23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

3 Tawaran Modus Penciptaan Puisi

Willy Fahmy Agiska by Willy Fahmy Agiska
August 21, 2024
in Esai
3 Tawaran Modus Penciptaan Puisi

Willy Fahm Agiska | desain tatkala.co

  • Artikel ini adalah materi sebagai pengantar “Workshop Menulis Puisi” Singaraja Literary Festival 2024, Jumat, 23 Agustus 2024, di Museum Buleleng
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

1. Belajar dari Keterampilan & Keterampilan dari Belajar

Seperti halnya memasak, menulis puisi juga merupakan sebuah keterampilan. Tidak pernah ada keterampilan yang terberi seperti halnya bernapas. Keterampilan nyaris selalu membutuhkan belajar: meresepsi, meniru, dan mengkreasi.

Pertama, meresepsi. Kiranya saya tak bisa tak ingat bagaimana saya memeroleh pertama kali imajinasi dari dongeng-dongeng (fabel, kisah-kisah nabi, cerita rakyat) yang dituturkan ibu setiap sebelum saya tidur. Dari pengalaman itu kemudian timbul antusiasme saya terhadap bahasa, yang ternyata membuat saya gemar membaca di kemudian hari. Terutama bahasa atau teks-teks yang mengandung imajinasi dalam bentuk persitiwa-peristiwa imajiner.

Antusiasme semacam itu beberapa tahun yang lain muncul lagi dalam bentuk yang sama sekali lain. Kali ini imajinasi itu berbentuk ungkapan dari sepotong puisi yang ditulis oleh Oka Rusmini: Aku mencari sepotong cinta yang bisa kutelan bagai ice cream[i]. Rupanya kalimat inilah yang menjadi momen perjumpaan pertama yang mengesankan bagi saya dengan puisi.

Kedua, meniru. Setelah momen itu, saya jadi tambah penasaran dengan puisi dan kemudian membaca puisi-puisi penyair lainnya, sampai kemudian timbullah keinginan menulis puisi, sekaligus sadar, ternyata ada banyak gaya dan teknik menulis yang berbeda-beda.

Ketika mulai pertama kali menulis puisi, saya merasa apa yang saya tuliskan itu kok biasa-biasa saja, idenya pun mentok di pikiran yang umum. Lalu saya hentikan dulu usaha itu. Saya kemudian coba baca-baca kembali saja puisi-puisi yang pernah mendapat kesan yang kuat di ingatan saya. Lalu saya coba membaca dengan tidak lagi menggunakan mode menikmati apa yang dibaca saja, tapi mencoba meniru teknik menulis dari yang dibaca.

Di antaranya yang saya ingat dan coba tiru di masa-masa awal menulis puisi adalah puisi-puisi Acep Zamzam Noor, Ahda Imran, dan Nirwan Dewanto. Dari puisi-puisi Acep Zamzam Noor di buku Menjadi Penyair Lagi saya meniru caranya mengolah alam menjadi metafor-metafor yang reflektif, meniru caranya memadukan tema sosial dengan romantisme personal. Dari puisi-puisi Ahda Imran di buku Penunggang Kuda Negeri Malam, saya meniru caranya membuat deskripsi-dekripsi sureal dan destruktif untuk menyampaikan kemurungan dan sinisme. Dari puisi-puisi Nirwan Dewanto di buku Jantung Lebah Ratu saya meniru caranya mendefamiliarisasi pengertian maupun imajinasi atas benda atau makhluk-makhluk tertentu dari pengalaman-pengalaman umum, bahkan dari puisi-puisi pada umumnya. Melalui belajar dari meniru inilah saya merasa punya berbagai sudut pandang yang tak sama atas materi/bahan yang masih sama sebelumnya.

Ketiga, mengkreasi. Bagi saya, kreativitas adalah reaksi lanjutan dari meresepsi dan meniru. Dari situlah kita belajar memahami konvensi dan mengembangkannya ke arah inovasi. Karena sadar bahwa mengatakan hal umum dengan cara yang umum sangatlah membosankan, semisal mendapatkan template massal ucapan selamat tahun baru. Bukan hanya membosankan, tapi juga membuat pikiran dan perasaan kita seperti tak ada. Inovasi seperti halnya “seblak”, di mana kerupuk mentah yang biasanya digoreng, difungsikan secara lain dengan ditumis, bahkan jadi pedas dan ketagihan pula!

Dari beberapa pengalaman yang sangat pribadi di atas, saya sadar bahwa menulis niscaya selalu merupakan dampak dari membaca.

