4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
August 21, 2024
in Esai
WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali

Dewa Purwita Sukahet | desain tatkala.co

  • Artikel ini adalah materi dalam panel diskusi “Warna Alam Dalam Teks Lama dan Baru”, Sabtu, 24 Agustus 2024 di areal Gedong Kirtya, Singaraja, Bali
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

Bhīma dak varah ta kita, mūlaniṅ pustaka hirəṅ, roniṅ gəbaṅ, pinukah pinaḍa-paḍa lvane lavan davane, tinitisan gaṅgā vīra tanu, gaṅgā riṅ bañu, vīra riṅ panuli, tanu riṅ maṅsi.

Kukusiṅ ləṅa dilah, ghināṣa riṅ lavak tambaga, jineran laṇḍaniṅ kəpuh, vino/ran lāka, iṅulig iṅənah riṅ pamaṅsen, ya ta maṅsi arane, ikaṅ ta prasiddha ṅgvaniṅ agave pustaka

“Bhima ku memberi tahu pada mu, (tentang) keunggulan dari pustaka hitam, daun dari pohon gebang, dibagi dua dengan sama rata lebar dengan lebar dan panjang dengan panjangnya, diteteskan gangga, wira, tanu, gangga (itu) air, wira (itu) kuas/pena, tanu (itu) tinta”

“asap dari lampu minyak, digosok pada tempurung (dari) tembaga, dicampur dengan getah pohon kepuh (randu), dicampurkan dengan cairan merah tanaman lak, dihaluskan ditempatkan di wadah tinta, itulah yang namanya mangsi (tinta). itulah yang dapat menjadi alat membuat pustaka”

Pamungkah

Saya harus berterima kasih kepada Kasu Wardana yang telah memberikan informasi berharga tentang pembuatan tinta yang tertulis pada Kidung Bima Swarga. Dari kutipan bait kidung tersebut kita mendapatkan pengetahuan ontologis tentang warna hitam atau mangsi beserta dua lainnya yang berperan yaitu air dan kuas. Selain itu didedahkan juga tata cara pembuatan tinta mangsi dari jelaga, getah pohon randu sebagai pengikat atau katalisatornya serta dicampur cairan merah dari tanaman lak atau laka. Eksistensi mangsi dalam kidung tersebut untuk menulis pustaka.

Pustaka utama menurut Kidung Bima Swarga adalah tubuh itu sendiri, ya tubuh manusia, memiliki sistem kompleks yang rumit, mempelajari tubuh adalah mempelajari pustaka utama yang hadir melalui tulisan tinta. Lantas apa hubungan tubuh dengan warna? Di sini saya mengajukan jawaban yaitu mandala, adalah komposisi yang tersusun atas bagian-bagian proporsi dalam konsep keseimbangan, mandala boleh dipadankan dengan aturan golden ratio yang pada prinsipnya sama yaitu dimulai dari satu titik pusat yang bergerak membentuk pola mencari keseimbangan ideal.

Dalam permulaan kitab Puwaka Bhumi disebutkan alasan penciptaan alam semesta oleh Sang Hyang Wisesa dikarenakan terjadinya kekosongan semesta. Sang Hyang Wisesa diibaratkan sebagai sesuatu yang konstan, tidak berbentuk, tidak berwujud, tidak memiliki warna. Berkat kuasa Sang Hyang Wisesa maka lahirlah satu persatu dewa-dewi disertai warna-warnanya sebagai berikut:

“Sira sang wus mahu mijil, ingaranan Ni Canting Kuning, metu saking asthi widhi, kalintang pisan kahaywan Idane; pamuput Ida mapasenang Bhattäri Umä. Muwah umetu ikang ätmaja jalu, petak warnaanira, Kursika nämanira, mijil sakin cremi ning Widhi. Sam Sadya nämanira; ri wekasan ingaranan Bhattära Iswara. Muwah umijil ta Sang Garga putra lanang, abang rupanira, metu sakin misya Widhi, Sang Bam Bäma ngaranira Waneh, riwekasan ingaranan Bhattära Brahmä. Dadya ta muwah Sang Hyang Widhi aputra jalu, kuning rüpanira, San Metri ngaranira, Tam Tatpu ngaranira waneh, wekasan ingaranan Bhattära Mahädewa. Malih Ida Sang Hyang Widhi maputra lanang, ireng warannira, ingaranan San Kurusya, Am Agho pasengan Ida malih, ri wekasan Ida mapasengan Bhattära Wisnu. Muwah wetu putra lanang ngaranira San Pretanjala, pancawarna warnanira, Im Isa ngaranira, ri wekasan ingaranan Bhattära Siwa.”

Secara teologi dari sinilah awal mula mandala dan warna tercipta, Kursika menjadi Iswara berwarna putih di arah timur, Garga menjadi Brahma berwarna merah menempati mandala selatan, Metri menjadi Mahadewa berwarna kuning menempati arah barat, Kurusya menjadi Wisnu berwarna hitam menempati mandala utara, sedangkan ditengah adalah Ni Canting Kuning menjadi Bhattari Uma dan Pretanjala menjadi Siwa sebagai menempati mandala tengah yang berwarna-warni. Lima mandala yang tercipta menjadi dasar atau pokok tubuh kemudian berevolusi dengan skema penyatuan satu mandala dengan lainnya seperti timur dengan selatan menjadi tenggara berwarna merah dadu, selatan dengan barat menjadi barat daya melahirkan warna jingga, barat dengan utara menjadi barat laut dengan warna hijau, dan utara bertemu dengan timur menjadi timur laut berwarna biru.

