2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menuai Badai di Surabaya—Dari Diskusi Novel “Menuai Badai” Karya Putu Juli Sastrawan

Jaswanto by Jaswanto
July 10, 2025
in Khas
Menuai Badai di Surabaya—Dari Diskusi Novel “Menuai Badai” Karya Putu Juli Sastrawan

Putu Juli Sastrawan saat menjelaskan proses kreatifnya dalam bendah novel "Menuai Badai" di Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

BARANGKALI Surabaya bisa jadi salah satu kota yang cocok membahas tragedi 65—atau yang sering orang sebut G30S. Di kota ini, Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah, katakanlah, menjadi “penguasa” Surabaya pada Pemilu 1955. Bahkan, dua kader PKI—dr. Satrio Sastrodiredjo dan Moerachman—pernah menjabat sebagai wali kota Surabaya selama dua periode berturut-turut. PKI cukup bernyawa di kota ini. Namun, setelah peristiwa 30 September—atau 1 Oktober—1965 itu pecah, sebagaimana Surakarta, Bali, atau kota-kota lain di Indonesia, orang-orang PKI di Surabaya juga tak luput dari peluru dan parang yang berkilat.

Paragraf di atas bergelayut di kepala saya saat perjalanan dari Pakal menuju Tegalsari pada siang yang gerah dan macet. Saya diantar sopir ojek online yang ramah ke C2O Library & Collabtive di Tegalsari, tempat novel Menuai Badai (2025) karya Putu Juli Sastrawan dibedah dan dibicarakan, Rabu (9/7/2025). Novel tipis itu bercerita tentang trauma 65.

Di ruang belakang Perpustakan C2O, Juli duduk di depan beberapa orang yang siap mendengar apa dan bagaimana novel terbarunya itu lahir. Ini buku ketiga Juli, sependek ingatan saya. Buku pertamanya kumpulan cerpen Lelaki Kantong Sperma (2018) lalu yang kedua novel berjudul Kulit Kera Piduka. “Aku tertarik dengan isu ’65 karena sering mendengar cerita dari orang-orang tua di rumah dan beberapa teman di tongkrongan,” ujar Juli saat menjawab pertanyaan Fioriza—pemantik diskusi pada siang itu.

Putu Juli Sastrawan saat menjelaskan proses kreatifnya dalam bendah novel “Menuai Badai” di Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Proses Menuai Badai tidak sebentar. Juli perlu riset mendalam untuk itu. Dari mulai baca buku-buku tentang peristiwa 65 sampai mencari surat kabar yang memberitakan serba-serbi tragedi tersebut. Kisaran 2022 Juli sudah mulai bertungkus lumus dengan bacaan-bacaan macam Tahun yang Tak Pernah Berakhir (2004), Dalih Pembunuhan Massal (2006), dan Riwayat Terkubur (2024) dari John Roosa; lalu The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966 (2004) Robert Cribb—karya pertama tentang diskursus genosida 1965 yang ia baca; dan bacaan lain seperti Metode Jakarta (2020) Vincent Bevins, Tiada Jalan Bertabur Bunga-nya Gregorius Goenito, dst. Semua bacaan itu menguatkan Juli untuk menulis dan menyelesaikan novel Menuai Badai.

Menuai Badai tentu saja bukan novel pertama yang mengangkat genosida 1965. Jauh sebelum novel tipis ini terbit sudah ada misalnya Ronggeng Dukuh Paruk (1982) dan Kubah (1980) karya Ahmad Tohari; atau Jalan Bandungan (1989) N.H. Dini, lalu Durga Umayi (1991) Y.B. Mangunwijaya, belakangan Pulang (2013) Leila S. Chudori—yang populer itu; dll. Tetapi Menuai Badai tetap mewarkan sesuatu yang baru. “Aku mengambil sudut pandang dari pelaku jagal. Selama ini sudah banyak karya [buku atau film] yang menjadikan korban sebagai tokoh utama,” terang Juli.

Benar. Novel ini menceritakan riwayat Kandar, salah satu jagal pada genosida 1965, yang merasa dihantui banyak orang. Kandar dianggap gila oleh banyak orang—karena kelakuannya yang tak biasa. Ia selalu mengenakan baret kusam dan di balik setiap celana yang dikenakannya ia masih memakai celana panjang loreng-loreng yang diikat tali rafia di ujung. Jika tidak, konon, hantu-hantu itu akan mendatangi dan mengusiknya.

