23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenai Puisi, Chiffer, dan Lain-lain

Pranita Dewi by Pranita Dewi
August 22, 2024
in Esai
Mengenai Puisi, Chiffer, dan Lain-lain

Pranita Dewi | desain tatkala.co

  • Artikel ini adalah materi sebagai pengantar “Workshop Menulis Puisi” Singaraja Literary Festival 2024, Jumat, 23 Agustus 2024, di Museum Buleleng
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

Poetry is the spontaneous overflow of powerful meanings. —(Wordsworth)

SEBATANG bambu tumbuh melengkung ke arah sungai. Jika angin mati, ia diam dan tampak seperti sedang menjenguk ke dalam air yang tak putus-putus mengalir—posenya mirip benar dengan patung Rodin yang abadi merenungi Ada.

Suatu hari kautebang filsuf yang berjaga di kali itu. Ia tak mengeluh, mengerang, atau menolak – ia pasrah dengan kepasrahan total seorang hamba kepada sang khalik. Lalu kaubikin suling dari sebuah ruas dekat pangkalnya yang lurus dan rapi.

Pernahkah kau membayangkan bambu itu menangis dan mengerang kesakitan saat kau memotongnya? Konon, bunyi sayu suling bambu itu, yang membikin pendengarnya melayang-layang saat ditiup waranggana atau bocah gembala, sesungguhnya adalah erang kesakitan sang bambu yang tertahan saat dipotong dulu.

***

Mungkin seperti itulah penyair dan puisi ada: Ia menjadi saksi apa yang membentang di matanya, dan menuliskannya menjadi puisi. Seorang penyair, bisa menjadi saksi di pinggir, atau justru intuisi menggiringnya menjadi subjek yang ingin dituliskannya dalam puisi, untuk menyatakan keberadaannya.

Ia terus menggali apa saja yang di depannya, ketika moment puitik itu muncul, ia bisa juga repot-repot mengingat-ngingat res historia – semua yang telah lalu, dan merasa bahwa ia berada di sini dan saat ini ditentukan oleh sesuatu dari masa lalu.

Tetapi ia terkadang bisa cukup frustasi ketika mendapati banyak ingatan terkunci ke dalam gudang sejarah dan ia mungkin sering memilih “melarikan diri” dengan selalu memandang ke depan. Demikian kemudian si penyair mencoba menuliskannya ke dalam puisi.

***

Penyair mengetahui keinginannya untuk menulis puisi. Ia menemukan “bahan” yang ingin dituliskannya. Dari bahan itu, semua pengalaman yang ia hayati di waktu lampau, kini dan nanti, akan menjadi baris-baris di dalam puisinya. Pertanyaannya kemudian bagaimana si penyair dapat menuliskan kalimat-kalimat tersebut?

Tentu ia harus belajar membuat kalimat dan mempelajari struktur tata bahasa, bahkan yang paling dasar sekalipun, untuk menyusun baris-baris kalimatnya menjadi lapis-lapis puisi — ingat, intuisi dan imajinasi yang dimiliki si penyair, akan menjadi pincang ketika tidak dipijak oleh kemampuan dan teknik dalam menuliskannya. Bahkan bakat sekalipun, tidak akan terasa cukup.

Seni menulis puisi adalah melukiskan atau menarasikan suatu gagasan dan perasaan;  bukan menyatakan atau menjelaskan. Kita bisa dengan gampang menjelaskan bahwa kita sedang jatuh cinta dengan seseorang karena begini dan begitu.

Namun, coba lukiskan bahwa kita sedang jatuh cinta. Melukis dengan kata-kata itulah tugas seorang penyair. Ia tidak menyatakan, “Saya sedang jatuh cinta,” tetapi ia melukiskan “saya yang sedang jatuh cinta itu” dengan kata-kata.

Sampai di sini, puisi bisa menjadi seni berkata-kata. Di dalam seni menulis puisi, saya percaya, tidak bisa membuat kerangka karangan untuk puisi. Penyair Inggris, William Wordsworth pernah menyatakan bahwa Poetry is the spontaneous overflow of powerful meanings: Puisi adalah ungkapan spontan perasaan yang kuat kemudian dipahami bukan sebagai pelepas emosi (perasaan) tak terkendali, tetapi mengungkapkan “kedalaman”, bukan “kegundahan jiwa” (in the depth, and not the tumult of the soul).

