14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menuai Badai di Surabaya—Dari Diskusi Novel “Menuai Badai” Karya Putu Juli Sastrawan

Jaswanto by Jaswanto
July 10, 2025
in Khas
Menuai Badai di Surabaya—Dari Diskusi Novel “Menuai Badai” Karya Putu Juli Sastrawan

Putu Juli Sastrawan saat menjelaskan proses kreatifnya dalam bendah novel "Menuai Badai" di Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

BARANGKALI Surabaya bisa jadi salah satu kota yang cocok membahas tragedi 65—atau yang sering orang sebut G30S. Di kota ini, Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah, katakanlah, menjadi “penguasa” Surabaya pada Pemilu 1955. Bahkan, dua kader PKI—dr. Satrio Sastrodiredjo dan Moerachman—pernah menjabat sebagai wali kota Surabaya selama dua periode berturut-turut. PKI cukup bernyawa di kota ini. Namun, setelah peristiwa 30 September—atau 1 Oktober—1965 itu pecah, sebagaimana Surakarta, Bali, atau kota-kota lain di Indonesia, orang-orang PKI di Surabaya juga tak luput dari peluru dan parang yang berkilat.

Paragraf di atas bergelayut di kepala saya saat perjalanan dari Pakal menuju Tegalsari pada siang yang gerah dan macet. Saya diantar sopir ojek online yang ramah ke C2O Library & Collabtive di Tegalsari, tempat novel Menuai Badai (2025) karya Putu Juli Sastrawan dibedah dan dibicarakan, Rabu (9/7/2025). Novel tipis itu bercerita tentang trauma 65.

Di ruang belakang Perpustakan C2O, Juli duduk di depan beberapa orang yang siap mendengar apa dan bagaimana novel terbarunya itu lahir. Ini buku ketiga Juli, sependek ingatan saya. Buku pertamanya kumpulan cerpen Lelaki Kantong Sperma (2018) lalu yang kedua novel berjudul Kulit Kera Piduka. “Aku tertarik dengan isu ’65 karena sering mendengar cerita dari orang-orang tua di rumah dan beberapa teman di tongkrongan,” ujar Juli saat menjawab pertanyaan Fioriza—pemantik diskusi pada siang itu.

Putu Juli Sastrawan saat menjelaskan proses kreatifnya dalam bendah novel “Menuai Badai” di Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Proses Menuai Badai tidak sebentar. Juli perlu riset mendalam untuk itu. Dari mulai baca buku-buku tentang peristiwa 65 sampai mencari surat kabar yang memberitakan serba-serbi tragedi tersebut. Kisaran 2022 Juli sudah mulai bertungkus lumus dengan bacaan-bacaan macam Tahun yang Tak Pernah Berakhir (2004), Dalih Pembunuhan Massal (2006), dan Riwayat Terkubur (2024) dari John Roosa; lalu The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966 (2004) Robert Cribb—karya pertama tentang diskursus genosida 1965 yang ia baca; dan bacaan lain seperti Metode Jakarta (2020) Vincent Bevins, Tiada Jalan Bertabur Bunga-nya Gregorius Goenito, dst. Semua bacaan itu menguatkan Juli untuk menulis dan menyelesaikan novel Menuai Badai.

Menuai Badai tentu saja bukan novel pertama yang mengangkat genosida 1965. Jauh sebelum novel tipis ini terbit sudah ada misalnya Ronggeng Dukuh Paruk (1982) dan Kubah (1980) karya Ahmad Tohari; atau Jalan Bandungan (1989) N.H. Dini, lalu Durga Umayi (1991) Y.B. Mangunwijaya, belakangan Pulang (2013) Leila S. Chudori—yang populer itu; dll. Tetapi Menuai Badai tetap mewarkan sesuatu yang baru. “Aku mengambil sudut pandang dari pelaku jagal. Selama ini sudah banyak karya [buku atau film] yang menjadikan korban sebagai tokoh utama,” terang Juli.

Benar. Novel ini menceritakan riwayat Kandar, salah satu jagal pada genosida 1965, yang merasa dihantui banyak orang. Kandar dianggap gila oleh banyak orang—karena kelakuannya yang tak biasa. Ia selalu mengenakan baret kusam dan di balik setiap celana yang dikenakannya ia masih memakai celana panjang loreng-loreng yang diikat tali rafia di ujung. Jika tidak, konon, hantu-hantu itu akan mendatangi dan mengusiknya.

