21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
June 28, 2026
in Esai
Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

Lukisan Landscape With Goose berukuran panjang 42 cm dan lebar 35 cm.

PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari,  sekitar jam 3 sore, cuaca relatif panas. Angin laut dari pantai sedikit membawa hawa sejuk, yang mana mengurangi rasa kegerahan. Saya bersama kawan kawan bali book party menunggu di ruang kafetaria dan taman museum yang berumput bernama Kobot Garden Venue. Bangunan besar di Kobot Garden Vanue menunjukkan gaya ukiran khas Bali pada pintu dan dindingnya . Memancarkan suasana Bali yang khas. Tiga puluh menit kemudian, pihak museum dan  koordinator Bali Book Party mengumumkan acara menjelajahi museum dimulai.

Museum pasifika memiliki sebanyak 600 Koleksi karya seni lukisan, ukiran dan patung. Merupakan karya  200 Seniman dari negara-negara Asia-Pasifik. Museum ini resmi berdiri tahun 2006. Popo Danes merupakan arsitek Bali yang merancang museum Pasifika. Moetaryanto P dan Philippe Augier adalah pendiri museum ini.

Menjelajahi museum bersama kawan-kawan Bali Book Party, saya memasuki galeri III yaitu galeri tempat menampilkan lukisan lukisan yang merupakan karya seniman Belanda yang pernah tinggal di Indonesia. Di  galeri III saya menjumpai lukisan berjudul Landscape with Goose. Merupakan Karya Arie Smit , seorang seniman asal Belanda. Karya lukis ini dibuat dengan cat akrilik di atas media kanvas.

Ketika mengamati karya ini dengan saksama, saya melihat warna-warni lukisan  yang terdiri dari hijau, biru dan putih. Bentuk-bentuk paling menonjol yang ada pada lukisan adalah rerumputan yang terendam air,  dua ekor angsa dan semak semak di tepi rerumputan terendam air.

Lukisan ini menggambarkan bentang lahan basah. Warna putih diantara warna hijau rerumputan menandakan pantulan dan pembiasan cahaya matahari pada  permukaan air yang tenang memperlihatkan warna mengkilap berfungsi sebagai cermin. Perbedaan indeks bias antara  udara dan air menciptakan pantulan yang menyerupai cermin. Warna pantulan yang bervariasi dari permukaan air relative tenang berasal dari gelombang kecil di permukaan air memecah pantulan sinar matahari menjadi titik-titik kilauan.

Lahan Basah

Pernahkan melihat rerumputan, semak dan pepohonan yang tumbuh di tanah dengan genangan air? Dimana akar , bagian bawah tanaman and bahan seluruh tanaman terendam air dan tetap tumbuh berembang?  Itulah lahan basah. Biasanya lahan basah berada di tempat yang lebih rendah dari sekeliling daratan. Sebagaimana air selalu mengalir dari tempat lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, air akan mengisi tempat yang lebih rendah daripada sekelilingnya. Ini membuat lahan basah menjadi daerah peralihan antara lingkungan perairan permanen seperti sungai, danau dan laut dengan daratan yang memiliki drainase.

Salah satu keunikan lahan basah sebagai habitat peralihan adalah banyak serangga darat yang biasanya dijumpai di hutan , padang rumput dan pemukiman dan  serangga semi aquatic yang hidup di sungai dan danau secara bersama sama tinggal dan menggunakan habitat lahan basah1.

Wilayah lahan basah berkontribusi terhadap beragam manfaat sosial, biologis, ekologis dan ekonomi. Tak jauh dari museum Pasifika kita melihat dua jenis lahan basah yaitu padang lamun dan hutan bakau. Padang lamun dan hutan bakau berfungsi sebagai pelindung ekosistem pantai dari abrasi air laut. Akar dari padang lamun dan bakau menahan sedimen tanah sehingga stabil dan mencegah intrusi air laut ke darat sehingga menjaga air tanah di pemukiman dekat pesisir relatif aman digunakan. Tidak asin atau payau.  Jadi bakau dan lamun berfungsi sebagai hutan dan padang rumput di pesisir.

Bayangkan jika tanah tidak diselimuti rumput dan pohon. Air dan angin akan mengikis tanah sehingga terjadi tanah longsor karena tidak stabil dan hanyut ke tempat yang lebih rendah. Begitu pula pesisir dan laut yang kedalamannya kurang dari enam meter dimana lamun dan bakau tumbuh. Batang dan kanopi hijau pada lamun dan bakau berfungsi untuk memecah gelombang laut saat gelombang laut menghantam lamun dan bakau. Karena gelombang laut pecah , ini membuat daya erosinya lemah saat mencapai pesisir.  