Menulis puisi adalah spontan: kita harus dicekam dan diliputi oleh suatu momen puitik tertentu. Momen ini bisa meliputi suasana atau gagasan atau suatu pengalaman berbahasa, lalu secara spontan kita menuliskan momen puitik itu menjadi puisi. Mungkin terkadang justru tak sekali jadi, atau butuh waktu yang lebih lama untuk menjadikannya utuh disebut puisi.

Di dalam menulis puisi, saya begitu percaya bahwa si penyair harus mempunyai kemampuan dasar yang mesti dimiliki olehnya yaitu menguasai tata bahasa, dan memperluas pengetahuan-pengetahuannya mengenai sintaksis. Sintaksis, ilmu tata kalimat, memiliki unsur-unsur, yaitu: kata, frase (gabungan kata), klausa (satuan kalimat yang mesti memiliki predikat), kalimat. Baik sintaksis prosa maupun sintaksis puisi, pastilah memiliki unsur-unsur itu.

Struktur dasar dari satu klausa atau kalimat minimal adalah S (Subjek) + P (Predikat), dan atau yang lengkap adalah S (Subjek) + P (Predikat) + O (Obyek) atau K (Keterangan).

Kalau kita sudah memahami benar soal struktur dasar klausa atau kalimat ini, barulah kita bisa beranjak menyusun kalimat luas (majemuk) dengan berbagai variasinya. Lalu kita pun bisa menggunakan berbagai jenis inversi (pembalikan) dari berbagai fungsi kalimat atau klausa (S, P, O atau K) dengan tepat. Selanjutnya, dalam tahap terakhir, barulah kita bisa melakukan teknik pemadatan atau pelesapan kata atau fungsi kalimat/klausa.

Dalam ilmu linguistik (ilmu tentang bahasa), kalimat terdiri dari tiga unsur yang membentuk suatu kalimat, yaitu: kata, frase (gabungan kata), dan klausa. Klausa adalah unsur sintaksis yang predikatif, artinya di dalam satu klausa itu mesti ada minimal satu predikat. Pengetahuan tentang linguistik ini juga akan sangat bermanfaat sewaktu seorang penulis melakukan evaluasi pada tahap revisi tulisan.

***

Mengenai Kedalaman Tema

Ada satu konsep filsafat yang tepat terkait kedalaman tema dari seorang filsuf eksistensialis Jerman pada abad ke-20, Karl Jaspers, yaitu “chiffer-chiffer”. Istilah ini diartikan sebagai “situasi-situasi batas” dalam eksistensi manusia.

Menurut Karl Jaspers ada beberapa situasi batas yang akan membuat eksistensi manusia “retak” menuju pengalaman transendensi, di antaranya: kematian, penderitaan, perjuangan, kesalahan, kegagalan, cinta, dan keilahian. 

Chiffer-chiffer ini mencipta rasa ambang dan membuka pilihan bebas manusia: menerima situasi-situasi batas itu atau menolaknya. Ketika eksistensi retak dalam situasi-situasi batas, menurut Karl Jaspers, tak selayaknya membikin manusia menyerah, namun itu justru merupakan celah bagi manusia untuk menyadari bahwa eksistensinya tidaklah identik dengan situasi rutin semata, dengan keterasingan dan kutuk kehampaan belaka. Setiap situasi batas adalah sebuah peluang bagi manusia untuk terus-menerus mentransendensikan kemanusiaannya, untuk melampaui keterbatasannya.

Jika kita memahami apa yang dimaksud dengan chiffer-chiffer atau situasi-situasi batas dalam hidup manusia, maka kita akan memahami dengan baik tema-tema dasar apa yang akan menggugah “rasa” terdalam dari jiwa manusia.

Orang tak akan tergugah membaca rasa sepi kita yang ditulis dengan berlarat-larat. Karena kesepian dan keterasingan kita bukanlah situasi batas bagi orang lain, bukan satu chiffer yang akan meretakkan eksistensi pembaca untuk bertransendensi, untuk “keluar” dari situasi rutinnya.

Tapi, jika kita bisa menampilkan satu atau beberapa situasi batas di dalam kisah kesepian kita, maka pembaca kisah kita kemungkinan besar akan tergugah. Misal: kesepian saat menghadapi hukuman mati, kesepian saat berjuang mempertahankan keadilan, kesepian yang merindukan cinta seorang kekasih, kesepian dalam bayangan keilahian. Kesepian, atau mungkin lebih kena disebut keheningan, yang tercipta dalam situasi-situasi batas itu tak lain manefestasi dari “rasa ambang”.

