2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya

Hannan Asrowi Efflina Lailufa by Hannan Asrowi Efflina Lailufa
August 22, 2024
in Esai
Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya

Hannan | desain tatkala.co

  • Artikel ini adalah materi dalam panel diskusi “Berguru pada Kekuatan Perempuan Marginal dalam Teks Lama dan Baru”, serangkaian Singaraja Literary Festival (SLF), Sabtu, 24 Agustus 2024, di Sasana Budaya, Singaraja, Bali
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

SEJARAH kerap mencatat figur-figur penting dan peristiwa besar yang mana kebanyakan adalah laki-laki. Tapi lain cerita dengan perempuan, apalagi perempuan pekerja, yang sampai hari ini masih termarjinalkan. Di Jawa, perempuan pekerja dapat dengan mudah ditemui di banyak tempat. Dari buruh gendong di pasar tradisional, penggarap lahan sawah, pemetik teh di perkebunan, juga para pembatik. Kalau sejarah luput mengingat cerita mereka, tidak demikian dengan karya-karya yang mereka hasilkan.

Dalam selembar batik, misalnya, ada sejarah panjang kehidupan para pembatik yang ikut diabadikan. Hidup mereka dapat dilacak dalam cerahnya warna batik Pekalongan dan Rembang. Perjuangan dan kisah hidup para perempuan pembatik juga dapat dengan mudah kita baca dalam lembar-lembar batik dari pedalaman Surakarta dan Yogyakarta. Guratan karya yang indah dan bermakna inilah yang menjadi saksi atas setiap perjuangan para perempuan.

Batik dengan ragam pola dan komposisi warna yang memesona itu telah memancing ketertarikan saya. Petualangan pertama saya dimulai beberapa tahun silam. Ketika saya bertemu sosok luar biasa, usianya 80-an tahun saat itu. Mbah Fatanah namanya. Siang itu, ia duduk di belakang rumah. Mengenakan kemben lawas dan bersarung batik. Di depannya adalah dunianya, hamparan kain yang sedang ditembok. Tangannya yang keriput dan gemetar tetap kokoh menggenggam canting. Penglihatannya tidak lagi awas. Tapi dia tidak menyerah dengan usianya.

Simbah membatik di samping kandang ayam peliharaannya. Dengan tekun dan sabar ia menutup setiap garis pola dengan lilin panas. Tak jarang tetesan lilin panas itu meleset tidak pada pola yang diinginkan atau mengenai kulitnya. Ketekunan simbah dan daya juang simbah membuat saya iri. Perempuan itu tidak menyerah karena usianya dan tetap menikmati lakonnya.

Lain cerita di Yogyakarta. Perempuan paruh baya, Ibu Ngatijah, seorang ibu rumah tangga sekaligus seniman batik. Tatkala permintaan batik tidak menentu, dia tetap setia membatik. Mewarisi tradisi membatik dari neneknya, ngugemi pakem pembatikan gaya Yogyakarta. Ia kadang membatik untuk kalangan istana atau para kolektor batik. Puluhan tahun ia jalani dan tidak ada kata bosan untuk melestarikan batik gaya Yogyakarta.

Perempuan hebat lainnya adalah Suratmi. Orang biasanya memanggilnya Mbak Ami. Sosok jenius yang mampu menangkap ‘pesan’ dari naskah kuno menjadi guratan motif batik. Kepiawaian Mbak Ami dalam mengalih-wahanakan iluminasi dalam naskah kuno ke dalam motif batik tidak diragukan lagi. Ketulusan dan kreatifitas beliau dalam berkarya tidak, semua tergambar anggun di setiap lembar batik desainnya.

Mundur jauh ke belakang, sepenggal pengalaman perempuan-perempuan itu telah sedikit banyak dirangkum dalam Suluk Prawan Mbabar Bathik dan Suluk Bathik. Kedua naskah tersebut memuat teks tentang perjuangan perempuan dalam membatik. Dimana tiap unsur yang meliputi proses, alat, bahan, serta teknik pembatikan digambarkan sebagai simbol akan pendidikan karakter perempuan, keterampilan perempuan, sekaligus tuntutan yang harus diemban para perempuan.

Gawangan sebagai penyangga kain yang akan dibatik diibaratkan sebagai alam semesta. Wajan tempat melelehkan malam diibaratkan sorot pelita. Malam sebagai perintang warna diibaratkan rasa sejati. Dan canting, alat utama yang menorehkan lilin panas diibaratkan kalam Ilahi. Perumpaan alat membatik dalam teks sangat dekat dengan gambaran alam dan kuasa sang Pencipta.

Tak berlebihan ketika kegiatan membatik dalam tradisi Jawa dipahami sebagai proses menempa diri. Perempuan yang membatik sejatinya sedang belajar mengimani Tuhannya. Mensyukuri setiap karunia yang diberikan. Baik itu yang berwujud nyata maupun tidak kasat mata. Hal ini dituangkan di awal suluk, yang menghendaki untuk bermunajat terlebih dahulu sebelum menggoreskan canting. Dengan demikian mendekatkan diri pada sang pencipta merupakan pembuka dalam berkarya.

