23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pedih Padi dan Tuhan Yang ‘Mabuk’ [Untuk Bapak dan Ibu]

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
August 21, 2024
in Esai
Pedih Padi dan Tuhan Yang ‘Mabuk’ [Untuk Bapak dan Ibu]

IGA Darma Putra | desain tatkala.co

  • Artikel ini adalah materi dalam public lecture “Membaca Dharma Pemaculan: Meruapkan Energi Ibu Bumi” serangkaian Singaraja Literary Festival (SLF), Minggu, 25 Agustus 2024, di Sasana Budaya, Singaraja, Bali
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

Berhenti jadi petani, Pak!

Kita harus berhenti jadi petani! Begitu kata saya kepada Bapak dan Ibu suatu sore. Bapak kaget. Ibu terperanjat. Adik-adik diam mengerutkan dahi. Meski begitu, saya tahu mereka setuju. Tidak ada untungnya.

Menjadi petani di jaman sekarang harus siap dengan segala macam bentuk kejutan-kejutan yang tidak terprediksi. Misalkan persoalan biaya yang musti dikeluarkan untuk berbagai macam jasa. Contohnya jasa nraktor untuk tanah seluas satu are adalah 23 ribu rupiah. Bila seorang petani memiliki 10 are, berarti mereka harus membayar 230 ribu rupiah. Harga itu dibayarkan di luar dari kebutuhan lainnya untuk penjaja jasa traktor, seperti kebutuhan makan dan minum. Tidak boleh lupa 2 kali ngopi plus jajanan. Tentu saja rokok kadang-kadang.

Setelah traktor, petani dihadapkan pada kondisi tanah dengan tingkat keasaman yang makin tinggi. Barangkali ini imbas pemakaian pestisida atau memang air yang datang dari hulu sudah tinggi tingkat keasamannya. Karena itu para petani musti membeli pupuk Dolomit (penetral pH) kurang lebih seharga 50 ribu per satu sak. Satu sak itu isinya 50 kg.

Urusan lainnya yang harus dikelola petani tentu saja urusan benih, urusan tanam, serta perawatan. Urusan-urusan itu belum termasuk urusan adat dan upacara, yang juga butuh modal. Contohnya adalah urusan ngabut bulih (mencabut benih) yang nantinya akan ditanam, petani membutuhkan modal sekitar 80 ribu rupiah per orang. Untuk ngabut bulih yang akan digunakan pada 15 are tanah, dibutuhkan kurang lebih 4 orang pekerja.

Menanam pun punya persoalannya sendiri. Selain urusan etik berdasarkan kepada wariga dan juga kebiasaan, persoalan menanam hadir secara biologis. Ongkos jasa tanam adalah 90 ribu per orang (dari jam 7 pagi – 1 siang). Bila lebih dari jam 1, petani harus membayar kelebihannya sekitar 15 ribu per jam. Itu di luar makan, minum, kopi, jajanan, dan rokok. Di titik ini juga ada persoalan tersendiri bagi para penyedia jasa tanam. Kelompok menanam ini di wilayah saya disebut sekaa mamula. Beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2019 sekaa ini terdiri dari 4 orang yang semuanya berasal dari satu banjar. Pada tahun 2024, hanya tinggal 2 orang saja yang usianya kurang lebih sekitar 50 sampai 60 tahun. Karena kebutuhan tenaga kerja, mereka kini menerima pekerja dari luar banjar.

Persoalan lainnya yang dihadapi petani adalah pupuk. Menurut keterangan Bapak, sawah kami butuh pupuk Urea dan NPK. Urea (1 sak = 50 kg) seharga 112.500. Sawah seluas 15 are, perlu pupuk 30 kg. Sehingga bila dibagi, artinya per are butuh pupuk seberat 2 kg. Pupuk Urea itu perlu ditambahkan dengan Pupuk NPK (1 sak = 50 kg) seharga 125 ribu.

Begitu juga ngorodang, petani harus membayar jasa kurang lebih 80 ribu per orang per hari. Ditambah makan, minum, kopi, jajanan dan rokok. Ngorodang itu proses membersihkan gulma-gulma yang dapat mengganggu padi. Biasanya gulma ini berupa kapu-kapu.

Sedangkan biaya jasa panen, petani biasanya membayar dengan gabah. Bila dapat 7 kampil gabah, dibayar 1 kampil. Plus kopi dan jajanan. Setelah gabah didapat, kemudian dijemur lalu diselip atau digiling. Ongkos menjemur sampai menggiling dihitung dengan beras. Tiap-tiap 100 kg beras, jasa jemur dan giling dibayar sebanyak 4 kg. Pembayaran itu belum termasuk ongkos mesin penggilingan yang tiap-tiap 100 kg harus dibayar 8 kg. Bila sawah menghasilkan 100 kg beras, pada satu rangkaian proses saja, mereka sudah harus memotongnya sebanyak 12 kg.

