4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa itu Gincu?

Savitri Sastrawan by Savitri Sastrawan
August 21, 2024
in Esai
Apa itu Gincu?

Savitri Sastrawan | desain tatkala.co

  • Artikel adalah materi dalam panel diskusi ““Warna Alam Dalam Teks Lama dan Baru”, Sabtu, 24 Agustus 2024 di areal Gedong Kirtya, Singaraja, Bali
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024.

***

Dalam rangka menyambut panel “Warna Alam Dalam Teks Lama dan Baru” dan menilik balik riset Warna Bali oleh Gurat Institute pada tahun 2022, ada satu tulisan yang pernah saya buat yang merespon terhadap satu sumber warna: gincu.

Gincu menghasilkan warna merah pada masa lalu sampai sekarang. Gincu, dikenal juga sebagai zhu sha, memiliki pengertian sebagai warna merah tua atau vermillion. Penerkaan bahwa warna ini datang dari mineral yang terdapat di area Tiongkok sudah banyak terbukti secara ilmiah dan riset, namun keberadaannya sampai menjadi warna Bali belum terjawab seutuhnya.

Ini dimungkinkan karena zhu sha menjadi bagian yang sangat kecil untuk menjadi barang yang ditukar di antara berbagai barter barang yang terjadi pada zaman itu. Gincu masih dikenal sebagai kata lipstick atau pewarna bibir, yang masih lebih lumrah digunakan di bahasa Melayu, dan berasal dari kata Hokkien gin chu. Namun gin chu ini juga dikenal sebagai rogue for the face atau merah pipi (blush on). 

Kehadiran gincu disebabkan oleh keterampilan metalurgi serta pengoksidasi dan mengekstraksi logam sudah berlangsung cukup lama di Tiongkok sejak 3000 SM. Gincu diketahui sebagai salah satu warna mineral awal yang ditemukan pada lukisan Tiongkok dan juga salah satu mineral merah tertua di dunia yang konon hanya bisa ditemukan di tiga Provinsi: Hunan, Guizhou dan Sichuan; adapun yang menyebut empat dengan Provinsi Yunnan (Valen, 2005; Yi, 2009).

Salah satu temuan saya pada tahun 2022 adalah bacaan dari Wang Yifan, seorang perempuan Tiongkok yang awalnya hobi mendalami rias wajah kuno-nya dan menjadikannya pekerjaan sehari-hari. Ia menyatakan tidak banyak buku yang menulis tentang rias wajah kuno tersebut dikarenakan di Tiongkok Kuno posisi laki-laki lebih superior daripada perempuan, maka yang terekam dari dokumentasi rias wajah kuno Tiongkok hanya dari dua hal:

  1. Mempelajari riasan wajah figur-figur historis seperti Yang Guifei dari Dinasti Tang sebagai salah satu perempuan menawan pada zamannya. 
  2. Mempelajari riasan-riasan aneh yang terlihat membingungkan dan tidak nyaman.

Walaupun ada buku yang mengkompilasi tentang riasan purba tersebut, tetapi ada saja formula yang dihilangkan, ditambah bahan yang sama mungkin memiliki nama yang berbeda sesuai zamannya (Xi, 2021). Gincu di Tiongkok ditemukan dalam berbagai artefak purbakala terutama yang berhubungan dengan tempat kosmetik. Belum lagi temuan-temuan semakin baiknya perekonomian di dinasti-dinasti yang berbeda, adapun produksi yang beragam warna, maka terus ada tren terbaru pula. Dinasti Tang (618-906 M) inilah yang ditemukan memiliki rias wajah Tiongkok Kuno yang berlapis dari bedak dasar, merah pipi, membentuk alis, hiasan tambahan dan gincu – rias dominan merah masih menjadi andalan juga (Yi, 2009; Tang, 2021; Silk Road Yunfan, 2021).

Gambar: beberapa ilustrasi rias wajah tiongkok dari Silk Road Yunfan (2011)         https://www.lifeofguangzhou.com/wap/silkRoad/content.do?contextId=13191&frontParentCatalogId=229&frontCatalogId=231                                                              

Painting depicting ladies putting on makeup, by Su Hanchen, Song Dynasty

Residues of lipsticks were found in one of the nine boxes of the two-tiered cosmetic case found in the Han Tombs at Mawangdui, Changsha, Hunan Province

A painting featuring a lady with small lips, painter unknown, Tang Dynasty

Ini membuat pencarian jejak-jejak gincu berlayar ke Indonesia pun tidaklah hal yang mudah. Dengan perdagangan menghasilkan kemungkinan-kemungkinan interaksi budaya dan alat tukar menjadi bagian yang terintegrasi terutama pada masa Kerajaan Kediri, Jawa Timur, dimana koin perunggu asal Tiongkok dipakai barter lada, ditambah emas, perak juga bisa, bahkan untuk cengkeh dan pala. Ini menyebabkan Jawa menjadi magnet untuk barang-barang ditukar begitu saja (Hall, 2011).

