22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puspa Sari, Legenda Bus Malam Singaraja-Surabaya, Melaju Sejak 1976

Jaswanto by Jaswanto
February 9, 2025
in Esai
Puspa Sari, Legenda Bus Malam Singaraja-Surabaya, Melaju Sejak 1976

Bus Puspa Sari | Sumber foto: IG Sejarah Bali

DARI story WA tukang tiket bus langganan, saya tahu PO Puspasari ulang tahun 7 Februari. Saya langsung teringat bus yang sudah menjadi bagian dari sebagian hidup saya itu.

Sembilan tahun yang lalu, untuk kali pertama saya duduk di kursinya yang bisa diatur dan membungkus diri dengan selimutnya yang hangat dengan debar yang sulit dijelaskan. Itu kali pertama pula saya melakukan perjalanan dari Singaraja, Bali, ke Surabaya, Jawa Timur. Saat itu musim liburan kuliah. Tapi saya lupa berapa uang tiketnya waktu itu, mungkin 150 ribu, atau sedikit lebih banyak dari itu. Yang jelas, seingat saya, kecuali pada musim pandemi kemarin, setelah itu saya tidak pernah menaiki bus mana pun selain PO (perusahaan otobus) Puspa Sari.

Saya tidak tahu pasti alasan di balik kenapa saya selalu menaikinya saat hendak pulang atau kembali ke Singaraja. Tapi saya mengira itu karena namanyalah yang pertama kali saya dengar daripada PO-PO yang lain dan dari situ tiba-tiba saya merasa nyaman saja dengan jebus 2 HD itu.

Di kalangan mahasiswa perantauan dari Jawa Timur, khususnya dari Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro, nama Puspa Sari memang sering disebut. Itu sama dengan Aqua, Honda, Rinso, yang sering disebut orang-orang—dan selanjutnya nama-nama merek itu digunakan untuk menyebut produk serupa walau dengan merek yang berbeda. Suatu kali itu juga terjadi pada nama Puspa Sari. Seorang teman berkata menaiki Puspa Sari, meski pada kenyatannya dia duduk di bangku Menggala.

Sebagai bus malam pertama yang memiliki rute Singaraja-Surabaya (pun sebaliknya), wajar saja jika nama Puspa Sari cukup melegenda. PO ini lahir pada masa Orde Baru, tepatnya pada 7 Februari 1976, dari seorang pengusaha bernama I Gede Dharma Wijaya.

Puspa Sari lahir karena latar belakang Gede Dharma sendiri. Made Oka Nurdjaja, ayahnya, adalah perintis usaha yang ulet. Dia punya toko kelontong, “JAYA”, di Jl. Diponegoro, Singaraja, yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari. Selain itu, saat Dharma masih SD, Made Oka juga mulai merintis usaha transportasi bus berbahan bakar bensin yang beroperasi di Singaraja dan sekitarnya—body bus masih terbuat dari kayu, tulis sebuah artikel.

Gagasan membangun usaha bus malam Singaraja-Surabaya tampak semakin nyata saat Gede Dharma memutuskan merantau ke Surabaya saat umurnya belum genap tujuh belas tahun. Di sana ia melanjutkan SMA dan memupuk niatnya untuk masuk Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Tapi itu tidak terjadi. Pada 1970, seusai tamat SMA di Surabaya, Dharma memilih terbang ke Jerman untuk belajar mesin disel.

Setelah tamat dari Jerman, pada 1974 ia mulai merancang bisnis transportasi yang tidak hanya sekadar mondar-mandir di sekitaran Singaraja—ia mau lebih daripada itu. Maka jadilah “Puspa Sari” dengan 5 bus modern bermesin disel, angkutan pertama jurusan Singaraja-Surabaya. Sejak saat itu, Puspa Sari melaju, wira-wiri, dan beranak-pinak. Dari rute Singaraja-Surabaya, lahir bus Denpasar-Surabaya, lalu Denpasar-Yogyakarta, selanjutnya merintis jurusan Lombok-Mataram-Sape-Bima pada tahun 1982. Akhirnya bus-bus Dharma melaju sampai Malang, Blitar, dan sekitarnya. Jadilah Puspa Sari tak sendiri, ia memiliki saudara kandung Restu Mulya, Wisata Komodo, dan Cipta Dharma Perkasa.

