2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenai Puisi, Chiffer, dan Lain-lain

Pranita Dewi by Pranita Dewi
August 22, 2024
in Esai
Mengenai Puisi, Chiffer, dan Lain-lain

Pranita Dewi | desain tatkala.co

  • Artikel ini adalah materi sebagai pengantar “Workshop Menulis Puisi” Singaraja Literary Festival 2024, Jumat, 23 Agustus 2024, di Museum Buleleng
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

Poetry is the spontaneous overflow of powerful meanings. —(Wordsworth)

SEBATANG bambu tumbuh melengkung ke arah sungai. Jika angin mati, ia diam dan tampak seperti sedang menjenguk ke dalam air yang tak putus-putus mengalir—posenya mirip benar dengan patung Rodin yang abadi merenungi Ada.

Suatu hari kautebang filsuf yang berjaga di kali itu. Ia tak mengeluh, mengerang, atau menolak – ia pasrah dengan kepasrahan total seorang hamba kepada sang khalik. Lalu kaubikin suling dari sebuah ruas dekat pangkalnya yang lurus dan rapi.

Pernahkah kau membayangkan bambu itu menangis dan mengerang kesakitan saat kau memotongnya? Konon, bunyi sayu suling bambu itu, yang membikin pendengarnya melayang-layang saat ditiup waranggana atau bocah gembala, sesungguhnya adalah erang kesakitan sang bambu yang tertahan saat dipotong dulu.

***

Mungkin seperti itulah penyair dan puisi ada: Ia menjadi saksi apa yang membentang di matanya, dan menuliskannya menjadi puisi. Seorang penyair, bisa menjadi saksi di pinggir, atau justru intuisi menggiringnya menjadi subjek yang ingin dituliskannya dalam puisi, untuk menyatakan keberadaannya.

Ia terus menggali apa saja yang di depannya, ketika moment puitik itu muncul, ia bisa juga repot-repot mengingat-ngingat res historia – semua yang telah lalu, dan merasa bahwa ia berada di sini dan saat ini ditentukan oleh sesuatu dari masa lalu.

Tetapi ia terkadang bisa cukup frustasi ketika mendapati banyak ingatan terkunci ke dalam gudang sejarah dan ia mungkin sering memilih “melarikan diri” dengan selalu memandang ke depan. Demikian kemudian si penyair mencoba menuliskannya ke dalam puisi.

***

Penyair mengetahui keinginannya untuk menulis puisi. Ia menemukan “bahan” yang ingin dituliskannya. Dari bahan itu, semua pengalaman yang ia hayati di waktu lampau, kini dan nanti, akan menjadi baris-baris di dalam puisinya. Pertanyaannya kemudian bagaimana si penyair dapat menuliskan kalimat-kalimat tersebut?

Tentu ia harus belajar membuat kalimat dan mempelajari struktur tata bahasa, bahkan yang paling dasar sekalipun, untuk menyusun baris-baris kalimatnya menjadi lapis-lapis puisi — ingat, intuisi dan imajinasi yang dimiliki si penyair, akan menjadi pincang ketika tidak dipijak oleh kemampuan dan teknik dalam menuliskannya. Bahkan bakat sekalipun, tidak akan terasa cukup.

Seni menulis puisi adalah melukiskan atau menarasikan suatu gagasan dan perasaan;  bukan menyatakan atau menjelaskan. Kita bisa dengan gampang menjelaskan bahwa kita sedang jatuh cinta dengan seseorang karena begini dan begitu.

Namun, coba lukiskan bahwa kita sedang jatuh cinta. Melukis dengan kata-kata itulah tugas seorang penyair. Ia tidak menyatakan, “Saya sedang jatuh cinta,” tetapi ia melukiskan “saya yang sedang jatuh cinta itu” dengan kata-kata.

Sampai di sini, puisi bisa menjadi seni berkata-kata. Di dalam seni menulis puisi, saya percaya, tidak bisa membuat kerangka karangan untuk puisi. Penyair Inggris, William Wordsworth pernah menyatakan bahwa Poetry is the spontaneous overflow of powerful meanings: Puisi adalah ungkapan spontan perasaan yang kuat kemudian dipahami bukan sebagai pelepas emosi (perasaan) tak terkendali, tetapi mengungkapkan “kedalaman”, bukan “kegundahan jiwa” (in the depth, and not the tumult of the soul).

