2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda

Royyan Julian by Royyan Julian
July 1, 2025
in Ulas Buku
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda

Buku "Mencari Sita di Hindia Belanda" karya Angelina Enny

AKU mesti menyampaikan terima kasih kepada Nona Angelina Enny yang telah mengundangku bergabung dalam eskpedisi Mencari Sita di Hindia Belanda meski hanya bisa menguntit pelayaran pertama Tuan Ernest Agerbeek setelah Kapal S.S. Utramarijn berhasil menerabas angin sakal di Tanjung Harapan. Sejak awal pertemuan, pria Indo itu sudah bilang padaku bahwa ia sengaja bertahan lebih lama di geladak untuk menikmati matahari setinggi tiang yang membakar kulitnya dan udara sejuk yang membelai wajahnya. Kubayangkan, perjalanan kami di atas samudra akan secerah langit Titanic saat megatrasportasi rakitan Harland & Wolff itu bertolak dari Bandar Southampton.

Tapi, kisah Tuan Agerbeek selanjutnya malah menggulung biru langit, lalu menyaputnya dengan warna kelabu. Sebab, ia tak bisa menahan diri untuk berkisah tentang kutukan Flying Dutchman yang konon hendak mencelakai kapal sahabatnya di perairan selatan Jawa dalam pelayaran pulang ke negeri Belanda. Entah bermaksud menakut-nakutiku atau sekadar meluapkan gundah gulana, bayangan galiung dalam kemudi Kapten Van der Deckenn yang melayang-layang di atas lautan dengan layar koyak-moyak itu berhasil menegakkan bulu romaku.

Kendatipun warna biru cerah mendominasi elemen-elemen penting—langit, laut, Kapal Utramarijn—perjalanan ini, mau tak mau, suasana cerita yang dibangun Tuan Agerbeek mendesakku turut merasakan misi kelam Kapten Ahab di Moby-Dick atau pengalaman mencekam Ephraim Winslow di The Lighthouse. Apalagi kala itu Tuan Agerbeek mendaku bahwa ia menangkap bisik sayup ombak yang pecah menghantam pagar buritan. Sss-aaa-muuu-drrraaa. Begitulah desis insani sang laut, tak terkesan seindah permai nyanyian raja kelana di “Rayuan Pulau Kelapa”. Bagiku, suara itu lebih seperti bujukan Flying Dutchman agar para pendengarnya terperosok ke pusaran gelap. Atau senandung siren yang menjebak para pelaut terlena. 

Langit biru-tapi-kelabu itu bertambah kelabu saat aku menyaksikan Tuan Agerbeek tiba-tiba berbincang dengan La Amin yang tak bisa kulihat. Pria tak kasat—setidaknya menurut mataku—bernetra ultrabiru itu mengaku bahwa ia putra seorang pelaut yang kawin dengan siren. Bagiku, La Amin cuma mendistorsi cerita dengan menjahit sejumlah hikayat yang pernah didengarnya: tokoh legenda Nawangwulan yang dikaburkan dengan karakter gaib Babad Tanah Jawi, Ratu Rara Kidul. Juga dengan putri duyung dalam jagat mitologis Yunani.

Kuyakin, bualan La Amin yang dituturkan Tuan Agerbeek kepadaku—menjelang sampai di Pelabuhan Batavia—terdengar seperti karangan Tuan Agerbeek sendiri. Kurasa, La Amin alter ego Tuan Agerbeek belaka. Sebab, dunia keduanya memiliki kemiripan. Mereka sama-sama blasteran, sama-sama sedang mencari ibunya yang sama-sama bersuara merdu (ibu Tuan Agerbeek adalah biduanita gambang yang pandai bernyanyi sebagaimana siren). Bahkan, Flaying Dutchman yang dikutuk gentayangan di lautan—seperti terkutuknya La Amin nan terlunta-lunta di atas kapal untuk mencari ibunya—kurasa hanya ekspresi rasa takut Tuan Agerbeek yang cemas bila misinya mencari ibu di Hindia Belanda gagal. Maka, Flying Dutchman dan riwayat hidup La Amin menjadi artikulasi mitis dari ketaksadaran Tuan Agerbeek saat menjalani ekspedisi pencarian sang ibu.

Tuan Agerbeek tampak nanar setelah awak restoran kapal menegur ulang perkara makan siang yang akan segera dibereskan. Pasalnya, Tuan Agerbeek mencari-cari La Amin yang katanya mendadak lenyap. Seperti ditelan samudra atau kedalaman matanya sendiri. Si awak kapal, pada akhirnya, bilang bahwa hantu pria Buton memang kerap singgah dari kapal ke kapal, menyuguhkan kisah pelipur lara bagi orang-orang di lautan.

