28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puspa Sari, Legenda Bus Malam Singaraja-Surabaya, Melaju Sejak 1976

Jaswanto by Jaswanto
February 9, 2025
in Esai
Puspa Sari, Legenda Bus Malam Singaraja-Surabaya, Melaju Sejak 1976

Bus Puspa Sari | Sumber foto: IG Sejarah Bali

DARI story WA tukang tiket bus langganan, saya tahu PO Puspasari ulang tahun 7 Februari. Saya langsung teringat bus yang sudah menjadi bagian dari sebagian hidup saya itu.

Sembilan tahun yang lalu, untuk kali pertama saya duduk di kursinya yang bisa diatur dan membungkus diri dengan selimutnya yang hangat dengan debar yang sulit dijelaskan. Itu kali pertama pula saya melakukan perjalanan dari Singaraja, Bali, ke Surabaya, Jawa Timur. Saat itu musim liburan kuliah. Tapi saya lupa berapa uang tiketnya waktu itu, mungkin 150 ribu, atau sedikit lebih banyak dari itu. Yang jelas, seingat saya, kecuali pada musim pandemi kemarin, setelah itu saya tidak pernah menaiki bus mana pun selain PO (perusahaan otobus) Puspa Sari.

Saya tidak tahu pasti alasan di balik kenapa saya selalu menaikinya saat hendak pulang atau kembali ke Singaraja. Tapi saya mengira itu karena namanyalah yang pertama kali saya dengar daripada PO-PO yang lain dan dari situ tiba-tiba saya merasa nyaman saja dengan jebus 2 HD itu.

Di kalangan mahasiswa perantauan dari Jawa Timur, khususnya dari Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro, nama Puspa Sari memang sering disebut. Itu sama dengan Aqua, Honda, Rinso, yang sering disebut orang-orang—dan selanjutnya nama-nama merek itu digunakan untuk menyebut produk serupa walau dengan merek yang berbeda. Suatu kali itu juga terjadi pada nama Puspa Sari. Seorang teman berkata menaiki Puspa Sari, meski pada kenyatannya dia duduk di bangku Menggala.

Sebagai bus malam pertama yang memiliki rute Singaraja-Surabaya (pun sebaliknya), wajar saja jika nama Puspa Sari cukup melegenda. PO ini lahir pada masa Orde Baru, tepatnya pada 7 Februari 1976, dari seorang pengusaha bernama I Gede Dharma Wijaya.

Puspa Sari lahir karena latar belakang Gede Dharma sendiri. Made Oka Nurdjaja, ayahnya, adalah perintis usaha yang ulet. Dia punya toko kelontong, “JAYA”, di Jl. Diponegoro, Singaraja, yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari. Selain itu, saat Dharma masih SD, Made Oka juga mulai merintis usaha transportasi bus berbahan bakar bensin yang beroperasi di Singaraja dan sekitarnya—body bus masih terbuat dari kayu, tulis sebuah artikel.

Gagasan membangun usaha bus malam Singaraja-Surabaya tampak semakin nyata saat Gede Dharma memutuskan merantau ke Surabaya saat umurnya belum genap tujuh belas tahun. Di sana ia melanjutkan SMA dan memupuk niatnya untuk masuk Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Tapi itu tidak terjadi. Pada 1970, seusai tamat SMA di Surabaya, Dharma memilih terbang ke Jerman untuk belajar mesin disel.

Setelah tamat dari Jerman, pada 1974 ia mulai merancang bisnis transportasi yang tidak hanya sekadar mondar-mandir di sekitaran Singaraja—ia mau lebih daripada itu. Maka jadilah “Puspa Sari” dengan 5 bus modern bermesin disel, angkutan pertama jurusan Singaraja-Surabaya. Sejak saat itu, Puspa Sari melaju, wira-wiri, dan beranak-pinak. Dari rute Singaraja-Surabaya, lahir bus Denpasar-Surabaya, lalu Denpasar-Yogyakarta, selanjutnya merintis jurusan Lombok-Mataram-Sape-Bima pada tahun 1982. Akhirnya bus-bus Dharma melaju sampai Malang, Blitar, dan sekitarnya. Jadilah Puspa Sari tak sendiri, ia memiliki saudara kandung Restu Mulya, Wisata Komodo, dan Cipta Dharma Perkasa.

