3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menguatkan Spiritualitas dan Kesadaran Budaya melalui Tumpek Krulut

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
June 7, 2025
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

TUMPEK Klurut, sebagai salah satu rahina suci dalam ajaran agama Hindu di Bali, memiliki makna yang sangat mendalam dalam memperkuat spiritualitas individu dan kolektif. Lebih dari sekadar upacara keagamaan, Tumpek Klurut merupakan momentum untuk merefleksikan diri, menyucikan bathin, serta mempererat hubungan dengan Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh ciptaan-Nya. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan cenderung materialistik, Tumpek Klurut menghadirkan ruang kontemplasi untuk pemulihan spiritual yang otentik.

Di tengah arus zaman yang deras, perayaan Tumpek Krulut hadir sebagai titik hening dalam dinamika hidup masyarakat Bali. Hari suci ini bukan sekadar odalan untuk perangkat gamelan, melainkan juga menjadi ruang untuk merefleksi jati diri kultural, dan menyemai kembali benih kasih sayang terhadap sesama, alam, dan warisan leluhur.

Ada banyak nilai penting yang dapat dipetik dalam perayaan Tumpek Klurut. Beberapa di antaranya adalah pertama, Tumpek Klurut mengajarkan pentingnya introspeksi dan refleksi diri. Dalam pelaksanaannya, Umat Hindu melakukan penyucian terhadap alat-alat bunyi atau tabeh-tabehan, seperti gamelan, seraya melaksanakan persembahyangan kepada Sang Hyang Aji Gurnita—manifestasi Tuhan sebagai dewa suara dan seni. Proses ini bukan semata ritual simbolik, melainkan ajakan untuk menyelaraskan kehidupan dengan harmoni diri dan semesta.

Kedua, Tumpek Klurut mempertegas hubungan spiritual manusia dengan Tuhan, serta meneguhkan taksu atau daya spiritual sebagai sumber kekuatan bathin dan keindahan dalam berkesenian. Spiritualitas yang diusung bukan semata individual, melainkan relasional—membangun harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, alam, dan budaya.

Ketiga, Tumpek Klurut secara kultural juga diyakini sebagai hari kasih sayang. Pemaknaan ini menempatkan Tumpek Klurut sejajar, bahkan lebih substansial dari Hari Valentine. Kasih sayang yang dimaksud tidak terbatas pada pasangan, tetapi mencakup cinta terhadap keluarga, sesama manusia, budaya, dan alam. Taksu yang diturunkan pada hari ini diyakini memberi kebahagiaan dan memperkuat rasa cinta di tengah kehidupan yang kadang keras dan terasing.

Selain itu, Tumpek Klurut juga menguatkan kesadaran akan budaya agraris yang telah lama menjadi dasar peradaban Bali. Dalam pelaksanaannya, selain menyucikan gamelan, masyarakat juga melakukan upacara penenteraman terhadap sarwa prani—termasuk tumbuh-tumbuhan dan lingkungan sekitar. Spirit ini menyiratkan hubungan spiritual manusia dengan alam, memohon agar tanaman tumbuh subur, tanah tetap subur, dan hasil bumi dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia. Ini adalah bentuk kasih sayang ekologis yang luhur, yang sangat relevan dengan isu keberlanjutan lingkungan saat ini.

Dalam konteks ini, implementasi nilai-nilai Tumpek Klurut dalam dunia pendidikan menjadi sangat penting. Sekolah tidak hanya sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan kesadaran budaya. Spirit Tumpek Klurut dapat diintegrasikan melalui pendidikan berbasis budaya dan lingkungan, misalnya dalam kegiatan menyucikan alat seni sekolah, menanam dan merawat tanaman sebagai wujud rasa syukur terhadap alam, serta membangun empati siswa terhadap lingkungan dan warisan budaya.

Namun demikian, dalam perayaan ini kita juga perlu merenung secara kritis. Bagaimanakah kondisi seni tradisional Bali saat ini?

Kenyataan menunjukkan adanya perubahan sosial yang signifikan dalam masyarakat Bali, khususnya dalam bidang seni budaya. Beberapa jenis gamelan klasik Bali, seperti gambuh, gambang, dan genggong mulai sepi peminat. Seni-seni ini, yang dulu menjadi tulang punggung dan denyut nadi kehidupan spiritual dan kultural desa adat, kini sunyi, perlahan-lahan tergeser oleh dinamika zaman dan selera hiburan modern. Kalaupun ada geliat seni, seperti karawitan dan balaganjur, tidak jarang semangatnya hanya mengemuka karena kompetisi atau lomba dengan iming-iming juara.