Menulis puisi adalah spontan: kita harus dicekam dan diliputi oleh suatu momen puitik tertentu. Momen ini bisa meliputi suasana atau gagasan atau suatu pengalaman berbahasa, lalu secara spontan kita menuliskan momen puitik itu menjadi puisi. Mungkin terkadang justru tak sekali jadi, atau butuh waktu yang lebih lama untuk menjadikannya utuh disebut puisi.

Di dalam menulis puisi, saya begitu percaya bahwa si penyair harus mempunyai kemampuan dasar yang mesti dimiliki olehnya yaitu menguasai tata bahasa, dan memperluas pengetahuan-pengetahuannya mengenai sintaksis. Sintaksis, ilmu tata kalimat, memiliki unsur-unsur, yaitu: kata, frase (gabungan kata), klausa (satuan kalimat yang mesti memiliki predikat), kalimat. Baik sintaksis prosa maupun sintaksis puisi, pastilah memiliki unsur-unsur itu.

Struktur dasar dari satu klausa atau kalimat minimal adalah S (Subjek) + P (Predikat), dan atau yang lengkap adalah S (Subjek) + P (Predikat) + O (Obyek) atau K (Keterangan).

Kalau kita sudah memahami benar soal struktur dasar klausa atau kalimat ini, barulah kita bisa beranjak menyusun kalimat luas (majemuk) dengan berbagai variasinya. Lalu kita pun bisa menggunakan berbagai jenis inversi (pembalikan) dari berbagai fungsi kalimat atau klausa (S, P, O atau K) dengan tepat. Selanjutnya, dalam tahap terakhir, barulah kita bisa melakukan teknik pemadatan atau pelesapan kata atau fungsi kalimat/klausa.

Dalam ilmu linguistik (ilmu tentang bahasa), kalimat terdiri dari tiga unsur yang membentuk suatu kalimat, yaitu: kata, frase (gabungan kata), dan klausa. Klausa adalah unsur sintaksis yang predikatif, artinya di dalam satu klausa itu mesti ada minimal satu predikat. Pengetahuan tentang linguistik ini juga akan sangat bermanfaat sewaktu seorang penulis melakukan evaluasi pada tahap revisi tulisan.

***

Mengenai Kedalaman Tema

Ada satu konsep filsafat yang tepat terkait kedalaman tema dari seorang filsuf eksistensialis Jerman pada abad ke-20, Karl Jaspers, yaitu “chiffer-chiffer”. Istilah ini diartikan sebagai “situasi-situasi batas” dalam eksistensi manusia.

Menurut Karl Jaspers ada beberapa situasi batas yang akan membuat eksistensi manusia “retak” menuju pengalaman transendensi, di antaranya: kematian, penderitaan, perjuangan, kesalahan, kegagalan, cinta, dan keilahian. 

Chiffer-chiffer ini mencipta rasa ambang dan membuka pilihan bebas manusia: menerima situasi-situasi batas itu atau menolaknya. Ketika eksistensi retak dalam situasi-situasi batas, menurut Karl Jaspers, tak selayaknya membikin manusia menyerah, namun itu justru merupakan celah bagi manusia untuk menyadari bahwa eksistensinya tidaklah identik dengan situasi rutin semata, dengan keterasingan dan kutuk kehampaan belaka. Setiap situasi batas adalah sebuah peluang bagi manusia untuk terus-menerus mentransendensikan kemanusiaannya, untuk melampaui keterbatasannya.

Jika kita memahami apa yang dimaksud dengan chiffer-chiffer atau situasi-situasi batas dalam hidup manusia, maka kita akan memahami dengan baik tema-tema dasar apa yang akan menggugah “rasa” terdalam dari jiwa manusia.

Orang tak akan tergugah membaca rasa sepi kita yang ditulis dengan berlarat-larat. Karena kesepian dan keterasingan kita bukanlah situasi batas bagi orang lain, bukan satu chiffer yang akan meretakkan eksistensi pembaca untuk bertransendensi, untuk “keluar” dari situasi rutinnya.

Tapi, jika kita bisa menampilkan satu atau beberapa situasi batas di dalam kisah kesepian kita, maka pembaca kisah kita kemungkinan besar akan tergugah. Misal: kesepian saat menghadapi hukuman mati, kesepian saat berjuang mempertahankan keadilan, kesepian yang merindukan cinta seorang kekasih, kesepian dalam bayangan keilahian. Kesepian, atau mungkin lebih kena disebut keheningan, yang tercipta dalam situasi-situasi batas itu tak lain manefestasi dari “rasa ambang”.

