23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Taktik Adu Narasi Valentine vs Tumpek Krulut

Gede Suardana by Gede Suardana
February 14, 2022
in Opini
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Tokoh politik bisa dengan leluasa melakukan kapitalisasi budaya untuk sekadar memancing pro kontra publik. Tujuannya, namanya terus menjadi percakapan. Ia pun bakal diingat menjadi “top of mind” dalam benak publik.

Narasi di atas mirip dengan percakapan yang sedang “hype” di media sosial. Tengok saja riuh rendah percakapan tentang hari kasih sayang valentine yang “dipertentangkan” dengan tumpek  krulut.

Percakapan valentine vs tumpek krulut mendadak saja menjadi viral di media sosial karena percakapan dipenuhi pro kontra. Itu disebabkan pelatuk wacananya adalah seorang tokoh politik yang saat ini memegang posisi Gubernur Bali, yaitu Wayan Koster.

Iya. Gubernur Koster tengah getol mengusung misi melestarikam budaya Bali dengan semangat dresta Bali. Ia dipersepsi publik demikian atas pilihan sikapnya saat riuhnya isu dresta Bali dan sampradaya. Isu yang sempat juga heboh di tahun 2021 jelang mahasabha PHDI Bali.

Misi untuk menjaga budaya Bali dilakukan Gubernur Koster dengan membawa urusan budaya ke dalam aspek formal pemerintahan. Misalnya saja saat intruksi merayakan rahina Tumpek Uye pada Saniscara Kliwon Uye, Sabtu 22 Januari 2022.

Perayaan Tumpek Uye dirayakan hampir seluruh instansi pemerintahan dan pendidikan atas instruksi Gubernur Koster. Perayaan dipusatkan di Danau Buyan serta dibarengi instasi di wilayah masing-masing pada 29 Januari 2022. Prosesinya melepas burung dan ikan sebagai bentuk cinta, sayang, dan memuliakan satwa.

Bukan Budaya Bali

Strategi melestarikan dresta Bali makin digencarkan. Sukses atas gelaran Tumpek Uye, Gubernur Koster pun kembali merancang perayaan kasih saya pada rahina Tumpek Krulut pada Saniscara Kliwon Krulut, Sabtu 23 Juli 2022. Instruksinya dituangkan dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2022 tentang Tata Titi Kehidupan Masyarakat Bali.

“Hari Kasih Sayang yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari itu bukan budaya kita di Bali. Jadi, sudah waktunya kita melaksanakan Hari Tresna Asih atau Hari Kasih Sayang pada rahina Tumpek Krulut,” ujar Gubernur Koster dalam keterangan persnya Selasa (8/2).

Media mainstream pun melakukan  framing atas pernyataan itu. “Valentine day 14 Februari bukan budaya Bali,” tulis media.

Sontak pernyataan Gubernur Koster itu menjadi percakapan yang luar biasa di media sosial. Pro kontra saling bersahutan. Meme bertebaran.

Riuh rendah percakapan terhadap sebuah isu dari perspektif komunikasi politik merupakan sebuah keberhasilan bagi tim penyokong seorang tokoh politik. Orkestrasi terhadap sebuah isu yang memancing kontroversi merupakan cara jitu untuk memperkenalkan tokoh politik baru atau semakin menancapkan namanya lebih dalam di benak publik bagi tokoh yang telah populer. Itu merupakan bagian dari strategi kampanye.

Strategi kampanye biasa dilakukan oleh konsultan politik yang ada di belakang tokoh politik yang disebut dengan “spin doctor”.

Spin doctor sangat dibutuhkan tokoh politik.  Dia-lah yang bertugas mengatur jalannya kampanye, membuat isi dalam naskah pidato, membuat agenda dan daftar pernyataan yang diucapkan tokoh politik kepada publik. Singkatnya, saat ini dikenal dengan nama konsultan politik.