Ahmad Yulden Erwin, guru saya, pernah mencontohkan bagaimana cara menempatkan chiffer-chiffer ini bekerja di dalam puisi. Salah satunya adalah melalui cerita Hikayat Joshua. Penulis Hikayat Joshua, menurutnya, sungguh-sungguh lihai menempatkan chiffer-chiffer ini secara total.

Joshua digambarkan berjuang sendirian—chiffer berjuang yang ekstrim ini tergambarkan dalam kisah mulai dari pengembaraannya sendirian di gurun selama 40 hari tanpa makan dan minum, hingga saat ia memikul sendiri kayu salibnya ke Bukit Golgota. Ia juga digambarkan menahan siksaan yang tak terbayangkan kejinya—visualisasi chiffer penderitaan ekstrim ini dapat dilihat seperti dalam film Mel Gibson tentang “Kesabaran Kristus”.

Situasi-situasi batas dalam hikayat Joshua benar-benar ditarik oleh “sang penulis” hikayat Joshua sampai batasnya, dan itu pula yang membuat hikayat Joshua ini menggugah secara “ekstatif” guna memicu “rasa ambang” atau keharuan bermilyar manusia selama dua ribu tahun lebih.

Bagaimana cara mengomposisikan chiffer-chiffer ini menjadi sebuah kombinasi yang padu dalam teks puisi? Di situlah rahasia “pendalaman tematik”. Begitu keseluruhan atau beberapa chiffer itu dikombinasikan secara “serentak” dengan piawai oleh sang penulis, maka setiap chiffer akan membuka kian besar “rasa ambang” dalam diri manusia, membuka berbagai pintu transendensi. Itulah “permainannya”.

Contoh:

Topik: Ibu

Tema: Ibu adalah orang tua perempuan yang melahirkan kita.

Tema di atas benar, tapi secara puitik dangkal, macam definisi kata di kamus.

Sekarang saya akan masukkan chiffer-chiffer itu ke dalam tema. Misalnya:

Topik: Ibu.

Tema: Ibu adalah sumber kekuatan yang menjadi wujud ilahi di muka bumi (chiffer keilahian).

Atau, secara lebih lengkap:

1. Topik: Ibu

2. Tema: Perjuangan seorang ibu (single mom) menjadi pekerja serabutan demi sekolah anaknya.

3. Konflik:

– Konflik internal: Seorang Ibu sempat ragu untuk menjadi kuli serabutan, karena ia merasa itu adalah pekerjaan yang tidak memberikan masa depan. Namun, kebutuhan keluarga dan demi pendidikan anaknya memaksa ia menjadi kuli serabutan.

– Konflik personal: Anaknya yang berumur 5 tahun membutuhkan kasih sayang ibunya. Ketika ibunya bekerja sana sini, maka tidak akan mempunyai waktu yang banyak untuk bermain dengan anaknya.

– Konflik sosial: Masyarakat menganggap menjadi seorang single mom adalah momok

– Konflik dengan alam: Saat musim hujan, rumah ibu itu sering mengalami kebocoran, dan ia harus bekerja ekstra untuk memperbaiki rumahnya.

– Konflik dengan Tuhan: Ia juga sering marah, karena Tuhan menimpakan banyak pencobaan padanya, di tengah kesendiriannya.

4. Chiffer-Chiffer: Seorang ibu berjuang (chiffer perjuangan) menjadi pekerja serabutan untuk memberikan pendidikan dan penghidupan yang layak bagi anaknya. Anaknya yang dicintainya (chiffer cinta) tersebut merasakan butuh waktu lebih banyak dengan ibunya, dan sering merasakan kesepian saat ditinggal ibunya bekerja (chiffer penderitaan).

Sekarang tema yang tadinya dangkal justru menjadi dalam dan konkret menjadi realitas eksistensial.

***

Di dalam menulis puisi, saya merasa bahwa saya tidak bisa lagi seperti zaman muda dulu. Secara estetika mungkin ini sudah tidak mungkin. Pun sudah harus melampaui dan berbeda. Nada tuturnya tidak lagi memberontak atau meradang, tetapi menggeremang atau menggumam.

Kata-kata yang dituliskan harus lebih terpilih, singkat dan sepadat mungkin: lebih banyak metafora di tingkat frasa atau kalimat, dan saya masih banyak perlu belajar dan berlatih untuk ini. Jika saya rasa perlu, mungkin memang sudah harus logis total, bukan lagi dipenuhi oleh emosi semata-mata. Di sini, saya justru memerlukan bantuan dari beberapa teori-teori puisi sebagai refrensi.

