12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara

Yoga Wismantara by Yoga Wismantara
June 30, 2025
in Ulas Film
Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara

Film "Nyambutin" | Foto Singaraja Menonton

MINGGU malam, 8 Juni 2025, udara di lalangan Agrowisata, Desa Sawan, Buleleng, terasa menggigit. Jaket dan selimut tak cukup hangat untuk melawan dinginnya malam. Tapi siapa peduli? Puluhan orang datang dengan satu tujuan, menonton film pendek bareng dalam program Layar Kolektif Bali Utara yang diselenggarakn Komunitas Singaraja Menonton. Saya berada di tengah keramaian penonton dengan seragam berbeda pula.

Ya, saat itu memang sedang ada kegiatan kemah pramuka dari pelantikan Saka Pariwisata Buleleng. Pemutaran film dari Komunitas Singaraja Menonton menjadi bagian dari aktivitas mereka. Tapi sekali lagi, siapa yang peduli soal seragam? Ini soal menonton!

Ada 7 film pendek. “Metuun” (2019) karya Dewadi Wijaya, “Story” (2019) karya Eka Prasetya, “Nyambutin” (2021) karya Agus Primarta, “Made” (2022) karya Agus Primarta, “Al’r” (2023) karya Dian Suryantini, “Abu-abu” (2023) karya Dewadi Wijaya, “Renjana” (2023) karya Dian Suryantini.

Dari sekian judul yang ditayangkan malam itu, film “Abu-abu” dan “Nyambutin” benar-benar menempel di kepala saya. Dua film pendek, dua cerita berbeda, tapi punya satu benang merah, soal menilai sesuatu sebelum kita benar-benar tahu apa yang sedang terjadi.

Film “Abu-abu” karya Dewadi Wijaya menyuguhkan cerita yang awalnya bikin saya salah sangka. Saya kira ini kisah tentang narkoba. Gaya pengambilan gambar yang suram, gestur pemain yang mencurigakan, dan situasi yang terasa gelap membuat saya langsung menebak begitu.

Tapi ternyata saya keliru.

“Abu-abu” justru bercerita tentang kesalahpahaman yang bisa berubah jadi opini publik hingga membentuk “kebenaran palsu”. Kita sering sekali, tanpa sadar, membuat kesimpulan hanya dari yang terlihat di permukaan. Apalagi di era digital sekarang, satu potongan video bisa bikin heboh se-Indonesia, padahal konteksnya belum tentu seperti yang kita kira.

Contoh paling dekat, misalnya postingan medsos yang viral tapi potongannya sepotong-potong. Tanpa mau cari tahu dulu, kita langsung percaya, marah, menyebarkan—padahal belum tentu benar. Film Abu-abu ini memberi tamparan halus soal itu.

Film “Abu abu” | Foto: Singaraja Menonton

Secara teknis, “Abu-abu” cukup apik. Pemilihan tone warna yang kelabu memang pas untuk menggambarkan judulnya, dunia yang tak sepenuhnya hitam-putih. Tapi, jujur saja, ada bagian yang terasa kurang nendang, khususnya di dialog antar tokoh, terasa terlalu datar dan singkat, padahal momen itu bisa menjadi titik ledakan emosional.

Misalnya, ketika saat tokoh utama di grebek oleh salah satu tokoh ibu-ibu, adegan tersebut hanya menampilkan ekspresi sang tokoh utama yang kebingungan, lalu setelah itu kamera menyorot ke arah ekspresi sang tokoh ibu-ibu yang tersenyum, seolah-olah dia sudah tahu bahwa ini semua hanyalah kesalahpahaman.

Jujur saja, saya merasa sangat aneh pada adegan tersebut, Dewadi Wijaya seharusnya menambahkan dialog percakapan pada kedua tokoh tersebut ketimbang hanya menyampaikan lewat mimik wajah saja.

Seperti misalnya: ‘Kenapa kalian selalu menilai tanpa nanya dulu?’ — maka dampaknya akan lebih ngena ke penonton. Tapi tetap, secara keseluruhan, “Abu-abu” berhasil menyampaikan pesan yang penting,  jangan buru-buru menilai orang lain, apalagi hanya berdasarkan asumsi pribadi. Bisa jadi, yang kita kira salah, justru sebenarnya benar. Dan sebaliknya.

Film berikutnya adalah “Nyambutin” karya Agus Primarta. Dari judul saja sudah terasa Bali-nya, dan memang ceritanya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Bali saat pandemi Covid-19 melanda.

Bayangkan, kamu ingin mengadakan upacara yadnya untuk anakmu, yang menurut adat itu penting. Tapi ternyata kamu harus ribet dulu. Izin ke polisi, atur protokol kesehatan, bahkan harus menghadapi larangan ini-itu. Di tengah kekesalan itu, tokoh suami dalam film ini sempat ingin membatalkan upacaranya. Emosinya meledak.

