22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi

Wisnu Oktaditya by Wisnu Oktaditya
June 26, 2025
in Ulas Film
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi

Film Made

INI kedua kalinya saya mengikuti acara pemutaran film Layar Kolektif Bali Utara yang diselenggarakan oleh Singaraja Menonton di Buleleng, Minggu malam, 8 Juni 2025, di Agrowisata Lalangan Desa Sawan-Buleleng. Program Layar Kolektif Bali Utara di Sawan itu diselenggarakan Singaraja Menonton bekerjasama dengan Saka Pariwisata Kwartir Cabang Buleleng. Pemutaran film menjadi bagian dari acara Kemah Pelantikan Anggota Saka Parwisata tahun 2025.

Film-film yang diputar, dirangkum dalam program dengan judul “Masa Transisi”.  Ada tujuh film pendek yang dirangkai dalam program ini seluruhnya bergenre fiksi, karya para sutradara  dari Buleleng. Ketujuh film tersebut antara lainnya; “Metuun” (2019) yang digarap oleh Dewadi Wijaya, “Story” (2019) digarap oleh Eka Prasetya, “Nyambutin” (2021) digarap oleh Agus Primarta, “Made” (2022) digarap oleh Agus Primarta, “Al’r” (2023) Dian Suryantini, “Abu-abu” (2023) Dewadi Wijaya, “Renjana” (2023) Dian Suryantini.

Suasana pemutaran film di Agrowisata Lalangan Desa Sawan-Buleleng | Foto: Dok. Singaraja Menonton

Malam itu, saya duduk di deret kursi kedua dari akhir, tepat di belakang para anggota Pramuka Saka Pariwisata. Saya menyaksikan layar yang begitu besar menampilkan film yang semuanya menarik untuk ditonton. Saya dan para anggota pramuka, antusias menonton film yang ditampilkan. Pandangan dan perhatian saya, terfokus untuk menonton tujuh film yang ditayangkan.

Dari tujuh film yang diputar, pikiran saya terganggung dengan film berjudul Made. Dan, sebagai peserta Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film, film “MADE” menarik untuk saya jadikan latihan untuk menulis kritik film.

 Film “Made” karya Agus Primarta ini tampaknya sangat relevan dengan kehidupan keluarga, terutama yang dalam konteks ekonomi, atau masalah keuangan keluarga. Film Made mengisahkan seorang anak bernama Made, berasal dari keluarga kurang mampu.

Suatu hari, Made bermain dengan teman-temannya. Made masih membawa mobil-mobilan dari botol plastik, namun temannya bermain game di HP. Made merasa iri, karena tak punya HP. Made berusaha meminta HP kepada ibunya, namun ditolak. Sebagai seorang janda dengan pekerjaan yang tak tetap, ibu Made tak mampu memenuhi keinginan anaknya.

Film ini merupakan realita masyarakat kelas menengah ke bawah. Benar-benar menampilkn kenyataan, sangat sesuai sekali dengan tagline Layar Kolektif Bali Utara “Cerita Kita, Suara Nyata”. Ekonomi, menjadi urusan yang sangat penting di dalam rumah tangga. Bagi keluarga mampu, yang telah selesai dengan urusan pangan pokok, akan bisa mengikuti arus perkembangan sosial. Urusan perut bukan lagi urusan yang mendasar. Sedangkan bagi orang yang kurang mampu, mereka akan bertanya dan berpikir dengan keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka harus bekerja lebih giat dari kebanyakan orang. Mereka harus menahan diri untuk tidak membeli barang yang tak perlu. Bagaimana bisa berpikir tentang urusan sandan dan papan, jika urusan pangannya belum mereka tuntaskan.

Sosok ibu dalam film Made | Foto: Dok. Singaraja Menonton

Film ini juga menceritakan tokoh Made yang juga ikut bekerja. Made mengumpulkan botol plastik. Ini realita yang sangat sering kita lihat di Buleleng. Anak-anak setelah pulang sekolah harus membantu orang tua bekerja, demi memenuhi kebutuhan pokok. Made sudah diajarkan langsung pada kerasnya kehidupan. Kondisi tokoh Made sangat berbeda dengan kondisi anak-anak lainnya yang ada di film tersebut. Made harus bekerja keras untuk kehidupan keluarga. Sikap ini, cerminan dari keberanian, kesadaran, dan tekad yang tinggi sudah tertanam sejak kecil.

Saya sebagai penonton sangat mengapresiasi Agus Primarta sebagai sutradara. Sutradara mampu menciptakan sebuah karya yang membuat penonton merasa terpakau karena cerita. Ceritanya dibuat sederhana, mudah dimengerti dan ending film yang mengejutkan. Made sebagai tokoh utama, menjadi anak kecil yang penuh tanggung jawab untuk keluarga. Made dipaksa berpikir lebih dewasa oleh tekanan Ekonomi. Pemeran Made berhasil membawakan karakter yang diinginkan Agus Primarta sebagai sutradara.

 

Penonton dari Saka Pariwisata Kwartir Cabang Buleleng | Foto: Dok. Singaraja Menonton

Dari sekian banyak keunggulan film ini, saya masih menumukan kekurangan dalam permainan angle kamera dan keaktoran. Dalam angle kamera, ada beberapa momen angle kamera terlalu jauh pada saat adegan dialog, dan tiba-tiba saja anglenya berubah menjadi sangat dekat. Pada keaktoran, beberapa aktor, ekspresi dan gerak tubuhnya yang masih kaku. Terlihat Agus Primarta sebagai sutradara berupaya keras untuk menghasilkan akting yang natural pada setiap aktornya.

Dari semua keunggulan dan kekurangan dari film Made ini, secara pribadi saya merasa terwakili dan tersuarakan. Saya berkali-kali mengalami hal yang sama seperti tokoh Made, tidak mampu mewujudkan hal yang saya inginkan. Seperti, ingin membeli sesuatu namun tidak terwujud karena uangnya tak ada. Film ini sangat mewakili banyak orang di dunia ini, terkhusus pada mereka yang berada di kelas ekonomi menengah ke bawah. [T]

Penulis: Kadek Wisnu Oktaditya
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati — Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025

Wisnu Oktaditya

Wisnu Oktaditya

Siswa SMK Negeri 3 Singaraja, Bergiat di Komunitas Mahima dan Teater Mahima, juga anggota dari komunitas pembaca, berbagi ide, dan kegiatan kepenulisan lainnya—Komunitas Jnana.

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025

Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co