Saat Dinasti Song abad ke-12 yang memperbolehkan pedagang Tiongkok untuk berdagang keluar negerinya daripada menunggu barang-barang yang diperlukan datang, adopsi uang Tiongkok meningkat dan Jawa menjadi pusat perdagangan internasional di abad ke – 13 – koin perunggu itu disebut sebagai Ban Liang atau populer disebut sebagai uang kepeng di Bali (Hall, 2011). Bukti pertukaran budaya ini menguatkan keberadaan gincu di antara perdagangan. Tercatat bahwa yang non-mewah seperti logam dan pewarna yang lebih diminati oleh rakyat sampai lewat pertukaran jejaring warga lokal – barang-barang tersebut ke pedalaman dari pesisir pelabuhan Jawa Timur dan dibarter dengan produk lokal terutama beras. Maka gincu bisa saja sampai dengan demikian, berhubungan yang membuat karya lukisan adalah para rakyat sendiri untuk pemimpinnya pada zaman itu. 

Selain uang kepeng, keberadaan pertukaran budaya dan ekonomi yang bersamaan antara Tiongkok dan Bali berimbas ke dalam sistem teknologi dan peralatan seperti ornamen bangunan tradisional Bali, bentuk/pola orientasi bangunan tradisional Bali beserta penggunaan porselin Tiongkok padanya, dan teknik cor logam (Sulistyawati, 2011). Zhu sha atau gincu tidaklah disebut disini, tetapi dirasa merupakan salah satu keterampilan kebudayaan yang dikembangkan juga. Lukisan wayang Kamasan yang menjadi lukisan klasik Bali diceritakan sudah ada sejak Kerajaan Dalem Watu Renggong di sekitar abad ke-15 atau 16. Namun menurut catatan sangging dimulai dari tahun 1870-an atau abad ke-19. Maka awal mula pemakaian gincu sebagai pigmen melukis atau mewarnai ada diantara tahun-tahun tersebut.

Menariknya dalam tulisan Harthawan dalam buku Sulistyawati (2011) yang membahas perdagangan di Bali Utara dan Bali Selatan pada abad ke-19 yang dikuasai Bugis dan Tiongkok hanya menyebutkan yang didatangkan adalah candu, gambir, tekstil, kepeng, barang-barang besi, mesiu dan senjata api; yang ditukar dengan hasil bumi Bali seperti beras, minyak kelapa, tembakau, kuli, sapi, kapas, telur asin, dendeng dan kain tenun Bali – dengan beras tetap barang ekspor terpenting. Kedatangan mineral merah tertua dan terpenting di dunia sebagai pewarna bibir maupun warna melukis ini masih penuh teka-teki, dengan itu gincu tidak lepas dari berbagai sejarah warna serta di warna Bali sendiri.

Mau tahu lebih lanjut lagi? Dengarkan panel kami ya dan dapatkan juga buku Warna Bali di Gurat Institute ya!

Referensi

Valen, L. M. van. (2005, November 17). The Matter of Chinese Painting, Case studies of 8th century murals. Retrieved from https://hdl.handle.net/1887/3730.                       

Yi, W. Chinese makeup for lips. Chinaculture.org Updated: 2009-06-18 https://www.chinadaily.com.cn/life/2009-06/18/content_11569665.htm

Hall, K. R. (2011) A History of Early Southeast Asia : Maritime Trade and Societal Development, 100–1500. United Kingdom: Rowman & Littlefield Publisher.

Ardika, I. W. “Hubungan Komunitas Tionghoa dan Bali: Perspektif Multikulturalisme”, p. 1-12 di Sulistyawati. Integrasi Budaya Tionghoa ke Dalam Budaya Bali dan Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. Denpasar: Universitas Udayana, 2011

Sulistyawati, “Pengaruh Kebudayaan Tionghoa Terhadap Peradaban Kebudayaan Bali”, p. 13-42 di Sulistyawati. Integrasi Budaya Tionghoa ke Dalam Budaya Bali dan Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. Denpasar: Universitas Udayana, 2011

Tang, S. Chinese Makeup History. 28 October 2021.                                                       https://www.globalizationpartners.com/2021/10/28/chinese-makeup-history/

Xi, C. The Woman restoring ancient Chinese Makeup: Inheritance and Development. Global Times. 17 October 2021. https://www.globaltimes.cn/page/202110/1236522.shtml

Silk Road Yunfan. Secrets of ancient Chinese beauties. Life of Guangzhou. 22 March 2021.       

  • BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga

             

Tags: apresiasi sastragincuGurat InstituteSeni RupaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024warna alam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga

Next Post

WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali

Savitri Sastrawan

Savitri Sastrawan

Suka menyebut dirinya seorang Bali nomaden dan pekerja lepas di seni dan bahasa. Ia meyakini seni dan bahasa merupakan metode dekonstruksi dan kolaborasi dalammengeksplor kemungkinan-kemungkinan antar disiplin. Intinya, ingin menjadi orang interdisipliner yang bisa mengapresiasi segala hal dalam berkebudayaan.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali

WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co