2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesta Kesenian Bali 2025 Didominasi Seniman-seniman Muda, dan Itu Membuat Kita Bangga

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 19, 2025
in Panggung
Pesta Kesenian Bali 2025 Didominasi Seniman-seniman Muda, dan Itu Membuat Kita Bangga

Seniman-seniman muda dalam Pesta Kesenian Bali 2025

SABTU malam, 19 Juli 2025, Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025 resmi ditutup di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali. PKB ke-47 yang dibuka oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon pada Sabtu 21 Juni 2025 hingga berlangsung selama sebulan itu berjalan lancara dan sukses. Bahkan, hampir seluruh gelaran diwarnai inovasi dan kreativitas. Tema “Jagat Kerthi: Lokahita Samudaya” berhasil diinterpretasikan para seniman melalui karya yang sarat nilai lokal dan kearifan budaya daerah.

“Kalau masalah materi, dengan tema yang ditetapkan maka dalam PKB ke-47 ini kita bisa melihat kearipan local muncul. Hampir setiap kabupaten dan kota mengambil cerita di daerahnya. Termasuk penampilan parade gong kebyar. Tema yang dibangun itu tak hanya, sekedar ungkapan jargon, tetapi diaplikasikan dalam seluruh gelaran,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha didamping Kurator Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Prof. Dr. I Made Bandem di Taman Budaya, Jumat 18 Juli 2025.

Prof. Arya Sugiartha mengaku, telah memantau persiapan yang dilakukan sejak Agustus 2024, mulai dari membuat kriteria penilaian, rapat kabupaten dan kota, sehingga selama enam bukan sudah dilakukan persiapan secara matang. Apa yang dilakukan ini, berdasarkan evaluasi dari PKB sebelumnya. Sebut saja dalam menindaklanjuti pembangunan tribun penonton di Monumen Bajra Sandhi yang menjadi lokasi utama Peed Aya.

Paling menarik yang menjadi terobosan besar tahun ini, yakni pemberian jaminan BPJS Ketenagakerjaan bagi para seniman. Untuk pertama kalinya, seluruh peserta pentas mendapatkan perlindungan asuransi kecelakaan dan kesehatan yang dibiayai penuh oleh BPD Bali. “Seniman kini tenang tampil, karena ada perlindungan jika terjadi sesuatu. Ini bentuk nyata perhatian Pemerintah Provinis Bali terhadap pelaku seni,” jelas Prof. Arya Sugiartha.

Kesadaran akan lingkungan bersih, juga sangat terasa. Dari sisi pengelolaan sampah, PKB 2025 mencatat kemajuan signifikan. Volume sampah di area Taman Budaya menurun drastis dari 2–3 kontainer per hari menjadi hanya satu kontainer. Hal ini menunjukkan peningkatan kesadaran ekologis para pengunjung dan pelaku seni. Namun, tantangan masih ada. Sampah dari kawasan luar Taman Budaya, khususnya dari luar masih perlu ditangani lebih serius. Di dalam sudah bersih, tinggal yang di luar yang belum semua sadar,” jelasnya.

Menurutnya, antusiasme masyarakat menyaksikan pegelaran tetap tinggi. Kunjungan langsung ke lokasi mencapai 1,6 juta orang. Sementara interaksi di media sosial mengalami lonjakan tajam. Media sosial tahun ini sangat aktif. Dampaknya juga jauh lebih luas dari tahun sebelumnya. PKB akan terus digelar setiap tahun sebagai program unggulan Pemprov Bali, maka kualitas event dan kesejahteraan seniman terus ditingkatkan. “PKB tidak akan pernah absen. Justru harus terus lebih baik. Itu amanat Pak Gubernur,” sebutnya.

Kesuksesan PKB ke-47 dari tiga persefektif

Prof. Bandem juga mengakui, PKB tahun ini sangat sukses. Kesuksesan itu dapat dilihat dari tiga persefektif, yaitu dari pemerintah, seniman dan masyarakat. Pemerintah telah merencanakan PKB ini dengan cukup matang. Sejak Agustus 2024 hingga Oktober selalu rapat untuk mensosialisasikan tema kepada peserta pengisi PKB. Sebab, manajeman PKB ini tidak hanya di Provinsi Bali saja, tetapi juga di kabupaten dan kota sebagai pemilik PKB. “Kami selalu menguhubungi para seniman-seniman di kabupaten dan kota untuk menegaskan dan meyakinkan mereka tentang tema itu,” paparnya.

Sebut saja dalam Peed Aya. Penampilan pawai PKB kali ini dianggap sangat bagus karena menyajikan desa adat didalamnya. Desa adat memiliki semangat besar, sehingga mungkin enam bualan sebelumnnya sudah menggarap tema-tema yang diberikan itu. Bahkan, ada satu kecamatan memanfaatkan 8 desa adat yang ada di wilayahnya. Masing-masing desa adat itu menampilkan keunikan-keunikan yang ada di daerahnya. “Itu artinya manajeman yang begitu besar, bisa kita lakukan dengan baik,” ucapnya senang.

Kedua mengenai seniman, memiliki kreativitas cukup tinggi dan memiliki greget. Mereka tidak saja menampilkan makin banyak kreativitas, tetapi juga kualitasnya sangat bagus. Misalnya, dalam bleganjur dan barong yang dilombakan pasti sangat meriah. Termasuk parade gong kebyar yang selalu memikat penonton. Mereka terkadang membawa pendukung dari daerahnya masing-masing. “Dalam PKB kali ini, seni-seni tradisi yang kita amati sangat menonjol, seperti legong. Semua kabupaten dan kota menggarap legong, dengan tema Jagat Kerthi yang dipadukan dengan istilah local yang disajikan sangat penuh kreatifitas yang menarik,” paparnya.

