3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menguatkan Spiritualitas dan Kesadaran Budaya melalui Tumpek Krulut

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
June 7, 2025
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

TUMPEK Klurut, sebagai salah satu rahina suci dalam ajaran agama Hindu di Bali, memiliki makna yang sangat mendalam dalam memperkuat spiritualitas individu dan kolektif. Lebih dari sekadar upacara keagamaan, Tumpek Klurut merupakan momentum untuk merefleksikan diri, menyucikan bathin, serta mempererat hubungan dengan Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh ciptaan-Nya. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan cenderung materialistik, Tumpek Klurut menghadirkan ruang kontemplasi untuk pemulihan spiritual yang otentik.

Di tengah arus zaman yang deras, perayaan Tumpek Krulut hadir sebagai titik hening dalam dinamika hidup masyarakat Bali. Hari suci ini bukan sekadar odalan untuk perangkat gamelan, melainkan juga menjadi ruang untuk merefleksi jati diri kultural, dan menyemai kembali benih kasih sayang terhadap sesama, alam, dan warisan leluhur.

Ada banyak nilai penting yang dapat dipetik dalam perayaan Tumpek Klurut. Beberapa di antaranya adalah pertama, Tumpek Klurut mengajarkan pentingnya introspeksi dan refleksi diri. Dalam pelaksanaannya, Umat Hindu melakukan penyucian terhadap alat-alat bunyi atau tabeh-tabehan, seperti gamelan, seraya melaksanakan persembahyangan kepada Sang Hyang Aji Gurnita—manifestasi Tuhan sebagai dewa suara dan seni. Proses ini bukan semata ritual simbolik, melainkan ajakan untuk menyelaraskan kehidupan dengan harmoni diri dan semesta.

Kedua, Tumpek Klurut mempertegas hubungan spiritual manusia dengan Tuhan, serta meneguhkan taksu atau daya spiritual sebagai sumber kekuatan bathin dan keindahan dalam berkesenian. Spiritualitas yang diusung bukan semata individual, melainkan relasional—membangun harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, alam, dan budaya.

Ketiga, Tumpek Klurut secara kultural juga diyakini sebagai hari kasih sayang. Pemaknaan ini menempatkan Tumpek Klurut sejajar, bahkan lebih substansial dari Hari Valentine. Kasih sayang yang dimaksud tidak terbatas pada pasangan, tetapi mencakup cinta terhadap keluarga, sesama manusia, budaya, dan alam. Taksu yang diturunkan pada hari ini diyakini memberi kebahagiaan dan memperkuat rasa cinta di tengah kehidupan yang kadang keras dan terasing.

Selain itu, Tumpek Klurut juga menguatkan kesadaran akan budaya agraris yang telah lama menjadi dasar peradaban Bali. Dalam pelaksanaannya, selain menyucikan gamelan, masyarakat juga melakukan upacara penenteraman terhadap sarwa prani—termasuk tumbuh-tumbuhan dan lingkungan sekitar. Spirit ini menyiratkan hubungan spiritual manusia dengan alam, memohon agar tanaman tumbuh subur, tanah tetap subur, dan hasil bumi dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia. Ini adalah bentuk kasih sayang ekologis yang luhur, yang sangat relevan dengan isu keberlanjutan lingkungan saat ini.

Dalam konteks ini, implementasi nilai-nilai Tumpek Klurut dalam dunia pendidikan menjadi sangat penting. Sekolah tidak hanya sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan kesadaran budaya. Spirit Tumpek Klurut dapat diintegrasikan melalui pendidikan berbasis budaya dan lingkungan, misalnya dalam kegiatan menyucikan alat seni sekolah, menanam dan merawat tanaman sebagai wujud rasa syukur terhadap alam, serta membangun empati siswa terhadap lingkungan dan warisan budaya.

Namun demikian, dalam perayaan ini kita juga perlu merenung secara kritis. Bagaimanakah kondisi seni tradisional Bali saat ini?

Kenyataan menunjukkan adanya perubahan sosial yang signifikan dalam masyarakat Bali, khususnya dalam bidang seni budaya. Beberapa jenis gamelan klasik Bali, seperti gambuh, gambang, dan genggong mulai sepi peminat. Seni-seni ini, yang dulu menjadi tulang punggung dan denyut nadi kehidupan spiritual dan kultural desa adat, kini sunyi, perlahan-lahan tergeser oleh dinamika zaman dan selera hiburan modern. Kalaupun ada geliat seni, seperti karawitan dan balaganjur, tidak jarang semangatnya hanya mengemuka karena kompetisi atau lomba dengan iming-iming juara.