Meskipun belakangan terlihat geliat baru dari generasi muda Bali dalam seni karawitan dan balaganjur, hal itu patut dicermati secara objektif. Tidak sedikit dari kegiatan tersebut tumbuh karena adanya dorongan material melalui lomba atau kompetisi dengan iming-iming hadiah dan status juara. Sayangnya, euforia itu seringkali bersifat sesaat. Setelah lomba usai, semangat kembali meredup. Seni kehilangan fungsi spiritualnya dan berubah menjadi komoditas hiburan semata. Penyebabnya beragam, mulai dari minimnya regenerasi, kurangnya pemaknaan dan ruang apresiasi, hingga pergeseran nilai masyarakat terhadap seni tradisional.

Dalam konteks inilah, makna sejati Tumpek Klurut menjadi penting untuk diaktualisasikan. Bukan sekadar membersihkan instrumen gamelan, tetapi juga merevitalisasi roh dan semangat budaya agar tidak kehilangan arah dan makna. Tumpek Klurut seharusnya menjadi momentum untuk menyemai kembali cinta dan kesadaran akan nilai luhur kesenian Bali, yang tidak hanya indah dalam bunyi tetapi sakral dalam makna.

Tumpek Klurut bukan sekadar odalan gong atau ritus tahunan, melainkan momen untuk memperkuat spiritualitas, menyuburkan kasih sayang, menumbuhkan kesadaran ekologis, dan membangkitkan kembali kebudayaan yang nyaris pudar. Dengan demikian, nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur tidak hanya menjadi sejarah yang diperingati, tetapi napas hidup yang dijalani dengan kesadaran dan cinta kasih.

Saya pernah membaca salinan Lontar Aji Ghūrnita walau tidak mendalam. Di dalamnya dijelaskan bahwa Tumpek Krulut yang dilaksanakan pada hari Saniscara Kliwon Wuku Krulut merupakan bentuk persembahan suci terhadap tabeh-tabehan (perangkat gamelan), lengkap dengan sarana upacara yang spesifik. Namun, pemuliaan tidak berhenti pada alatnya semata, melainkan seluruh anggota sekaa juga melakukan sembah bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai wujud ketulusan, rasa syukur dan cinta kasih terhadap kekuatan spiritual yang melandasi bunyi dan harmoni kehidupan.

Lebih jauh, Lontar Aji Ghūrnita menguraikan asal mula tetabuhan sebagai perwujudan dari bayu (tenaga hidup) yang pertama kali menjelma dalam bentuk suling dan rebab. Suling yang menghasilkan suara halus-manis melambangkan kelembutan dan kerinduan, sedangkan rebab yang berbunyi galak-manis menggambarkan semangat dan kekuatan. Ini merepresentasikan filosofi rwa bhineda—keseimbangan antara dua kutub yang berlawanan tetapi saling melengkapi, antara Semara-Ratih (kasih sayang dan keindahan) dan Om Kara Ngadeg–Om Kara Sumungsang (kekuatan pencipta dan daya keseimbangan semesta).

Makna ini mempertegas bahwa seni, khususnya tetabuhan, tidak lahir dari kehampaan melainkan dari kesadaran kosmis yang sangat spiritual. Sayangnya, filosofi luhur ini kini mulai tergerus oleh perkembangan tradisi baru yang dianggap lebih modern dan menjanjikan secara material. Seni karawitan—yang dulu sakral dan bermakna—perlahan tergantikan oleh euforia penampilan kompetitif dan industrialisasi budaya.

Ironisnya, generasi muda Bali yang mulai aktif dalam seni pun kadang melupakan akar nilai spiritual dan filosofis yang menyertai setiap denting gamelan yang mereka tabuh. Seni kehilangan ruhnya, hanya tinggal bentuk luar yang dipoles untuk panggung hiburan atau komoditas industri pariwisata. Bahkan di antaranya muncul kesan miring, asal gedig/asal tigtig.

