13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy – [Bagian 1]

Asep Kurnia by Asep Kurnia
June 27, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

LARANGAN bagi warga Baduy untuk bersekolah atau mengikuti jenjang pendidikan formal masih tetap berlaku dengan bunyi hukum adatnya:  “Adat melarang warganya untuk bersekolah”. Alasan klasiknya adalah  lamun pinter mah biasanya sok minteran batur”. Artinya jika pinter itu biasanya suka minterin orang lain, padahal tidak selamanya terjadi seperti itu.

Alasan tambahan yang penulis simak adalah bahwa jika warga Baduy diperbolehkan untuk mengikuti sekolah formal maka akan berdampak pada terganggunya pelaksanaan kegiatan adat yang sudah rutin dan baku sebagaimana tercantum di Kalender Pennggalan Adat. Contohnya kewajiban “Ngahuma“ sebagai bentuk ritual adat atau ibadah wajib mereka sebagai pengejewantahan tugas menjaga keseimbangan alam yang dilaksanakan setiap hari sejak pagi sampai sore hari oleh setiap warga Baduy selama hampir enam sampai tujuah bulan di setiap tahun.

Jika warga Baduy diperbolehkan sekolah formal maka di tanah ulayat Baduy harus disediakan gedung resmi permanen (standar modern), penyediaan gurunya, serta jadwal yang tetap setiap hari dari pagi sampai siang termasuk penyediaan budgeting-nya. Dan itu semua sangat bertentangan dengan hukum yang berlaku di kesukuan mereka.

Artinya, jika dengan diizinkan dan diperbolehkannya warga Baduy bersekolah formal sama saja dengan mempersilahkan hukum adat untuk dilanggar dan dirusak oleh warganya. Di Baduy tidak dikenal jenjang karir jabatan berdasarkan strata pendidikan karena hanya mengenal jabatan adat yang tidak perlu ditempuh melalui seleksi jenjang sekolah formal. Fakta ini cukup unik dan menarik bukan?

Kebenaran hukum adat tentang larangan bersekolah di atas perlu kita uji secara sahih dan faktual. Apakah penegakannya tetap ketat dan kaku ataukah justru lebih banyak diberi ruang kelonggaran pada warganya untuk menembus larangan tersebut sehingga bisa dilanggar secara sistimatis dan kompak oleh warganya. Seperti aspek kesehatan yang akhirnya hukum adat mereka meng-amandemen dari sikap asalnya menolak menjadi menerima pelayanan kesehatan modern secara bertahap? Dan apakah ketika ditemukan atau menemukan warganya bersekolah lantas diberi hukuman secara tegas oleh tokoh dan Lembaga Adat Tangtu Tilu Jaro Tujuh sebagai lembaga tertinggi di Baduy dalam pengambilan keputusan adat? Kemudian, bagaimana bentuk sanksinya?

Butuh Terampil Ber-Calistung.

Penulis meyakini untuk mengetahui atau membongkar situasi yang sebenarnya tentang proses pendidikan di Suku Baduy harus ada keberanian dengan membedah 3 pertanyaan yang penulis sebutkan. Sebab, jika tidak berani melacak dengan 3 pertanyaan di atas maka informasi faktualnya tidak akan tergali secara utuh. Ada kemungkinan ditutup-tutupi dan atau sengaja ditutup oleh pihak mereka demi tidak terjadi kegaduhan situasi.

Walaupun pendidikan formal itu dilarang secara adat sesungguhnya mereka sangat butuh keterampilan membaca, menulis dan menghitung (calistung) sebagai literasi dasar atau pendidikan dasar agar warga masyarakatnya mampu melakukan interaksi, komunikasi atau bergaul serta dapat membangun relasi dengan masyarakat luar terutama dalam proses berniaga atau berdagang.

Mereka pun sadar bahwa tanpa memiliki kemampuan calistung mereka akan kesulitan dan kegaguan untuk berinteraksi dengan dunia luar Baduy dan akan kalah bersaing dalam aspek persaingan sosial, ekonomi dan budaya. Kemungkinan kedua adalah, adanya kesengajaan membiarkan situasi dan kondisi nyata sepak terjang warganya dalam kegiatan bersekolah atau belajar sesuai dengan tingkat minat dan kebutuhan warganya yang ditunjang oleh tingkat kreativitas masing-masing warga dalam hal ingin memiliki kecakapan ber-calistung. Kemungkinan kedua ini adalah membuktikan hukum adat mereka itu sebenarnya fleksibel dan memberi ruang demokratis.

