26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Legitimasi Seniman dalam Medan Seni

Sectio Agung by Sectio Agung
April 20, 2025
in Esai
Legitimasi Seniman dalam Medan Seni

Foto ilustrasi: Pementasan Teater Mandiri | Foto: Dok. tatkala.co

DALAM ruang seni kiwari para seniman berlomba-lomba untuk menciptakan kebaruan. Seniman ingin apa yang diciptakannya menjadi ciptaan paling baru dan belum ada duanya. Ide-ide pun meletup dengan marak.

Pada sebuah kasus yang amat menarik dan ramai diperbincangkan, pada tahun 2021 karya Salvatore Garau, seorang seniman asal Italia, yang berjudul lo sono (Aku), laku terlelang dengan harga 18.300 dollar amerika. Patung ini, apabila bisa disebut demikian, tidak memiliki bentuk fisik. Sang seniman melepaskan interpretasi dan bentuk patung tersebut kepada audiens. Maka apabila sang audiens tidak memiliki imajinasi apapun akan interpretasi dan bentuk sang patung, patung tersebut tidak ada sama sekali. Pemenang lelang karya ini mendapatkan sertifikat otentikasi karya – semata tanda bahwa karya tersebut memanglah ada.

Ide karya seperti ini barangkali ada yang menilainya sebagai ide buruk. Sebuah ide buruk yang terjual dengan harga begitu mahal. Beberapa orang awam dari teman-teman saya, ketika saya mencoba untuk menceritakan fenomena ini mereka pada kaget. Bagi mereka ini adalah semata nonsense seni kontemporer.

Untuk itu, baiknya, saya menceritakan kisah lain tentang betapa tidak dipahaminya seorang seniman dan batasan-batasan yang kian kabur. Seorang seniman, Marcel Duchamp, mulai mengumpulkan objek-objek sehari-hari dan membawanya ke dalam studio. Pada tahun 1917, ketika saudari Duchamp sedang membersihkan studio milik sang seniman, ia tanpa sengaja membuang objek-objek sehari-hari tersebut (yang Duchamp anggap sebagai karya seni) ke tempat sampah, yang menurutnya sebuah tempat yang lebih cocok untuk barang-barang tersebut.[1]

Nyatanya karya seni sudah tidak dapat ditinjau semata berdasarkan keindahannya lagi. Kita percaya apa yang kita lihat adalah karya seni, barangkali sebab orang-orang dalam dunia seni juga mengakui bahwa karya tersebut juga merupakan karya seni. Pun terkadang kita keheranan bagaimana bisa orang-orang dalam dunia seni menganggap sesuatu sebagai sebuah karya seni. Satu hal yang dapat dipastikan ialah tiap karya memiliki ruang nya sendiri. Dalam ruang ini, terdapat karya yang memiliki banyak audiens – dengan begitu banyak orang yang mengamini statusnya sebagai karya seni. Pun sebaliknya, terdapat karya yang sepi ruangnya – yang mengakuinya sebagai sebuah karya hanya orang yang itu-itu saja.

Di  tahun yang sama saat karyanya dibuang ke tong sampah oleh saudarinya, Duchamp, mengirimkan sebuah karya ke sebuah pameran seni. Karya tersebut merupakan sebuah urinoir (objek sehari-hari, atau readymade) yang ia beli di sebuah toko. Urinoir tersebut dibalik dan diberi tanda tangan R.Mutt. Karya dikirim dengan nama samaran dan tidak banyak yang tahu bahwa Duchamp-lah pengirim karya tersebut. Karya itu ditolak oleh The Society of Independent Artist, sang penyelenggara pameran. Celah unik lain dari kisah ini adalah bahwa Duchamp sejatinya merupakan anggota dewan dan presiden komite pemilihan karya pameran tersebut.[2]

Nyatanya karya ini ditolak. Duchamp sukses mengecoh. Ia dengan posisinya mencoba melakukan gocek dan parodipada penyelenggara yang melakukan klaim demokratis dan tidak ada batasan pada seni, dengan membayar 6 dollar karya mesti dipamerkan. Kemudian terbitlah pertanyaan apa saja yang seni dan yang bukan? Apa memang seni itu otonom? Jika iya mengapa ada karya yang ditolak sebagai bukan karya seni.

