12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha

Cahyu Dita Fadilah by Cahyu Dita Fadilah
June 25, 2025
in Ulas Buku
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha

Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha

 KARYA sastra seringkali dianggap atau diposisikan sebagai medium “tinggi” yang di dalamnya mengandung unsur-unsur estetika serta  moralitas. Dalam pandangan umum serta imajinasi masyarakat tentang sastra sering ali menganggap bahwa karya sastra harus memiliki nilai yang agung, puitis, dan juga mendidik. Hal tersebut seolah menjadikan karya sastra harus selalu berperan sebagai penyampai kebenaran universal atau dijadikan sebagai norma sosial.

Pada ruang-ruang formal seperti dalam pendidikan atau kursus kebudayaan populer, sastra diasosiasikan dengan idealisme dan juga etika. Oleh karena hal tersebut, penyimpangan-penyimpangan yang ada dalam karya sastra dianggap sebagai provokasi bahkan hingga dianggap sebagai penghinaan terhadap martabat kesusasteraan.

Pandangan mengenai karya sastra tersebut dengan mudah digugat ketika membaca novel karya Kedung Darma Romansha yaitu Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat. Novel tersebut secara frontal mengguncang batas-batas nyaman pembaca. Isi dalam novel tersebut menggambarkan dengan rinci mengenai realitas sosial yang vulgar, penuh hasrat, serta menjungkirbalikkan tatanan nilai yang mapan.

Novel Telembuk ini menyoroti kehidupan masyarakat Indramayu, khususnya terkait dengan isu-isu sosial, budaya, serta posisi perempuan. Masalah tersebut diangkat dari realitas sosial di daerah Indramayu yang memperlihatkan bagaimana tatanan ekonomi dan sosial sangat berpengaruh pada keseharian masyarakatnya. Novel ini merepresentasikan enam masalah utama yaitu masalah ekonomi, kenakalan remaja, disorganisasi keluarga, pelanggaran norma, kriminalitas, dan persoalan perempuan.

Novel Telembuk ini mungkin terlihat sebagai karya sastra dengan lanskap subversif dan menganggu. Namun, disitulah inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dalam novel tersebut. Novel ini tidak berupaya untuk “memperbaiki” dunia, tetapi memperlihatkan apa adanya tanpa sensor apapun.

Kedung Darma Romansha sendiri merupakan sastrawan yang lahir di Indramayu dan merupakan alumni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Yogyakarta serta pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Ia dikenal sebagai seorang sastrawan yang memiliki gaya kepenulisan keras. Tulisan-tulisannya lekat dengan perpaduan antara bahasa sastra yang puitis dengan kenyataan sosial yang getir.

Pada novel Telembuk, penulis membawa pembaca untuk melihat dunia kelas bawah yang sering terpinggirkan dalam wacana sastra arus utama. Ia membongkar konstruksi kultural terkait dengan tubuh, seksualitas, serta hiburan masyarakat dengan gaya yang melawan. Novel ini menantang pembaca untuk meninjau ulang makna dari suatu karya sastra di mana idealnya sastra adalah cermin masyarakat yang dijadikan sebagai alat pembongkaran makna dan kekuasaan.

 Jika dipandang dari kerangka pembacaan dekonstruktif ala Jacques Derrida, novel Telembuk tidak dapat didekati dengan pendekatan moralistik yang kaku. Sebaliknya, novel ini justru disajikan dengan menggugat dikotomi-dikotomi yang selama ini menjadi pondasi utama sistem nilai masyarakat yaitu seperti suci-najis, tinggi-rendah, serta moral-amoral.

Melalui penggambaran universal para pekerja seks pada lingkup pertunjukkan dangdut semi-urban, novel Telembuk menggambarkan pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya yang berhak mendefinisikan kesucian dan kenajisan. Kemudian, apakah nilai-nilai tersebut dianggap benar-benar murni atau hanya konstruksi sosial belaka yang sarat akan kepentingan juga kepura-puraan.

Novel Telembuk sering kali dianggap sebagai novel yang “tidak pantas” karena di dalamnya berisi tulisan-tulisan yang vulgar. Label tersebut dengan sendirinya mencerminkan ketakutan masyarakat akan realitas sosial yang ditelanjangi oleh sastra. Hal tersebut menjadikan novel Telembuk terasa menganggu. Namun disisi lain, novel ini merupakan suatu karya sastra yang berani membongkar kepalsuan nilai-nilai yang selama ini dianggap benar.

Novel ini memaksa para pembaca untuk melihat kenyataan yang selama ini mereka tolak atau dianggap tidak ada dengan kepura-puraan mereka. Oleh karena hal tersebut, sastra dapat dianggap sebagai alat dekonstruksi yang bukan hanya mengacaukan struktur makna, tetapi juga mengguncang kenyamanan berpikir.

Membaca novel Telembuk bukan hanya sekedar membaca sastra yang berisi kisah vulgar dan menabrak batas etika, tetapi juga membaca cara kerja kekuasaan dalam membentuk makna. Membaca novel ini akan membantu para pembaca menyeleksi mana yang dianggap pantas dan mana yang dianggap tidak pantas.

Selain itu, para pembaca juga akan mengetahui bagaimana tubuh seorang perempuan diposisikan dalam lanskap sosial dan budaya. Dalam novel ini, sastra bukan lagi menjadi bacaan yang menenangkan, tetapi menjadi bacaan yang mengguncang, menyadarkan, bahkan hingga menimbulkan rasa bersalah bagi mereka yang selama ini hidup dalam lapisan kepura-puraan nilai.

Novel Telembuk bukan sekedar novel yang menghadirkan dunia gelap para pekerja seks atau telembuk juga panggung dangdut murahan, tetapi merupakan suatu karya yang secara sadar menggugat pondasi nilai sosial yang penuh dikotomi dan kepura-puraan. Melalui pendekatan dekonstruksi, pembaca akan melihat batas-batas nilai menjadi kabur dan problematis. Novel ini menggemakan pesan bahwa kenyataan memang tidak selalu bisa ditampung dalam bingkai nilai yang rapi dan nyaman sebagaimana suatu karya sastra yang sering kali dianggap sebagai medium “tinggi” yang memuat nilai-nilai estetika.

Oleh karena hal tersebut, penting bagi para pembaca untuk membuka diri terhadap karya-karya yang jauh dari kata ideal dalam pandangan masyarakat, tetapi mampu mengungkap dengan jujur kenyataan yang ada dan menyuarakan realitas yang sering disingkirkan.

Sastra bukanlah objek pelarian dari kenyataan, tetapi cermin retak yang justru menunjukkan wajah asli suatu masyarakat dengan segala luka, ironi, dan kebusukannya. Maka, sudah saatnya kita berhenti menggaungkan sastra hanya karena “indah”, dan mulai menghargai sastra karena “jujur”. [T]

Penulis: Cahyu Dita Fadilah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama
Han Kang dan Kolase Enigmatik Novel Vegetarian
Kongkow Sejarah: Bicara Reposisi Perempuan Asia Tenggara Melalui Buku “Kuasa Rahim”
Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni
Mencari Bali Menemukan Diri — Ulasan Buku “Dari Sudut Bali” Karya Abdul Karim Abraham
Tags: Bukunovelresensi bukusastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

Cahyu Dita Fadilah

Cahyu Dita Fadilah

Mahasiswa, penulis. Tinggal di Cacaban, Kota Magelang

Related Posts

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co