Tapi kemudian, seseorang datang dan menjelaskan situasinya. Polisi bukan ingin menghalangi, tapi hanya ingin memastikan semuanya aman dari potensi penyebaran virus.

Dari situ, film ini menyampaikan pesan sederhana tapi penting. Sebelum kita marah, kecewa, atau tersinggung, coba dulu pahami kenapa sesuatu itu terjadi. Jangan langsung bereaksi emosional sebelum tahu alasan di baliknya.

Film “Nyambutin” | Foto Singaraja Menonton

Dari segi sinematik, “Nyambutin” tergolong rapi. Cerita mengalir, konfliknya bisa dirasakan, dan pesannya sampai. Tapi, ya, ada juga sedikit catatan. Akting salah satu pemeran terasa agak kaku di beberapa momen emosional. Seperti misalnya, tokoh sang istri tampil kurang meyakinkan di beberapa bagian. Ekspresi wajahnya sudah cukup menggambarkan keresahan, namun intonasi dan nada bicaranya terdengar datar, sehingga emosi yang seharusnya mengalir terasa tertahan. Dalam adegan-adegan penting, seperti saat ia berusaha meredam emosi suaminya, nada suaranya tidak mendukung ketegangan yang dibangun secara visual. Seandainya ada lebih banyak dinamika dalam vokal, nada yang naik turun, jeda yang pas, maka dialognya akan terasa lebih hidup dan menyentuh.

Kedua, Pesan yang terlalu terang-benderang ini membuat film kehilangan nuansa sinematik yang biasanya memberi ruang pada penonton untuk menafsirkan, merasakan, dan berpikir. Di beberapa bagian, dialog antara tokoh-tokohnya terasa terlalu informatif, seolah sedang menjelaskan isi pamflet kesehatan alih-alih menggambarkan konflik batin dalam sebuah keluarga. Pada bagian akhir, film ini seperti video humas polisi. Ternyata memang benar, film ini dibuat untuk lomba POLRI kala itu, tahun 2021.

Tapi jangan salah. Meski ada kekurangan di sisi akting dan sisi sinematik, film ini tetap kuat karena relevan dengan pengalaman kita semua. Hampir semua orang pernah menghadapi momen “kenapa sih harus begini?”, terutama saat pandemi dulu. Film ini berhasil mengingatkan kita bahwa kadang, hal yang kita anggap menyebalkan bisa jadi justru demi kebaikan kita sendiri.

“Abu-abu” dan “Nyambutin” sama-sama membawa kita ke satu pertanyaan penting. Apa kita sudah cukup adil dalam menilai orang lain dan situasi yang kita hadapi?

“Abu-abu” bicara tentang asumsi bisa berubah jadi fitnah. “Nyambutin” bicara soal betapa gampangnya kita bereaksi tanpa tahu situasi secara utuh. Dua-duanya menampar kita dengan lembut. Mengajak untuk berpikir ulang sebelum menilai dan bereaksi.

Dan yang paling menarik, kedua film ini tidak butuh durasi panjang untuk menyampaikan pesan-pesan penting itu. Cukup dengan cerita yang singkat, sederhana, tapi relevan, mereka bisa mengetuk kesadaran saya. Mungkin selama ini saya juga sering salah sangka, sering salah paham, dan lebih sering bereaksi dibanding mencoba memahami.

Lewat “Abu-abu” dan “Nyambutin”, saya belajar bahwa film pendek tidak harus rumit untuk bisa bermakna. Justru karena durasinya singkat, pesannya terasa lebih tajam dan langsung ke inti.

Kadang, kita memang terlalu cepat menilai. Kita sibuk menyimpulkan tanpa benar-benar mencari tahu. Padahal, di balik semua kejadian, selalu ada alasan yang lebih besar dari yang terlihat di permukaan.

Mungkin setelah menonton film-film ini, kita bisa mulai belajar untuk melihat dengan hati, bukan hanya dengan mata. Karena tidak semua yang tampak itu benar, dan tidak semua yang benar itu tampak jelas. [T]

Penulis: Gede Yoga Wismantara
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peran Penting “Gamelan Penting” dari Sanggar Seni Semara, Karangasem, di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Strategi Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim: Upaya Menjaga Produksi Padi dan Stabilitas Ekonomi Nasional

Yoga Wismantara

Yoga Wismantara

Siswa dari SMK N 3 Singaraja, belajar menulis puisi di Klub Rabu Puisi, Komunitas Mahima. Salah satu dari peserta workshop menulis film yang diadakan oleh Komunitas Singaraja Menonton. Anggota Komunitas Jnana, komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan literasi warga Singaraja.

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Strategi Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim: Upaya Menjaga Produksi Padi dan Stabilitas Ekonomi Nasional

Strategi Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim: Upaya Menjaga Produksi Padi dan Stabilitas Ekonomi Nasional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co