3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bajak, Bijak, Bajik dalam Pariwisata

Chusmeru by Chusmeru
July 13, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

INDUSTRI pariwisata yang digadang-gadang banyak negara menjadi sumber devisa tak selamanya berjalan mulus. Banyak masalah yang dihadapi untuk mengembangkan pariwisata. Dan banyak pula masalah yang ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata.

Masalah pariwisata di setiap negara berbeda. Begitu pun di Indonesia, setiap daerah memiliki masalah yang berbeda. Namun secara umum, masalah pembangunan dan pengembangan pariwisata di Indonesia tidak jauh dari isu kerusakan dan perusakan lingkungan, pelanggaran aturan, keamanan dan keselamatan wisatawan, serta perilaku masyarakat dan wisatawan.

Isu kerusakan dan perusakan lingkungan sebagai dampak pembangunan pariwisata bukan barang baru di Tanah Air. Sudah sejak awal tahun 1980-an peringatan akan terjadinya kerusakan lingkungan sudah disuarakan oleh kelompok-kelompok kritis. Akan tetapi kerusakan dan perusakan terus saja terjadi dengan dalih mendongkrak devisa dan pendapatan asli daerah.

Persoalan keamanan dan keselamatan wisatawan menjadi isu yang sensitif dalam pariwisata. Berulang kali terjadi musibah dan tragedi yang menimpa wisatawan. Kecelakaan di jalur transportasi darat, laut, dan udara kerap terjadi, baik karena faktor teknis maupun kesalahan manusia. Jaminan keamanan dan keselamatan wisatawan dipertanyakan.

Bom yang menguncang Bali dua kali meruntuhkan industri pariwisata. Bukan hanya terjadi penurunan angka kunjungan, namun juga mencoreng citra pariwisata Indonesia di mata dunia. Apalagi jumlah korban meninggal cukup banyak. Bahkan satu orang pun wisatawan yang meninggal akan berimplikasi luas, seperti kasus kematian wisatawan asal Brasil Juliana Marins yang meninggal dalam pendakian di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Hubungan antara Indonesia dan Brasil sedikit tegang, standar keamanan dan keselamatan wisatawan dipertanyakan.

Perilaku brutal wisatawan asing di Indonesia, utamanya Bali; juga menjadi persoalan serius dalam pengembangan pariwisata belakangan ini. Seolah Bali sudah tidak aman dan nyaman lagi bagi wisatawan. Apalagi wisatawan saling bunuh di destinasi wisata yang dikenal dengan keramahtamahannya ini. Bali seakan menjadi sarang gangster, ada pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan peredaran narkotika; yang celakanya justru melibatkan wisatawan asing.

Bajak dan Gusur

Selain objek wisata sejarah dan budaya, Indonesia sangat mengandalkan keindahan alam pada industri pariwisatanya. Sayangnya, keindahan alam yang dimiliki itu bukan dipelihara dengan baik, tetapi justru dirusak, dibajak, dan digusur untuk kepentingan pariwisata. Ribuan hektare sawah hilang atas nama infrastuktur pariwisata.

Pariwisata menjadi rezim yang mampu melakukan apa pun terhadap tanah milik rakyat. Pengembangan pariwisata dalam Kawasan Ekonomi Khusus maupun Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) kerap dituding sebagai pihak yang membajak dan menggusur tanah rakyat. Seperti dilansir Koalisi Front Rakyat Lawan PSN terkait proyek KEK Mandalika di Nusa Tenggara Barat. Penggusuran dan tanah rakyat yang dibajak tidak jarang melibatkan tangan-tangan penguasa.

Menurut Koalisi tersebut, KEK Mandalika telah menggusur lahan dan tempat usaha warga lokal. Banyak masyarakat yang kehilangan tanahnya, nelayan kehilangan aksesnya ke laut dan kehilangan mata pencaharian para pedagang lokal. “Penggusuran ini adalah cerminan dari pelaksanaan pembangunan yang dilabeli oleh PSN, KEK yang terjadi di berbagai daerah. Proyek-proyek ini kental dengan praktek-praktek manipulasi, penggusuran dan perampasan tanah, serta tindakan intimidasi dan teror terhadap warga terdampak,” tulis Koalisi (betahita.id, 03/07/2025).

Kasus serupa terjadi KSPN Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Labuhan Bajo dieksploitasi tanpa melibatkan partisipasi masyarakat. Hal itu diungkapkan Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA) dalam pernyataan sikap yang dimuat dalam siaran pers WALHI (05/08/2022). Menurut Komite itu, PSN sebagai jalur cepat pembangunan di Labuan Bajo, senantiasa diiringi dengan pendekatan represif serta membangun kawasan wisata premium Labuan Bajo tanpa melibatkan partisipasi masyarakat. Melalui skema pembebasan dan klaim kawasan hutan, pembangunan menggusur tanah-tanah dan kebun masyarakat di Labuan Bajo. 

Tidak hanya secara represif, pembajakan dan penggusuran tanah rakyat untuk kepentingan pariwisata juga dilakukan secara persuasif dan bujuk rayu, baik yang dilakukan oleh investor maupun wisatawan asing yang berbisnis di Indonesia. Tidak ada paksaan kekuasaan, namun iming-iming uang miliaran rupiah dapat membuat mental rakyat jatuh dan pasrah menjual tanahnya.

Sebuah berita kisah yang ditulis BBC News Indonesia (03/12/2024) menggambarkan betapa warga negara asing dengan bujuk rayunya menguasai tanah dan lahan di Bali. Bahkan seorang warga di Gianyar pernah didatangi warga negara asing yang menawar rumahnya, padahal rumahnya tidak akan dijual. Pariwisata telah membuat tanah dan lahan menjadi ajang perebutan, penggusuran, dan pembajakan.

