12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Menegang Ketika Mengoleskan Ramuan Perangsang Kulit Kera Piduka || Semacam Respon Teks yang Hadir Kemudian

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
July 17, 2020
in Ulasan
Yang Menegang Ketika Mengoleskan Ramuan Perangsang Kulit Kera Piduka  || Semacam Respon Teks yang Hadir Kemudian

Ok. Siap. Baik. Saya mulai dulu percapakan ini dengan sebuah kalimat dari seorang sepuh bernama Nang Kedel dengan kedua huruf e pada namanya yang berada di antara huruf k, d, dan l yang mesti dibaca dengan ē. Katanya, ‘Iraga uling lekad suba ngaba ukuran, mati masih ngaba ukuran. Dadine, yen dot ngukur idup, ukur uli matin iragane. Kalau diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia, kira-kira artinya: manusia Bali itu sedari lahir sudah membawa ukuran, matipun juga ada ukuran. Jika ingin mengukur kualitas hidup, ukurlah bagaimana cara kita mati. To be nak Bali. Itulah orang Bali. Imbuh Nang Kedel.

Siapakah sesungguhnya sepuh bernama Nang Kedel ini? Dari mana asalnya? Tak perlulah kiranya dijelaskan lebih lanjut. Sebab tak penting juga untuk kita mengetahui. Sama tak pentingnya dengan alasan saya memilih nama Nang Kedel. Kenapa bukan Nang Kedal, Nang Kedol, Nang Kodol, atau Anton tanpa embel-embel nang saja sekalian? Tak penting juga untuk menelisik apakah benar yang mengucapkannya adalah Nang Kedel? Apalagi bagi kehadiran novel ‘Kulit Kera Piduka’ ini, yang sama sekali tak mencantumkan nama Nang Kedel di dalamnya. Apalagi bagi Juli Sastrawan selaku penulis novel, apalagi bagi pembaca yang sebenarnya lebih ingin mengetahui isi novel ‘Kulit Kera Piduka’ karya Juli Sastrawan daripada mendengar ocehan dari Nang Kedel.

Sosok Nang Kedel, saya pinjam hanya untuk mensejajarkannya dengan sosok Piduka, Piranti, Kenanga, Parwa, Arsa, dan sebaris nama-nama lain yang tertuang dalam novel di tangan pembaca sekalian. Pendeknya: jangan tanya bagaimana nama-nama itu membentuk latar, psikologi, kondisi para tokohnya. Tak penting kenapa orang tua Piduka yang diceritakan berasal dari wangsa brahmana memberi nama anaknya piduka, yang kesannya mirip dengan kata berduka. Dalam konteks Bali mengingatkan kita juga dengan istilah guru piduka, sebuah upacara yadnya permohonan maaf kepada leluhur atau Ida Bathara.

Tak penting mengapa Piduka dan Piranti, pasangan suami istri beda wangsa ini memberi nama anaknya Kenanga, sebagaimana yang biasa muncul pada penamaan tokoh perempuan dalam karya sastra Bali yang cenderung menggunaan nama bunga. Tak penting juga kenapa anak dari hasil hubungan gelap Piranti dan Arsa diberi nama Parwa, yang dalam kesusastraan Bali diartikan sebagai bagian cerita. Begitu seterusnya. Begitu seterusnya.

Meski tokoh-tokoh dalam novel ini hidup dalam dunia rekaan, nama-nama mereka saya kira diciptakan bukan dalam kerangka logika berpikir dunia yang tertuang dalam cerita. Kehadiran nama-nama mereka tak diberikan oleh ‘orang tua tokoh’ dalam novel, melainkan oleh Juli Sastrawan sendiri sebagai penulis. Kita akan menyaksikan kehadiran penulis yang muncul samar-samar untuk kemudian memberi nama pada tokohnya, sekaligus mengguratkan sejarah, sekaligus meng-ketokpalu-kan nasib mereka. Artinya, tokoh-tokoh dalam novel tidak tumbuh secara organis dalam dunia rekaan penulis yang disusun atas dasar motif para tokoh untuk menghasilkan alur cerita sebab-akibat yang ketat dan rigid.

