14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Taktik Adu Narasi Valentine vs Tumpek Krulut

Gede Suardana by Gede Suardana
February 14, 2022
in Opini
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Tokoh politik bisa dengan leluasa melakukan kapitalisasi budaya untuk sekadar memancing pro kontra publik. Tujuannya, namanya terus menjadi percakapan. Ia pun bakal diingat menjadi “top of mind” dalam benak publik.

Narasi di atas mirip dengan percakapan yang sedang “hype” di media sosial. Tengok saja riuh rendah percakapan tentang hari kasih sayang valentine yang “dipertentangkan” dengan tumpek  krulut.

Percakapan valentine vs tumpek krulut mendadak saja menjadi viral di media sosial karena percakapan dipenuhi pro kontra. Itu disebabkan pelatuk wacananya adalah seorang tokoh politik yang saat ini memegang posisi Gubernur Bali, yaitu Wayan Koster.

Iya. Gubernur Koster tengah getol mengusung misi melestarikam budaya Bali dengan semangat dresta Bali. Ia dipersepsi publik demikian atas pilihan sikapnya saat riuhnya isu dresta Bali dan sampradaya. Isu yang sempat juga heboh di tahun 2021 jelang mahasabha PHDI Bali.

Misi untuk menjaga budaya Bali dilakukan Gubernur Koster dengan membawa urusan budaya ke dalam aspek formal pemerintahan. Misalnya saja saat intruksi merayakan rahina Tumpek Uye pada Saniscara Kliwon Uye, Sabtu 22 Januari 2022.

Perayaan Tumpek Uye dirayakan hampir seluruh instansi pemerintahan dan pendidikan atas instruksi Gubernur Koster. Perayaan dipusatkan di Danau Buyan serta dibarengi instasi di wilayah masing-masing pada 29 Januari 2022. Prosesinya melepas burung dan ikan sebagai bentuk cinta, sayang, dan memuliakan satwa.

Bukan Budaya Bali

Strategi melestarikan dresta Bali makin digencarkan. Sukses atas gelaran Tumpek Uye, Gubernur Koster pun kembali merancang perayaan kasih saya pada rahina Tumpek Krulut pada Saniscara Kliwon Krulut, Sabtu 23 Juli 2022. Instruksinya dituangkan dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2022 tentang Tata Titi Kehidupan Masyarakat Bali.

“Hari Kasih Sayang yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari itu bukan budaya kita di Bali. Jadi, sudah waktunya kita melaksanakan Hari Tresna Asih atau Hari Kasih Sayang pada rahina Tumpek Krulut,” ujar Gubernur Koster dalam keterangan persnya Selasa (8/2).

Media mainstream pun melakukan  framing atas pernyataan itu. “Valentine day 14 Februari bukan budaya Bali,” tulis media.

Sontak pernyataan Gubernur Koster itu menjadi percakapan yang luar biasa di media sosial. Pro kontra saling bersahutan. Meme bertebaran.

Riuh rendah percakapan terhadap sebuah isu dari perspektif komunikasi politik merupakan sebuah keberhasilan bagi tim penyokong seorang tokoh politik. Orkestrasi terhadap sebuah isu yang memancing kontroversi merupakan cara jitu untuk memperkenalkan tokoh politik baru atau semakin menancapkan namanya lebih dalam di benak publik bagi tokoh yang telah populer. Itu merupakan bagian dari strategi kampanye.

Strategi kampanye biasa dilakukan oleh konsultan politik yang ada di belakang tokoh politik yang disebut dengan “spin doctor”.

Spin doctor sangat dibutuhkan tokoh politik.  Dia-lah yang bertugas mengatur jalannya kampanye, membuat isi dalam naskah pidato, membuat agenda dan daftar pernyataan yang diucapkan tokoh politik kepada publik. Singkatnya, saat ini dikenal dengan nama konsultan politik.

