13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
July 13, 2025
in Tualang
Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Sebuah lapak di Pasar Maling yang ramai dikerubuti pengunjung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Di pasar loak jejak timpa menimpa,
menghapus kau dan aku,
mengingat kau mengingat aku.”

—Goenawan Mohamad, Di Pasar Loak (1994)

“MAU cari HP, Mas?” tanya seorang ibu berwajah sendu kepada saya. “Sini, Mas, dilihat-lihat dulu!” pintanya kemudian. Seperti kena gendam saya menghampiri lapak jualannya. Di atas tikarnya yang buluk segala jenis telepon genggam lawas berjajar rapi. Dari produk Nokia, Sony, sampai Samsung model lama ada dan tersedia. Tak hanya HP bekas, ibu berwajah sendu ini juga jual batrai dan diska lepas. “Semuanya bekas, Mas,” terangnya. Dan, wajah sendu itu seketika berubah tampak kecewa saat saya memutuskan beranjak dari lapaknya tanpa membeli apa-apa.

Pagi itu Jalan Pasar Turi begitu semarak. Di kawasan ini, meminjam istilah Benny Arnas, pagi bukan hanya tentang matahari terbit. Pagi di Bubutan adalah bunyi klakson kereta, deru kendaraan yang bercampur umpatan, denting sendok pada cangkir kopi di warung emperan, dan suara-suara dari pasar-pasar sekitar, seperti di sisi kanan-kiri Jalan Pasar Turi.

Lapak penjual telepon genggam jadul di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sana, pedagang berdesakan. Mereka mendaulat trotoar pejalan dengan tikar-tikar lapak jualan. Sedangkan pengunjung pasar—para pencari harta karun—berjubel di jalan raya, menghambat kendaraan. Suara Rhoma Irama dan Lata Mangeshkar menyembur dari perekam pita tahun 80an, bercampur dengan klakson kendaraan yang menyemut. Pemandangan seperti ini terjadi setidaknya nyaris delapan jam setiap hari. Dari subuh sampai pukul sepuluh, jalan itu penuh sesak, jangan coba-coba melintasinya jika Anda tak mau diumpati orang-orang—meski Anda sebenarnya tidak salah.

Jalan yang membentang di belakang Pasar Turi itu, sejak Orde Baru, dengan semena-mena telah menjelma pasar yang hidup dari pagi sampai siang menjelang. Orang-orang menjuluki pasar ini dengan julukan “Pasar Maling Surabaya”—di daerah Wonokromo juga terdapat pasar dengan sebutan serupa. Banyak orang menyebut pasar loak ini dengan sebutan seperti itu karena barang-barang yang dijual banyak yang tak jelas asal-usulnya—atau beberapa barangkali memang benar-benar hasil curian. Tapi sebagian lainnya percaya itu hanya sekadar julukan belaka, tak ada hubungannya dengan riwayat barang-barang di sana.

Suasana pagi Pasar Maling di Jalan Pasar Turi Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Mengenai keberadaan pasar ini, Pemerintah Surabaya seperti tak bisa berbuat apa-apa. Sebab jika digusur, maka gelombang protes bisa terjadi berhari-hari.

Saya berjalan menyusuri Pasar Maling di Jalan Pasar Turi itu pada Minggu pagi yang hiruk-pikuk. Saya melihat mejikom bekas, boneka tanpa lengan, gawai Cina ketengan yang layarnya ambyar, gitar tanpa senar, kaset pita berjamur, radio rusak, sepatu busuk tanpa sol, sendal tanpa pasangan, dan banyak barang aneh lainnya, berserak di sepanjang pasar di Bubutan, Surabaya, itu. Saya terheran-heran melihatnya.

Tetapi, di antara belantara barang-barang rongsokan itu; di bawah tumpukan benda-benda remuk dan tak berguna itu, kadang terselip mutiara-mutiara macam Seiko, Expedition, Alexander Christie, Diesel, atau Nike, Adidas, Puma, New Balance, Converse, juga Fila, Uniqlo, dan Polo (Ralph Lauren), atau jenama terkenal lainnya yang terkubur di antara tumpukan pakaian bekas yang kondisinya masih memungkinkan untuk bergaya sedangkan harganya tak lebih mahal daripada tiket pesawat Surabaya-Jakarta yang paling murah sekalipun. Tapi, menemukan barang-barang itu seperti berburu harta karun: tak mudah.

Kaset pita bekas di sebuah lapak di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Ini salah satu daya tarik Pasar Maling, Mas. Barang-barang bermerek harganya semurah kacang goreng,” ujar penjual jam bekas dengan berlebihan kepada para pengunjung lapaknya. “Ini ori,” sambungnya, meyakinkan. Nama panggilannya Mas As. Nama lengkapnya tak ada yang tahu. Lelaki paruh baya itu menjajakan Seiko, Expedition, Alexander Christie, sampai Diesel yang entah ia dapat dari mana. Yang jelas, harganya tak lebih mahal dari gawai Cina keluaran terbaru.

