2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
June 7, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

PENJELASAN serta uraian yang penulis paparkan di beberapa tulisan terdahulu cukup untuk menarik beberapa kesimpulan bahwa sebenarnya di kesukuan Baduy memang telah lama terjadi dinamisasi di berbagai aspek kehidupan dalam bentuk pergeseran-pergeseran nilai, perubahan-perubahan pola dan tingkah laku serta pengadopsian perilaku modern yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat sekitar (tidak tepat disebut modernisasi).

Penulis tidak melihat bahwa pergeseran, perubahan maupun pengadopsian pola dan nilai-nilai budaya modern pada kehidupan mereka adalah sebuah kesalahan atau kerugian bahkan pembangkangan terhadap pikukuh karuhun mereka sendiri, akan tetapi lebih dipengaruhi oleh dorongan azas pemenuhan kebutuhan hidup mereka dan situasi serta kondisi riil bahwa: “Pergeseran dan perubahan itu mesti dan harus terjadi di kesukuan mereka dan pembuktian bahwa hukum adat di kesukuan Baduy sesungguhnya bersifat elastis dan memiliki kekenyalan (fleksibilitas).“

Mereka sangat menyadari bahwa tidak mungkin terus bertahan dalam pola kaku dan baku dalam kesederhanaan ala aturan adat. Mereka juga amat menyadari bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Baduy tidak mungkin terpenuhi hanya mengandalkan hasil bumi dari tanah ulayat mereka yang luasnya sangat terbatas, dan mereka tidak bisa hidup dalam kesendirian di tanah leluhurnya.

Mereka adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya, mereka harus berinteraksi dan menyeimbangkan dengan kehidupan luar sesuai dengan tugas khusus kesukuan mereka “Ngasuh Ratu Nganyayak Menak”. Ramuan kesadaran inilah yang menjadikan mereka mencoba melakukan pergeseran, perubahan dan pengadopsian berbagai pola dan nilai budaya luar kepada kehidupan mereka dengan azas selektivitas agar tetap berkesinambungan dan diupayakan secermat mungkin untuk tidak terlalu bertabrakan dengan budaya dan aturan adat mereka.

Para tokoh adat Baduy sejak lama juga telah banyak berfikir bahwa kesukuan Baduy akan mengalami dan melintasi situasi zaman yang serba sulit. Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan (pola : AGHT) dari berbagai pihak serta berbagai situasi yang datang dari dalam dan dari luar bukan sedikit. Kesadaran bahwa keteguhan mereka pada tatanan hukum adat dan pikukuh karuhun akan mengalami ujian sangat berat ketika dihadapkan pada pilihan tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup sudah muncul sejak setengah abad yang lalu.

Mereka paham ada resiko yang harus ditanggung ketika mereka memilih sikap menolak secara terus menerus terhadap kemajuan-kemajuan yang terjadi di sekitar mereka dan risiko ketika mereka menerima kemajuan tersebut yang suka tidak suka akan merubah pola tatanan dan nilai-nilai kearifan budaya lokal mereka. Kedua risiko baik dan buruk ternyata harus berani mereka lalui, mereka menyadari tidak bisa diam dan bertahan karena waktu dan putaran zaman terus berjalan.

Seleksi dan kalkulasi-kalkulasi terhadap berbagai pola hidup modern dan tatanan nilai budaya luar yang akan diadopsi ke dalam kehidupan mereka terus dilakukan secara hati-hati penuh kewaspadaan dan berkesinambungan oleh para tokoh adat, baik di Baduy Luar maupun Baduy Dalam serta warga yang sudah melek terhadap perubahan kemajuan di dunia luar Baduy.

Mereka paham serta sadar betul bahwa pengadopsian yang mereka lakukan akan memberi dampak yang tidak sedikit terhadap perubahan pola hidup dan kebiasaan mereka. Tatanan adat sedikit demi sedikit tapi pasti akan mengalami pergeseran-pergeseran. Oleh karenanya ketika mereka mengadopsi bentuk sikap atau perilaku dari luar akan disesuaikan dengan celah hukum adat yang berlaku.