Meskipun belakangan terlihat geliat baru dari generasi muda Bali dalam seni karawitan dan balaganjur, hal itu patut dicermati secara objektif. Tidak sedikit dari kegiatan tersebut tumbuh karena adanya dorongan material melalui lomba atau kompetisi dengan iming-iming hadiah dan status juara. Sayangnya, euforia itu seringkali bersifat sesaat. Setelah lomba usai, semangat kembali meredup. Seni kehilangan fungsi spiritualnya dan berubah menjadi komoditas hiburan semata. Penyebabnya beragam, mulai dari minimnya regenerasi, kurangnya pemaknaan dan ruang apresiasi, hingga pergeseran nilai masyarakat terhadap seni tradisional.

Dalam konteks inilah, makna sejati Tumpek Klurut menjadi penting untuk diaktualisasikan. Bukan sekadar membersihkan instrumen gamelan, tetapi juga merevitalisasi roh dan semangat budaya agar tidak kehilangan arah dan makna. Tumpek Klurut seharusnya menjadi momentum untuk menyemai kembali cinta dan kesadaran akan nilai luhur kesenian Bali, yang tidak hanya indah dalam bunyi tetapi sakral dalam makna.

Tumpek Klurut bukan sekadar odalan gong atau ritus tahunan, melainkan momen untuk memperkuat spiritualitas, menyuburkan kasih sayang, menumbuhkan kesadaran ekologis, dan membangkitkan kembali kebudayaan yang nyaris pudar. Dengan demikian, nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur tidak hanya menjadi sejarah yang diperingati, tetapi napas hidup yang dijalani dengan kesadaran dan cinta kasih.

Saya pernah membaca salinan Lontar Aji Ghūrnita walau tidak mendalam. Di dalamnya dijelaskan bahwa Tumpek Krulut yang dilaksanakan pada hari Saniscara Kliwon Wuku Krulut merupakan bentuk persembahan suci terhadap tabeh-tabehan (perangkat gamelan), lengkap dengan sarana upacara yang spesifik. Namun, pemuliaan tidak berhenti pada alatnya semata, melainkan seluruh anggota sekaa juga melakukan sembah bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai wujud ketulusan, rasa syukur dan cinta kasih terhadap kekuatan spiritual yang melandasi bunyi dan harmoni kehidupan.

Lebih jauh, Lontar Aji Ghūrnita menguraikan asal mula tetabuhan sebagai perwujudan dari bayu (tenaga hidup) yang pertama kali menjelma dalam bentuk suling dan rebab. Suling yang menghasilkan suara halus-manis melambangkan kelembutan dan kerinduan, sedangkan rebab yang berbunyi galak-manis menggambarkan semangat dan kekuatan. Ini merepresentasikan filosofi rwa bhineda—keseimbangan antara dua kutub yang berlawanan tetapi saling melengkapi, antara Semara-Ratih (kasih sayang dan keindahan) dan Om Kara Ngadeg–Om Kara Sumungsang (kekuatan pencipta dan daya keseimbangan semesta).

Makna ini mempertegas bahwa seni, khususnya tetabuhan, tidak lahir dari kehampaan melainkan dari kesadaran kosmis yang sangat spiritual. Sayangnya, filosofi luhur ini kini mulai tergerus oleh perkembangan tradisi baru yang dianggap lebih modern dan menjanjikan secara material. Seni karawitan—yang dulu sakral dan bermakna—perlahan tergantikan oleh euforia penampilan kompetitif dan industrialisasi budaya.

Ironisnya, generasi muda Bali yang mulai aktif dalam seni pun kadang melupakan akar nilai spiritual dan filosofis yang menyertai setiap denting gamelan yang mereka tabuh. Seni kehilangan ruhnya, hanya tinggal bentuk luar yang dipoles untuk panggung hiburan atau komoditas industri pariwisata. Bahkan di antaranya muncul kesan miring, asal gedig/asal tigtig.

