24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda

Royyan Julian by Royyan Julian
July 1, 2025
in Ulas Buku
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda

Buku "Mencari Sita di Hindia Belanda" karya Angelina Enny

AKU mesti menyampaikan terima kasih kepada Nona Angelina Enny yang telah mengundangku bergabung dalam eskpedisi Mencari Sita di Hindia Belanda meski hanya bisa menguntit pelayaran pertama Tuan Ernest Agerbeek setelah Kapal S.S. Utramarijn berhasil menerabas angin sakal di Tanjung Harapan. Sejak awal pertemuan, pria Indo itu sudah bilang padaku bahwa ia sengaja bertahan lebih lama di geladak untuk menikmati matahari setinggi tiang yang membakar kulitnya dan udara sejuk yang membelai wajahnya. Kubayangkan, perjalanan kami di atas samudra akan secerah langit Titanic saat megatrasportasi rakitan Harland & Wolff itu bertolak dari Bandar Southampton.

Tapi, kisah Tuan Agerbeek selanjutnya malah menggulung biru langit, lalu menyaputnya dengan warna kelabu. Sebab, ia tak bisa menahan diri untuk berkisah tentang kutukan Flying Dutchman yang konon hendak mencelakai kapal sahabatnya di perairan selatan Jawa dalam pelayaran pulang ke negeri Belanda. Entah bermaksud menakut-nakutiku atau sekadar meluapkan gundah gulana, bayangan galiung dalam kemudi Kapten Van der Deckenn yang melayang-layang di atas lautan dengan layar koyak-moyak itu berhasil menegakkan bulu romaku.

Kendatipun warna biru cerah mendominasi elemen-elemen penting—langit, laut, Kapal Utramarijn—perjalanan ini, mau tak mau, suasana cerita yang dibangun Tuan Agerbeek mendesakku turut merasakan misi kelam Kapten Ahab di Moby-Dick atau pengalaman mencekam Ephraim Winslow di The Lighthouse. Apalagi kala itu Tuan Agerbeek mendaku bahwa ia menangkap bisik sayup ombak yang pecah menghantam pagar buritan. Sss-aaa-muuu-drrraaa. Begitulah desis insani sang laut, tak terkesan seindah permai nyanyian raja kelana di “Rayuan Pulau Kelapa”. Bagiku, suara itu lebih seperti bujukan Flying Dutchman agar para pendengarnya terperosok ke pusaran gelap. Atau senandung siren yang menjebak para pelaut terlena. 

Langit biru-tapi-kelabu itu bertambah kelabu saat aku menyaksikan Tuan Agerbeek tiba-tiba berbincang dengan La Amin yang tak bisa kulihat. Pria tak kasat—setidaknya menurut mataku—bernetra ultrabiru itu mengaku bahwa ia putra seorang pelaut yang kawin dengan siren. Bagiku, La Amin cuma mendistorsi cerita dengan menjahit sejumlah hikayat yang pernah didengarnya: tokoh legenda Nawangwulan yang dikaburkan dengan karakter gaib Babad Tanah Jawi, Ratu Rara Kidul. Juga dengan putri duyung dalam jagat mitologis Yunani.

Kuyakin, bualan La Amin yang dituturkan Tuan Agerbeek kepadaku—menjelang sampai di Pelabuhan Batavia—terdengar seperti karangan Tuan Agerbeek sendiri. Kurasa, La Amin alter ego Tuan Agerbeek belaka. Sebab, dunia keduanya memiliki kemiripan. Mereka sama-sama blasteran, sama-sama sedang mencari ibunya yang sama-sama bersuara merdu (ibu Tuan Agerbeek adalah biduanita gambang yang pandai bernyanyi sebagaimana siren). Bahkan, Flaying Dutchman yang dikutuk gentayangan di lautan—seperti terkutuknya La Amin nan terlunta-lunta di atas kapal untuk mencari ibunya—kurasa hanya ekspresi rasa takut Tuan Agerbeek yang cemas bila misinya mencari ibu di Hindia Belanda gagal. Maka, Flying Dutchman dan riwayat hidup La Amin menjadi artikulasi mitis dari ketaksadaran Tuan Agerbeek saat menjalani ekspedisi pencarian sang ibu.

Tuan Agerbeek tampak nanar setelah awak restoran kapal menegur ulang perkara makan siang yang akan segera dibereskan. Pasalnya, Tuan Agerbeek mencari-cari La Amin yang katanya mendadak lenyap. Seperti ditelan samudra atau kedalaman matanya sendiri. Si awak kapal, pada akhirnya, bilang bahwa hantu pria Buton memang kerap singgah dari kapal ke kapal, menyuguhkan kisah pelipur lara bagi orang-orang di lautan.

