4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Legitimasi Seniman dalam Medan Seni

Sectio Agung by Sectio Agung
April 20, 2025
in Esai
Legitimasi Seniman dalam Medan Seni

Foto ilustrasi: Pementasan Teater Mandiri | Foto: Dok. tatkala.co

DALAM ruang seni kiwari para seniman berlomba-lomba untuk menciptakan kebaruan. Seniman ingin apa yang diciptakannya menjadi ciptaan paling baru dan belum ada duanya. Ide-ide pun meletup dengan marak.

Pada sebuah kasus yang amat menarik dan ramai diperbincangkan, pada tahun 2021 karya Salvatore Garau, seorang seniman asal Italia, yang berjudul lo sono (Aku), laku terlelang dengan harga 18.300 dollar amerika. Patung ini, apabila bisa disebut demikian, tidak memiliki bentuk fisik. Sang seniman melepaskan interpretasi dan bentuk patung tersebut kepada audiens. Maka apabila sang audiens tidak memiliki imajinasi apapun akan interpretasi dan bentuk sang patung, patung tersebut tidak ada sama sekali. Pemenang lelang karya ini mendapatkan sertifikat otentikasi karya – semata tanda bahwa karya tersebut memanglah ada.

Ide karya seperti ini barangkali ada yang menilainya sebagai ide buruk. Sebuah ide buruk yang terjual dengan harga begitu mahal. Beberapa orang awam dari teman-teman saya, ketika saya mencoba untuk menceritakan fenomena ini mereka pada kaget. Bagi mereka ini adalah semata nonsense seni kontemporer.

Untuk itu, baiknya, saya menceritakan kisah lain tentang betapa tidak dipahaminya seorang seniman dan batasan-batasan yang kian kabur. Seorang seniman, Marcel Duchamp, mulai mengumpulkan objek-objek sehari-hari dan membawanya ke dalam studio. Pada tahun 1917, ketika saudari Duchamp sedang membersihkan studio milik sang seniman, ia tanpa sengaja membuang objek-objek sehari-hari tersebut (yang Duchamp anggap sebagai karya seni) ke tempat sampah, yang menurutnya sebuah tempat yang lebih cocok untuk barang-barang tersebut.[1]

Nyatanya karya seni sudah tidak dapat ditinjau semata berdasarkan keindahannya lagi. Kita percaya apa yang kita lihat adalah karya seni, barangkali sebab orang-orang dalam dunia seni juga mengakui bahwa karya tersebut juga merupakan karya seni. Pun terkadang kita keheranan bagaimana bisa orang-orang dalam dunia seni menganggap sesuatu sebagai sebuah karya seni. Satu hal yang dapat dipastikan ialah tiap karya memiliki ruang nya sendiri. Dalam ruang ini, terdapat karya yang memiliki banyak audiens – dengan begitu banyak orang yang mengamini statusnya sebagai karya seni. Pun sebaliknya, terdapat karya yang sepi ruangnya – yang mengakuinya sebagai sebuah karya hanya orang yang itu-itu saja.

Di  tahun yang sama saat karyanya dibuang ke tong sampah oleh saudarinya, Duchamp, mengirimkan sebuah karya ke sebuah pameran seni. Karya tersebut merupakan sebuah urinoir (objek sehari-hari, atau readymade) yang ia beli di sebuah toko. Urinoir tersebut dibalik dan diberi tanda tangan R.Mutt. Karya dikirim dengan nama samaran dan tidak banyak yang tahu bahwa Duchamp-lah pengirim karya tersebut. Karya itu ditolak oleh The Society of Independent Artist, sang penyelenggara pameran. Celah unik lain dari kisah ini adalah bahwa Duchamp sejatinya merupakan anggota dewan dan presiden komite pemilihan karya pameran tersebut.[2]

Nyatanya karya ini ditolak. Duchamp sukses mengecoh. Ia dengan posisinya mencoba melakukan gocek dan parodipada penyelenggara yang melakukan klaim demokratis dan tidak ada batasan pada seni, dengan membayar 6 dollar karya mesti dipamerkan. Kemudian terbitlah pertanyaan apa saja yang seni dan yang bukan? Apa memang seni itu otonom? Jika iya mengapa ada karya yang ditolak sebagai bukan karya seni.

