24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya

Hannan Asrowi Efflina Lailufa by Hannan Asrowi Efflina Lailufa
August 22, 2024
in Esai
Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya

Hannan | desain tatkala.co

  • Artikel ini adalah materi dalam panel diskusi “Berguru pada Kekuatan Perempuan Marginal dalam Teks Lama dan Baru”, serangkaian Singaraja Literary Festival (SLF), Sabtu, 24 Agustus 2024, di Sasana Budaya, Singaraja, Bali
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

SEJARAH kerap mencatat figur-figur penting dan peristiwa besar yang mana kebanyakan adalah laki-laki. Tapi lain cerita dengan perempuan, apalagi perempuan pekerja, yang sampai hari ini masih termarjinalkan. Di Jawa, perempuan pekerja dapat dengan mudah ditemui di banyak tempat. Dari buruh gendong di pasar tradisional, penggarap lahan sawah, pemetik teh di perkebunan, juga para pembatik. Kalau sejarah luput mengingat cerita mereka, tidak demikian dengan karya-karya yang mereka hasilkan.

Dalam selembar batik, misalnya, ada sejarah panjang kehidupan para pembatik yang ikut diabadikan. Hidup mereka dapat dilacak dalam cerahnya warna batik Pekalongan dan Rembang. Perjuangan dan kisah hidup para perempuan pembatik juga dapat dengan mudah kita baca dalam lembar-lembar batik dari pedalaman Surakarta dan Yogyakarta. Guratan karya yang indah dan bermakna inilah yang menjadi saksi atas setiap perjuangan para perempuan.

Batik dengan ragam pola dan komposisi warna yang memesona itu telah memancing ketertarikan saya. Petualangan pertama saya dimulai beberapa tahun silam. Ketika saya bertemu sosok luar biasa, usianya 80-an tahun saat itu. Mbah Fatanah namanya. Siang itu, ia duduk di belakang rumah. Mengenakan kemben lawas dan bersarung batik. Di depannya adalah dunianya, hamparan kain yang sedang ditembok. Tangannya yang keriput dan gemetar tetap kokoh menggenggam canting. Penglihatannya tidak lagi awas. Tapi dia tidak menyerah dengan usianya.

Simbah membatik di samping kandang ayam peliharaannya. Dengan tekun dan sabar ia menutup setiap garis pola dengan lilin panas. Tak jarang tetesan lilin panas itu meleset tidak pada pola yang diinginkan atau mengenai kulitnya. Ketekunan simbah dan daya juang simbah membuat saya iri. Perempuan itu tidak menyerah karena usianya dan tetap menikmati lakonnya.

Lain cerita di Yogyakarta. Perempuan paruh baya, Ibu Ngatijah, seorang ibu rumah tangga sekaligus seniman batik. Tatkala permintaan batik tidak menentu, dia tetap setia membatik. Mewarisi tradisi membatik dari neneknya, ngugemi pakem pembatikan gaya Yogyakarta. Ia kadang membatik untuk kalangan istana atau para kolektor batik. Puluhan tahun ia jalani dan tidak ada kata bosan untuk melestarikan batik gaya Yogyakarta.

Perempuan hebat lainnya adalah Suratmi. Orang biasanya memanggilnya Mbak Ami. Sosok jenius yang mampu menangkap ‘pesan’ dari naskah kuno menjadi guratan motif batik. Kepiawaian Mbak Ami dalam mengalih-wahanakan iluminasi dalam naskah kuno ke dalam motif batik tidak diragukan lagi. Ketulusan dan kreatifitas beliau dalam berkarya tidak, semua tergambar anggun di setiap lembar batik desainnya.

Mundur jauh ke belakang, sepenggal pengalaman perempuan-perempuan itu telah sedikit banyak dirangkum dalam Suluk Prawan Mbabar Bathik dan Suluk Bathik. Kedua naskah tersebut memuat teks tentang perjuangan perempuan dalam membatik. Dimana tiap unsur yang meliputi proses, alat, bahan, serta teknik pembatikan digambarkan sebagai simbol akan pendidikan karakter perempuan, keterampilan perempuan, sekaligus tuntutan yang harus diemban para perempuan.

Gawangan sebagai penyangga kain yang akan dibatik diibaratkan sebagai alam semesta. Wajan tempat melelehkan malam diibaratkan sorot pelita. Malam sebagai perintang warna diibaratkan rasa sejati. Dan canting, alat utama yang menorehkan lilin panas diibaratkan kalam Ilahi. Perumpaan alat membatik dalam teks sangat dekat dengan gambaran alam dan kuasa sang Pencipta.

Tak berlebihan ketika kegiatan membatik dalam tradisi Jawa dipahami sebagai proses menempa diri. Perempuan yang membatik sejatinya sedang belajar mengimani Tuhannya. Mensyukuri setiap karunia yang diberikan. Baik itu yang berwujud nyata maupun tidak kasat mata. Hal ini dituangkan di awal suluk, yang menghendaki untuk bermunajat terlebih dahulu sebelum menggoreskan canting. Dengan demikian mendekatkan diri pada sang pencipta merupakan pembuka dalam berkarya.

