3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bajak, Bijak, Bajik dalam Pariwisata

Chusmeru by Chusmeru
July 13, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

INDUSTRI pariwisata yang digadang-gadang banyak negara menjadi sumber devisa tak selamanya berjalan mulus. Banyak masalah yang dihadapi untuk mengembangkan pariwisata. Dan banyak pula masalah yang ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata.

Masalah pariwisata di setiap negara berbeda. Begitu pun di Indonesia, setiap daerah memiliki masalah yang berbeda. Namun secara umum, masalah pembangunan dan pengembangan pariwisata di Indonesia tidak jauh dari isu kerusakan dan perusakan lingkungan, pelanggaran aturan, keamanan dan keselamatan wisatawan, serta perilaku masyarakat dan wisatawan.

Isu kerusakan dan perusakan lingkungan sebagai dampak pembangunan pariwisata bukan barang baru di Tanah Air. Sudah sejak awal tahun 1980-an peringatan akan terjadinya kerusakan lingkungan sudah disuarakan oleh kelompok-kelompok kritis. Akan tetapi kerusakan dan perusakan terus saja terjadi dengan dalih mendongkrak devisa dan pendapatan asli daerah.

Persoalan keamanan dan keselamatan wisatawan menjadi isu yang sensitif dalam pariwisata. Berulang kali terjadi musibah dan tragedi yang menimpa wisatawan. Kecelakaan di jalur transportasi darat, laut, dan udara kerap terjadi, baik karena faktor teknis maupun kesalahan manusia. Jaminan keamanan dan keselamatan wisatawan dipertanyakan.

Bom yang menguncang Bali dua kali meruntuhkan industri pariwisata. Bukan hanya terjadi penurunan angka kunjungan, namun juga mencoreng citra pariwisata Indonesia di mata dunia. Apalagi jumlah korban meninggal cukup banyak. Bahkan satu orang pun wisatawan yang meninggal akan berimplikasi luas, seperti kasus kematian wisatawan asal Brasil Juliana Marins yang meninggal dalam pendakian di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Hubungan antara Indonesia dan Brasil sedikit tegang, standar keamanan dan keselamatan wisatawan dipertanyakan.

Perilaku brutal wisatawan asing di Indonesia, utamanya Bali; juga menjadi persoalan serius dalam pengembangan pariwisata belakangan ini. Seolah Bali sudah tidak aman dan nyaman lagi bagi wisatawan. Apalagi wisatawan saling bunuh di destinasi wisata yang dikenal dengan keramahtamahannya ini. Bali seakan menjadi sarang gangster, ada pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan peredaran narkotika; yang celakanya justru melibatkan wisatawan asing.

Bajak dan Gusur

Selain objek wisata sejarah dan budaya, Indonesia sangat mengandalkan keindahan alam pada industri pariwisatanya. Sayangnya, keindahan alam yang dimiliki itu bukan dipelihara dengan baik, tetapi justru dirusak, dibajak, dan digusur untuk kepentingan pariwisata. Ribuan hektare sawah hilang atas nama infrastuktur pariwisata.

Pariwisata menjadi rezim yang mampu melakukan apa pun terhadap tanah milik rakyat. Pengembangan pariwisata dalam Kawasan Ekonomi Khusus maupun Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) kerap dituding sebagai pihak yang membajak dan menggusur tanah rakyat. Seperti dilansir Koalisi Front Rakyat Lawan PSN terkait proyek KEK Mandalika di Nusa Tenggara Barat. Penggusuran dan tanah rakyat yang dibajak tidak jarang melibatkan tangan-tangan penguasa.

Menurut Koalisi tersebut, KEK Mandalika telah menggusur lahan dan tempat usaha warga lokal. Banyak masyarakat yang kehilangan tanahnya, nelayan kehilangan aksesnya ke laut dan kehilangan mata pencaharian para pedagang lokal. “Penggusuran ini adalah cerminan dari pelaksanaan pembangunan yang dilabeli oleh PSN, KEK yang terjadi di berbagai daerah. Proyek-proyek ini kental dengan praktek-praktek manipulasi, penggusuran dan perampasan tanah, serta tindakan intimidasi dan teror terhadap warga terdampak,” tulis Koalisi (betahita.id, 03/07/2025).

Kasus serupa terjadi KSPN Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Labuhan Bajo dieksploitasi tanpa melibatkan partisipasi masyarakat. Hal itu diungkapkan Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA) dalam pernyataan sikap yang dimuat dalam siaran pers WALHI (05/08/2022). Menurut Komite itu, PSN sebagai jalur cepat pembangunan di Labuan Bajo, senantiasa diiringi dengan pendekatan represif serta membangun kawasan wisata premium Labuan Bajo tanpa melibatkan partisipasi masyarakat. Melalui skema pembebasan dan klaim kawasan hutan, pembangunan menggusur tanah-tanah dan kebun masyarakat di Labuan Bajo. 

Tidak hanya secara represif, pembajakan dan penggusuran tanah rakyat untuk kepentingan pariwisata juga dilakukan secara persuasif dan bujuk rayu, baik yang dilakukan oleh investor maupun wisatawan asing yang berbisnis di Indonesia. Tidak ada paksaan kekuasaan, namun iming-iming uang miliaran rupiah dapat membuat mental rakyat jatuh dan pasrah menjual tanahnya.

Sebuah berita kisah yang ditulis BBC News Indonesia (03/12/2024) menggambarkan betapa warga negara asing dengan bujuk rayunya menguasai tanah dan lahan di Bali. Bahkan seorang warga di Gianyar pernah didatangi warga negara asing yang menawar rumahnya, padahal rumahnya tidak akan dijual. Pariwisata telah membuat tanah dan lahan menjadi ajang perebutan, penggusuran, dan pembajakan.

