3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Taktik Adu Narasi Valentine vs Tumpek Krulut

Gede Suardana by Gede Suardana
February 14, 2022
in Opini
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Tokoh politik bisa dengan leluasa melakukan kapitalisasi budaya untuk sekadar memancing pro kontra publik. Tujuannya, namanya terus menjadi percakapan. Ia pun bakal diingat menjadi “top of mind” dalam benak publik.

Narasi di atas mirip dengan percakapan yang sedang “hype” di media sosial. Tengok saja riuh rendah percakapan tentang hari kasih sayang valentine yang “dipertentangkan” dengan tumpek  krulut.

Percakapan valentine vs tumpek krulut mendadak saja menjadi viral di media sosial karena percakapan dipenuhi pro kontra. Itu disebabkan pelatuk wacananya adalah seorang tokoh politik yang saat ini memegang posisi Gubernur Bali, yaitu Wayan Koster.

Iya. Gubernur Koster tengah getol mengusung misi melestarikam budaya Bali dengan semangat dresta Bali. Ia dipersepsi publik demikian atas pilihan sikapnya saat riuhnya isu dresta Bali dan sampradaya. Isu yang sempat juga heboh di tahun 2021 jelang mahasabha PHDI Bali.

Misi untuk menjaga budaya Bali dilakukan Gubernur Koster dengan membawa urusan budaya ke dalam aspek formal pemerintahan. Misalnya saja saat intruksi merayakan rahina Tumpek Uye pada Saniscara Kliwon Uye, Sabtu 22 Januari 2022.

Perayaan Tumpek Uye dirayakan hampir seluruh instansi pemerintahan dan pendidikan atas instruksi Gubernur Koster. Perayaan dipusatkan di Danau Buyan serta dibarengi instasi di wilayah masing-masing pada 29 Januari 2022. Prosesinya melepas burung dan ikan sebagai bentuk cinta, sayang, dan memuliakan satwa.

Bukan Budaya Bali

Strategi melestarikan dresta Bali makin digencarkan. Sukses atas gelaran Tumpek Uye, Gubernur Koster pun kembali merancang perayaan kasih saya pada rahina Tumpek Krulut pada Saniscara Kliwon Krulut, Sabtu 23 Juli 2022. Instruksinya dituangkan dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2022 tentang Tata Titi Kehidupan Masyarakat Bali.

“Hari Kasih Sayang yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari itu bukan budaya kita di Bali. Jadi, sudah waktunya kita melaksanakan Hari Tresna Asih atau Hari Kasih Sayang pada rahina Tumpek Krulut,” ujar Gubernur Koster dalam keterangan persnya Selasa (8/2).

Media mainstream pun melakukan  framing atas pernyataan itu. “Valentine day 14 Februari bukan budaya Bali,” tulis media.

Sontak pernyataan Gubernur Koster itu menjadi percakapan yang luar biasa di media sosial. Pro kontra saling bersahutan. Meme bertebaran.

Riuh rendah percakapan terhadap sebuah isu dari perspektif komunikasi politik merupakan sebuah keberhasilan bagi tim penyokong seorang tokoh politik. Orkestrasi terhadap sebuah isu yang memancing kontroversi merupakan cara jitu untuk memperkenalkan tokoh politik baru atau semakin menancapkan namanya lebih dalam di benak publik bagi tokoh yang telah populer. Itu merupakan bagian dari strategi kampanye.

Strategi kampanye biasa dilakukan oleh konsultan politik yang ada di belakang tokoh politik yang disebut dengan “spin doctor”.

Spin doctor sangat dibutuhkan tokoh politik.  Dia-lah yang bertugas mengatur jalannya kampanye, membuat isi dalam naskah pidato, membuat agenda dan daftar pernyataan yang diucapkan tokoh politik kepada publik. Singkatnya, saat ini dikenal dengan nama konsultan politik.