Melalui batik perempuan berkontemplasi. Ia mempertajam rasa, melembutkan jiwa, serta mengolah karsa. Membatik menjadi sebuah cerminan akan perjuangan seorang perempuan

dalam mengendalikan diri. Tak ayal, kadang ia berpuasa selama empat puluh hari atau melakukan pantangan demi membuat selembar kain batik.

Nilai-nilai tersebut barangkali telah demikian asing bagi generasi muda hari ini. Di tengah gempuran modernisasi, biaya hidup yang semakin tinggi, serta rayuan bekerja di pabrik atau sektor lain yang dinilai lebih instan untuk mendapatkan pundi-pundi penghasilan.

Dalam kajian yang dilakukan Tempo pada 2015 silam, upah pembatik di Yogyakarta berkisar di angka Rp800.000 setiap bulannya. Sementara itu, Amalinda Savirani mencatat bahwa pada 2007 upah pembatik di Kota Pekalongan hanya berkisar di angka Rp550.000 per bulan.[1]

Angka tersebut tentu tak seberapa jika dibandingkan dengan upah ideal yang diidamkan generasi muda di Indonesia. Hari ini, dengan beban kerja yang sama, pemuda usia produktif itu bisa masuk ke pabrik tekstil atau garmen dengan upah di kisaran Rp2 juta lebih setiap bulannya.

Fakta tersebut semakin memperkuat keyakinan saya bahwa mengambil pilihan hidup sebagai seorang pembatik adalah komitmen besar yang jauh dari keriuhan. Nama mereka tak akan sementereng hasil karya yang dikenakan atau dikoleksi para saudagar dan priyayi, para juragan mereka.

Hanya sebagian kecil dari pembatik tradisional tersebut yang bisa mengabadikan namanya dalam selembar kain baik, seperti Nyai Bei Mardusari dari Pura Mangkunegaran, Surakarta. Sisanya hilang tak berbekas. Lantas apakah seniman-seniman tersebut bisa hidup sejahtera dari batik? Apakah sosok-sosok yang demikian berjasa bagi pelestarian budaya tradisional itu dikenal, atau setidaknya viral di jagad maya?

Tidak juga. Mereka tetap berkarya dalam keheningan, tanpa berlimpah materi apalagi popularitas. Batik, yang diagungkan sebagai luapan rasa, ide, kreatifitas, juga ‘laku’ bagi seorang perempuan Jawa tradisional, tetap tak bisa lepas dari sekelumit pergumulannya. Hidup mereka tak semulus dan tak seapik kain-kain batik yang dibuatnya saban hari.

Tentu, ketiga sosok perempuan yang saya ceritakan di atas punya ujian hidupnya masing-masing. Dari perkara usia, tingkat pendidikan, akses akan pengetahuan dan informasi, hingga beban sosial lainnya.

Mereka terus berjuang dan melakoni jalan keseniannya dengan tetap membatik. Tangan mereka tetap cermat memainkan canting, untuk memastikan tiap detil alur pola serta warna kain agar tetap mencorong. Barangkali, mereka pun sadar bahwa selain berlembar-lembar kain batik yang mereka buat, tak ada lagi bekas eksistensi diri mereka yang bakal dicatat sejarah. Kalau memang demikian, barangkali kesadaran itu pula yang diartikan sebagai nilai kesabaran, rasa sejati, ketulusan hati, keteguhan jiwa, serta religiusitas yang disinggung dalam dua suluk di bagian awal.

Kondisi tersebut menjadi gambaran kecil dari figur perempuan dalam tradisi Jawa. Perempuan, yang hingga hari ini, masih dituntut untuk menjadi sempurna tanpa banyak menutut dan bersuara. Bukan bermaksud untuk mempertahankan status quo semacam itu. Tapi bagi saya, pengalaman hidup para pembatik itu membawa pelajaran penting yang perlu direfleksikan lebih lanjut. Sebuah pelajaran tentang keteguhan dan daya juang. Tentang energi para perempuan hebat yang bersiasat dan mengabadikan eksistensinya, walau kecil dan terbatas, dalam lembaran batik.[T]


[1] https://projectmultatuli.org/hari-batik-buruh-murah/

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Pedih Padi dan Tuhan Yang ‘Mabuk’ [Untuk Bapak dan Ibu]
Tentang Rambut dan Kisah-kisahnya
Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
3 Tawaran Modus Penciptaan Puisi
WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali
Apa itu Gincu?
Tags: batikmarginalPerempuanSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pedih Padi dan Tuhan Yang ‘Mabuk’ [Untuk Bapak dan Ibu]

Next Post

Mengenai Puisi, Chiffer, dan Lain-lain

Hannan Asrowi Efflina Lailufa

Hannan Asrowi Efflina Lailufa

Filolog, Peneliti

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Mengenai Puisi, Chiffer, dan Lain-lain

Mengenai Puisi, Chiffer, dan Lain-lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co