Di sinilah urgensi mengintegrasikan nilai-nilai Tumpek Krulut ke dalam dunia pendidikan. Sekolah dan sanggar-sanggar seni tidak cukup hanya mendidik intelektual siswa saja tetapi juga harus membangun kesadaran spiritual, ekologis, dan budaya. Nilai-nilai dalam Lontar Aji Ghūrnita, seperti penghayatan terhadap bayu sebagai sumber suara, penghormatan terhadap tetabuhan sebagai perwujudan taksu, serta konsep rwa bhineda sebagai dasar etika dan estetika, dapat diajarkan dalam kegiatan ekstra kurikuler seni, pendidikan agama, hingga proyek profil pelajar Pancasila berbasis budaya lokal.

Selain itu, perlu dipahami bahwa perayaan Tumpek Krulut juga berkaitan erat dengan kesadaran akan budaya agraris. Dalam tradisi Bali, Tumpek Krulut tidak hanya menyucikan bunyi, tetapi juga menenteramkan sarwa prani (makhluk hidup dan tumbuhan), memohon agar tumbuh-tumbuhan dapat berkembang subur dan memberi manfaat. Ini adalah bagian dari kesadaran yang harus dikembalikan dalam cara berpikir generasi muda—menghargai tanaman, menjaga kesuburan tanah, dan menyadari keterhubungan antara manusia dengan alam. Nilai ini selaras dengan filosofi agraris masyarakat Bali bahwa alam adalah bagian dari sistem kehidupan yang saling berkaitan agar tidak semakin tercabut dari akar ekologisnya.

Bila kita maknai secara lebih mendalam, sesungguhnya Tumpek Krulut bukan sekadar seremonial budaya, melainkan momen untuk menyadari hubungan batin antara manusia dengan Sang Pencipta melalui bunyi-bunyian suci (tetabuhan). Gamelan dipandang sebagai sarana komunikasi spiritual dan perwujudan kekuatan ilahi. Maka dari itu, umat diajak merefleksikan kembali nilai-nilai spiritual dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Tumpek Klurut juga dalam rangka menumbuhkan kembali kesadaran akan taksu dan kesakralan seni. Setiap alat gamelan diyakini memiliki taksu, yaitu kekuatan spiritual yang membuatnya hidup dan bermakna. Melalui Tumpek Krulut, masyarakat Bali diajak menyadari bahwa seni bukan sekadar hiburan, tetapi memiliki kedalaman nilai spiritual, etika, dan estetika. Pemuliaan terhadap alat dan pelaku seni menjadi bagian dari kesadaran menjaga kesakralan dan roh seni Bali yang autentik.

Tumpek Klurut juga sebagai jalan untuk merawat dan menghidupkan seni tradisi yang hampir punah. Beberapa jenis gamelan, seperti gambuh, gambang, dan genggong boleh jadi suatu saat hanya dikenal lewat catatan usang. Karena itu, perayaan Tumpek Krulut adalah ruang penting untuk menghidupkan kembali seni-seni klasik Bali, memberi apresiasi yang layak, serta menciptakan ruang belajar dan panggung baru agar generasi muda mencintai dan melanjutkan tradisi luhur ini.

Selain itu, perayaan Tumpek Klurut juga merupakan momentum bagi umat Hindu untuk dapat mengaktualisasikannya dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari
Makna-makna luhur Tumpek Krulut perlu diimplementasikan dalam dunia pendidikan melalui pembelajaran berbasis budaya, proyek seni-budaya lokal, penguatan karakter spiritual siswa, hingga kesadaran ekologis. Dengan begitu, nilai-nilai budaya tidak hanya dikenang dalam seremoni tetapi juga hidup dan menyatu dalam kebiasaan sehari-hari generasi muda Bali.

Tumpek Krulut bukan hanya seremonial atau formalitas adat melainkan titik balik dari yang terlupa menjadi yang dihayati, dari yang redup menjadi yang bersinar kembali. Inilah kawisesan budaya Bali yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan dengan penuh cinta dan kesadaran. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Taktik Adu Narasi Valentine vs Tumpek Krulut
Valentine Ala Bali atau Tumpek Krulut Rasa Valentine?
Tags: hinduHindu BaliTumpek Krulut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Laut dan Rindu yang Mengalir | Cerpen Lanang Taji

Next Post

Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co