Untuk urusan tekhnis semacam itu, bertani harus punya modal. Daftar di atas belum termasuk pembelian bibit, jaring (untuk pelindung), dan sebagainya dan seterusnya. Rupa-rupanya kita belum sama sekali mencatat pembayaran suwinih di atas. Sekadar informasi, suwinih itu sejenis pajak yang dibebankan kepada petani dan harus dibayarkan ke sebuah Pura. Di dalam kasus saya, suwinih itu dibayarkan ke Pura Puseh. Untuk tanah seluas 10 are, kami harus menghaturkan suwinih sebanyak 1 kg beras. Jalinan pajak tradisional ini berlanjut sampai ke Pura Ulun Danu Batur. Istilah yang digunakan bukan suwinih tetapi upon-upon yang berarti hasil panen. Sehingga bentuknya tidak selalu beras. Seringkali juga dilengkapi dengan uang kepeng Cina.

Akibat dari beberapa modal yang harus dipenuhi dalam rangka menumbuhkan benih-benih padi itu, saya tidak dapat mengelak dari hipotesis bahwa bertani di era kekinian tidak hanya menanam benih-benih padi. Tetapi benih-benih kepedihan. Atas dasar ini pula berkali-kali saya sampaikan agar Bapak berhenti jadi petani. Kita harus berhenti, Pak, Bu.

Saya juga tahu, Bapak dan Ibu sebenarnya malah tidak setuju dengan pendapat itu. Tetapi sebagaimana umumnya orang Bali kebanyakan, Bapak tidak menyampaikan ketidaksetujuannya terang-terangan. Ia memilih kata-kata yang pas, agar tidak terkesan berkonfrontasi, dan tentu saja tidak menyakiti lawan bicaranya. Ia memilih menyerang dengan senjata yang disarungkan. Ahimsa kata ajaran agama, artinya tidak menyakiti. Bapak pasti berpegang teguh pada prinsip itu, karena dari tradisi seperti itulah ia dilahirkan, dirawat, dan mungkin saja suatu saat nanti akan dimatikan. Saya bisa menyebut satu per satu contoh orang yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip tradisional seperti itu, entah dalam cerita atau dalam dunia nyata. Namun naasnya mereka dilibas jaman, kalau pun bertahan, hanya namanya saja. Itu pun kalau beruntung dan punya sedikit pengaruh. Kalau tidak, mereka pasti lenyap bagai ditelan bumi. Sunia dalam artinya yang paling harfiah. Tidak dikenal. Tidak punya eksistensi.

Sedangkan Ibu, mungkin mengira anaknya sudah gila karena terlalu banyak bergaul di kota. Pandangan itu wajar dimiliki oleh Ibu, yang setiap hari bergumul dengan pekerjaan rumah tangga. Ia sudah lama terisolasi dari dunia luar. Tidak membaca buku lagi. Belum lagi urusan canang-nya yang harus sedia setiap hari. Pajati tiap-tiap Purnama atau Tilem. Segehan tiap kajeng kliwon. Saking sibuknya, ia bahkan tidak sempat bertanya, untuk apa ia lakukan itu semua.

Entah bagaimana caranya, ia punya jalan lain untuk belajar. Belakangan ia gemar mendengarkan ceramah-ceramah agama di youtube. Kadang-kadang saya terperangah sendiri mendengar celetukannya soal pendalaman agama. “Caru artinya harmonis, kasih sayang” katanya. Kebetulan saya dan Bapak memang sedang bicara soal caru, kami bergulat pada bagaimana mestinya caru dilakukan. Tentang ayam apa harus di mana. Mantra apa dirapalkan kapan. Tentang mudra-mudra apa yang harus dilakukan dengan cara bagaimana. Tentang urip-urip dan segala kerijidannya. Pernyataan ibu seperti cendawan di antara kayu-kayu yang kami susun di atas tanah. Meski begitu, saat saya tanya balik kepadanya soal caru itu, “Kalau caru artinya harmonis, mengapa kita mengorbankan banyak nyawa di dalamnya? Ayam, bebek, babi, kerbau, kambing, mengapa mereka harus mengorbankan nyawa demi hasrat manusia untuk harmonis? Bahkan setelah caru dilakukan, perang muncul di mana-mana, menelan nyawa sesama manusia. Apakah carunya gagal, Bu?” Ibu diam, tidak menjawab. Barangkali guru-gurunya di youtube tidak menjelaskan hal-hal di luar materi yang mereka hafalkan dan sampaikan berulang kali di tempat-tempat berbeda.

Begitulah cara kami memecahkan hal-hal yang kadang lepas dari perhatian. Berusaha memaknai perilaku-perilaku yang seringkali luput. Tidak terkecuali saat kami bicara soal kemungkinan untuk berhenti jadi petani.

