23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berniaga di Pinggir Lintasan Kereta — Cerita dari “Pasar Ekstrem” Dupak Magersari, Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
July 2, 2025
in Tualang
Berniaga di Pinggir Lintasan Kereta — Cerita dari “Pasar Ekstrem” Dupak Magersari, Surabaya

Pasar Dupak Magersari, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan

“SEPUR…sepur…sepur! Awas sepur! Minggir dulu!” teriak seorang lelaki paruh baya sambil menggerak-gerakkan tangannya, menginstruksikan orang-orang supaya segera minggir dari lintasan kereta api pada pagi yang semarak di Dupak Magersari, Surabaya. Suara lelaki itu bersahut-sahutan dengan sirene peringatan dan deru kendaraan yang menyemut. Pagi yang hiruk-pikuk, memang.

Mendengar seruan itu, orang-orang menyingkir sambil mengangkat-pindahkan barang dagangan dengan wajah yang biasa saja—tak terlihat kaget atau takut. Sementara perempuan penjual ikan memindahkan embernya, seorang ibu penjual sayur sibuk menjauhkan kol, sawi, jagung, timun, dan kangkungnya dari rel kereta. Ya, Anda tidak salah baca. Adegan ini memang berlangsung di pasar templek yang berada tepat di pinggir dan di atas rel kereta api dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, tepatnya di Kelurahan Jepara, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya. Melihat peristiwa itu, saya teringat Mae Klong Railway Market di Bangkok, Thailand, yang tersohor itu.

“Setiap pagi ya begini, Mas,” ujar Cak Yus, pemilik warung kopi pinggiran yang nemplek tepat di pojok perlintasan sebidang kereta api Dupak Magersari, sambil meracik kopi sasetan pesanan seorang lelaki tua dengan tatapan waspada bak pendekar pejuang kemerdekaan. “Kalau kereta lewat, kami harus siap-siap. Meski sudah biasa, tapi tetap waspada,” sambung pria muda yang enggan menyebut nama lengkapnya itu. Ia minta cukup dipanggil “Cak Yus” saja. Meski tak pernah ada tragedi kecelakaan di area rel kereta Dupak Magersari, tapi Cak Yus kadang tetap merasa was-was.

Warung kopi Cak Yus di pojok perlintasan sebidang kereta Jl. Raya Dupak | Foto: tatkala.co/Jaswan

Saya menyambangi pasar ekstrem yang terletak tak jauh dari Pasar Turi itu pada Minggu pagi yang ramai tanpa disengaja. Tujuan saya sebenarnya adalah pasar loak di dekat gedung DPRD Provinsi Jawa Timur. Saat melintas di Jl. Raya Dupak menuju Jl. Kemayoran Baru, saat tepat di depan mulut terowongan kereta api (yang di atasnya berdiri bangunan pertokoan), saya melihat railway market ala Surabaya itu sedang sibuk. Jadilah saya memarkir motor di depan warung kopi Cak Yus—dan segera memesan teh anget. Saya duduk dikursi kayunya yang tua dan menyalakan sebatang rokok.

Pasar masih ramai. Terlihat para pedagang saling berdesakan dalam arti yang sesungguhnya di pinggir jalur kereta. Jarak lapak—yang kebanyakan beratap terpal rombeng itu—dan rel kereta hanya sepelemparan ludah. Sangat dekat. Tak ada pagar pula. Mereka menjual buah, ikan, sayur-mayur, bumbu dapur, makanan, hingga pakaian, tak ada beda dengan pasar pada umumnya.

“Gorangan, Mas. Seribuan,” seorang ibu limapuluhan menawarkan dagangannya kepada saya. Saya mendekat dan memintanya membungkus dua tahu isi dan dua tempe menjes—atau tempe gembus—yang populer di Surabaya. “Empat ribu,” tagihnya.

“Sudah lama jualan di sini, Bu?” tanya saya sesaat setelah membayar.