Salah satu teori yang saya kagumi dalam menganalisa puisi adalah teori Roman Ingarden. Ia menjabarkan beberapa lapis-lapis puisi yang dapat kita analisa bersama.

Yang pertama, adalah analisis lapis bunyi. Sajak tersebut berupa satuan- satuan suara yang meliputi suara suku kata, suara kata, suara frase hingga suara kalimat. Jadi lapis bunyi dalam sajak itu ialah semua satuan bunyi  berdasarkan suatu konvensi bahasa tertentu, dalam sajak ini adalah bahasa Indonesia.

Pada analisis bunyi, haruslah ditujukan pada bunyi-bunyi atau pola bunyi yang bersifat istimewa atau khusus, yaitu yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni. Lapis bunyi (sound stratum) merupakan lapis pertama dalam karya sastra. Lapis bunyi digambarkan saat kita mendengarkan seseorang untuk membaca puisi.

Hal yang didengar oleh kita adalah rangkaian bunyi yang dapat dibatasi oleh penjedaan, nada panjang atau pendek. Semua satuan bunyi dan kesesuaian bunyi yang diucapkan sesuai dengan konvensi bahasa tertentu (dalam hal ini bahasa Indonesia) yang disusun sedemikian rupa, sehingga menimbulkan arti merupakan hal yang terdapat dalam lapis bunyi.

Yang kedua, adalah analisis lapis arti. Lapis arti (units of meaning) merupakan gabungan dari satuan yang terkecil hingga yang terbesar yang bergabung menjadi sebuah cerita.  Satuan terkecil berupa fonem. Satuan fonem berupa suku kata dan kata. Kata bergabung menjadi kelompok kata, kalimat, alinea, bait, bab, dan seluruh cerita. Itu semua merupakan satuan arti.

Sedangkan lapis arti terbagi dalam kosa kata, citraan, dan sarana retorika. Tiap fonem dalam puisi memiliki arti. Fonem berkembang menjadi kata, kata menjadi frase, kemudian menjadi kalimat hingga membentuk sebuah bait yang memiliki arti.

Yang ketiga, adalah analisis objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku dan dunia pengarang. Cerita atau dunia yang diciptakan oleh imajinasi pengarang.

Yang keempat, adalah analisis lapis dunia yang implisit. Yaitu dunia yang dipandang dari sudut pandang tertentu misalnya dipandang dari objek-objek yang dikemukakan.

Yang kelima, adalah analisis lapis metafisika. Lapis ini berupa pandangan hidup atau filsafat yang terdapat di dalamnya. Dalam ilmu filsafat, metafisis adalah abstraksi yang menangkap unsur-unsur hakiki dengan menyampingkan unsur-unsur lain. Sementara dalam karya sastra, metafisis merupakan lapis terakhir dalam strata norma yang dapat memberikan kontemplasi di dalam karya sastra yang dikaji.

***

Barangkali menulis puisi memang menggoda daya cipta kita untuk menafsir. Pun bambu-bambu di dalam bagian depan tulisan ini membujuk kita untuk menafsir, dengan tafsir lain lagi: jika angin berembus, rumpun bambu di tepi sungai akan terhuyung-huyung dan menciptakan bayang-bayang tempat kita dapat meneduhkan diri dari terik matahari sejarah.

Bukankah semua itu, seperti dalam sajak seorang penyair yang kepalanya terbikin dari neraca: sesuatu yang kelak retak. Ya, memang akan retak – tapi kita akan berusaha membikinnya abadi, dengan menuliskannya menjadi puisi.[T]

  • BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
3 Tawaran Modus Penciptaan Puisi
Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat
Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Interkulturalisme dalam Sastra Warna Lokal Bali dan Relevansinya sebagai Bahan Ajar Sastra untuk Mendukung Pencegahan Intoleransi di Sekolah
Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya
Tags: apresiasi sastraPuisiSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya

Next Post

ŚRI TATTWA: DEWI ŚRI & MPU KUTURAN — Merayakan Spirit Kesejahteraan Umat Manusia untuk Melawan Nafsu Kuasa Para Raksasa

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Penyair. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
ŚRI TATTWA: DEWI ŚRI & MPU KUTURAN — Merayakan Spirit Kesejahteraan Umat Manusia untuk Melawan Nafsu Kuasa Para Raksasa

ŚRI TATTWA: DEWI ŚRI & MPU KUTURAN --- Merayakan Spirit Kesejahteraan Umat Manusia untuk Melawan Nafsu Kuasa Para Raksasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co