14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara

Yoga Wismantara by Yoga Wismantara
June 30, 2025
in Ulas Film
Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara

Film "Nyambutin" | Foto Singaraja Menonton

MINGGU malam, 8 Juni 2025, udara di lalangan Agrowisata, Desa Sawan, Buleleng, terasa menggigit. Jaket dan selimut tak cukup hangat untuk melawan dinginnya malam. Tapi siapa peduli? Puluhan orang datang dengan satu tujuan, menonton film pendek bareng dalam program Layar Kolektif Bali Utara yang diselenggarakn Komunitas Singaraja Menonton. Saya berada di tengah keramaian penonton dengan seragam berbeda pula.

Ya, saat itu memang sedang ada kegiatan kemah pramuka dari pelantikan Saka Pariwisata Buleleng. Pemutaran film dari Komunitas Singaraja Menonton menjadi bagian dari aktivitas mereka. Tapi sekali lagi, siapa yang peduli soal seragam? Ini soal menonton!

Ada 7 film pendek. “Metuun” (2019) karya Dewadi Wijaya, “Story” (2019) karya Eka Prasetya, “Nyambutin” (2021) karya Agus Primarta, “Made” (2022) karya Agus Primarta, “Al’r” (2023) karya Dian Suryantini, “Abu-abu” (2023) karya Dewadi Wijaya, “Renjana” (2023) karya Dian Suryantini.

Dari sekian judul yang ditayangkan malam itu, film “Abu-abu” dan “Nyambutin” benar-benar menempel di kepala saya. Dua film pendek, dua cerita berbeda, tapi punya satu benang merah, soal menilai sesuatu sebelum kita benar-benar tahu apa yang sedang terjadi.

Film “Abu-abu” karya Dewadi Wijaya menyuguhkan cerita yang awalnya bikin saya salah sangka. Saya kira ini kisah tentang narkoba. Gaya pengambilan gambar yang suram, gestur pemain yang mencurigakan, dan situasi yang terasa gelap membuat saya langsung menebak begitu.

Tapi ternyata saya keliru.

“Abu-abu” justru bercerita tentang kesalahpahaman yang bisa berubah jadi opini publik hingga membentuk “kebenaran palsu”. Kita sering sekali, tanpa sadar, membuat kesimpulan hanya dari yang terlihat di permukaan. Apalagi di era digital sekarang, satu potongan video bisa bikin heboh se-Indonesia, padahal konteksnya belum tentu seperti yang kita kira.

Contoh paling dekat, misalnya postingan medsos yang viral tapi potongannya sepotong-potong. Tanpa mau cari tahu dulu, kita langsung percaya, marah, menyebarkan—padahal belum tentu benar. Film Abu-abu ini memberi tamparan halus soal itu.

Film “Abu abu” | Foto: Singaraja Menonton

Secara teknis, “Abu-abu” cukup apik. Pemilihan tone warna yang kelabu memang pas untuk menggambarkan judulnya, dunia yang tak sepenuhnya hitam-putih. Tapi, jujur saja, ada bagian yang terasa kurang nendang, khususnya di dialog antar tokoh, terasa terlalu datar dan singkat, padahal momen itu bisa menjadi titik ledakan emosional.

Misalnya, ketika saat tokoh utama di grebek oleh salah satu tokoh ibu-ibu, adegan tersebut hanya menampilkan ekspresi sang tokoh utama yang kebingungan, lalu setelah itu kamera menyorot ke arah ekspresi sang tokoh ibu-ibu yang tersenyum, seolah-olah dia sudah tahu bahwa ini semua hanyalah kesalahpahaman.

Jujur saja, saya merasa sangat aneh pada adegan tersebut, Dewadi Wijaya seharusnya menambahkan dialog percakapan pada kedua tokoh tersebut ketimbang hanya menyampaikan lewat mimik wajah saja.

Seperti misalnya: ‘Kenapa kalian selalu menilai tanpa nanya dulu?’ — maka dampaknya akan lebih ngena ke penonton. Tapi tetap, secara keseluruhan, “Abu-abu” berhasil menyampaikan pesan yang penting,  jangan buru-buru menilai orang lain, apalagi hanya berdasarkan asumsi pribadi. Bisa jadi, yang kita kira salah, justru sebenarnya benar. Dan sebaliknya.

Film berikutnya adalah “Nyambutin” karya Agus Primarta. Dari judul saja sudah terasa Bali-nya, dan memang ceritanya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Bali saat pandemi Covid-19 melanda.

Bayangkan, kamu ingin mengadakan upacara yadnya untuk anakmu, yang menurut adat itu penting. Tapi ternyata kamu harus ribet dulu. Izin ke polisi, atur protokol kesehatan, bahkan harus menghadapi larangan ini-itu. Di tengah kekesalan itu, tokoh suami dalam film ini sempat ingin membatalkan upacaranya. Emosinya meledak.