Menuai Badai adalah—seperti dijelaskan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), penerbit novel ini—kisah seorang yang diseret masa lalu, tentang tubuh sebagai arsip, seragam sebagai simbol kuasa, serta sejarah yang bengkok dan tak pernah benar-benar berhasil diluruskan.

‘65 yang Masih Menarik Dibicarakan

Dalam forum kecil di Perpustakaan C2O itu, genosida 65 rupanya masih menarik untuk dibicarakan. Pemuda-pemudi yang hadir menunjukan antusiasme tersebut. Hampir semua peserta diskusi merasa sejarah Indonesia seputar 1965 masih remang bahkan berkabut. Banyak dari mereka mengaku tak mendapat pengetahuan secara komprehensif dari guru sejarah di sekolah maupun universitas. Mereka harus belajar keluar kelas untuk mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya peristiwa 65 itu terjadi.

“Sebelum novelku terbit, aku sempat nyebar semacam kuesioner tentang genosida 65 kepada gen-Z dan hasilnya mengejutkan. 1000 orang lebih yang mersponnya,” Juli menegaskan bahwa kronik 65 masih menyisakan sesuatu yang belum selesai.

Selama bertahun-tahun, Pemerintah Indonesia, khususnya Orde Baru, dengan berbagai cara seperti ingin sekali mengubur sejarah kelam itu—atau paling tidak membelokkannya dengan narasi bahwa Partai Komunis Indonesia adalah dalang di balik gugurnya para jendral dan dengan begitu orang-orang PKI halal darahnya untuk dibunuh. Pemerintah seolah merasa tidak bersalah atas pertiwa yang menjadi akhir dari hikayat PKI di Indonesia dan, tentu saja, Presiden Soekarno.

Dan hegemoni pemerintah nyatanya cukup kuat-melekat di benak mayoritas masyarakat Indonesia dari Orde Baru sampai sekarang. Melalui buku-buku, film, dan mitos-mitos rekaan Orde Baru berhasil menjadikan PKI sebagai monster jahat yang menakutkan dan tidak pantas ada di muka bumi ini—meski belakangan banyak generasi muda yang mulai skeptis terhadap, katakanlah, narasi tunggal pemerintah itu. Jadilah banyak pemuda yang mulai mencoba membongkar atau menyusun pecahan-pecahan sejarah Indonesia seputar 1965.

Cover novel “Menuai Badai” karya Putu Juli Sastrawan | Foto: Gramedia

“Aku tertarik dengan sejarah seputar 1965 karena selama ini aku merasa dibohongi,” ujar salah satu peserta diskusi Menuai Badai. “Dan sangat mengejutkan setelah membaca buku-buku sejarah di luar sekolah,” kata pesarta yang lain.

Banyak pemuda mulai mencari-cari bacaan tentang 1965 karena merasa tidak puas atas informasi yang didapat selama di sekolah atau di kampus. Mereka berburu novel sampai buku-buku babon yang berat—walaupun tak sedikit yang cukup mengoreknya di YouTube atau media sosial lainnya atau artikel-artikel yang tercecer di internet. Dan saya pikir, antusiasme semacam ini harus terus dipantik.

Peristiwa 1965 memang masih banyak menyimpan teka-teki. Pro-kontra antara siapa pelaku dan korban masih belum tuntas sampai saat ini. Siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa 65 dan bagaimana mereka bisa lolos dari jerat hukum juga masih menjadi misteri.  Dan itu pula yang menjadi alasan kenapa tragedi kemanusiaan yang besar ini masih menjadi magnet diskusi.

Artinya, peristiwa 65 masih menarik untuk dibahas karena dampaknya yang luas dan mendalam terhadap sejarah Indonesia, serta masih menjadi topik yang kontroversial dan penuh perdebatan hingga saat ini. Peristiwa ini  perlu diajarkan secara lebih komprehensif di sekolah, agar generasi muda dapat memahami sejarah bangsa secara lebih utuh. Dengan membahas peristiwa 65 secara terbuka dan kritis, diharapkan Indonesia dapat mencapai rekonsiliasi, pemulihan, dan keadilan bagi para korban, serta membangun masa depan yang lebih baik.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali
Yang Menegang Ketika Mengoleskan Ramuan Perangsang Kulit Kera Piduka || Semacam Respon Teks yang Hadir Kemudian
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha
Tags: G30SMenua BadainovelPKIPutu Juli Sastrawansastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, di Antara Pesona dan Luka

Next Post

Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co