Satu hal yang sangat menyenangkan lagi, penyajian kesenian janger. Ajang PKB ke-47 ini memunculkan warna janger dari seluruh kabupaten dan kota di Bali, disamping kualitasnya yang luar biasa. Dulu, panitia sempat mempersoalkan janger yang kostumnya hampir sama. Mungkin saja, mereka menyewa kostum di satu tempat, sehingga menjadi sama. Tetapi, untuk tahun ini sangat beragam. Masing-masing desa adat membuat kostum sesuai dengan kemampuan mereka dan itu memperlihatkan keragaman janger. “Setelah kami teliti, ternyata mereka banyak belajar dari rekaman 1928 yang lagu-lagunya ditampilkan dengan garapan dan komposisi baru. Dulu, kami takut janger tidak ada tambur dan kebyarnya, tetapi sekarang semuanya menampilkan kebyar-kebyar yang mereka ciptakan sendiri,” jelasnya.

Ketiga dari persefektif masyarakat, itu bisa dilhat dari keseriusan masyarakat menyaksikan setiap pementasan. Bahkan, pementasan apa saja penontonnya selalu ramai. Sebut misalnya ketika pementasan dari Yogyakarta, penontonnya hampir penuh. Termasuk pementasan BWCC yang awalnya ditakui sedikit penonton, justru penuh yang disaksikan sekitar 400 penonton dalam setiap pementasan. “Ini apresiasi masyarakat semakin tinggi. Nah, dari tiga komponen ini, bisa dikatakan PKB tahun ini berlangsung sukses,” sebut Prof. Bandem.

Partisipan didominasi anak-anak muda

Hal senada juga dikatakan Prof. Dibia, yang mengaku bangga dengan partisipan PKB ke-47 ini lebih banyak datang dari kalangan anak-anak muda. Semua pergelaran didominasi oleh generasi muda. Mulai dari pawai, pergelaran, bahkan lomba yang semuanya diwarnai genersi muda. “Ini yang sangat membanggakan dari PKB ke-47, karena memberikan harapan, bahwa kontinyu dari kehidupan budaya Bali akan tetap berlanjut,” ucapnya.

Generasi muda itu masuk ke berbagai wilayah. Mereka, bukan hanya ada dalam parade gong kebyar, bleganjur dan lomba barong yang memang menjadi favoritanak-anak muda, tetapi juga ada di kesenian klasik, seperti wayang. Sajian wayang kali ini, dalangnya semuanya muda-muda dan memiliki suara yang sangat bagus. “Tinggal kedepan bagaimana kita bisa mem-package program tersebut supaya bisa mendapat apresiasi lebih banyak. Karena di sana wayangnya kalah kompetisi dengan kuliner, dan itu yang perlu kita pikirkan ke depan,” ujarnya.

Catatan kedua Prof. Dibia adalah dalam pelaksanaan PKB kali ini ada beberapa crew, kontingen atau sekaa yang didalamnya menyelipkan semacam promosi produk. Ini menjadi catatan kedepan karena semua itu kurang pas. Semisal ada penyebutan kostum by, sponsor by… yang kurang pas dalam ajang PKB. Pementasan yang bagus, tiba-tiba menjadi ajang promosi. Bahkan ada sekaa dari daerah yang secara terang-terangngan mempromosikan salah satu produk. “Ini akan menjadi catatat kita ke depan,” sebutnya.

Prof. Dibia juga menyinggung persoalan tentang manajemen panggung. Belakangan ini, panggung-panggung kurang diawasi secara optimal, sehingga pergelaran seni termasuk para seniman pentas menjadi sedikit terganggu. “Dengan 47 kali melaksanakaan PKB, hal kecil seperti itu sebenarnya bisa diatasi, tetapi mungkin karena keterbatasan kita, sehingga hal-hal seperti itu masih belum digarap secara baik,” imbuhnya.

Contohnya ketika pergelaran di Gedung Ksirarnawa kita panitia belum bisa menjinakan masalah penonton untuk tidak lalu-lalang dibekalang panggung. Akibatnya, ketika tontonan itu serius tiba-tiba masih ada yang lewat. Termasuk di Panggung Terbuka Ardha Candra, dalam ajang lomba masih saja ada anak-anak lewat di pintu penari. Padahal, itu sudah berkali-kali diumumkan bahwa tidak dibolehkan lalu-lalang di tempat keluar masuk penari. “Mudah-mudahan hal ini menjadi pemicu bagi kita di panitia untuk membersihkan apa yang menyebabkan kurangnya penampilan. Tetapi, kami bangga PKB sebagai sebuah kegembiraan hampir mendekati level kesempurnaan,” tutup Prof. Dibia. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Arja RRI Masih Bisa Menebar Pesona pada Pesta Kesenian Bali 2025
Bungah dan Cekatan, Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala, Kuta Selatan, Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025
Karya Maestro I Wayan Begeg Dimainkan Sekaa Gong Taruna Mekar Tunjuk-Tabanan di Pesta Kesenian Bali 2025
Sesama Denpasar, Angklung Brahmara Sini dan Angklung Jaya Suara Mabarung di Pesta Kesenian Bali 2025
Karya-karya Pelegongan Maestro Wayan Lotring di Pesta Kesenian Bali 2025
Tags: generasi mudaPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Sampai Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni

Next Post

Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co