3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menuai Badai di Surabaya—Dari Diskusi Novel “Menuai Badai” Karya Putu Juli Sastrawan

Jaswanto by Jaswanto
July 10, 2025
in Khas
Menuai Badai di Surabaya—Dari Diskusi Novel “Menuai Badai” Karya Putu Juli Sastrawan

Putu Juli Sastrawan saat menjelaskan proses kreatifnya dalam bendah novel "Menuai Badai" di Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

BARANGKALI Surabaya bisa jadi salah satu kota yang cocok membahas tragedi 65—atau yang sering orang sebut G30S. Di kota ini, Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah, katakanlah, menjadi “penguasa” Surabaya pada Pemilu 1955. Bahkan, dua kader PKI—dr. Satrio Sastrodiredjo dan Moerachman—pernah menjabat sebagai wali kota Surabaya selama dua periode berturut-turut. PKI cukup bernyawa di kota ini. Namun, setelah peristiwa 30 September—atau 1 Oktober—1965 itu pecah, sebagaimana Surakarta, Bali, atau kota-kota lain di Indonesia, orang-orang PKI di Surabaya juga tak luput dari peluru dan parang yang berkilat.

Paragraf di atas bergelayut di kepala saya saat perjalanan dari Pakal menuju Tegalsari pada siang yang gerah dan macet. Saya diantar sopir ojek online yang ramah ke C2O Library & Collabtive di Tegalsari, tempat novel Menuai Badai (2025) karya Putu Juli Sastrawan dibedah dan dibicarakan, Rabu (9/7/2025). Novel tipis itu bercerita tentang trauma 65.

Di ruang belakang Perpustakan C2O, Juli duduk di depan beberapa orang yang siap mendengar apa dan bagaimana novel terbarunya itu lahir. Ini buku ketiga Juli, sependek ingatan saya. Buku pertamanya kumpulan cerpen Lelaki Kantong Sperma (2018) lalu yang kedua novel berjudul Kulit Kera Piduka. “Aku tertarik dengan isu ’65 karena sering mendengar cerita dari orang-orang tua di rumah dan beberapa teman di tongkrongan,” ujar Juli saat menjawab pertanyaan Fioriza—pemantik diskusi pada siang itu.

Putu Juli Sastrawan saat menjelaskan proses kreatifnya dalam bendah novel “Menuai Badai” di Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Proses Menuai Badai tidak sebentar. Juli perlu riset mendalam untuk itu. Dari mulai baca buku-buku tentang peristiwa 65 sampai mencari surat kabar yang memberitakan serba-serbi tragedi tersebut. Kisaran 2022 Juli sudah mulai bertungkus lumus dengan bacaan-bacaan macam Tahun yang Tak Pernah Berakhir (2004), Dalih Pembunuhan Massal (2006), dan Riwayat Terkubur (2024) dari John Roosa; lalu The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966 (2004) Robert Cribb—karya pertama tentang diskursus genosida 1965 yang ia baca; dan bacaan lain seperti Metode Jakarta (2020) Vincent Bevins, Tiada Jalan Bertabur Bunga-nya Gregorius Goenito, dst. Semua bacaan itu menguatkan Juli untuk menulis dan menyelesaikan novel Menuai Badai.

Menuai Badai tentu saja bukan novel pertama yang mengangkat genosida 1965. Jauh sebelum novel tipis ini terbit sudah ada misalnya Ronggeng Dukuh Paruk (1982) dan Kubah (1980) karya Ahmad Tohari; atau Jalan Bandungan (1989) N.H. Dini, lalu Durga Umayi (1991) Y.B. Mangunwijaya, belakangan Pulang (2013) Leila S. Chudori—yang populer itu; dll. Tetapi Menuai Badai tetap mewarkan sesuatu yang baru. “Aku mengambil sudut pandang dari pelaku jagal. Selama ini sudah banyak karya [buku atau film] yang menjadikan korban sebagai tokoh utama,” terang Juli.

Benar. Novel ini menceritakan riwayat Kandar, salah satu jagal pada genosida 1965, yang merasa dihantui banyak orang. Kandar dianggap gila oleh banyak orang—karena kelakuannya yang tak biasa. Ia selalu mengenakan baret kusam dan di balik setiap celana yang dikenakannya ia masih memakai celana panjang loreng-loreng yang diikat tali rafia di ujung. Jika tidak, konon, hantu-hantu itu akan mendatangi dan mengusiknya.