Aku jadi tahu bahwa dulu, ketika hayat masih dikandung badan, pria itu adalah juru kisah yang tengah mencari ibunya, lalu menerjunkan diri ke laut. “Orang-orang percaya dia sudah bertemu dengan ibunya … samudra,” pungkas awak kapal. “Samudra adalah ibu,” guman Tuan Agerbeek kepadaku, seakan-akan aku tak sanggup menyimpulkan seluruh apa yang terjadi di kapal tersebut sehingga kalimat truisme semacam itu perlu ia utarakan.

 Aku paham, Tuan, aku paham. Ibu adalah laut dan laut adalah ibu. Sebab, Thales pernah berspekulasi bahwa air adalah asal mula dunia. “Mulanya, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air,” catat kitab suci Anda. Ibu adalah air, adalah sumber penciptaan, adalah asal-usul segenap kehidupan.

Tapi, Tuan Agerbeek juga perlu waspada karena dari kisah La Amin, kita juga tahu, ibu hadir untuk mendentangkan lonceng kematian. Ibu adalah dualisme hidup dan maut. Eros dan Thanatos. Liang rahim dan liang lahat. Dari ibu kembali ke ibu. La Amin yang lahir dari samudra pada akhirnya kembali ke samudra. Samudra, dalam takdir La Amin, adalah sangkan paraning dumadi. Kupikir, Tuan Agerbeek perlu membaca Serat Dewa Ruci. Di sana Tuan akan menemukan watak ganda samudra. Samudra memendam Tirta Perwita sekaligus memelihara monster Sambarnyawa yang hendak membinasakan Bratasena.

Maka, sebagaimana legenda Flying Dutchman, aku curiga Tuan Agerbeek sebenarnya sudah pernah mendengar rumor arwah pria Buton. Dorongan bawah sadar telah menggerakkannya untuk memadukan gosip tentang La Amin dengan pengalaman hidupnya yang kebetulan identik. Seandainya turut serta dalam ekspedisi ini, aku yakin, banyak yang akan dikatakan Carl Gustav Jung. Kubayangkan, murid durhaka Sigmund Freud tersebut bakal bilang, “Tuan Agerbeek, Anda sedang mengalami arketipe ibu.”

Aku berhenti mengutit Tuan Agerbeek setelah Ultramarijn melempar sauh di Bandar Batavia. Tugasku dari Nona Angelina Enny memang sampai di situ. Untuk memastikan putra Dokter Agerbeek itu selamat sampai tujuan. Selebihnya, aku perlu segera menulis surat kepada Nona Enny bahwa tanggung jawabku telah tunai.

Untungnya, aku tak gegabah beranjak dari sana. Senyampang belum punya rencana apa pun ke depannya. Kuharap, kelak aku berjumpa kembali dengan Tuan Agerbeek untuk mendengarkan cerita keberhasilannya bertemu sang ibu. Dan itulah yang terjadi. Kami bertemu lagi di titik di mana kami berpisah.

Ia berkisah. Dari geladak kapal, Tuan Agerbeek tak menyiapkan peta. Ia cuma dituntun senandung “Nina Bobo” yang merambat lamat dari kejauhan. Lullaby yang dianggit seorang ibu keluarga Indo Hindia tersebut datang dari masa lalu nan samar. Agaknya, dalam misi menuju ibu, Tuan Agerbeek memang dituntun daya feminin. “Nina Bobo” itu, misalnya, menjadi suara pertama di negeri asing untuk menggiringnya merangkak ke “buaian” sang ibu.

Tapi, tak hanya itu, energi feminin itu menampakkan diri kepada Tuan Agerbeek dalam rupa gadis Cina yang ditemuinya di kota pelabuhan. Perempuan tak dikenal yang memanfaatnya untuk mencuri bubuk opium tersebut justru menjadi jarum kompas yang mengarahkannya pada titik akhir pencarian. Aku tahu, strata sosial di Hindia menempatkan kaum Indo di atas golongan Timur Asing seperti orang-orang Cina. Tapi, di hadapan si gadis Cina, aku melihat Tuan Agerbeek “tidak berdaya”. Peran gadis Cina tersebut terdengar amat dominan dalam menentukan nasib Tuan Agerbeek. Tapi, kenapa harus gadis Cina?