Di sinilah urgensi mengintegrasikan nilai-nilai Tumpek Krulut ke dalam dunia pendidikan. Sekolah dan sanggar-sanggar seni tidak cukup hanya mendidik intelektual siswa saja tetapi juga harus membangun kesadaran spiritual, ekologis, dan budaya. Nilai-nilai dalam Lontar Aji Ghūrnita, seperti penghayatan terhadap bayu sebagai sumber suara, penghormatan terhadap tetabuhan sebagai perwujudan taksu, serta konsep rwa bhineda sebagai dasar etika dan estetika, dapat diajarkan dalam kegiatan ekstra kurikuler seni, pendidikan agama, hingga proyek profil pelajar Pancasila berbasis budaya lokal.

Selain itu, perlu dipahami bahwa perayaan Tumpek Krulut juga berkaitan erat dengan kesadaran akan budaya agraris. Dalam tradisi Bali, Tumpek Krulut tidak hanya menyucikan bunyi, tetapi juga menenteramkan sarwa prani (makhluk hidup dan tumbuhan), memohon agar tumbuh-tumbuhan dapat berkembang subur dan memberi manfaat. Ini adalah bagian dari kesadaran yang harus dikembalikan dalam cara berpikir generasi muda—menghargai tanaman, menjaga kesuburan tanah, dan menyadari keterhubungan antara manusia dengan alam. Nilai ini selaras dengan filosofi agraris masyarakat Bali bahwa alam adalah bagian dari sistem kehidupan yang saling berkaitan agar tidak semakin tercabut dari akar ekologisnya.

Bila kita maknai secara lebih mendalam, sesungguhnya Tumpek Krulut bukan sekadar seremonial budaya, melainkan momen untuk menyadari hubungan batin antara manusia dengan Sang Pencipta melalui bunyi-bunyian suci (tetabuhan). Gamelan dipandang sebagai sarana komunikasi spiritual dan perwujudan kekuatan ilahi. Maka dari itu, umat diajak merefleksikan kembali nilai-nilai spiritual dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Tumpek Klurut juga dalam rangka menumbuhkan kembali kesadaran akan taksu dan kesakralan seni. Setiap alat gamelan diyakini memiliki taksu, yaitu kekuatan spiritual yang membuatnya hidup dan bermakna. Melalui Tumpek Krulut, masyarakat Bali diajak menyadari bahwa seni bukan sekadar hiburan, tetapi memiliki kedalaman nilai spiritual, etika, dan estetika. Pemuliaan terhadap alat dan pelaku seni menjadi bagian dari kesadaran menjaga kesakralan dan roh seni Bali yang autentik.

Tumpek Klurut juga sebagai jalan untuk merawat dan menghidupkan seni tradisi yang hampir punah. Beberapa jenis gamelan, seperti gambuh, gambang, dan genggong boleh jadi suatu saat hanya dikenal lewat catatan usang. Karena itu, perayaan Tumpek Krulut adalah ruang penting untuk menghidupkan kembali seni-seni klasik Bali, memberi apresiasi yang layak, serta menciptakan ruang belajar dan panggung baru agar generasi muda mencintai dan melanjutkan tradisi luhur ini.

Selain itu, perayaan Tumpek Klurut juga merupakan momentum bagi umat Hindu untuk dapat mengaktualisasikannya dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari
Makna-makna luhur Tumpek Krulut perlu diimplementasikan dalam dunia pendidikan melalui pembelajaran berbasis budaya, proyek seni-budaya lokal, penguatan karakter spiritual siswa, hingga kesadaran ekologis. Dengan begitu, nilai-nilai budaya tidak hanya dikenang dalam seremoni tetapi juga hidup dan menyatu dalam kebiasaan sehari-hari generasi muda Bali.

Tumpek Krulut bukan hanya seremonial atau formalitas adat melainkan titik balik dari yang terlupa menjadi yang dihayati, dari yang redup menjadi yang bersinar kembali. Inilah kawisesan budaya Bali yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan dengan penuh cinta dan kesadaran. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Taktik Adu Narasi Valentine vs Tumpek Krulut
Valentine Ala Bali atau Tumpek Krulut Rasa Valentine?
Tags: hinduHindu BaliTumpek Krulut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Laut dan Rindu yang Mengalir | Cerpen Lanang Taji

Next Post

Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co