24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seember Air di Balik Wisata Kintamani: Catatan Kecil dari Film “Nyat” pada Program Layar Kolektif Bali Utara

Komang Gede Samudra Artajaya by Komang Gede Samudra Artajaya
July 1, 2025
in Ulas Film
Seember Air di Balik Wisata Kintamani: Catatan Kecil dari Film “Nyat” pada Program Layar Kolektif Bali Utara

Film Nyat | Foto: Singaraja Menonton

MALAM itu, Senin, 23 Juni 2025, di Kedai Cana, Seririt, Buleleng, bergulir lagi program Layar Kolektif Bali Utara dan Komunitas Singaraja Menonton, yakni pemutaran film-film pendek yang diproduksi penggiat film di Buleleng. Dari lima film yang ditayangkan dalam program malam itu, ada satu judul film yang paling menarik perhatian saya adalah film berjudul Nyat: Perempuan dan Krisis Air di Kintamani.

Film karya Dewa Kresnata ini menghadirkan sebuah potret getir tentang krisis air bersih yang dihadapi warga Desa Kedisan, Kintamani, Bali, sebuah daerah yang selama ini dikenal luas lewat pesona wisata alamnya seperti Danau Batur dan Gunung Batur.

Di tengah kemeriahan sektor pariwisata yang terus digaungkan oleh pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata, film ini justru mengajak penonton untuk menoleh sejenak ke persoalan mendasar yang kerap diabaikan, yaitu akses air bersih bagi warga desa setempat.

Krisis air di kawasan pegunungan seperti Kintamani memang bukan hal baru, namun ironisnya, perhatian terhadap isu ini masih minim. Padahal, air adalah kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi prioritas utama sebelum berbicara soal pembangunan dan branding pariwisata.

Film Nyat | Foto: Singaraja Menonton

Cerita dalam film dokumenter ini mengisahkan perjuangan warga desa Kedisan untuk mendapatkan air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Mirisnya, air yang mereka timba dari sumur terlihat keruh dan tak layak konsumsi.

Kondisi ini diperkuat lewat pilihan visual yang cermat dari sang sutradara. Setelah memperlihatkan adegan warga menimba air yang keruh di dalam sumur, kamera lalu menyorot aktivitas keseharian seperti membuat kopi, hingga memasak dengan air yang sama.

Adegan tersebut sontak memunculkan sejumlah pertanyaan dalam benak saya. Bagaimana cara mereka mengolah air tersebut hingga layak untuk dikonsumsi? Apakah kesehatan warga sekitar benar-benar terjamin? Dan bagaimana pula nasib anak-anak yang lahir dan tumbuh di lingkungan yang akses air bersihnya sangat terbatas?

Di saat promosi wisata Kintamani membludak di berbagai media sosial dan baliho jalanan, ironisnya persoalan krisis air bersih justru menjadi isu yang belum mendapatkan perhatian khusus. Ketika pemerintah dan pelaku wisata sibuk mendatangkan wisatawan, sementara warga di sekitar destinasi itu harus berjalan jauh demi seember air.

Pariwisata di Kintamani menawarkan keindahan alam dan air danau yang memesona, namun warga di pemukiman sekitarnya mengalami kenyataan yang berkebalikan. Fenomena ini menyoroti ketimpangan akses terhadap sumber daya alam di tengah aktivitas industri pariwisata.

Film Nyat berbicara seolah-olah menyentil realita tersebut, tanpa perlu menampilkan adegan konfrontatif atau dialog yang menggurui. Inilah kekuatan film dokumenter berbasis realita sosial yaitu membiarkan gambar dan suasana untuk bercerita.

Tidak hanya di Kintamani, persoalan serupa juga terjadi di Banjar Bhuana Kusuma, Desa Dukuh, Karangasem. Daerah ini berada di kaki Gunung Agung, wilayah yang secara geografis seharusnya kaya sumber air karena dekat pegunungan.

Namun kenyataannya, beberapa rumah di desa tersebut masih belum mendapatkan layanan air PDAM. Kebetulan saya pernah berkunjung langsung ke sana dan menyaksikan sendiri warga setempat mengeluhkan kondisi itu.

Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, mereka mengandalkan sumur buatan (embung) yang besar di halaman rumah masing-masing sebagai tempat penampungan air hujan. Lantas, bagaimana saat musim kemarau tiba? Mereka terpaksa membeli air seharga Rp110.000 per tangki dengan kapasitas 1.000 liter.

Setidaknya dibutuhkan tiga tangki untuk memenuhi embung tersebut agar dapat digunakan selama satu bulan. Itu pun warga harus menggunakan air dengan sangat hemat dan bijaksana. Dengan kata lain, setiap bulan mereka harus menyisihkan sekitar Rp330.000 hanya untuk kebutuhan air bersih.

Angka ini tentu cukup memberatkan, terlebih bagi keluarga petani atau buruh harian yang penghasilannya terbatas. Kondisi ini sekali lagi memperlihatkan betapa persoalan air bersih di Bali khususnya daerah pedesaan masih menjadi isu sensitif yang jarang diangkat ke permukaan.

Film Nyat hadir sebagai pengingat bahwa di balik gemerlap wisata viral dan estetik, masih ada warga desa yang harus berjuang demi kebutuhan dasar. Dewa Kresnata tidak hanya menghadirkan kritik sosial melalui film ini, tetapi juga mengetuk kesadaran kita bahwa pembangunan pariwisata yang megah seharusnya tidak melupakan kebutuhan paling mendasar bagi warga lokal.

Penonton Layar Kolektif Bali Utara, Senin, 23 Juni 2025, di Kedai Cana, Seririt, Buleleng | Foto: Singaraja Menonton

Film ini memang sederhana secara teknis. Visualisasi yang dominan menggunakan teknik handheld shot dan tracking atau dolly shot (mengikuti subjek) berhasil menghadirkan kesan nyata dan intens terhadap setiap adegan yang ditampilkan. Gerakan kamera yang mengikuti aktivitas karakter membuat penonton seolah-olah ikut berada di tengah-tengah situasi, menyatu dengan suasana, sekaligus merasakan keresahan yang dialami para tokohnya.

Sebagai penonton, saya merasa film ini layak diputar di lebih banyak ruang pemutaran komunitas, sekolah, dan kampus, bahkan jika memungkinkan di ruang-ruang diskusi pemerintah daerah. Film ini bisa menjadi pemantik diskusi mengenai ketimpangan akses air bersih di Bali dan prioritas pembangunan sebaiknya tidak hanya berpihak pada sektor pariwisata, tetapi juga kesejahteraan dasar masyarakat desa.

Nyat: Perempuan dan Krisis Air di Kintamani bukan hanya penting untuk ditonton, tetapi juga direnungkan — bahwa di balik wisata viral dan estetik, ada warga desa yang masih berjuang untuk seember air. [T]

Penulis: Komang Gede Samudra Artajaya
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy — [Bagian 2]

Next Post

Bersiap Saksikan Lovina Festival 2025, Bersiap Selami “The Magical of Lovina”

Komang Gede Samudra Artajaya

Komang Gede Samudra Artajaya

MahasiswaProgram Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha. Selain fokus menjalani perkuliahan, ia memiliki minat besar di bidang digital kreatif, khususnya dalam pembuatan video seperti film pendek, dokumenter, serta fotografi jalanan.

Related Posts

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails
Next Post
Bersiap Saksikan Lovina Festival 2025, Bersiap Selami “The Magical of Lovina”

Bersiap Saksikan Lovina Festival 2025, Bersiap Selami “The Magical of Lovina”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co