Ahmad Yulden Erwin, guru saya, pernah mencontohkan bagaimana cara menempatkan chiffer-chiffer ini bekerja di dalam puisi. Salah satunya adalah melalui cerita Hikayat Joshua. Penulis Hikayat Joshua, menurutnya, sungguh-sungguh lihai menempatkan chiffer-chiffer ini secara total.

Joshua digambarkan berjuang sendirian—chiffer berjuang yang ekstrim ini tergambarkan dalam kisah mulai dari pengembaraannya sendirian di gurun selama 40 hari tanpa makan dan minum, hingga saat ia memikul sendiri kayu salibnya ke Bukit Golgota. Ia juga digambarkan menahan siksaan yang tak terbayangkan kejinya—visualisasi chiffer penderitaan ekstrim ini dapat dilihat seperti dalam film Mel Gibson tentang “Kesabaran Kristus”.

Situasi-situasi batas dalam hikayat Joshua benar-benar ditarik oleh “sang penulis” hikayat Joshua sampai batasnya, dan itu pula yang membuat hikayat Joshua ini menggugah secara “ekstatif” guna memicu “rasa ambang” atau keharuan bermilyar manusia selama dua ribu tahun lebih.

Bagaimana cara mengomposisikan chiffer-chiffer ini menjadi sebuah kombinasi yang padu dalam teks puisi? Di situlah rahasia “pendalaman tematik”. Begitu keseluruhan atau beberapa chiffer itu dikombinasikan secara “serentak” dengan piawai oleh sang penulis, maka setiap chiffer akan membuka kian besar “rasa ambang” dalam diri manusia, membuka berbagai pintu transendensi. Itulah “permainannya”.

Contoh:

Topik: Ibu

Tema: Ibu adalah orang tua perempuan yang melahirkan kita.

Tema di atas benar, tapi secara puitik dangkal, macam definisi kata di kamus.

Sekarang saya akan masukkan chiffer-chiffer itu ke dalam tema. Misalnya:

Topik: Ibu.

Tema: Ibu adalah sumber kekuatan yang menjadi wujud ilahi di muka bumi (chiffer keilahian).

Atau, secara lebih lengkap:

1. Topik: Ibu

2. Tema: Perjuangan seorang ibu (single mom) menjadi pekerja serabutan demi sekolah anaknya.

3. Konflik:

– Konflik internal: Seorang Ibu sempat ragu untuk menjadi kuli serabutan, karena ia merasa itu adalah pekerjaan yang tidak memberikan masa depan. Namun, kebutuhan keluarga dan demi pendidikan anaknya memaksa ia menjadi kuli serabutan.

– Konflik personal: Anaknya yang berumur 5 tahun membutuhkan kasih sayang ibunya. Ketika ibunya bekerja sana sini, maka tidak akan mempunyai waktu yang banyak untuk bermain dengan anaknya.

– Konflik sosial: Masyarakat menganggap menjadi seorang single mom adalah momok

– Konflik dengan alam: Saat musim hujan, rumah ibu itu sering mengalami kebocoran, dan ia harus bekerja ekstra untuk memperbaiki rumahnya.

– Konflik dengan Tuhan: Ia juga sering marah, karena Tuhan menimpakan banyak pencobaan padanya, di tengah kesendiriannya.

4. Chiffer-Chiffer: Seorang ibu berjuang (chiffer perjuangan) menjadi pekerja serabutan untuk memberikan pendidikan dan penghidupan yang layak bagi anaknya. Anaknya yang dicintainya (chiffer cinta) tersebut merasakan butuh waktu lebih banyak dengan ibunya, dan sering merasakan kesepian saat ditinggal ibunya bekerja (chiffer penderitaan).

Sekarang tema yang tadinya dangkal justru menjadi dalam dan konkret menjadi realitas eksistensial.

***

Di dalam menulis puisi, saya merasa bahwa saya tidak bisa lagi seperti zaman muda dulu. Secara estetika mungkin ini sudah tidak mungkin. Pun sudah harus melampaui dan berbeda. Nada tuturnya tidak lagi memberontak atau meradang, tetapi menggeremang atau menggumam.

Kata-kata yang dituliskan harus lebih terpilih, singkat dan sepadat mungkin: lebih banyak metafora di tingkat frasa atau kalimat, dan saya masih banyak perlu belajar dan berlatih untuk ini. Jika saya rasa perlu, mungkin memang sudah harus logis total, bukan lagi dipenuhi oleh emosi semata-mata. Di sini, saya justru memerlukan bantuan dari beberapa teori-teori puisi sebagai refrensi.

