18 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

NGANDANG NGANJUH: ‘Unconscious Incompetence’ dalam Masyarakat Bali —Renungan Malam Kuningan

Sugi Lanus by Sugi Lanus
June 27, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh.

Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksakan diri maju (nganjuh).

Dalam konteks perilaku, istilah Ngandang Nganjuh disematkan kepada seseorang yang sebenarnya tidak memahami suatu perkara atau tidak memiliki keahlian, namun dengan sangat percaya diri mendesak masuk, memotong pembicaraan, mendebat asal mendebat, atau merasa paling tahu dalam sebuah forum. Di dunia medsos prilaku ini dicirikan dengan seringnya merekam diri mengomentari dan mendebat semua hal yang sebenarnya tidak ia pahami, tapi merasa diri ahli yang wajib didengar oleh masyarakat luas. Padahal, masyarakat yang memantau seperti sepakat jika omongan Si Ngandang Nganjuh ini isi hanya bualan dan semburan sampah yang muncuat dari kebingungannya sendiri.

Dunning-Kruger Effect — Fase Bodoh tapi Percaya Diri Penuh

Jika ditarik ke dalam ranah psikologi perkembangan kognitif modern, Ngandang Nganjuh adalah pengejawantahan sempurna dari fase Unconscious Incompetence (Ketidakmampuan yang Tidak Disadari).

Ini adalah fase di mana seseorang tidak hanya kekurangan informasi atau membawa informasi yang keliru, tetapi mereka juga sepenuhnya buta terhadap ketidaktahuan mereka sendiri. Celakanya, kebutaan kognitif ini sering kali memicu tingkat rasa percaya diri yang melambung tinggi—sebuah fenomena yang dalam dunia sains populer dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect.

Akar Universal dan Manifestasi Lokal

Unconscious Incompetence bukanlah cacat kultural masyarakat Bali saja; ini adalah cacat bawaan dalam struktur kognitif seluruh umat manusia.

Namun, manifestasinya selalu mengambil bentuk sesuai dengan panggung budaya tempat manusia itu berpijak. Dalam masyarakat Bali yang kental dengan budaya komunal (krama), ruang-ruang diskusi seperti paruman (rapat desa), balai banjar, hingga ‘door-stop’ pejabat, kolom komentar media sosial lokal, menjadi arena di mana fenomena ‘Ngandang Nganjuh’ ini kerap makin kentara meluas di Bali.

Ketika sebuah isu sensitif mencuat—mulai dari tata ruang pariwisata, ritual keagamaan, hingga regulasi ekonomi kreatif—sering kali suara yang paling lantang bukan datang dari para ahli yang merunduk dalam kontemplasi, melainkan dari individu yang berada di puncak “Gunung Kebodohan” (Peak of Mount Stupid). Si Ngandang Nganjuh berbicara tanpa landasan data, mereduksi kompleksitas masalah, dan dengan keras kepala ‘nganjuh’ (memaksakan) argumennya yang ‘ngandang‘ (melintang/tidak nyambung).

Kenapa Makin Meluas di Bali?

Secara psikologis, ada dua faktor utama yang menyuburkan perilaku Ngandang Nganjuh di era modern:

  1. Media sosial memberikan akses instan terhadap cuplikan informasi. Seseorang yang membaca satu utas di X (Twitter), mendengar cuplikan berita FB, atau menonton video singkat di TikTok selama 30 detik merasa telah menguasai satu disiplin ilmu utuh. Mereka tidak tahu betapa dalamnya jurang keilmuan tersebut, sehingga mereka melompat langsung untuk berargumen.
  2. Kesadaran Da Ngaden Awak Bisa — Jangan Mengaku Diri Paham — sepertinya telah sirna di Bali. Sosmed memberikan panggung bahkan kepada si paling tidak paham untuk mengungkapkan pendapatnya. Ini memberikan peluang pada orang tidak berkompeten ingin terlihat dan merasa “harus” terlihat tahu segalanya. Mengakui kalimat “Tiang nenten uning” (Saya tidak tahu) kini dianggap menjatuhkan wibawa diri, sehingga opsi yang ditempuh adalah ‘nganjuh’ alias memaksakan diri kelihatan gagah dan kompeten — padahal hanya bermain drama di ruang medsos.

Mulat Sarira & Melajahang Dewek

Istilah ‘Ngandang Nganjuh’ lahir sebagai kritik sosial dan self critic dalam budaya Bali. Kebudayaan Bali sendiri sebenarnya telah menyediakan penawar internal yang sangat kuat untuk mengobati Unconscious Incompetence ini. Filosofi itu adalah Mulat Sarira (introspeksi diri secara mendalam).

Ketika seseorang mempraktikkan ‘Mulat Sarira’, ia dituntun naik dari fase Unconscious Incompetence menuju Conscious Incompetence —sebuah fase krusial di mana manusia dengan berani dan jujur berkata: “Saya sadar bahwa saya belum tahu banyak hal.”

Dalam tradisi intelektual Bali tradisional, proses belajar dinamakan sebagai usaha untuk Melajahang Dewek (membuka diri untuk pembelajaran diri). Seseorang yang benar-benar belajar akan menyadari bahwa realitas itu berlapis-lapis. Kesadaran inilah yang melahirkan timbang rasa secara kognitif: menghargai perspektif orang lain karena tahu dan sadar akan keterbatasan diri sendiri.

Eling ring Dewek

Ungkapan ‘Ngandang Nganjuh’ adalah tamparan yang tajam bagi orang Bali yang merasa diri paham, padahal “beginner” dan sedang menyebarkan informasi dan opini sesat. Ungkapan ‘Ngandang-Nganjuh’ mendeskripsikan betapa memprihatinkan jika seseorang mengedepankan diri sendiri dengan jalan melintang menghalang jalan orang lain demi memuaskan ego ketidaktahuannya.

Menghadapi era informasi yang kian bising, tantangan terbesar masyarakat modern—termasuk masyarakat Bali—bukan lagi memerangi buta aksara, melainkan memerangi ilusi pengetahuan.

Orang yang sudah mulai sadar diri akan segera menyudahi dorongan untuk bersikap ‘ngandang-nganjuh’ dalam hal-hal yang tidak kita kuasai. Sebaliknya, mari kita kembali duduk di balai-balai banjar pemikiran kita, melakukan Mulat Sarira, dan dengan lapang dada membuka ruang bagi diri kita masing-masing untuk tidak terjebak ‘Ngandang-Nganjuh’, dan berlapang dada membelajarkan diri sebelum berkomentar baik di ranah keluarga ataupun di ranah sosmed atau ranah lainnya.

Semoga renungan malam Kuningan bukan merefleksikan diri penulisnya ‘Ngandang-Nganjuh’: Selamat Hari Raya Kuningan. Waras Seger Oger. Rahayu. [T]

Tags: balifilosofi bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

Next Post

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co