Eksistensi tokoh boleh jadi berangkat dari hasil negosiasi, antara pemotretan, pengguntingan realitas dengan sejarah ketubuhan dan paradigma penulis yang dicampurbaurkan jadi cerita. Dari kehadiran nama-nama ini, tampak novel menyajikan pola relasi interteks dengan realitas sebenarnya atau dunia di luar cerita. Tak berdiri sendiri sebagai sebuah karya novel. Melainkan juga berada pada persimpangan antara karya, penulis, dan konteks sosial khususnya yang terjadi di Bali.

Sebagaimana yang marak hadir dalam wacana Bali yang berkembang dewasa ini, konteks pariwisata boleh dikata menjadi bahasan utama. Senantiasa menjadi bahan pergunjingan. Diteguhkan sekaligus dikritisi. Dipuja juga dicela. Di kota-kota besar seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar, ketegangan semacam ini begitu kentara terasa dibandingkan dengan daerah pedalaman lain. Sebab di kota-kota inilah dampak buruk pariwisata hadir. Mulai dari lahan yang terkikis, kerusakan lingkungan, serta konstruksi ruang yang mulai menghimpit. Semuanya berdampingan dengan aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Yang secara tidak langsung mempengaruhi pola kerja koreografi tubuh penghuninya.  Konsekuensi logis yang hadir kemudian adalah suara-suara kritis lebih banyak menggema di kota-kota itu saja, baik melalui gerakan dan akitivas sosial, juga produksi karya seni yang dihasilkan.

Saya kira, di sinilah kehadiran Juli Sastrawan sebagai penulis penting untuk dimunculkan di tengah novel dan konteks sosial yang melatari. Di luar kerja sebagai penulis, Juli Sastrawan kerap berbaur dengan pergaulan aktivis, zine bahkan anak punk. Dimana ketiga hal ini sedikit banyak beririsan dengan ruang produksi wacana kritis memandang realitas Bali, khususnya dalam konteks pariwisata. Alih-alih mengkonstruksi novelnya atas dasar pengalaman ketubuhan yang dimiliki, Juli malah mejatuhkan pilihan tokohnya untuk hidup di pedalaman desa Bali yang jauh jaraknya dengan hiruk pikuk pariwisata. Bahkan boleh dikata, tak tersentuh sama sekali. Saking berjaraknya, masyarakat desa melihat kehidupan kota sebagai surga impian.

Salah satu gejala yang ditunjukan dalam novel adalah para penghuninya yang mulai meninggalkan desa untuk merantau ke kota. Pada latar desa yang lenggang dan sepi karena ditinggal merantau ini, Juli Sastrawan justru tak menyajikan bagaimana lemah lunglainya desa setelah ditinggalkan. Novel justru bercerita tentang upaya-upaya masyarakat untuk dapat bertahan bahkan berusaha untuk mencapai kedudukan yang sejajar dengan apa yang didapat dari industri pariwisata di kota. Hasilnya adalah perwatakan tokoh-tokoh dalam novel yang tegang, yang hidup di desa dengan impian-impian kota. Menumbuhkan laku-laku kolot-rapuh, intelek-naif, kokoh-melankolis, serta laku-laku oposisi sejenisnya. Yang rentan dengan ketidakstabilan, dengan tikungan emosi yang berubah meledak seketika di tengah visi hidup cita-cita tokohnya yang gempal dan kuat. Alhasil, segala laku yang hadir pada novel tampak amat perfomatif. Ceritanya tampak begitu hidup meski pada suatu bagian ditulis dengan kalimat langsung, tanpa disertai detail narasi yang berkepanjangan.

Pendapat saya bisa jadi benar, bisa jadi salah. Bisa jadi benar, jika pembaca juga merasakan hal yang sama setelah membaca novel ini. Bisa jadi salah lantaran pembacaan saya yang barangkali sangat subjektif sifatnya. Begitu subjektifnya,  lantaran karena sosok Juli Sastrawan adalah kawan saya sendiri. Begitu subjektifnya, lantaran novel berkisah tentang kehidupan masyarakat Bali dimana Juli dan saya menjadi bagian di dalamnya. Begitu subjektifnya, lantaran saya sendiri tak berusaha untuk mendedahkan pembacaan pada satu ukuran bangunan interpretasi yang pejal.

