14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Jaswanto by Jaswanto
July 10, 2025
in Tualang
Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Diorama perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan Sekutu di Surabaya pada 1945. Diorama statis ini dipajang di lantai 2 Museum Sepuluh November Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan

Rawe-rawe rantas,
malang-malang putung!

—Peribahasa Jawa

—

HARI pecah ketika perang itu dimulai. Pagi itu, Sabtu, 10 November 1945, kapal perang 5th Cruiser Squadron yang dipimpin Real Admiral W. R. Petterson berlabuh di Surabaya dan mulai memborbardir kota dengan meriam-meriamnya. Jenderal Sir Eric Carden Robert Mansergh—perwira senior Angkatan Darat Britania Raya selama Perang Dunia II—memulai serangan setelah ultimatum Inggris tidak digubris arek-arek Surabaya.

Tak hanya di sekitaran pantai, perang juga meletus di lapangan terbang Morokrembangan— vliegkamp yang dibangun Belanda pada tahun 1926, bersebelahan dengan pangkalan/pelabuhan laut Tanjung Perak, Surabaya. Sayang, setelah melalui pertempuran selama dua jam, lapangan itu berhasil dikuasai Inggris dan mulai berfungsi sebagai pendaratan serta lepas landas pesawat-pesawat RAF.

15 ribu serdadu Sekutu mulai merangsek, 18 ribu pejuang—laki-laki-perempuan—Surabaya yang dipimpin Mayjen Sungkono, Mayjen TKR HR Mohammad Mangoendiprojo, Mayjen Moestopo dan tokoh-tokoh penting lainnya, dengan senjata seadanya tak mau kalah. Sekitar pukul 10.00, meriam-meriam arteleri meluncur dari laut dan udara, menyebarkan malapetaka di tengah-tengah kota. Sasarannya adalah Gedung HVA (Handels Vereniging Amsterdam), Viaduk Semut, daerah Pasar Besar, sampai daerah Pasar Turi dan Kemayoran. Belum tengah hari, langit Surabaya sudah gelap. Hari itu, Kota Surabaya menjadi saksi bagaimana kekuasaan telah mengubah kota yang permai menjadi neraka berwarna kesumba.

Hari pertama perang, pasukan pejuang kemerdekaan sempat terdesak. Tapi saat pasukan Sekutu istirahat dan lengah, pada saat itulah mereka menemukan momentum. Arek-arek Suroboyo menyerang dari berbagai titik dan berhasil menumbangkan banyak korban dari pihak Sekutu. Tentara-tentara dengan senjata canggih itu kocar-kacir dan memilih mundur. Kegigihan pejuang di Surabaya membuahkan hasil kemenangan di hari pertama. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!—yang berjurai dipotong, yang menghalangi dipatahkan. “Merdeka atau mati!” teriak Bung Tomo dalam pidatonya yang menggelora. “Membela negara dari penjajah hukumnya fardhu ‘ain [wajib bagi setiap individu],” fatwa KH. Hasyim Asy’ari dalam Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.

Sekutu tak mau kalah. Asmandi dalam buku Pelajar Pejuang (1985) mencatat, pasukan Inggris dan Belanda meningkatkan kekuatannya dengan mendatangkan tank dan persenjataan lain setelah hari pertama perang. Pada minggu ketiga pertempuran, Sekutu berhasil menguasai 4/5 dari Kota Surabaya. Sementara itu, saat sudah benar-benar terdesak, pasukan Indonesia mundur ke wilayah-wilayah sekitar Surabaya—yang jauh dari pusat kota.

Pada Minggu, 2 Desember 1945, perang mulai mereda. Pasukan Sekutu menghentikan serangan. Mereka mendapat banyak kecaman dari dunia internasional dan seruan solidaritas dari sejumlah negara mengalir untuk mendukung perjuangan dan penderitaan rakyat Surabaya.

Patung Soekarno-Hatta di kawasan Tugu Pahlawan, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan

Dalam buku A History of Modern Indonesia (1993), M.C. Ricklefs menulis sekitar 6.000 hingga 16 ribu orang dari pihak Indonesia menjadi korban perang. Sementara pasukan Sekutu yang tewas berkisar 600 hingga 2.000 orang. Stanley Woodburn Kirby dalam buku The War Against Japan (1965) menyampaikan sekitar 200.000 rakyat sipil harus mengungsi ke daerah-daerah yang lebih aman akibat Perang Surabaya. Sedangkan Arsip Inggris mencatat, setidaknya ada 6.135 korban jiwa dari pihak Indonesia. Dan mereka kehilangan Jendral Brigjen Mallaby dan Brigjen Symonds, yang kini dimakamkan di Menteng Pulo, Jakarta, bersama para prajurit Sekutu lainnya.

