16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Tangga Sekolah, Aku Melihatmu Tumbuh

Emi Suy by Emi Suy
June 27, 2025
in Esai
Di Tangga Sekolah, Aku Melihatmu Tumbuh

Emi Suy (penulis) dan anak | Foto: Dok. penulis

AKU sempat ingin memberi kejutan kecil pagi ini–sebuah prank yang sederhana:

“Rapormu, nanti biar kakak aja yang ambil, ya.”

Tapi jauh di dalam hatiku, aku tahu, ada sesuatu yang tak bisa kubiarkan berlalu — lewat begitu saja. Ini bukan sekadar hari pembagian rapor. Ini adalah hari di mana seorang ibu harus hadir, memeluk waktu yang tak akan terulang, dan menyaksikan tumbuhnya anaknya dalam ruang-ruang yang ia titipkan pada doa dan harapan.

Aku datang bukan hanya ingin tahu angka-angka di selembar kertas bernama rapor. Aku datang karena aku ingin bertemu dengan bapak guru wali kelasmu, guru yang selama satu tahun ini bukan hanya mengajar, tetapi juga menuntun, menjaga hatimu, dan dengan caranya sendiri menenun kasih sayang ke dalam ruang belajar. Aku mohon maaf bila selama duduk di bangku kelas 8 ada kesalahan dari anakku, dan menyampaikan rasa terima kasih yang tak akan cukup dibayar oleh ucapan–atas didikan, perhatian, dan cinta yang mungkin tak terlihat tapi nyata terasa.

Aku menitikkan air mata. Bukan karena nilai-nilaimu yang bagus. Bukan karena rangking pertama yang kau raih. Tapi karena aku menyaksikan sesuatu yang lebih penting dari semua itu: kau tumbuh.

Kau, anakku yang dulu pemalu dan senyap, kini mulai membuka diri. Kau ikut OSIS. Kau ikut ekskul tari Saman. Kau bahkan mewakili sekolah di olimpiade matematika. Dan pagi ini, aku melihat dengan mataku sendiri–kau menyapa teman-temanmu, sambil tersenyum, melambaikan tangan dari lantai atas, bercengkerama dengan ceria di lapangan. Anak introvertku kini belajar menjalin ruang dengan sekitarnya.

Aku tercenung. Di tangga sekolah, aku bukan hanya melihat murid yang naik kelas, tapi anak yang belajar menjadi manusia.

Bagi banyak orang tua, mungkin prestasi akademik adalah segalanya. Tapi bagiku, yang utama justru akhlak, etika, dan sikapmu pada guru dan teman-temanmu. Bagaimana kamu mengucap salam, bagaimana kamu menghargai teman sebangkumu, bagaimana kamu belajar berkata maaf dan terima kasih, itulah rapor yang sesungguhnya dalam hidup ini.

Hari ini, aku ingin kau tahu: aku tidak datang sendirian. Aku membawa kakakmu, Vanessya, ke sekolah. Bukan hanya untuk ambil rapor bersama, tapi agar kau tahu: kamu tidak sendiri dalam perjalanan ini. Ada kami, yang mencintaimu. Ada keluarga, yang memberi tepuk tangan paling tulus bahkan sebelum orang lain tahu kamu menang.

Selamat naik ke kelas 9, Valen. Jalanmu masih panjang. Apa yang kau capai hari ini bukan puncak, tapi bekal untuk langkah selanjutnya. Belajarlah bukan hanya demi nilai, tapi demi memahami dunia dan memahami dirimu sendiri.

Dan ibu… akan tetap di sini. Mendoakanmu, menunggumu di tangga-tangga kehidupan, dan bersujud syukur pada Tuhan setiap kali melihatmu tumbuh.

Karena bagi ibu, anak yang tumbuh dalam cinta dan akhlak baik… adalah nilai tertinggi dari hidup ini.

Alhamdulillah.

Sujud yang Tak Tertampakkan

Tak ada yang benar-benar sederhana bagi seorang ibu. Bahkan ketika hanya berjalan dari ruang guru ke ruang kelas, ada air mata yang menahan diri untuk tak tumpah, ada doa yang diam-diam dikirim dari balik senyum, dan ada harapan yang menggigil di sudut dada.

