26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy — [Bagian 2]

Asep Kurnia by Asep Kurnia
July 1, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SEBAGAI pertanggungjawaban seorang penulis tentunya tidak hanya mengajak pembaca untuk berpikir dan menggali serta menyimpulan sendiri atas sajian paragraf-paragraf yang saya tulis secara tertutup. Perlu disajikan data, fakta dan penjelasan yang terbuka serta akurat dari hasil kajian penulis dalam upaya meluruskan dan mengutuhkan informasi dan kejadian yang sebenarnya tentang pendidikan di suku Baduy serta bentuk sanksi-sanksi yang melanggar hukum adat di seputar dan sekitar pola pendidikan di Baduy.

Dari hasil telaahan dan kajian akademik yang penulis lakukan selama kurang lebih 29 tahun, tepatnya sejak tahun 1996 sampai sekarang proses pendidikan di suku Baduy terkait pendidikan formal yang menjadi program pemerintah mengalami pasang surut dan berbagai modifikasi pendidikan disesuaikan dengan iklim atau temperatur serta situasi kondisi pada waktu tersebut.

Juga tergantung geliatnya program pendidikan yang dicanangkan pemerintah pada saat itu. Ditambah faktor kekakuan atau keluwesan karakteristik ketokohan serta cara pandang tokoh adat yang sedang menjabat saat itu, juga kesadaran tuntutan kebutuhan masyarakat Baduy terhadap manfaat bersekolah.

Catatan penting yang ingin penulis sampaikan adalah bahwa sejak dulu di suku Baduy sudah melaksanakan pendidikan yang dinamakan “Pola Pendidikan  Adat“. Kontennya khusus berisi bagaimana mewariskan seluruh Amanat Leluhur dan Pikukuh Karuhun mereka ke anak cucunya dengan cara mendidik dan mengajari seluruh generasi penerusnya untuk memahami aturan dan kaidah hukum adat yang wajib diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pola pendidikan adat tersebut bersifat memaksa dan sangat mengikat bagi seluruh warga Baduy, baik warga Baduy Dalam maupun Baduy Luar.

Masih tetap eksis dan bertahannya keberadaan suku Baduy dari gempuran dahsyat moderniasi dan globalisasi sampai sekarang, serta masih tetap patuh dan manut warga untuk melaksanakan hukum adatnya itu adalah bukti konkret keberhasilan Pola Pendidikan Adat yang mereka jalankan dan lakukan.

Ayah Mursid sebagai tokoh muda terkemuka dari Baduy Dalam Cibeo menegaskan bahwa, “Di Suku Baduy itu ada dua pola pendidikan yang dilakukan yaitu yang utama atau pokok Pola Pendidikan Adat dan Pola Pendidikan Penunjang berupa belajar membaca, menulis dan menghitung seperti lazimnya di dulur-dulur luar Baduy yang dilakukan secara mandiri (pendidikan non formal) sesuai kebutuhan dan keinginan pribadi masing-masing.”

***

Pendidikan formal bagi suku Baduy pada tahun 1990-an ke belakang masih merupakan hal yang ditabukan (baca: antara dibutuhkan dan tidak dibutuhkan). Karena hal tersebut dianggap akan merusak tatanan hukum adat yang berlaku. Penolakan terhadap program pendidikan yang disodorkan pemerintah contohnya “Wajar 9 Tahun” dan program Pemberantasan Buta Aksara masih terasa kencang.  Dan ketika ada warga yang berani melibatkan diri langsung ditindak tegas oleh tokoh adat dan dihukum secara adat melalui keputusan Musyawarah Lembaga Adat. Hukuman yang tertinggi dan terberat adalah dikeluarkan dari kesukuan Baduy.

Namun seiring dengan perjalanan waktu dan begitu interdependensidan multikompleksnya perubahan zaman serta tuntutan kebutuhan zaman plus perubahan kebijakan pemerintah, maka ketegasan hukum adat melarang terhadap pendidikan formal tendensinya makin menurun.

Paling tidak, hemat penulis ada 5 faktor yang mendasari terjadinya penurunan tendensi penolakan pendidikan formal di suku Baduy :

Pertama, berkat gigih dan terus menerusnya pihak pemerintah memberikan pencerahan, ajakan serta mensosialisasikan tentang pentingnya pendidikan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kelangsungan hidup yang disertai dengan menyodorkan hasil kajian para pakar pendidikan dengan berbagai alternative model atau pola  pembelajaran yang bisa diterima sesuai dengan kondisi adat, mulai dari menawarkan adanya bentuk pendidikan nonformal, pendidikan paket khusus sampai pada model pendidikan Tutor Sebaya. Alhamdulillah sudah mereka terima.

