2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HP Android dan Antisipasi Malapetaka Moral  di Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
May 21, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

DALAM beberapa tulisan yang pernah saya publikasikan, kurang lebih sepuluh tahun lalu saya sudah memperkirakan bahwa seketat dan setegas apa pun hukum adat yang ditetapkan dan diterapkan Lembaga Adat Tangtu Tilu Jaro Tujuh  pada warganya, baik warga Baduy Dalam maupun Baduy Luar, pada akhirnya tidak akan tahan melawan gempuran  dahsyatnya proses modernisasi melalui kemajuan perkembangan teknologi digital yang begitu cepat dan sangat variatif. Mereka sadar atau tidak sadar pasti akan melakukan “Proses Dinamisasi” di setiap aspek kehidupan. (Asep Kurnia, 2025).

Terbukti, bahwa pada tanggal 6 Mei 2023, Jaro Tanggungan 12 dan Jaro Pamarentah Desa Kanekes sebagai tokoh adat yang bertanggungjawab atas segala pelaksanaan dan penegakan hukum adat Suku Baduy telah melayangkan surat resmi pada negara atau pemerintah melalui Bupati cq Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Lebak yang isinya “Memohon sekaligus meminta agar wilayah Tanah Ulayat Baduy kembali dibersihkan dari sinyal internet, agar semua tower jaringan  apa pun tidak diarahkan ke wilayah mereka”.  Beliau meminta agar wilayah tanah adat mereka di-blankspot-kan kembali seperti dahulu kala, terutama sekali ke wilayah Baduy Dalam harus no signal no internet. Surat resmi yang dicap jempol langsung oleh beliau (sidik jari) itu kurang lebih isinya seperti itu.

Bagi saya dan sepengetahuan saya selama 29 tahun bersama Baduy, jika seorang Jaro Tanggungan 12  Suku Baduy sudah bereaksi bahkan sampai memprotes suatu kondisi dengan melayangkan surat resmi ke pihak pemerintah, maka apa pun alasannya, itu tandanya sudah ada pada posisi kegentingan yang memaksa atas dasar bahwa jika situasi dan kondisi tersebut tidak segera ditindaklanjutinya dengan tegas maka sikon tersebut menurut keyakinan beliau akan berdampak fatal bagi kehancuran dan kemusnahan peradaban adiluhung kesukuan mereka.

Sisi Negatif Internet dan HP Android Bagi Baduy

Kefatalan yang dimaksudkan beliau itu sangat beragam sekali, terutama dampak negatif terhadap perilaku warganya utamanya generasi muda mereka (baca : anak anak) yang sudah kecanduan terhadap konten game, berita dan hiburan yang disediakan pada hand phone android tersebut tanpa kemampuan menyaring yang baik dan selektif.  Mereka menggunakan berbagai aplikasi itu tanpa panduan atau sosialisasi yang bijak dan sistimatis sebagaimana mestinya (baca : asal buka, asal pijit dan serampangan).  Perilaku tersebut terus berkembang sehingga menyita waktu mereka dan ada indikasi mulai menyepelekan dan melupakan kegiatan-kegiatan ritual adat penting mereka.

Kaum perempuan muda pun sudah tidak lagi malu men-share photo mereka di Facebook, Instagram, Tik-tok,  WhatsApp yang menurut beliau pengguna dan penikmat aplikasi tersebut di warga Baduy sudah di angka ratusan bahkan mungkin sudah masuk diangka ribuan. Siang malam, waktu senggang mereka tidak lagi dimanfaatkan secara produktif untuk kegiatan seperti dulu tapi lebih sibuk dan menyibukkan diri dengan Ngomean HP (menggunakan HP).

Beliau menyatakan: “Coba bayangkeun ku pak asep, ayeuna warga Baduy utamana barudak kami geus ngarebu anu sapopoena marake HP Android rek di imah, di saung, di leuweung, di huma komo di kota mah teu lesot tina HP.  Enya, kami geh sadar teu dileungitkeun manfaatna eta HP keur komunikasi da geus  zaman na, kami moal bisa ngalawan zaman da kudu ngindung ka waktu ngabapak ka zaman. Ngan lamun negative na leuwih rosaaa ngaruksak pola tingkah laku Adat kami daripada positive na. Atuh 5 tahun kahareup geus pikumahaeun generasi kami?“.

Terjemahannya : “Coba bayangkan oleh Pak Asep, sekarang warga Baduy terutama anak-anak generasi kami sudah beribu-ribu yang kesehariannya menggunakan HP android mau di rumah, di saung, di hutan, di huma (ladang), apalagi sedang di kota tidak lepas dari HP. Betul kami pun menyadari dan tidak dipungkiri manfaat HP untuk berkomunikasi karena sudah zamannya, kami tidak bisa melawan zaman karena harus mengikuti perjalanan zaman.  Cuma kalau negatifnya lebih besar merusak pola tingkah laku adat kami daripada positifnya. Yach, kira-kira 5 tahun ke depan sudah akan bagaimana generasi penerus kami.“

“Kami sebagai tokohaAdat teu bisa ngalarang toko ngajualan HP jeung teu bisa ngaulahkeun secara tegas warga Baduy luar mareuli HP da geus jadi kabutuhan hirup di zaman ayeuna. Serba kerok (dilema) da dicaram-caram oge teu bisa sanajan di Razia Adat beunang laju diancurkeun isukna meuli deui bae. Bahkan urang Tangtu geh nya warga Baduy Dalam geus ucing-ucingan dina ngabogaan jeung ngagunakeun HP Android.”