Hal ini ternyata terdapat dalam kitab Korawasrama yang dinyatakan sebagai berikut; “Kalinganya, kang sinangguh warna kalaku dening jagat kabeh, asweta ng aran ing putih, wetan pangasthananya; rakta ngaran ing abang, kidul pangasthananya; apita ng aran ing kuning, kulon pangasthananya; akresna ireng, lor pangasthananya. arok pwa sweta lawan rakta, dadu nga arannya, agneya pangasthananya; marok pwa rakta lawan apita, ya ta jingapindanguranta, nairiti pangasthananya; mapita marok kresna, ijo nga aranya, bayabya pangasthananya; kresna marok sweta, biru rupanya, aisanya pangasthananya. Sumanding pwa kang sarwawarna, saka roro sapadulon, ya sinangguh siwah, madhya pangasthananya.”

Evolusi mandala yang tadinya berjumlah lima kemudian menjadi sembilan dengan perhitungan delapan mandala warna mengitari satu mandala pusat, hal inilah yang lumrah dinyatakan sebagai Pangider Bhuwana atau Dewata Nawa Sanggha. Mandala ini menjadi populer diinterpretasi dan disimbolkan di dalam berbagai upacara ritual, ada yang mengambil lima warna utama, ada pula yang mengambil sembilan warnanya, ada yang membuat gambar figur pewayangannya dan ada pula yang menyimbolkannya dengan senjata-senjata.

Di dalam kitab Bhuwana Sangksepa ternyata mandala tidak berhenti pada sembilan mandala melainkan terjadi evolusi pembentukan mandala baru yang mengisi ruang di antara masing-masing mandala Pangider Bhuwana, dijelaskan bahwa “…Isa ring purwa, Mahesora ring agneya, Brahma ring daksina, Rudra ring neriti, Mahadewa ring pascima, Sangkara ring bayabya, Wisnu ring uttara, Sambu ring ersanya, Siwatma ring adah, Sadasiwa ring madya, Paramasiwa ring urda, Dharma yantaraning purwa lawan agneya, Kala yantarening agneya lawan daksina, Mretyu yantaraning daksina lawan neriti, Krodha yantaraning neriti lawan pascima, Wiswa yantaraning pascima lawan bayabya, Kama yantaraning bayabya lawan uttara, Pasupati ri pantaraning uttara lawan ersanya, Satya ri antaraning ersanya lawan purwa.“

Total mandala pada akhirnya menjadi tujuh belas, satu sebagai mandala pusat dan enam belas lainnya serupa mandala perwara yang mengelilingi inti. Dengan demikian, hal inilah yang memudian menjadi dasar saya untuk mengajukan skema teori warna Bali dan mengembangkannya ke dalam bentuk skema dengan mengadopsi cakram warna yang dikonstruksi oleh Brewster. Warna-warna mandala dapat dikatakan sebagai warna cahaya atau spektrum istilah lainnya dinyatakan sebagai warna additive­-nya Bali dan sebagai sebuah skema teori maka terdapat pula warna substraktif yaitu warna yang dihasilkan oleh pigmen.

Sementara saya masih meraba-raba tentang dikotomi antara warna primer, skunder, dan tersier dalam konteks skema teori warna Bali, jika yang menjadi acuan pertama adalah lima mandala utama maka warna primernya adalah putih, merah, kuning dan hitam, sedangkan warna kedua yang tercipta dari percampuran warna pokok adalah merah dadu, jingga, hijau, dan biru, sedangkan warna ketiga atau tersiernya adalah percampuran antara warna utama dan warna kedua. Sebagaimana pola turunan warna Brewster yang menyajikan tiga warna utama yaitu merah, hijau, biru (RGB) sebagai warna additive dan warna sian, magenta, dan kuning (CMY) sebagai pokok warna substraktif, sedangkan untuk pigmen warna mempergunakan merah, kuning, biru (RYB) yang banyak dipergunakan turunan warnanya pada cat-warna lukis/gambar.

Model 1 – Prototip Cakram Warna Bhuwana Sangksepa – Purwita Sukahet 2020

Model 2 – Prototip Warna Primer-Skunder-Tersier – Purwita Sukahet 2020


Model 3 – Prototip Warna Tersier – Purwita Sukahet 2020


 Cakram Warna Bhuwana Sangksepa – Purwita Sukahet 2021

Panyineb

Tentu skema teori warna Bali masih sebagai prototip saya untuk membangun sebuah kerangka teoritis yang logis dan dapat diterapkan pada pilihan-pilihan warna khas, kita belum berbicara mengenai pengembangannya dalam konteks teori warna misalkan harmonisasi warna, bagaimana warna Bali dalam konteks warna komplementer, split komplementer, warna triadik, warna tetradik, warna panas dan warna dingin, dan lainnya.

Setidaknya untuk hari ini kita dapat mengetahui bahwa ada bangunan pengetahuan teologi Bali yang dapat dipergunakan sebagai acuan di dalam merumuskan sekaligus membumikan skema teori warna Bali. {T]

Pohmanis, 17 Agustus 2024

  • BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
Apa itu Gincu?
Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Tags: baliGurat InstituteSeni RupaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024warna alam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa itu Gincu?

Next Post

“Kala Api, The Age of Pawns”: Pameran Made Kaek di Yogyakarta untuk Sang Kakek

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
“Kala Api, The Age of Pawns”: Pameran Made Kaek di Yogyakarta untuk Sang Kakek

“Kala Api, The Age of Pawns”: Pameran Made Kaek di Yogyakarta untuk Sang Kakek

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co