Meski Indonesia kalah dalam peperangan ini, tapi Inggris menyebut Perang Surabaya (The Battle of Soerabaja) sebagai pengalaman tempur terberat setelah Perang Dunia II—bahkan New York Times edisi 15 November 1945 memberitakan, “serdadu Inggris menjuluki Pertempuran Surabaya sebagai inferno atau neraka di timur Jawa.” Mayor RB Houston dalam What Happened in Java mencatat, orang Surabaya baru dapat digusur dari Surabaya setelah Inggris mengerahkan artileri dan meriam kapal perang dalam 21 hari pertempuran—sebagaimana dikutip Pramodya Ananta Toer.

Semangat juang pasukan Indonesia dalam pertempuran Surabaya sangat berpengaruh besar terhadap perjuangan di daerah-daerah lain di Indonesia. Lord Killearn, Komisioner Istimewa di Asia Tenggara yang pernah ditugaskan Inggris untuk menyelesaikan persoalan di Indonesia, menulis di buku hariannya pada 15 November 1946 bahwa “membiarkan tentara Inggris lebih lama di Indonesia merupakan tindakan bunuh diri.”

***

SAYA berdiri tepat di depan patung Sukarno-Hatta di pintu masuk Tugu Pahlawan, Surabaya, pada Minggu pagi yang ramai, saat seorang ibu “memaksa” anaknya berfoto dengan latar patung yang ikonik itu. Si anak berontak sambil merengek. “Nggak mau! Aku mau main layangan, Bu!” kata anak umur lima tahunan itu. Perempuan berkacamata itu kalah dan menghela napas penyesalan. Ia pasrah. Lalu menggelandang anaknya ke padang-lapang Tugu Pahlawan, tempat anak-anak main bola, layangan, dan lari-larian. Bagi beberapa orang ini tempat bersejarah, tapi tak sedikit pula yang menganggapnya sekadar tempat hiburan.

Diorama peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato di Surabaya 1945. Diorama statis ini dipajang di lantai 2 Museum Sepuluh November Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan

Hampir 80 tahun berlalu, perang telah usai. Tak ada dentum meriam. Tak ada pasir laut yang membuncah. Di bekas Gedung Kempetai yang hancur dilalap meriam Sekutu dari arah Tanjung Perak itu, setiap akhir pekan kini ramai pengunjung. Gedung Kempetai sudah tidak ada, tentu saja, hanya sisa fotonya saja. Tempat itu kini menjelma ruang publik—taman kota—dengan sebuah monumen setinggi 41,15 meter berbentuk lingga atau paku terbalik. Monumen itu dikenal dengan sebutan Tugu Pahlawan—yang menjulang menunjuk langit Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Di kawasan ini, selain Tugu Pahlawan, juga berdiri Museum Sepuluh November yang memajang serba-serbi, jejak-jejak neraka di timur Jawa.

Saya memasukinya saat hari beranjak siang. Di depan pintu masuk museum, saya melihat mobil lawas milik Bung Tomo; mobil merk “Opel Kapitan” 1956 buatan Jerman. Fisiknya tampak masih terawat, tidak seperti mobil I Gusti Ketut Pudja di Museum Buleleng, Bali. Di loket tiket, antrean lumayan panjang. Beruntung, museum ini memiliki layanan tiket online. Jadi, saya tidak perlu repot-repot berdiri mengular seperti kebanyakan orang. Cukup memindai kode batang, satu tiket sudah di tangan. Tunjukan saja foto bukti transaksinya kepada petugas jaga, Anda akan langsung dipersilakan masuk museum tanpa mengantre.

“Delapan ribu satu tiket, Bu,” terang petugas loket kepada seorang ibu muda yang menggendong anaknya—yang sedaritadi rewel di pelukan sang ayah. “Kalau siswa dan mahasiswa gratis. Tinggal tunjukan kartu siswa atau mahasiswa,” sambungnya. Saya mendengarkan dan mengamati dari seberang.

Museum Sepuluh November dibangun dua lantai di bawah tanah dengan atap serupa piramida— seperti atap Museum Louvre di Perancis—berlapis kaca. Pada 10 November 1991, museum yang memiliki luas 1.366 meter persegi dengan kedalaman tujuh meter di bawah permukaan tanah ini mulai dibangun. Namun, baru diresmikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sekira tujuh tahun setelahnya, tepatnya pada 19 Februari 2000.

Di lantai pertama, Anda akan disuguhi situasi pertempuran dan keadaan Kota Surabaya pada masa proklamasi. Di lantai ini terdapat ruang diorama elektronik yang memutar film dan video dokumenter peristiwa bersejarah di Indonesia, khususnya Perang Surabaya. Ruangan ini didesain menyerupai bioskop mini tapi tanpa kursi. Ada tribun beton untuk penonton.