Aku jadi tahu bahwa dulu, ketika hayat masih dikandung badan, pria itu adalah juru kisah yang tengah mencari ibunya, lalu menerjunkan diri ke laut. “Orang-orang percaya dia sudah bertemu dengan ibunya … samudra,” pungkas awak kapal. “Samudra adalah ibu,” guman Tuan Agerbeek kepadaku, seakan-akan aku tak sanggup menyimpulkan seluruh apa yang terjadi di kapal tersebut sehingga kalimat truisme semacam itu perlu ia utarakan.

 Aku paham, Tuan, aku paham. Ibu adalah laut dan laut adalah ibu. Sebab, Thales pernah berspekulasi bahwa air adalah asal mula dunia. “Mulanya, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air,” catat kitab suci Anda. Ibu adalah air, adalah sumber penciptaan, adalah asal-usul segenap kehidupan.

Tapi, Tuan Agerbeek juga perlu waspada karena dari kisah La Amin, kita juga tahu, ibu hadir untuk mendentangkan lonceng kematian. Ibu adalah dualisme hidup dan maut. Eros dan Thanatos. Liang rahim dan liang lahat. Dari ibu kembali ke ibu. La Amin yang lahir dari samudra pada akhirnya kembali ke samudra. Samudra, dalam takdir La Amin, adalah sangkan paraning dumadi. Kupikir, Tuan Agerbeek perlu membaca Serat Dewa Ruci. Di sana Tuan akan menemukan watak ganda samudra. Samudra memendam Tirta Perwita sekaligus memelihara monster Sambarnyawa yang hendak membinasakan Bratasena.

Maka, sebagaimana legenda Flying Dutchman, aku curiga Tuan Agerbeek sebenarnya sudah pernah mendengar rumor arwah pria Buton. Dorongan bawah sadar telah menggerakkannya untuk memadukan gosip tentang La Amin dengan pengalaman hidupnya yang kebetulan identik. Seandainya turut serta dalam ekspedisi ini, aku yakin, banyak yang akan dikatakan Carl Gustav Jung. Kubayangkan, murid durhaka Sigmund Freud tersebut bakal bilang, “Tuan Agerbeek, Anda sedang mengalami arketipe ibu.”

Aku berhenti mengutit Tuan Agerbeek setelah Ultramarijn melempar sauh di Bandar Batavia. Tugasku dari Nona Angelina Enny memang sampai di situ. Untuk memastikan putra Dokter Agerbeek itu selamat sampai tujuan. Selebihnya, aku perlu segera menulis surat kepada Nona Enny bahwa tanggung jawabku telah tunai.

Untungnya, aku tak gegabah beranjak dari sana. Senyampang belum punya rencana apa pun ke depannya. Kuharap, kelak aku berjumpa kembali dengan Tuan Agerbeek untuk mendengarkan cerita keberhasilannya bertemu sang ibu. Dan itulah yang terjadi. Kami bertemu lagi di titik di mana kami berpisah.

Ia berkisah. Dari geladak kapal, Tuan Agerbeek tak menyiapkan peta. Ia cuma dituntun senandung “Nina Bobo” yang merambat lamat dari kejauhan. Lullaby yang dianggit seorang ibu keluarga Indo Hindia tersebut datang dari masa lalu nan samar. Agaknya, dalam misi menuju ibu, Tuan Agerbeek memang dituntun daya feminin. “Nina Bobo” itu, misalnya, menjadi suara pertama di negeri asing untuk menggiringnya merangkak ke “buaian” sang ibu.

Tapi, tak hanya itu, energi feminin itu menampakkan diri kepada Tuan Agerbeek dalam rupa gadis Cina yang ditemuinya di kota pelabuhan. Perempuan tak dikenal yang memanfaatnya untuk mencuri bubuk opium tersebut justru menjadi jarum kompas yang mengarahkannya pada titik akhir pencarian. Aku tahu, strata sosial di Hindia menempatkan kaum Indo di atas golongan Timur Asing seperti orang-orang Cina. Tapi, di hadapan si gadis Cina, aku melihat Tuan Agerbeek “tidak berdaya”. Peran gadis Cina tersebut terdengar amat dominan dalam menentukan nasib Tuan Agerbeek. Tapi, kenapa harus gadis Cina?