Kembali lagi ke narasi “valentine bukan budaya Bali”. Narasi ini menjadi percakapan yang ramai karena narasi yang mempertentangkan budaya Bali dengan budaya barat merupakan hal yang baru di Bali.

Selama ini, narasi mempertentangan budaya Bali vs barat jarang terjadi. Bali yang menjadi pusat pariwisata dunia, sebelum pandemi Covid-19, telah didatangi jutaan turis asing setiap tahunnya. Sehingga tak terasa telah terjadi adopsi budaya asing dalam kehidupan Bali, baik dalam bentuk akulutrasi atau hibrid.

Contohnya, kesenian akulutrasi-hibrid adalah pertunjukan pariwisata yang spektakuler dan megah, yaitu Bali Agung – The Legend of Balinese Goddesses, yang mengisahkan kisah cinta Raja Jayapangus – Kang Cing Wei. Pertunjukan yang menggabungkan unsur Bali-Cina-Barat. Atau contoh lainnya bentuk bangunan hotel yang mengadopsi teknologi dan struktur barat (baca asing).

Sentimen negatif-positif

Tim kampanye/konstultan yang disebut spin doctor dalam melakukan kampanye bertugas untuk membangun dan mengangkat citra (image) seorang tokoh politik. Yang dapat dilakukan dengan cara dramatisasi.

Narasi valentine vs budaya Bali merupakan cara dramatisasi yang dilakukan oleh Gubernur Koster untuk selalu mendapatkan perhatian publik. Menjadi percakapan publik yang masif dan intensif. Dalam jangka waktu lama.

Semakin ramai percakapan pro kontra maka semakin baik bagi tokoh politik. Ia akan terus diperbincangkan. Semakin sering dan lama diperbincangkan maka semakin diingat publik. Semakin namanya ada di urutan teratas maka ia telah berhasil menjadi “top of mind” di benak publik dalam kategori tokoh politik.

Cara-cara dramatisasi ini lazim dan digunakan oleh banyak tokoh politik, sekadar untuk memancing percakapan. Misalnya, tokoh politik yang juga Gubernur DKI Anies Baswedan. Sejak persaingan dengan Ahok pada Pilkada DKI 2017 hingga kini ia tetap menjadi perbincangan publik. Itu dilakukan dengan proses dramatisasi sebuah isu atau melalui kebijakan publik. Contohnya, pembuatan patung sepatu, getah-getih, lubang resapan, hingga formula E.

Biasanya cara-cara ini dilakukan tanpa mempedulikan apakah persepsi publik menjadi menjadi negatif atau positif. Yang terpenting bagi tokoh politik adalah ia terus diperbincangkan.

Namun, cara-cara dramatisasi terkadang menjadi bumerang bagi tokoh politik. Jika image yang dibangun terus menerus dengan cara seperti itu maka akan terbangun persepsi bahwa tokoh politik ini tengah membangun citra dengan cara gimik.

Membangun citra dengan cara gimik tidak akan bisa membangun personal brand seorang tokoh politik yang positif. Citranya tidak akan terkesan orisinil dan “genuine”. Citra seperti ini tidak akan bertahan lama.

Jika seorang tokoh politik ingin membangun personal brand yang positif dalam benak publik, maka ia wajib mengkampanyekan kemampuan dirinya secara konsisten. Ketika menjadi pemimpin berupaya menorehkan prestasi melalui kebijakan yang pro rakyat sehingga publik memiliki ikatan emosi positif dengan dirinya. Begitu purna tugas, ia akan menancapkan legasi yang selalu dikenang publik. Layaknya Bapak Bangsa Indonesia, Sukarno.

Selamat Valentine! eh, tresna asih. [T]

Tags: Gubernur BaliHari ValentinePartai PolitikPolitikTumpek Krulut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nama Supermarket Mirip Nama Koperasi, Apa Ada Pengaruhnya Terhadap Pelanggan?

Next Post

Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co