Mereka menghindari mengadopsi pola dan tatanan nilai budaya luar atau program-program yang disodorkan pemerintah atau pihak lain yang bertentangan sekali dengan pikukuh karuhun pokok atau utama misalnya merubah kontur tanah ulayat dengan pembangunan modern, Baduy Dalam tetap tiga kampung, tidak menerima perkawinan dengan orang luar Baduy, tetap hanya berkeyakinan Slam Sunda Wiwitan, dan berbagai Tugas Kesukuan mereka. Mereka lebih welcome atau menerima bentuk pembaharuan di bidang yang erat sekali dengan peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran.

Mereka menyadari bahwa meniru sebagian atau seutuhnya pola hidup modern ke dalam kehidupan keadatan mereka adalah merupakan tindakan yang keluar dari norma pikukuh adat (melanggar adat), akan tetapi mereka juga sadar jika tidak dengan melanggar ( baca: bahasa radikalnya) atau tidak dengan menggeser kekakuan hukum adat maka sulit bagi mereka untuk menyeimbangkan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Para tokoh adat pun memahami dilema itu sehingga muncul berbagai toleransidan dispensasi serta keluwesan dalam penegakan dan penerapan hukum adat (asas fleksibilitas) baik di Baduy Dalam telebih di lingkungan Baduy Luar.

Jaro Sami sebagai Jaro Tangtu Cibeo memberikan penjelasan yang cukup bijaksana (27 April 2017) dan ditegaskan kembali pada saat mau ikut Seba Baduy 2025 setelah beliau menjadi mantan Jaro Tangtu Cibeo : “Ari hukum adat Baduy mah moal rosa teuing robahna sabab ku kami oge pasti terus dipertahankeun, ngeun pasti aya nu robah nyaeta ahklaq atawa mental manusia na, jeung aya perobahan anu aya kaitanana jeung kamakmuran“ Artinya: hukum adat Baduy tidak akan banyak perubahan sebab oleh kami juga terus dipertahankan, cuma pasti ada yang berubah yaitu akhlaq dan mental manusianya, dan ada perubahan yang berkaitan dengan kemakmuran.

Kejelian, Kecerdasan, Kearifan dan Kebijakan Para Tokoh Adat.

“Peran ganda“ sebagai tokoh adat tanpa mereka sadari sering dilakukan demi memecahkan kebuntuan ketika dihadapkan pada masalah pemenuhan tuntutan kebutuhan yang mendesak dan terbentur dengan larangan hukum adat. Peran ganda yang melekat pada tokoh adat Baduy adalah pertama sebagai pemimpin penegakan hukum adat dan pada saat yang bersamaan juga diposisikan sebagai penolong bagi yang kesusahan (baca : sebagai tokoh spiritual yang bertugas mendoakan).

Secara teori keilmuan tidak menutup kemungkinan ketika tokoh adat terbiasa menjalankan peran ganda tanpa disadari muncul dan bergeser pula pada karakter “Moral Ganda “ sebagai efek sosial dari teori Habitasi (pembiasaan diri). Dengan posisi gandanya maka tokoh adat sangat memiliki peran strategis dan berpengaruh sangat besar terhadap terciptanya berbagai perubahan-perubahan perilaku masyarakat, pergeseran-pergeseran nilai serta pengadopsian gaya hidup modern yang terjadi di suku Baduy saat ini, terutama sekali peran strategisnya Jaro Pamarentah sebagai mandataris lembaga adat “Tangtu Tilu Jaro Tujuh” yang sekaligus sebagai jembatan antara adat dengan Negara.

Contoh penguat, kecil tapi menarik untuk sama-sama kita cermati adalah: “Ada calon-calon (Caleg dan Capim) datang dan minta doa restu ke tokoh adat Baduy Luar dan Baduy Dalam agar menang dalam pemilihan sambil kegiatan sosial dan acara pemberian kepedulian lainnya. Sehingga ganjil sekali kalau yang didoakan Baduy tidak didukung atau dipilih oleh Baduy sendiri. Sementara tugas pokok tokoh adat lebih pada mendoakan bukan ke suksesi pencoblosan. Jelas di sini ada benturan kepentingan yang memaksa pada munculnya peran ganda dan moral ganda tersebut pada sosok ketokohan mereka ”.

Penulis berprasangka mungkin contoh situasi kecil di atas adalah bagian awal yang tak terpisahkan bahwa di kesukuan Baduy juga telah dan sedang menggeliat atau membudayakan apa yang disebut moneterisasi yang berlanjut pada money oriented yang bila tidak terkendali bisa menjurus pada situasi komersialisasi.