Selama mendengarkan cerita Tuan Agerbeek, aku merasa pria Indo itu kerap memberi tekanan kepada orang-orang terpinggirkan: kaumnya sendiri, peranakan Cina, termasuk perempuan. Entah disengaja atau tidak. Mungkin ia pernah mendengar dari ayahnya bahwa di Hindia, kaum Indo tak memiliki derajat setara dengan orang Belanda. Dan itulah yang menjadi musabab mengapa Dokter Agerbeek memboyongnya ke negeri Belanda—selain karena ingin membawa buah cintanya dengan sang kekasih. Meski tidak dialami Tuan Agerbeek secara langsung, paling tidak pembedaan perlakuan itulah yang menjadi biang keladi perpisahannya dengan ibu. Maka, pengalaman pahit itu mengendap dalam sanubarinya sehingga masuk akal bila tutur ceritanya agak tendensius dengan maksud mengonfrontasi akar kegetiran tersebut: diskriminasi.

Katakanlah saat si Kantjil bilang kepadanya dengan mengangakat jempol, “Bini Bos begini. Sayangnya dia tidak bisa bernyanyi.” Kalimat yang terdengar merendahkan itu ditangkis pria Cina bernama Asiang sambil terus mengisap candu, “Perempuan bukan burung. Tidak apa dia tidak bisa bicara. Tidak apa dia tidak bisa bernyanyi. Dia punya dirinya sendri. Bukan ikuti maunya kamu.” Di sini aku melihat solidaritas antarkelas marginal: Cina dan perempuan.

Perempuan yang disebut “Bini Bos” itu, yang bernama Asti itu, ternyata adalah Sita, ibu Tuan Agerbeek yang telah menjadi istri mafia Tjui Ming Se. Cerita Tuan Agerbeek berhenti sampai di situ. Ia enggan menuturkan kelanjutan kisahnya karena mungkin perkara demikian terlalu privat untuk disampaikan kepada orang lain, apalagi kepadaku yang baru dikenalnya. Atau terlalu perih. Sebenarnya aku penasaran, tapi harus memahami perasaannya.

Aku jadi ingat kuliah cendekia Prancis bernama Jacques Lacan. Konon, manusia berhasrat menggapai keutuhan yang telah hilang begitu yang ia terpisah dengan sang ibu. Ibu, dalam hal ini, menjadi personifikasi dari keutuhan itu sendiri. Bagi Lacan, terpisah dari ibu merupakan sebuah keniscayaan ketika “diri” jatuh menjadi “subjek”. Keterceraian dengan ibu terjadi lantaran si anak menginternalisasi Hukum Ayah: budaya, bahasa, norma, dan tatanan maskulin lainnya. Intervensi Hukum Ayah atau tata simbolik berlangsung dalam sebuah fase—di sini Lacan memperbarui istilah Freud—“kompleks oedipus”. Pulang kepada keutuhan asali, ke rahim ibu, menurut Lacan, adalah ihwal yang mustahil.

Sejatinya, apa yang telah Tuan Agerbeek lalui adalah hasrat tak sadar kita semua. Misi Tuan Agerbeek mencari ibunya semacam ibrah bahwa kembali ke keutuhan takkan pernah bisa dicapai. Anak manusia telah hengkang dari Eden karena tergoda oleh buah pengetahuan Ular itu. Ia takkan bisa kembali ke pelukan sang Taman. Begitupun aku dan sang ibu, sang keutuhan, telah diceraikan oleh Dokter Agerbeek, oleh Tjui Ming Se, oleh hukum kolonial di Hindia, oleh perkawinan resmi ayah di Belanda. Kedigdayaan Sang Nasib memang sukar dihindari sebagaimana kata-kata Asti dalam surat untuk Tuan Agerbeek: Takdir berkata lain. Tentu saja orang-orang suruhan ayahmu dengan mudah menyaingi langkahku. Kau direnggut dariku, seperti dewi yang diculik raksasa dalam kisah Ramayana.

Kurasa, seluruh paparan Tuan Agerbeek tak perlu kusampaikan kepada Nona Angelina Enny. Aku yakin, sebagai sahabat karib, Tuan Agerbeek sendirilah yang kelak akan mengutarakan semua itu kepadanya. Bahkan, dalam versi lebih lengkap dan tanpa tedeng aling-aling. [T]

  • Artikel akan disampaikan dalam program bedah buku Angelina Enny dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Royyan Julian
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama
Han Kang dan Kolase Enigmatik Novel Vegetarian
Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini
Jawa Tempo Doeloe: Wajah Jawa di Mata Orientalis Berkulit Pucat
Tags: Angelina EnnyBukunovelresensi bukuRoyyan JulianSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Next Post

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy — [Bagian 2]

Royyan Julian

Royyan Julian

Menulis prosa dan puisi.

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy -- [Bagian 2]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co