24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Hidayatul Ulum by Hidayatul Ulum
July 13, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Hidayatul Ulum

Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Kujatuhkan setengah jam di bulevar
Demi memungut setengah jam yang lain
Menyusur koridor panel surya
Ke tempat berpijakmu, latar abu-abu berpaving:
Berdiri
Disiram dan menadah cahaya matahari

Sejenak bersemuka
Dimulai dari tolehmu secepat kakiku menuju tiba

Di sela-sela
Ketika jarak hanya sejengkal dan raga tinggal merapat
Sesalku adalah tiada yang kuperbuat

Andai gugup gemetar diri tak meriapi
Andai getar suara tak rintangi
Akan kulewati
Celah-celah kecil yang hanya milidetik itu, menyebut namamu

Waktu makin berjalan
Satu jam memang tak pernah panjang
Setengahnya telah hilang
Maka pada sisa waktu
Mesti kusimpan remah temu
: Sebaik yang kumampu

Siapa yang sadar?
Kuselipkan setengah jam pada saku ingatan
Sebagai kenang-kenangan perjalanan jauh
Juni ke Juli, Juli ke Agustus
Jarak tempuh yang sarat lintas tak lurus

Di ujung waktu
Kaku, terpaku, terpancang kakiku
Tak ikhlas melepas
Makin jauh langkahmu

Tolehan sejenak
Apa yang kau lihat di barat?
Beliku menelanmu bulat-bulat
Dan pertanyaanku … tak menemu jawab

K, 2024-2025 

Aku, Kau, dan Pohon-Pohon

Pada jalan setapak itu,
aku ingin membawamu.
Akan kutunjukkan
riuhnya selokan penuh kecebong
atau mungkin ikan-ikan kecil,
jembatan dengan pagar di satu sisi
yang dirambati tanaman bunga
dengan lebah-lebah mengisapi,
serta jalanan naik samping beringin
yang akar gantungnya berjalin-jalin.

Maukah?
Sambil kita berbincang
tentang kelokan-kelokan hidup yang kita lewati
di luar pertemuan ini.

Hidup menggelar pilihan
dan kita akan tiba di persimpangan
yang sudutnya ditumbuhi ketapang.
Kita bisa menyeberang,
melewatinya,
menuruni beberapa anak tangga,
dan berakhir tiba di suatu pelataran
lantas menuju ke selatan.

Dari sana dapat kau lihat,
bangunan sederhana
tempatku pernah temukan
biji-biji pohon saga
yang kini telah lenyap
entah ke mana.
Selain keputusan,
kadang-kadang
hidup juga mengambil hal berharga, bukan?

Kita tidak akan mampir
karena aku ingin mengajakmu
terus berjalan
hingga kita tiba di taman kecil
dengan pohon beringin lain.

Pada salah satu kursi di sana suatu sore
aku pernah menangisimu,
tetapi cerita itu
bukan tujuanku.
Aku hanya ingin tahu
pohon apa yang paling kau suka?
Hingga tak bisa kau lepas rasa kagum
dalam hatimu
terhadapnya.

Aku suka …
ficus benjamina
pada
taman
museum itu.

Tak pernah bosan ia kukagumi,
kadang sambil duduk menyesap kopi,
mengudap kue muffin mungil
di tengah teriknya hari,
atau mengamati burung-burung
mematuki apa pun.

Cukupkah?

Kita bisa beranjak
kalau kau mau.
Akan kutunjukkan
pohon kenitu favoritku
tepat di pelataran dengan replika candi
tak jauh dari situ.

Mengapa aku suka pohon kenitu?
Oh, ayolah!
Pohonnya berdaun indah,
seperti disepuh emas
bila kau lihat dari bawah.
Kau bisa merasa
jadi orang paling kaya
hanya dengan tengadah kepala.

Jadi,
pohon apa yang paling kau suka?

Beri
tahu
aku
biar
aku
juga
suka
dan
ingat
caramu
berkata-kata.

K, Oktober-November 2024
 

Hujan Hari Keenam—Darinya Puisi Ini Kulahirkan

masih ingatkah hujan hari keenam
pekan pertama bulan terakhir, tahun kemarin?
hujan tak henti-henti, awet sekali.
aku berteduh, bernaung gazebo,
belakang gedung sekolah pascasarjana,
bersembunyi dari ingar-bingar
dan menghadapi keterasingan.

itu bukan rencana awal.

usai dari ruang tata usaha,
aku ingin lift mengantarku ke lantai delapan,
ke suatu ruang tempat aku bisa melihat pelataran
dengan kabut rindu pada retina
dari balik kaca jendela.
tapi antrean padat seperti mencegat,
aku pun mengurungkan niat dan memilih keluar gedung,
tanpa sempat pamit pada ikan-ikan hias di akuarium
yang pernah kutatap dan kukagumi
dalam durasi lama berdiri.

ikan-ikan yang sangat ingin kusapa lagi.

di gazebo, aku banyak memikirkanmu.
tiba-tiba juga ingin tahu,
seperti apa rupa jas hujan yang kau miliki?
apakah bagian punggungnya bergambar penguin?
ataukah seluruh permukaannya berhias motif polkadot?
demi tuhan. aku penasaran. tanpa spesifik alasan.

hujan tak lekas reda dan justru kian menderas curahnya.
ia menarik benang ingatan
tentang nuansa sepotong cerita
karya ray bradbury yang diterjemahkan maggie tiojakin
ke dalam bahasa kita sebagai hujan berkepanjangan,
dan tak dapat kupungkiri, persis yang kurasakan:
dingin menggerayang,
menjejakkan lembap-basah pada pakaian.
makin menggigilkan kau di ingatan.
melekat erat. menggelisahkan.

cuaca yang semuram itu …
aku ingin tahu bagimu.
apa hanya sekadar guyur air yang tak putus
ataukah panggilan renung yang tengah berembus?

dan bila kau bertanya,
apa urgensi
hujan hari keenam kukisahkan?
karena hari itu aku ingin melihatmu,
tapi semesta tak berpihak kepadaku.

maka darinya puisi ini terlahir
akan menyapamu jika kau baca adalah takdir.