Kebijakan Tak Bijak

Peraturan maupun produk perundangan yang mengatur pariwisata di Indonesia begitu banyak. Namun aturan itu kadang menjadi macan ompong, tak memilki kekuatan untuk dilaksanakan. Malahan, kebijakan di bidang pariwisata kadang tak bijak; lantaran dilanggar, diabaikan, atau didiamkan. Pelanggaran tata ruang misalnya, menjadi persoalan pariwisata yang tak kunjung menemukan solusi yang bijak.

Respons terhadap pelanggaran tata ruang pun tak seragam. Padahal aturan terkait tata ruang semestinya berlaku tanpa pengecualian. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, misalnya, dengan tegas merespons kasus taman wisata rekreasi Hibisc Fantasy Puncak, Bogor. Dedi Mulyadi memerintahkan Satpol PP untuk membongkar objek wisata itu (prolegal.id, 17/03/2025).

Pembongkaran ini dilakukan setelah ditemukan pelanggaran izin operasional serta dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh taman wisata tersebut. Pembangunannya diduga menjadi salah satu pemicu banjir bandang yang melanda kawasan Puncak beberapa hari sebelumnya, mengakibatkan kerusakan fasilitas umum, tanah longsor, dan korban jiwa. 

Sementara pelanggaran tata ruang bisnis pariwisata di Bali tidak begitu jelas responsnya. Kadang tegas, kadang ingin tegas, kadang pula tak tegas. Padahal jelas-jelas ada kebijakan yang mengatur tata ruang pariwisata. Namun kebijakan itu menjadi tak bijak bila pelanggaran itu tidak disertai tindakan tegas pemerintah.

Apalagi bila terkesan terjadi pembiaran, seperti diungkapkan I Made Arya Utama, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Udayana. Praktik pembiaran membuat pelanggaran terjadi berulang. Keberanian seseorang membangun tanpa izin, misalnya, bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena rasa aman yang ditimbulkan oleh pembiaran dari aparat ( Balipost.com, 30/06/2025).

Bajik Moral dan Perilaku

Bajik dalam pariwisata merujuk pada moralitas dan perilaku seluruh komponen pariwisata. Moralitas aparat menjadi kunci penting mengatasi pembajakan tanah rakyat maupun pelanggaran tata ruang dalam bisnis pariwisata.

Diperlukan kebajikan dari pembuat kebijakan. Isu penguasaan pulau di Bali dan NTB oleh orang asing yang dihembuskan Menteri ATR/BTN sempat menimbulkan polemik. Terlepas apakah yang terjadi penguasaan atau kepemilikan, kebijakan yang melatarbelakangi isu tersebut tentulah tidak bajik jika berujung pada kerugian yang diderita rakyat. Moralitas dan nasionalisme dipertaruhkan bila orang asing begitu mudah menguasai dan memiliki lahan untuk kepentingan pariwisata. Seakan tanah rakyat dan negara ini begitu mudah dibajak orang asing.

Kebajikan sungguh diperlukan dalam industri pariwisata. Bali sebagai destinasi wisata dunia misalnya, sedang mengalami krisis kebajikan. Bali tak lagi dianggap sakral, karena perilaku wisatawan yang brutal. Bali yang dulu tenang dan nyaman, kini dinodai oleh ulah segelintir wisatawan. Mereka menjadi tamu yang justru melukai tuan rumah yang menyambut mereka dengan suka cita. Seolah perilaku segelintir wisatawan itu tak lagi menunjukkan kebajikan.

Setiap orang tidak banyak dituntut berlebihan dalam kebajikan, karena kebajikan dalam pariwisata dapat dimulai dari yang sederhana. Ukuran kebajikan adalah moralitas dan tindakan. Tim relawan yang berhasil mengangkat jenazah wisatawan Brasil Juliana Marins yang jatuh ke jurang Gunung Rinjani adalah sebuah kebajikan. Meskipun nyawa wisatawan tak tertolong, namun kerja keras tim relawan bernilai moral dan bajik dalam industri pariwisata.

Sesungguhnya tidak sedikit wisatawan mancanegara yang berbuat bajik. Mereka yang mengikuti voluntary tourism bukanlah wisatawan “ecek-ecek” yang hanya bertelanjang dada di pantai dan jalanan, atau mabuk di tempat hiburan. Mereka adalah wisatawan yang bajik, melakukan kegiatan sosial di destinasi wisata, seperti program kesehatan, pendidikan, konservasi lingkungan, maupun bersih-bersih sampah di objek wisata.

Pembajakan tanah rakyat untuk kepentingan pariwisata dapat berawal dari kebijakan yang kurang bajik. Padahal berbuat bajik dalam pariwisata sebenarnya tidak sulit. Jangan bajak tanah rakyat secara paksa dengan dalih pariwisata. Kebijakan mesti berpihak pada masyarakat lokal. Dan, hormati nilai serta budaya penduduk setempat. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

“Micro Tourism”: Berwisata Demi Efisiensi
Promosi Produk Wisata Manipulatif, Bisa Saja
“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang
“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata
“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata
“Pseudotourism”: Pepesan Kosong dalam Pariwisata
Desa Wisata, Ujung Tombak yang Tumpul?
Waspada “Cancel Culture” di Sektor Pariwisata
Tags: ilmu pariwisataPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Road To Singaraja Literary Festival  2025:  Membangun Kota yang Berpikir dengan Festival yang Intim

Next Post

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co