2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha

Cahyu Dita Fadilah by Cahyu Dita Fadilah
June 25, 2025
in Ulas Buku
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha

Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha

 KARYA sastra seringkali dianggap atau diposisikan sebagai medium “tinggi” yang di dalamnya mengandung unsur-unsur estetika serta  moralitas. Dalam pandangan umum serta imajinasi masyarakat tentang sastra sering ali menganggap bahwa karya sastra harus memiliki nilai yang agung, puitis, dan juga mendidik. Hal tersebut seolah menjadikan karya sastra harus selalu berperan sebagai penyampai kebenaran universal atau dijadikan sebagai norma sosial.

Pada ruang-ruang formal seperti dalam pendidikan atau kursus kebudayaan populer, sastra diasosiasikan dengan idealisme dan juga etika. Oleh karena hal tersebut, penyimpangan-penyimpangan yang ada dalam karya sastra dianggap sebagai provokasi bahkan hingga dianggap sebagai penghinaan terhadap martabat kesusasteraan.

Pandangan mengenai karya sastra tersebut dengan mudah digugat ketika membaca novel karya Kedung Darma Romansha yaitu Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat. Novel tersebut secara frontal mengguncang batas-batas nyaman pembaca. Isi dalam novel tersebut menggambarkan dengan rinci mengenai realitas sosial yang vulgar, penuh hasrat, serta menjungkirbalikkan tatanan nilai yang mapan.

Novel Telembuk ini menyoroti kehidupan masyarakat Indramayu, khususnya terkait dengan isu-isu sosial, budaya, serta posisi perempuan. Masalah tersebut diangkat dari realitas sosial di daerah Indramayu yang memperlihatkan bagaimana tatanan ekonomi dan sosial sangat berpengaruh pada keseharian masyarakatnya. Novel ini merepresentasikan enam masalah utama yaitu masalah ekonomi, kenakalan remaja, disorganisasi keluarga, pelanggaran norma, kriminalitas, dan persoalan perempuan.

Novel Telembuk ini mungkin terlihat sebagai karya sastra dengan lanskap subversif dan menganggu. Namun, disitulah inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dalam novel tersebut. Novel ini tidak berupaya untuk “memperbaiki” dunia, tetapi memperlihatkan apa adanya tanpa sensor apapun.

Kedung Darma Romansha sendiri merupakan sastrawan yang lahir di Indramayu dan merupakan alumni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Yogyakarta serta pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Ia dikenal sebagai seorang sastrawan yang memiliki gaya kepenulisan keras. Tulisan-tulisannya lekat dengan perpaduan antara bahasa sastra yang puitis dengan kenyataan sosial yang getir.

Pada novel Telembuk, penulis membawa pembaca untuk melihat dunia kelas bawah yang sering terpinggirkan dalam wacana sastra arus utama. Ia membongkar konstruksi kultural terkait dengan tubuh, seksualitas, serta hiburan masyarakat dengan gaya yang melawan. Novel ini menantang pembaca untuk meninjau ulang makna dari suatu karya sastra di mana idealnya sastra adalah cermin masyarakat yang dijadikan sebagai alat pembongkaran makna dan kekuasaan.

 Jika dipandang dari kerangka pembacaan dekonstruktif ala Jacques Derrida, novel Telembuk tidak dapat didekati dengan pendekatan moralistik yang kaku. Sebaliknya, novel ini justru disajikan dengan menggugat dikotomi-dikotomi yang selama ini menjadi pondasi utama sistem nilai masyarakat yaitu seperti suci-najis, tinggi-rendah, serta moral-amoral.

Melalui penggambaran universal para pekerja seks pada lingkup pertunjukkan dangdut semi-urban, novel Telembuk menggambarkan pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya yang berhak mendefinisikan kesucian dan kenajisan. Kemudian, apakah nilai-nilai tersebut dianggap benar-benar murni atau hanya konstruksi sosial belaka yang sarat akan kepentingan juga kepura-puraan.

Novel Telembuk sering kali dianggap sebagai novel yang “tidak pantas” karena di dalamnya berisi tulisan-tulisan yang vulgar. Label tersebut dengan sendirinya mencerminkan ketakutan masyarakat akan realitas sosial yang ditelanjangi oleh sastra. Hal tersebut menjadikan novel Telembuk terasa menganggu. Namun disisi lain, novel ini merupakan suatu karya sastra yang berani membongkar kepalsuan nilai-nilai yang selama ini dianggap benar.

Novel ini memaksa para pembaca untuk melihat kenyataan yang selama ini mereka tolak atau dianggap tidak ada dengan kepura-puraan mereka. Oleh karena hal tersebut, sastra dapat dianggap sebagai alat dekonstruksi yang bukan hanya mengacaukan struktur makna, tetapi juga mengguncang kenyamanan berpikir.

Membaca novel Telembuk bukan hanya sekedar membaca sastra yang berisi kisah vulgar dan menabrak batas etika, tetapi juga membaca cara kerja kekuasaan dalam membentuk makna. Membaca novel ini akan membantu para pembaca menyeleksi mana yang dianggap pantas dan mana yang dianggap tidak pantas.

Selain itu, para pembaca juga akan mengetahui bagaimana tubuh seorang perempuan diposisikan dalam lanskap sosial dan budaya. Dalam novel ini, sastra bukan lagi menjadi bacaan yang menenangkan, tetapi menjadi bacaan yang mengguncang, menyadarkan, bahkan hingga menimbulkan rasa bersalah bagi mereka yang selama ini hidup dalam lapisan kepura-puraan nilai.

Novel Telembuk bukan sekedar novel yang menghadirkan dunia gelap para pekerja seks atau telembuk juga panggung dangdut murahan, tetapi merupakan suatu karya yang secara sadar menggugat pondasi nilai sosial yang penuh dikotomi dan kepura-puraan. Melalui pendekatan dekonstruksi, pembaca akan melihat batas-batas nilai menjadi kabur dan problematis. Novel ini menggemakan pesan bahwa kenyataan memang tidak selalu bisa ditampung dalam bingkai nilai yang rapi dan nyaman sebagaimana suatu karya sastra yang sering kali dianggap sebagai medium “tinggi” yang memuat nilai-nilai estetika.

Oleh karena hal tersebut, penting bagi para pembaca untuk membuka diri terhadap karya-karya yang jauh dari kata ideal dalam pandangan masyarakat, tetapi mampu mengungkap dengan jujur kenyataan yang ada dan menyuarakan realitas yang sering disingkirkan.

Sastra bukanlah objek pelarian dari kenyataan, tetapi cermin retak yang justru menunjukkan wajah asli suatu masyarakat dengan segala luka, ironi, dan kebusukannya. Maka, sudah saatnya kita berhenti menggaungkan sastra hanya karena “indah”, dan mulai menghargai sastra karena “jujur”. [T]

Penulis: Cahyu Dita Fadilah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama
Han Kang dan Kolase Enigmatik Novel Vegetarian
Kongkow Sejarah: Bicara Reposisi Perempuan Asia Tenggara Melalui Buku “Kuasa Rahim”
Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni
Mencari Bali Menemukan Diri — Ulasan Buku “Dari Sudut Bali” Karya Abdul Karim Abraham
Tags: Bukunovelresensi bukusastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

Cahyu Dita Fadilah

Cahyu Dita Fadilah

Mahasiswa, penulis. Tinggal di Cacaban, Kota Magelang

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co