K, 2025

Catatan: Puisi ini terinspirasi dari kenangan pribadi penulis serta latar suasana dalam cerpen The Long Rain karya Ray Bradbury yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Maggie Tiojakin dengan judul Hujan Berkepanjangan. 


Fragmen Pertemuan: Letak Demi Letak, Sebelum Kita Berjarak

/1/
di ambang gawang
kita pandang hijau tanah lapang
sesaat sebelum canggung datang
bergelung pada ruang percakapan.

kutatap sejenak rerumputan;
menimbang, tepatkah bila pada hamparnya
kuserah-titipkan gawaiku yang sederhana
sebab tasku jauh di luar jangkauan
dan kau yang dekat, cergas tawarkan bantuan.

tas hitam yang kau bawa,
kuletakkan gawaiku
pada mulutnya yang menganga.

kita,
masih perihal yang sama.

/2/
pada hampar tanah berumput
kau bertanya padaku tentang sudut
tentang kiri atau kanan,
aku bingung memberi jawaban.

kemudian topiku diterbangkan angin,
angin yang menggulung mendung,
mendung yang menutupi gunung,
gunung yang diam-diam aku ingin.

tak apa
memang kita bisa apa?
kita tak punya senjata
bertikai melawan cuaca

kembali berjumpa,
langit kini dan dulu tak ada bedanya.

/3/
di bawah pohon trembesi,
kau tersandung paving tak rata,
ingatanku seketika kembali
pada bait puisi lama kita.

latar hayati,
rerumputan dan tanah,
tempat berpijak tampak basah
tersapu sinar matamu yang tabah.

trembesi,
bila kau tahu namanya trembesi,
apakah kau terkenang sejarahmu sendiri?
di bawahnya aku berdiri: meminta kanopi.

sendiri,
tak sepertimu yang (pernah di sini) dikelilingi.

/4/
adalah taman dengan serumpun pohon pisang
atau mekar bunga pohon kamboja
yang tidak aku dekati, lantaran
serupa senyum yang kau sebut, tak leluasa.

banyak senyum dan tawa
kau bagi pada muram cuaca
sementara gelebah bertingkah
pada hatiku yang dirundung tanya
: bagaimana jika hari itu terakhir kalinya?

bertemu denganmu
berdiri di hadapanmu
berbicara denganmu
berjalan di sampingmu
tertawa denganmu
tersentuh kebaikanmu

semoga tidak
sungguh, semoga tidak

ingatkah?
sebelum sikap yang pemungkas
kau sempat melarangku melihat atas
padahal itu hanyalah burung-burung melintas.

aku tahu kau ingin aku menatapmu
oh, tepatnya lingkar pandang itu
tapi apa kau juga tahu keinginanku?
sekadar kau mengingat letak demi letak
atau jejak demi jejak, sebelum kita berjarak

K, 2025 

Barat Daya

Sebelum kau disembunyikannya,
sederet pohon menyekat kita.

Di tanganmu rahasia,
kenangan lama berkarang bunga;
melindap sekaligus menyingkap
misteri hari, kita pernah bersitatap.

Barat daya, sebelum kau ke sana
pertanyaanmu bernada cepat
seolah tanya esok-lusa
kepadaku, tak akan lagi sempat.

Tahukah kau, aku tergeragap?

Waktu menyentak,
pikiranku mengilat,
percakapan kita seperti kereta,
melaju di rel yang jauh
jarak antarbantalannya.

Referensi kota yang tak kuterima
sebab tak familiar pada segala
jalan dan wilayahnya
hingga kota yang kuanggap dekat
agar jarak kian merapat;
tawa kita adalah kebahagiaan singkat.

Kemudian penghabisan,
sebelum pamit terlontar
dengan santun kau titip salam
—sudah,
sudah kusampaikan—

dan meski tidak beliau katakan, aku tahu
Bapak amat terkesan kepadamu.

K, 2025 

Penulis: Hidayatul Ulum
Editor: Adnyana Ole


[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Selasar Sebelum Selasa
Puisi-puisi Ahmad Fatoni | Sun Rise di Bromo
Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur
Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Menyesap Manis Perih Hidup
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bajak, Bijak, Bajik dalam Pariwisata

Next Post

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Hidayatul Ulum

Hidayatul Ulum

merupakan alumni Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Puisi-puisinya telah dimuat di sejumlah media, antara lain SIP Publishing, Bacapetra.co, Basabasi.co, Kompas.id, Magrib.id, Majalahelipsis.id, Pronesiata.id, Redaksi Marewai, dan Cantante.id. Perempuan yang akrab disapa Hida ini dapat dihubungi melalui akun Instagram: @hida_adenanthera.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co