Artinya, “Kami sebagai tokoh adat tidak bisa melarang toko menjual HP dan tidak bisa melarang secara tegas warga Baduy Luar pada membeli HP karena apa pun itu sudah menjadi kebutuhan hidup di zaman sekarang. Serba bingung (dilema), karena dilarang-larang juga tetap tidak bisa walaupun di “Razia Adat”, kemudian dapat disita dan dihancurkan besoknya lagi pada beli kembali. Bahkan warga Tangtu Tilu, yah Baduy Dalam juga sudah main kucing-kucingan dalam hal memiliki dan menggunakan HP android.“

Pernyataan dalam bentuk kekhawatiran tokoh adat sekaliber Jaro Tanggungan 12 di atas, jangan dimaknai hanya sekadar bicara tanpa makna. Makna yang tersirat dari pernyataannya adalah bahwa dengan adanya internetisasi dan adanya HP android yang begitu membludak di sekitar wilayah tanah ulayat Baduy, telah dan sedang mengakibatkan kemerosotan akhlak atau degradasi moral warga Baduy terhadap pikukuh karuhunnya. Moralitas mereka makin menurun dan yang dikhawatirkan oleh tokoh adat akan terjadi “perombakan atau pergantian budaya” di kesukuan mereka. Alasan konkretnya bahwa: “Environment bisa mempengaruhi dan mengubah kompetensi dan potensi diri manusia, pergaulan memegang peranan penting dalam menciptakan kualitas hebitasi budaya”. (Asep Kurnia, 2025)

Sebuah Upaya memperkecil Kerusakan Moral

Pemuka adat tetap berusaha agar penggunaan alat teknologi digital berupa HP dibatasi sebagai usaha dan upaya memperkecil dampat negatif dan atau memperlambat dampak kerusakan moral warga kami akibat menggunakan HP.

“Yach mun bisa mah warga Baduy mah cukup ku “HP Net not” bae ulah marake HP Android anu loba aplikasi na. Yach bisa jeung teu bisa na mah kumaha jaga, ngeun kami sebagai tokoh adat sudah berusaha untuk memperkecil pengaruh teknologi digital dengan cara mengajukan surat resmi tersebut,” kataJaro Tanggungan 12.

Artinya : “Yach kalau bisa warga Baduy Luar mah cukup oleh HP Net not (sederhana) jangan menggunakan HP android yang banyak aplikasinya. Yach, soal berhasil tidaknya bagaimana nanti saja, Cuma kami sebagai tokoh adat sudah berusaha untuk memperkecil pengaruh tehnologi digital dengan cara mengajukan surat resmi tersebut.”

Para pembaca yang budiman, bijak dan cerdas. Marilah kita selami secara mendalam bahasan penulis, mari kita afalaa-tafakkarun dan afalaa-ta’kilun (tafakuri dan pikirkan) curhatan,  kegalauan dan pemikiran beliau tentang bagaimana nasib masa depan kesukuan mereka setelah generasinya sudah begitu terhantam dan tervirusi, bahkan sudah menjadi habitasi terhadap penggunaan alat pengakses informasi berupa HP andoid.  Dan itu sudah sangat begitu merisaukan dan menggelisahkan tokoh adat tentang bagaimana keutuhan dan kesakralan budaya dan kehidupan adat mereka di masa yang akan datang.

Penulis menyatakan amat sangat salut dan hormat pada usaha dan upayanya beliau dalam rangka mengurangi “Percepatan Malapetaka Moral” warganya oleh efek HP android,walau berupaya sudah di posisi curative (pengobatan) bukan preventive lagi (pencegahan) tapi itu belum terlambat.

Di kepemimpinan Jaro Oom sebagai Jaro Pamarentah Desa Kanekes yang baru, juga sudah memberi warning agar para pengunjung wisata budaya Baduy untuk menghormati tidak menggunakan kamera di HP memotret tempat dan wilayah yang sudah dilarang untuk dipotret dan di publikasikan, termasuk dihimbau siapa pun untuk tidak men-drone wilayah tanah ulayat dan juga membuat Tik-Tok atau siaran-siaran di channel yang menginformasikan kevulgaran tentang nilai-nilai sosial budaya dan wilayah tanpa izin dan sepengetahuan tokoh adat yang berkompeten.

Mari kita ikut membantu meringankan problematika dan dilematika mereka dengan cara masing-masing. Paling tidak, mari kita mengurangi keberanian mengeksplorasi mereka tanpa pertanggungjawaban secara empirik dan akademik. Walau penulis juga tidak bisa menjamin bahwa mereka akan sanggup tidak melakukan dinamisasi tentang pemenuhan kebutuhan zaman.  [T]

Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy,  April 2025

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Menakar Kemelekan Informasi Suku Baduy
Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?
Dilema Suku Baduy [1]: Antara Kewajiban “Ngahuma” dan Keterbatasan Lahan
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

911—Nomor Cantik, Semoga Nomor Keberuntungan Buleleng di Porprov Bali 2025

Next Post

Menyalakan Kembali Api “Young Artist Style”: Pameran Murid-murid Arie Smit di Neka Art Museum

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Menyalakan Kembali Api “Young Artist Style”: Pameran Murid-murid Arie Smit di Neka Art Museum

Menyalakan Kembali Api "Young Artist Style": Pameran Murid-murid Arie Smit di Neka Art Museum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co