Menjadi Saksi Bisu

Bagi saya, Puspa Sari ini tipe bus yang cepat datangnya, cepat pula sampainya. Seringkali ngebut tapi dengan keahlian nyetir yang tak mengkhawatirkan, jika dibandingkan dengan sopir-sopir bus ekonomi jurusan Semarang-Surabaya yang kerap menyulap aura kabin jadi ngeri-ngeri sedap. Tapi saya kira gaya mengemudinya sebelas-dua belas dengan sopir-sopir jurusan Semarang-Surabaya: suka nempel-nempel dulu, lalu goyang kanan, baru nyalip.

Bus Puspa Sari | Sumber foto: IG Subo

Tapi begitulah. Melewati jalur pantura dengan konvoi truknya adalah sebuah keniscayaan. Seringkali iring-iringan truk besar jadi penghambat laju bus. Mengikuti terus di belakangnya akan membuang banyak waktu. Kalau tidak ingin waktu perjalanan jadi 3 kali lebih lama, sebaiknya disalip. Namun, menyalip langsung beberapa truk cukup berbahaya, kecuali sopir bisa memastikan jalur dari arah berlawanan benar-benar kosong. Maka mepetlah mereka sebelum menyalip. Bagi penumpang, menyalip seperti ini cukup memacu adrenalin.

Dan selama merasa ngeri itu saya teringat kelakar Gus Dur tentang sopir Metromini yang ugal-ugalan tapi masuk surga dan dikasih kamar yang mewah, lengkap dengan perabotan emas. Sedangkan Gus Dur, yang notabene sebagai seorang presiden dan ulama, hanya dikasih kamar kecil dengan perabotan kayu. Sebabnya, kata Gus Dur, “Pada saat saya ceramah, membuat orang-orang semua ngantuk dan ketiduran sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan saat sopir Metromini mengemudi dengan ngebut, dia membuat orang-orang berdoa”—mengingat Tuhan. Dan itu benar.

Saat menaiki Puspa Sari saya nyaris selalu duduk di depan, tepat di belakang pak supir yang sedang bekerja. Jadi sangat jelas saya melihat bagaimana sopir Puspa Sari mengemudi. Bahkan, tak sedikit saya mendengar sopir mengumpat karena kelakuan pengendara lain yang ngawur dan membahayakan. Saya juga sering meminta permen kepada pak sopir.

Puspa Sari berangkat dari Singaraja sekira pukul enam sore dan biasanya sampai Surabaya pukul empat pagi, menjelang subuh. Di daerah Pasir Putih, Situbondo, penumpang diservis makan prasmanan di sebuah restoran sederhana. Jujur saja saya jarang menikmati masakannya. Tapi jelas teh hangat dan semangka irisnya cukup melegakan. Itu juga kesempatan untuk buang air kecil maupun besar dan mengisi daya telepon genggam.

Sejauh ini, seingat saya, saat menaiki Puspa Sari, dua kali saya merasa kesal—dan dua-duanya saat perjalanan kembali ke Singaraja. Itu karena bus legendaris ini mogok. Saya lupa itu kapan, tapi saya ingat di mana letak mogoknya. Pertama di daerah Gilimanuk, saat memasuki kawasan hutan Bali Barat. Kedua saya kira masih di daerah Situbondo, belum masuk kawasan Baluran. Dan selain pernah merasakannya sendiri, saya juga sering mendengar cerita-cerita dari beberapa kawan perihal yang sama.

Tetapi, bagaimana pun, Puspa Sari sudah menjadi bagian dalam perjalanan hidup saya. Ia angkutan yang menempati sedikit ruang dalam ingatan saya. Warnanya yang biru muda dengan tato beberapa ekor kuda lari di badannya, akan melekat dalam ingatan saya. Beberapa kursinya adalah bagian yang tak bisa saya lupakan. Puspa Sari—juga Sugeng Rahayu, Indonesia, Widji Lestari, Sinar Mulia, Restu, Harapan Kita, dan bus-bus jurusan Singaraja-Surabaya yang pernah saya naiki—adalah saksi bisu etape hidup saya. [T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Metamorfosis Moda Transportasi Laut Nusa Penida: Dari Perahu Meolah, Bermesin, hingga Fast Boat
Mempercakapkan Transportasi Publik di Bali – Sebuah Percakapan yang Agak Sia-sia…
“Culture Shock” Mahasiswa Bali di Yogyakarta: Makanan Murah yang Bisa Bikin Boros dan Lain-lain
Tags: Bus Puspa Sarilegendasejarahtransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Candi Lingga Belah, Karya Pematung Ketut Putrayasa di Pintu Masuk Bendungan Sidan

Next Post

Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co