Menjadi Saksi Bisu

Bagi saya, Puspa Sari ini tipe bus yang cepat datangnya, cepat pula sampainya. Seringkali ngebut tapi dengan keahlian nyetir yang tak mengkhawatirkan, jika dibandingkan dengan sopir-sopir bus ekonomi jurusan Semarang-Surabaya yang kerap menyulap aura kabin jadi ngeri-ngeri sedap. Tapi saya kira gaya mengemudinya sebelas-dua belas dengan sopir-sopir jurusan Semarang-Surabaya: suka nempel-nempel dulu, lalu goyang kanan, baru nyalip.

Bus Puspa Sari | Sumber foto: IG Subo

Tapi begitulah. Melewati jalur pantura dengan konvoi truknya adalah sebuah keniscayaan. Seringkali iring-iringan truk besar jadi penghambat laju bus. Mengikuti terus di belakangnya akan membuang banyak waktu. Kalau tidak ingin waktu perjalanan jadi 3 kali lebih lama, sebaiknya disalip. Namun, menyalip langsung beberapa truk cukup berbahaya, kecuali sopir bisa memastikan jalur dari arah berlawanan benar-benar kosong. Maka mepetlah mereka sebelum menyalip. Bagi penumpang, menyalip seperti ini cukup memacu adrenalin.

Dan selama merasa ngeri itu saya teringat kelakar Gus Dur tentang sopir Metromini yang ugal-ugalan tapi masuk surga dan dikasih kamar yang mewah, lengkap dengan perabotan emas. Sedangkan Gus Dur, yang notabene sebagai seorang presiden dan ulama, hanya dikasih kamar kecil dengan perabotan kayu. Sebabnya, kata Gus Dur, “Pada saat saya ceramah, membuat orang-orang semua ngantuk dan ketiduran sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan saat sopir Metromini mengemudi dengan ngebut, dia membuat orang-orang berdoa”—mengingat Tuhan. Dan itu benar.

Saat menaiki Puspa Sari saya nyaris selalu duduk di depan, tepat di belakang pak supir yang sedang bekerja. Jadi sangat jelas saya melihat bagaimana sopir Puspa Sari mengemudi. Bahkan, tak sedikit saya mendengar sopir mengumpat karena kelakuan pengendara lain yang ngawur dan membahayakan. Saya juga sering meminta permen kepada pak sopir.

Puspa Sari berangkat dari Singaraja sekira pukul enam sore dan biasanya sampai Surabaya pukul empat pagi, menjelang subuh. Di daerah Pasir Putih, Situbondo, penumpang diservis makan prasmanan di sebuah restoran sederhana. Jujur saja saya jarang menikmati masakannya. Tapi jelas teh hangat dan semangka irisnya cukup melegakan. Itu juga kesempatan untuk buang air kecil maupun besar dan mengisi daya telepon genggam.

Sejauh ini, seingat saya, saat menaiki Puspa Sari, dua kali saya merasa kesal—dan dua-duanya saat perjalanan kembali ke Singaraja. Itu karena bus legendaris ini mogok. Saya lupa itu kapan, tapi saya ingat di mana letak mogoknya. Pertama di daerah Gilimanuk, saat memasuki kawasan hutan Bali Barat. Kedua saya kira masih di daerah Situbondo, belum masuk kawasan Baluran. Dan selain pernah merasakannya sendiri, saya juga sering mendengar cerita-cerita dari beberapa kawan perihal yang sama.

Tetapi, bagaimana pun, Puspa Sari sudah menjadi bagian dalam perjalanan hidup saya. Ia angkutan yang menempati sedikit ruang dalam ingatan saya. Warnanya yang biru muda dengan tato beberapa ekor kuda lari di badannya, akan melekat dalam ingatan saya. Beberapa kursinya adalah bagian yang tak bisa saya lupakan. Puspa Sari—juga Sugeng Rahayu, Indonesia, Widji Lestari, Sinar Mulia, Restu, Harapan Kita, dan bus-bus jurusan Singaraja-Surabaya yang pernah saya naiki—adalah saksi bisu etape hidup saya. [T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Metamorfosis Moda Transportasi Laut Nusa Penida: Dari Perahu Meolah, Bermesin, hingga Fast Boat
Mempercakapkan Transportasi Publik di Bali – Sebuah Percakapan yang Agak Sia-sia…
“Culture Shock” Mahasiswa Bali di Yogyakarta: Makanan Murah yang Bisa Bikin Boros dan Lain-lain
Tags: Bus Puspa Sarilegendasejarahtransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Candi Lingga Belah, Karya Pematung Ketut Putrayasa di Pintu Masuk Bendungan Sidan

Next Post

Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co