2. Puisi dan Media Sosial: Medium Berkomuni dan Berempati Dengan Sesama

Peperangan, penggusuran, nepotisme hukum dan kekuasaan, pembunuhan, kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap perempuan, bunuh diri. Di saat yang bersamaan berhamburan pula konten-konten kegembiraan semisal meme, video-video lucu, joget-joget, dan berbagai eksotisme keseharian pribadi. Suka tidak suka, situasi paradoksal dan ironi semacam itulah kira-kira yang sering muncul bergantian di algoritma media sosial kita akhir-akhir ini. Lalu kenapa kita masih sanggup, punya waktu dan energi, bahkan perlu dan ingin untuk menulis puisi?

Tentu tidak mudah untuk mensimpflikasi jawaban untuk pertanyaan pelik semacam itu. Saya hanya jadi teringat puisi Mahmoud Darwish ini:

PIKIRKAN YANG LAIN [ii]

Ketika kau bersiap untuk sarapan, pikirkan yang lain
(jangan lupakan pakan merpati)
Ketika kau lancarkan perang, pikirkan yang lain
(jangan lupakan mereka yang mencari perdamaian)
Ketika kau membayar minuman, pikirkan yang lain
(mereka yang terpelihara oleh langit)
Ketika kau pulang, ke rumahmu, pikirkan yang lain
(jangan lupakan orang ungsian)
Ketika kau tidur dan menghitung bintang, pikirkan yang lain
(mereka yang entah tidur di mana)
Ketika kau bercakap dengan kiasan, pikirkan yang lain
(mereka yang kehilangan hak untuk bicara)
Ketika sejauh kau berpikir yang lain, pikirkan dirimu sendiri
(katakan, seandainya diriku lilin di kegelapan)

Frasa “pikirkan yang lain” yang terus berulang dalam puisi ini seperti berusaha memperlihatkan kepada kita tentang betapa berharganya hidup berdampingan dengan penuh empati. Mungkin karena empatilah kita masih setia dengan puisi, setia untuk senantiasa berhati-hati untuk melakukan segala sesuatu, setia untuk selalu mempertimbangkan egoisme pribadi.

Di sisi yang lain, media sosial yang memang diciptakan untuk merayakan berbagai sisi individualitas dalam diri kita, justru membuat kita kemudian kehilangan kendali atas ruang pribadi itu sendiri, lantaran segala hal pribadi mudah terintervensi dan dikendalikan oleh publik. Saya jadi teringat juga dengan puisi Setyaningsih ini:

KONTEN [iii]

Sampai siang ini, dia telah memulung 48K likes dan 205K views. 1.02 M subscribers menunggunya kepedasan mukbang bakso aci. Video pernikahannya banjir ucapan. Video kehamilan anak pertama diincar iklan.

Besok, dia mengunggah video lari pagi sambil panen daun bawang di pekarangan. Dia merekam adegan memasak sup ayam dan makan bersama keluarga. Rumah berlantai dua dibangun setelah menyukseskan orangtua berangkat haji.

Meski hampir lupa membangun garasi, dia membeli mobil mewah yang kelak dikendarai menembus jalan macet ke surga.

“Alhamdulillah,” ucapnya.
“Jangan lupa like dan subscribe ya, gaes!
Keluargaku, kontenku.”

Puisi ini saya pikir adalah sindiran halus yang sangat keras bahwa kebiasaan mengkotenkan hal pribadi di ruang publik seringkali menempatkan kita dalam kondisi “hampir lupa membangun garasi” demi kebutuhan dan tanggung jawab diri sendiri. Lupa yang merebut dan menciptakan kesenjangan dengan orang lain.

3. Keseharian sebagai Medan Penciptaan dan Penemuan Watak Pribadi dalam Puisi

Dalam dunia kreatif, seringkali ketika menulis, kita selalu dibayang-bayangi dorongan obsesif untuk membuat karya kita menjadi otentik dan mencapai kebaruan. Barangkali itu memang resiko yang niscaya terhindarkan, apalagi kita sudah membaca bentangan historis dari tradisi karya dari penulis-penulis sebelumnya.

Terkait otentisitas, saya pikir itu adalah dampak dari dialektika yang intens antara penulis dengan keseharian hidupnya. Keseharian yang saya maksud ialah segala hal yang terkait dengan konteks sosio-biografis penulisnya.