Di sebuah lapak yang berantakan penuh barang apkiran, saya menemukan kaset-kaset pita bekas yang usang. Dari kaset dangdut sampai pementasan ludruk; dari DJ sampai musik rock. Ada kumpulan lagu rock Rod Stewart dengan label: The Best of Rod Stewart di samping 20 Mega Hits Meggi Z, All Stars Dee Jay Show, dan Rebut Balung jula-juli Kartolo. “Itu semua masih bisa diputar, Mas,” ujar penjualnya dengan nada meyakinkan saat saya memegangi kaset-kaset audio karatan itu.

***

HARI kian terik. Pasar tak kunjung sepi. Dari sejak memarkir motor, saya mendengar banyak orang berbahasa Madura—atau setidaknya berlogat Madura. Tampaknya memang banyak orang Madura yang menjadi pedagang maupun pembeli di pasar ini. Bubutan tak jauh dari Suramadu, hanya setengah jam perjalanan. Itu memungkinkan orang-orang Madura bolak-balik untuk berdagang maupun berbelanja di sini. Di Surabaya bagian utara, orang-orang Madura seperti hidup di kampung halaman sendiri. Surabaya bagi orang Madura seperti halaman belakang saja.

Dan migrasi di Jawa merupakan bagian dari sejarah orang-orang Blok-M—sebutan semena-mena (untuk tidak mengatakan rasis) yang disematkan kebanyakan orang Surabaya kepada orang-orang Madura. Bayangkan, pada 1806 sudah banyak orang Madura yang tinggal di desa-desa di Pasuruan, Probolinggo, Puger, sampai Panarukan.

Sebuah lapak di Pasar Maling yang ramai dikerubuti pengunjung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pada 1846, populasi orang Madura di Surabaya, Gresik, dan Sedayu kurang lebih 240.000 jiwa. Laporan dari Sumenep pada 1857 mencatat, bahwa setiap tahun 20.000 orang meminta izin untuk meninggalkan Pulau Madura. Mereka lebih banyak menempati afdeling-afdeling Jawa Timur sebelah timur. Di Probolinggo, misalnya, pertumbuhan etnis Madura yang besar telah terjadi sejak 1855 M.

Dalam artikel panjang “Urbanisasi dan Migrasi di Karesidenan Surabaya pada Akhir Abad ke 19 dan Awal Abad ke-20”, yang terhimpun dalam buku Kota-Kota di Jawa, Sigit Wahyudi menulis mayoritas kaum migran di Surabaya berasal dari Madura. Diperkirakan 1/3 penduduk Surabaya dan Gresik merupakan keturunan orang-orang Madura.

Lapak batu akik, pipa rokok, dan berbagai pusaka di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya menerobos himpitan orang-orang, berjalan sampai ujung utara Pasar Maling Surabaya. Di sana saya sempat singgah di lapak seorang bapak-bapak Madura bermata lelah yang menjajakan batu akik, pipa rokok (once), dan rupa-rupa pusaka. Saya melihat batu warna-warni, besi Semar Kuning, empring petuk, dan keris-keris kecil bertuliskan Arab di sana. Saya berjongkok di sebelah seorang lelaki tua yang sibuk memperhatikan sebuah cicin batu berwarna biru.

Tumpukan barang-barang bekas yang dijual di sebuah lapak di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sebuah persimpangan jalan saya melangkah ke arah barat, menyusuri trotoar Jalan Indrapura. Di depan kantor DPRD Provinsi Jawa Timur saya mematung. Kenapa gedung ini teronggok dekat sekali dengan Pasar Maling? Sebuah mobil melintas, sedang tepat di depan pagar kantor anggota dewan para pedagang sibuk berjualan. Rupanya, saat akhir pekan, jalan di samping kantor Dewan Perwakilan Rakyat ini menjadi tempat niaga yang ramai. Sementara dari Senin sampai Sabtu, jual-beli mungkin saja pindah ke ruangannya. Bukankah kantor yang megah itu kini serupa pasar?—oh, salah, taman kanan-kanak, kata Gus Dur.

Menjelang siang, saya meninggalkan Pasar Maling tanpa “harta karun” apa pun. Tampaknya saya memang tak pandai berburu. Satu-satunya hal yang saya bawa pulang adalah kenyataan bahwa selain melihat barang-barang masa lalu, yang remuk maupun yang masih berguna, saya juga menemukan wajah-wajah putus asa yang bergelayut di beberapa kepala para pedagang di pasar itu. Tak sedikit dari mereka yang diam, sekadar duduk termenung menunggu pembeli, nyaris tak melakukan apa-apa.

Seorang pedagang yang termangu di lapak jualannya di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Mereka seperti merasa terabaikan, sepi di tengah keramaian. Sedangkan mata-mata itu seperti menyorotkan kehidupan yang penuh kegetiran. Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, kata Bunda Teresa, itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar daripada orang yang tak bisa makan. Kenyataan itu yang saya bawa pulang—dan hanya itu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa
Melihat Wajah Dolly, Kini
Saat Malam Jatuh di Surabaya Barat
Berniaga di Pinggir Lintasan Kereta — Cerita dari “Pasar Ekstrem” Dupak Magersari, Surabaya
Tags: Jawa TimurMadurapasar malingSurabayatraveling
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Next Post

Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co