Tafsiran atau simpulan sementara bahwa yang tidak berpendidikan akan bodoh, yang tidak bersekolah akan dungu dan minim pengetahuan, yang buta huruf atau buta aksara akan ketinggalan dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Lalu pandangan itu kita pakai sebagai alat ukur untuk mengukur masyarakat Baduy yang selama ini digembar-gemborkan masih menolak pendidikan. Apakah terbukti masyarakat mereka pada bodoh, tertinggal pengetahuannya dan kesulitan untuk berkomunikasi dan berinteraksi?

Atau pandangan lain yang menyatakan manusia tidak berpendidikan itu cenderung akan miskin harta, dan ini juga dipakai untuk mengukur tingkat ekonomi dan kesejahteraan mereka?  Apakah hari ini mereka masih dikatagorikan masyarakat miskin?  Jika anda dan saudara pernah dan sering berkunjung ke tanah ulayat Baduy apalagi di kisaran sepuluh tahun terakhir, maka diksi di atas bisa terbantahkan dengan sendirinya tanpa harus penulis jelaskan secara rinci dan mendetail terutama di kelompok Baduy Luar, karena antara asumsi dan fakta sangat antagonis.

Maraknya Warga Baduy ber-Hand Phone

Apabila para pembaca masih juga kurang yakin dan percaya bahwa aturan hukum adat Baduy melarang warganya untuk ikut pendidikan formal atau bersekolah itu tidak ada pergeseran dalam pengertian bahwa pelaksanaan dan atau penegakannya masih utuh, ketat dan tegas. Maka penulis akan bawa pembaca untuk mengenali situasi mereka dalam pola interaksi di media sosial  atau dunia maya  (internet) yang sangat memerlukan pengetahuan plus kecakapan khusus agar mampu menggunakan dan mengelola berbagai aplikasi yang ditawarkan seperti Facebook , Twitter, Instagram, Youtube, WhatsApp, Tik-tok, model dagang secara online, Zoom Meet, Twibbon, Game online, serta aplikasi lain.

Apakah mereka saat ini hanya menjadi kelompok yang menolak sebagai pengguna aplikasi-aplikasi tersebut atau justru sebaliknya sudah ketularan menjadi pemakai, pengguna dan penikmat setiap aplikasi tersebut? Ataukah mereka tetap memposisikan diri di titik jadi penonton era digitalisasi? Di tulisan penulis yang berjudul : “Menakar Kemelekan Literasi Baduy“, tampak jelas gambaran bahwa mereka sudah sangat aktif dan fasih sebagai pengguna dan pemakai alat komunikasi modern berupa hand phone (HP) Android.

Untuk membuka misteri itu, silahkan pembaca klik akun Facebook Mursid Baduy, Sarpin Gajeboh, Narman, Ambu Baduy, Alis, Sarti, Dewi, Ayu, Saidam, Judi Lieur dan akun-akun lainnya, lalu klik pertemanannya. Maka pembaca akan dengan mudah menemukan lebih dari 1000 akun Facebook warga Baduy yang aktif bahkan bisa lebih banyak lagi jika mampu melacak nama akun dengan berbagai nama samaran mereka.

Pembaca pun bisa ngintip dan menyimak aktivitas dan komunikasi jenis apa yang mereka lakukan di aplikasi tersebut. Mereka bisa enjoy bermain aplikasi tersebut karena mereka sudah bebas memiliki HP terutama warga Baduy Luar yang tersebar di 65 kampung dengan taksiran jumlah penduduk 15.000 jiwa.

Anggap saja 50 % penduduk tersebut memiliki satu HP berarti sudah 7.500 HP yang setiap hari aktif dipakai untuk berkomunikasi, padahal tidak sedikit di antara mereka yang memiliki 2-3 HP kelas Android harga di atas 3,5 juta-an. Apabila  HP mereka jenis Android dan berisi dua nomor HP, maka sudah ada 15.000 nomor yang setiap hari berkeliaran menjelajah dunia internet termasuk penggunaan aplikasi WhatsApp yang sedang tren dipakai sebagai fasilitas komunikasi yang efektif efisien.

