12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HP Android dan Antisipasi Malapetaka Moral  di Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
May 21, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

DALAM beberapa tulisan yang pernah saya publikasikan, kurang lebih sepuluh tahun lalu saya sudah memperkirakan bahwa seketat dan setegas apa pun hukum adat yang ditetapkan dan diterapkan Lembaga Adat Tangtu Tilu Jaro Tujuh  pada warganya, baik warga Baduy Dalam maupun Baduy Luar, pada akhirnya tidak akan tahan melawan gempuran  dahsyatnya proses modernisasi melalui kemajuan perkembangan teknologi digital yang begitu cepat dan sangat variatif. Mereka sadar atau tidak sadar pasti akan melakukan “Proses Dinamisasi” di setiap aspek kehidupan. (Asep Kurnia, 2025).

Terbukti, bahwa pada tanggal 6 Mei 2023, Jaro Tanggungan 12 dan Jaro Pamarentah Desa Kanekes sebagai tokoh adat yang bertanggungjawab atas segala pelaksanaan dan penegakan hukum adat Suku Baduy telah melayangkan surat resmi pada negara atau pemerintah melalui Bupati cq Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Lebak yang isinya “Memohon sekaligus meminta agar wilayah Tanah Ulayat Baduy kembali dibersihkan dari sinyal internet, agar semua tower jaringan  apa pun tidak diarahkan ke wilayah mereka”.  Beliau meminta agar wilayah tanah adat mereka di-blankspot-kan kembali seperti dahulu kala, terutama sekali ke wilayah Baduy Dalam harus no signal no internet. Surat resmi yang dicap jempol langsung oleh beliau (sidik jari) itu kurang lebih isinya seperti itu.

Bagi saya dan sepengetahuan saya selama 29 tahun bersama Baduy, jika seorang Jaro Tanggungan 12  Suku Baduy sudah bereaksi bahkan sampai memprotes suatu kondisi dengan melayangkan surat resmi ke pihak pemerintah, maka apa pun alasannya, itu tandanya sudah ada pada posisi kegentingan yang memaksa atas dasar bahwa jika situasi dan kondisi tersebut tidak segera ditindaklanjutinya dengan tegas maka sikon tersebut menurut keyakinan beliau akan berdampak fatal bagi kehancuran dan kemusnahan peradaban adiluhung kesukuan mereka.

Sisi Negatif Internet dan HP Android Bagi Baduy

Kefatalan yang dimaksudkan beliau itu sangat beragam sekali, terutama dampak negatif terhadap perilaku warganya utamanya generasi muda mereka (baca : anak anak) yang sudah kecanduan terhadap konten game, berita dan hiburan yang disediakan pada hand phone android tersebut tanpa kemampuan menyaring yang baik dan selektif.  Mereka menggunakan berbagai aplikasi itu tanpa panduan atau sosialisasi yang bijak dan sistimatis sebagaimana mestinya (baca : asal buka, asal pijit dan serampangan).  Perilaku tersebut terus berkembang sehingga menyita waktu mereka dan ada indikasi mulai menyepelekan dan melupakan kegiatan-kegiatan ritual adat penting mereka.

Kaum perempuan muda pun sudah tidak lagi malu men-share photo mereka di Facebook, Instagram, Tik-tok,  WhatsApp yang menurut beliau pengguna dan penikmat aplikasi tersebut di warga Baduy sudah di angka ratusan bahkan mungkin sudah masuk diangka ribuan. Siang malam, waktu senggang mereka tidak lagi dimanfaatkan secara produktif untuk kegiatan seperti dulu tapi lebih sibuk dan menyibukkan diri dengan Ngomean HP (menggunakan HP).

Beliau menyatakan: “Coba bayangkeun ku pak asep, ayeuna warga Baduy utamana barudak kami geus ngarebu anu sapopoena marake HP Android rek di imah, di saung, di leuweung, di huma komo di kota mah teu lesot tina HP.  Enya, kami geh sadar teu dileungitkeun manfaatna eta HP keur komunikasi da geus  zaman na, kami moal bisa ngalawan zaman da kudu ngindung ka waktu ngabapak ka zaman. Ngan lamun negative na leuwih rosaaa ngaruksak pola tingkah laku Adat kami daripada positive na. Atuh 5 tahun kahareup geus pikumahaeun generasi kami?“.

Terjemahannya : “Coba bayangkan oleh Pak Asep, sekarang warga Baduy terutama anak-anak generasi kami sudah beribu-ribu yang kesehariannya menggunakan HP android mau di rumah, di saung, di hutan, di huma (ladang), apalagi sedang di kota tidak lepas dari HP. Betul kami pun menyadari dan tidak dipungkiri manfaat HP untuk berkomunikasi karena sudah zamannya, kami tidak bisa melawan zaman karena harus mengikuti perjalanan zaman.  Cuma kalau negatifnya lebih besar merusak pola tingkah laku adat kami daripada positifnya. Yach, kira-kira 5 tahun ke depan sudah akan bagaimana generasi penerus kami.“

“Kami sebagai tokohaAdat teu bisa ngalarang toko ngajualan HP jeung teu bisa ngaulahkeun secara tegas warga Baduy luar mareuli HP da geus jadi kabutuhan hirup di zaman ayeuna. Serba kerok (dilema) da dicaram-caram oge teu bisa sanajan di Razia Adat beunang laju diancurkeun isukna meuli deui bae. Bahkan urang Tangtu geh nya warga Baduy Dalam geus ucing-ucingan dina ngabogaan jeung ngagunakeun HP Android.”