Sebagaimana lahan basah yang terletak antara peralihan ekosistem darat dan akuatik, hutan bakau dan padang lamun berfungsi sebagai ginjal yaitu menyaring air yang berasal dari daratan yang sering berisi nitrat, zat kimia, sedimen dan limbah sebelum mencapai laut. Ini mengurangi polutan dan zat kimia yang mencapai laut. Ketika hutan bakau dan lamut dirusak, polutan dan sedimen langsung mengalir ke laut. Sehingga dasar laut tertutupi sedimen dalam jumlah melebihi batas layak dan permukaan laut deat pesisir menerima zat kimia secara berlebihan.

Pada ekosistem air tawar seperti sungai dan danau lahan basah bisa jadi jauh lebih penting sebab sungai dan danau merupakan air tawar yang sering jadi sumber air minum dan air untuk mandi dan mencuci. Air hujan yang jatuh ke lahan pertanian, jalan dan bangunan mengalir ke selokan yang mana selokan mengarah ke sungai dan danau. Air yang mengalir ini jelas mengandung berbagai zat kimia organik, inorganik dan sedimen. Kalau ini sampai di sungai dan danau sebelum disaring, sungai dan danau akan mengalami ledakan populasi ganggang yang mematikan biota sungai dan danau sebab sungai dan danau kelebihan nutrient. Menimbulkan bau tak sedap karena ganggang yang mati mengeluarkan gas metana.

Gas metana ini adalah sumber pemanasan global. Beda halnya jika air yang penuh nutrient mengalir ke lahan basah dahulu karena zat kimia organic dan inorganik digunakan oleh tanaman rawa , mikro organisme ,tanah dan biota rawa sehingga saat air mengalir dari rawa ke sungai dan danau, kadar zat kimia organik dan inorganik telah berkurang. Tanaman , mikroba dan hewan yang mati di rawa  terurai menadi unsur hara bagi tanah sehingga menyuburkan tanah. Sedimen yang mengalir sering menimbulkan pendangkalan sungai dan danau. Membuat perahu sulit menjelajahinya, sungai sulit berfungsi menggerakkan tenaga mikrohidro dan ikan yang butuh sungai dan danau dalam sulit hidup.

Air yang mengalir dari bangunan dan jalanan sering kali lebih hangat daripada air sungai dan danau karena bangunan dan jalanan menyerap panas jauh lebih banyak. Ketika air yang lebih hangat ini memasuki sungai dan danau, permukaan air sungai dan danau mengalami kenaikan suhu air yang drastis. Ini mengakibatkan ikan di sungai dan danau mati. Berbeda halnya jika air tersebut mengalir melewati lahan basah sebelum mencapai sungai dan danau sebab lahan basah mengurangi suhu air tersebut dengan melewati tanaman-tanaman yang tumbuh di lahan basah.

Lahan basah yang memperlambat aliran air dan ditambah dengan tanah berselimut vegetasi berfungsi untuk menampung air dan memulihkan air tanah. Air mendapat akses lebih banyak untuk menyerap ke dalam tanah.Ini jelas vital dalam menanggulangi banjir dan kekeringan secara bersamaan.  Inilah bukti lahan basah merupakan ginjal bumi.

Dari fungsi ekologis ini, lahan basah juga punya fungsi ekonomi. Sebagai tempat pembiakan ikan , kepiting dan udang, yang menjadi sumber protein, Bahan baku kerajinan tikar, dan anyaman dari alang-alang, dan bahan bangunan dari tanaman rawa lainnya. Sayuran dan buah sebagai makanan. Lalu, keragaman burung di lahan basah menjadi daya atraksi ekowisata selama kelestarian terjaga. Oleh karena itu, perlu pendekatan integratif dan interkonektivitas dalam mengelola lahan basah. Ekologi ekonomi, sosial, budaya dan hukum harus bersinergi. Ini bukanlah investasi jangka pendek, melainkan jangka panjang.[T]

 Sumber:

J.Mitsch, William. “Wetland: Human Use and Science.” Dalam buku berjudul Wetlands Fifth Edition, Chapter 1. New Jersey: Wiley & Sons,Inc.,Hoboken, 2015.

Penulis: Doni Sugiarto Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: alihfungsi lahanbumilingkunganSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

NGANDANG NGANJUH: ‘Unconscious Incompetence’ dalam Masyarakat Bali —Renungan Malam Kuningan

Next Post

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails
Next Post
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co