30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Valentine Ala Bali atau Tumpek Krulut Rasa Valentine?

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
February 13, 2022
in Opini
Valentine Ala Bali atau Tumpek Krulut Rasa Valentine?

Foto ilustrasi: tatkala.co

Penyataan Gubernur Koster Selasa (8/2/2022) yang intinya mengimbau agar warga Bali lebih memilih merayakan Hari Tumpek Krulut ketimbang Valentine menuai beragam tanggapan di media sosial. Tak kalah, hal ini juga menjadi obrolan di dunia ‘luring’, macam pangkalan Ojol, warung kopi, pasar, dan yang lainnya. Tampaknya petimbangan utama imbauan ini karena Tumpek Krulut adalah budaya Bali, sementara Valentine tidak. 

Sesungguhnya telah semenjak lama sudah beredar artikel maupun berita ringan yang memuat tentang keberadaan Tumpek Krulut. Sejalan dengan pernyataan Gubernur Koster, tulisan-tulisan itu menyebut Tumpek Krulut dapat dijadikan substitusi Valentine.

Meskipun demikian tidak banyak juga umat yang merasa kaget. Barangkali karena sangat banyak tumpek bahkan reahinan Hindu di Bali yang juga bertema kasih sayang, sebut saja tumpek uye kasih sayang kepada binatang, tumpek wariga kasih sayang kepada tumbuh-tumbuhan, nyepi kasih sayang kepada alam, tumpek landep kasih sayang kepada perkakas sehari-hari, dan semacamnya.

Kasih sayang antarsesama manusia bahkan bisa terkandung dalam rerahinan yang lebih banyak lagi. Namanya juga ritual komunal, pastinya memerlukan kerjasama, koordinasi, saling pengertian, dan semacamnya.

Menjadi wajar bila banyak orang yang gerah dengan dampak buruk perayaan kasih sayang yang dianggap terlalu sensual semacam kesalahan memaknai Valentine. Bukan rahasia lagi jika pada hari ini selain cokelat dan bunga yang laris manis, juga alat kontrasepsi beserta kamar short time. Mesti saya tak punya datanya tentu banyak pula seks pranikah, kehamilan yang tidak dikehendaki, hingga pelecehan seksual.

Sebegitu besarnya ‘bahaya’ kekeliruan merayakan Hari Valentine sehingga banyak orang berpikir apabila diganti dengan perayaan Tumpek Krulut yang sakral tentu tidak mungkin ada pelanggaran norma-norma kesusilaan hingga hukum. Sekali lagi ini baru dugaan dari tempat ngobrol. Namun demikian jangan lupa Hari Suci yang lekat dengan ‘suasana malam’ seperti Siwaratripun ditengarai kerap dijadikan ajang berbuat menyimpang oleh kaum remaja.

Bayangkan, para remaja tentu akan diizinkan oleh orangtuanya apabila menyebut hendak sembahyang bersama. Setelahnya siapa yang bisa menjamin jika mereka benar-benar bersembahyang. Apalagi kita tahu bersama jika kaum remaja yang baru memasuki  masa pubertas seringkali berbuat di ‘luar batas’.

Dengan tanpa bermaksud mengecilkan keberadaan kaum remaja yang taat dalam pengendalian diri, kerawanan ini membuat orangtua atau guru serba gamang untuk bersikap. Jika tidak diizinkan untuk pergi, jelas-jelas anaknya akan bersembahyang. Bila diijinkan tidur mereka juga tidak nyenyak. Tidak sedikit pula orangtua yang harus ‘majagra’, berkeliling memastikan keberadaan anak gadisnya dari satu tempat ke tempat lain saat Siwaratri.

Saat majagra bersama di sekolah guru-guru juga ekstra ketat mengawasi anak didiknya dengan seksama, takut kalau-kalau ada yang mojok atau kabur dari sekolah. Mereka juga menghadapi dilema yang tiada berbeda dengan para orangtua siswa. Jika boleh jujur tentu mereka ingin meniadakan kegiatan itu. Namun kembali lagi, pada esensinya kegiatan tersebut adalah suci.

Sesungguhnya bila dicermati beberapa versi sejarah Hari Valentine juga tidaklah terlalu buruk. Malahan versi-versi kisah itu menampakkan citra kesetiaan dan penghargaan kepada cinta sejati. Sebut saja St. Valentine yang dibunuh oleh Kaisar Claudius karena telah menikahkan pasangan kekasih yang saling mencintai secara sembunyi-sembunyi.

Versi berikutnya menyebutkan tokoh ini jatuh cinta kepada seorang gadis, puteri sipir penjara yang diduga juga mencintainya.  Kesetiaan Valentine yang membawa citanya sampai mati semakin membuat kisah ini mashyur. Kendatipun ada juga yang menyebut Valentine sebagai bagian dari ritual kuno berama Lupercalia yang identik dengan seksualitas dan kekerasan.

Sebagai manusia yang beradab tentu kita telah dapat memilih mana nilai-nilai yang dapat diadopsi atau sebaliknya dihindari dari budaya-budaya import. Justeru kita terlihat kurang berwawasan bahkan kurang teguh iman ketika menyebut suatu hal buruk namun ternyata tidak mampu menjelaskan keburukan-keburukannya secara moderat.