Melalui peminjaman realitas masyarakat Bali yang secara sadar dilakukan oleh Juli, pembaca tak hanya mengalami katarsis. Pada satu momen tertentu juga akan merasa teralienasi. Kadang didorong untuk hanyut dalam konflik batin para tokoh, semisal ambisi Piduka untuk meraup keuntungan dari hasil menari joged Kenanga, keinginan Kenanga untuk berhenti menari dan bekerja di kota, kebimbangan Piranti untuk kembali pada Arsa atau bertahan bersama Piduka, juga keluguan Parwa yang masih kanak di tengah carut marut konflik keluarga yang berkelindan. Di sisi lain, kita juga akan ditarik kembali untuk merefleksikan cerita dengan realitas kehidupan Bali: soal kasta, soal pariwisata, soal patriarki, soal joged, soal kejahatan seksual dan persoalan lainnya. Semuanya terekam pada satu ruang tinggal yang disebut rumah.

Maka, bukan tanpa alasan banyak peristiwa dalam novel terjadi di rumah. Mengingat rumah bagi orang Bali adalah representasi dari tubuh penghuninya. Rumah Bali dibuat berdasarkan Asta Kosala Kosali yang merupakan ilmu arsitektur Bali dengan menggunakan ukuran-ukuran tubuh yang disebut sikut sebagai alat ukur. Hal ini memungkinkan penghuninya mempunyai ikatan kuat dengan rumah. Struktur rumah Bali yang luas terbuka, memungkinan terjadi begitu banyak aktivitas dan pertemuan antara sesama penghuni rumah, antara pemilik dengan tamu yang datang. Maka rumah Bali adalah pertemuan-pertemuan berbagai jenis ukuran. Maka bagaimanakah ukuran-ukuran ini kemudian bertemu? Maka bagaimanakah ukuran-ukuran yang kemudian bertemu ini mempengaruhi kehidupan di dalam rumah?

Rumah Piduka adalah persimpangan ukuran-ukuran yang menjejali para penghuninya. Ukuran ekonomi, ukuran sosial, ukuran budaya, ukuran agama, ukuran moral dan etika saling gesek berhimpitan satu sama lain tanpa adanya kalkulasi jawaban pasti. Menjadikan penghuninya gegar dan gagap mengartikulasikan kehendak-kehendaknya. Rumah Piduka adalah sub terkecil yang teraniaya, ketika soal-soal Bali yang dianggap kecil tak pernah jadi hitungan besaran dampak pariwisata. Maka, kehadiran novel ini menjadi penting artinya sebagai ruang refleksi menatap rumah, diri, dan Bali. Apalagi jika dikaitkan dengan fenomena pandemi yang merebak belakangan ini.

Saya rasa bukanlah suatu kebetulan novel ‘Kulit Kera Piduka’ di tangan pembaca ini hadir dalam situasi yang membuat diri menghabiskan banyak waktu di rumah. Di tengah ketakutan untuk ke luar, yang memaksa kita berdiam diri di rumah, ada ketakutan lain yang diam-diam menyelinap di dalam. Setelah membaca novel karya Juli Sastrawan ini, saat mengetik tulisan ini, saya jadi dibuat bertanya. Apakah rumah kami sedang baik-baik saja? Bagaimana dengan rumah tetangga? Bagaimana dengan rumah di kampung halaman? Dengan rumah kawan-kawan sekalian? Juga dengan rumah Nang Kedel?

Jika benar kata Nang Kedel bahwa manusia Bali itu sedari lahir sudah membawa ukuran, matipun juga ada ukuran, mungkin yang paling sulit diukur adalah kehidupan Piduka atau Piranti atau Kenanga atau Parwa atau tokoh-tokoh lain sebagaimana yang tergambar dalam novel. Berhati-hatilah, bisa saja kita akan atau sedang atau sudah menjelma diantaranya!

Denpasar, 2020

Tags: balikekerasan seksualnovelsastraSeksualitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Dewa Gede Soma Wijaya dan Patung Klasik yang Artistik

Next Post

Luhurnya Cita Rasa Tembakau Bondowoso

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Luhurnya Cita Rasa Tembakau Bondowoso

Luhurnya Cita Rasa Tembakau Bondowoso

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co