh baya itu menjajakan Seiko, Expedition, Alexander Christie, sampai Diesel yang entah ia dapat dari mana. Yang jelas, harganya tak lebih mahal dari gawai Cina keluaran terbaru.

Di sebuah lapak yang berantakan penuh barang apkiran, saya menemukan kaset-kaset pita bekas yang usang. Dari kaset dangdut sampai pementasan ludruk; dari DJ sampai musik rock. Ada kumpulan lagu rock Rod Stewart dengan label: The Best of Rod Stewart di samping 20 Mega Hits Meggi Z, All Stars Dee Jay Show, dan Rebut Balung jula-juli Kartolo. “Itu semua masih bisa diputar, Mas,” ujar penjualnya dengan nada meyakinkan saat saya memegangi kaset-kaset audio karatan itu.

***

HARI kian terik. Pasar tak kunjung sepi. Dari sejak memarkir motor, saya mendengar banyak orang berbahasa Madura—atau setidaknya berlogat Madura. Tampaknya memang banyak orang Madura yang menjadi pedagang maupun pembeli di pasar ini. Bubutan tak jauh dari Suramadu, hanya setengah jam perjalanan. Itu memungkinkan orang-orang Madura bolak-balik untuk berdagang maupun berbelanja di sini. Di Surabaya bagian utara, orang-orang Madura seperti hidup di kampung halaman sendiri. Surabaya bagi orang Madura seperti halaman belakang saja.

Dan migrasi di Jawa merupakan bagian dari sejarah orang-orang Blok-M—sebutan semena-mena (untuk tidak mengatakan rasis) yang disematkan kebanyakan orang Surabaya kepada orang-orang Madura. Bayangkan, pada 1806 sudah banyak orang Madura yang tinggal di desa-desa di Pasuruan, Probolinggo, Puger, sampai Panarukan.

Sebuah lapak di Pasar Maling yang ramai dikerubuti pengunjung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pada 1846, populasi orang Madura di Surabaya, Gresik, dan Sedayu kurang lebih 240.000 jiwa. Laporan dari Sumenep pada 1857 mencatat, bahwa setiap tahun 20.000 orang meminta izin untuk meninggalkan Pulau Madura. Mereka lebih banyak menempati afdeling-afdeling Jawa Timur sebelah timur. Di Probolinggo, misalnya, pertumbuhan etnis Madura yang besar telah terjadi sejak 1855 M.

Dalam artikel panjang “Urbanisasi dan Migrasi di Karesidenan Surabaya pada Akhir Abad ke 19 dan Awal Abad ke-20”, yang terhimpun dalam buku Kota-Kota di Jawa, Sigit Wahyudi menulis mayoritas kaum migran di Surabaya berasal dari Madura. Diperkirakan 1/3 penduduk Surabaya dan Gresik merupakan keturunan orang-orang Madura.

Lapak batu akik, pipa rokok, dan berbagai pusaka di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya menerobos himpitan orang-orang, berjalan sampai ujung utara Pasar Maling Surabaya. Di sana saya sempat singgah di lapak seorang bapak-bapak Madura bermata lelah yang menjajakan batu akik, pipa rokok (once), dan rupa-rupa pusaka. Saya melihat batu warna-warni, besi Semar Kuning, empring petuk, dan keris-keris kecil bertuliskan Arab di sana. Saya berjongkok di sebelah seorang lelaki tua yang sibuk memperhatikan sebuah cicin batu berwarna biru.

Tumpukan barang-barang bekas yang dijual di sebuah lapak di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sebuah persimpangan jalan saya melangkah ke arah barat, menyusuri trotoar Jalan Indrapura. Di depan kantor DPRD Provinsi Jawa Timur saya mematung. Kenapa gedung ini teronggok dekat sekali dengan Pasar Maling? Sebuah mobil melintas, sedang tepat di depan pagar kantor anggota dewan para pedagang sibuk berjualan. Rupanya, saat akhir pekan, jalan di samping kantor Dewan Perwakilan Rakyat ini menjadi tempat niaga yang ramai. Sementara dari Senin sampai Sabtu, jual-beli mungkin saja pindah ke ruangannya. Bukankah kantor yang megah itu kini serupa pasar?—oh, salah, taman kanan-kanak, kata Gus Dur.

Menjelang siang, saya meninggalkan Pasar Maling tanpa “harta karun” apa pun. Tampaknya saya memang tak pandai berburu. Satu-satunya hal yang saya bawa pulang adalah kenyataan bahwa selain melihat barang-barang masa lalu, yang remuk maupun yang masih berguna, saya juga menemukan wajah-wajah putus asa yang bergelayut di beberapa kepala para pedagang di pasar itu. Tak sedikit dari mereka yang diam, sekadar duduk termenung menunggu pembeli, nyaris tak melakukan apa-apa.

Seorang pedagang yang termangu di lapak jualannya di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Mereka seperti merasa terabaikan, sepi di tengah keramaian. Sedangkan mata-mata itu seperti menyorotkan kehidupan yang penuh kegetiran. Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, kata Bunda Teresa, itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar daripada orang yang tak bisa makan. Kenyataan itu yang saya bawa pulang—dan hanya itu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa
Melihat Wajah Dolly, Kini
Saat Malam Jatuh di Surabaya Barat
Berniaga di Pinggir Lintasan Kereta — Cerita dari “Pasar Ekstrem” Dupak Magersari, Surabaya
Tags: Jawa TimurMadurapasar malingSurabayatraveling
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Next Post

Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co