Tapi kemudian, seseorang datang dan menjelaskan situasinya. Polisi bukan ingin menghalangi, tapi hanya ingin memastikan semuanya aman dari potensi penyebaran virus.

Dari situ, film ini menyampaikan pesan sederhana tapi penting. Sebelum kita marah, kecewa, atau tersinggung, coba dulu pahami kenapa sesuatu itu terjadi. Jangan langsung bereaksi emosional sebelum tahu alasan di baliknya.

Film “Nyambutin” | Foto Singaraja Menonton

Dari segi sinematik, “Nyambutin” tergolong rapi. Cerita mengalir, konfliknya bisa dirasakan, dan pesannya sampai. Tapi, ya, ada juga sedikit catatan. Akting salah satu pemeran terasa agak kaku di beberapa momen emosional. Seperti misalnya, tokoh sang istri tampil kurang meyakinkan di beberapa bagian. Ekspresi wajahnya sudah cukup menggambarkan keresahan, namun intonasi dan nada bicaranya terdengar datar, sehingga emosi yang seharusnya mengalir terasa tertahan. Dalam adegan-adegan penting, seperti saat ia berusaha meredam emosi suaminya, nada suaranya tidak mendukung ketegangan yang dibangun secara visual. Seandainya ada lebih banyak dinamika dalam vokal, nada yang naik turun, jeda yang pas, maka dialognya akan terasa lebih hidup dan menyentuh.

Kedua, Pesan yang terlalu terang-benderang ini membuat film kehilangan nuansa sinematik yang biasanya memberi ruang pada penonton untuk menafsirkan, merasakan, dan berpikir. Di beberapa bagian, dialog antara tokoh-tokohnya terasa terlalu informatif, seolah sedang menjelaskan isi pamflet kesehatan alih-alih menggambarkan konflik batin dalam sebuah keluarga. Pada bagian akhir, film ini seperti video humas polisi. Ternyata memang benar, film ini dibuat untuk lomba POLRI kala itu, tahun 2021.

Tapi jangan salah. Meski ada kekurangan di sisi akting dan sisi sinematik, film ini tetap kuat karena relevan dengan pengalaman kita semua. Hampir semua orang pernah menghadapi momen “kenapa sih harus begini?”, terutama saat pandemi dulu. Film ini berhasil mengingatkan kita bahwa kadang, hal yang kita anggap menyebalkan bisa jadi justru demi kebaikan kita sendiri.

“Abu-abu” dan “Nyambutin” sama-sama membawa kita ke satu pertanyaan penting. Apa kita sudah cukup adil dalam menilai orang lain dan situasi yang kita hadapi?

“Abu-abu” bicara tentang asumsi bisa berubah jadi fitnah. “Nyambutin” bicara soal betapa gampangnya kita bereaksi tanpa tahu situasi secara utuh. Dua-duanya menampar kita dengan lembut. Mengajak untuk berpikir ulang sebelum menilai dan bereaksi.

Dan yang paling menarik, kedua film ini tidak butuh durasi panjang untuk menyampaikan pesan-pesan penting itu. Cukup dengan cerita yang singkat, sederhana, tapi relevan, mereka bisa mengetuk kesadaran saya. Mungkin selama ini saya juga sering salah sangka, sering salah paham, dan lebih sering bereaksi dibanding mencoba memahami.

Lewat “Abu-abu” dan “Nyambutin”, saya belajar bahwa film pendek tidak harus rumit untuk bisa bermakna. Justru karena durasinya singkat, pesannya terasa lebih tajam dan langsung ke inti.

Kadang, kita memang terlalu cepat menilai. Kita sibuk menyimpulkan tanpa benar-benar mencari tahu. Padahal, di balik semua kejadian, selalu ada alasan yang lebih besar dari yang terlihat di permukaan.

Mungkin setelah menonton film-film ini, kita bisa mulai belajar untuk melihat dengan hati, bukan hanya dengan mata. Karena tidak semua yang tampak itu benar, dan tidak semua yang benar itu tampak jelas. [T]

Penulis: Gede Yoga Wismantara
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peran Penting “Gamelan Penting” dari Sanggar Seni Semara, Karangasem, di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Strategi Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim: Upaya Menjaga Produksi Padi dan Stabilitas Ekonomi Nasional

Yoga Wismantara

Yoga Wismantara

Siswa dari SMK N 3 Singaraja, belajar menulis puisi di Klub Rabu Puisi, Komunitas Mahima. Salah satu dari peserta workshop menulis film yang diadakan oleh Komunitas Singaraja Menonton. Anggota Komunitas Jnana, komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan literasi warga Singaraja.

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Strategi Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim: Upaya Menjaga Produksi Padi dan Stabilitas Ekonomi Nasional

Strategi Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim: Upaya Menjaga Produksi Padi dan Stabilitas Ekonomi Nasional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co