14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Hidayatul Ulum by Hidayatul Ulum
July 13, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Hidayatul Ulum

Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Kujatuhkan setengah jam di bulevar
Demi memungut setengah jam yang lain
Menyusur koridor panel surya
Ke tempat berpijakmu, latar abu-abu berpaving:
Berdiri
Disiram dan menadah cahaya matahari

Sejenak bersemuka
Dimulai dari tolehmu secepat kakiku menuju tiba

Di sela-sela
Ketika jarak hanya sejengkal dan raga tinggal merapat
Sesalku adalah tiada yang kuperbuat

Andai gugup gemetar diri tak meriapi
Andai getar suara tak rintangi
Akan kulewati
Celah-celah kecil yang hanya milidetik itu, menyebut namamu

Waktu makin berjalan
Satu jam memang tak pernah panjang
Setengahnya telah hilang
Maka pada sisa waktu
Mesti kusimpan remah temu
: Sebaik yang kumampu

Siapa yang sadar?
Kuselipkan setengah jam pada saku ingatan
Sebagai kenang-kenangan perjalanan jauh
Juni ke Juli, Juli ke Agustus
Jarak tempuh yang sarat lintas tak lurus

Di ujung waktu
Kaku, terpaku, terpancang kakiku
Tak ikhlas melepas
Makin jauh langkahmu

Tolehan sejenak
Apa yang kau lihat di barat?
Beliku menelanmu bulat-bulat
Dan pertanyaanku … tak menemu jawab

K, 2024-2025 

Aku, Kau, dan Pohon-Pohon

Pada jalan setapak itu,
aku ingin membawamu.
Akan kutunjukkan
riuhnya selokan penuh kecebong
atau mungkin ikan-ikan kecil,
jembatan dengan pagar di satu sisi
yang dirambati tanaman bunga
dengan lebah-lebah mengisapi,
serta jalanan naik samping beringin
yang akar gantungnya berjalin-jalin.

Maukah?
Sambil kita berbincang
tentang kelokan-kelokan hidup yang kita lewati
di luar pertemuan ini.

Hidup menggelar pilihan
dan kita akan tiba di persimpangan
yang sudutnya ditumbuhi ketapang.
Kita bisa menyeberang,
melewatinya,
menuruni beberapa anak tangga,
dan berakhir tiba di suatu pelataran
lantas menuju ke selatan.

Dari sana dapat kau lihat,
bangunan sederhana
tempatku pernah temukan
biji-biji pohon saga
yang kini telah lenyap
entah ke mana.
Selain keputusan,
kadang-kadang
hidup juga mengambil hal berharga, bukan?

Kita tidak akan mampir
karena aku ingin mengajakmu
terus berjalan
hingga kita tiba di taman kecil
dengan pohon beringin lain.

Pada salah satu kursi di sana suatu sore
aku pernah menangisimu,
tetapi cerita itu
bukan tujuanku.
Aku hanya ingin tahu
pohon apa yang paling kau suka?
Hingga tak bisa kau lepas rasa kagum
dalam hatimu
terhadapnya.

Aku suka …
ficus benjamina
pada
taman
museum itu.

Tak pernah bosan ia kukagumi,
kadang sambil duduk menyesap kopi,
mengudap kue muffin mungil
di tengah teriknya hari,
atau mengamati burung-burung
mematuki apa pun.

Cukupkah?

Kita bisa beranjak
kalau kau mau.
Akan kutunjukkan
pohon kenitu favoritku
tepat di pelataran dengan replika candi
tak jauh dari situ.

Mengapa aku suka pohon kenitu?
Oh, ayolah!
Pohonnya berdaun indah,
seperti disepuh emas
bila kau lihat dari bawah.
Kau bisa merasa
jadi orang paling kaya
hanya dengan tengadah kepala.

Jadi,
pohon apa yang paling kau suka?

Beri
tahu
aku
biar
aku
juga
suka
dan
ingat
caramu
berkata-kata.

K, Oktober-November 2024
 

Hujan Hari Keenam—Darinya Puisi Ini Kulahirkan

masih ingatkah hujan hari keenam
pekan pertama bulan terakhir, tahun kemarin?
hujan tak henti-henti, awet sekali.
aku berteduh, bernaung gazebo,
belakang gedung sekolah pascasarjana,
bersembunyi dari ingar-bingar
dan menghadapi keterasingan.

itu bukan rencana awal.

usai dari ruang tata usaha,
aku ingin lift mengantarku ke lantai delapan,
ke suatu ruang tempat aku bisa melihat pelataran
dengan kabut rindu pada retina
dari balik kaca jendela.
tapi antrean padat seperti mencegat,
aku pun mengurungkan niat dan memilih keluar gedung,
tanpa sempat pamit pada ikan-ikan hias di akuarium
yang pernah kutatap dan kukagumi
dalam durasi lama berdiri.

ikan-ikan yang sangat ingin kusapa lagi.

di gazebo, aku banyak memikirkanmu.
tiba-tiba juga ingin tahu,
seperti apa rupa jas hujan yang kau miliki?
apakah bagian punggungnya bergambar penguin?
ataukah seluruh permukaannya berhias motif polkadot?
demi tuhan. aku penasaran. tanpa spesifik alasan.

hujan tak lekas reda dan justru kian menderas curahnya.
ia menarik benang ingatan
tentang nuansa sepotong cerita
karya ray bradbury yang diterjemahkan maggie tiojakin
ke dalam bahasa kita sebagai hujan berkepanjangan,
dan tak dapat kupungkiri, persis yang kurasakan:
dingin menggerayang,
menjejakkan lembap-basah pada pakaian.
makin menggigilkan kau di ingatan.
melekat erat. menggelisahkan.

cuaca yang semuram itu …
aku ingin tahu bagimu.
apa hanya sekadar guyur air yang tak putus
ataukah panggilan renung yang tengah berembus?

dan bila kau bertanya,
apa urgensi
hujan hari keenam kukisahkan?
karena hari itu aku ingin melihatmu,
tapi semesta tak berpihak kepadaku.

maka darinya puisi ini terlahir
akan menyapamu jika kau baca adalah takdir.