Kedua,  akibat adanya “intervensi bijak“ dari kalangan peduliawan, relawan, pegiat pendidikan, pengkaji pendidikan, organisasi sosial dan kelompok belajar serta CSR dari berbagai pihak yang terus aktif melibatkan diri (datang ke wilayah Baduy ) untuk memberi pencerahan-pencerahan tentang manfaatnya memiliki kecakapan pendidikan dasar (calistung) agar mereka mampu berinteraksi dan bersaing dengan dunia luar Baduy dan mereka terjun langsung ke lokasi, tidak sekedar NATO (No Action Talk Only), dengan memberi bimbingan dan penyuluhan secara berkala dengan model yang mereka usung dan style-nya masing-masing.

Ketiga, mulai munculnya kesadaran pribadi yang berdampak pada kesadaran kolektif bahwa Pola Pendidikan Penunjang (pendidikan formal) itu sangat dibutuhkan oleh kesukuan mereka dalam rangka melengkapi kekurangan dari Pola Pendidikan Adat yang selama ini mereka terapkan dengan tujuan untuk meningkatkan taraf kualitas hidup dan kesejahteraan serta martabat hidup mereka (baca : status sosial ekonomi), serta demi tetap ajeg dalam mempertahankan kelangsungan hidup kesukuan mereka.

Fenomena ini ditandai dengan munculnya kelompok belajar di setiap kampung (belajar mandiri dengan model tutor sebaya), adanya kelompok yang mengikuti pendidikan Paket A, B dan C di PKBM tertentu yang mereka pilih. Bahkan ada beberapa warga yang langsung nekat masuk pendidikan formal tingkat SMP, SMA serta masuk perguruan tinggi (khusus warga Baduy Luar).

Keempat, adanya perubahan tatanan dunia yang begitu cepat akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga manusia dipaksa menjadi hambanya teknologi. Hidupnya dipaksa untuk tergantung pada alat-alat teknologi yang pada ujungnya semua manusia dituntut untuk memiliki pengetahua dan kecakapan menggunakan dan memanfaatkan teknologi bagi kehidupan sehari-hari. Akhirnya efek dominonya sampai juga pada masyarakat adat Baduy.

Situasi percepatan perubahan globalisasi menuntut masyarakat Baduy untuk mau tak mau harus mengikuti perkembangan dan kebutuhan zaman agar melek ilmu pengetahuan dan teknologi melalui proses pembelajaran dan pendidikan, sehingga mereka tidak terlalu tertinggal jauh dari kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan saudara-saudara sebangsa dan setanah airnya.

Kelima, adanya Hand Phone (HP) sebagai alat komunikasi yang ringkas sekaligus bisa dimanfaatkan untuk berbisnis, belajar mandiri dan manfaat lainnya. Memaksa hukum adat untuk melonggarkan warga Baduy memiliki dan menggunakan HP tersebut. Secara nyata kepemilikan hand phone oleh warga adat tidak bisa dicegah walaupun sudah dirampas dan dihancurkan melalui ‘Razia Adat”, besoknya sudah pada beli lagi malahan HP nya lebih canggih dari yang dirampas. Faktor kelima ini lebih gradual mempengaruhi warga Baduy belajar mandiri tentang dunia pendidikan tetapi  tidak terkendali dan terarah sebagaimana mestinya.

Paparan singkat dan penjelasan minimalis di atas tentunya tidak akan memuaskan pembaca dan memang bukan diperuntukan untuk memuaskan tetapi diperuntukan untuk sedikit mencerahkan wawasan dan memancing berpikir kritis para pembaca. Harapan sederhananya bahwa paparan penulis di atas bisa menjadi intermezo intelekdankoreksi intelektual. 

Paling tidak dengan 5 penjelasan faktor di atas, maka kita harus sudah mulai membuang jauh-jauh asumsi, opini dan pandangan bahwa masyarakat Baduy itu anti pendidikan, anti kemajuan, tidak berpendidikan, masyarakat monoton dan bodoh yang tidak berpengetahuan atau sebutan-sebutan lain yang sifatnya mendeskreditkan dan menjustice bahwa suku Baduy adalah suku terasing dan tertinggal.

Mulailah dengan memunculkan pandangan positif bahwa suku Baduy itu pasti “Ngindung ka waktu ngais ka zaman, moal bisa ngalawan waktu jeung zaman tapi kudu bisa mairan zaman“, artinyamengikuti waktu dan zaman, tidak mungkin bisa melawan waktu dan zaman tetapi harus bisa menyelaraskan atau mengimbangi dengan tuntutan zaman (Asep Kurnia, 2025).