Tetapi, ruangan diorama elektronik itu jelas jauh dari standar pemutaran film. Orang-orang yang bergelut di Minikino, misalnya, bisa tidak jenak saat melihatnya. Dan di lantai ini pula, saya menemukan patung Bung Tomo dan sebuah auditorium—suatu tempat di mana Anda dapat mendengarkan pidato historis Bung Tomo—juga patung besar yang menggambarkan sepuluh pejuang, lambang keberanian dalam menghadapi perang, dan sekelumit tentang sosok Darijah Soerodikoesoemo (Bu Dar Mortir) yang legendaris itu.

Diorama perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan Sekutu di Surabaya pada 1945. Diorama statis ini dipajang di lantai 2 Museum Sepuluh November Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan

Saya naik ke lantai dua. Dan saya disambut foto tokoh-tokoh penting selama Pertempuran Surabaya berlangsung yang tertempel di piramida terbalik yang menggantung di tengah-tengah di bawah atap kerucut. Ada banyak sosok di sana, di antaranya KH. Hasim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Mas Mansur, Mustopo, RM. Jono Sewopo, Prawiro Soedirdjo, Ruslan Abdul Gani, dan sejumlah tokoh lainnya termasuk Soekarno dan Hatta—yang gambarnya dicetak paling besar di antara gambar tokoh lainnya.

Berbeda dengan lantai satu, lantai dua Museum Sepuluh November berisi hiasan dan barang bersejarah berupa senjata tinggalan pasukan Inggris-Belanda; senjata Arek-arek Suroboyo; perintilan-perintilan perang macam helm, geranat, wadah minuman, peluru, dan sebagainya; catatan harian Bung Tomo; benda-benda pribadi tinggalan pejuang; serta peralatan medis yang digunakan kala itu. Tapi seperti lantai satu, di sini juga terdapat ruang diorama statis—yang di antara menampilkan perundingan Soekarno dan Hatta dengan pihak Sekutu, peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, kapal Sekutu di perairan Surabaya, dan peristiwa penting lainnya—dan diorama dapur umum semasa perang.

***

“INI sepertinya replika Perjanjian Meja Bundar ini,” celetuk seorang ibu kepada anaknya. “Ayo foto dan catat,” perintahnya kemudian. Sang anak yang umurnya sekira sepuluh tahunan itu membuka buku dan mulai mencatat penjelasann sang ibu. Sepertinya ia sedang mendapat tugas dari sekolah.

Saya tahu apa yang dikatakan ibu itu jelas salah. Diorama yang ia maksud tentu saja bukan menunjukkan peristiwa Perjanjian Meja Bundar (KMB) yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda, jauh setelah Perang Surabaya. Itu jelas saat Soekarno dan Hatta, bersama Amir Sjarifuddin (yang saat itu menjabat sebagai Menteri Penerangan), Gubernur Suryo, Residen Sudirman, Doel Arnowo, Soengkono, Atmaji, dan Sumarsono berunding dengan pihak Sekutu yang diwakili Mayor Jendral Hawtorn yang didampingi Brigadir Jendral Mallaby dan Kolonel Pugh sebelum Perang Surabaya meletus. 

Tetapi ibu itu tidak sepenuhnya salah. Toh memang tak ada keterangan apa-apa tentang diorama di balik kaca itu. Jadi, pihak museumlah yang patut disalahkan. Dan itu artinya, Museum Sepuluh November—pun museum-museum lain di daerah di seluruh Indonesia—saya kira harus segera berbenah, perlu diubah, dan perlu reimajinasi agar lebih relevan dengan kebutuhan saat ini. Hal-hal mengenai desain, reprogramming, redesigning, dan reinvigorating harus segera ditinjau ulang. Museum perlu didesain agar lebih akrab dengan semua kalangan, khsususnya anak-anak, dan bisa mengomunikasikan kotennya dengan baik supaya tidak ada informasi yang keliru—atau lebih banyak orang tua yang salah memberitahu anak-anaknya.

Foto-foto pejuang Pertempuran Surabaya di Museum Sepuluh November Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan

Dan untuk Museum Sepuluh November, narasi soal pejuang perempuan dalam Pertempuran Surabaya sepertinya perlu ditebalkan, kalau perlu diberi ruang atau sudut khusus sebagai penegasan bahwa perempuan—sebut saja Lukitaningsih, Riet, Darijah Soerodikoesoemo (Bu Dar Mortir), dll—juga ikut andil di antara desing peluru dan lontaran mortir, di garda depan maupun belakang, dalam perjuangan mempertahankan Kota Surabaya dari gempuran Sekutu.