Melihat tantangan zaman yang begitu kuat maka kualitas dan kapasitas berpikir, potensi dan kompetensi (kecerdasan) serta luasnya pengalaman dan komunikasi yang baik menjadi penting dimiliki oleh seorang Jaro Pamarentah, posisi Jaro ini adalah penerjemaah keputusan keputusan adat yang harus disampaikan ke dunia luar juga sebagai pen-secrenning atau pintu gerbang utama penyeleksi terhadap berbagai ajuan atau sodoran program pemerintah yang diperuntukan suku Baduy.

Jika terjadi penafsiran yang keliru atau penyeleksian yang salah atau ada unsur bermain maka dampak dari kebijakan dan keputusannya sungguh luas terhadap keajegan kesukuan mereka. Maju mundurnya suku Baduy, bertahan atau hancurnya peradaban suku Baduy, dan sejahtera atau sengsaranya masa depan suku Baduy 75 % amat sangat ditentukan oleh tingkat kejelian, kecerdasan, kearifan dan kebijakan para tokoh adat dalam membuka ruang pergeseran, perubahan dan mengadopsi perilaku modern tersebut.

Dalam catatan kesejarahan mereka sejak pertama kali dibentuk atau berdirinya Jaro Pamarentah di suku Baduy posisi ka-jaroan sudah dijabat oleh hampir 20 orang, mulai dari Juragan Tarpi dari Tangtu Cibeo yang menjadi Jaro Pamarentah pertama sampai pada Jaro Saija yang baru dilantik secara adat pada tanggal 16 April 2015, kejadian pergeseran dan perubahan yang spektakuler terjadi semasa kepemimpinan Jaro Dainah (1996-2015), pengadopsian pola perilaku serta tatanan kehidupan berbau modern bermunculan menjadi warna dan situasi tersendiri.

Dinamika masyarakat Baduy yang mencengangkan serta kemajuan-kemajuan di berbagai aspek makin tumbuh dan berkembang pada masa kepemimpinan beliau. Mendapat penghargaan Kalpataru dari presiden RI tanggal 5 Juni 2004 merupakan contoh spektakuler karya nyata kepemimpinannya. Beliau adalah salah satu yang penulis sebut sebagai agent of change dari dalam etnis Baduy. Beliau berani mengambil sikap dan keputusan penuh resiko yang terkadang beseberangan dengan peraturan pemerintah juga hukum adat demi melindungi, mempertahankan dan meningkatkan kesejehteraan warganya.

Kiprah pembaharuan Jaro Dainah selama 3 periode (19 tahun) menjabat Jaro Pamarentah dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah cukup banyak dirasakan oleh warga suku Baduy. Beberapa kebijakan dan keputusan Jaro Dainah yang bersifat membuka diri antara lain : berkat gaya jemput bola dan aktif menjalin kerjasama hukum dengan pihak kepolisian dapat menuntaskan 17 titik sengketa tanah; dibukanya program Wisata Budaya Baduy telah pula mengubah pranata sosial yang mampu menumbuhkan perkembangan ekonomi warga Baduy (baca: dalam satu aspek); memperjuangkan Perda Nomor 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy; membuat Perdes Desa Kanekes.

Kemudian mengarahkan program administrasi desa berbasis Komputer, membuka diri secara luas berbagai kegiatan adat untuk dipublikasikan ke dunia luar, mengumumkan secara resmi suku Baduy menerima pelayanan kesehatan modern, menerima berbagai program pemerintah dan lembaga lain yang menunjang terhadap peningkatan sumber daya manusia ( SDM)  dan kesejahteraan masyarakat.