Menuai Badai adalah—seperti dijelaskan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), penerbit novel ini—kisah seorang yang diseret masa lalu, tentang tubuh sebagai arsip, seragam sebagai simbol kuasa, serta sejarah yang bengkok dan tak pernah benar-benar berhasil diluruskan.

‘65 yang Masih Menarik Dibicarakan

Dalam forum kecil di Perpustakaan C2O itu, genosida 65 rupanya masih menarik untuk dibicarakan. Pemuda-pemudi yang hadir menunjukan antusiasme tersebut. Hampir semua peserta diskusi merasa sejarah Indonesia seputar 1965 masih remang bahkan berkabut. Banyak dari mereka mengaku tak mendapat pengetahuan secara komprehensif dari guru sejarah di sekolah maupun universitas. Mereka harus belajar keluar kelas untuk mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya peristiwa 65 itu terjadi.

“Sebelum novelku terbit, aku sempat nyebar semacam kuesioner tentang genosida 65 kepada gen-Z dan hasilnya mengejutkan. 1000 orang lebih yang mersponnya,” Juli menegaskan bahwa kronik 65 masih menyisakan sesuatu yang belum selesai.

Selama bertahun-tahun, Pemerintah Indonesia, khususnya Orde Baru, dengan berbagai cara seperti ingin sekali mengubur sejarah kelam itu—atau paling tidak membelokkannya dengan narasi bahwa Partai Komunis Indonesia adalah dalang di balik gugurnya para jendral dan dengan begitu orang-orang PKI halal darahnya untuk dibunuh. Pemerintah seolah merasa tidak bersalah atas pertiwa yang menjadi akhir dari hikayat PKI di Indonesia dan, tentu saja, Presiden Soekarno.

Dan hegemoni pemerintah nyatanya cukup kuat-melekat di benak mayoritas masyarakat Indonesia dari Orde Baru sampai sekarang. Melalui buku-buku, film, dan mitos-mitos rekaan Orde Baru berhasil menjadikan PKI sebagai monster jahat yang menakutkan dan tidak pantas ada di muka bumi ini—meski belakangan banyak generasi muda yang mulai skeptis terhadap, katakanlah, narasi tunggal pemerintah itu. Jadilah banyak pemuda yang mulai mencoba membongkar atau menyusun pecahan-pecahan sejarah Indonesia seputar 1965.

Cover novel “Menuai Badai” karya Putu Juli Sastrawan | Foto: Gramedia

“Aku tertarik dengan sejarah seputar 1965 karena selama ini aku merasa dibohongi,” ujar salah satu peserta diskusi Menuai Badai. “Dan sangat mengejutkan setelah membaca buku-buku sejarah di luar sekolah,” kata pesarta yang lain.

Banyak pemuda mulai mencari-cari bacaan tentang 1965 karena merasa tidak puas atas informasi yang didapat selama di sekolah atau di kampus. Mereka berburu novel sampai buku-buku babon yang berat—walaupun tak sedikit yang cukup mengoreknya di YouTube atau media sosial lainnya atau artikel-artikel yang tercecer di internet. Dan saya pikir, antusiasme semacam ini harus terus dipantik.

Peristiwa 1965 memang masih banyak menyimpan teka-teki. Pro-kontra antara siapa pelaku dan korban masih belum tuntas sampai saat ini. Siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa 65 dan bagaimana mereka bisa lolos dari jerat hukum juga masih menjadi misteri.  Dan itu pula yang menjadi alasan kenapa tragedi kemanusiaan yang besar ini masih menjadi magnet diskusi.

Artinya, peristiwa 65 masih menarik untuk dibahas karena dampaknya yang luas dan mendalam terhadap sejarah Indonesia, serta masih menjadi topik yang kontroversial dan penuh perdebatan hingga saat ini. Peristiwa ini  perlu diajarkan secara lebih komprehensif di sekolah, agar generasi muda dapat memahami sejarah bangsa secara lebih utuh. Dengan membahas peristiwa 65 secara terbuka dan kritis, diharapkan Indonesia dapat mencapai rekonsiliasi, pemulihan, dan keadilan bagi para korban, serta membangun masa depan yang lebih baik.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali
Yang Menegang Ketika Mengoleskan Ramuan Perangsang Kulit Kera Piduka || Semacam Respon Teks yang Hadir Kemudian
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha
Tags: G30SMenua BadainovelPKIPutu Juli Sastrawansastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, di Antara Pesona dan Luka

Next Post

Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co