“Sudah, Mas,” jawabnya, singkat dan datar. Ia tak menyebutkan berapa lama. Pokoknya sudah lama. Saya mengucapkan terima kasih, tak lagi melanjutkan bertanya. Tak jauh dari tempat lapak jualannya, saya melihat tubuh seekor tikus hancur tak berdaya, terlindas roda kereta. Tampaknya kejadian nahas itu baru saja terjadi. Darah tikus itu terlihat masih segar. Ah, mimpi apa ia semalam?

***

PASAR tradisional Dupak Magersari ini sering dijuluki “pasar ekstrem” oleh beberapa orang karena letaknya yang tak biasa. Kabarnya, pasar yang cukup beradrenalin ini sudah ada sejak 1970-an. Tak terang betul bagaimana pasar ini bermula. Ia seperti ada begitu saja, tumbuh secara alami, sebagaimana pasar templek pada umumnya. Mungkin awalnya hanya satu-dua pedagang yang jualan, sampai kini ada puluhan pedagang yang menjalar hampir 100 meter di kanan-kiri rel kereta.

“Lapak-lapak ini kebanyakan ditempati secara turun-temurun. Ada juga yang berganti orang karena berhenti jualan,” terang lelaki dempal berlogat Madura sambil mengisap rokok ilegal yang duduk di samping saya di kursi panjang warung kopi Cak Yus. Ia juga memesan teh anget. Mendengar informasi itu saya manggut-manggut saja.

Seorang penjual ikan di pasar tradisional Dupak Magersari, pasar yang berada di pinggir rel kereta di dekat Stasiun Pasar Turi, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan

Setiap pagi, sejak sebelum subuh para pedagang sudah berdatangan ke pasar ini. Tapi puncak keramaiannya terjadi sekitar pukul 5 sampai 7 pagi. Pukul 8 ke atas penjual sudah bersiap menutup lapak. Dan sejak pasar dibuka sampai bongkaran, setidaknya ada empat kereta yang melintas—yang jarak waktunya berdekatan, tak sampai 10 menit. Rata-rata penjual dan pembeli di pasar ini sudah hafal kapan kereta akan melintas.

Dan lihatlah, sesaat setelah saya menggigit tempe menjes yang gurih dan empuk, sirene peringatan kembali terdengar. Petugas di perlintasan sebidang yang membelah Jl. Raya Dupak itu berjaga dengan dingin dan ketus. Kendaraan berhenti seketika, mengular di depan pintu lintasan, tak ada yang berani menerobos—belajar dari yang sudah-sudah, pintu lintasan kereta telah banyak mencabut nyawa. Ini protokol yang telah diamanatkan UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Barangsiapa berani melanggar, siap-siap tidur di penjara paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah)—atau yang terburuk, mati mengenaskan.

Kereta api Jayakarta membelah Pasar Dupak Magersari pagi pagi yang semarak | Foto: tatkala.co/Jaswan

Jayakarta melintas pelan dengan suara peringatan panjang, bergema, dan berulang. Siapa pun dan apa pun yang berada di lintasannya harus menjauh. Kalau tidak, maka siap-siap bernasib seperti tikus yang malang itu—meski kereta jurusan Gubeng Surabaya-Pasar Senen itu hanya berjalan pelan. Maka saat kereta itu melintas, semua orang patuh dan tahu diri. Pada saat itulah, saya menyaksikan peristiwa yang mengesankan sekaligus ironis. Mengesankan karena itu pemandangan yang baru pertama kali saya lihat dan jarang ada di tempat lain; ironis sebab mengetahui bahwa di tengah gemerlap Kota Surabaya masih berlangsung adegan semacam ini—bahwa demi menyambung hidup, orang-orang ini harus melanggar aturan dan menantang bahaya.

“Mau bagaimana lagi, Mas, harga sewa kios di Pasar Turi atau di Pusat Grosir Surabaya tidak dapat kami jangkau,” Cak Yus berkata. “Sedangkan satu-satunya tempat yang strategis untuk dijadikan pasar rakyat di daerah ini ya cuma di sini,” seorang lelaki tua menimpali sembari mengeluarkan sebatang kretek dari bungkusnya. Saya menyeruput teh yang tak lagi hangat.

