4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Legitimasi Seniman dalam Medan Seni

Sectio Agung by Sectio Agung
April 20, 2025
in Esai
Legitimasi Seniman dalam Medan Seni

Foto ilustrasi: Pementasan Teater Mandiri | Foto: Dok. tatkala.co

DALAM ruang seni kiwari para seniman berlomba-lomba untuk menciptakan kebaruan. Seniman ingin apa yang diciptakannya menjadi ciptaan paling baru dan belum ada duanya. Ide-ide pun meletup dengan marak.

Pada sebuah kasus yang amat menarik dan ramai diperbincangkan, pada tahun 2021 karya Salvatore Garau, seorang seniman asal Italia, yang berjudul lo sono (Aku), laku terlelang dengan harga 18.300 dollar amerika. Patung ini, apabila bisa disebut demikian, tidak memiliki bentuk fisik. Sang seniman melepaskan interpretasi dan bentuk patung tersebut kepada audiens. Maka apabila sang audiens tidak memiliki imajinasi apapun akan interpretasi dan bentuk sang patung, patung tersebut tidak ada sama sekali. Pemenang lelang karya ini mendapatkan sertifikat otentikasi karya – semata tanda bahwa karya tersebut memanglah ada.

Ide karya seperti ini barangkali ada yang menilainya sebagai ide buruk. Sebuah ide buruk yang terjual dengan harga begitu mahal. Beberapa orang awam dari teman-teman saya, ketika saya mencoba untuk menceritakan fenomena ini mereka pada kaget. Bagi mereka ini adalah semata nonsense seni kontemporer.

Untuk itu, baiknya, saya menceritakan kisah lain tentang betapa tidak dipahaminya seorang seniman dan batasan-batasan yang kian kabur. Seorang seniman, Marcel Duchamp, mulai mengumpulkan objek-objek sehari-hari dan membawanya ke dalam studio. Pada tahun 1917, ketika saudari Duchamp sedang membersihkan studio milik sang seniman, ia tanpa sengaja membuang objek-objek sehari-hari tersebut (yang Duchamp anggap sebagai karya seni) ke tempat sampah, yang menurutnya sebuah tempat yang lebih cocok untuk barang-barang tersebut.[1]

Nyatanya karya seni sudah tidak dapat ditinjau semata berdasarkan keindahannya lagi. Kita percaya apa yang kita lihat adalah karya seni, barangkali sebab orang-orang dalam dunia seni juga mengakui bahwa karya tersebut juga merupakan karya seni. Pun terkadang kita keheranan bagaimana bisa orang-orang dalam dunia seni menganggap sesuatu sebagai sebuah karya seni. Satu hal yang dapat dipastikan ialah tiap karya memiliki ruang nya sendiri. Dalam ruang ini, terdapat karya yang memiliki banyak audiens – dengan begitu banyak orang yang mengamini statusnya sebagai karya seni. Pun sebaliknya, terdapat karya yang sepi ruangnya – yang mengakuinya sebagai sebuah karya hanya orang yang itu-itu saja.

Di  tahun yang sama saat karyanya dibuang ke tong sampah oleh saudarinya, Duchamp, mengirimkan sebuah karya ke sebuah pameran seni. Karya tersebut merupakan sebuah urinoir (objek sehari-hari, atau readymade) yang ia beli di sebuah toko. Urinoir tersebut dibalik dan diberi tanda tangan R.Mutt. Karya dikirim dengan nama samaran dan tidak banyak yang tahu bahwa Duchamp-lah pengirim karya tersebut. Karya itu ditolak oleh The Society of Independent Artist, sang penyelenggara pameran. Celah unik lain dari kisah ini adalah bahwa Duchamp sejatinya merupakan anggota dewan dan presiden komite pemilihan karya pameran tersebut.[2]

Nyatanya karya ini ditolak. Duchamp sukses mengecoh. Ia dengan posisinya mencoba melakukan gocek dan parodipada penyelenggara yang melakukan klaim demokratis dan tidak ada batasan pada seni, dengan membayar 6 dollar karya mesti dipamerkan. Kemudian terbitlah pertanyaan apa saja yang seni dan yang bukan? Apa memang seni itu otonom? Jika iya mengapa ada karya yang ditolak sebagai bukan karya seni.