Melalui batik perempuan berkontemplasi. Ia mempertajam rasa, melembutkan jiwa, serta mengolah karsa. Membatik menjadi sebuah cerminan akan perjuangan seorang perempuan

dalam mengendalikan diri. Tak ayal, kadang ia berpuasa selama empat puluh hari atau melakukan pantangan demi membuat selembar kain batik.

Nilai-nilai tersebut barangkali telah demikian asing bagi generasi muda hari ini. Di tengah gempuran modernisasi, biaya hidup yang semakin tinggi, serta rayuan bekerja di pabrik atau sektor lain yang dinilai lebih instan untuk mendapatkan pundi-pundi penghasilan.

Dalam kajian yang dilakukan Tempo pada 2015 silam, upah pembatik di Yogyakarta berkisar di angka Rp800.000 setiap bulannya. Sementara itu, Amalinda Savirani mencatat bahwa pada 2007 upah pembatik di Kota Pekalongan hanya berkisar di angka Rp550.000 per bulan.[1]

Angka tersebut tentu tak seberapa jika dibandingkan dengan upah ideal yang diidamkan generasi muda di Indonesia. Hari ini, dengan beban kerja yang sama, pemuda usia produktif itu bisa masuk ke pabrik tekstil atau garmen dengan upah di kisaran Rp2 juta lebih setiap bulannya.

Fakta tersebut semakin memperkuat keyakinan saya bahwa mengambil pilihan hidup sebagai seorang pembatik adalah komitmen besar yang jauh dari keriuhan. Nama mereka tak akan sementereng hasil karya yang dikenakan atau dikoleksi para saudagar dan priyayi, para juragan mereka.

Hanya sebagian kecil dari pembatik tradisional tersebut yang bisa mengabadikan namanya dalam selembar kain baik, seperti Nyai Bei Mardusari dari Pura Mangkunegaran, Surakarta. Sisanya hilang tak berbekas. Lantas apakah seniman-seniman tersebut bisa hidup sejahtera dari batik? Apakah sosok-sosok yang demikian berjasa bagi pelestarian budaya tradisional itu dikenal, atau setidaknya viral di jagad maya?

Tidak juga. Mereka tetap berkarya dalam keheningan, tanpa berlimpah materi apalagi popularitas. Batik, yang diagungkan sebagai luapan rasa, ide, kreatifitas, juga ‘laku’ bagi seorang perempuan Jawa tradisional, tetap tak bisa lepas dari sekelumit pergumulannya. Hidup mereka tak semulus dan tak seapik kain-kain batik yang dibuatnya saban hari.

Tentu, ketiga sosok perempuan yang saya ceritakan di atas punya ujian hidupnya masing-masing. Dari perkara usia, tingkat pendidikan, akses akan pengetahuan dan informasi, hingga beban sosial lainnya.

Mereka terus berjuang dan melakoni jalan keseniannya dengan tetap membatik. Tangan mereka tetap cermat memainkan canting, untuk memastikan tiap detil alur pola serta warna kain agar tetap mencorong. Barangkali, mereka pun sadar bahwa selain berlembar-lembar kain batik yang mereka buat, tak ada lagi bekas eksistensi diri mereka yang bakal dicatat sejarah. Kalau memang demikian, barangkali kesadaran itu pula yang diartikan sebagai nilai kesabaran, rasa sejati, ketulusan hati, keteguhan jiwa, serta religiusitas yang disinggung dalam dua suluk di bagian awal.

Kondisi tersebut menjadi gambaran kecil dari figur perempuan dalam tradisi Jawa. Perempuan, yang hingga hari ini, masih dituntut untuk menjadi sempurna tanpa banyak menutut dan bersuara. Bukan bermaksud untuk mempertahankan status quo semacam itu. Tapi bagi saya, pengalaman hidup para pembatik itu membawa pelajaran penting yang perlu direfleksikan lebih lanjut. Sebuah pelajaran tentang keteguhan dan daya juang. Tentang energi para perempuan hebat yang bersiasat dan mengabadikan eksistensinya, walau kecil dan terbatas, dalam lembaran batik.[T]


[1] https://projectmultatuli.org/hari-batik-buruh-murah/

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Pedih Padi dan Tuhan Yang ‘Mabuk’ [Untuk Bapak dan Ibu]
Tentang Rambut dan Kisah-kisahnya
Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
3 Tawaran Modus Penciptaan Puisi
WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali
Apa itu Gincu?
Tags: batikmarginalPerempuanSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pedih Padi dan Tuhan Yang ‘Mabuk’ [Untuk Bapak dan Ibu]

Next Post

Mengenai Puisi, Chiffer, dan Lain-lain

Hannan Asrowi Efflina Lailufa

Hannan Asrowi Efflina Lailufa

Filolog, Peneliti

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Mengenai Puisi, Chiffer, dan Lain-lain

Mengenai Puisi, Chiffer, dan Lain-lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co