***

NAMUN, apa yang dilakukan warga Jepara di lintasan kereta ini jelas praktik ilegal, menyalahi UU Perkeretaapian. Hukumannya lumayan: 3 bulan kurungan atau denda paling banyak Rp15 juta, sebagaimana bunyi pasal 199 UU Nomor 23 Tahun 2007. Pihak KAI mengaku sudah berkali-kali mengimbau dan meperingatkan, tapi warga penjual dan pembeli tetap bergeming. Alasannya, seperti kata Cak Yus, bahwa di bantaran rel inilah mereka menggantungkan hidup; ini ladang sekaligus mall bagi mereka.

Seorang petugas menyisir lintasan kereta di Pasar Dupak Magersari sebelum kereta melintas | Foto: tatkala.co/Jaswan

Tak perlu banyak modal untuk dapat berjualan di pasar ini. Pun tak sampai menguras kantong untuk mendapatkan barang-barangnya. Untuk itu penjual dan pembeli sebisa mungkin ingin mempertahankan pasar yang sudah ada sejak setengah abad lalu itu. Mungkin relokasi—atau penggusuran paksa—bukan solusi yang baik, tapi penataan partisipatif yang serius bisa jadi jalan keluar yang masuk akal daripada membiarkannya tetap “liar” dan tanpa pengawasan. Kalau Mae Klong Railway Market bisa, kenapa Dupak Magersari tidak?

Walakin, tampaknya pemerintah setempat lebih suka “menelantarkannya” sambil menyebutnya sebagai destinasi kota daripada menatanya dengan sungguh-sungguh. Pada 2023, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan tidak bisa melakukan tindakan terhadap pedagang di Pasar Dupak Magersari sebab itu wilayah KAI. “Kalau wali kota menindak tapi KAI bilang nggak apa-apa, ya nggak mungkin. Wong KAI meneng ae (KAI diam saja),” kata Eri kepada detikjatim.

Indonesia memang belum selesai dengan persoalan semacam ini. Saling limpah-melimpahkan persoalan kepada pihak lain seperti tak pernah berakhir. Bertahun-tahun pemerintah berusaha menangani masalah dengan undang-undang ini, kebijakan itu, program ini, atau peraturan itu. Beberapa berhasil, meski tak sedikit pula yang justru menimbulkan masalah baru.

Pasar Dupak Magersari sudah mulai sepi | Foto: tatkala.co/Jaswan

Di luar semua itu, dengan agak berlebihan saya menyebut Pasar Dupak Magersari sebagai bentuk perlawanan terhadap keteraturan modernitas yang menggerogoti Surabaya. Ia anti-mainstream. Ia meniupkan napas kehidupan yang manusiawi pada tubuh kota metropolitan yang sudah nyaris individualistis. Dupak Magersari tak molek, tak genit, tak banyak hiasan, apa adanya di tengah gelora manipulatif pasar modern. Tak terlalu jelas berapa banyak uang yang beredar di sana. Tapi, karena keramaiannya, banyak warga di sekelilingnya yang mengadu untung dan dapat mempertahankan hidup sampai saat ini.

Sebuah kereta muncul dari terowongan dekat Stasiun Pasar Turi, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan

Kereta komputer keluar dari mulut terowongan beberapa menit setelah Jayakarta melintas. Kereta itu membelah Pasar Dupak Magersari yang mulai sepi. Saya berpamitan kepada Cak Yus. Membayar teh anget dan melanjutkan perjalanan ke pasar loak di Jl. Kemayoran Baru—yang juga dijuluki Pasar Maling itu. [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Saat Malam Jatuh di Surabaya Barat
Puspa Sari, Legenda Bus Malam Singaraja-Surabaya, Melaju Sejak 1976
Rujak Cingur Bu Mah, Kuliner Hibrid yang Unik dan Legendaris di Pasar Atom Surabaya
Oase di Tengah Hiruk Pikuk Kota Surabaya
Tags: Jawa Timurkereta apipasarPasar Dupak Magersari SurabayaSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Mamak Pesu Bapak Cemburu” Kembali dengan Sentuhan Baru

Next Post

Bali, Pulau Surga yang Lelah

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Pulau Surga yang Lelah

Bali, Pulau Surga yang Lelah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co