Melonggarkan masyarakat dalam memiliki alat teknologi dan pendidikan nonformal serta membuka diri dan ikut serta dalam perilaku politik baik Pilpres, Pileg maupun Pilkada sebagai bukti menghormati kegiatan kenegaraan (partisipasi kenegaraan) dan kiprah-kiprah lainnya. Dan yang tak kalah penting dari seorang Jaro Dainah adalah selalu ikut membantu program pemerintah dengan slogan “Baduy Cinta Damai anti kekerasan dan Anti Narkoba juga Anti Poligami “

Tentunya kiprah-kiprah di atas yang dilakukan oleh jaro Dainah tidak mutlak merupakan gagasan atau pemikiran beliau sendiri. Kebijakan dan keputusan itu merupakan keputusan kolektif kolegial dari tokoh dan warga yang sama sama memahami dan membutuhkan perubahan tersebut. Terbukti dengan mendapat tanda kehormatan “Satyalancana Pembangunan“ yang diberikan  Presiden Joko Widodo pada tanggal 26 November 2014 dan piagam penghargaan dari KPU pusat sebagai “Mitra Strategis Pemilu “ 17 Desember 2014.

Pro dan kontra sudah umum terjadi dimana pun termasuk di suku Baduy, dampak positif dan dampak negatif selalu menyertai tindakan atau kegiatan apa pun, maka apa pun yang mereka pilih dan lakukan merupakan hak prerogatif  mereka. Termasuk kiprah pak Jaro Dainah sebagai “motoris perubahan” pasti ada yang setuju dan ada yang menentang. Apa pun itu marilah kita saksikan sesuai dengan perjalanan waktu. Jadilah kita penonton jujur dan setia yang tidak memihak tetapi receive dan kritis terhadap kejadian.

Dalam beberapa kasus atau situasi tertentu cukup membuktikan bahwa penggeseran dan pengadopsian pola dan nilai budaya modern yang mereka pilih justru sangat memberi nilai kebermanfaatan yang signifikan bagi kehidupan mereka, terutama dalam peningkatan kesejahteraan dan peningkatan derajat kesehatan hidup mereka. Keberanian mengubah paradigma dari menolak menjadi menjemput bola atau menerima pada aspek tertentu telah pula meningkatkan sebagian besar sumber daya manusia (SDM) mereka menjadi berkualitas setara saudaranya yang berada di luar mereka.

Kini mereka menjadi melek membaca, menulis dan menghitung, perilaku berkomputerisasi pun sudah mereka jalani, bahkan sudah banyak dari warga mereka bersertifikat pendidikan walau dalam bentuk sertifikat paket kesetaraan. Geliat perokonomian di tanah ulayat mereka sudah tumbuh dan berkembang dengan munculnya lebih dari 500 penenun dan kelompok pengrajin serta dibukanya  rumah menjadi warung tempat berdagang.

Keberanian mereka melanggar sebagian hukum adat bukan berarti mereka ingin mengahancurkan dan meningggalkan apalagi merusak tatanan adat, tapi justru mereka ingin segera membentengi suku mereka dari pengaruh yang lebih buruk lagi. Mereka paham tanpa ilmu pengetahuan dan keterampilan serta tanpa kesejahteraan juga kerjasama dengan semua pihak tidak mungkin mereka bisa mempertahankan kesukuan mereka. 

Kini, masa depan suku Baduy ada di tangan pemangku adat yang baru dari generasi muda mereka yang sudah berada dan merasakan hidup di zaman modern. Jaro Pamarentah yang baru yaitu Jaro Oom, kemudian Jaro Tangtu Alis sebagai Jaro Tangtu Cikeusik, dan Jaro Kasip sebagai JaroTangtu pengganti di Baduy Dalam Cibeo serta para Jaro Tujuh dan kokolotan Baduy. Apakah akan terus membiarkan pengadopsian dan penerapan berbagai pola hidup dan tata nilai-nilai kemodernan yang secara dinamis akan dibiarkan berjalan atau mulai ditertibkan dan dikembalikan ke pola hidup keadatan mereka? Hal ini akan menjadi taruhan atas kebijakan-kebijakan pemipin adat yang baru tersebut. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
HP Android dan Antisipasi Malapetaka Moral  di Suku Baduy
Menakar Kemelekan Informasi Suku Baduy
Tags: masyarakat adatSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menguatkan Spiritualitas dan Kesadaran Budaya melalui Tumpek Krulut

Next Post

Cerita Keberlanjutan dan Zero Waste dari Bali Sustainable Seafood dan Talasi di Ubud Food Festival 2025

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Keberlanjutan dan Zero Waste dari Bali Sustainable Seafood dan Talasi di Ubud Food Festival 2025

Cerita Keberlanjutan dan Zero Waste dari Bali Sustainable Seafood dan Talasi di Ubud Food Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co