Kembali lagi ke narasi “valentine bukan budaya Bali”. Narasi ini menjadi percakapan yang ramai karena narasi yang mempertentangkan budaya Bali dengan budaya barat merupakan hal yang baru di Bali.

Selama ini, narasi mempertentangan budaya Bali vs barat jarang terjadi. Bali yang menjadi pusat pariwisata dunia, sebelum pandemi Covid-19, telah didatangi jutaan turis asing setiap tahunnya. Sehingga tak terasa telah terjadi adopsi budaya asing dalam kehidupan Bali, baik dalam bentuk akulutrasi atau hibrid.

Contohnya, kesenian akulutrasi-hibrid adalah pertunjukan pariwisata yang spektakuler dan megah, yaitu Bali Agung – The Legend of Balinese Goddesses, yang mengisahkan kisah cinta Raja Jayapangus – Kang Cing Wei. Pertunjukan yang menggabungkan unsur Bali-Cina-Barat. Atau contoh lainnya bentuk bangunan hotel yang mengadopsi teknologi dan struktur barat (baca asing).

Sentimen negatif-positif

Tim kampanye/konstultan yang disebut spin doctor dalam melakukan kampanye bertugas untuk membangun dan mengangkat citra (image) seorang tokoh politik. Yang dapat dilakukan dengan cara dramatisasi.

Narasi valentine vs budaya Bali merupakan cara dramatisasi yang dilakukan oleh Gubernur Koster untuk selalu mendapatkan perhatian publik. Menjadi percakapan publik yang masif dan intensif. Dalam jangka waktu lama.

Semakin ramai percakapan pro kontra maka semakin baik bagi tokoh politik. Ia akan terus diperbincangkan. Semakin sering dan lama diperbincangkan maka semakin diingat publik. Semakin namanya ada di urutan teratas maka ia telah berhasil menjadi “top of mind” di benak publik dalam kategori tokoh politik.

Cara-cara dramatisasi ini lazim dan digunakan oleh banyak tokoh politik, sekadar untuk memancing percakapan. Misalnya, tokoh politik yang juga Gubernur DKI Anies Baswedan. Sejak persaingan dengan Ahok pada Pilkada DKI 2017 hingga kini ia tetap menjadi perbincangan publik. Itu dilakukan dengan proses dramatisasi sebuah isu atau melalui kebijakan publik. Contohnya, pembuatan patung sepatu, getah-getih, lubang resapan, hingga formula E.

Biasanya cara-cara ini dilakukan tanpa mempedulikan apakah persepsi publik menjadi menjadi negatif atau positif. Yang terpenting bagi tokoh politik adalah ia terus diperbincangkan.

Namun, cara-cara dramatisasi terkadang menjadi bumerang bagi tokoh politik. Jika image yang dibangun terus menerus dengan cara seperti itu maka akan terbangun persepsi bahwa tokoh politik ini tengah membangun citra dengan cara gimik.

Membangun citra dengan cara gimik tidak akan bisa membangun personal brand seorang tokoh politik yang positif. Citranya tidak akan terkesan orisinil dan “genuine”. Citra seperti ini tidak akan bertahan lama.

Jika seorang tokoh politik ingin membangun personal brand yang positif dalam benak publik, maka ia wajib mengkampanyekan kemampuan dirinya secara konsisten. Ketika menjadi pemimpin berupaya menorehkan prestasi melalui kebijakan yang pro rakyat sehingga publik memiliki ikatan emosi positif dengan dirinya. Begitu purna tugas, ia akan menancapkan legasi yang selalu dikenang publik. Layaknya Bapak Bangsa Indonesia, Sukarno.

Selamat Valentine! eh, tresna asih. [T]

Tags: Gubernur BaliHari ValentinePartai PolitikPolitikTumpek Krulut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nama Supermarket Mirip Nama Koperasi, Apa Ada Pengaruhnya Terhadap Pelanggan?

Next Post

Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co