Salah satu teori yang saya kagumi dalam menganalisa puisi adalah teori Roman Ingarden. Ia menjabarkan beberapa lapis-lapis puisi yang dapat kita analisa bersama.

Yang pertama, adalah analisis lapis bunyi. Sajak tersebut berupa satuan- satuan suara yang meliputi suara suku kata, suara kata, suara frase hingga suara kalimat. Jadi lapis bunyi dalam sajak itu ialah semua satuan bunyi  berdasarkan suatu konvensi bahasa tertentu, dalam sajak ini adalah bahasa Indonesia.

Pada analisis bunyi, haruslah ditujukan pada bunyi-bunyi atau pola bunyi yang bersifat istimewa atau khusus, yaitu yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni. Lapis bunyi (sound stratum) merupakan lapis pertama dalam karya sastra. Lapis bunyi digambarkan saat kita mendengarkan seseorang untuk membaca puisi.

Hal yang didengar oleh kita adalah rangkaian bunyi yang dapat dibatasi oleh penjedaan, nada panjang atau pendek. Semua satuan bunyi dan kesesuaian bunyi yang diucapkan sesuai dengan konvensi bahasa tertentu (dalam hal ini bahasa Indonesia) yang disusun sedemikian rupa, sehingga menimbulkan arti merupakan hal yang terdapat dalam lapis bunyi.

Yang kedua, adalah analisis lapis arti. Lapis arti (units of meaning) merupakan gabungan dari satuan yang terkecil hingga yang terbesar yang bergabung menjadi sebuah cerita.  Satuan terkecil berupa fonem. Satuan fonem berupa suku kata dan kata. Kata bergabung menjadi kelompok kata, kalimat, alinea, bait, bab, dan seluruh cerita. Itu semua merupakan satuan arti.

Sedangkan lapis arti terbagi dalam kosa kata, citraan, dan sarana retorika. Tiap fonem dalam puisi memiliki arti. Fonem berkembang menjadi kata, kata menjadi frase, kemudian menjadi kalimat hingga membentuk sebuah bait yang memiliki arti.

Yang ketiga, adalah analisis objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku dan dunia pengarang. Cerita atau dunia yang diciptakan oleh imajinasi pengarang.

Yang keempat, adalah analisis lapis dunia yang implisit. Yaitu dunia yang dipandang dari sudut pandang tertentu misalnya dipandang dari objek-objek yang dikemukakan.

Yang kelima, adalah analisis lapis metafisika. Lapis ini berupa pandangan hidup atau filsafat yang terdapat di dalamnya. Dalam ilmu filsafat, metafisis adalah abstraksi yang menangkap unsur-unsur hakiki dengan menyampingkan unsur-unsur lain. Sementara dalam karya sastra, metafisis merupakan lapis terakhir dalam strata norma yang dapat memberikan kontemplasi di dalam karya sastra yang dikaji.

***

Barangkali menulis puisi memang menggoda daya cipta kita untuk menafsir. Pun bambu-bambu di dalam bagian depan tulisan ini membujuk kita untuk menafsir, dengan tafsir lain lagi: jika angin berembus, rumpun bambu di tepi sungai akan terhuyung-huyung dan menciptakan bayang-bayang tempat kita dapat meneduhkan diri dari terik matahari sejarah.

Bukankah semua itu, seperti dalam sajak seorang penyair yang kepalanya terbikin dari neraca: sesuatu yang kelak retak. Ya, memang akan retak – tapi kita akan berusaha membikinnya abadi, dengan menuliskannya menjadi puisi.[T]

  • BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
3 Tawaran Modus Penciptaan Puisi
Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat
Sains & Fiksi, Puncak Kelindan Fakta dan Imajinasi
Interkulturalisme dalam Sastra Warna Lokal Bali dan Relevansinya sebagai Bahan Ajar Sastra untuk Mendukung Pencegahan Intoleransi di Sekolah
Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya
Tags: apresiasi sastraPuisiSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya

Next Post

ŚRI TATTWA: DEWI ŚRI & MPU KUTURAN — Merayakan Spirit Kesejahteraan Umat Manusia untuk Melawan Nafsu Kuasa Para Raksasa

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Penyair. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
ŚRI TATTWA: DEWI ŚRI & MPU KUTURAN — Merayakan Spirit Kesejahteraan Umat Manusia untuk Melawan Nafsu Kuasa Para Raksasa

ŚRI TATTWA: DEWI ŚRI & MPU KUTURAN --- Merayakan Spirit Kesejahteraan Umat Manusia untuk Melawan Nafsu Kuasa Para Raksasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co