Jadi mulai saat ini, jika ada yang bertanya tentang polemik pendidikan di suku Baduy, tidak usah ragu lagi untuk menjawab dan menjelaskan bahwa intinya proses pendidikan di suku Baduy sudah berjalan sejak kesukuan mereka lahir dengan menitik beratkan pada Pola Pendidikan Adat, yang kemudian menyertakan atau menyandingkan dengan Pola Pendidikan Penunjang (pendidikan nonformal) yang sesuai dengan kebutuhan pribadi masing-masing warga.

Untuk Pendidikan Formal seperti yang di programkan pemerintah masih belum ada tanda-tanda atau sinyal diterima atau ditolak apalagi diamandemen, karena masih bertentangan dengan beberapa kegiatan adat yang sudah baku sebagai ciri khas kesukuan mereka. Namun yang pasti kini mereka sudah “melek calistung” dan “melek digital” walau belum secara menyeluruh.

Perubahan pandangan Baduy terhadap pendidikan formal hanya bisa kita lihat dan perhatikan dengan kalimat “ wait and see” saja.

***

Penulis yakin dan percaya bahwa suku Baduy tidak akan bisa melawan hukum alam  (sunnatullah) tentang perubahan dan kebutuhan. (Asep Kurnia, 2025). Bahkan konsep termutakhir mantan Mendikbud Nadiem Makariem dengan “ Merdeka Belajar“ yang kemudian diturunkan dengan model belajar mandiri melalui daring-nya menjadi pilihan prioritas generasi muda mereka..

Pertanyaan berikutnya adalah apakah pemenuhan hak azasi atas pendidikan termasuk hak-hak perlindungan terhadap kaum perempuan di masyarakat hukum Baduy sudah dipenuhi dan terpenuhi? Lalu apakah masih terkendala dan apa saja kendala-kendalanya? Kemudian  apa solusi-solusi jitunya agar masyarakat hukum adat Baduy segera terpenuhi secara konstitusional, sehingga kehidupannya bisa terjamin lebih berkualitas dan lebih bermartabat serta menyeluruh bagi semua masyarakat adat yang ada d iwilayah hukum mereka.

Pada posisi problematika ini, penulis menyarankan untuk diadakan kajian khusus oleh pakar-pakar yang mumpuni sesuai dengan bidang kajiannya. Dan menurut penulis, siapa pun yang interes untuk melakukan kajian ilmiah secara legal insya allah akan dinobatkan menjadi pakar yang diakui secara akademik. Ayooo siapa nich, yang memiliki interes untuk melakukan riset?

Secara singkat, penulis memberikan sebuah arahan bahwa untuk merawat dan menjaga kearifan lokal masyarakat adat diperlukan upaya dan usaha memperkuat daya rekatdan harmonisasi sosial serta lakukan pengintegrasianyang cocok dengan budaya mereka. Di sini kehadiran negara atau pemerintah diharapkan kehadirannya dalam menyelenggarakan pendidikan sesuai konteksnya.

Deklarasi PBB melalui UNDRIP tentang Hak-hak Masyarakat Adat menyatakan bahwa : “Masyarakat adat memiliki hak untuk membentuk dan mengontrol  sistem pendidikan mereka dan institusi-institusi yang menyediakan pendidikan dalam bahasa mereka sendiri, dalam suatu cara yang cocok dengan budaya mereka tengtang pengajaran dan pembelajaran “. Maka sangat jelas sekali dengan adanya pasal 14 ayat 2 di deklarasi tersebut , negara memikul tanggung jawab untuk menyediakan askes pendidikan bagi anak-anak dan atau seluruh warga di wilayah tanah ulayat masyarakat adat , termasuk di komunitas adat Baduy.

Di UUD 1945 Pasal 28 C tertera, “Setiap warga negara mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dan ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia“. Lalu diperkuat lagi bahwa nasyarakat adat mempunyai hak untuk memperoleh layanan khusus ( UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Bab IV, Pasal 5, Ayat 3 ).

Tuntas , semoga bermanfaat. Amien yaa robbalamien. Salam sehat dan salam melek literasi. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy – [Bagian 1]
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
HP Android dan Antisipasi Malapetaka Moral  di Suku Baduy
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda

Next Post

Seember Air di Balik Wisata Kintamani: Catatan Kecil dari Film “Nyat” pada Program Layar Kolektif Bali Utara

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Seember Air di Balik Wisata Kintamani: Catatan Kecil dari Film “Nyat” pada Program Layar Kolektif Bali Utara

Seember Air di Balik Wisata Kintamani: Catatan Kecil dari Film “Nyat” pada Program Layar Kolektif Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co