Mengambil rapor anak bukanlah rutinitas administratif–ia adalah ziarah batin ke masa kecil yang terus menjauh, ke waktu-waktu yang tak akan pernah bisa diulang, ke kesunyian yang hanya bisa dipahami oleh hati yang mencintai dalam diam.

Hari ini, aku pulang membawa lebih dari selembar kertas nilai. Aku pulang membawa cerita tentang tumbuh, tentang perubahan kecil yang nyaris tak terlihat, dan tentang cinta yang tak pernah meminta kembali.

Sebab sejatinya, rapor terbaik anak adalah saat kita, orang tuanya, belajar menjadi lebih hadir, lebih sabar, dan lebih tahu kapan harus diam dan cukup bersyukur.

Di ujung langkah ini, aku tidak hanya mengucap:

“Selamat naik kelas, Nak.”

Tapi juga:

“Terima kasih, Tuhan… karena hari ini aku melihat anakku–bukan hanya naik kelas, tapi naik satu tangga kedewasaan.”

Dan itu cukup membuatku sujud–bukan di lantai sekolah, tapi di ruang paling sunyi dalam hatiku yang seorang ibu.

Antara Dasar dan Ajar

Kita sering tergoda melihat hasil, terburu pada angka, terpesona pada ranking dan piagam penghargaan. Tapi pelan-pelan aku belajar: pendidikan bukan hanya tentang siapa yang paling tahu, tapi siapa yang paling kokoh ketika sendiri.

Karena sekolah boleh mengajar, tapi rumah yang harus menanam. Guru boleh menuntun, tapi dasar hidup dibentuk dari nilai-nilai yang diajarkan di rumah: kejujuran, tanggung jawab, hormat pada sesama, sopan santun, dan keberanian untuk tetap baik meski tak disorot.

Suatu hari, para pengajar akan pergi. Dan yang tersisa hanyalah pondasi. Jika pondasi itu baik, anak akan tahu ke mana berpulang, tahu mana benar mana keliru, bahkan tanpa disuruh.

Tapi jika pondasi itu lemah, maka ketika pengajar pergi, anak akan kehilangan arah.

Maka hari ini, aku bersyukur bukan hanya karena anakku bisa menjawab soal matematika atau fisika, tapi karena ia juga belajar menyapa orang yang lebih tua, merapikan kursi sebelum pulang, dan tidak meninggalkan teman yang sedang terjatuh.

Karena pendidikan bukan hanya soal otak. Tapi juga hati.

Dan aku, sebagai orang tua, ingin terus menjaga agar dasar itu tetap kuat. Sebab anak yang tumbuh dengan dasar baik, meski kadang tersesat, akan selalu tahu jalan pulang.

Tangga yang Tak Pernah Selesai

Akan selalu ada tangga-tangga baru yang harus kita lewati bersama anak-anak kita. Tangga dari TK ke SD, dari SMP ke SMA, dari bangku sekolah ke dunia yang tak punya kurikulum tetap. Tapi setiap anak naik satu anak tangga, sejatinya kita juga ikut tumbuh: sebagai orang tua, sebagai manusia yang belajar mencintai tanpa ingin mengendalikan.

Aku tahu, kelak aku tak bisa selalu hadir di setiap anak tangga berikutnya. Akan ada saatnya aku hanya bisa menatap dari jauh—dalam diam, dalam doa, dalam harapan agar dasar yang kutanam cukup kuat untuk menuntunnya sendiri.

Tapi hari ini, aku ingin diam sebentar di tangga ini. Mengabadikan momen ini dalam ingatan dan syukur. Karena di sinilah aku belajar, bahwa mendampingi anak tumbuh bukan tentang menuntun terus-menerus, tapi tentang tahu kapan harus melepas dan tetap mencintai dari kejauhan.

Dan di sinilah aku percaya, bahwa cinta yang benar… adalah yang rela berdiri di tangga terbawah, agar anak-anak bisa naik lebih tinggi. [T]

Cengkareng, 26 Juni 2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan
Pedih Padi dan Tuhan Yang ‘Mabuk’ [Untuk Bapak dan Ibu]
Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Tags: anak-anakibuibu dan anakPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monolog Ayu Laksmi “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diriku Sendiri” di Rabu Puisi #10 Komunitas Mahima

Next Post

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy – [Bagian 1]

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy - [Bagian 1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co