Jika sudah diklik akun tersebut, apa pendapat pembaca tentang larangan pendidikan di suku Baduy terhadap fenomena warga Baduy di dunia internet? Ingat loh, untuk fasih dan terampil menggunakan aplikasi Facebook, WhatsApp dan aplikasi lainnya maka setiap pengguna harus dan wajib memiliki kecakapan minimal menulis, membaca dan menghitung apalagi untuk lihai menggunakan Channel Youtube dan Tik-tok perlu keterampilan tambahan yang memadai dan mumpuni, tanpa memiliki keterampilan itu nonsen (mustahil) orang bisa menggunakan aplikasi tersebut.

Orang dapat memiliki kecakapan Calistung hanya bisa didapat melalui proses belajar atau bersekolah atau pendidikan bukan?  Nach sampai paparan ini, penulis percaya atas kejelian dan ketajaman berpikir pembaca untuk menarik kesimpulan cerdas sesuai kemampuan dan kespesifikaian kajian ilmu masing-masing. Bahwa: “Calistung sangat dibutuhkan oleh warga Baduy apapun alasannya, dan secara factual sesungguhnya proses pendidikan sudah berjalan dan sedang dilakukan oleh sebagaian warga Baduy” (Asep Kurnia, 2025)

Bagaimana dengan warga atau anak muda Baduy Dalam, apakah kepemilikan HP sama seperti warga Baduy Luar? Apakah masih tetap disiplin tidak pada berani melanggar titah hukum adat tentang penggunaan alat-alat modern contohnya HP? Penulis berulangkali menyaksikan bahkan bertanya langsung ke tokoh adat Baduy Dalam perihal kepemilikan dan penggunaan hand phone oleh warganya. Jawabannya sama, sudah tidak bisa dihindari dan terhindari walaupun berulangkali dilakukan razia adat tetap saja secara susulumputan (hidden) atau kucing-kucingan mereka memiliki dan aktif menggunakan HP terutama generasi mudanya.

Apakah di ketiga Tangtu penyebaran kepemilikan HP sama atau tidak, dari fakta banyaknya HP  di-chas di warung-warung di Cijahe dan Binong Raya menunjukkan relatif merata. Berapa perkiraan yang memiliki HP, prakiraan kasar 50% warga Baduy Dalam sudah memiliki dan menjadi pengguna aktif. Ketika ditanya alasan mendasarnya apa, hampir seragam menjawab: “Sudah menjadi kebutuhan untuk berkomunikasi dan publikasi bisnis (berdagang) dan menghindari ketertinggalan zaman“.

Alasan yang tidak kalah pentingnya bahwa sinyal internet di wilayah Baduy Dalam bukan menjadi area blankspot, tetapi sinyal makin menguat dan penuh walau surat resmi permohonan untuk pem-blankspot-an wilayah Baduy dalam sudah dilayangkan satu tahun yang lalu.

Digitalisasi di masyarakat modern telah menggeser secara hidden activity terhadap pola pendidikan masyarakat Baduy yang intensitasnya melebihi pendidikan adat mereka. Keseharian mereka saat ini sudah tidak lagi  hanya berkegiatan secara adat, tetapi di setiap luang waktu mereka baik di rumah, di jalan atau di ladang yang biasanya digunakan untuk beristirahat dan belajar tentang hukum adat, sekarang sudah habis dipakai untuk “Ngomean HP jeung ngomean HP bae, nepika wanci peuting” (Jaro Sami) artinya Bermain HP dan bermain HP sampai larut malam. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
HP Android dan Antisipasi Malapetaka Moral  di Suku Baduy
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tangga Sekolah, Aku Melihatmu Tumbuh

Next Post

Baleganjur Buleleng di Pesta Kesenian Bali: Garap Tradisi Karangasem yang Lestari di Bali Utara

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Baleganjur Buleleng di Pesta Kesenian Bali: Garap Tradisi Karangasem yang Lestari di Bali Utara

Baleganjur Buleleng di Pesta Kesenian Bali: Garap Tradisi Karangasem yang Lestari di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co