Artinya, “Kami sebagai tokoh adat tidak bisa melarang toko menjual HP dan tidak bisa melarang secara tegas warga Baduy Luar pada membeli HP karena apa pun itu sudah menjadi kebutuhan hidup di zaman sekarang. Serba bingung (dilema), karena dilarang-larang juga tetap tidak bisa walaupun di “Razia Adat”, kemudian dapat disita dan dihancurkan besoknya lagi pada beli kembali. Bahkan warga Tangtu Tilu, yah Baduy Dalam juga sudah main kucing-kucingan dalam hal memiliki dan menggunakan HP android.“

Pernyataan dalam bentuk kekhawatiran tokoh adat sekaliber Jaro Tanggungan 12 di atas, jangan dimaknai hanya sekadar bicara tanpa makna. Makna yang tersirat dari pernyataannya adalah bahwa dengan adanya internetisasi dan adanya HP android yang begitu membludak di sekitar wilayah tanah ulayat Baduy, telah dan sedang mengakibatkan kemerosotan akhlak atau degradasi moral warga Baduy terhadap pikukuh karuhunnya. Moralitas mereka makin menurun dan yang dikhawatirkan oleh tokoh adat akan terjadi “perombakan atau pergantian budaya” di kesukuan mereka. Alasan konkretnya bahwa: “Environment bisa mempengaruhi dan mengubah kompetensi dan potensi diri manusia, pergaulan memegang peranan penting dalam menciptakan kualitas hebitasi budaya”. (Asep Kurnia, 2025)

Sebuah Upaya memperkecil Kerusakan Moral

Pemuka adat tetap berusaha agar penggunaan alat teknologi digital berupa HP dibatasi sebagai usaha dan upaya memperkecil dampat negatif dan atau memperlambat dampak kerusakan moral warga kami akibat menggunakan HP.

“Yach mun bisa mah warga Baduy mah cukup ku “HP Net not” bae ulah marake HP Android anu loba aplikasi na. Yach bisa jeung teu bisa na mah kumaha jaga, ngeun kami sebagai tokoh adat sudah berusaha untuk memperkecil pengaruh teknologi digital dengan cara mengajukan surat resmi tersebut,” kataJaro Tanggungan 12.

Artinya : “Yach kalau bisa warga Baduy Luar mah cukup oleh HP Net not (sederhana) jangan menggunakan HP android yang banyak aplikasinya. Yach, soal berhasil tidaknya bagaimana nanti saja, Cuma kami sebagai tokoh adat sudah berusaha untuk memperkecil pengaruh tehnologi digital dengan cara mengajukan surat resmi tersebut.”

Para pembaca yang budiman, bijak dan cerdas. Marilah kita selami secara mendalam bahasan penulis, mari kita afalaa-tafakkarun dan afalaa-ta’kilun (tafakuri dan pikirkan) curhatan,  kegalauan dan pemikiran beliau tentang bagaimana nasib masa depan kesukuan mereka setelah generasinya sudah begitu terhantam dan tervirusi, bahkan sudah menjadi habitasi terhadap penggunaan alat pengakses informasi berupa HP andoid.  Dan itu sudah sangat begitu merisaukan dan menggelisahkan tokoh adat tentang bagaimana keutuhan dan kesakralan budaya dan kehidupan adat mereka di masa yang akan datang.

Penulis menyatakan amat sangat salut dan hormat pada usaha dan upayanya beliau dalam rangka mengurangi “Percepatan Malapetaka Moral” warganya oleh efek HP android,walau berupaya sudah di posisi curative (pengobatan) bukan preventive lagi (pencegahan) tapi itu belum terlambat.

Di kepemimpinan Jaro Oom sebagai Jaro Pamarentah Desa Kanekes yang baru, juga sudah memberi warning agar para pengunjung wisata budaya Baduy untuk menghormati tidak menggunakan kamera di HP memotret tempat dan wilayah yang sudah dilarang untuk dipotret dan di publikasikan, termasuk dihimbau siapa pun untuk tidak men-drone wilayah tanah ulayat dan juga membuat Tik-Tok atau siaran-siaran di channel yang menginformasikan kevulgaran tentang nilai-nilai sosial budaya dan wilayah tanpa izin dan sepengetahuan tokoh adat yang berkompeten.

Mari kita ikut membantu meringankan problematika dan dilematika mereka dengan cara masing-masing. Paling tidak, mari kita mengurangi keberanian mengeksplorasi mereka tanpa pertanggungjawaban secara empirik dan akademik. Walau penulis juga tidak bisa menjamin bahwa mereka akan sanggup tidak melakukan dinamisasi tentang pemenuhan kebutuhan zaman.  [T]

Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy,  April 2025

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Menakar Kemelekan Informasi Suku Baduy
Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?
Dilema Suku Baduy [1]: Antara Kewajiban “Ngahuma” dan Keterbatasan Lahan
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

911—Nomor Cantik, Semoga Nomor Keberuntungan Buleleng di Porprov Bali 2025

Next Post

Menyalakan Kembali Api “Young Artist Style”: Pameran Murid-murid Arie Smit di Neka Art Museum

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Menyalakan Kembali Api “Young Artist Style”: Pameran Murid-murid Arie Smit di Neka Art Museum

Menyalakan Kembali Api "Young Artist Style": Pameran Murid-murid Arie Smit di Neka Art Museum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co