Selama mendengarkan cerita Tuan Agerbeek, aku merasa pria Indo itu kerap memberi tekanan kepada orang-orang terpinggirkan: kaumnya sendiri, peranakan Cina, termasuk perempuan. Entah disengaja atau tidak. Mungkin ia pernah mendengar dari ayahnya bahwa di Hindia, kaum Indo tak memiliki derajat setara dengan orang Belanda. Dan itulah yang menjadi musabab mengapa Dokter Agerbeek memboyongnya ke negeri Belanda—selain karena ingin membawa buah cintanya dengan sang kekasih. Meski tidak dialami Tuan Agerbeek secara langsung, paling tidak pembedaan perlakuan itulah yang menjadi biang keladi perpisahannya dengan ibu. Maka, pengalaman pahit itu mengendap dalam sanubarinya sehingga masuk akal bila tutur ceritanya agak tendensius dengan maksud mengonfrontasi akar kegetiran tersebut: diskriminasi.

Katakanlah saat si Kantjil bilang kepadanya dengan mengangakat jempol, “Bini Bos begini. Sayangnya dia tidak bisa bernyanyi.” Kalimat yang terdengar merendahkan itu ditangkis pria Cina bernama Asiang sambil terus mengisap candu, “Perempuan bukan burung. Tidak apa dia tidak bisa bicara. Tidak apa dia tidak bisa bernyanyi. Dia punya dirinya sendri. Bukan ikuti maunya kamu.” Di sini aku melihat solidaritas antarkelas marginal: Cina dan perempuan.

Perempuan yang disebut “Bini Bos” itu, yang bernama Asti itu, ternyata adalah Sita, ibu Tuan Agerbeek yang telah menjadi istri mafia Tjui Ming Se. Cerita Tuan Agerbeek berhenti sampai di situ. Ia enggan menuturkan kelanjutan kisahnya karena mungkin perkara demikian terlalu privat untuk disampaikan kepada orang lain, apalagi kepadaku yang baru dikenalnya. Atau terlalu perih. Sebenarnya aku penasaran, tapi harus memahami perasaannya.

Aku jadi ingat kuliah cendekia Prancis bernama Jacques Lacan. Konon, manusia berhasrat menggapai keutuhan yang telah hilang begitu yang ia terpisah dengan sang ibu. Ibu, dalam hal ini, menjadi personifikasi dari keutuhan itu sendiri. Bagi Lacan, terpisah dari ibu merupakan sebuah keniscayaan ketika “diri” jatuh menjadi “subjek”. Keterceraian dengan ibu terjadi lantaran si anak menginternalisasi Hukum Ayah: budaya, bahasa, norma, dan tatanan maskulin lainnya. Intervensi Hukum Ayah atau tata simbolik berlangsung dalam sebuah fase—di sini Lacan memperbarui istilah Freud—“kompleks oedipus”. Pulang kepada keutuhan asali, ke rahim ibu, menurut Lacan, adalah ihwal yang mustahil.

Sejatinya, apa yang telah Tuan Agerbeek lalui adalah hasrat tak sadar kita semua. Misi Tuan Agerbeek mencari ibunya semacam ibrah bahwa kembali ke keutuhan takkan pernah bisa dicapai. Anak manusia telah hengkang dari Eden karena tergoda oleh buah pengetahuan Ular itu. Ia takkan bisa kembali ke pelukan sang Taman. Begitupun aku dan sang ibu, sang keutuhan, telah diceraikan oleh Dokter Agerbeek, oleh Tjui Ming Se, oleh hukum kolonial di Hindia, oleh perkawinan resmi ayah di Belanda. Kedigdayaan Sang Nasib memang sukar dihindari sebagaimana kata-kata Asti dalam surat untuk Tuan Agerbeek: Takdir berkata lain. Tentu saja orang-orang suruhan ayahmu dengan mudah menyaingi langkahku. Kau direnggut dariku, seperti dewi yang diculik raksasa dalam kisah Ramayana.

Kurasa, seluruh paparan Tuan Agerbeek tak perlu kusampaikan kepada Nona Angelina Enny. Aku yakin, sebagai sahabat karib, Tuan Agerbeek sendirilah yang kelak akan mengutarakan semua itu kepadanya. Bahkan, dalam versi lebih lengkap dan tanpa tedeng aling-aling. [T]

  • Artikel akan disampaikan dalam program bedah buku Angelina Enny dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Royyan Julian
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama
Han Kang dan Kolase Enigmatik Novel Vegetarian
Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini
Jawa Tempo Doeloe: Wajah Jawa di Mata Orientalis Berkulit Pucat
Tags: Angelina EnnyBukunovelresensi bukuRoyyan JulianSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Next Post

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy — [Bagian 2]

Royyan Julian

Royyan Julian

Menulis prosa dan puisi.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy -- [Bagian 2]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co