1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seember Air di Balik Wisata Kintamani: Catatan Kecil dari Film “Nyat” pada Program Layar Kolektif Bali Utara

Komang Gede Samudra Artajaya by Komang Gede Samudra Artajaya
July 1, 2025
in Ulas Film
Seember Air di Balik Wisata Kintamani: Catatan Kecil dari Film “Nyat” pada Program Layar Kolektif Bali Utara

Film Nyat | Foto: Singaraja Menonton

MALAM itu, Senin, 23 Juni 2025, di Kedai Cana, Seririt, Buleleng, bergulir lagi program Layar Kolektif Bali Utara dan Komunitas Singaraja Menonton, yakni pemutaran film-film pendek yang diproduksi penggiat film di Buleleng. Dari lima film yang ditayangkan dalam program malam itu, ada satu judul film yang paling menarik perhatian saya adalah film berjudul Nyat: Perempuan dan Krisis Air di Kintamani.

Film karya Dewa Kresnata ini menghadirkan sebuah potret getir tentang krisis air bersih yang dihadapi warga Desa Kedisan, Kintamani, Bali, sebuah daerah yang selama ini dikenal luas lewat pesona wisata alamnya seperti Danau Batur dan Gunung Batur.

Di tengah kemeriahan sektor pariwisata yang terus digaungkan oleh pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata, film ini justru mengajak penonton untuk menoleh sejenak ke persoalan mendasar yang kerap diabaikan, yaitu akses air bersih bagi warga desa setempat.

Krisis air di kawasan pegunungan seperti Kintamani memang bukan hal baru, namun ironisnya, perhatian terhadap isu ini masih minim. Padahal, air adalah kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi prioritas utama sebelum berbicara soal pembangunan dan branding pariwisata.

Film Nyat | Foto: Singaraja Menonton

Cerita dalam film dokumenter ini mengisahkan perjuangan warga desa Kedisan untuk mendapatkan air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Mirisnya, air yang mereka timba dari sumur terlihat keruh dan tak layak konsumsi.

Kondisi ini diperkuat lewat pilihan visual yang cermat dari sang sutradara. Setelah memperlihatkan adegan warga menimba air yang keruh di dalam sumur, kamera lalu menyorot aktivitas keseharian seperti membuat kopi, hingga memasak dengan air yang sama.

Adegan tersebut sontak memunculkan sejumlah pertanyaan dalam benak saya. Bagaimana cara mereka mengolah air tersebut hingga layak untuk dikonsumsi? Apakah kesehatan warga sekitar benar-benar terjamin? Dan bagaimana pula nasib anak-anak yang lahir dan tumbuh di lingkungan yang akses air bersihnya sangat terbatas?

Di saat promosi wisata Kintamani membludak di berbagai media sosial dan baliho jalanan, ironisnya persoalan krisis air bersih justru menjadi isu yang belum mendapatkan perhatian khusus. Ketika pemerintah dan pelaku wisata sibuk mendatangkan wisatawan, sementara warga di sekitar destinasi itu harus berjalan jauh demi seember air.

Pariwisata di Kintamani menawarkan keindahan alam dan air danau yang memesona, namun warga di pemukiman sekitarnya mengalami kenyataan yang berkebalikan. Fenomena ini menyoroti ketimpangan akses terhadap sumber daya alam di tengah aktivitas industri pariwisata.

Film Nyat berbicara seolah-olah menyentil realita tersebut, tanpa perlu menampilkan adegan konfrontatif atau dialog yang menggurui. Inilah kekuatan film dokumenter berbasis realita sosial yaitu membiarkan gambar dan suasana untuk bercerita.

Tidak hanya di Kintamani, persoalan serupa juga terjadi di Banjar Bhuana Kusuma, Desa Dukuh, Karangasem. Daerah ini berada di kaki Gunung Agung, wilayah yang secara geografis seharusnya kaya sumber air karena dekat pegunungan.

Namun kenyataannya, beberapa rumah di desa tersebut masih belum mendapatkan layanan air PDAM. Kebetulan saya pernah berkunjung langsung ke sana dan menyaksikan sendiri warga setempat mengeluhkan kondisi itu.

Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, mereka mengandalkan sumur buatan (embung) yang besar di halaman rumah masing-masing sebagai tempat penampungan air hujan. Lantas, bagaimana saat musim kemarau tiba? Mereka terpaksa membeli air seharga Rp110.000 per tangki dengan kapasitas 1.000 liter.

Setidaknya dibutuhkan tiga tangki untuk memenuhi embung tersebut agar dapat digunakan selama satu bulan. Itu pun warga harus menggunakan air dengan sangat hemat dan bijaksana. Dengan kata lain, setiap bulan mereka harus menyisihkan sekitar Rp330.000 hanya untuk kebutuhan air bersih.

Angka ini tentu cukup memberatkan, terlebih bagi keluarga petani atau buruh harian yang penghasilannya terbatas. Kondisi ini sekali lagi memperlihatkan betapa persoalan air bersih di Bali khususnya daerah pedesaan masih menjadi isu sensitif yang jarang diangkat ke permukaan.

Film Nyat hadir sebagai pengingat bahwa di balik gemerlap wisata viral dan estetik, masih ada warga desa yang harus berjuang demi kebutuhan dasar. Dewa Kresnata tidak hanya menghadirkan kritik sosial melalui film ini, tetapi juga mengetuk kesadaran kita bahwa pembangunan pariwisata yang megah seharusnya tidak melupakan kebutuhan paling mendasar bagi warga lokal.

Penonton Layar Kolektif Bali Utara, Senin, 23 Juni 2025, di Kedai Cana, Seririt, Buleleng | Foto: Singaraja Menonton

Film ini memang sederhana secara teknis. Visualisasi yang dominan menggunakan teknik handheld shot dan tracking atau dolly shot (mengikuti subjek) berhasil menghadirkan kesan nyata dan intens terhadap setiap adegan yang ditampilkan. Gerakan kamera yang mengikuti aktivitas karakter membuat penonton seolah-olah ikut berada di tengah-tengah situasi, menyatu dengan suasana, sekaligus merasakan keresahan yang dialami para tokohnya.

Sebagai penonton, saya merasa film ini layak diputar di lebih banyak ruang pemutaran komunitas, sekolah, dan kampus, bahkan jika memungkinkan di ruang-ruang diskusi pemerintah daerah. Film ini bisa menjadi pemantik diskusi mengenai ketimpangan akses air bersih di Bali dan prioritas pembangunan sebaiknya tidak hanya berpihak pada sektor pariwisata, tetapi juga kesejahteraan dasar masyarakat desa.

Nyat: Perempuan dan Krisis Air di Kintamani bukan hanya penting untuk ditonton, tetapi juga direnungkan — bahwa di balik wisata viral dan estetik, ada warga desa yang masih berjuang untuk seember air. [T]

Penulis: Komang Gede Samudra Artajaya
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy — [Bagian 2]

Next Post

Bersiap Saksikan Lovina Festival 2025, Bersiap Selami “The Magical of Lovina”

Komang Gede Samudra Artajaya

Komang Gede Samudra Artajaya

MahasiswaProgram Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha. Selain fokus menjalani perkuliahan, ia memiliki minat besar di bidang digital kreatif, khususnya dalam pembuatan video seperti film pendek, dokumenter, serta fotografi jalanan.

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Bersiap Saksikan Lovina Festival 2025, Bersiap Selami “The Magical of Lovina”

Bersiap Saksikan Lovina Festival 2025, Bersiap Selami “The Magical of Lovina”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co