K, 2025

Catatan: Puisi ini terinspirasi dari kenangan pribadi penulis serta latar suasana dalam cerpen The Long Rain karya Ray Bradbury yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Maggie Tiojakin dengan judul Hujan Berkepanjangan. 


Fragmen Pertemuan: Letak Demi Letak, Sebelum Kita Berjarak

/1/
di ambang gawang
kita pandang hijau tanah lapang
sesaat sebelum canggung datang
bergelung pada ruang percakapan.

kutatap sejenak rerumputan;
menimbang, tepatkah bila pada hamparnya
kuserah-titipkan gawaiku yang sederhana
sebab tasku jauh di luar jangkauan
dan kau yang dekat, cergas tawarkan bantuan.

tas hitam yang kau bawa,
kuletakkan gawaiku
pada mulutnya yang menganga.

kita,
masih perihal yang sama.

/2/
pada hampar tanah berumput
kau bertanya padaku tentang sudut
tentang kiri atau kanan,
aku bingung memberi jawaban.

kemudian topiku diterbangkan angin,
angin yang menggulung mendung,
mendung yang menutupi gunung,
gunung yang diam-diam aku ingin.

tak apa
memang kita bisa apa?
kita tak punya senjata
bertikai melawan cuaca

kembali berjumpa,
langit kini dan dulu tak ada bedanya.

/3/
di bawah pohon trembesi,
kau tersandung paving tak rata,
ingatanku seketika kembali
pada bait puisi lama kita.

latar hayati,
rerumputan dan tanah,
tempat berpijak tampak basah
tersapu sinar matamu yang tabah.

trembesi,
bila kau tahu namanya trembesi,
apakah kau terkenang sejarahmu sendiri?
di bawahnya aku berdiri: meminta kanopi.

sendiri,
tak sepertimu yang (pernah di sini) dikelilingi.

/4/
adalah taman dengan serumpun pohon pisang
atau mekar bunga pohon kamboja
yang tidak aku dekati, lantaran
serupa senyum yang kau sebut, tak leluasa.

banyak senyum dan tawa
kau bagi pada muram cuaca
sementara gelebah bertingkah
pada hatiku yang dirundung tanya
: bagaimana jika hari itu terakhir kalinya?

bertemu denganmu
berdiri di hadapanmu
berbicara denganmu
berjalan di sampingmu
tertawa denganmu
tersentuh kebaikanmu

semoga tidak
sungguh, semoga tidak

ingatkah?
sebelum sikap yang pemungkas
kau sempat melarangku melihat atas
padahal itu hanyalah burung-burung melintas.

aku tahu kau ingin aku menatapmu
oh, tepatnya lingkar pandang itu
tapi apa kau juga tahu keinginanku?
sekadar kau mengingat letak demi letak
atau jejak demi jejak, sebelum kita berjarak

K, 2025 

Barat Daya

Sebelum kau disembunyikannya,
sederet pohon menyekat kita.

Di tanganmu rahasia,
kenangan lama berkarang bunga;
melindap sekaligus menyingkap
misteri hari, kita pernah bersitatap.

Barat daya, sebelum kau ke sana
pertanyaanmu bernada cepat
seolah tanya esok-lusa
kepadaku, tak akan lagi sempat.

Tahukah kau, aku tergeragap?

Waktu menyentak,
pikiranku mengilat,
percakapan kita seperti kereta,
melaju di rel yang jauh
jarak antarbantalannya.

Referensi kota yang tak kuterima
sebab tak familiar pada segala
jalan dan wilayahnya
hingga kota yang kuanggap dekat
agar jarak kian merapat;
tawa kita adalah kebahagiaan singkat.

Kemudian penghabisan,
sebelum pamit terlontar
dengan santun kau titip salam
—sudah,
sudah kusampaikan—

dan meski tidak beliau katakan, aku tahu
Bapak amat terkesan kepadamu.

K, 2025 

Penulis: Hidayatul Ulum
Editor: Adnyana Ole


[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Selasar Sebelum Selasa
Puisi-puisi Ahmad Fatoni | Sun Rise di Bromo
Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur
Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Menyesap Manis Perih Hidup
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bajak, Bijak, Bajik dalam Pariwisata

Next Post

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Hidayatul Ulum

Hidayatul Ulum

merupakan alumni Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Puisi-puisinya telah dimuat di sejumlah media, antara lain SIP Publishing, Bacapetra.co, Basabasi.co, Kompas.id, Magrib.id, Majalahelipsis.id, Pronesiata.id, Redaksi Marewai, dan Cantante.id. Perempuan yang akrab disapa Hida ini dapat dihubungi melalui akun Instagram: @hida_adenanthera.

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co