14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha

Cahyu Dita Fadilah by Cahyu Dita Fadilah
June 25, 2025
in Ulas Buku
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha

Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha

 KARYA sastra seringkali dianggap atau diposisikan sebagai medium “tinggi” yang di dalamnya mengandung unsur-unsur estetika serta  moralitas. Dalam pandangan umum serta imajinasi masyarakat tentang sastra sering ali menganggap bahwa karya sastra harus memiliki nilai yang agung, puitis, dan juga mendidik. Hal tersebut seolah menjadikan karya sastra harus selalu berperan sebagai penyampai kebenaran universal atau dijadikan sebagai norma sosial.

Pada ruang-ruang formal seperti dalam pendidikan atau kursus kebudayaan populer, sastra diasosiasikan dengan idealisme dan juga etika. Oleh karena hal tersebut, penyimpangan-penyimpangan yang ada dalam karya sastra dianggap sebagai provokasi bahkan hingga dianggap sebagai penghinaan terhadap martabat kesusasteraan.

Pandangan mengenai karya sastra tersebut dengan mudah digugat ketika membaca novel karya Kedung Darma Romansha yaitu Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat. Novel tersebut secara frontal mengguncang batas-batas nyaman pembaca. Isi dalam novel tersebut menggambarkan dengan rinci mengenai realitas sosial yang vulgar, penuh hasrat, serta menjungkirbalikkan tatanan nilai yang mapan.

Novel Telembuk ini menyoroti kehidupan masyarakat Indramayu, khususnya terkait dengan isu-isu sosial, budaya, serta posisi perempuan. Masalah tersebut diangkat dari realitas sosial di daerah Indramayu yang memperlihatkan bagaimana tatanan ekonomi dan sosial sangat berpengaruh pada keseharian masyarakatnya. Novel ini merepresentasikan enam masalah utama yaitu masalah ekonomi, kenakalan remaja, disorganisasi keluarga, pelanggaran norma, kriminalitas, dan persoalan perempuan.

Novel Telembuk ini mungkin terlihat sebagai karya sastra dengan lanskap subversif dan menganggu. Namun, disitulah inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dalam novel tersebut. Novel ini tidak berupaya untuk “memperbaiki” dunia, tetapi memperlihatkan apa adanya tanpa sensor apapun.

Kedung Darma Romansha sendiri merupakan sastrawan yang lahir di Indramayu dan merupakan alumni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Yogyakarta serta pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Ia dikenal sebagai seorang sastrawan yang memiliki gaya kepenulisan keras. Tulisan-tulisannya lekat dengan perpaduan antara bahasa sastra yang puitis dengan kenyataan sosial yang getir.

Pada novel Telembuk, penulis membawa pembaca untuk melihat dunia kelas bawah yang sering terpinggirkan dalam wacana sastra arus utama. Ia membongkar konstruksi kultural terkait dengan tubuh, seksualitas, serta hiburan masyarakat dengan gaya yang melawan. Novel ini menantang pembaca untuk meninjau ulang makna dari suatu karya sastra di mana idealnya sastra adalah cermin masyarakat yang dijadikan sebagai alat pembongkaran makna dan kekuasaan.

 Jika dipandang dari kerangka pembacaan dekonstruktif ala Jacques Derrida, novel Telembuk tidak dapat didekati dengan pendekatan moralistik yang kaku. Sebaliknya, novel ini justru disajikan dengan menggugat dikotomi-dikotomi yang selama ini menjadi pondasi utama sistem nilai masyarakat yaitu seperti suci-najis, tinggi-rendah, serta moral-amoral.

Melalui penggambaran universal para pekerja seks pada lingkup pertunjukkan dangdut semi-urban, novel Telembuk menggambarkan pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya yang berhak mendefinisikan kesucian dan kenajisan. Kemudian, apakah nilai-nilai tersebut dianggap benar-benar murni atau hanya konstruksi sosial belaka yang sarat akan kepentingan juga kepura-puraan.

Novel Telembuk sering kali dianggap sebagai novel yang “tidak pantas” karena di dalamnya berisi tulisan-tulisan yang vulgar. Label tersebut dengan sendirinya mencerminkan ketakutan masyarakat akan realitas sosial yang ditelanjangi oleh sastra. Hal tersebut menjadikan novel Telembuk terasa menganggu. Namun disisi lain, novel ini merupakan suatu karya sastra yang berani membongkar kepalsuan nilai-nilai yang selama ini dianggap benar.

Novel ini memaksa para pembaca untuk melihat kenyataan yang selama ini mereka tolak atau dianggap tidak ada dengan kepura-puraan mereka. Oleh karena hal tersebut, sastra dapat dianggap sebagai alat dekonstruksi yang bukan hanya mengacaukan struktur makna, tetapi juga mengguncang kenyamanan berpikir.

Membaca novel Telembuk bukan hanya sekedar membaca sastra yang berisi kisah vulgar dan menabrak batas etika, tetapi juga membaca cara kerja kekuasaan dalam membentuk makna. Membaca novel ini akan membantu para pembaca menyeleksi mana yang dianggap pantas dan mana yang dianggap tidak pantas.

Selain itu, para pembaca juga akan mengetahui bagaimana tubuh seorang perempuan diposisikan dalam lanskap sosial dan budaya. Dalam novel ini, sastra bukan lagi menjadi bacaan yang menenangkan, tetapi menjadi bacaan yang mengguncang, menyadarkan, bahkan hingga menimbulkan rasa bersalah bagi mereka yang selama ini hidup dalam lapisan kepura-puraan nilai.

Novel Telembuk bukan sekedar novel yang menghadirkan dunia gelap para pekerja seks atau telembuk juga panggung dangdut murahan, tetapi merupakan suatu karya yang secara sadar menggugat pondasi nilai sosial yang penuh dikotomi dan kepura-puraan. Melalui pendekatan dekonstruksi, pembaca akan melihat batas-batas nilai menjadi kabur dan problematis. Novel ini menggemakan pesan bahwa kenyataan memang tidak selalu bisa ditampung dalam bingkai nilai yang rapi dan nyaman sebagaimana suatu karya sastra yang sering kali dianggap sebagai medium “tinggi” yang memuat nilai-nilai estetika.

Oleh karena hal tersebut, penting bagi para pembaca untuk membuka diri terhadap karya-karya yang jauh dari kata ideal dalam pandangan masyarakat, tetapi mampu mengungkap dengan jujur kenyataan yang ada dan menyuarakan realitas yang sering disingkirkan.

Sastra bukanlah objek pelarian dari kenyataan, tetapi cermin retak yang justru menunjukkan wajah asli suatu masyarakat dengan segala luka, ironi, dan kebusukannya. Maka, sudah saatnya kita berhenti menggaungkan sastra hanya karena “indah”, dan mulai menghargai sastra karena “jujur”. [T]

Penulis: Cahyu Dita Fadilah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama
Han Kang dan Kolase Enigmatik Novel Vegetarian
Kongkow Sejarah: Bicara Reposisi Perempuan Asia Tenggara Melalui Buku “Kuasa Rahim”
Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni
Mencari Bali Menemukan Diri — Ulasan Buku “Dari Sudut Bali” Karya Abdul Karim Abraham
Tags: Bukunovelresensi bukusastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

Cahyu Dita Fadilah

Cahyu Dita Fadilah

Mahasiswa, penulis. Tinggal di Cacaban, Kota Magelang

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co