30 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puspa Sari, Legenda Bus Malam Singaraja-Surabaya, Melaju Sejak 1976

Jaswanto by Jaswanto
February 9, 2025
in Esai
Puspa Sari, Legenda Bus Malam Singaraja-Surabaya, Melaju Sejak 1976

Bus Puspa Sari | Sumber foto: IG Sejarah Bali

DARI story WA tukang tiket bus langganan, saya tahu PO Puspasari ulang tahun 7 Februari. Saya langsung teringat bus yang sudah menjadi bagian dari sebagian hidup saya itu.

Sembilan tahun yang lalu, untuk kali pertama saya duduk di kursinya yang bisa diatur dan membungkus diri dengan selimutnya yang hangat dengan debar yang sulit dijelaskan. Itu kali pertama pula saya melakukan perjalanan dari Singaraja, Bali, ke Surabaya, Jawa Timur. Saat itu musim liburan kuliah. Tapi saya lupa berapa uang tiketnya waktu itu, mungkin 150 ribu, atau sedikit lebih banyak dari itu. Yang jelas, seingat saya, kecuali pada musim pandemi kemarin, setelah itu saya tidak pernah menaiki bus mana pun selain PO (perusahaan otobus) Puspa Sari.

Saya tidak tahu pasti alasan di balik kenapa saya selalu menaikinya saat hendak pulang atau kembali ke Singaraja. Tapi saya mengira itu karena namanyalah yang pertama kali saya dengar daripada PO-PO yang lain dan dari situ tiba-tiba saya merasa nyaman saja dengan jebus 2 HD itu.

Di kalangan mahasiswa perantauan dari Jawa Timur, khususnya dari Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro, nama Puspa Sari memang sering disebut. Itu sama dengan Aqua, Honda, Rinso, yang sering disebut orang-orang—dan selanjutnya nama-nama merek itu digunakan untuk menyebut produk serupa walau dengan merek yang berbeda. Suatu kali itu juga terjadi pada nama Puspa Sari. Seorang teman berkata menaiki Puspa Sari, meski pada kenyatannya dia duduk di bangku Menggala.

Sebagai bus malam pertama yang memiliki rute Singaraja-Surabaya (pun sebaliknya), wajar saja jika nama Puspa Sari cukup melegenda. PO ini lahir pada masa Orde Baru, tepatnya pada 7 Februari 1976, dari seorang pengusaha bernama I Gede Dharma Wijaya.

Puspa Sari lahir karena latar belakang Gede Dharma sendiri. Made Oka Nurdjaja, ayahnya, adalah perintis usaha yang ulet. Dia punya toko kelontong, “JAYA”, di Jl. Diponegoro, Singaraja, yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari. Selain itu, saat Dharma masih SD, Made Oka juga mulai merintis usaha transportasi bus berbahan bakar bensin yang beroperasi di Singaraja dan sekitarnya—body bus masih terbuat dari kayu, tulis sebuah artikel.

Gagasan membangun usaha bus malam Singaraja-Surabaya tampak semakin nyata saat Gede Dharma memutuskan merantau ke Surabaya saat umurnya belum genap tujuh belas tahun. Di sana ia melanjutkan SMA dan memupuk niatnya untuk masuk Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Tapi itu tidak terjadi. Pada 1970, seusai tamat SMA di Surabaya, Dharma memilih terbang ke Jerman untuk belajar mesin disel.

Setelah tamat dari Jerman, pada 1974 ia mulai merancang bisnis transportasi yang tidak hanya sekadar mondar-mandir di sekitaran Singaraja—ia mau lebih daripada itu. Maka jadilah “Puspa Sari” dengan 5 bus modern bermesin disel, angkutan pertama jurusan Singaraja-Surabaya. Sejak saat itu, Puspa Sari melaju, wira-wiri, dan beranak-pinak. Dari rute Singaraja-Surabaya, lahir bus Denpasar-Surabaya, lalu Denpasar-Yogyakarta, selanjutnya merintis jurusan Lombok-Mataram-Sape-Bima pada tahun 1982. Akhirnya bus-bus Dharma melaju sampai Malang, Blitar, dan sekitarnya. Jadilah Puspa Sari tak sendiri, ia memiliki saudara kandung Restu Mulya, Wisata Komodo, dan Cipta Dharma Perkasa.