Sebagai contoh, mungkin di antara kita ada yang pernah membaca puisi-puisi Afrizal Malna. Puisi-puisinya dengan intens dan konsisten terus merepresentasikan absurditas kehidupan manusia modern. Ada banyak material-material khas kebudayaan modern berserakan dalam puisinya, dalam wujud kata, metafor maupun imaji. Kalimatnya seringkali non-linier, seperti halnya kesemrawutan kota. Fakta tekstual semacam itu saya pikir berkaitan erat dengan fakta sosio-biografis penulisnya yang juga kebetulan lahir, hidup dan berkarya di ruang kota. Bisa jadi pandangan ini nampak seperti cocokologi. Namun kita bisa mengeceknya sendiri tentang hal itu di berbagai wawancara dan fakta-fakta biografis penulisnya di berbagai sumber yang ada buku maupun internet.

Selain faktor konsistensi dan itensi, setidaknya bagi saya, penemuan watak pribadi (yang khas) itu adalah dampak dari bagaimana penulis meresepsi dan membiarkan dirinya berjalan bersama-sama dengan medan bahasa dan sosio-budaya yang ada di sekitarnya, sehingga antara karya dengan kesehariannya menemukan titik bersama.

Puisi yang ditulis dengan pov keseharian seorang guru dan seorang pekerja kantor swasta besar kemungkinan akan berbeda wataknya, dari mulai material bahasa sampai dengan yang digelisahannya. Misalnya dua puisi ini:

Julia F. Gerhani

BELAJAR AKSARA[iv]

Ibu Guru bilang jangan lupa memberi huruf kapital di awal kalimat, sedang Nessi lebih suka huruf kecil-kecil karena teringat butir-butir menir yang tidak ditampi Ibu. Huruf-huruf besar dan kecil bertabrakan di buku, Nessi tidak bisa menjadi polantas untuk menangkapnya. b dan d sama-sama lurus kakinya. Satu buncit di depan dan satu buncit di belakang, maka Nessi membaca bebek sebagai dedek dan mengingat adiknya yang suka mengambil permennya diam-diam. dada menjadi baba, dan Nessi mengingat ayahnya yang tidak pulang-pulang seperti percakapan bisik-bisik yang remang. Ibu Guru bilang jangan lupa memberi tanda titik di akhir kalimat, tapi Nessi suka tanda koma. Ia memberi tanda koma pada setiap akhir kata, untuk mengingatkannya: ada jeda di luka dada sebelum henti yang lama.

Ruhma Ruksalana Huurul’in[v]

ANAK BARU

anak baru di kantor besar
pulang lebih lambat dari senior

saat wawancara
kelebihannya adalah mengerjakan laporan
dalam waktu 8 jam
kekurangannya: mudah mengantuk

sekarang
kelebihannya ada di jam kerja
dan ia kekurangan jam tidur

Menulis dengan menempatkan keseharian sebagai medan penciptaan puisi saya pikir lebih leluasa, rasional dan memantik banyak kemungkinan penjelajahan lain atas puisi dan diri, ketimbang sibuk mengejar kebaruan yang entah kenapa tak pernah jelas tolak ukurnya. Teknik menulis mungkin bisa sangat dengan mudah dicuri atau ditiru. Tapi pengalaman-pengalaman personal atas keseharian rasanya tidak. Tentu keseharian bukanlah satu-satunya medan yang menarik untuk ditulis, ada banyak juga hal lainnya.


[i] Oka Rusmini. Pandora (Grasindo, 2008), puisi berjudul “Paranoia”.

[ii] Mahmoud Darwish. Almon yang Mekar dan Hal-Hal Lainnya (JBS, 2018).

[iii] https://www.buruan.co/puisi-puisi-setyaningsih/

[iv] https://www.bacapetra.co/puisi-puisi-julia-f-gerhani-arungan-tambah-kurang-bagi-kali/

[v] Ruhma Ruksalana Huurul’in. Pulang Vakansi (Halaman Indonesia, 2022)

  • BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali
Apa itu Gincu?
Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Tags: Cara Menulis Puisikiat menuliskiat menulis puisiPuisiSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024Willy Fahmy Agiska
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kasino di Bali: Perjudian dengan Aroma Pariwisata

Next Post

Menyeret Teks Lama ke Dalam Eksperimentasi Media Baru

Willy Fahmy Agiska

Willy Fahmy Agiska

Penyair

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Menyeret Teks Lama ke Dalam Eksperimentasi Media Baru

Menyeret Teks Lama ke Dalam Eksperimentasi Media Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co