Jadi, rasanya museum memang perlu memprogram kembali kuratorial dan koleksinya untuk meningkatkan interaksi dan pengetahuan sejarah yang utuh, komprehensif; juga memaknainya sebagai ruang kata kerja yang bergerak aktif, bukan bangunan kata benda yang diam statis, dingin, dan seram. “Sebab museum bukan hanya tempat untuk berkunjung dan mendapatkan pengetahuan, tetapi juga tempat bagi masyarakat menemukan kembali jati dirinya,” ujar Hilmar Farid saat masih menjabat sebagai Dirjen Kebudayaan.

Namun, jika demikian, di balik otak pragmatis politik, apakah pembangunan museum dengan serius dapat menarik investasi atau mendatangan keuntungan ekonomi? Penting bagi pemerintah untuk membuat pembedaan antara keuntungan (profit) dan manfaat (benefit). Investasi yang mungkin lambat menghasilkan keuntungan finansial bisa jadi sangat cepat membawa manfaat sosial.

Museum menyimpan segala hal yang berkaitan dengan gerak sejarah, ingatan kolektif, dan—kalau boleh agak berlebihan—jati diri sebuah bangsa (peradaban), seperti kata Hilmar Farid. Oleh karena itu, negara atau pemerintah di daerah harus mulai memikirkan rumusan untuk mengonversi social return dan cultural return itu secara finansial—di beberapa negara perhitungan tersebut sudah menjadi bagian dalam pembuatan kebijakan pembangunan secara umum dan khususnya di bidang pembangunan infrastruktur kebudayaan.

Beberapa foto arsip seputar Pertempuran Surabaya di Museum Sepuluh November | Foto: tatkala.co/Jaswan

Saat ini, banyak orang mengetahuinya, banyak infrastruktur kebudayaan—termasuk museum-museum—kita masih jauh dari memadai, apalagi untuk menghasilkan nilai sosial dan budaya yang bisa berkontribusi pada perekonomian secara umum. Di Museum Buleleng, misalnya, tak ada satu pun kamera pengawas yang dapat memantau keamanan koleksi benda-benda bersejarah. Ini membuktikan bahwa urusan museum (baca: sejarah dan kebudayaan di sampingnya) masih kalah dengan program bagi-bagi sembako atau program makan bergizi gratis.

Kerja-kerja pengarsipan, penggalian dan perawatan benda-benda bersejarah sepertinya memang tidak lebih penting dan populer daripada program-program populis macam bedah rumah di negara ini. Muhidin M. Dahlan dalam bukunya Politik Tanpa Dokumen (2018) menyebut Indonesia sebagai “bangsa perusak. Bangsa yang tak punya mental merawat. Apa pun akan dirusaknya jika itu tak memberi keuntungan pragmatis. Tak peduli, bahkan milik berharga Proklamator Indonesia. Dua warisan dari dua bapak pendiri bangsa itu, sepanjang reformasi, terkubur satu-satu.” Artinya, dalam hal ini, kita masih punya pekerjaan rumah yang sangat banyak.

Saya kira, museum kini perlu sistem manajemen yang lebih tangkas dan bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman serta tenaga profesional yang mumpuni untuk fungsi kuratorial, artistik, sistem informasi, penelitian, dan administrasi. Perencanaan menyeluruh dan berwawasan jauh ke depan tentu sangat esensial, tetapi yang tidak kalah penting adalah komitmen dari semua pihak yang terlibat dan kesadaran bahwa semua ini adalah usaha bersama—sebuah gotong royong kebudayaan.

Berpose dengan latar Tugu Pahlawan Surabaya | Foto: Dok. Jaswan

Surabaya sangat terik. Saya keluar museum dan duduk di kantin depan pintu keluar. Dari kejauhan saya memandang patung-patung pahlawan yang berdiri di dekat pagar tembok kawasan Tugu Pahlawan. Dari sorot matanya, patung-patung itu seolah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Saya menandaskan sebotol air mineral.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Melihat Wajah Dolly, Kini
Berniaga di Pinggir Lintasan Kereta — Cerita dari “Pasar Ekstrem” Dupak Magersari, Surabaya
Saat Malam Jatuh di Surabaya Barat
Puspa Sari, Legenda Bus Malam Singaraja-Surabaya, Melaju Sejak 1976
Rujak Cingur Bu Mah, Kuliner Hibrid yang Unik dan Legendaris di Pasar Atom Surabaya
Tags: HattaMuseumsejarahSoekarnoSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menuai Badai di Surabaya—Dari Diskusi Novel “Menuai Badai” Karya Putu Juli Sastrawan

Next Post

Sanggar Tari Ayodya Pala Jawa Barat Pentaskan “Rimbun Rimba Harmoni Alam Nusantara” di Pesta Kesenian Bali 2025

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Sanggar Tari Ayodya Pala Jawa Barat Pentaskan “Rimbun Rimba Harmoni Alam Nusantara” di Pesta Kesenian Bali 2025

Sanggar Tari Ayodya Pala Jawa Barat Pentaskan "Rimbun Rimba Harmoni Alam Nusantara" di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co