Menjadi Saksi Bisu

Bagi saya, Puspa Sari ini tipe bus yang cepat datangnya, cepat pula sampainya. Seringkali ngebut tapi dengan keahlian nyetir yang tak mengkhawatirkan, jika dibandingkan dengan sopir-sopir bus ekonomi jurusan Semarang-Surabaya yang kerap menyulap aura kabin jadi ngeri-ngeri sedap. Tapi saya kira gaya mengemudinya sebelas-dua belas dengan sopir-sopir jurusan Semarang-Surabaya: suka nempel-nempel dulu, lalu goyang kanan, baru nyalip.

Bus Puspa Sari | Sumber foto: IG Subo

Tapi begitulah. Melewati jalur pantura dengan konvoi truknya adalah sebuah keniscayaan. Seringkali iring-iringan truk besar jadi penghambat laju bus. Mengikuti terus di belakangnya akan membuang banyak waktu. Kalau tidak ingin waktu perjalanan jadi 3 kali lebih lama, sebaiknya disalip. Namun, menyalip langsung beberapa truk cukup berbahaya, kecuali sopir bisa memastikan jalur dari arah berlawanan benar-benar kosong. Maka mepetlah mereka sebelum menyalip. Bagi penumpang, menyalip seperti ini cukup memacu adrenalin.

Dan selama merasa ngeri itu saya teringat kelakar Gus Dur tentang sopir Metromini yang ugal-ugalan tapi masuk surga dan dikasih kamar yang mewah, lengkap dengan perabotan emas. Sedangkan Gus Dur, yang notabene sebagai seorang presiden dan ulama, hanya dikasih kamar kecil dengan perabotan kayu. Sebabnya, kata Gus Dur, “Pada saat saya ceramah, membuat orang-orang semua ngantuk dan ketiduran sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan saat sopir Metromini mengemudi dengan ngebut, dia membuat orang-orang berdoa”—mengingat Tuhan. Dan itu benar.

Saat menaiki Puspa Sari saya nyaris selalu duduk di depan, tepat di belakang pak supir yang sedang bekerja. Jadi sangat jelas saya melihat bagaimana sopir Puspa Sari mengemudi. Bahkan, tak sedikit saya mendengar sopir mengumpat karena kelakuan pengendara lain yang ngawur dan membahayakan. Saya juga sering meminta permen kepada pak sopir.

Puspa Sari berangkat dari Singaraja sekira pukul enam sore dan biasanya sampai Surabaya pukul empat pagi, menjelang subuh. Di daerah Pasir Putih, Situbondo, penumpang diservis makan prasmanan di sebuah restoran sederhana. Jujur saja saya jarang menikmati masakannya. Tapi jelas teh hangat dan semangka irisnya cukup melegakan. Itu juga kesempatan untuk buang air kecil maupun besar dan mengisi daya telepon genggam.

Sejauh ini, seingat saya, saat menaiki Puspa Sari, dua kali saya merasa kesal—dan dua-duanya saat perjalanan kembali ke Singaraja. Itu karena bus legendaris ini mogok. Saya lupa itu kapan, tapi saya ingat di mana letak mogoknya. Pertama di daerah Gilimanuk, saat memasuki kawasan hutan Bali Barat. Kedua saya kira masih di daerah Situbondo, belum masuk kawasan Baluran. Dan selain pernah merasakannya sendiri, saya juga sering mendengar cerita-cerita dari beberapa kawan perihal yang sama.

Tetapi, bagaimana pun, Puspa Sari sudah menjadi bagian dalam perjalanan hidup saya. Ia angkutan yang menempati sedikit ruang dalam ingatan saya. Warnanya yang biru muda dengan tato beberapa ekor kuda lari di badannya, akan melekat dalam ingatan saya. Beberapa kursinya adalah bagian yang tak bisa saya lupakan. Puspa Sari—juga Sugeng Rahayu, Indonesia, Widji Lestari, Sinar Mulia, Restu, Harapan Kita, dan bus-bus jurusan Singaraja-Surabaya yang pernah saya naiki—adalah saksi bisu etape hidup saya. [T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Metamorfosis Moda Transportasi Laut Nusa Penida: Dari Perahu Meolah, Bermesin, hingga Fast Boat
Mempercakapkan Transportasi Publik di Bali – Sebuah Percakapan yang Agak Sia-sia…
“Culture Shock” Mahasiswa Bali di Yogyakarta: Makanan Murah yang Bisa Bikin Boros dan Lain-lain
Tags: Bus Puspa Sarilegendasejarahtransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Candi Lingga Belah, Karya Pematung Ketut Putrayasa di Pintu Masuk Bendungan Sidan

Next Post

Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co