Menuai Badai adalah—seperti dijelaskan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), penerbit novel ini—kisah seorang yang diseret masa lalu, tentang tubuh sebagai arsip, seragam sebagai simbol kuasa, serta sejarah yang bengkok dan tak pernah benar-benar berhasil diluruskan.

‘65 yang Masih Menarik Dibicarakan

Dalam forum kecil di Perpustakaan C2O itu, genosida 65 rupanya masih menarik untuk dibicarakan. Pemuda-pemudi yang hadir menunjukan antusiasme tersebut. Hampir semua peserta diskusi merasa sejarah Indonesia seputar 1965 masih remang bahkan berkabut. Banyak dari mereka mengaku tak mendapat pengetahuan secara komprehensif dari guru sejarah di sekolah maupun universitas. Mereka harus belajar keluar kelas untuk mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya peristiwa 65 itu terjadi.

“Sebelum novelku terbit, aku sempat nyebar semacam kuesioner tentang genosida 65 kepada gen-Z dan hasilnya mengejutkan. 1000 orang lebih yang mersponnya,” Juli menegaskan bahwa kronik 65 masih menyisakan sesuatu yang belum selesai.

Selama bertahun-tahun, Pemerintah Indonesia, khususnya Orde Baru, dengan berbagai cara seperti ingin sekali mengubur sejarah kelam itu—atau paling tidak membelokkannya dengan narasi bahwa Partai Komunis Indonesia adalah dalang di balik gugurnya para jendral dan dengan begitu orang-orang PKI halal darahnya untuk dibunuh. Pemerintah seolah merasa tidak bersalah atas pertiwa yang menjadi akhir dari hikayat PKI di Indonesia dan, tentu saja, Presiden Soekarno.

Dan hegemoni pemerintah nyatanya cukup kuat-melekat di benak mayoritas masyarakat Indonesia dari Orde Baru sampai sekarang. Melalui buku-buku, film, dan mitos-mitos rekaan Orde Baru berhasil menjadikan PKI sebagai monster jahat yang menakutkan dan tidak pantas ada di muka bumi ini—meski belakangan banyak generasi muda yang mulai skeptis terhadap, katakanlah, narasi tunggal pemerintah itu. Jadilah banyak pemuda yang mulai mencoba membongkar atau menyusun pecahan-pecahan sejarah Indonesia seputar 1965.

Cover novel “Menuai Badai” karya Putu Juli Sastrawan | Foto: Gramedia

“Aku tertarik dengan sejarah seputar 1965 karena selama ini aku merasa dibohongi,” ujar salah satu peserta diskusi Menuai Badai. “Dan sangat mengejutkan setelah membaca buku-buku sejarah di luar sekolah,” kata pesarta yang lain.

Banyak pemuda mulai mencari-cari bacaan tentang 1965 karena merasa tidak puas atas informasi yang didapat selama di sekolah atau di kampus. Mereka berburu novel sampai buku-buku babon yang berat—walaupun tak sedikit yang cukup mengoreknya di YouTube atau media sosial lainnya atau artikel-artikel yang tercecer di internet. Dan saya pikir, antusiasme semacam ini harus terus dipantik.

Peristiwa 1965 memang masih banyak menyimpan teka-teki. Pro-kontra antara siapa pelaku dan korban masih belum tuntas sampai saat ini. Siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa 65 dan bagaimana mereka bisa lolos dari jerat hukum juga masih menjadi misteri.  Dan itu pula yang menjadi alasan kenapa tragedi kemanusiaan yang besar ini masih menjadi magnet diskusi.

Artinya, peristiwa 65 masih menarik untuk dibahas karena dampaknya yang luas dan mendalam terhadap sejarah Indonesia, serta masih menjadi topik yang kontroversial dan penuh perdebatan hingga saat ini. Peristiwa ini  perlu diajarkan secara lebih komprehensif di sekolah, agar generasi muda dapat memahami sejarah bangsa secara lebih utuh. Dengan membahas peristiwa 65 secara terbuka dan kritis, diharapkan Indonesia dapat mencapai rekonsiliasi, pemulihan, dan keadilan bagi para korban, serta membangun masa depan yang lebih baik.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali
Yang Menegang Ketika Mengoleskan Ramuan Perangsang Kulit Kera Piduka || Semacam Respon Teks yang Hadir Kemudian
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha
Tags: G30SMenua BadainovelPKIPutu Juli Sastrawansastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, di Antara Pesona dan Luka

Next Post

Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails
Next Post
Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co