Ketika karya diputuskan untuk tidak ditampilkan ia pun kemudian keluar dari keanggotaan komite sebagai bentuk protes. Duchamp keluar ditemani oleh seorang annggota lain Walter Arensberg, seorang kolektor dan kritikus. Setelah skandal tersebut seorang teman Duchamp, Louise Varese, saat itu Louise Norton, menulis sebuah artikel di majalah periodikal beraliran Dada, The Blind Man Magazine, berjudul Buddha of the Bathroom yang mempertahankan Fountain-nya Richard Mutt itu.[3] Bisa dilihat bahwa sekalipun mengalami penolakan, masih terdapat ruang orang-orang yang masih percaya Fountain sebagai suatu karya seni.

Di tahun 1938. Duchamp mencoba mereplikasi karya Fountain yang ditolak itu. Alih-alih membeli urinoir baru, sebagaimana prinsip readymade diawal, Duchamp membuat sebuah miniatur dengan kawat dan papier-mache. Ia membolak-balikk logika seniman sebagai pencipta. Miniatur ini disusun bersama monografi kumpulan karya Duchamp lain yang ia kumpulkan di sebuah kotak semacam koper, boite en valise, sebagai museum portabel miliknya. Fountain menjadi karya yang dikenang oleh Duchamp, yang ia anggap penting.

Dari cerita Duchamp, maka karya seni, utamanya, bisa dilihat bukan lagi sebagai sekadar isi. Fountain masuk ke dalam pengakuan institusi seni sebab ia adalah kritik yang dijadikan sebagai sebuah karya. Ia, juga, adalah suatu yang penting sebab ia diangkat oleh tangan-tangan yang mengemas, mensirkulasikan, dan menampilkannya. Ia adalah karya sebab pengakuan dan legitimasi. Ia diakui sebab narasi, dokumentasi, sirkulasi, dan cerita skandal yang sudah menjadi semacam legenda. Ia diakui secara luas tentu juga oleh sebab para subjek yang mengakuinya.

Pada akhirnya, medan seni, mengikuti penjelasan Bourdieu, adalah sebuah ruang stratifikasi simbolik.[4] Semakin tinggi nilai simbolik (legitimasi) milik seorang subjek maka semakin tinggi pula posisinya dalam dunia seni. Ruang institusi seni secara otomatis memilih mana yang layak dan tidak untuk tampil. Dengan semakin dekat dengan selera para elit dunia seni, maka ruang untuk kesempatan kaya dan terkenal semakin besar karna subjek-subjek dalam ruang yang lebih banyak pula.

Tentu seni akan jadi membosankan apabila yang dilihat dan diberi panggung hanya itu-itu saja. Oleh sebab ruang seni harus selalu digugat. Waktunya yang pinggiran, yang tidak diakui, dan yang bergerak di luar ruang arus utama untuk tampil. Dengan begitu, shock, kejutan, akan dapat terus dinikmati. [T]


[1] Marcel Duchamp to Suzanne Duchamp, 15 January 1916, in Affectionately Marcel: The Selected Correspondence of Marcel Duchamp, ed. Francis Naumann and Hector Obalk (London: Thames and Hudson, 2000), 43.

[2] Elena Filipovic, A Museum That is Not, E-Flux Journal, Issue 4 (2009), 02/09

[3] Louise Norton, Buddha of the Bathroom, The Blind Man, No.2 (May 1917), pp5-6

[4] Pierre Bourdieu, The Rules of Art: Genesis and Structure of the Literary Field, Stanford, CA: Stanford University Press (1996)

Penulis: Sectio Agung
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga
Nyepi, Lailatul Qadar, Idulfitri, Meleburlebarkan Fitrah Umat Manusia.
Tags: panggung seniSeniseniman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kontemplasi Mewujudkan Kehidupan Shanti Jagadhita

Next Post

Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2025: Nuartha dan Nadia Siap Jadi Figur Remaja Teladan

Sectio Agung

Sectio Agung

Sekarang sedang belajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta program studi Tata Kelola Seni. Penulis tertarik dalam bidang filsafat dan kritik seni. IG @sectioa

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2025: Nuartha dan Nadia Siap Jadi Figur Remaja Teladan

Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2025: Nuartha dan Nadia Siap Jadi Figur Remaja Teladan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co