Ketika karya diputuskan untuk tidak ditampilkan ia pun kemudian keluar dari keanggotaan komite sebagai bentuk protes. Duchamp keluar ditemani oleh seorang annggota lain Walter Arensberg, seorang kolektor dan kritikus. Setelah skandal tersebut seorang teman Duchamp, Louise Varese, saat itu Louise Norton, menulis sebuah artikel di majalah periodikal beraliran Dada, The Blind Man Magazine, berjudul Buddha of the Bathroom yang mempertahankan Fountain-nya Richard Mutt itu.[3] Bisa dilihat bahwa sekalipun mengalami penolakan, masih terdapat ruang orang-orang yang masih percaya Fountain sebagai suatu karya seni.

Di tahun 1938. Duchamp mencoba mereplikasi karya Fountain yang ditolak itu. Alih-alih membeli urinoir baru, sebagaimana prinsip readymade diawal, Duchamp membuat sebuah miniatur dengan kawat dan papier-mache. Ia membolak-balikk logika seniman sebagai pencipta. Miniatur ini disusun bersama monografi kumpulan karya Duchamp lain yang ia kumpulkan di sebuah kotak semacam koper, boite en valise, sebagai museum portabel miliknya. Fountain menjadi karya yang dikenang oleh Duchamp, yang ia anggap penting.

Dari cerita Duchamp, maka karya seni, utamanya, bisa dilihat bukan lagi sebagai sekadar isi. Fountain masuk ke dalam pengakuan institusi seni sebab ia adalah kritik yang dijadikan sebagai sebuah karya. Ia, juga, adalah suatu yang penting sebab ia diangkat oleh tangan-tangan yang mengemas, mensirkulasikan, dan menampilkannya. Ia adalah karya sebab pengakuan dan legitimasi. Ia diakui sebab narasi, dokumentasi, sirkulasi, dan cerita skandal yang sudah menjadi semacam legenda. Ia diakui secara luas tentu juga oleh sebab para subjek yang mengakuinya.

Pada akhirnya, medan seni, mengikuti penjelasan Bourdieu, adalah sebuah ruang stratifikasi simbolik.[4] Semakin tinggi nilai simbolik (legitimasi) milik seorang subjek maka semakin tinggi pula posisinya dalam dunia seni. Ruang institusi seni secara otomatis memilih mana yang layak dan tidak untuk tampil. Dengan semakin dekat dengan selera para elit dunia seni, maka ruang untuk kesempatan kaya dan terkenal semakin besar karna subjek-subjek dalam ruang yang lebih banyak pula.

Tentu seni akan jadi membosankan apabila yang dilihat dan diberi panggung hanya itu-itu saja. Oleh sebab ruang seni harus selalu digugat. Waktunya yang pinggiran, yang tidak diakui, dan yang bergerak di luar ruang arus utama untuk tampil. Dengan begitu, shock, kejutan, akan dapat terus dinikmati. [T]


[1] Marcel Duchamp to Suzanne Duchamp, 15 January 1916, in Affectionately Marcel: The Selected Correspondence of Marcel Duchamp, ed. Francis Naumann and Hector Obalk (London: Thames and Hudson, 2000), 43.

[2] Elena Filipovic, A Museum That is Not, E-Flux Journal, Issue 4 (2009), 02/09

[3] Louise Norton, Buddha of the Bathroom, The Blind Man, No.2 (May 1917), pp5-6

[4] Pierre Bourdieu, The Rules of Art: Genesis and Structure of the Literary Field, Stanford, CA: Stanford University Press (1996)

Penulis: Sectio Agung
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga
Nyepi, Lailatul Qadar, Idulfitri, Meleburlebarkan Fitrah Umat Manusia.
Tags: panggung seniSeniseniman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kontemplasi Mewujudkan Kehidupan Shanti Jagadhita

Next Post

Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2025: Nuartha dan Nadia Siap Jadi Figur Remaja Teladan

Sectio Agung

Sectio Agung

Sekarang sedang belajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta program studi Tata Kelola Seni. Penulis tertarik dalam bidang filsafat dan kritik seni. IG @sectioa

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2025: Nuartha dan Nadia Siap Jadi Figur Remaja Teladan

Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2025: Nuartha dan Nadia Siap Jadi Figur Remaja Teladan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co