Ketika karya diputuskan untuk tidak ditampilkan ia pun kemudian keluar dari keanggotaan komite sebagai bentuk protes. Duchamp keluar ditemani oleh seorang annggota lain Walter Arensberg, seorang kolektor dan kritikus. Setelah skandal tersebut seorang teman Duchamp, Louise Varese, saat itu Louise Norton, menulis sebuah artikel di majalah periodikal beraliran Dada, The Blind Man Magazine, berjudul Buddha of the Bathroom yang mempertahankan Fountain-nya Richard Mutt itu.[3] Bisa dilihat bahwa sekalipun mengalami penolakan, masih terdapat ruang orang-orang yang masih percaya Fountain sebagai suatu karya seni.

Di tahun 1938. Duchamp mencoba mereplikasi karya Fountain yang ditolak itu. Alih-alih membeli urinoir baru, sebagaimana prinsip readymade diawal, Duchamp membuat sebuah miniatur dengan kawat dan papier-mache. Ia membolak-balikk logika seniman sebagai pencipta. Miniatur ini disusun bersama monografi kumpulan karya Duchamp lain yang ia kumpulkan di sebuah kotak semacam koper, boite en valise, sebagai museum portabel miliknya. Fountain menjadi karya yang dikenang oleh Duchamp, yang ia anggap penting.

Dari cerita Duchamp, maka karya seni, utamanya, bisa dilihat bukan lagi sebagai sekadar isi. Fountain masuk ke dalam pengakuan institusi seni sebab ia adalah kritik yang dijadikan sebagai sebuah karya. Ia, juga, adalah suatu yang penting sebab ia diangkat oleh tangan-tangan yang mengemas, mensirkulasikan, dan menampilkannya. Ia adalah karya sebab pengakuan dan legitimasi. Ia diakui sebab narasi, dokumentasi, sirkulasi, dan cerita skandal yang sudah menjadi semacam legenda. Ia diakui secara luas tentu juga oleh sebab para subjek yang mengakuinya.

Pada akhirnya, medan seni, mengikuti penjelasan Bourdieu, adalah sebuah ruang stratifikasi simbolik.[4] Semakin tinggi nilai simbolik (legitimasi) milik seorang subjek maka semakin tinggi pula posisinya dalam dunia seni. Ruang institusi seni secara otomatis memilih mana yang layak dan tidak untuk tampil. Dengan semakin dekat dengan selera para elit dunia seni, maka ruang untuk kesempatan kaya dan terkenal semakin besar karna subjek-subjek dalam ruang yang lebih banyak pula.

Tentu seni akan jadi membosankan apabila yang dilihat dan diberi panggung hanya itu-itu saja. Oleh sebab ruang seni harus selalu digugat. Waktunya yang pinggiran, yang tidak diakui, dan yang bergerak di luar ruang arus utama untuk tampil. Dengan begitu, shock, kejutan, akan dapat terus dinikmati. [T]


[1] Marcel Duchamp to Suzanne Duchamp, 15 January 1916, in Affectionately Marcel: The Selected Correspondence of Marcel Duchamp, ed. Francis Naumann and Hector Obalk (London: Thames and Hudson, 2000), 43.

[2] Elena Filipovic, A Museum That is Not, E-Flux Journal, Issue 4 (2009), 02/09

[3] Louise Norton, Buddha of the Bathroom, The Blind Man, No.2 (May 1917), pp5-6

[4] Pierre Bourdieu, The Rules of Art: Genesis and Structure of the Literary Field, Stanford, CA: Stanford University Press (1996)

Penulis: Sectio Agung
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga
Nyepi, Lailatul Qadar, Idulfitri, Meleburlebarkan Fitrah Umat Manusia.
Tags: panggung seniSeniseniman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kontemplasi Mewujudkan Kehidupan Shanti Jagadhita

Next Post

Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2025: Nuartha dan Nadia Siap Jadi Figur Remaja Teladan

Sectio Agung

Sectio Agung

Sekarang sedang belajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta program studi Tata Kelola Seni. Penulis tertarik dalam bidang filsafat dan kritik seni. IG @sectioa

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2025: Nuartha dan Nadia Siap Jadi Figur Remaja Teladan

Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2025: Nuartha dan Nadia Siap Jadi Figur Remaja Teladan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co