Bapak dan Ibu bertanya, kalau kita berhenti jadi petani, bagaimana nasib tanah leluhur kita? Dalam menghadapi pertanyaan sejenis itu, yang muncul di otak saya tidak lebih dari sekadar keheranan. Karena bahkan di saat-saat seperti ini, yang ada di pikiran mereka bukanlah menyelamatkan diri. Tetapi menyelamatkan tanah leluhur. Benda mati. Seolah-olah mereka tidak punya waktu untuk memikirkan diri mereka sendiri. Selain itu, mereka malah memikirkan sesuatu yang sudah hilang dari alam material seperti leluhur.

Keleluhuran memang konsep yang pokok dalam kebudayaan Bali. Orang bisa saling memenggal kepala karena urusan ini. Di dalam sejarahnya di Bali, bahkan kaum-kaum cendikiawan sampai-sampai bersitegang kalau urusan keleluhuran. Mereka tidak lagi berdiskusi tentang leluhur, atau menatapi berbagai macam perang yang telah leluhur mereka lalui bersama selama bertahun-tahun, entah dengan penjajah atau saudara sendiri. Para kaum terpelajar itu justru gontok-gontokan soal leluhur siapa yang lebih luhur dari leluhur siapa. Siapa yang lebih pantas diajak bicara dengan bahasa halus dan siapa yang tidak. Kaum cendikiawan ini tidak lagi peduli konsep ahimsa, tidak seperti Bapak.

Pertanyaan Bapak dan Ibu tadi tidak bisa saya jawab dengan tegas. Meskipun terdengar sederhana, di dalam pertanyaan itu ada ide-ide lain yang tidak sederhana yang melatarbelakanginya. Semisal ide tentang Dharma Agama dan Dharma Negara. Kata Dharma di dalam konteks itu berarti kewajiban. Kata Agama berarti keyakinan yang dipersamakan dengan religi. Sedangkan kata Negara mengacu kepada term negara dalam artinya di masa modern ini, yakni sebuah identitas kebangsaan yang satu dan satu-satunya. Pertanyaan Bapak yang diajukan kepada saya, berlandaskan kepada kedua hal tadi. Secara Agama, Bapak meyakini ada sesuatu yang liyan di luar sana yang akan mempengaruhi hidup bila ditolak keberadaannya. Secara Negara, Bapak manut pada dogma-dogma bahwa manusia haruslah menaruh hormat kepada hal-hal yang seolah-olah telah melindunginya dari penderitaan. Paradoksnya, kepada hal-hal yang ia yakini dan hormati itulah hidupnya ia persembahkan. Ia rela menderita demi keduanya.

Mereka merasa memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan swadharma dari para leluhur yang dahulunya memacul tanah. Sebagai keturunan yang baik, maka swadharma itulah yang harus dilanjutkan. Tidak boleh tertinggal secuilpun. Meninggalkannya berarti melanggar norma adat kesopanan dan sekaligus tuduhan ketidaksetiaan. Bagi kebanyakan orang Bali, dituduh tidak setia merupakan tuduhan paling menyakitkan. Terutama di tengah-tengah keyakinan mereka – yang dibangun oleh wacana-wacana sastra-agama – bahwa kesetiaan adalah sahabat paling unggul: norana mitra manglewihane kasatyan, kata Nitisastra. Tak pelak wacana-wacana sastra-agama inilah yang dihandalkan sebagai senjata paling tajam untuk menyerang lawan bicara bila tuduhan ketidaksetiaan diarahkan ke ujung hidung mereka. Contoh-contohnya jelas, seperti praktik masatya yang dilakukan sampai akhir abad ke-19. Meskipun di sisi lain, mata pisau satunya sudah mengarah ke leher mereka. Menjadi orang Bali berarti menjadi manusia dengan ribuan mata pisau yang mengarah ke diri serta siap menikam kapan saja, di mana saja, oleh siapa saja.

Terakhir, kepada Bapak dan Ibu, saya setuju soal anugerah beserta ungkap rasa syukur kita kepada para Dewata. Tuhan tidak pernah mati di lubuk hati. Setidaknya hati kita sendiri. Bila Bapak dan Ibu tidak mau berhenti jadi petani, mari kita memejamkan mata sejenak, sambil mendengarkan soundtrack-soundtrack dari film The Flowers of War karya Zang Yimou. Di dalam kegelapan itu lamat-lamat kita renungkan, jangan-jangan semua kepedihan ini tercipta saat Tuhan sedang ‘mabuk.’ [T]

  • BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
Tentang Rambut dan Kisah-kisahnya
Menyeret Teks Lama ke Dalam Eksperimentasi Media Baru
3 Tawaran Modus Penciptaan Puisi
WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali
Apa itu Gincu?
Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Tags: lontarLontar Dharma Pemaculanpadipadi balipertanianpetaniSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Rambut dan Kisah-kisahnya

Next Post

Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya

Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co