Kebijakan Tak Bijak

Peraturan maupun produk perundangan yang mengatur pariwisata di Indonesia begitu banyak. Namun aturan itu kadang menjadi macan ompong, tak memilki kekuatan untuk dilaksanakan. Malahan, kebijakan di bidang pariwisata kadang tak bijak; lantaran dilanggar, diabaikan, atau didiamkan. Pelanggaran tata ruang misalnya, menjadi persoalan pariwisata yang tak kunjung menemukan solusi yang bijak.

Respons terhadap pelanggaran tata ruang pun tak seragam. Padahal aturan terkait tata ruang semestinya berlaku tanpa pengecualian. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, misalnya, dengan tegas merespons kasus taman wisata rekreasi Hibisc Fantasy Puncak, Bogor. Dedi Mulyadi memerintahkan Satpol PP untuk membongkar objek wisata itu (prolegal.id, 17/03/2025).

Pembongkaran ini dilakukan setelah ditemukan pelanggaran izin operasional serta dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh taman wisata tersebut. Pembangunannya diduga menjadi salah satu pemicu banjir bandang yang melanda kawasan Puncak beberapa hari sebelumnya, mengakibatkan kerusakan fasilitas umum, tanah longsor, dan korban jiwa. 

Sementara pelanggaran tata ruang bisnis pariwisata di Bali tidak begitu jelas responsnya. Kadang tegas, kadang ingin tegas, kadang pula tak tegas. Padahal jelas-jelas ada kebijakan yang mengatur tata ruang pariwisata. Namun kebijakan itu menjadi tak bijak bila pelanggaran itu tidak disertai tindakan tegas pemerintah.

Apalagi bila terkesan terjadi pembiaran, seperti diungkapkan I Made Arya Utama, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Udayana. Praktik pembiaran membuat pelanggaran terjadi berulang. Keberanian seseorang membangun tanpa izin, misalnya, bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena rasa aman yang ditimbulkan oleh pembiaran dari aparat ( Balipost.com, 30/06/2025).

Bajik Moral dan Perilaku

Bajik dalam pariwisata merujuk pada moralitas dan perilaku seluruh komponen pariwisata. Moralitas aparat menjadi kunci penting mengatasi pembajakan tanah rakyat maupun pelanggaran tata ruang dalam bisnis pariwisata.

Diperlukan kebajikan dari pembuat kebijakan. Isu penguasaan pulau di Bali dan NTB oleh orang asing yang dihembuskan Menteri ATR/BTN sempat menimbulkan polemik. Terlepas apakah yang terjadi penguasaan atau kepemilikan, kebijakan yang melatarbelakangi isu tersebut tentulah tidak bajik jika berujung pada kerugian yang diderita rakyat. Moralitas dan nasionalisme dipertaruhkan bila orang asing begitu mudah menguasai dan memiliki lahan untuk kepentingan pariwisata. Seakan tanah rakyat dan negara ini begitu mudah dibajak orang asing.

Kebajikan sungguh diperlukan dalam industri pariwisata. Bali sebagai destinasi wisata dunia misalnya, sedang mengalami krisis kebajikan. Bali tak lagi dianggap sakral, karena perilaku wisatawan yang brutal. Bali yang dulu tenang dan nyaman, kini dinodai oleh ulah segelintir wisatawan. Mereka menjadi tamu yang justru melukai tuan rumah yang menyambut mereka dengan suka cita. Seolah perilaku segelintir wisatawan itu tak lagi menunjukkan kebajikan.

Setiap orang tidak banyak dituntut berlebihan dalam kebajikan, karena kebajikan dalam pariwisata dapat dimulai dari yang sederhana. Ukuran kebajikan adalah moralitas dan tindakan. Tim relawan yang berhasil mengangkat jenazah wisatawan Brasil Juliana Marins yang jatuh ke jurang Gunung Rinjani adalah sebuah kebajikan. Meskipun nyawa wisatawan tak tertolong, namun kerja keras tim relawan bernilai moral dan bajik dalam industri pariwisata.

Sesungguhnya tidak sedikit wisatawan mancanegara yang berbuat bajik. Mereka yang mengikuti voluntary tourism bukanlah wisatawan “ecek-ecek” yang hanya bertelanjang dada di pantai dan jalanan, atau mabuk di tempat hiburan. Mereka adalah wisatawan yang bajik, melakukan kegiatan sosial di destinasi wisata, seperti program kesehatan, pendidikan, konservasi lingkungan, maupun bersih-bersih sampah di objek wisata.

Pembajakan tanah rakyat untuk kepentingan pariwisata dapat berawal dari kebijakan yang kurang bajik. Padahal berbuat bajik dalam pariwisata sebenarnya tidak sulit. Jangan bajak tanah rakyat secara paksa dengan dalih pariwisata. Kebijakan mesti berpihak pada masyarakat lokal. Dan, hormati nilai serta budaya penduduk setempat. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

“Micro Tourism”: Berwisata Demi Efisiensi
Promosi Produk Wisata Manipulatif, Bisa Saja
“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang
“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata
“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata
“Pseudotourism”: Pepesan Kosong dalam Pariwisata
Desa Wisata, Ujung Tombak yang Tumpul?
Waspada “Cancel Culture” di Sektor Pariwisata
Tags: ilmu pariwisataPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Road To Singaraja Literary Festival  2025:  Membangun Kota yang Berpikir dengan Festival yang Intim

Next Post

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co