Kembali lagi ke narasi “valentine bukan budaya Bali”. Narasi ini menjadi percakapan yang ramai karena narasi yang mempertentangkan budaya Bali dengan budaya barat merupakan hal yang baru di Bali.

Selama ini, narasi mempertentangan budaya Bali vs barat jarang terjadi. Bali yang menjadi pusat pariwisata dunia, sebelum pandemi Covid-19, telah didatangi jutaan turis asing setiap tahunnya. Sehingga tak terasa telah terjadi adopsi budaya asing dalam kehidupan Bali, baik dalam bentuk akulutrasi atau hibrid.

Contohnya, kesenian akulutrasi-hibrid adalah pertunjukan pariwisata yang spektakuler dan megah, yaitu Bali Agung – The Legend of Balinese Goddesses, yang mengisahkan kisah cinta Raja Jayapangus – Kang Cing Wei. Pertunjukan yang menggabungkan unsur Bali-Cina-Barat. Atau contoh lainnya bentuk bangunan hotel yang mengadopsi teknologi dan struktur barat (baca asing).

Sentimen negatif-positif

Tim kampanye/konstultan yang disebut spin doctor dalam melakukan kampanye bertugas untuk membangun dan mengangkat citra (image) seorang tokoh politik. Yang dapat dilakukan dengan cara dramatisasi.

Narasi valentine vs budaya Bali merupakan cara dramatisasi yang dilakukan oleh Gubernur Koster untuk selalu mendapatkan perhatian publik. Menjadi percakapan publik yang masif dan intensif. Dalam jangka waktu lama.

Semakin ramai percakapan pro kontra maka semakin baik bagi tokoh politik. Ia akan terus diperbincangkan. Semakin sering dan lama diperbincangkan maka semakin diingat publik. Semakin namanya ada di urutan teratas maka ia telah berhasil menjadi “top of mind” di benak publik dalam kategori tokoh politik.

Cara-cara dramatisasi ini lazim dan digunakan oleh banyak tokoh politik, sekadar untuk memancing percakapan. Misalnya, tokoh politik yang juga Gubernur DKI Anies Baswedan. Sejak persaingan dengan Ahok pada Pilkada DKI 2017 hingga kini ia tetap menjadi perbincangan publik. Itu dilakukan dengan proses dramatisasi sebuah isu atau melalui kebijakan publik. Contohnya, pembuatan patung sepatu, getah-getih, lubang resapan, hingga formula E.

Biasanya cara-cara ini dilakukan tanpa mempedulikan apakah persepsi publik menjadi menjadi negatif atau positif. Yang terpenting bagi tokoh politik adalah ia terus diperbincangkan.

Namun, cara-cara dramatisasi terkadang menjadi bumerang bagi tokoh politik. Jika image yang dibangun terus menerus dengan cara seperti itu maka akan terbangun persepsi bahwa tokoh politik ini tengah membangun citra dengan cara gimik.

Membangun citra dengan cara gimik tidak akan bisa membangun personal brand seorang tokoh politik yang positif. Citranya tidak akan terkesan orisinil dan “genuine”. Citra seperti ini tidak akan bertahan lama.

Jika seorang tokoh politik ingin membangun personal brand yang positif dalam benak publik, maka ia wajib mengkampanyekan kemampuan dirinya secara konsisten. Ketika menjadi pemimpin berupaya menorehkan prestasi melalui kebijakan yang pro rakyat sehingga publik memiliki ikatan emosi positif dengan dirinya. Begitu purna tugas, ia akan menancapkan legasi yang selalu dikenang publik. Layaknya Bapak Bangsa Indonesia, Sukarno.

Selamat Valentine! eh, tresna asih. [T]

Tags: Gubernur BaliHari ValentinePartai PolitikPolitikTumpek Krulut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nama Supermarket Mirip Nama Koperasi, Apa Ada Pengaruhnya Terhadap Pelanggan?

Next Post

Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co