Sementara di lain sisi kita juga telah latah meniru tradisi dari luar seperti upacara bendera (bendera pertamakali muncul pada kebudayaan kuno di kawasan Laut Tengah), baris berbaris (pertamakali muncul pada era kekaisaran Romawi), lagu kebangsaan (muncul pertamakali di Belanda dengan judul Wilhemus), dan semacamnya. Bukankah hasil-hasil meniru itu tidak menimbulkan sesuatu yang buruk bahkan menjadi hal yang wajib ketika dikelola dengan arif ?.

Jangan sampai pula kita mentabukan Hari Valentine karena kebobrokan-kebobrokan yang sesungguhnya berasal dari dalam. Kita malah gagal mengadopsi nilai-nilai luhurnya seperti kesetiaan terhadap pasangan maupun sesama serta curiga kepada dampak buruknya saja. Saya jadi ingat kisah orang-orang tua masa tahun 90-an yang melarang anak-anaknya mengkonsumsi apel merah import.

Bibi saya mengatakan apel itu mengandung racun. Beruntung saya sempat memergoki bibi saya tengah sembunyi-sembunyi mengupas apel merah untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Ketika saya tanyakan kenapa ia boleh memakannya, dengan agak kagok dia menjawab bila kalau sudah dewasa saya baru boleh memakannya.

Ayah saya juga pernah bercerita jika semasa kecil dilarang untuk ngemil gula merah oleh para tetua. Alasannya bisa menyebabkan rambut menjadi berwarna merah. Baik ayah maupun saya sendiri ketika menginjak dewasa barulah sadar jika makanan itu sejatinya tidak berbahaya. Pelarangan dilakukan karena mereka tidak mampu membelinya dalam jumlah banyak. Maksud saya mengutarakan analogi ini agar kita terbebas dari sifat kekanak-kanakan. Mengkambinghitamkan sesuatu karena kelemahan yang lain. Terang kelemahan itu selamanya tidak bisa diperbaiki karena memang sengaja ditedengaling-alingi.

Disamping sedikit berotokrtik, saya juga mengapresiasi pelestarian dan pemaknaan yang benar pada hari-hari raya khas Bali, tidak saja Tumpek Krulut. Apalagi menurut Gubernur Koster hari ini memiliki kadar Tresna Asih tinggi. Bukankah cinta kasih semacam itu yang tengah dibutuhkan dunia kita yang rindu perdamaian, kesetiaan, kepedulian, dan yang lainnya.

Tetapi sekali lagi upaya pelestarian itu harus disertai tindakan yang tidak setengah-setengah. Jika masih setengah-setengah, apalagi hanya untuk pencitraan, tentu bukan pelestarian namanya. Jangan sampai Tumpek Krulut mengalami nasib sama seperti Siwaratri yang kerap ‘dinodai’. Ada yang berdalih Tumpek Krulut tidak isi acara begadang-begadangan, jadi akan jauh lebih terkendali. Namun mereka lupa Valentine juga tidak mengharuskan, toh juga para remaja ‘nakal’ misa-misaang raga membuat acara begadang hingga nginepang.

Maksud saya ketika pemerintah membuat imbauan yang positif, rakyat juga mesti mendukungnya. Kenapa rakyat mesti mendukung? Bisa jadi ini pertanyaan retorik. Tetapi perlu pula saya jawab dengan pendapat: bila merayakan tresna asih tidak diapresiasi lantas mau apa ?.

Dukungan jelas tidak harus selalu eksplisit. Mengkritik dengan mengajukan saran-saran penyempurnaan juga termasuk dukungan. Asalkan tidak ribut-ribut tanpa solusi. Tugas lain dari sinergi rakyat dan pemerintah adalah memformat perayaan itu dengan tepat serta mendetail. Kira-kira bagaimana acara pembukaan, inti, dan penutupnya. Jika ini disebut hari kasih sayang tentu semua orang bahkan setiap makluk membutuhkan kasih sayang. Biar tidak terlalu luas, kita bicarakan manusia dahulu. Manusia ada berbagai tingkatan ada bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan orangtua. Apabila dibicarakan secara ritual akan berbeda lagi, ada walaka murni, ekajati, dan dwijati.

Semua golongan ini mesti dirinci keterlibatannya pada perayaan Tumpek Krulut. Disamping itu mesti dipikirkan cara agar tresna asih ala Tumpek Krulut tidak dicemari birahi buta sebagaimana yang banyak dikhawatirkan dari keliruan merayakan Valentine selama ini, karenanya dinyatakan perlu diganti. Jangan sampai kita sama-sama bingung dan berujar, “Disesuaikan dengan cara masing-masing saja dan toh, pada-pada suba gédé”. [T]  

Tags: Hari Valentinekasih sayangTumpek Krulut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Drama Sidha Sidhi Yoga Krama Sanggar Mahasaba | Siasat-siasat untuk Mencari Bentuk

Next Post

Film Indonesia ”Nana” Jadi Nominasi Festival Film Berlinale, Tiket Premier Habis Terjual

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails
Next Post
Film Indonesia ”Nana” Jadi Nominasi Festival Film Berlinale, Tiket Premier Habis Terjual

Film Indonesia ”Nana” Jadi Nominasi Festival Film Berlinale, Tiket Premier Habis Terjual

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co